Pages

Saturday, December 25, 2010

Iran Luncurkan Satelit Baru (satelite Pengintai)

 Iran akan meluncurkan satelit pengintai bernama Fajr dalam beberapa bulan ke depan. Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi dalam satu laporan yang disiarkan kantor berita resmi IRNA, Sabtu (25/12).
Vahidi mengatakan republik Islam juga akan menempatkan di angkasa pada saat yang sama sebuah satelit lainnya, Rasad 1 (Observasi), yang peluncurannya semula akan dilakukan Agustus 2010. "Iran sedang membangun satelit-satelit yang berbeda pada akhir tahun (Iran) (Maret 2011), satelit-sateit Fajr dan Rasad akan diluncurkan ke angkasa," kata menteri itu yang dikutip IRNA.
Kantor berita itu melaporkan Fajr yang berarti Fajar adalah satu satelit pengintai yang beroperasi dengan menggunakan tenaga surya. "Satelit-satelit ini berbeda dari model-model sebelumnya. Mereka memiliki sistem bahan bakar yang lebih baik dan dapat berada di angkasa dalam waktu yang lebih lama," kata Vahidi.
Ia mengatakan ia mengharapkan Rasad 1 akan diserahkan kepada kementerian komunikasi dan peluncuran akan dilakukan pada ulang tahun ke-32 revolusi Islam tahun 1979 yang jatuh pada 11 Februari 2011. Pada Februari 2009, Iran meluncurkan satelit pertama buatan dalam negeri, Omid yang berarti Harapan. (IRIB/Antara/Mediaindonesia)

IRIB

Ketika Pilot AS Ditembak di Langit Jawa


Minggu, 26 Desember 2010 
latimes.com
Cornelius Reagan, 95, mendapat ucapan selamat dari Japhet Rivera, direktur lembaga peduli veteran perang AS di Miami.

KOMPAS.com - Riwayat serdadu Amerika Serikat bernama Cornelius Reagan ini sungguh mengharukan. Pesawat yang dipilotinya pernah ditembak di langit Jawa pada 1942, semasa Pedang Dunia II.
Saya berpikir, jika saya menemukan lautan, saya dapat mencuri perahu dan pergi ke Australia.
-- Cornelius Reagan, veteran pilot Amerika
Sebelum dibekuk serdadu Jepang, Reagen bertahan hidup di hutan Jawa dengan makan buah-buahan dan daging mentah binatang.
Ketika tertangkap Jepang, ia dibui selama lebih dari tiga tahun. Lazimnya kaum interniran zaman itu, ia juga disiksa luar biasa oleh Jepang. Berat badannya sampai turun menjadi tinggal 92 pounds atau 41,7 Kg.
Pekan ini, sebuah lembaga veteran perang di Miami, AS, menghargai pengorbanannya dengan Medali Tawanan Perang, setelah 65 tahun lepas dari penjara Jepang di Jawa dan usianya sudah 95 tahun.
"Saya waktu itu yakin saya akan dapat bertahan, dan pulang," ujar Reagen dalam seremoni pemberian medali itu.
Seraya tertawa lembut, Reagen mengisahkan, saat itu dia dianggap sudah terbunuh karena memang hilang dalam tempo lama. Militer AS pun menganggapnya sudah mati, dan mengabarkan demikian juga kepada ibunya.
Anak tunggal yang lahir di Lexington, Kentucky, itu bergabung sebagai kadet Angkatan Udara AS tahun 1940, setelah lulus Universitas Kenctucky.
Ia masih ingat, pesawatnya ditembak di langit Jawa pada 1 Maret 1942, kemudian mendarat di sawah kawasan pegunungan. Reagen pun menyelamatkan diri dengan perahu curian. Agar bertahan hidup, ia makan buah-buahan dan daging mentah karena dia tak punya korek api.
"Saya berpikir, jika saya menemukan lautan, saya dapat mencuri perahu dan pergi ke Australia," kenangnya.
Tapi apes, penduduk Jawa menemukannya dan menyerahkan kepada Jepang. Padahal, untuk mengelabuhi penduduk, sebetulnya dia sudah sempat berdusta dengan menerangkan bahwa dirinya adalah koresponden media dari Irlandia, negara yang saat itu netral.
Di penjara Jepang, dia disuruh membaca propaganda soal sistem alamat penduduk. Ketika dia menolak, dihajarlah dia atas tuduhan sabotase dan dikirim ke peradilan militer. Akhirnya, dia dinyatakan bersalah dan dihukum seumur hidup untuk menjadi pekerja kasar atau Romusha.
Reagen yang sempat belajar bahasa Jepang dan Belanda selama ditawan, merasa beruntung karena banyak dari sekitar 55 tawanan saat itu divonis hukuman mati.
Setelah divonis, dia dipindah ke sebuah penjara di pantai utara Jawa. Dia disiksa, semisal ditusuk potongan bambu di bawah kuku jarinya serta dipaksa minum air sampai muntah.
Reagen dibebaskan dan diselamatkan oleh tentara Inggris pada September 1945, sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI. Ia tetap berdinas di militer sampai pensiun tahun 1961 dan hidup bersama keluarganya di Miami.
Sampai kini, ia mengaku masih sering dihantui kenangan buruk saat jadi tawanan perang itu. "Ini kisah luar biasa, Pak," ujar Japhet Revira, direktur lembaga peduli veteran perang itu. "Dan mungkin jadi hebat untuk diangkat dalam film."

