Pages

Tuesday, December 14, 2010

Di AS, Soeharto Sebut Senjata Asal Rusia Bebani TNI


0diggsdigg

Jakarta - Pasca jatuhnya Presiden Soekarno, Indonesia mulai berpaling dari Rusia dan China, dan melirik Amerika Serikat (AS). Termasuk di bidang militer, presiden yang baru, Jenderal Soeharto, mendekati AS untuk meningkatkan kekuatan TNI.

Saat bertemu dengan Presiden AS Ricard M Nixon di Gedung Putih pada 26 Mei 1970 atau 2 tahun sejak diangkat menjadi presiden oleh MPRS, Soeharto berbicara tentang kondisi persenjataan militer Indonesia. Soeharto menyebut, alutsista asal Rusia terlalu membebani TNI.

"Pemeliharaan peralatan dari Rusia menjadi masalah besar. Kami tidak lagi memiliki suku cadang. Kesulitan-kesulitan ini paling parah dirasakan oleh TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara," kata Soeharto seperti termuat dalam dokumen indoleaks yang diunduh detikcom, Selasa (14/12/2010).

Dalam dokumen yang bersifat "sangat rahasia dan "sensitif" tersebut, Soeharto mengatakan, dengan mengimpor senjata dari Rusia dan China, kedua negara itu menjadi tahu kelemahan Indonesia. Sementara Rusia dan China saat itu menjadi ancaman yang mengkhawatirkan.

"Mereka (China) sekarang memiliki rudal dengan jangkauan 1.100 mil. ...Angkatan Laut Rusia aktif di laut India dan mungkin kegiatan ini akan diperpanjang di kawasan Pasifik," ujar mantan Pangkostrad itu.

Di depan Nixon, Soeharto mengaku sudah berbicara dengan Laksamana McCain mengenai ancaman dari kedua negara komunis tersebut. Namun, katanya, pimpinan militer Indonesia belum memiliki rencana besar dan tenaga yang strategis. TNI hanya ingin meningkatkan kemampuan militer secara bertahap.

Soeharto juga mengaku telah membahas program militer Indonesia itu dengan Duta Besar AS untuk RI Galbraith. Namun, Soeharto tampaknya masih malu-malu untuk meminta bantuan langsung kepada Nixon dalam pertemuan tersebut.

"Kami tidak ingin Anda berkomitmen sekarang, tapi kami ingin anda tahu apa yang dapat dilakukan," kata pemimpin orde baru yang lebih dari 32 tahun berkuasa itu.

Bagaimana tanggapan Nixon? Menurut Presiden ke-37 AS itu, kekuatan militer cukup penting untuk menjaga keamanan sebuah negara. Dengan penduduk 150 juta jiwa, wilayah teritorial yang luas, serta sumber daya alam melimpah, Indonesia bisa manjadi target pihak lain. Karena itu TNI harus kuat.

"Netralitas tidak berarti tanpa kekuatan untuk mempertahankan netralitas tersebut. Selama kunjungan Anda di sini saya ingin Pimpinan TNI bertemu dengan orang yang tepat untuk menentukan kebutuhan Indonesia dan peran yang sesuai dari AS," ucap Nixon.

"Kita tahu niat Anda hanya untuk tujuan pertahanan dan tidak untuk menyerang orang lain," sambung Nixon.

Sumber: DETIK

Wapres: Tetap Waspada dan Siaga Jaga Perbatasan

Sebatik (ANTARA News) - Wakil Presiden (Wapres) Boediono minta kepada semua pihak untuk tetap waspada dan siaga menjaga perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

"Perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan dan wilayah perlu dijaga dan dikawal. Saya melihat itu sudah dijalankan dengan baik," kata Wapres kepada pers, saat meninjau Pos Angkatan Laut Sei Pancang, di Pulau Sebatik, Kalimantan Timur, Selasa.

