Pages

Sunday, December 12, 2010

Kepala Intel AS Perkirakan Aksi Militer Korsel Terhadap Korut

Washington (ANTARA News/AFP) - Kepala intelijen Amerika Serikat Ahad mengingatkan bahwa Korea Selatan telah kehilangan kesabaran terhadap provokasi-provokasi yang dilakukan Korea Utara dan "akan melakukan aksi militer."

Direktur Intelijen Nasional, Laksamana Dennis Blair, mengatakan dia tidak berpikir bahwa konflik akan meningkat menjadi perang besar karena Korea Utara tahu bahwa dia akan kalah.

"Saya tidak berpikir bahwa perang akan segera dimulai tapi saya rasa akan terjadi konfrontasi militer di tingkat rendah ketimbang hanya menerima ini, agresi Korea Utara ini, dan pergi untuk melakukan perundingan," katanya kepada CNN.

Blair, yang baru saja kembali dari Korea Selatan, mengatakan bahwa Korea Utara baru-baru ini melakukan serangan artileri terhadap sebuah pulau Korea Selatan yang menewaskan empat orang, dan sebelumnya menenggelamkan kapal perang Korea Selatan.

Hal itu adalah tindakan luar biasa Korea Utara dalam upaya menyerempet bahaya.

"Jadi, Korea Selatan mulai kehilangan kesabaran terhadap Utara, yang ada adalah tekad besar untuk kesabaran," katanya.

Ketika ditanya apa artinya, Blair mengatakan, "Ini berarti mereka akan mengambil tindakan militer terhadap Korea Utara." (AK/K004)
 
ANTARA

Arah Perkembangan Industri Pertahanan


0diggsdigg


Kita akan membicarakan mengenai nilai penting dari industri pertahanan dan kondisi industri pertahanan kita saat ini. Selain itu, juga tantangan dan kebutuhan kita di masa depan dan bagaimana kira-kira postur industri pertahanan yang hendak kita bangun. Untuk itu kita mengundang DR. Bambang Kismono Hadi, seorang ahli dalam studi pertahanan yang sehari-hari mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan juga Universitas Pertahanan Indonesia (UPI).

Menurut Bambang Kismono Hadi, industri pertahanan kita perlu ditingkatkan, perlu dipertahankan dan perlu didukung terus. Tetapi jangan lupa ini harus merupakan suatu bagian besar dari security sector reform. Itu yang penting. Jadi tidak boleh berdiri sendiri tetapi merupakan suatu bagian besar dari security sector reform artinya civilian supremacy. Bisnis militer dan segala macamnya merupakan suatu rangkaian besar dan pengembangan industri pertahanan tersebut tidak bisa terlepas sendiri-sendiri.Berikut wawancara Bambang Kismono Hadi dengan Ansy Lema.


Apa sesungguhnya arti penting dari industri pertahanan ini?

Ada tiga hal yang penting. Pertama, kalau kita melihat di lingkungan strategis kita dan negara-negara tetangga di kawasan Asia Pasifik, perkembangan pertahanan mereka sudah sangat kuat. Misalnya, Australia sudah mempunyai Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang sangat kuat, Singapura dan Malaysia juga demikian. Australia punya F35, pesawat terbaru dari Amerika Serikat (AS), begitu juga Singapura dan Malaysia. Jadi kita memang perlu mengantisipasi adanya problematik yang besar. Kedua, tentu saja kita perlu mengurangi ketergantungan kita terhadap luar negeri mengenai Alutsista. Ini yang penting. Ketiga, kita juga perlu mendukung industri pertahanan di Indonesia yang sekarang kelihatannya sudah mulai agak mati suri.

Nah, untuk mengetahui persisnya kita perlu memotret bagaimana sesungguhnya kondisi industri pertahanan kita saat ini. Kita tahu bahwa saat ini di Indonesia memiliki tiga industri pertahanan. Untuk matra darat ada PT PINDAD, untuk matra laut ada PT. Penataran Angkatan Laut (PAL), sedangkan matra udara memiliki PT. Dirgantara Indonesia (DI). Bagaimana kondisi industri pertahanan tersebut?