KOMPAS.COM

Thursday, December 23, 2010

Russia to develop new heavy ICBM by 2020


Mobile missile launcher. © RIA Novosti.A. Zubtsov
SS-20
15:22 20/12/2010
© RIA Novosti. A. Zubtsov
Russia's state arms procurement program through 2020 provides for the development of a new heavy ballistic missile, a leading missile designer said on Monday. The final decision should be made in 2012-13 by the expert community, not solely the Defense Ministry, said Yury Solomonov of the Moscow Institute of Thermal Technology (MITT), the developer of the troubled Bulava submarine-launched ballistic missile.
"This matter is beyond the Defense Ministry's competence. It is a matter of state importance," he said.
"Heavy ICBM" refers to a class of missiles with a heavy throw weight between five and nine metric tons and a length of over 35 meters, capable of delivering a large number of warheads in a single MIRV missile.
Russia's Strategic Missile Forces are still armed with Soviet-era SS-18 Satan and SS-20 Saber ICBMs with an extended service life and are expected to remain in service until 2026.
The SS-18 Satan is deployed with up to 10 warheads with a yield of 550 to 750 kilotons each and an operational range of up to 11,000 km (6,800 miles).
MOSCOW, December 20 (RIA Novosti)

RIA NOVOSTI

AS Komitmen Bantu Pelihara Hercules TNI AU


Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk membantu pemeliharaan pesawat-pesawat angkut berat C-130 milik Hercules TNI Angkatan Udara.

Atase Udara (Atud) Amerika Serikat Colonel Kevin A Booth mengatakan hal itu saat mengunjungi Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Jakarta, Kamis.

Juru bicara TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro, usai pertemuan itu mengatakan, sekarang satu unit pesawat angkut berat C-130 Hercules TNI Angkatan Udara menjalani pemeliharaan berat dalam Programmed Depot Maintanance (PDM) di hangar perusahaan ARINC di Oklahoma, AS.

"Semula direncanakan lebih dari satu, namun kita baru kirim satu. Tetapi mereka tetap komitmen untuk membantu pemeliharaan sejumlah pesawat Hercules TNI Angkatan Udara," kata Bambang.

Satu pesawat yang menjalani pemeliharaan berat di ARINC untuk kali pertama itu, bernomor register A-1323.

"Program pemeliharaan PDM tersebut merupakan pemeliharaan tingkat berat untuk pesawat C-130 Hercules yang mengacu pada technical order yang dikeluarkan AS. Program ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang telah disepakati angkatan udara RI dan AS," katanya, menambahkan.

Bambang menegaskan, program pemeliharaan yang dibiayai dengan hibah AS itu bertujuan meningkatkan kemampuan dan kesiapan pesawat C-130 Hercules TNI Angkatan Udara.

