Pages

Thursday, December 16, 2010

HMS Ambush







One of the Royal Navy’s newest and most sophisticated attack submarines, HMS Ambush’s build in Barrow-in-Furness is right on target and the latest images have now been released to The Bay
Astute class submarine

http://www.roguegunner.com/2008/02/hms-ambush.html

Kapal Selam Terbesar Buatan Inggris


0diggsdigg

Kapal selam terbaru buatan Inggris.

KOMPAS.com — Inggris akan meluncurkan kapal selam terbarunya, Kamis (16/12/10) di Barrow-in-Furness di Cumbria. Kapal selam berbiaya 1,2 miliar poundsterling atau sekitar Rp 22,5 triliun itu diklaim sebagai kapal selam terbesar yang pernah dibuat Inggris.

Kapal selam bernama Ambush ini memiliki ukuran 50 persen lebih besar dari pendahulunya, Swiftsure dan Trafalgar. Panjangnya lebih kurang 291 kaki, setara dengan panjang lapangan sepak bola.

Hebatnya, kapal selam ini mampu mengubah air laut menjadi oksigen dan air tawar sehingga mampu mempertahankan 98 kru-nya tetap hidup. Selain itu, kapal selam ini juga nyaris tak bersuara sehingga tak mudah dideteksi musuh.

Sonar dan radar kapal selam Ambush bisa mendeteksi kapal lain yang berjarak 3.000 nautikal mil (5.556 kilometer). Jadi, jika berada di wilayah laut yang memisahkan Inggris dengan Perancis, kapal selam ini bisa mendeteksi kapal yang berada di New York, AS.
Kapal selam ini tak butuh pengisian ulang bahan bakar dan bisa menyerang menggunakan misilnya hingga sejauh 1.000 mil (1.609 kilometer). Yang terhebat, misi kapal selam biasanya hanya 10 minggu, tetapi secara teori kapal selam ini bisa bertahan di dalam air tanpa perlu muncul ke permukaan seumur hidupnya, 25 tahun.
Ambush nantinya akan membawa 38 misil, yakni misil penjelajah Tomahawk yang punya daya jelajah hingga 1.240 mil (1.996 kilometer). Selain itu, kapal selam ini juga akan dilengkapi dengan torpedo kelas berat untuk menghancurkan kapal dan kapal selam lain.

Mesinnya yang bertenaga nuklir bisa menggerakkan kapal dengan kecepatan hingga 20 knot, memungkinkan kapal menempuh jarak 500 mil (805 kilometer) sehari. Saking besarnya, energi nuklirnya dikatakan bisa menghidupi seluruh kota Southampton.
Ambush akan diluncurkan dan dinamai secara resmi oleh Lady Anne Soar, istri Kepala Panglima Angkatan Laut Sir Trevor Soar. Selanjutnya, kapal selam berukuran 7.400 metrik ton ini akan diujicobakan.

Sekadar diketahui, kapal selam ini bisa membawa 98 kru. Selain itu, Ambush juga dilengkapi gudang yang bisa menyimpan makanan untuk kebutuhan selama tiga bulan, terdiri dari 18.000 sosis dan 4.200 bungkus sereal Weetabix.

Sumber: KOMPAS

Wednesday, December 15, 2010

TNI AL Berkomitmen Bangun Kekuatan


0diggsdigg

Tank Amphibi BMP 3F Milik Marinir TNI AL

Liputan6.com, Jakarta: Usai penyerahan 17 unit tank amfibi dari Rusia kepada Indonesia, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut atau TNI AL berkomitmen membangun kekuatan militer baik berupa kapal perang Republik Indonesia atau KRI hingga kendaraan tempur taktis. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Penerangan TNI AL atau Kadispenal Kolonel Laut (S) Tri Prasodjo di Jakarta, Rabu (15/12).