Dari ketiga matra, yaitu PT PINDAD untuk matra darat, PT. PAL untuk matra laut, dan PT. DI untuk matra udara, barangkali hanya PT. PINDAD yang sampai sekarang kondisinya masih bagus. PT PINDAD baru saja mendapatkan order dari pemerintah untuk membuat lima P2 APC, yaitu pengangkut pasukan bernama panser Anoa APC. Namun PT. PAL dan PT. DI tampaknya dalam kondisi yang tidak bagus. Mereka hidup tetapi tidak terlalu bagus.

Kita kerap menganggap Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang boleh dikatakan menjadi aktor kunci, dari sisi industri pertahanan. Jika dikaitkan dengan konstelasi pertahanan dibandingkan dengan negara-negara tetangga, di mana posisi kita?

Pada zaman dulu barangkali posisi kita cukup bagus, tetapi sekarang saya kira kita sudah mulai kalah. Misalnya, sekarang Malaysia mengembangkan industri dirgantara (aerospace) dengan sangat kuat. Tidak hanya dalam industrinya tetapi juga dibarengi dengan pendidikan infrastruktur dan segala macamnya yang sudah disediakan dari awal. Jadi sangat komprehensif. Bahkan mereka sudah memiliki tiga universitas yang khusus di bidang aerospace. Di Indonesia hanya satu yaitu di ITB. Itu pun hanya program studi, sedangkan mereka sudah punya tiga fakultas.

Apakah mereka sudah punya Universitas Pertahanan (Unhan)?

Iya, mungkin Unhan tidak sampai ke arah teknologi. Mereka juga sudah mulai mengembangkan hal yang lain. Demikian juga Australia yang tentu saja sudah sangat kuat, sedangkan Singapura memang tidak mengembangkan industri manufacturing tetapi ke industri jasa, yaitu maintenance sangat kuat. Pesawat kita C 130 Hercules lebih banyak diperbaiki di Singapura dibandingkan di Indonesia.

Lantas, apa yang bisa kita banggakan dari industri pertahanan kita saat ini?

Tidak banyak tampaknya, dan itu harus diakui secara terus terang. Karena itu perlu usaha yang cukup keras untuk mendorong agar dua industri utama yaitu PT. PAL dan PT. DI yang seakan mati suri bisa bangkit kembali, tetapi itu harus komprehensif.

Apa sesungguhnya pangkal persoalannya sehingga kemudian cerita ini tidak terlalu melegakan bahkan mencemaskan saat kita membicarakan industri pertahanan kita?

Saya kira ada masalah dengan warisan Orde Baru zaman dulu. Mungkin ketika itu, kalau saya lihat, PT. DI terjadi inefesiensi yang besar dan mungkin juga ada dugaan korupsi di sana. Dana yang sangat besar disalurkan terus-menerus tetapi tidak dibarengi dengan pengembangan infrastruktur. Misalnya, PT. DI memiliki tiga program pesawat terbang yang dibuat berturut-turut dan secara cash flow memang akan membuat negatif. Pesawat CN 135 belum sampai ke arah break even point sudah masuk ke jenis N 250, belum lagi sampai ke atas sudah masuk jenis N 2130. Akibatnya, cash flow PT DI sangat negatif kemudian terkena krisis ekonomi sehingga tidak bangkit lagi. Ada peninggalan utang yang sangat besar, ada masalah inefisiensi, dan ada masalah visinya. Ketika itu di bawah Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) tidak di bawah Kementerian Pertahanan (Kemenhan) secara langsung. Jadi ada banyak hal yang harus kita benahi.

Bagaimana tata kelola ataupun governance yang harus kita bangun dalam industri pertahanan kita ini?

Saya kira yang pertama dan memang harus diutamakan adalah lebih banyak ke arah visi bisnisnya. Itu masih kurang. Dulu PT. DI lebih banyak ke arah sebagai agent of translate of technology dan tidak sebagai suatu bisnis. Sebagai suatu perusahaan seharusnya lebih hati-hati dalam soal bisnisnya. Ini perlu dibenahi. Yang kedua, sekarang tinggal bagaimana kemauan pemerintah untuk mereformasinya. Sekarang saya kira sudah mulai benar karena industri pertahanan mulai dikelola oleh Kemenhan dan tidak lagi Kemenristek. Saya kira sudah masuk akal karena kini hubungan antara Alutsista yang dibutuhkan dan industri pertahanannya sudah mulai agak nyambung, sedangkan dulu tidak.