"Pengerjaan pemeliharaan itu akan dilangsungkan selama enam bulan, melibatkan sepuluh orang teknisi TNI Angkatan Udara dalam rangka alih teknologi," ungkapnya.

Tentang penyelesaian pemeliharaan satu unit Hercules itu, Bambang mengatakan, "dari rencana enam bulan, kemungkinan mundur hingga lebih dari enam bulan karena ternyata banyak yang harus diperbaiki dan diganti.".

Perbaikan menyeluruh satu unit Hercules itu diperkirakan menelan biaya senilai 6,5 juta dolar AS.

ANTARA

Kemhan Dorong Industri Pertahanan Nasional (I)


Dikutip dari Harian 'Suara Pembaruan' edisi Rabu, 22 Desember 2010.

JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemhan) mencanangkan target kebutuhan pokok pertahanan nasional dapat dipenuhi pada tahun 2024. Untuk itu, Kemhan kini mendorong pengembangan industri pertahanan dalam negeri, guna memenuhi kebutuhan alutsista. Melalui pengembangan industri pertahanan, diharapkan dapat terjadi multiplier effect dalam industri strategis nasional.

Selain itu, juga untuk mengantisipasi ancaman embargo peralatan militer dari negara produsen seperti yang kerap terjadi selama ini, yang tentunya mengancam kekuatan pertahanan. Demikian diungkapkan Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, saat berdialog dengan jajaran Redaksi Suara Pembaruan di Jakarta, Selasa (21/12).

Dia mengungkapkan, saat ini kekuatan pertahanan militer baru dapat memenuhi 50 persen dari kebutuhan pokok pertahanan. Diharapkan, pada 2024 seluruh kebutuhan pokok pertahanan dapat terpenuhi. "Saat kebutuhan pokok pertahanan kita terpenuhi, pada waktu yang bersamaan kita sudah mencapai 60% dari kebutuhan ideal pertahanan," jelasnya.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, Kemhan mendorong optimalisasi BUMN yang bergerak di industri strategis, seperti PT Dahana (produsen bahan peledak), PT Pindad (produsen senjata), PT Dirgantara Indonesia (produsen pesawat), PT PAL (produsen kapal), dan juga PT Krakatau Steel, produsen utama baja di dalam negeri sebagai bahan dasar alutsista.

Selain itu, lanjut Purnomo, pemerintah juga mendorong agar ada pihak swasta yang mengambil alih PT Texmaco Engineering dari Perusahaan Pengelola Aset, sehingga perusahaan yang kolaps akibat terlilit utang ini saat krisis pada 1998 lalu mampu berproduksi kembali sebagai mitra Kemhan.


Truck angkut personel yang pernah dibuat oleh Texmaco

Texmaco Engineering telah menguasai industri dasar, dan mampu memproduksi berbagai mesin, seperti mesin truk yang digunakan TNI (Perkasa), serta komponen panser produksi Pindad. Purnomo menjelaskan, salah satu strategi agar perusahaan-perusahaan itu bisa terus berproduksi adalah dengan tidak hanya bergantung pada pemenuhan kebutuhan militer. "Sebab, pasarnya sangat kecil. Harus mengembangkan pasar non-militer," katanya.

Untuk itu dia mendorong BUMN dan swasta untuk juga memanfaatkan produksi dalam negeri. Dia mencontohkan, PT Dahana termasuk yang sukses secara ekonomi. Produksi Dahana yang digunakan untuk kebutuhan militer hanya 10%, sedangkan 90% sisanya justru dimanfaatkan oleh BUMN dan swasta lainnya, misalnya untuk peledakan wilayah pertambangan. "Jadi Dahana tidak bergantung pada TNI, sehingga secara ekonomi mereka lebih untung. Bahkan Dahana kini sedang menyiapkan fasilitas produksi propelan di Subang seluas 600 hektare," jelasnya.

Ditambahkan, Pertamina juga telah diminta untuk memesan kapal tanker kebutuhannya ke PT PAL. "Industri dasar kita harus diberi kepercayaan," sambungnya.

