Pages

Friday, January 7, 2011

Komitmen Antikorupsi TNI Didukung DPR

Komitmen Antikorupsi TNI Didukung DPR
Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mahfudz Shiddiq. (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Komisi I DPR mendukung komitmen antikorupsi yang dicanangkan Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI, demikian Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Sidik di Jakarta, Kamis.

Mahfudz mengatakan ada beberapa langkah penting untuk mewujudkan itu. Pertama, perbaikan sistem perencanaan anggaran yang mengedepankan skala prioritas dan transparansi.

Kedua, khusus modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), harus disiplin pada rencana strategis (renstra) yang sudah dibuat dan berbasis pada kepentingan `end-user` di level angkatan.

Ketiga, meminimalisasi sumber pembiayaan dalam bentuk kredit ekspor serta mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.

Menurut Mahfudz, audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI pada 2011, diharapkan menghasilkan status wajar tanpa pengecualian (WTP).

Kementerian Pertahanan dan TNI mendeklarasikan antikorupsi di sela Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan 2011, di Jakarta, Kamis.

Deklarasi antikorupsi itu ditandai dengan penandatangan naskah deklarasi oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI dan kepala staf tiga angkatan.

Deklarasi antikorupsi di lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI juga dilakukan bersama Kepala BPKP, Kepala LKPP, Kepala BPN, dan Kepala BP Migas.

"Penandatangan deklarasi antikorupsi dilakukan oleh pimpinan lembaga negara tersebut, bagian dari Rapim Kemhan 2011 sebagai pedoman Kemhan dan TNI dalam penyelenggaraan pertahanan negara," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan I Wayan Medhio.

Menurut dia, deklarasi antikorupsi itu merupakan tekad Kementerian Pertahanan dan TNI untuk lebih efisien dalam penyelenggaraan pertahanan negara dan dapat langsung diterapkan oleh semua pihak yang terlibat dalam deklarasi itu.

Pada Rapim Kemhan 2011, kata dia, juga diisi dengan sejumlah penandatanganan nota kesepahaman tentang Pembangunan Rumah Prajurit dengan Kementerian Perumahan Rakyat, serta nota kesepahaman tentang pemanfaatan Bandara atau Lanud dan Lanal atau pelabuhan.

Ada juga nota kesepahaman tentang pengamanan kegiatan usaha BP Migas dengan instansi BP Migas, nota kesepahaman tentang penyelesaian sengketa tanah dengan Badan Pertanahan Nasional serta nota kesepahaman tentang kerja sama penanggulangan bencana dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, demikian Wayan. (*)

ANTARA

Wednesday, January 5, 2011

Setelah Hiu, Mossad Manfaatkan Burung Nazar Mata-Matai Saudi!

 Dinas Rahasia Rezim Zionis Israel, Mossad dalam menjalankan operasi rahasianya melakukan segala macam cara dan bahkan aneh. Kali ini Mossad memanfaatkan seekor burung nazar, burung pemakan bangkai untuk memata-matai Arab Saudi.
Sebagaimana diberitakan oleh Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA) mengutip surat kabar trans-regional Alquds al-Arabi menyebutkan, surat kabar Israel Maariv menulis, burung nazar ini mendarat di dekat rumah seorang sheikh di daerah Arab Saudi dalam keadaan terluka. Warga daerah itu lalu menangkapnya dan akhirnya memahami ada alat yang menempel di tubuh burung nazar tersebut.
Harian Alquds al-Arabi menulis, alat itu adalah sebuah piranti GPS (Global Positioning System) dan begitu juga sebuah cincin yang berada di kakinya burung nazar tersebut tertulis nama Universitas Tel Aviv.
Setelah itu warga kemudian menyerahkan burung nazar itu kepada pihak keamanan Arab Saudi.
Pihak keamanan Arab Saudi meyakini bahwa burung nazar itu dipakai oleh Mossad untuk melakukan aksi mata-mata. Karena ketika mereka hendak memegangnya, burung ini melakukan gerakan-gerakan khusus untuk melindungi dirinya yang membuktikan burung nazar ini bukan burung biasa tapi terlatih dengan baik.
Koran Maariv menyebutkan bahwa para pejabat lingkungan hidup Israel mengumumkan bahwa burung ini masih hidup hingga kini dan alat GPS yang berada di tubuhnya tidak diperuntukkan untuk aksi spionase.
Sebelum ini banyak dipublikasikan mengenai aksi spionase Mossad di perairan Teluk Persia dengan memanfaatkan ikan hiu. (IRIB/SL/MZ)

irib

Pangeran Khaled Pastikan Pembelian Senjata 60 Milyar Dolar dari AS Terealisasi


F-15 AU Saudi sedang mengisi bahan bakar di udara. (Foto: DID)