Anda menjelaskan bahwa bisnis juga menjadi hal yang esensial atau vital, tetapi ketika bicara tentang kondisi pertahanan kita maka ini juga harus disesuaikan dengan persepsi atas ancaman. Bagaimana kompleksitas ancaman yang harus kita hadapi saat ini dan bagaimana postur industri pertahanan yang hendak kita bangun?

Nah itu jadi perdebatan yang sangat tidak mudah. Banyak orang mengatakan bahwa dalam 15 atau 20 tahun mendatang tidak mungkin ada perang di Indonesia. Kalau tidak ada perang berarti kita tidak perlu Alutsista. Itu mulai menjangkiti banyak orang. Tiba-tiba kemudian kita ada masalah perbatasan dengan Malaysia dan semua orang kaget karena tampaknya Alutsista kita tidak cukup kuat untuk mempertahankan bahkan dalam solusi yang sangat sederhana yaitu masalah perbatasan. Jadi posturnya memang belum ketemu tapi paling tidak kita harus mulai membenahi kemampuan kita sebagai suatu pattern agar negara-negara sekitar tidak berani. Nah akibatnya kita masih butuh suatu Alutsista untuk melakukan suatu perang atau melakukan suatu perang terbatas.

Bagaimana persisnya kalau untuk postur minimum essential force?


Itu juga persoalan yang tidak mudah. Tentara Nasional Indonesia (TNI) memang sudah mendefinisikan dan Kemenhan juga sudah mendefinisikannya. Namun kita belum ketemu juga sebetulnya posturnya seperti apa. Contoh, kita perlu melindungi perbatasan kita dengan kapal cepat atau pesawat-pesawat yang siap tempur tapi kemampuannya seperti apa. Tentu saja itu akan membuat kita sangat offensive. Sebagai contoh, kalau Australia jelas mereka sudah sangat ofensif karena doktrin perang Australia adalah kalau terjadi perang maka akan dilakukan di luar zona. Jadi jauh sebelum masuk Australia sudah dihancurkan musuhnya. Singapura dan Taiwan juga demikian. Nah Indonesia seperti apa? Paling tidak, kita harus bisa menjaga perbatasan kita dengan baik.

Kalau kita ambil konteks di Asia Timur. Di situ ada sejumlah negara utama besar, yaitu China, Jepang, Korea Utara, dan juga Korea Selatan. Negara-negara ini bisa kita sebut sebagai pemain ekonomi yang utama tetapi masing-masing tidak meninggalkan isu pertahanan mereka. Hari ini modernisasi militer sangat luar biasa dilakukan. Apakah kesadaran yang demikian ada juga di pemerintah kita hari ini?

Susah mengatakannya tetapi seharusnya demikian. Kalau kita ingin menaikkan ekonomi atau ekonomi maju, maka pertahanannya akan maju. Itu jelas dimanapun juga. Tapi sekarang anggaran pertahanan kita kurang dari 1% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Tapi kalau tidak salah masuk dalam tiga besar dalam APBN?


Iya, benar barangkali. Tetapi 1% dari GDP. Negara lain sudah sampai 2%. Bahkan Malaysia sudah sampai 4%.

Apakah itu berarti masih jauh?


Iya, masih jauh sebetulnya. Memang kita bisa melakukan diplomasi yang lain, tetapi yang kami khawatirkan ada suara-suara di kalangan pemerintah bahwa tidak mungkin ada perang dalam waktu 20 tahun mendatang. Itu kadang-kadang meninabobokan sehingga usaha kita untuk mempermodern Alutsista menjadi berkurang. Apalagi dalam buku putih kita selalu mengatakan bahwa ancaman kita masih dalam negeri. Itu juga sudah mulai harus direvisi karena benar di dalam negeri masih banyak masalah dengan ancaman-ancaman separatisme dan segala macamnya, tetapi saya kira lebih baik kita juga memikirkan ancaman dari luar.

Artinya, ancaman dari luar juga tidak hilang sama sekali walaupun mungkin intensitas atau skalanya lebih kecil, betulkah?

Saya kira tidak berarti hilang. Artinya, kita harus tetap mampu mempertahankan kedaulatan kita. Kalau tidak nanti kita akan seperti pelanduk di tengah gajah yang bertarung.

Apa konkritnya yang kita butuhkan untuk melakukan modernisasi industri pertahanan?