Produksi Alutsista

Terkait pemenuhan alutsista, Purnomo mengungkapkan, saat ini tengah dilakukan riset bersama Korea Selatan untuk memproduksi pesawat tempur. Ditargetkan mulai 2020 nanti, PT Dirgantara Indonesia (DI) sudah mampu memproduksi sendiri pesawat tempur jenis F-X. Pesawat tempur ini masuk kategori kelas generasi 4,5 di atas Sukhoi dan F-16 yang menjadi andalan TNI AU.

PT DI juga tengah menggarap pesanan 24 helikopter serbu untuk TNI AD dan sejumlah pesawat patroli dan angkut sebanyak 24 pesawat untuk TNIAU. Selain itu, PT PAL segera memproduksi kapal light-fregat atau perusak kawal rudal, dengan kandungan komponen lokal diharapkan mencapai 40%. Dalam waktu dekat, PT PAL juga akan membuat dua kapal selam untuk kebutuhan TNI AL.

Dia menambahkan, pernah ada tawaran dari Rusia terkait pembuatan kapal selam. "Tetapi, secanggih apapun, kalau tidak diproduksi di Indonesia, lupakan saja," tegasnya.
Untuk kebutuhan TNI AD, Purnomo mengungkapkan, PT Pindad juga tengah menjalin produksi bersama panser Tarantula yang dilengkapi kanon. "Panser Anoa buatan Pindad kini juga dipesan Malaysia untuk mendukung pasukan perdamaian mereka," tambahnya.

Pengembangan industri pertahanan hingga 2014 membutuhkan dana Rp 150 triliun. Saat ini sudah tersedia Rp 100 triliun, dan Rp 50 triliun sisanya dibagi dalam lima tahun anggaran. Langkah-langkah tersebut ditempuh agar kebutuhan pokok pertahanan dapat terpenuhi pada 2024. "Pemenuhan kebutuhan pokok dimaksud antara lain kita memiliki 7-8 skuadron pesawat tempur," ujarnya.

Latihan Terjun Taktis Yonif Linud 305/Tengkorak

KARAWANG - Sejumlah anggota Yonif Linud 305/Tengkorak Karawang melakukan latihan terjun taktis di daerah perbukitan Desa Karanganyar, Kecamatan Klari, Karawang, Jabar, Rabu (22/12). Latihan terjun taktis untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan itu diikuti sekitar seribu peserta dari Yonif Linud 305 dan Yonif Linud 328 Cilodong, digelar selama dua hari mulai Rabu hingga Kamis (hari ini). FOTO ANTARA/M.Ali Khumaini/ed/ama/10



Korea dan Rusia Bersaing Dalam Pengadaan Kapal Selam TNI AL


JAKARTA - Wakil Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Madya TNI Marsetio, menegaskan, pihaknya akan realistis dalam pengadaan kapal selam untuk memperkuat armada tempur matra laut."Kita memang membutuhkan kapal selam, untuk memperkuat armada tempur TNI Angkatan Laut. Namun, itu akan dilakukan secara realistis," katanya, Rabu (22/12).

Marsetio mengemukakan, sesuai rencana strategis TNI Angkatan Laut hingga 2024 pihaknya telah mengajukan penambahan dua unit kapal selam. "Jadi hingga 2024, TNI Angkatan Laut memiliki empat unit kapal selam yakni dua unit yang telah ada KRI Nanggala dan KRI Cakra, plus dua unit yang masih dalam proses pengadaan di Kementerian Pertahanan," ujarnya.

Marsetio menegaskan, pengadaan dua kapal selam itu sudah disesuaikan dengan kerangka kekuatan pokok minimum (minimum essential forces). "Jadi, realistis lah sesuai ketersediaan anggaran pemerintah," katanya.

Pengadaan dua unit kapal selam itu dibiayai fasilitas Kredit Ekspor (KE) senilai 700 juta dollar Amerika Serikat, yang diperoleh dari fasilitas pinjaman luar negeri di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2004-2009.

"Kami sudah tentukan spesifikasi teknisnya, serta kemampuan dan efek penggentar yang lebih dari yang dimiliki negara tetangga," kata Wakasal.

