Pages

Tuesday, January 18, 2011

Presiden Rusia Dukung Palestina?

Kepala Otorita Ramallah dan Presiden Rusia dalam pernyataan bersama menekankan bahwa pertemuan Komisi Segi Empat untuk Perdamaian Timur Tengah yang akan berlangsung bulan depan harus bisa melahirkan resolusi yang mengikat dan harus dilaksanakan oleh Rezim Zionis Israel. Dalam jumpa pers bersama dengan Kepala Otorira Ramallah di Jericho, Tepi Barat Sungai Jordan, Selasa (18/1), Presiden Rusia Dmitry Medvedev menekankan soal pembentukan negara Palestina merdeka dengan batas wilayah tahun 1967. Medvedev menyatakan bahwa Rusia mendukung pelaksanaan program ini.
Dalam pernyataannya, Presiden Rusia mendesak Israel untuk menghindari langkah-langkah unilateral dan komitmen dengan resolusi dan ketetapan internasional demi mewujudkan perdamaian. Medvedev mengumumkan dukungannya kepada hak bangsa Palestina untuk mendirikan negara merdeka dengan al-Quds sebagai ibukotanya.
Pada kesempatan itu, ketua Otorita Ramallah Mahmud Abbas menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel harus menghentikan pembangunan proyek permukiman dan mentaati resolusi dan ketetapan internasional. Abbas menuduh Israel menjalankan program yang dimaksudkan untuk mengubah identitas dan demografi kependudukan Beitul Maqdis. Lebih lanjut, Mahmoud Abbas menyebut blokade atas Jalur Gaza sebagai tindakan kejam. Abbas meminta Israel untuk menghentikan blokade ini. (IRIB/AHF) 

IRIB

Pangkalan AS Diserang

Pangkalan Militer AS di provinsi Babil, Irak menjadi sasaran serangan. Kantor berita Fars melaporkan, dalam sebuah statemennya, pusat komando militer AS di Irak menyatakan, enam peluru mortir ditembakkan ke arah pangkalan militer AS di provinsi Babil, selatan Baghdad. Serangan tersebut merusak beberapa bagian pangkalan militer ini. Laporan yang sama tidak menyebut lebih lanjut mengenai kemungkinan jatuhnya korban. Data resmi yang diterbitkan Departemen Pertahanan AS, Pentagon, sejak agresi dan pendudukan Irak Maret 2003 hingga kini sebanyak 4.433 tentara AS tewas di negara ini. Namun berbagai sumber tak resmi menyebutkan angka korban di pihak militer AS yang melampaui angka 13 ribu orang. (IRIB/AHF) 

IRIB

Tank-Tank Israel Tembus Jalur Gaza

 Tujuh tank Israel, disertai dengan buldozer, memasuki bagian utara Jalur Gaza, dekat kota Beit Hanun.
Sebagaimana dilaporkan AFP, tank-tank itu menembus hingga 400 meter ke dalam wilayah Palestina hari ini (Selasa, 18/1). Namun hingga kini belum jelas apakah aksi tersebut akan diikuti dengan penghancuran rumah dan ladang-ladang milik warga Palestina.
Seorang jurubicara militer Israel mengatakan ia tidak bisa mengkonfirmasi atau menyangkal serangan tersebut.
Israel dan Hamas secara resmi menandatangani gencatan senjata pasca serangan 22 hari rezim Zionis ke Jalur Gaza, yang berakhir pada Januari 2009.
Serangan tersebut mengakibatkan 1.400 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.
Beberapa hari lalu, Mesir memperingatkan Hamas bahwa Israel sedang mempersiapkan serangan besar ke Gaza. Dalam beberapa bulan terakhir, Israel telah meningkat volume serangan tanah dan udaranya ke Jalur Gaza.
Laporan lainnya menyebutkan, tiga remaja Palestina cedera akibat ledakan sebuah bom peninggalan Israel di timur kota Khan Yunis, Selasa (18/1). (IRIB/MZ/SL)