Saya kira pemerintah sudah mulai menyadari hal tersebut dan sekarang sudah dibentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang sekarang di bawah Kemenhan. Saya kira ini sangat positif. Saya tahu teman-teman di Kemenhan sangat serius untuk mengembangkan dan mendorongnya, bahkan berbagai peraturan-peraturan yang dulu tidak ada sekarang mulai dijalankan. Saya kira kita on the right track untuk mencapai itu tapi butuh waktu karena persoalan di PT. DI juga tidak mudah. Sekarang utangnya banyak sekali, tidak solvent (tidak mampu membayar hutang), dan masih perlu dukungan pemerintah. Karena itu program-program yang didukung oleh pemerintah untuk mengembangkan Alutsista mandiri, saya kira perlu tetap didukung.

Kalau kita ambil satu contoh Singapura, negara tetangga ini cukup punya concern terutama dalam sisi maintenance ataupun pemeliharaan terhadap Alutsista. Dia sepertinya sadar betul ini peluang pasar yang bisa dimasuki. Seandainya kita ingin mengembangkan industri pertahanan sebagai competitor ataupun bisa survive ke depan, apa yang harus kita ambil sebagai spesialisasi?


Memang Singapura pintar karena tidak manufacturing dari Alutsista, tapi lebih banyak ke arah service dan maintenance karena negaranya sangat kecil. Indonesia tentu saja negara besar, kita masih punya pasar yang cukup untuk sebagai manufacturing.

Indonesia juga mengekspor beberapa Alutsista ke luar negeri. Jadi ini merupakan modal yang cukup baik karena itu kita tetap harus menggunakan manufacturing meskipun maintenance harus tetap kita kerjakan. Kalau alat itu kita buat sendiri maka maintenancenya tidak perlu ke luar negeri. Kita juga harus membuat agar industri pertahanan tidak lagi menjadi seolah-olah beban bagi anggaran tetapi bisa menjadi penggerak ekonomi. Meskipun pemerintahnya tidak mendukung tetapi industri pertahanan juga bisa menjadi penggerak ekonomi.

Ya, jadi kita bisa mencapai berbagai target. Kita mendapatkan nilai ekonomi sekaligus kepentingan strategis pertahanan dapat kita wujudkan. Ke arah mana sebenarnya panduan pertahanan kita hari ini?


Secara teknologi harus diakui bahwa negara-negara Barat jauh lebih kuat dibanding negara-negara Rusia. Artinya, Amerika Utara dan Eropa masih lebih maju dibanding Rusia. Memang kemarin ada pergeseran sehingga politik luar negeri kita mengatakan daripada ke Barat terus, kita juga ambil dari Timur. Namun itu tidak mengubah konsentrasi secara teknologi bahwa Amerika dan Eropa memang lebih baik.

Mungkinkah kita perlahan-lahan bisa mulai mengurangi ketergantungan kita kemudian kita tidak menjadi bangsa yang secara absolut tergantung pada negara-negara Barat?

Saya kira masih mungkin, artinya harus komprehensif. Salah satunya adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) harus di bidang teknik penerbangan. Kalau Anda pergi ke semua industri penerbangan di luar negeri maka Anda akan menemukan orang Indonesia di sana. Bahkan ada cerita Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad mengetahui bahwa Brazil sangat kuat di bidang industri pertahanan. Mereka datang ke Brazil ternyata yang ditemui orang orang Indonesia di sana. Kalau melihat pesawat Brazil CJ 1130 itu persis dengan N 2130 karena yang mendisain adalah teman-teman kita yang pergi ke Brazil.

Sekarang Malaysia dapat banyak kontrak dari Airbus untuk pembuatan sparepart composit. Yang mengerjakan adalah teman-teman kita. Mungkin ada 400-500 orang kita yang ada di Malaysia mengerjakan hal tersebut. Jadi dari segi SDM, kita sangat kuat. Hanya sekarang bagaimana kita menggerakannya lagi sehingga mereka bisa pulang lagi. Itu yang jadi masalah.

Tentu ini membutuhkan komitmen kesungguhan dari pemerintah. Apa konkritnya yang harus dilakukan oleh pemerintah dan apa target 15-20 tahun ke depan untuk industri pertahanan kita?