Pada tender pertama, dari empat negara produsen kapal selam yang mengajukan tawaran, seperti Jerman, Perancis, Korea Selatan, dan Rusia, TNI Angkatan Laut telah menetapkan dua negara produsen sesuai kebutuhan yaitu Korea Selatan dan Rusia.

Rencananya, dari dua pilihan itu diuji kembali mana spesifikasi kapal selam yang sesuai dengan kebutuhan TNI Angkatan Laut.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Kopaska Peragakan Atasi Terorisme di WBL


Sejumlah anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL melakukan penyergapan ketika terjadi pembajakan kapal oleh teroris di Wisata Bahari Lamongan (WBL), Jawa Timur, Rabu (22/12). Simulasi penyergapan teroris tersebut dalam rangkah peringatan Hari Nusantara XI Provinsi Jatim. (Foto: ANTARA/Syaiful Arif/Koz/mes/10)

23 Desember 2010, Lamongan -- Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan laut (AL) peragakan mengatasi terorisme di laut, saat Upacar Hari Nusantara XI di Wisata Bahari Lamongan (WBL), Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu.

Aksi demontrasi kemampuan tempur prajurit Kopaska menampilkan pembebasan dan perebutan kembali kapal yang telah dibajak oleh perompak.

Disimulasikan sebuah kapal penangkap ikan dari nelayan Indonesia yang sedang dikuasai oleh sekelompok perompak dari negara asing.

Mereka menawan para nelayan Indonesia dan bermaksud membawa kapal dan muatannya untuk dibawa ke negara mereka.

Satu tim Kopaska Koarmatim dibawah pimpinan Letnan Satu Laut Khusus Arafat bergerak cepat melaksanakan aksi perebutan kembali.

Mereka menggunakan dua unit perahu cepat melaksanakan droping pasukan, sedangkan satu unit lainnya malaksanakan manuver guna mengalihkan perhatian pembajak.

Dengan sigap dan cepat mereka segera masuk ke kapal sasaran dan melumpuhkan pembajak satu persatu dengan teknik ship boarding dan menggunakan senjata MP-5 kaliber 9 milimeter.

Sementara itu, dari arah dermaga WBL, disimulasikan sebuah basis pertahanan musuh yang berada di pesisir. Mereka menguasai sebagai objek vital strategis sebagai pertahannya untuk melepaskan dari NKRI.

Kemudian satu tim Kopaska melakukan raid penghancuran terhadap instalasi tersebut dari bawah air. Sementara satu tim lainnya melakukan pengelabuhan guna menarik perhatian musuh.

Puncaknya, dengan aksi pendadakan yang akurat seluruh musuh dapat dilumpuhkan. Selanjutnya tim raid yang dipimpin oleh Letnan Satu Laut Suplay Bambang, melakukan demolisi atau penghancuran terhadap objek vital dengan bahan peledak yang telah dirakit.

Selanjutnya detonator diserahkan kepada Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) untuk diledakkan dengan hitungan mundur.

"Laut Indonesia memiliki sumberdaya yang melimpah. Tetapi saat ini telah terjadi kerusakan yang luar biasa akibat penggunaan alat tangkap yang merusak ekosistem laut," katanya usai menjadi Irup Upacara Hari Nusantara IX, Rabu

Dengan semangat yang tinggi seperti yang telah diperagakan oleh Kopaska, dia mengajak di moment Hari Nusantara ini untuk bersama-sama menjaga laut.

Acara bertajuk "Hari Nusantara Membangkitkan Budaya Bahari" itu, juga dihadiri Bupati Lamongan Fadeli beserta istri, Wakil Bupati Lamongan Amar Saifudin beserta istri, Jajaran Muspida, Kepada SKPD se-Kabupaten Lamongan, serta Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).

Sementara itu tampak hadir pula Komandan Gugus Tempur Laut Koarmatim (Danguspurlatim) Laksamana Pertama AL Widodo, Komandan Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Letkol Laut Yeheskiel Katiandagho serta Direktur Direktorat Polisi Perairan (Dirpolair) Polda Jatim Kombes Pol Anang Syarif Hidayat juga tampak hadir diantara tamu undangan.

ANTARA Jatim

BERITA POLULER