5 Januari 2010 -- (Berita HanKam): Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khaled bin Sultan menegaskan pembicaraan tahap akhir pembelian senjata dalam jumlah besar dengan Amerika Serikat masih berjalan, saat diwawancarai harian lokal the Saudi Gazette, Selasa (4/1).

Pemerintah Arab Saudi mengajukan pembelian senjata senilai 60 milyar dolar pada pemerintah AS. Pembelian ini merupakan terbesar dalam sejarah penjualan senjata AS.

Kongres AS telah menyetujui penjualan senjata ini. Boeing memperkirakan paket pembelian ini akan menciptakan sedikitnya 77.000 pekerjaan di 44 negara bagian.

Arab Saudi akan membeli 84 jet tempur baru F-15, upgrade 70 F-15 milik AU Arab Saudi, pembelian tiga jenis helikopter meliputi 70 helikopter serbu Apaches, 72 helikopter angkut Black Hawks dan 36 helikopter intai Little Birds. Pejabat AS sedang merundingkan potensial pembelian paket peningkatan kemampuan AL Arab Saudi senilai 30 milyar dolar. Serta menawarkan sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Defense (THAD) untuk mengurangi ancaman roket Iran, nilainya belum diketahui.

Pangeran Khaled menegaskan juga skuadron jet tempur Eurofighter Typhoon akan lengkap dalam dua tahun mendatang. Pembicaraan pembelian Typhoon sempat dihentikan beberapa minggu, setelah insiden jatuhnya satu Typhoon di Spanyol menewaskan satu penerbang AU Saudi. Pangeran mengatakan “kerusakan pada pesawat telah diperbaiki dan sekarang fungsi lebih baik dibandingkan yang lalu.”

Arab Saudi sedang merundingkan juga pembelian tank Leopard dari Spanyol serta sejumlah senjata berat dari Rusia.

Sumber: the Saudi Gazette

Kapal selam tipe 214


Kapal Selam U-214 Jerman, dalam pertemuan kedua delegasi pengadaan Kapal Selam untuk TNI AL juga dibahas

 Kapal selam tipe 214 adalah salah satu kapal selam konvensional yang terlaris di dunia, dan Indonesia mempertimbangkan untuk memilikinya.
Negara – Negara
Yang Mengoperasikan Kapal selam tipe 214