Saya hanya memberikan contoh di bidang teknik penerbangan. 20 tahun mendatang kita harus segera mengganti beberapa pesawat kita F 16 seri A dan B kita yang sudah mulai tua. Pesawat Sukhoi kita barangkali sudah mulai tua juga. Sementara tantangan lingkungan kita sudah besar. Karena itu pemerintah sekarang dalam tahap mengembangkan pesawat tempur bersama dengan Korea, itu yang saya dengar. Kalau program itu berjalan dan dikelola dengan baik maka engineer-engineer kita yang ke luar negeri saya kira tidak keberatan untuk pulang dan akan mengembangkan lagi PT. DI. Itu merupakan satu awal dari kebangkitan terutama untuk industri pertahanan kita. Kalau itu sudah terjadi mungkin juga PT. PAL bisa jalan.

Tadi Anda mengatakan PT. PINDAD dibandingkan dengan dua saudaramya yaitu PT. PAL dan PT. DI sedikit lebih menggeliat karena ada suntikan dana dan lainnya. Apakah itu juga bisa menjamin kelangsungan hidup PT. PINDAD?

Saat ini sudah dimulai dengan PT. PINDAD mendapat 52 order panser Anoa. Kalau itu berkembang terus seperti sekarang senjata SS1 dan SS2 yang dibuat sudah bisa juga diekspor. Artinya, kalau TNI Angkatan Darat berkomitmen untuk tetap mengambil Alutsista dari PT. PINDAD akan tetap jalan.

Anda sebagai seorang staf pengajar di Unhan tentu mengetahui pemerintah memiliki visi atau misi orientasi dalam membuat sekolah tersebut. Apa yang Anda harapkan dari alumnus Unhan?

Universitas Pertahanan Indonesia (UPI) sangat spesifik terutama di bidang program saya. Mahasiswanya adalah 50% sipil dan 50% militer. Yang kami harapkan ada interaksi antara sipil dan militer di Unhan. Tujuannya adalah mendidik kader-kader ahli di bidang pertahanan baik sipil maupun militer sehingga mereka bisa bicara bareng-bareng merumuskan masa depan Indonesia dengan lebih baik di antara kedua unsur tersebut. Dulu pada zaman Orde Baru, kita ingat militer dan sipil saling terpisah, saling bentrok melulu. Jadi kita ingin membuat agar programnya jalan.

Yang pasti supremasi sipil tetap akan terus dijunjung tinggi, betulkah?


Itu yang terus kita harapkan. Karena itu dibuat UPI supaya kita menyiapkan civilian dan juga pakar military yang tahu bahwa ini adalah civilian supremacy.

Sebagai penutup, apa kira-kira harapan Anda terkait dengan industri pertahanan kita?


Saya kira industri pertahanan perlu ditingkatkan, perlu dipertahankan dan perlu didukung terus. Tetapi jangan lupa ini harus merupakan suatu bagian besar dari security sector reform. Itu yang penting. Jadi tidak boleh berdiri sendiri tetapi merupakan suatu bagian besar dari security sector reform artinya civilian supremacy, penegakan hukum. Bisnis militer dan segala macamnya merupakan suatu rangkaian besar dan pengembangan industri pertahanan tersebut merupakan bagian dari itu tidak bisa terlepas sendiri-sendiri.

Sumber: PONTIANAK POST

Korsel Mulai Latihan Perang Lagi


Tribunnews.com - Senin, 13 Desember 2010 01:10 WIB
Korsel Mulai Latihan Perang Lagi
huffingtonpost.com
Tentara Korsel saat latihan tempur bersama AS

14Share   
TRIBUNNEWS.COM, KORSEL- Para pejabat Korea Selatan pada Minggu mengatakan negara ini akan melangsungkan latihan militer dengan senjata sungguhan di laut mulai Senin. Demikian dilansir situs berita VOA.

Seorang juru bicara militer yang tidak disebut namanya mengatakan latihan itu, yang akan berjalan selama setidaknya lima hari, tidak akan dilangsungkan dekat perbatasan Laut Kuning yang disengketakan dengan Korea Utara.

Sebuah pulau dekat perbatasan maritim itu, bernama Yeonpyeong, menjadi lokasi serangan artileri fatal tanggal 23 November yang menewaskan empat warga Korea Utara.

