Pages

Tuesday, December 28, 2010

Lebanon Perkuat Pertahanan Nasional Hadapi Agresi Israel

Presiden Lebanon, Michel Sleiman menuntut dibentuknya strategi pertahanan nasional untuk menghadapi agresi brutal Rezim Zionis Israel. Seperti dilaporkan Kantor Berita Jerman DPA, Sleiman Selasa (28/12) di Lebanon Selatan mengatakan, penyusunan strategi pertahanan harus berlandaskan pada kemampuan nasional, diplomatik dan militer guna mencegah Israel melanggar zona udara, darat dan laut negara ini. Tak hanya itu, Sleiman juga menyebut strategi ini untuk membendung aksi spionase Israel di Lebanon serta membebaskan wilayah yang diduduki rezim Tel Aviv.
Israel sejak tahun 2006 hingga 2010 telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB no 1701 sebanyak 6.500 kali.
Sementara itu, Panglima Angkatan Bersenjata Lebanon, Jend. Jean Kahwaji menekankan kesiapan militer negara ini untuk menghadapi brutalitas Israel. Kahwaji saat bertemu dengan Presiden Michel Sleiman menegaskan militer dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi agresi Israel dan waspada terhadap pihak-pihak yang berusaha menciptakan fitnah internal. Demikian dilaporkan Farsw News (Selasa 28/12)
Kahwaji menambahkan, Sleiman tidak mencegah berbagai upaya untuk menjamin persenjataan dan peralatan militer Lebanon. (IRIB/DPA/MF)

IRIB

Russian Ground Forces' Air Defense Force to become part of united aerospace defense system


ВВС РФ приняли 10 новых зенитных ракетно-пушечных комплексов. © RIA Novosti.Aleksey Kudenko
Pantsir-S1 air defense system
02:09 26/12/2010
© RIA Novosti. Aleksey Kudenko

The Russian Ground Forces' Air Defense Force will become part of a united aerospace defense system, the Air Defense Force's chief has said.
"In the course of the creation of a united aerospace defense system, the Russian Ground Forces' Air Defense Force will become one of its most important parts which together with other aerospace defense elements will be responsible for air defense and non-strategic missile defense at infrastructure and military facilities and troop deployment sites," Major General Alexander Leonov told journalists in Moscow on Saturday.
The Russian Ground Forces' Air Defense Force includes such air defense systems as S-300, Buk (SA-11 Gadfly), Pantsir-S1 (SA-22 Greyhound), Top (SA-15 Gauntlet), Tunguska ( SA-19 Grison), Strela-10 (SA-13 Gopher), and Shilka (Awl).
MOSCOW, December 26 (RIA Novosti)

AU Rusia Terima 4 Su-34 Fullback


Sukhoi Su-34 Fullback. (Foto: RIA Novosti/Igor Rumyancev)

28 Desember 2010 -- Angkatan Udara Rusia menerima empat pesawat tempur/pembom baru Sukhoi Su-34 Fullback, Selasa (28/12) sebagai bagian dari program modernisasi, ucap juru bicara AU Rusia, dikutip kantor berita RIA Novosti.

Rusia mulai memproduksi skala penuh Su-34 pada 2008 di pabrik pesawat Novosibirsk, anak perusahaan Sukhoi Aircraft Holding.

AU Rusia akan menerima 70 pesawat hingga 2015, guna menggantikan pembom tua Su-24 Fencer yang saat ini dimodernisasi untuk memperpanjang masa pakai.

Su-34 Fullback dirancang Sukhoi, jet tempur/pembom berkursi tandem dilengkapi mesin kembar AL-31MF. Pesawat mampu menyerang sasaran berbagai keadaan cuaca, siang atau malam, dipersenjatai kanon 30 mm GSh-301, 12 rudal udara-udara Alamo atau Archer, rudal anti kapal dan bom.

RIA Novosti/Berita HanKam

JET-JET TEMPUR GENERASI KE 5 STEALTH (SILUMAN)

 KFX 201 (INDONESIA-KORSEL) 5TH GERERATION

16 Juli 2010, Seoul -- Indonesia sepakat bergabung dalam proyek pengembangan jet tempur KF-X,Korea Selatan (Korsel), yang tertunda selama beberapa tahun akibat masalah teknis dan pendanaan.