IRIB

Iran Ancam Produksi Sistem Rudal S-300

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Alaeddin Bourojerdi memperingatkan bahwa jika Rusia tidak mematuhi komitmennya untuk menyerahkan sistem rudal pertahanan udara S 300 ke Iran, maka Tehran akan memproduksi sendiri rudal jenis itu. Alaeddin Bourojerdi kepada kantor berita Mehr hari ini (Senin,12/4) menyinggung keterlambatan Rusia dalam menyerahkan sistem pertahanan rudal S 300. Dikatakannya, "Pada akhirnya Moskow akan menyerahkan sistem tersebut ke Tehran, sebab Iran hingga kini memandang Rusia sebagai negara yang melaksanakan komitmen-komitmennya.
Meski demikian, Bourojerdi menandaskan, jika Rusia melanggar komitmennya, maka secara pasti Iran memproduksi sendiri sistem pertahanan rudal tersebut.
Kontrak penyerahan sistem S 300 ditandatangani antara Tehran dan Moskow pada Desember 2005. Namun karena beberapa alasan, Rusia hingga kini menolak menyerahkannya.
Rusia menyatakan keterlambatan itu karena adanya kesalahan teknis pada sistem tersebut dan tengah ditangani oleh pakar militer negara ini. Rusia melontarkan klaim itu ketika dua pekan lalu menyerahkan 15 sistem serupa ke Cina. 

IRIB

Inggris dan Australia Kecam Israel

Sydney (ANTARA News/AFP) - Inggris dan Australia, Selasa mendesak Israel untuk menahan diri bagi pembangunan rumah di Tepi Barat dan menyerukan agar "kembali ke dalam perundingan langsung" antara Palestina dengan Israel.

Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague mengatakan proses perdamaian Timur Tengah telah dibicarakan dalam konferensi tingkat tinggi pada Selasa dengan rekan Australia, Kevin Rudd dan dua Menteri Pertahanan Liam Fox serta Stephen Smith.

"Keyakinan kedua negara kami adalah kedua pihak (Palestina dan Israel) harus kembali ke perundingan langsung dan menahan diri dari tindakan yang dapat merusak kepercayaan seperti pembangunan permukiman," kata Hague kepada para pewarta.

Desakan itu menyusul seruan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon pada Senin kepada Israel untuk membekukan kegiatan pemukiman di wilayah Palestina yang dijajah setelah media Israel melaporkan bahwa negara zionis itu menyetujui pembangunan 1.400 rumah baru.

Negara Palestina menghentikan perundingan langsung dengan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat pada September setelah Israel menolak untuk memperpanjang masa morotarium pembangunan permukiman.

Israel mengatakan bahwa bangunan tersebut harus menjadi hal yang dibicarakan dalam perundingan langsung.(*)

(Uu.KR-BPY/H-RN/R009)
antara

TNI Gelar Rapim 2011

TNI Gelar Rapim 2011
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono. (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar Rapat Pimpinan 2011 untuk mengevaluasi setiap kinerja program 2010 dan merancang program 2011.

"Sebagai komponen utama pertahanan negara, TNI dituntut mampu menyiapkan diri sebaik mungkin dengan fokus pencapaian kekuatan pokok minimum," kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono saat membuka Rapim TNI 2011 di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, selain pencapaian kekuatan pokok minimum dalam rangka memodernisasi alat utama sistem persenjataan, TNI akan fokus pada pelaksanaan reformasi birokrasi yang dicanangkan pemerintah untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih.

"TNI juga akan fokus pada optimalisasi industri strategis dalam negeri, dan operasi militer selain perang termasuk penanganan bencana," kata Agus.

Terkait evaluasi kinerja 2010 Panglima TNI mengatakan, perlu ada perbaikan di beberapa hal seperti kualitas SDM, administrasi, operasional alutsista, anggaran dan permasalahan lainnya.

Profesionalisme TNI telah dilakukan melalui kebijakan Sapta Tunggal Panglima TNI yang meliputi pengembangan kekuatan dan kemampuan TNI serta penggunaan kekuatan TNI.

"Namun, itu belum dapat dilaksanakan dengan maksimal. Karena itu perlu ada pembenahan di program 2011 terkait SDM," katanya.

