Pages

Tuesday, December 14, 2010

Kesenjangan Pembangunan Picu Ancaman Nirmiliter


Wakil Presiden Boediono meninjau pos pengamanan laut TNI AL di Sei Panjang, Pulau Sebatik. (Foto: detikFoto/Gunawan Mashar)

15 Desember 2010, Pontianak -- Panglima Kodam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Geerhan Lantara, mengkhawatirkan, bila pembangunan kawasan perbatasan negara Republik Indonesia (Entikong/Kalimantan Barat), tak diakselarasi dengan pembangunan perbatasan Malaysia (Serawak) akan menimbulkan kesenjangan ekonomi antarpenduduk kedua negara. Kesenjangan ekonomi dan budaya membawa dampak pada ancaman nirmiliter.

"Akselarasi pembangunan harus dilakukan seimbang. Jika tidak dilakukan, kita akan tertinggal dalam tinkat ekonomi dan tentunya berpengaruh terhadap psikologis masyarakat kita yang tinggal di kawasan perbatasan dua negara, seperti di kawasan perbatasan Kalimantan," ujar Geerhan saat menerima audiensi wartawan dari Jakarta di Markas Kodam XII/Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (14/12).

Turut hadir, Kepala Pusat Komunikasi dan Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio.

Nirmiliter, seperti sosial budaya, ekonomi, teknologi dan ideologi merupakan ancaman paling dikhawatirkan pemerintah. Warga perbatasan Indonesia lebih gampang mendapatkan akses informasi dari negara Malaysia.

"Administrasi kependudukan warga kita adalah WNI. Namun, interaksi dan pemenuhan kebutuhan keseharian penduduk kita lebih cenderung ke negara tetangga. Selain itu, akses informasi yang mereka lebih banyak dari negara tetangga," ujarnya.

Meski demikian, Geerhan menyakini nasionalisme penduduk Indonesia yang tinggal di kawasan perbatasan negara RI-Malaysia tidak luntur oleh iming-iming ekonomi.

Menurut dia, kesenjangan ekonomi dan psikologis kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia baru akan terlihat konkrit dalam jangka waktu lima tahun ke depan.

Sekarang ini, Malaysia gencar membangun sarana dan prasarana serta infrastruktur di kawasan perbatasan.

Sebaliknya, menurut mantan Panglima Divisi Infanteri II Kostrad ini, pembangunan perbatasan di Indonesia belum konkrit karena insinkronisasi peraturan daerah dengan peraturan pemerintah pusat maupun undang-undang.

"Putra-putra daerah dan tak kalah cerdas dibandingkan dengan saudara kita dari negara tetangga. Sayangnya, kecerdasan anak bangsa belum diimplementasikan total dalam kerangka pembangunan nasional untuk kawasan perbatasan," ujar Geerhan.

Regulasi Khusus

Ia tak menampik realita kesenjangan penduduk di kawasan perbatasan Malaysia dan Indonesia. Penduduk Indonesia cenderung melaksanakan kegiatan ekonomi di negara tetangga serumpun itu. "Sekarang sudah terlihat jelas kesenjangan itu," ujar Geerhan.

Ia menambahkan, mata uang Malaysia, ringgit lebih bergengsi dari rupiah. Di Malaysia, nilai tukar rupiah tidak diterima. Sebaliknya, warga Indonesia yang tinggal di perbatasan Indonesaia menggunakan nilai transaksi ringgit.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Barat Fathan A Rasyid menyatakan, sinergitas TNI dan Pemerintah Daerah Kalimantan Barat berupaya mewujudkan pembangunan di daerah perbatasan masih terbentur pada kebijakan pemerintah pusat dan undang-undang.

"Perlu ada kebijakan atau regulasi khusus untuk pembanguna perbatasan," ujarnya.

Wapres: Pendekatan Kesejahteraan Cara Terbaik Jaga NKRI

Wakil Presiden Boediono juga mengunjungi anak-anak yang tangah menuntut ilmu. Karena keterbatasan SDM, mereka mendapat pelajar bukan dari guru semestinya, namun dari anggota TNI. (Foto: detikFoto/Gunawan Mashar)

Wakil Presiden (Wapres) Boediono mengatakan, bila ingin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) aman, maka cara terbaik adalah pendekatan kesejahteraan masyarakat, di samping juga keamanan.

"Jika sejahtera tentu dengan sendiri masyarakat akan menjaga, tapi jangan lupa harus ada yang mengawal dibelakang, seperti TNI dan Polri," kata Wapres Boediono, saat mengunjungi Pondok Pesantren Mutiara Bangsa di Pulau Sebatik, Kalimantan Timur, Selasa (14/12).

Hadir dalam acara itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Djalal, serta Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak.