Kedua negara juga sepakat untuk bekerja sama dalam produksi dan pemasaran jet tempur tersebut. “Indonesia akan memperoleh sekitar 50 jet tempur KF-X dengan menanggung 20% biaya pengembangan proyek bernilai miliaran dolar AS itu,” ungkap Kementerian Pertahanan Korsel dalam rilisnya. Kesepakatan itu ditandatangani di Seoul oleh Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Indonesia Marsekal Madya TNI Erris Herryanto kemarin.Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan Korsel,proyek ini akan kembali dimulai awal tahun depan. Adapun produksi jet-jet tempur baru dilakukan setelah studi kelayakan rampung pada akhir 2012.

Model jet tempur siluman KF-X. (Foto: emile)

“Kami juga memerlukan mitra asing yang akan mentransfer teknologi dan suku cadang utama jet tempur tersebut,” ujarnya tanpa menyebutkan total dana yang diperlukan. Proyek jet tempur KF-X sebenarnya sudah diluncurkan tahun 2000,tapi ditangguhkan karena masalah teknis dan ekonomi.Presiden Lee Myung-bak pada Januari lalu setuju untuk mendorong proyek tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Korsel dan Korut. Kementerian Pertahanan RI membenarkan kerja sama dengan Korsel dalam memproduksi pesawat tempur KF-X.Pemerintah Indonesia bisa menggunakan fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia.

“Kami tidak hanya membeli pesawat tempur, tetapi juga ingin bekerja sama dalam produksinya.Kami berharap fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia bisa digunakan untuk hal itu,”kata Juru Bicara Kemhan BrigjenTNI I Wayan Midhio. I Wayan mengatakan KF-X adalah pesawat tempur jenis baru yang memiliki kemampuan tempur andal. Bahkan.Wayan berani mengklaim kemampuan KF-X ini di atas F-16, tapi masih di bawah F-35.Wayan mengakui pemerintah berencana membeli 50 buah KF-X begitu pesawat selesai diproduksi.Tidak hanya membeli, pemerintah juga membantu memasarkan pesawat itu ke negara-negara lain.

“Saya kira, prinsip yang paling utama adalah sekarang negara kita bisa ikut terlibat dalam proses produksinya,jadi ada transfer teknologi,”tuturnya. Juru Bicara TNI Angkatan Udara Laksamana Pertama Bambang Samudro menyatakan kerja sama produksi pesawat tempur dengan Korsel ini adalah bagian dari rencana kedua pihak untuk meningkatkan kemampuan dalam memproduksi pesawat tempur.“Ini adalah kerja sama jangka panjang kedua negara.Kesepakatan ini dicapai setelah melalui pembicaraan panjang,”tuturnya.

Kerja sama produksi pesawat tempur ini, lanjut Bambang,dimulai tahun ini sementara segala persiapan seperti survei dan membuat prototipe akan dilakukan hingga 10 tahun ke depan.Bambang menambahkan, TNI AU akan memakai semua pesawat itu jika pemerintah membelinya.“Yang paling utama, kita tidak hanya membeli, tetapi kita bisa membuat sendiri peralatan tempur kita sebagaimana yang pemerintah inginkan,”katanya. Sekjen Kemhan Marsekal Madya Erris Herryanto sebelumnya mengatakan Indonesia layak untuk berpartner membuat pesawat tempur.Menurut dia,langkah kerja sama dengan Korsel merupakan suatu kemajuan karena tidak banyak negara yang bisa membuat pesawat tempur.


Apabila memiliki pabrik pesawat tempur, Indonesia tidak akan bergantung lagi kepada negara lain. Namun Erris saat itu belum bisa merinci beberapa hal yang tertuang dalam perjanjian itu,termasuk apa saja yang akan diperoleh Indonesia dan apa saja yang harus disediakan. ”Yang jelas, kita punya PT Dirgantara Indonesia dan tenaga ahli,”kata Erris. Dia juga mengungkapkan, spesifikasi pesawat tempur KF-X ini kira-kira berada di atas F-16,tetapi di bawah spesifikasi F-35.Adapun kebutuhan biaya yang diajukan sekitar USD8 miliar dengan jangka waktu kerja hingga tahun 2020.Pada 2020 diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe.Dari keseluruhan anggaran itu,Indonesia diharapkan menanggung sebesar 20%.

Berdasar informasi yang berkembang, pesawat tempur ini rencananya akan rilis pada 2020 .Rencananya KF-X akan disokong mesin kembar setara dengan kelas General Electric F414 atau SNECMA M88 yang digunakan pada F/A- 18E/F Boeing dan Dassault Rafale. SNECMA menggambarkan M88 sebagai landasan dari keluarga mesin generasi baru. Mitra yang akan dirangkul untuk pengembangan mesin adalah Lockheed Martin yang sebelumnya terlibat dalam desain dan pengembangan pelatih Korea Aerospace T-50 jet supersonik. Proyek KF-X juga akan merangkul sejumlah perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan asing akan membayar hingga 30% dari program.