Pos Angkatan Laut Sei Pancang memiliki perbatasan laut wilayah Indonesia dan Malaysia. Usai meninjau wilayah perbatasan itu, Wapres juga meninjau wilayah perbatasan kedua negara di Dusun Abadi, Desa Aji Kuning, yang perbatasan dipisahkan oleh daratan.

Hadir dalam peninjauan itu Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad, Wakil Menteri pendidikan Nasional Fasli Djalal, serta Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak.

Wapres dalam kunjungan ke kedua perbatasan itu mendapat penjelasan langsung dari para kepala pos penjagaan mengenai upaya-upaya yang dilakukan dalam mengamankan perbatasan.

Boediono mengatakan, kedatangan dirinya melihat dua pos perbatasan tersebut dalam upaya ingin melihat secara langsung kondisi di perbatasan, teriutama masyarakatnya.

"Strategi utama mengamankan NKRI adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi hingga pembangunan infrastruktur," kata Wapres.

Dengan meningkatnya kesejahteraan, kata Boediono, maka rakyat akan secara langsung bisa tinggal di Indonesia dan ikut mengamankan wilayah kedaulatan Indonesia.

"Sekali lagi kita perlu meningkatkan kewaspadaan dan siaga dalam menjaga perbatasan. Untuk itu perlu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Boediono.

Wapres Boediono tampak puas dengan kondisi dua pos perbatasan Indonesia dengan Malaysia, dan sesekali melambaikan tangan kepada masyarakat yang berada di sekitar pos.

Usai meninjau dua pos perbatasan tersebut, Wapres dan rombongan kembali ke Nunukan menggunakan helikopter dan selanjutnya kembali ke Jakarta menggunakan pesawat Kepresidenan.

Sehari sebelumnya, Wapres bersama rombongan menghadiri Hari Nusantara di Balikpapan, yang dihadiri oleh sejumlah pejabat pusat dan daerah.

Sumber: ANTARA

Tank BMP3F Akan Ditambah Secara Bertahap

Tank BMP3F Marinir TNI AL (photo : Marinir)

Korps Marinir Miliki 17 Unit Tank Modern Amfibi Tipe BMP-3F Produksi Rusia

Setelah melewati pengujian (uji fungsi) melalui operasi amfibi, uji penembakan dengan berbagai jarak jangkauan serta bermacam jenis amonisi yang dimiliki yang berlangsung di Pusat Latihan Tempur, Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur, dan disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin, Duta Besar Indonesia di Rusia dan Duta Besar Rusia di Indonesia, Sabtu (11/12) sebanyak 17 unit tank modern amfibi tipe BMP-3F buatan Rusia yang dibeli Pemerintah Indonesia resmi dimiliki dan melengkapi alut sista Korps Marinir TNI AL.

BMP3F dalam ujicoba di laut (photo : Antara)
Uji fungsi ini diintegrasikan dengan Latihan Kesenjataan Terpadu Korps Marinir Wilayah Timur yang tengah berlangsung di tempat yang sama dengan melibatkan 2 kapal perang jenis LST yakni KRI Teluk Banten-516 dan KRI Teluk Penyu-513, 8 tank amfibi PT 76, BTR 50 dan Kapa (Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri).
BMP3F ketika berada di laut dan dalam pendaratan (photos : Kompas)

Uji fungsi ke-17 unit tank pasukan pendarat amfibi ini untuk memastikan seluruh peralatan dan perlengkapan serta sistem persenjataan tank tersebut beroperasi dengan baik dan sempurna. Usai uji fungsi dilanjutkan dengan serah terima secara resmi BMP-3F dari Rosoboronexport, Rusia kepada Kementerian Pertahanan RI dan TNI serta Korps Marinir TNI AL sebagai pengguna.

Dengan bertambahnya Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Korps Marinir, termasuk kendaraan tempur akan semakin meningkatkan efek daya tempur dan daya tangkal TNI secara keseluruhan.