Dalam kesempatan itu, Wapres mengadakan tatap muka dan dialog dengan para pelajar, guru dan sejumlah PNS. Menurut Wapres, daerah perbatasan bukan merupakan halaman belakang, tapi seharusnya menjadi teras terdepan rumah.

"Niat seperti itu, adalah niat pemerintah pusat tapi untuk kesejahteraan dijalankan secara bertahap tidak bisa dalam semalam," kata Wapres.

Boediono menilai hatinya merasa tersentuh ketika tiba dan bertatap muka dengan masyarakat yang berada di wilayah terdepan. "Saya bisa merasakan itu, dan saya optimistis bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bisa menjaga keutuhan NKRI yang memang menjadi cita-cita pendiri bangsa dan kita semua," ujar Boediono.

Wapres mengatakan, kehadirannya untuk melihat dengan mata kepala sendiri ke wilayah terdepan NKRI yang berbatasan dengan Malaysia, untuk mendapatkan rasa dan sekaligus melihat masyarakat yang telah terpatri menjaga wilayah Indonesia.

Dalam kunjungan ke pondok pesantren tersebut, Wapres menyaksikan pemberian bantuan dana oleh para pejabat BUMN untuk program peningkatan pendidikan dan kesehatan di Kecamatan Sebatik.

Sejumlah BUMN yang akan memberikan bantuan adalah PT PLN sebesar Rp 100 juta, PT Bank Tabungan Negara Rp 200 juta, PT Bank Negara Indonesia Rp 200 juta, PT Bank Rakyat Indonesia Rp 200 juta, PT Bank Bukopin Rp 50 juta, serta penyerahan bantuan mendiknas Rp 2,10 miliar.

Tetap Waspada

Kapal TNI AL yang biasa digunakan patroli untuk menjaga perbatasan RI. (Foto: detikFoto/Gunawan Mashar)

"Tolong bantuan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya dan tidak perlu mampir ke sana-sini. Itu bentuk pertanggungjawaban ke Bupati untuk digunakan mensejahterakan rakyat," kata Wapres.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres Boediono meminta semua pihak untuk tetap waspada dan siaga menjaga perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. "Perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan dan wilayah perlu dijaga dan dikawal. Saya melihat itu sudah dijalankan dengan baik," kata Wapres Boediono kepada pers, saat meninjau Pos Angkatan Laut Sei Pancang, di Pulau Sebatik.

Pos Angkatan Laut Sei Pancang memiliki perbatasan laut wilayah Indonesia dan Malaysia. Usai meninjau wilayah perbatasan itu, Wapres juga meninjau wilayah perbatasan kedua negara di Dusun Abadi, Desa Aji Kuning, yang perbatasannya dipisahkan oleh daratan.

Wapres dalam kunjungan di kedua perbatasan itu mendapat penjelasan langsung dari para kepala pos penjagaan mengenai upaya-upaya yang dilakukan dalam mengamankan perbatasan.

Suara Karya

Pembangunan Perbatasan Perlu Dipercepat


0diggsdigg

PONTIANAK (SINDO) – Pembangunan wilayah perbatasan harus segera diakselerasi untuk menyeimbangkan dengan kondisi di negara tetangga. Tanpa itu, kesenjangan antarwilayah perbatasan kedua negara dikhawatirkan akan semakin melebar “Akselerasi pembangunan di perbatasan harus segera dimaksimalkan.

Jika tidak dilakukan, kita akan tertinggal dalam tingkat ekonomi dan tentu akan berpengaruh pada psikologis masyarakat kita yang tinggal di perbatasan dua negara seperti perbatasan Kalimantan,” ujarPanglimaKodamXII/Tanjungpura Mayjen TNI Geerhan Lantara di Markas Kodam XII/Tanjungpura, Pontianak,kemarin Wilayah perbatasan darat di Provinsi Kalimantan Barat memiliki panjang sekitar 966 kilometer yang meliputi 5 kabupaten, 15 kecamatan, dan 98 desa.

Jumlah penduduk yang tinggal di sekitar perbatasan sekitar 176.000 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata delapan orang per km persegi. Geerhan melanjutkan, meski diprediksi tidak akan ada ancaman secara militer atau invasi di perbatasan darat dengan Malaysia, ancaman-ancaman nirmiliter akibat ada kesenjangan secara ekonomi tersebut juga patut mendapat perhatian yang sangat besar.

“Pembangunan kekuatan pertahanan juga harus memperhatikan akselerasi pembangunan secara masif,” ungkap mantan Panglima Divisi 2 Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad) ini. Namun, ujar Geerhan, pembangunan tersebut jangan sampai dilakukan secara parsial karena tingginya kompleksitas masalah. “Sinergi diperlukan jangan sektoral,” katanya.