1. Korea Selatan. Republik of Korean Navy telah memesan sembilan kapal selam Tipe 214, yang diberi nama sebagai kelas Son Won-Il, yang akan dibangun di Korea oleh Galangan kapal Hyundai Heavy Industries dan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME). Tiga kapal selam pertama telah beroperasi sejak 2007, dan enam kapal selam berikutnya akan dibuat mulai tahun 2012. Son Won-Il juga dilengkapi Radar yang sama dengan Papanikolis yaitu SPHINX-D Radar System buatan Thales Defence Deutschland GmbH dan mampu membawa makanan, air bersih dan bahan bakar untuk 84 hari operasi.
Kapal Selam Pertama kedua ketiga dan kelima dibuat di Galangan Kapal Hyundai dan rencananya untuk kapal selam kempat dan ke enam dibuat di Galangan kapal DSME. Pada bulan Maret 2008, surat kabar terbesar di Korea, Chosun Daily, melaporkan bahwa jenis kapal selam pertama 214 (Son Won Il) yang telah diserahkan kepada Angkatan Laut Republik Korea pada Desember 2007 memiliki beberapa masalah penting berkaitan dengan tingkat kebisingan (Noise Level) yang berlebihan. Namun masalah tersebut diklaim oleh pihak angkatan laut dapat diselesaikan dengan baik oleh galangan kapal Hyundai, HDW dan pihak angkatan Laut Korea. Masalah tersebut menurut salah satu perwira kapal selam Angkatan Laut Korea berada pada sistem kemudi horisontal belakang dan propeler. Keseimbangan kapal terutama saat berada di permukaan juga mengalami masalah (diidentifikasi masalah yang sama terjadi pada kapal selam Yunani; Papanikolis).
Untuk fasilitas pangkalan pihak HDW juga menyediakan untuk pengisian H2 untuk Sistem AIP di pangkalan angkatan laut di Jinhae, namun saat pengisian diharapkan temperatur air laut tidak lebih dari 32°C. Khusus untuk loading torpedo yang sebelumnya dilaksanakan melewati geladak dilaksanakan modifikasi sehingga loading torpedo dilaksanakan melalui peluncur torpedo (petor). Karena dianggap lebih efisien sama dengan kapal selam mereka sebelumnya yaitu 209 yang juga melalui petor.
2. Yunani. Kontrak untuk membangun tiga Kapal selam untuk Angkatan Laut Yunani/Hellenic Navy telah ditandatangani 15 Februari 2000 dan 4 kapal selam akan dibangun pada bulan Juni 2002. Kapal pertama kelas Papanikolis dibangun di HDW di Kiel, Jerman dan sisanya di Hellenic Shipyards Co di Skaramangas Yunani.
Kelas Papanikolis dilengkapi dengan antena radar yang tidak menembus badan tekan. Di bagian atas tiang radar pemancar radar diinstal pemancar dari Sistem Radar Sphinx dipasok oleh Thales Deutschland GmbH di Kiel. Sensor radar transceiver FMCW dinyatakan tidak dapat dideteksi oleh sistem ESM dalam jarak menengah. Teknologi ini disebut LPI (Low Probability of Intercept). Kekuatan transmisi dari radar ini lebih rendah dari kekuatan transmisi telephone selular tetapi resolusi yang dihasilkan lebih akurat dibandingkan dengan radar daya pulse tinggi. Radar Thales Sphinx adalah radar taktis yang dirancang khusus untuk kapal selam 214.
Kapal selam kedua yang dibuat di Yunani, Pipinos, secara resmi diluncurkan Pebruari 2007 dan uji coba penerimaan pelabuhan Yunani di Piraeus. Pada tanggal 21 September 2009 TKMS mengumumkan bahwa kontrak dengan Angkatan Laut Yunani untuk keempat kapal selam telah dibatalkan karena tunggakan negara lebih dari 520.000.000 Euro. Pihak TKMS sedang menempuh mahkamah arbitrasi untuk menyelesaikan masalah ini. Pada tanggal 27 Oktober 2009, Departemen Pertahanan Yunani secara resmi menyatakan bahwa mereka berniat menerima tiga kapal yang dibangun di Yunani namun Kapal pertama (Papanikolis) yang dibangun di Kiel tidak akan diterima, dan akan ditawarkan untuk dijual. Hasil dari penjualan akan digunakan untuk membayar hutang kepada TKMS.
3. Portugal. Pemerintah Portugal menandatangani kontrak di Lisbon dengan Konsorsium Submarine Jerman (GSC) untuk pembangunan dua kapal selam kelas 214 optional tambahan untuk satu kapal selam. Kontrak senilai 800.000.000 € telah ditandatangani bersama dan kedua kapal selam tersebut akan diserahkan ke Angkatan Laut Portugal Januari 2010 dan Oktober 2010.
Kapal selam pertama S167 Tridente dilluncurkan pada tanggal 15 Juli 2008 dan resmi masuk Angkatan Laut Portugal pada Januari 2010, sementara kapal kedua S168 Arpao diluncurkan pada bulan Mei 2001 dan akan resmi bergabung dengan Angkatan Laut Portugal pada bulan Oktober 2010.
4. Turki dan Pakistan (Penandatanganan Kontrak). Pada bulan November 2008, Pakistan telah menandatangani Kontrak untuk pengadaan 3 kapal selam tipe 214 yang semuanya akan dibuat di Pakistan. Pihak HDW menyatakan penyerahan kapal selam pertama untuk Pakistan akan dilaksanakan 64 bulan setelah penandatanganan kontrak.
Pada bulan Juli 2009, Turki telah menandatangani kontrak pengadaan 6 kapal selam tipe 2140. Sesuai dengan kontraknya pihak HDW akan memberikan seluruh material untuk membangun keenam kapal selam tersebut di Galangan Gölçük Naval Shipyard (GNSY) di Turki. Semua kapal selam tersebut dilengkapi dengan sistem AIP.
Kesimpulan. Indonesia perlu mempertimbangkan lagi untuk pengadaan kapal selam jenis ini mengingat permasalahan yang terjadi di banyak negara serta mahalnya biaya operasional AIP. Taktik dan strategi pertahanan negaralah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama selain faktor deterrence effect tentunya. 
Data Teknis Kapal selam tipe 214
· Displacement: 1,690 t surfaced / 1,860 t submerged
· Dimensions: length 65 m / beam 6.3 m / draught 6 m
· Pressure hull: HY-80/HY-100 High Tensile steel
· Persenjataan: 8 x 533 mm Peluncur, 4 Petor mampu meluncurkan Sub Harpoon
· Propeller : low noise skew back propelle/ Sabit
· Diesel engines: 2 x MTU 16V-396 (3.96 MW)
· Charging generators: 2 x Piller Ntb56.40-10 0.97 MW
· Sistem AIP : 2 x HDW PEM fuel cell module BZM120 (120 kW x 2)
· Electric motor: 1 x Siemens Permasyn (2.85 MW)
· Kecepatan: 12 kt surfaced / 20 kt submerged
· Kecepatan deangan fuel cells: 2-6 kt estimated
· Jarak Jangkau Permukaan: 12,000 miles (19,300 km)
· Jaraj Jangkau Menyelam: 420 nmi @ 8 kt (780 km @ 15 km/h)
· Jarak Jangkau dengan fuel cells: 1,248 nmi @ 4 kt (2,310 km @ 7 km/h)
· Mission endurance: 12 Minggu
· Menyelam Tanpa Snorkeling: 3 minggu
· Kedalaman Operasi: Lebih dari 250 m officially, 400 m estimated
· Awak Kapal: 5 Periwra + 22 crew
· Radar navigasi : SPHINX-D with 4Kw pulse and Tactical LPI radar sensor (Thales Deutschland Kiel)
sumber: http://wira96.multiply.com/