Sejak serangan itu, Seoul telah melangsungkan serangkaian latihan militer, termasuk sebuah latihan angkatan laut besar-besaran dengan Amerika, untuk menunjukkan kekuatan melawan Pyongyang. (*)
TRIBUN NEWS
Editor: kisdiantoro

Kepala Intel AS Perkirakan Aksi Militer Korsel Terhadap Korut

Washington (ANTARA News/AFP) - Kepala intelijen Amerika Serikat Ahad mengingatkan bahwa Korea Selatan telah kehilangan kesabaran terhadap provokasi-provokasi yang dilakukan Korea Utara dan "akan melakukan aksi militer."

Direktur Intelijen Nasional, Laksamana Dennis Blair, mengatakan dia tidak berpikir bahwa konflik akan meningkat menjadi perang besar karena Korea Utara tahu bahwa dia akan kalah.

"Saya tidak berpikir bahwa perang akan segera dimulai tapi saya rasa akan terjadi konfrontasi militer di tingkat rendah ketimbang hanya menerima ini, agresi Korea Utara ini, dan pergi untuk melakukan perundingan," katanya kepada CNN.

Blair, yang baru saja kembali dari Korea Selatan, mengatakan bahwa Korea Utara baru-baru ini melakukan serangan artileri terhadap sebuah pulau Korea Selatan yang menewaskan empat orang, dan sebelumnya menenggelamkan kapal perang Korea Selatan.

Hal itu adalah tindakan luar biasa Korea Utara dalam upaya menyerempet bahaya.

"Jadi, Korea Selatan mulai kehilangan kesabaran terhadap Utara, yang ada adalah tekad besar untuk kesabaran," katanya.

Ketika ditanya apa artinya, Blair mengatakan, "Ini berarti mereka akan mengambil tindakan militer terhadap Korea Utara." (AK/K004)
COPYRIGHT © 2010

ANTARA

Menhan Dikukuhkan Sebagai Warga Kehormatan Korps Marinir


0diggsdigg

SITUBONDO (Pos Kota) – Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, dikukuhkan sebagai warga kehormatan Korps Marinir TNI AL. Pengukuhan ditandai dengan penyematan baret ungu kepada Purnomo Yusgiantoro oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin di lapangan Mangga Dua, Pusat Latihan Tempur, Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur.

Pengukuhan ini menjadikan Purnomo Yusgiantoro sebagai orang ke-25 dari daftar warga kehormatan yang diberikan oleh Korps Marinir. Kehadiran Menhan Purnomo Yusgiantoro di Puslatpur, Karangtekok , Situbondo sehubungan dengan peninjauan atas uji fungsi 17 unit Tank Amfibi BMP-3F buatan Rusia yang baru dimiliki Korps Marinir.

Pengukuhan Menhan RI sebagai warga Kehormatan Korps Marinir berdasakan beberapa pertimbangan, antara lain sebagai wujud penghargaan Korps Marinir kepada orang nomor satu di Kementerian Pertahanan RI tersebut atas kontribusi dan perhatiannya yang tulus kepada kemajuan dan perkembangan Korps Marinir TNI AL. Di samping itu juga sebagai bentuk apresiasi yang tinggi atas keteladanan jiwa, sikap dan semangat integritas yang diberikan kepada Korps Marinir.

Upacara pengukuhan ini juga terasa istimewa karena disaksikan langsung oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, SE, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, serta pejabat TNI/TNI AL lainnya.

Dengan mengenakan baret ungu, Menhan Purnomo Yusgiantoro kemudian menaiki mobil menginspeksi pasukan Marinir dan jajaran Tank BMP-3F yang siap dioperasionalkan. Orang nomor satu di Kemenhan RI tersebut juga berkali-kali meneriakkan kata ”Marinir…!!!” dan disambut oleh prajurit Marinir dengan ucapan ”Huau huau yess…!!!”

Usai dikukuhkan sebagai warga kehormatan Korps Marinir, Menhan Purnomo Yusgiantoro berphoto bersama dengan pejabat dan prajurit Marinir dengan latat belakang tank amfibi modern BMP-3F.

Kemudian pada kesempatan itu juga dilaksanakan penanaman pohon/reboisasi di sekitar area Latihan yang dilaksanakan Menhan, Panglima TNI, Kasal dll sebagai bentuk kepedulian Korps Marinir terhadap penghijauan.