Kepala Badan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalbar Fathan A Rasyidmengungkapkan, kesenjangan tingkat kesejahteraan masyarakat perbatasan sangat tinggi.Pendapatan per kapita di Entikong mencapai USD 700, sedangkan di Serawak, Malaysia berkisar USD 4000. Karena itu, lanjut dia, pemda berencana membangun perkebunan di kawasan perbatasan untuk menggenjot pendapatan penduduk setempat.

“Kita akan membuka perkebunan di mana setiap kepala keluarga memperoleh lima hektare untuk dikelola,”katanya. Pembangunan jalan yang paralel dengan perbatasan sampai ke Kalimantan Timur juga akan digagas. Dia bahkan mengharapkan keberadaan Badan Nasional Pe-ngelolaan Perbatasan yang juga akan dibentuk di daerah akan bisa menyinergiskan program-program serta anggaran yang selama ini sektoral.

Sementara itu,Komandan Pelaksana Operasi Perbatasan Kolonel Inf Toto Renanto mengatakan, persoalan yang mengemuka di perbatasan saat ini yakni patokpatok yang hilang, rusak,maupun bergeser dari titik koordinat yang seharusnya.“Dari 5784 patok batas di wilayah Kalimantan Barat puluhan yang hilang dan banyak juga yang rusak,”katanya.

Sebelumnya Mendagri Gamawan Fauzi mengungkapkan,pemerintah melalui koordinasi lintas kementerian telah menetapkan sejumlah program untuk perbatasan. Salah satunya pembangunan infrastruktur jalan agar antara daerah satu dan lainnya di perbatasan bisa terhubung. Mendagri juga telah mengundang provinsi terkait untuk menginventarisasi masalah dan prioritas program yang dilakukan di antaranya Provinsi Kepulauan Riah dan Kalimantan Barat.

Sumber: SINDO

Panglima TNI Berharap Belanda Konsisten Dukung Pembangunan PKR


JAKARTA - TNI meminta Pemerintah Belanda untuk konsisten mendukung pembangunan kapal "light fregat" yang merupakan jenis perusak kawal rudal (PKR) yang dibuat oleh PT PAL bersama supervisi dari perusahaan galangan kapal "Schelde" Belanda.

"Ya kami meminta dukungan Belanda untuk lebih konsisten dalam supervisi pembangunan kapal tersebut, karena ada beberapa hal yang tidak bisa dikerjakan PT PAL," kata juru bicara TNI Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul di Jakarta, Selasa (14/12).

Dikonfirmasi usai menghadiri pertemuan tertutup Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dengan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd F. De Zwaan, ia mengatakan, konsistensi Belanda untuk pembangunan kapal tempur modern itu tetap diperlukan tanpa mengabaikan upaya pemberdayaan daya mampu dari PT PAL sebagai salah satu industri strategis nasional.

"Ini semua dilakukan juga dalam rangka revitalisasi industri pertahanan nasional, khususnya PT PAL untuk dapat memenuhi kebutuhan alutsista TNI termasuk kapal perang," ujar Iskandar.


Kapal Patroli Kawal Rudal (PKR) 105m

TNI Angkatan Laut sedang membenahi kekuatan tempurnya dalam kerangka kekuatan pokok minimum, dengan memodernisasi persenjataan tempurnya. Saat ini terdapat 154 KRI berbagai jenis dan ditargatkan menjadi 274 KRI.

Terkait itu, Kementerian Pertahanan telah meluncurkan program pembangunan kapal "light fregat" PKR bekerja sama dengan Belanda. Kementerian Pertahanan mentargetkan pembuatan 10 unit kapal.

Pembangunan satu kapal perang itu diperkirakan menghabiskan dana sebesar 220 juta dolar AS dengan lama pembangunan selama empat tahun.

Selain pembangunan kapal `light fregat`, dalam pertemuan itu dibahas berbagai hal menyangkut hubungan bilateral kedua negara, yang telah berjalan baik termasuk hubungan militer kedua pihak.

Sumber : ANTARA

Melintas Tanpa Izin Pesawat Malaysia Ditahan di Surabaya


0diggsdigg


Pesawat BAE 146-200

SURABAYA, KOMPAS.com — Sebuah pesawat carteran dari Malaysia diamankan di Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya, Selasa (14/12/2010) sekitar pukul 17.00. Pesawat itu diamankan karena diduga melintas di wilayah udara Indonesia tanpa izin.

Hingga sekitar pukul 19.00 tadi, penumpang pesawat masih berada di bandara untuk dimintai keterangan. Petugas masih mencari data dan identitas pesawat, serta para penumpangnya. "Benar ada pesawat yang melintas tanpa izin. Sekarang masih diperiksa," kata Komandan Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut Juanda Kolonel Laut (P) Supranyoto saat dihubungi melalui telepon genggamnya.