Tank amfibi BMP-3F yang diproduksi Rusia adalah kendaraan tempur lapis baja yang sangat sempurna baik dari segi teknologi dan kebutuhan pertempuran masa kini. Pada uji coba di berbagai medan dan cuaca, tank jenis ini memperlihatkan hasil yang memuaskan. Berbagai amonisi yang digunakan mulai 100 mm, 30 mm, 7,62 mm serta 81 mm granat asap menunjukan akurasi yang sangat tepat dan nyaris sempurna. Jangkauan tembakan sejauh 4000 meter di mana sepuluh sasaran ditempatkan di area Puslatpur berhasil dihancurkan dengan tepat.


Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang mengenakan kostum doreng khas Korps Marinir ikut mencoba masuk ke dalam kabin tank dan melakukan penembakan berbagai jenis amonisi, juga berhasil menghancurkan sasaran tembak secara akurat dalam jangkauan 4000 meter. ”Saya puas uji fungsi ini berhasil, semoga tank ini menjadi kebanggaan Korps Marinir,” ujarnya.


Tank amfibi BMP-3F telah mengalami penyempurnaan, khususnya untuk kemampuan manuver di laut dengan penambahan Snorkel (sirkulasi udara saat manuver di laut ruang pasukan tetap normal), perbaikan tameng di kubah untuk menahan
ombak dan gelombang air laut agar tank tetap stabil menuju serbuan pantai. Dengan adanya beberapa penyempurnaan, BMP-3F menjadi kendaraan tempur segala medan serta diimbangi dengan manuver dan pertahanan diri yang lebih tangguh.
BMP3K, kendaraan versi komando (photo : Kurgan)

BMP-3F mengamplikasikan persenjataan baru (artileri, roket dan meriam) dengan sistem kontrol penembakan secara otomatis dan mampu menembak tepat dari segala jenis senjata baik saat manuver/bergerak karena menggunakan pengontrol penembakan otomatis yang berteknologi mutakhir (pola stabilizer sistem teknologi baru). Konstruksi persenjataan BMP-3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single-turet): meriam, peluncur roket berkaliber 100 mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan mitraliur berkaliber 7,62 mm. Penggabungan ini memungkinkan prajurit awak tank dapat memilih model keperluan penggunaan senjata yang tersedia dikaitkan dengan situasi, kondisi serta medan tempur, tergantung sasaran yang dipilih untuk dihancurkan baik sasaran di darat, laut maupun udara.

BMP-3F berbobot kurang lebih 18,7 ton, panjang 8 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 2,5 meter, kapasitas 10 prajurit yang terdiri dari 3 awak tank dan 7 awak senjata, kecepatan di medan berlumpur 45 km, 70 km di jalan raya, 10 km di air dan mampu berjalan mundur dengan kecepatan 20 km. Sedangkan kemampuan jelajah 600 km, di lumpur 12 km dan daya jelajah di air 7 jam. Tank BMP-3F memiliki beberapa fitur khusus antara lain konstruksi (chasis) yang memungkinkan untuk dimodernisasi, selain mudah perawatannya dan efisien pemelihanaannya.

BREM-L, versi kendaraan untuk perbaikan (photo : RusArmy)
Menurut Menhan Purnomo Yusgiantoro, Tank BMP-3F adalah tank amfibi yang teknologinya paling modern yang dimiliki TNI dan merupakan generasi terakhir yang diproduksi oleh Rusia. Penyerahan ke-17 unit Tank BMP-3F ini merupakan bagian dari Rencana Jangka Panjang Pembangunan Postur TNI untuk memenuhi Kekuatan Pokok TNI. ”Untuk meningkatkan kemampuan kendaraan tempur Korps Marinir TNI AL, kita masih membutuhkan 95 tank sejenis BMP, yakni 81 unit tipe BMP-3F, 10 unit tipe BMP-3FK, dan 4 unit tipe BREM-L. Kebutuhan tersebut akan kita penuhi secara bertahap di waktu-waktu mendatang,” tegasnya.