Amur class submarine

Model of Amur-950 submarine
Class overview
Builders: Rubin Design Bureau, Admiralty Shipyard, Saint Petersburg.
Operators:  Russian Navy
Preceded by: Lada class
Cost: $100,000,000
Planned: ~11
Completed: 0
Active: 0
General characteristics
Type: Submarine
Displacement: 950 long tons (970 t) surfaced
Length: 58.8 m (192 ft 11 in)
Beam: 5.65 m (18 ft 6 in)
Height: 6.4 m (21 ft 0 in)
Speed: 20 knots (23 mph; 37 km/h)
Range: 350 nmi (650 km) AIP
3,000 nmi (5,600 km) Snorkel
Endurance: 45 days
Test depth: 250 m (820 ft)
Complement: 18
Armament: • 4 × 533 mm (21 in) torpedo tubes
• 16 torpedoes
• 10 VLS cells
The Amur class submarine, designated as the project 950 Амур, (named for the Amur River), is one of the latest Russian submarine class which are advertised as the export version of the Lada class, a highly improved version of the Kilo-class submarine with much better quieting, new combat systems, and an option for air-independent propulsion.
The new vessel is the 4th generation submarine with the capability of striking salvo missile blows at different targets. The sonar signature level of the submarines of this class is several times lower in comparison with “Kilo” class submarines. These submarines are equipped with radio-electronic weapons of the newer generation created on the basis of the latest achievements in the field of radio-electronics. These submarines can be outfitted with AIP fuel cells, considerably improving submerged endurance and range. AIP capability can be added as hull extension plug either during new build construction or as a refit existing ships.
It is expected that these vessels can operate in all areas of the World Ocean except the areas with solid ice cover, in all weather conditions, in shallow and deep water areas.[1]