Dalam kunjungannya ke SCTV Tower, Senayan, Jakarta, Tri menjelaskan pemerintah akan membeli kendaraan tempur sesuai kebutuhan saat ini tanpa mengkhususkan produk negara tertentu. Bahkan, ia menambahkan, TNI AL berupaya menjalin kerja sama dengan produsen dalam negeri guna memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata atau alutsista. Beberapa perusahaan pelat merah seperti PT Penataran Angkatan Laut atau atau PAL Indonesia dan beberapa perusahaan swasta lainnya diyakini mampu menanganinya.

Ketika ditanya mengenai masalah perbatasan dengan Malaysia, Tri mengungkapkan, masalah itu sedang tim gabungan beberapa instansi Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan dan beberapa petinggi TNI-Polri. Meski begitu, mantan Paban IV Progar Staf Perencanaan dan Anggaran Angkatan Laut (Srenal) itu menyatakan TNI tetap berkomiten menjaga kesatuan wilayah RI.

"Itu adalah urusan negara, tugas pokok TNI AL menjaga adalah kedaulatan negara," ujar Tri.

Untuk diketahui, Tri diangkat menjadi Kadispenal sejak awal Desember lalu, Ia menggantikan Laksamana Pertama TNI Herry Setianegara yang kini mengemban jabatan baru sebagai Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Barat.

Sumber: YAHOO

ITT To Produce Submarine-Based Surveillance Systems For Norway

ITT To Produce Submarine-Based Surveillance Systems For Norway

More Navy News

ITT has won a contract from the Norwegian Defense Logistics Organization to provide six tactical radar Electronic Support Measures (ESM) and surveillance systems for its Ula Class submarines.
ESM systems play an important role in a submarine's defenses. By monitoring electromagnetic energy, the crew can detect, intercept, locate, or analyze sources of those signals to detect other vessels or objects, and determine if any of ITT's solution, based on its ES-3701 precision ESM system, is in use by numerous navies around the world. The system is ideally suited for ship, submarine and coastal surveillance, as well as land-based applications.
In addition, the equipment has advanced capabilities for long-range radar signal acquisition, classification and intelligence.
"With our established in-country support and ability to offer early delivery of a solution that provides commonality across the Norwegian fleet, ITT is committed to helping Norway achieve its mission," said Bill Devlin, vice president of ITT's Radar Reconnaissance and Acoustic Systems business area.
"This win continues to position us as a premier international supplier of ESM systems."
Work will be performed by ITT's Radar, Reconnaissance and Acoustic Systems business area, a leader in global solutions for battlespace situational awareness, electronic warfare and countermeasures.


DEFENCE TALK

South Korea holds mass civil defence drill amid tension

South Korea holds mass civil defence drill amid tension

More Army News

Army News — By Agence France-Presse on December 15, 2010
SEOUL: South Korea launched its biggest-ever civil defence drill amid high tensions over North Korea's deadly artillery attack last month and its nuclear programmes.
Sirens wailed across the country at 2:00 pm (0500 GMT) on Wednesday to signal the start of the 15-minute exercise. Most traffic quickly halted on Seoul's main street, Sejongno, and elsewhere in the bustling city centre.
The National Emergency Management Agency (NEMA) said the nationwide evacuation drill was the first of its kind since a civil defence law was passed in 1975.
Under the scenario, 12 jet fighters were to scream overhead to simulate air strikes by the North and pedestrians were to be ushered into shelters.
Pavements quickly emptied in the capital but it was not immediately clear how many took refuge in shelters.
"The special nationwide evacuation drill is aimed at dealing effectively with a real situation like North Korea's artillery attack on Yeonpyeong Island," NEMA said in a statement.
"Public concern has been growing over North Korea's provocations," it said, citing continued military threats, high tensions in the Yellow Sea near the disputed border and the possibility of a third nuclear test by Pyongyang.
The North's November 23 bombardment of the border island killed four people including civilians. It was the first attack on civilian-populated areas since the 1950-53 war.
According to plans for the drill, all road and pedestrian traffic in cities was to be halted for 15 minutes. School classes were to be suspended, with students and teachers told to take shelter.
People at home were advised to switch off gas and electricity and move into underground shelters. Residents of high-rise buildings were urged to take the stairs instead of elevators.
Ships and airline flights were not affected. Trains and cars using expressways were urged to slow down.
At seven Seoul subway stations, training involving firefighters, soldiers and government officials was to be conducted. NEMA was to check emergency kits at 25,724 state-designated shelters nationwide.
In the border city of Paju, stage agencies were to conduct training against a mock attack by North Korean chemical weapons.
South Korea, which has remained technically at war with the communist North since their conflict 60 years ago, usually conducts much smaller drills involving the sounding of sirens several times a year.
In recent years, these have been widely ignored by the public.