Kepala Tim Pengembangan Sistem Udara Korsel Kolonel AU Dae Yeol-lee sebelumnya mengungkapkan, BAE Systems telah menyatakan minatnya dalam mengembangkan radar, sedangkan Alenia Aeronautica dipercaya untuk memasok senjata utama dari KF-X dan bertanggung jawab pada program neuron kolaboratif untuk mengembangkan teknologi European combat-drone.

SINDO


Jet Siluman Cina J-14




J-XX, J-14 (China, 2018)
This is the Chinese 5th generation fighter (4th generation by Chinese nomenclature) under development in Shenyang Aircraft Industry. Its introduction is planed for 2018.

No details of the aircraft were given yet to the public, but it is almost certainly designed for supersonic cruise without afterburning. China is probably working on two 5th generation concepts – one would be a heavy twin-engine fighter probably of about the same size as the F-22, and the other is a single-engine aircraft probably closer to the F-35.
http://militarystrat.wordpress.com/2010/01/07/chinas-5th-generation-j-14-stealth-fighter/ 

hightechnologyzone

Sukhoi PAK FA T-50 (Russia, 2015)
The twin-engined Sukhoi PAK FA (Russian: Перспективный авиационный комплекс фронтовой авиации, literally "Future Frontline Aircraft System") is the first non-American 5th generation fighter. It is developed by Sukhoi OKB for the Russian Air Force. Its first flight was in January 29th 2010, and introduction is planed for 2015. Estimated cost of 1 fighter is US$100 million.
As mentioned, the Russian Defense Ministry will purchase the first 10 of the T-50 after 2012 and then 60 after 2016. Also, Sukhoi director Mikhail Pogosyan has projected a market for 1,000 aircraft over the next four decades, which will be produced in a joint venture with India, 200 each for Russia and India and 600 for other countries.




General performances

Data available to public is unreliable, but according to www.globalsecurity.org, the T-50’s top speed is Mach 2.45 (2,600 km/h, 1,615 mph).
Ferry range is 5,500km, service ceiling 20,000m and g limit is +11g.

It seems that the PAK FA is going to surpass the US’s F-22 Raptor, and it going to be cheaper at the same time due to its more simple structure.
The PAK FA also has a bigger weapons bay and greater fuel capacity. Innovative wing leading edge radar of lower frequency (perhaps L band) would be able to locate stealth aircraft like the F-22, a capability that the F-22 does not have.
http://fightercountry.org/news/air-force-news/sukhoi-t-50-5th-generation-fighter/71265

However, premier of Russia Vladimir Putin and Russian media has spotted that the stealth technology along with electronic equipment are not fully developed yet for this aircraft, so it need to be reequipped to regain its title as 5th generation fighter.
http://english.pravda.ru/russia/economics/18-06-2010/113908-fifth_generation-0 
hightechnologyzone

F-22 Raptor (USA, 2005)
This is the world’s first and so far only produced fighter classified as 5th generation aircraft – it is introduced in December 15th 2005, but it’s first prototype, YF-22, had his first flight in September 29th 1990. 9 years earlier (1981), USAF identifies need to replace F-15. Manufacturers are Lockheed Martin Aeronautics and it’s partner Boeing Integrated Defense Systems. They produced 168 units so far (1 unit costs ~ US$150 million).


This fighter is a single-seat, twin-engine aircraft designed to be dominant in the air-to-air combat, but its complex structure and size makes it too expensive right now. On the other side, the smaller F-35 is less dominant and cheaper fighter, so it will be produced for selling.  




General performances


According to Lockheed Martin, the F-22 is the 2.0 Mach machine (Mach 1 = speed of sound) – they said that with afterburners, speed is "greater than Mach 2.0" (2,120 km/h, 1,317 mph).
According to AirForces Monthly magazine, the highest achieved speed by this aircraft is Mach 2.25 (2,410 km/h, 1,500 mph).
Range of F-22 Raptor is 2,960km, service ceiling (max altitude) is 19,802m, combat radius (max distance from the airbase) is 759km and g limit is -3.0/+9.0g.