Pesawat tersebut terbang dari Dili dengan tujuan Kuala Lumpur, Malaysia. Namun, pesawat melintas tanpa izin dan kini diperiksa di Bandara Juanda, Surabaya. Dia belum mengetahui persis, baik mengenai jumlah penumpang pesawat maupun identitas masing-masing. Hal ini karena pihaknya hanya membantu proses pemeriksaan. Sementara itu, penanganan kasus berlangsung di Pangkalan TNI Angkatan Udara Surabaya.

Secara terpisah, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Surabaya Kolonel (Pnb) Johannes Berchmans SW enggan memberi komentar. Menurut dia, kasus tersebut masih bersifat tertutup. Dia juga belum berkenan membeberkan identitas pesawat dan para penumpangnya.

"Belum tahu, belum tahu siapa saja di sana. Masih akan kami data," ujarnya singkat.

Berdasarkan Informasi yang beredar, pesawat carter berjenis BAE 146-200 itu mengangkut keluarga Kerajaan Melaka, Malaysia. Penahanan dilakukan atas perintah Kementerian Luar Negeri karena tidak adanya diplomatic clearance, security clearance, dan flight approval.

Sejauh ini belum diperoleh konfirmasi dari pihak Kementerian Luar Negeri. Telepon genggam Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene tidak bisa dihubungi.

Sumber: KOMPAS

Sukhoi dan F-16 Kawal Wapres ke Sebatik


0diggsdigg

illustrasi

SEBATIK, KOMPAS.com — Sebanyak 3 pesawat Sukhoi dan 1 pesawat F-16 mengawal perjalanan Wakil Presiden Boediono ke daerah perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur.

Demikian disampaikan Komandan Gugus Tempur Laut Armada Bagian Timur Laksamana Pertama Widodo di hadapan Wapres dan rombongan di Pos TNI AL Sei Panjang, Sebatik. Pos tersebut berada di sebuah dermaga yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari perairan Malaysia.

Juru bicara Wakil Presiden, Yopie Hidayat, yang dikonfirmasi Kompas membenarkan adanya pegawalan tiga pesawat Sukhoi dari Makassar dan satu F-16 dari Madiun. "Ya, karena dari pantauan TNI ada gerakan latihan terjun payung prajurit Diraja Kerajaan Malaysia di salah satu wilayah Malaysia sehingga TNI melakukan pengawalan dengan mengirim 3 pesawat Sukhoi dan 1 F-16," ujarnya.

Dari pemantauan Kompas, tidak terlihat kapal dan prajurit Malaysia berpatroli di kawasan tersebut. Di kejauhan hanya tampak bendera Indonesia dan Malaysia berkibar berdampingan di pesisir Pantai Kota Tawao, Sabah, Malaysia, yang terlihat megah.

Sumber: KOMPAS

India Beli 80 Heli Mi-17V5



14 Desember 2010 -- Menteri Pertahanan India Shri AK Antony menjawab tertulis pertanyaan anggota Lok Sabha Shri Sonawane Pratap Narayanrao, Senin (13/12), India diwakili Menhan meneken kontrak pembelian 80 helikopter Mi-17V5 berikut suku cadang dengan perusahaan Rusia Rosoboronexport senilai 1.345.836.495.83 dolar pada 5 Desember 2008.

Helikopter akan digunakan untuk operasi khusus, transportasi pasukan dan peralatan, SAR, evakuasi korban pertempuran dan akan dipersenjatai. Helikopter akan dikirimkan ke India pada Maret 2011.

PIB/Berita HanKam

Simulasi Serangan Udara Lantamal VI Makassar


14 Desember 2010,Makassar -- Dua pasukan TNI AL menembaki pesawat yang melakukan penembakan di Lantamal VI Makassar, Selasa (14/12). Simulasi pertahan pangkalan dari serangan udara tersebut dilakukan guna meningkatkan kemampuan pasukan TNI AL dalam mempertahankan NKRI. (Foto: ANTARA/Yusran Uccang/Koz/pd/10)


Dua pasukan TNI AL menembaki pesawat yang melakukan penembakan di Lantamal VI Makassar, Selasa (14/12).

Seorang pasukan TNI AL berusaha memadamkan api saat saat Lantamal VI Makassar, Selasa (14/12) diserang melalui udara. (Foto: ANTARA/Yusran Uccang/Koz/pd/10)

Tiga pasukan TNI AL berusaha menyelamatkan rekannya yang menjadi korban saat terjadi serangan udara di Lantamal VI Makassar, Selasa (14/12). (Foto: ANTARA/Yusran Uccang/Koz/pd/10)

Antara

BERITA POLULER