DEFENCE TALK

Aerospace Industry Targeted To Contribute RM50 Billion To GDP In 2015


Aircraft maintenance activities at Airod Turbopower (photo : Airod)

KUALA LUMPUR, (Bernama) -- The Defence Ministry has set a target for the aerospace industry to contribute RM50 billion to GDP in 2015, Minister Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi said Monday.

He said the industry had generated RM25.7 billion to GDP this year.

Dr Ahmad Zahid said the RM50 billion covered the security, enforcement and defence industries in the aerospace sector whereby we expect the Asean economies to recover fully and Malaysia becoming the hub to manufacture (defence) assets," he told reporters after chairing a meeting of the Malaysian Industry Council for Defence, Enforcement and Security (MIDES), here.

The meeting was attended by 37 representatives of various government agencies and 35 representatives of local defence industry companies engaged in the maritime and information technology sectors.

Dr Ahmad Zahid said the ministry would hold a workshop on the defence industry with the collaboration of the Finance Ministry, International Trade and Industry Ministry and the Science, Technology and Innovation Ministry in March next year.

Prime Minister Datuk Seri Najib Tun Razak was expected to deliver a keynote address at the workshop, he added.

GGK Selamatkan 'Tebusan'




ANGGOTA Grup Gerak Khas menunjukkan ketangkasan dan kemahiran mereka. (photo : Utusan)

PUKUL 9.10 malam, 10 November 2010, sebuah pesawat Airbus A320 milik syarikat penerbangan AirAsia yang sarat dengan 107 penumpang dan enam juruterbang serta krew dari Taipei, Taiwan menuju Kuala Lumpur telah dirampas oleh sekumpulan pengganas.

Pengganas mengarahkan juruterbang agar mendarat di Kota Kinabalu untuk mengisi minyak sebelum meneruskan penerbangan ke Karachi, Pakistan.

Pada masa sama, kumpulan tersebut menuntut kerajaan Malaysia membebaskan ketua mereka, Abu Jahatan dan tiga orang rakan lain yang sedang ditahan di Penjara Sungai Buloh.

Jam 10.13 malam, kumpulan berkenaan bertindak berlepas ke destinasi tidak diketahui selepas tuntutan mereka untuk mengisi minyak lewat ditunaikan oleh pihak berkuasa Lapangan Terbang Antarabangsa Kota Kinabalu.

Keputusan itu dibuat bagi mengelak pasukan keselamatan melakukan operasi menyelamat.

Semasa memasuki ruang udara Semenanjung, pengganas mengarahkan juruterbang mendarat di Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA) untuk mengisi minyak.

Bagaimanapun, pesawat tidak dibenarkan mendarat di situ berikutan trafik udara yang sesak dan mereka diminta mendarat di Melaka.

Pada 10.17 malam, pesawat mendarat di Lapangan Terbang Antarabangsa Melaka dan membuat tuntutan sama.

Mereka mengugut untuk membunuh tebusan sekiranya tuntutan berkenaan tidak dipenuhi selewat-lewatnya pukul 11 malam.

Jam 11.01 malam, tuntutan pengganas belum dipenuhi.

Akibatnya, seorang tebusan dibunuh dan mayatnya dicampak ke atas landasan. Pesawat berlepas meninggalkan Melaka menuju destinasi yang tidak diketahui.