This fighter is capable of maintaining a constant angle of attack of over 60°, yet still having some control of roll. During June 2006 exercises in Alaska, F-22 pilots demonstrated that cruise altitude has a significant effect on combat performance, and routinely attributed their altitude advantage as a major factor in achieving an unblemished kill ratio against other US fighters and 4th/4.5th generation fighters.



F-35 Lightning II (USA, 2014)

This is the single-seat, single-engine fighter descended from the X-35, the product of the Joint Strike Fighter (JSF) program. First flight of prototype was in December 15th 2006, and its introduction is planed for 2014.

As mentioned, The United States intends to buy a total of 2,443 aircraft for an estimated US$323 billion, making it the most expensive defense program ever. Its development is being principally funded by the United States, with the United Kingdom, Italy, Netherlands, Canada, Australia, Denmark, Norway and Turkey providing additional funding. It is being designed and built by an aerospace industry team led by Lockheed Martin with Northrop Grumman and BAE Systems as major partners.  The F-35 is likely to cost between US$65–120 million – it will be less dominant then F-22 in air-to-air combat, but much more economical (commercial).

To keep operating costs down, designers are developing 3 types of this aircraft: F-35A - conventional take off and landing (CTOL) variant, F-35B - short-take off and vertical-landing (STOVL) variant and F-35C - carrier-based CATOBAR (CV) variant. The F-35 is intended to be the world's premier strike with close and long range air-to-air capability second only to that of the F-22 Raptor.





General performances

According to Aviation Week site, max speed of F-35 Lightning II is Mach 1.67 (2,065 km/h, 1,283 mph).
Range is 2,220km, service ceiling is 18,288m and combat radius is 1,090km and g limit is 9g.


hightechnologyzone


Sukhoi/HAL (India – Russia, 2018)


In 2018, the Sukhoi/HAL will be introduced. It is developing for Indian Air Force in cooperation of Sukhoi Design Bureau and Hindustan Aeronautics Limited.







AMCA (India, 2025)


The Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) will be the Indian twin-engine fighter. It is developing by Aeronautical Development Agency and its introduction is planed by 2025.








TFX 2012 TURKEY







TURKY MULTY ROLE STEALTH FIGHTER BOMBER TXF-2012 CONCEPT.

Mitsubishi ATD-X Shinshin (Japan)



The “Advanced Technology Demonstrator – X” (ATD-X) is a prototype being developed by Mitsubishi Heavy Industries for Japanese Ministry of Defence. It is not officially planed for production, but its first flight is expected in 2014.
The ATD-X will be used as a technology demonstrator and research prototype to determine whether domestic advanced technologies for a 5th generation fighter aircraft are viable, and is a 1/3 size model of a possible full-production aircraft. It is mostly inspired by F-22 Raptor.

hightechnologyzone 

Serah Terima Model Aerodinamika Pesawat N219


JAKARTA - Pesawat CN235 produksi kerjasama antara PT. Dirgantara Indonesia dengan CASA Spanyol diharapkan menjadi pesawat patroli maritim yang digunakan oleh semua negara.

"Itu cita-cita kami," kata Dirut PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso pada serah terima hasil pengujian model aerodinamika pesawat udara N219 dari BPPT kepada PT DI di Jakarta, Selasa (28/12).

Ia membantah produksi pesawat CN235 tidak berlanjut, karena saat ini PT DI sedang mengerjakan empat unit CN235 pesanan Korea Selatan untuk patroli pantai (coast guard), untuk beberapa negara lain yang tertarik dan untuk kepentingan dalam negeri TNI AL.

Pada Desember 2009 TNI AL diberitakan membeli tiga unit CN-235 MPA sebagai bagian dari rencana memiliki enam pesawat MPA sampai tahun 2014.

"CN235 sampai kini banyak dibutuhkan untuk kepentingan negara yang mengkhawatirkan permasalahan bajak laut, penyelundupan, atau imigran gelap, khususnya karena pesawat setipenya seperti Buffalo tidak diproduksi lagi," katanya.

Bahkan, untuk mengawasi Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang dipersengketakan sejumlah negara, baik Tentera Diraja Malaysia maupun Brunei sama-sama mengerahkan pesawat CN235 buatan PT DI, ujarnya dengan bangga.

Saat ini masih beroperasi sekitar 50 pesawat CN235 di berbagai negara buatan PT DI dan sekitar 150 unit CN235 buatan Casa Spanyol.

CN235 versi Patroli Maritim dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi serta mengakomodasi rudal.

Saat ini PT DI baru saja menyelesaikan uji model aerodinamika pesawat perintis N219 berkapasitas 19 penumpang di BPPT yang sangat sesuai dengan kondisi kepulauan dan pegunungan Indonesia.