Sumber: POS KOTA

Menhan : Kita Akan Melakukan Pengadaan 300 Tank Untuk TNI AL


0diggsdigg

Kendaraan tempur tank Amfibi BMP-3F terapung di Pantai Banongan, Situbondo, saat latihan kesenjataan terpadu dan uji fungsi, Sabtu (11/12/2010). Penambahan kendaraan tempur buatan Rusia ini diharapkan bisa memperkuat kekuatan TNI untuk menjaga keutuhan NKRI.(Foto: KOMPAS)

SINTUBONDO - Kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bertambah. Setelah September lalu ditadangkan pesawat Sukhoi untuk TNI AU, kali ini giliran alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI AL yang diperkuat. Kemarin (11/12), sebanyak 17 tank amfibi jenis BMP-3F buatan Rusia diserahkan dan diujicobakan secara langsunfoleh Korps Marinir di Baluran, Situbondo, Jatim.

Proses dimulai di Puslatpur Marinir Balongan dan Baluran atau biasanya disebut Karangtekok. Di sana, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, KSAL Laksamana Soeparno, Serta Komandan Korps marinir Mayjen M. Alfan Bahrudin menyaksikan manuver pendaratan tank amfibi. Salah satu tank BMP-3F juga turut disertakan dalam pendaratan tersebut disamping tank amfibi yang sudah dimiliki Marinir.

Tank BMP-3F tersebut memang istimewa karena memiliki beberapa fitur khusus. Misalnya, konstruksi yang memungkinkan untuk dimoderinisasi, mudah dirawat, dan minim pemeliharaan. BMP-3F juga mengaplikasikan persenjataan baru (SKS artileri, roket, meriam) dengan sistem kontrol penembakan secara otomatis.

Yang membuat Indonesia melirik tank sepanjang 7,2 meter itu adalah kemampuannya menembak tepat dari segala jenis senjata saat bergerak. Maklum, tank yang bisa mengangkut hingga tujuh infantri itu menggunakan pola stabilizer sistem terbaru.

Menhan Purnomo Yusgiantoro terliahat kepincut pada tank yang sama dengan digunakan tentara Rusia itu. Rencananya, tank-tank tersebut akan ditambah hingga tiga kompi (sekitar 300 tank) secara bertahap. "Dengan tank ini, kami semakin percaya diri untuk mempertahankan NKRI" tegasnya.


Sumber: JAWA POS/MIK

Menhan : Kita Akan Melakukan Pengadaan 81 BMP-3F, 10 BMP-3FK, Dan 4 BREM-L


0diggsdigg

SITUBONDO (Pos Kota) – Setelah melewati pengujian (uji fungsi) melalui operasi amfibi, uji penembakan dengan berbagai jarak jangkauan serta bermacam jenis amonisi yang dimiliki yang berlangsung di Pusat Latihan Tempur, Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur.

Disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin, Duta Besar Indonesia di Rusia dan Duta Besar Rusia di Indonesia, sebanyak 17 unit tank modern amfibi tipe BMP-3F buatan Rusia yang dibeli Pemerintah Indonesia resmi dimiliki dan melengkapi alut sista Korps Marinir TNI AL.

Uji fungsi ini diintegrasikan dengan Latihan Kesenjataan Terpadu Korps Marinir Wilayah Timur yang tengah berlangsung di tempat yang sama dengan melibatkan 2 kapal perang jenis LST yakni KRI Teluk Banten-516 dan KRI Teluk Penyu-513, 8 tank amfibi PT 76, BTR 50 dan Kapa (Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri).

Uji fungsi ke-17 unit tank pasukan pendarat amfibi ini untuk memastikan seluruh peralatan dan perlengkapan serta sistem persenjataan tank tersebut beroperasi dengan baik dan sempurna. Usai uji fungsi dilanjutkan dengan serah terima secara resmi BMP-3F dari Rosoboronexport, Rusia kepada Kementerian Pertahanan RI dan TNI serta Korps Marinir TNI AL sebagai pengguna.

Dengan bertambahnya Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Korps Marinir, termasuk kendaraan tempur akan semakin meningkatkan efek daya tempur dan daya tangkal TNI secara keseluruhan.