WIKIPEDIA

Kapal selam kelas Kilo

Yunes, sebuah kapal selam Iran kelas Kilo
Kilo adalah nama kelas yang diberikan NATO untuk kapal selam militer bertenaga diesel buatan Rusia. Versi asli dari kapal selam ini di Rusia dikenal dengan nama Project 877. Kapal selam kelas ini juga memiliki versi yang lebih baru yang dikenal dengan nama Improved Kilo dan di Rusia dikenal dengan Project 636.
Berfungsi sebagai anti kapal permukaan dan anti kapal selam dan beroperasi di perairan dangkal. Kapal selam kelas Kilo mampu beroperasi dengan tenang. Project 636 dikenal sebagai salah satu kapal selam yang menghasilkan suara terlemah di dunia.
Kapal selam pertama kelas Kilo untuk Angkatan Laut Uni Soviet beroperasi pada tahun 1982. Angkata Laut Rusia masih memiliki kapal selam kelas ini, dan per tahun 2000 dilaporkan memiliki 14 buah kapal selam kelas ini termasuk 7 cadangan. 21 buah diekspor ke beberapa negara :
Indonesia menyatakan membeli 2 buah Improved Kilo pada 2006, dan dijadwalkan pengiriman akan dilakukan pada 2009. Dalam rencana jangka panjang TNI-AL membutuhkan 6 sampai 12 buah kapal selam sekelas Kilo.

Ada beberapa varian kelas Kilo sehingga spesifikasi berikut mungkin tidak cocok untuk semua varian. Berikut adalah spesifikasi secara kasar.
  • Bobot :
    • 2.300-2.350 ton ketika mengapung.
    • 3.000-4.000 ton ketika menyelam.
  • Dimensi :
    • Panjang : 70-74 meter.
    • Beam: 9.9 meter.
    • Draft: 6.2-6.5 meter.
  • Kecepatan maksimum
    • 10-12 knot ketika mengapung.
    • 17-25 knot ketika menyelam.
  • Sistem propulsi : Diesel elektrik.
  • Kedalaman maksimum : 300 meter (operasional : 240-250 meter).
  • Ketahanan
    • 400 mil ketika menyelam dengan kecepatan 3 knot.
    • 6.000 mil ketika mengapung dengan kecepatan 7 knot (7.500 mil pada kelas Improved Kilo).
    • 45 hari di laut.
  • Persenjataan
    WIKIPEDIA

China Perkenalkan Prototype Pesawat Tempur Siluman Terbarunya




BEIJING - Tak mau tertinggal dari Rusia dan India yang tengah mengembangkan pesawat tempur siluman PAK-FA, Cina ternyata telah menyelesaikan sebuah prototip pesawat tempur siluman pertamanya. Hal itu dilaporkan harian Asahi Shimbun Rabu (5/1), sebagai sorotan utama atas modernisasi militer Beijing beberapa hari menjelang lawatan Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Foto-foto yang dilansir di internet dan sumber-sumber militer Cina yang dikutip oleh media jepang itu menunjukkan sebuah model jet tempur J-20 telah rampung dan tengah di ujicoba membawa beban pekan lalu dan uji terbang di sebelah barat daya Cina.

Menurut Asahi Shimbun yang mengutip sumber-sumber di militer Cina, Beijing berencana memulai tes terbang penuh J-20 bulan Januari ini, dan rencana produksi diharapkan paling cepat pada 2017.

Penempur siluman China itu bakal dilengkapi dengan rudal-rudal terbaru buatan perusahaan lokal dan mampu terbang hingga pulau Guam tanpa pengisian di udara, meskipun penyempurnaannya bakal butuh waktu 10 hingga 15 tahun lagi untuk menyamai jet tempur siluman Amerika Serikat F-22.

“Ketika upaya-upaya penguatan untuk memajukan samudera terbuka, militer Cina mempercepat modernasisasi kekuatan udaranya,” tulis Asahi Shimbun. “Manuver itu mungkin berdampak pada perimbangan militer di Asia Timur.”

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

BERITA POLULER