Direktur Aerostructure PT DI Andi Alisjahbana mengatakan, pengerjaan pesawat N219 dengan mesin Pratt & Whitney ini sudah selesai 35 persen, tinggal tahap tersulit persoalan pendanaan yang diharapkan menemukan solusinya pada 2011 untuk menyelesaikan 65 persen sisanya.

Di Indonesia, disebutkannya, ada 715 airport dan airfield, namun 72 persen runawaynya hanya memiliki panjang di bawah 800 meter. Sedangkan untuk penerbangan perintis terdapat 118 rute di 14 provinsi dengan 89 bandara.

Sumber : ANTARA

Monday, December 27, 2010

K11, Senapan Serbu Terbaru Korea Selatan (V)


Impian Infantri Masa Depan Korea

Ada idiom di kalangan militer korea Selatan (Korsel) jika terjadi perang dengan Korea Utara (Korut), yaitu : “Setiap prajurit Korsel harus membunuh sekitar dua puluh prajurit Korut jika ingin menang”. Sebuah gambaran sederhana betapa banyak prajurit Korut yang harus mereka hadapi.

Konflik di wilayah Semenanjung Korea bisa diibaratkan seperti bom waktu. Fluktuatif, bisa tiba-tiba naik kemudian mereda kembali. Hubungan kedua negara sebetulnya sudah panas sejak kejadian terakhir kala kapal perang Korea Selatan, Cheonan, dihajar torpedo dan menewaskan 46 pelaut. Dua Korea kini kembali di bibir perang saat Korut membombardir pulau Korsel di sekitar Yeonpyeong dengan peluru-peluru artilerinya pada November 2010 lalu.

Meskipun berbagai upaya dilakukan untuk "menyatukan" kedua Korea lewat upaya diplomatis, perjanjian, maupun yang lebih konkret seperti membuka jalur transportasi kereta api antar negara. Namun, konflik itu sebenarnya tidak pernah benar-benar berakhir.

Hal inilah yang mendasari pemerintah Seoul lewat Agency for Defense Development (ADD) untuk selalu mengembangkan innovasi teknologi dari segi peralatan militer (alutsista) maupun kemampuan personilnya. Termasuk mengembangkan seragam tempur pasukan infantrinya di masa depan. ADD adalah semacam lembaga litbang dibawah kementrian pertahanan Korsel, mungkin jika di Indonesia serupa dengan puslitbang TNI.

Perangkat Standar Infantri

Pembuatan standar seragam baru infantri tersebut merupakan bagian dari usaha memodernisasi angkatan bersenjata Korsel agar kapabel bertempur dengan dukungan platform digital.

Seragam baru tersebut nantinya terhubung dengan sensor-sensor elektronis, yang secara visual dapat mengakses video realtime dari system pengintai. Program ini bertujuan untuk mewujudkan jaringan yang terintegrasi antara pasukan dengan sistem persenjataan, ranpur dan pesawat nir awak (UAV).

Program tersebut terbagi menjadi 4 bagian, pertama; helm tempur multifungsi, kedua; ransel peralatan dan logistik, ketiga; seragam tempur dengan material khusus dan keempat; senjata multifungsi, dimana pengaplikasiannya sudah terwujud lewat senapan serbu K11.

Helm tempur dijejali berbagai macam perangkat seperti : mini video camera, mic, voice recognition dan virtual display sebagai receiver file digital. File tersebut bisa berupa image maupun data yang disajikan secara realtime online.

Ransel, selain diisi kebutuhan logistik pasukan juga dijejali dengan berbagai system digital seperti : personal command, control system, sitem identifikasi teman atau musuh (IFF) dan personal Global Positioning System (GPS).



Perangkat tempur standar pasuka infantri ROK Army

Untuk seragam tempur, dirancang mampu menghilangkan pancaran panas tubuh pasukan sehingga akan tersamar jika di bidik dengan sensor pencari panas. Selain mengaplikasi material yang mampu menjaga pasukan dari senjata kimia, seragam tersebut juga dirancang untuk memproteksi dari pancaran laser dan serangan rudal.

Untuk senjata personel, Seoul akan berjanji akan mengembangkan varian-varian dari K11 termasuk munisi yang digunakan. Saat ini lembaga research and development S&T Daewoo tengah mengembangkan varian munisi 20mm untuk K11. Selain proyektil air-brust, kedepannya akan dikembangkan pula rudal mini yang mampu diluncurkan dari moncong laras K11.