Ditambahkan Menhan Purnomo Yusgiantoro ke-17 Tank BMP-3F ini adalah hasil pengadaan melalui State Credit yakni bentuk dana pinjaman (credit fasility) yang dijamin Pemerintah Rusia. Penggunaan fasilitas pinjaman melalui State Credit didasarkan oleh status Rusia yang bukan anggota OECD countries sehingga tidak dapat memberikan pinjaman dalam bentuk Export Credit seperti yang gunakan pada pengadaan alutsista yang lain.

Monday, December 13, 2010

Russian military to receive 1,300 types of weaponry by 2020


"We now have more money and there are possibilities to expedite the construction [of submarines]," Putin said after visiting the Alexander Nevsky nuclear submarine.
20:16 13/12/2010
© RIA Novosti. Aleksei Nikolski
the Russian Armed Forces will receive over 1,300 types of weaponry in line with a draft arms procurement program until 2020, Prime Minister Vladimir Putin said on Monday. "We will need to set up new or expand the existing production lines to manufacture 220 of the new types of weaponry," Putin told a meeting on the program, which is expected to be adopted by the yearend.
More than 20 trillion rubles ($640.7 billion) will be earmarked for weapons procurement, three times more than is allocated in the existing 2007-2015 program, he added.
The new program stipulates the upgrade of up to 11 percent of military equipment annually and will allow Russia to increase the share of modern weaponry to 70 percent by 2020.
Putin said that 4.7 trillion rubles ($150.7 billion), or almost a quarter of the total budget, would be allocated to the modernization of the Russian Navy.
"We now have more money and there are possibilities to expedite the construction [of submarines]," Putin said after visiting the Alexander Nevsky nuclear submarine, which is under construction at the Sevmash shipyard in the town of Severodvinsk in northern Russia.
Alexander Nevsky is the second of the Borey class nuclear submarines being built at Sevmash.
The Yury Dolgoruky sub has completed sea trials and could be adopted by the Navy in 2011, while the Vladimir Monomakh, and Svyatitel Nikolai (St. Nicholas) are in different stages of completion.
Russia is planning to build eight of these subs by 2015 and equip them with Bulava submarine-launched ballistic missiles.
SEVERODVINSK, December 13 (RIA Novosti)

RIA

Uni Eropa Bahas Pengakuan Negara Palestina

Menteri Luar Negeri negara-negara Uni Eropa dalam sidangnya membahas sebuah draf terkait pengakuan terhadap kedaulatan negara Palestina merdeka secara sepihak. Situs info Palestina melaporkan, dalam sidangnya hari ini (Senin,13/12) di Brussel, para menlu Uni Eropa dijadwalkan membahas draf usulan pengakuan negara Palestina merdeka secara sepihak jika upaya perdamaian tetap gagal sampai tahun depan. Menurut sumber diplomatik, draf ini disusun oleh Jerman dan akan dipaparkan dalam sidang tingkat menlu Uni Eropa.
Pada saat yang sama, rezim Zionis Israel khawatir Uni Eropa benar-benar membuat keputusan sepihak untuk mengakui negara Palestina merdeka setelah proses perundingan damai yang diupayakan AS terhenti.
September lalu, pemerintah Otorita Palestina kembali ke meja perundingan dengan rezim Zionis Israel tanpa mempedulikan penentangan luas dari rakyat dan faksi-faksi Palestina. Namun proses itu terhenti setelah Israel tetap melanjutkan proyek pembangunan distrik Zionis. (IRIB/AHF/RM)