Sedangkan terkait operasional, Panglima TNI mengatakan, masih terkendala anggaran.

"Namun, di tengah keteratasan yang ada TNI tetap akan melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya," kata Agus.

Seluruh evaluasi itu, lanjut dia, ditujukan untuk memperbaiki kinerja TNI disesuikan dengan pola dan tingkat ancaman yang dihadapi ke depan.

Rapim TNI 2011 bertema "Konsistensi Pembangunan Kekuatan Pokok Minimum dan Reformasi Birokrasi TNI Guna Mendukung Tugas Pokok TNI".
(ANT/A024)
 
antara

Naval Helicopters to Enhance Seaward Defence


19 Januari 2011

Singapore's S-70B ASW helicopter for Formidable class frigates (photo : Mindef)

With the return of all six Sikorsky S-70B naval helicopters to Singapore in October 2010, the Singapore Armed Forces (SAF) reached a significant milestone in its transformation into a 3rd Generation fighting force.

At a ceremony marking the inauguration of the naval helicopters into 123 Squadron (SQN) on 18 Jan, Minister for Education and Second Minister for Defence Dr Ng Eng Hen expressed confidence in the squadron's ability to "build on its tradition of cross-service integration as it embarks on a new chapter of air-sea operations."

Set up in 1979, 123 SQN initially operated as a basic training wing for the Republic of Singapore Air Force (RSAF). In 1992, the squadron was restructured to support the Singapore Army, with the introduction of Singapore's first dedicated armed helicopter, the AS550 Fennec (which has been retired from service).

With the addition of the S-70B naval helicopter, the squadron will continue to provide cross-Service interoperability between the RSAF and the Republic of Singapore Navy (RSN).

"The naval helicopter and frigate are able to fight together as an integrated system," said Senior Lieutenant Colonel (SLTC) Jonathan Tan, Commanding Officer of 123 SQN. "In a way, the helicopter serves as the extended arm of the ship it is embarked on, allowing personnel to act faster, see further and make more decisive operational decisions."

As a helicopter pilot himself, SLTC Tan described naval-based operations as "challenging" but not without their own sense of satisfaction. "Operating on board a ship presents its own set of challenges. The ship is in constant motion and that makes it harder to land the aircraft," he explained.

Details of ASW equipment on S-70B (image : Mindef)

The integration of the RSN's frigates with the naval helicopters enables the frigates to undertake anti-surface and anti-submarine missions at much longer ranges. Each frigate's sophisticated command and communications suite allows it to network with a wide array of SAF assets.
The RSN's S-70B naval helicopters carry a dipping sonar system which can be lowered below sea surface to detect submarines which may be lurking in the vicinity. It also has the capability to fire torpedoes.

Each helicopter is operated by two pilots from the RSAF, and a Tactical Coordination Officer (TACCO) and a Sensor Supervisor (SENSUP) from the RSN. Cross-service integration between the crew is thus crucial to the success of their missions.

"It's natural for SAF people to gel together to achieve their missions," said Major (MAJ) Eng Cheng Heng, who serves as a TACCO in 123 SQN.

Due to differences in the way individual Services communicate with each other, there were some teething problems when the RSAF and RSN first got together to operate the S-70B naval helicopters. "We are moving closer towards a common operating language and have developed procedures to further streamline operations," said MAJ Eng.

"It was an eye-opening experience to be able to see more of how the RSAF works since the SAF is moving towards integrated operations," he added of his experience in the United States (US).
Personnel from the squadron trained intensively with the US Navy from March to September 2010, as part of the Peace Triton detachment stationed in San Diego.

First Warrant Officer (1WO) Permjit Singh, Chief Aircrew Specialist in 123 SQN spoke highly of his RSN counterparts' hospitality. "Whenever we came on board during training, the ship crew would reduce its frequency of piping calls in order not to disturb our rest," he said. Akin to public address systems in the civilian world, piping systems on board warships are used to broadcast meal times, page for certain personnel, amongst other operational messages.

Following the inauguration, 123 SQN will continue training to achieve full operational capability.

BERITA POLULER