Tahap Kedua

Sebagaimana telah diutarakan surat khabar “The Korea Times” November 2009 lalu berdasarkan statement dari pejabat Badan Pengembangan Pertahanan Korsel (ADD), dikatakan bahwa Seoul mulai melakukan pembangunan tahap ke-dua untuk pengadaan standar seragam tempur infantry terbaru di awal tahun 2010 ini.

Sebelumnya ADD telah menyelesaikan studi (R&D) tentang konsep seperti apa seragam yang akan diaplikasi ROK Army kedepan, beserta peralatan dan perlengkapannya. Pejabat tersebut juga menambahkan "Tahun 2010 ini ADD berencana mulai mengembangkan integrasi teknologi dan peralatan terkait setelah mendapatkan persetujuan dari Defense Acquisition Program Administration (DAPA)."

Perlengkapan personil tempur terbaru tersebut akan memberikan perlindungan maksimum dan memperbesar daya gempur pasukan infantri Korsel dimasa depan. Seragam infantry tersebut juga telah dilengkapi rompi anti peluru terbaru dan terintegrasi dalam sebuah manajemen system pertempuran.

Nampaknya Korea serius menggarap proyek ini, sebuah impian yang bakal jadi kenyataan. Selangkah lagi kemajuan teknologi dari negeri yang mengedepankan apa yang kini tengah dicita-citakan bangsa ini, “Kemandirian Industri Pertahanan”. Copyright ALUTSISTA

K11, Senapan Serbu Terbaru Korea Selatan (IV)


Penempatan

Program Defense Acquisition Program Administration (DAPA) menyetujui rencana dimulainya produksi massal senapan serbu K11 dengan mendistribusikannya kewilayah operasi pada awal tahun 2010 ini.

Akhir November 2009 lalu, Mentri Pertahanan Korea Selatan, Kim Tae-Young menyatakan bakal mempersenjatai seluruh pasukannya di Afghanistan dengan senapan ini.

Secara spesifik Kim tidak menyebutkan berapa jumlah K-11 yang bakal dikirim ke negara para Mullah di Asia Tengah tersebut, namun kantor berita BBC pernah melaporkan pemerintahan Korea bakal menambah pasukannya hingga 350 personel tahun ini.

Kontingen pasukan Korea ditempatkan di provinsi Parwan, di utara kota Kabul, Afganistan. Kehadiran pasukan Korea di Afghanistan mempunyai tugas khusus melindungi pekerja rekonstruksi sipil asal Korea Selatan yang kini jumlahnya sekitar 120 pekerja.


Pemerintahan Republik Korea menawarkan kontribusi penempatan pasukannya di Reconstruction Team di wilayah provinsi Parwan-Afganistan yang disepakati pada 13 April 2007, Korea menjadi negara ke-19 diluar NATO yang ikut berkontribusi di International Security Assistance Force (ISAF).

Pada tahun 2007 Korea Selatan hanya mengirimkan sekitar 200 tentaranya ke Afghanistan, namun setelah terjadi tragedi penculikan yang menewaskan dua warganya, pemerintahannya kini mempertimbangkan penambahan pasukan disana.

Selain senapan K-11, pasukan Korea didukung juga oleh empat heli angkut UH-60, ranpur Doosan Barracuda 4x4 dan ranpur angkut infantri K200A1 untuk menghindari serangan milisi Taliban yang menggunakan alat peledak rakitan (IEDs). Dalam waktu dekat pasukan Korea juga bakal menerima pesawat intai mata-mata RQ-101 buatan Korea Aerospace Industries (KAI).

Amunisi

Saat ini ada dua jenis amunisi 20mm direferensikan untuk K11, yakni munisi granat udara (air-burst) jenis K167 High-Explosive (HE) dan K168 untuk munisi latihan (TPG/ target practice grenade). Selongsong peluru 20 mm ini menggunakan material aluminium, dan tahap selanjutnya akan dikembangkan amunisi 20mm baru dalam beberapa varian.

Sedangkan untuk munisi senapan menggunakan peluru standar NATO kaliber 5.56mm dengan dua varian magasen berdaya tampung 20 dan 30 butir peluru bermaterial campuran logam, seperti kuningan, tembaga dan seng.

Rencana kedepan S&T Daewoo akan mengembangkan amunisi baru yang lebih canggih dan lebih ringan, termasuk pengembangan mini missile system berukuran 20mm. Copyright ALUTSISTA

BERITA POLULER