IRIB

Rusia Pertahankan Kemampuan Nuklirnya

Menteri Pertahanan Rusia mengatakan, Moskow akan tetap mempertahankan kekuatan nuklirnya. Kantor berita IRNA melaporkan, Menhan Rusia, Anatoly Serdyukov dalam wawancara dengan televisi Chanel 2 Rusia mengatakan, jika perundingan dengan AS dan NATO untuk membuat sistem pertahanan anti rudal gagal membuahkan kesepakatan, Rusia akan menerapkan kebijakannya untuk membalas langkah itu. Serdyukov menegaskan bahwa Rusia siap terlibat dan menerima tanggung jawab untuk membuat sistem pertahanan rudal di Eropa.
Rusia menuntut keterlibatan dan kesetaraan dalam program perisai rudal di Eropa. Hal itulah yang dalam beberapa waktu terakhir ini disampaikan oleh para petinggi Moskow kepada Eropa.
Beberapa waktu lalu, Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengancam akan menempatkan sistem persenjataan pemukulnya yang terbaru jika perundingan untuk membuat sistem perisai rudal tidak membuahkan hasil.
"Jika kita gagal mencapai kesepakatan yang membangun, maka sepuluh tahun kedepan dunia akan menyaksikan gelombang baru perlombaan senjata," kata Medvedev. (IRIB/AHF/RM)

IRIB

INDIAN COAST GUARD COMMISSIONS OPV ICGS VIJIT



11-Dec-2010


Indian Coast Guard Ship Vijit, the 2nd in the series of 90 meter Offshore Patrol Vessel (OPV) was commissioned at Goa by M M Pallam Raju, the Hon'ble Minister f State of Defence on 11 Dec 10 in the presence of Vice Admiral Anil Chopra, AVSM, Director General Indian Coast Guard, CMD Goa Shipyard Limited and other senior dignitaries of the Central and State Government. 'Vijit' meaning "Winner or Victorious" is a projection of Indian Coast Guard's will and commitment 'To serve and protect' the maritime interest of the nation.

This 90 Mtrs OPV has been designed and built indigenously by M/s GSL and is fitted with most advanced navigation and communication equipment, sensors and machineries by means of state-of-the-art technology. Her features include an Integrated Bridge System(IBS), Integrated Machinery Control System (IMCS), Power Management System (PMS), High Power External Fire Fighting System (ABS Fi-Fi Class-1) and one indigenous Close Range Naval (CRN) 91 Gun Mount along with an optical fire control system for day and night usage. The ship is designed to carry one twin engine Light Helicopter and five high speed boats for Search and Rescue, law enforcement and maritime patrol. The ship is also capable of carrying pollution response equipment to combat any oil spill contamination at sea. The ship is fitted with advanced Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) making it an apt platform to carryout search and rescue operations in Indian Search and Rescue Region (ISRR).

The ship draw 2390 tons and is propelled by 2 x 9,100KW diesel engines to attain a maximum speed of 26 Knots. At economical speed, it has an endurance of 4500 nautical miles and can stay at sea for 15 days without any replenishment. The sustenance and reach coupled with the latest and modern equipment and systems, provides her the capability to perform the role of a command platform and accomplish all Coast Guard charter of duties.

The ship on joining Coast Guard Fleet will be deployed extensively for the EEZ surveillance and such other duties as enshrined in Coast Guard Charter. The vessel will be exploited extensively in the North Western region, more so along the sensitive International Maritime Boundary Line (IMBL) with Pakistan, to safeguard the maritime interests of India. To further augment the existing force level and bolster operational prowess, 01 more Offshore Patrol Vessel, 02 Pollution Control Vessels, 33 Fast Patrol Vessels, 12 Hovercraft and 61 Interceptor Boats are at various stages of construction at difference shipyards. With the commissioning of this vessel and other assets, the Indian Coast Guard is bound to be one of the strong and potent force of the world.

ICGS Vijit, will be manned by 08 Officers and 82 men under the command of Deputy Inspector General Naresh Kaul and will be based at Porbandar under the administrative and operational control of the Commander, Headquarters, Coast Guard Region (NW).

In the present security scenario, with increased threat from sea bound terrorism, the induction of a sophisticated and state-of-the-art Offshore Patrol Vessel will definitely give a significant boost to the maritime protection of the Indian coast. The commissioning of ICGS Vijit will enhance the Indian Coast Guard commitment to safe guard Indian territorial water for maritime surveillance and search and rescue operation.


AMR

BERITA POLULER