Tank amfibi BMP-3F yang diproduksi Rusia adalah kendaraan tempur lapis baja yang sangat sempurna baik dari segi teknologi dan kebutuhan pertempuran masa kini. Pada uji coba di berbagai medan dan cuaca, tank jenis ini memperlihatkan hasil yang memuaskan. Berbagai amonisi yang digunakan mulai 100 mm, 30 mm, 7,62 mm serta 81 mm granat asap menunjukan akurasi yang sangat tepat dan nyaris sempurna. Jangkauan tembakan sejauh 4000 meter di mana sepuluh sasaran ditempatkan di area Puslatpur berhasil dihancurkan dengan tepat.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang mengenakan kostum doreng khas Korps Marinir ikut mencoba masuk ke dalam kabin tank dan melakukan penembakan berbagai jenis amonisi, juga berhasil menghancurkan sasaran tembak secara akurat dalam jangkauan 4000 meter. ”Saya puas uji fungsi ini berhasil, semoga tank ini menjadi kebanggaan Korps Marinir,” ujarnya.

Tank amfibi BMP-3F telah mengalami penyempurnaan, khususnya untuk kemampuan manuver di laut dengan penambahan Snorkel (sirkulasi udara saat manuver di laut ruang pasukan tetap normal), perbaikan tameng di kubah untuk menahan ombak dan gelombang air laut agar tank tetap stabil menuju serbuan pantai. Dengan adanya beberapa penyempurnaan, BMP-3F menjadi kendaraan tempur segala medan serta diimbangi dengan manuver dan pertahanan diri yang lebih tangguh.

BMP-3F mengamplikasikan persenjataan baru (artileri, roket dan meriam) dengan sistem kontrol penembakan secara otomatis dan mampu menembak tepat dari segala jenis senjata baik saat manuver/bergerak karena menggunakan pengontrol penembakan otomatis yang berteknologi mutakhir (pola stabilizer sistem teknologi baru). Konstruksi persenjataan BMP-3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single-turet): meriam, peluncur roket berkaliber 100 mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan mitraliur berkaliber 7,62 mm. Penggabungan ini memungkinkan prajurit awak tank dapat memilih model keperluan penggunaan senjata yang tersedia dikaitkan dengan situasi, kondisi serta medan tempur, tergantung sasaran yang dipilih untuk dihancurkan baik sasaran di darat, laut maupun udara.

BMP-3F berbobot kurang lebih 18,7 ton, panjang 8 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 2,5 meter, kapasitas 10 prajurit yang terdiri dari 3 awak tank dan 7 awak senjata, kecepatan di medan berlumpur 45 km, 70 km di jalan raya, 10 km di air dan mampu berjalan mundur dengan kecepatan 20 km. Sedangkan kemampuan jelajah 600 km, di lumpur 12 km dan daya jelajah di air 7 jam. Tank BMP-3F memiliki beberapa fitur khusus antara lain konstruksi (chasis) yang memungkinkan untuk dimodernisasi, selain mudah perawatannya dan efisien pemelihanaannya.

Menurut Menhan Purnomo Yusgiantoro, Tank BMP-3F adalah tank amfibi yang teknologinya paling modern yang dimiliki TNI dan merupakan generasi terakhir yang diproduksi oleh Rusia. Penyerahan ke-17 unit Tank BMP-3F ini merupakan bagian dari Rencana Jangka Panjang Pembangunan Postur TNI untuk memenuhi Kekuatan Pokok TNI. ”Untuk meningkatkan kemampuan kendaraan tempur Korps Marinir TNI AL, kita masih membutuhkan 95 tank sejenis BMP, yakni 81 unit tipe BMP-3F, 10 unit tipe BMP-3FK, dan 4 unit tipe BREM-L. Kebutuhan tersebut akan kita penuhi secara bertahap di waktu-waktu mendatang,” tegasnya.

Ditambahkan Menhan Purnomo Yusgiantoro ke-17 Tank BMP-3F ini adalah hasil pengadaan melalui State Credit yakni bentuk dana pinjaman (credit fasility) yang dijamin Pemerintah Rusia. Penggunaan fasilitas pinjaman melalui State Credit didasarkan oleh status Rusia yang bukan anggota OECD countries sehingga tidak dapat memberikan pinjaman dalam bentuk Export Credit seperti yang gunakan pada pengadaan alutsista yang lain.

Sumber: POS KOTA

BERITA POLULER