Pada 11.03 malam, pesawat terpaksa mendarat di Lapangan Terbang Antarabangsa Bayan Lepas, Pulau Pinang kerana kehabisan minyak.

GGK adalah pasukan khusus Malaysia (photo : Discover Military)

Pada masa sama, pengganas membuat tiga tuntutan yang perlu dipenuhi kerajaan iaitu pengisian minyak dilakukan dengan kadar segera, ketua mereka Abu Jahatan dan tiga rakan lain dibebaskan serta pesawat dibenarkan keluar dari negara ini dengan selamat.

Jika tuntutan-tuntutan itu tidak dipenuhi atau ada usaha menyelamat cuba dilakukan pasukan keselamatan, mereka mengancam untuk membunuh semua tebusan dan meletupkan pesawat.

Kerajaan cuba berunding dengan pengganas, namun, tidak mendapat maklum balas positif.

Berikutan tindakan agresif pengganas, Majlis Keselamatan Negara mengambil keputusan untuk tidak membenarkan pesawat meninggalkan Pulau Pinang dan melakukan misi menyelamat tebusan dengan segera.

Panglima Angkatan Tentera Malaysia (ATM) memerintahkan Panglima Tentera Darat mengatur gerak dan Markas 21 Grup Gerak Khas (GGK) diberikan tanggungjawab melaksanakan tugas berkenaan.

Itu adalah senario Eksesais Thunderbolt yang berlangsung dari 22 hingga 26 November lalu di Pulau Pinang.

Pihak media berpeluang membuat liputan operasi menyelamat tersebut menggunakan pesawat sebenar Airbus A320 di Lapangan Terbang Antarabangsa Bayan Lepas baru-baru ini.

Operasi dilakukan oleh pasukan Unit Lawan Keganasan (ULK) 11 Rejimen Gerak Khas pada pukul 3 pagi.

Dalam keadaan gelap-gelita, mereka diberikan masa 10 minit untuk menyempurnakan tugas mencabar itu.

Ternyata, ketangkasan dan kemahiran yang dimiliki pasukan khas tersebut membolehkan misi berjaya dilaksanakan mengikut perancangan.

Turut serta dalam latihan adalah pasukan-pasukan lain dalam Tentera Darat seperti Pemusnah Ordnans Letupan (EOD) dan Kor Kesihatan Diraja.

Agensi-agensi lain terlibat termasuk Jabatan Penerbangan Awam (DCA), Malaysia Airports Berhad (MAB) dan AirAsia Bhd.

Hadir menyaksikan demonstrasi berkenaan ialah Panglima Tentera Darat, Jeneral Datuk Seri Zulkifeli Mohd. Zin; Panglima 2 Divisyen, Mejar Jeneral Datuk Mohd. Noor Daud; Panglima 21 GGK, Brigedier Jeneral Datuk Abdul Samad Yaakob dan Panglima 6 Briged, Brigedier Jeneral Datuk Tajri Alwi.

Pada sidang akhbar selepas itu, Zulkifeli melahirkan rasa puas hati dengan kecekapan yang ditunjukkan oleh anak-anak buahnya.

Katanya, latihan sedemikian penting bagi memastikan Tentera Darat sentiasa bersedia pada bila-bila masa untuk menangani krisis keganasan melibatkan pesawat yang dirampas dan dipaksa mendarat di negara ini.

“Kita tidak boleh menafikan pesawat kita atau milik syarikat penerbangan lain mungkin boleh dirampas oleh kumpulan pengganas dan kepakaran kita diperlukan untuk menangani krisis tersebut.

“Justeru, kecekapan pasukan khas perlu sentiasa dilihat termasuk keperluan persenjataan baru,” katanya kepada pemberita.

Selain itu, menurutnya, masih ada ruang untuk pasukan khas diberi penambahbaikan dari segi kelengkapan dan peralatan.

Ini kerana, jelas beliau, teknologi persenjataan berkembang dengan pantas dan amat wajar pasukan khas seperti ULK 11 Rejimen Gerak Khas bergerak mengikut peredaran semasa.

BERITA POLULER