Pages

Friday, November 26, 2010

Ditawari AS Beli F16 Bekas, RI Masih Pikir-pikir


0diggsdigg

JAKARTA (Pos Kota) – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udarra (TNI AU) masih pikir-pikir dan mempertimbangkan pembelian 24 unit F-16 bekas Amerika Serikat (AS) senilai enam F-16 baru. Hal ini menyangkut masa pakai dan keterbatasan suku cadang

“F-16 bekas pakai dari AS itu masa pakainya sampai 2020 menjadi pertimbangan pemerintah dibandingkan dengan F-16 baru dengan harga senilai sama,” ujar Menhan Purnomo seusai bertemu Dubes AS di Indonesia, Scot Marciel, kemarin.

Hal senada diungkap Kadispenau, Marsma TNI Bambang Samudra. Menurutnya banyak pertimbangan untuk memperkuat pertahanan udara. Karena itu harus dipertimbangkan soal masa pakai, alokasi anggaran, hingga efektifitas dan efisiensi pesawat itu sendiri. “Kami menginginkan yang terbaik untuk pertahanan negara.” Tegasnya.

Sementara itu, Deputy III Menko Polhukam Marsdya Sagom Tamboen menyatakan ada pilihan lain pembelian pesawat dikaitkan dengan politik karena Indonesia pernah mengalami embargo militer dan ketergantungan suku cadang.

Sumber: POS KOTA

Thursday, November 25, 2010

Korut Peringatkan AS dan Korsel "di Ambang Perang"

Korut Peringatkan AS dan Korsel di Ambang Perang
Ilustrasi Konfilik Korea (ANTARA/grafis/REUTERS)
Seoul (ANTARA News) - Korea Utara hari Jumat lewat media resminya memperingatkan bahwa rencana pelatihan angkatan laut Amerika Serikat dan Korea Selatan akan membawa semenanjung tersebut makin dekat ke arah perang.

Rezim komunis Korea Utara pada hari Selasa menembakkan meriam dan roketnya ke pulau Korea Selatan Yeongpyeong sehingga menewaskan empat orang.

Pyongyang mengklaim bahwa tembakan-tembakan itu adalah balasan setelah Korea Selatan menggelar latihan militer.

Kapal induk Amerika Serikat USS George Washington Jumat menuju ke semenanjung Korea tempat AS dan Korea Selatan berencana menggelar latihan angkatan laut selama empat hari di Laut Kuning mulai Minggu.

Washington mengatakan latihan perang itu telah dirancang sebelum serangan yang terjadi hari Selasa.

Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) dalam artikelnya Jumat mengomentari rencana latihan perang itu dengan kalimat "pasukan seperti-perang imperialis AS dan boneka Korea" dan latihan itu bermaksud "menghasut perang".

"Situasi di Semenanjung Korea beringsut lebih dekat ke jurang perang karena rencana nekat elemen-elemen pemicu yang gemar perang dengan target DPRK," tulis media itu.
(H-AK/A023)
 ANTARA

Hubungan RI-Uni Eropa Perlu Ditingkatan Jadi Kemitraan Strategis

Hubungan RI-Uni Eropa Perlu Ditingkatan Jadi Kemitraan Strategis
London (ANTARA News) - Peranan Indonesia yang semakin meningkat dalam pentas regional dan internasional patut menjadi perhatian Uni Eropa agar meningkatkan taraf hubungannya menjadi mitra strategis.

Hal ini diutarakan mantan Menteri Luar Negeri RI, DR Hassan Wirajuda dalam seminar sehari berjudul "UE-Indonesia: Saatnya Menuju Kemitraan Strategis", ujar Pensosbud KBRI Brussel, Stania Puspawardhani dalam keterangannya kepada Antara London, Jumat.

Seminar yang diselenggarakan lembaga "think tank" European Policy Center bekerjasama dengan KBRI Brussel itu berlangsung di Hotel Silken Berlaymont, Brussel, Belgia dihadiri sekitar 134 peserta memenuhi ruangan hotel yang terletak tak jauh dari gedung Komisi Uni Eropa.

Dalam pemaparannya, Hassan Wirajuda menjelaskan tentang wajah Indonesia baru yang sangat berbeda dalam satu dekade terakhir.

"Saat ini Indonesia tercatat sebagai anggota kelompok G20 dan merupakan suara moderat dalam Organisasi Konferensi Islam atau OKI," ujarnya.

Menurut Hassan Wirajuda, Indonesia juga memainkan peranan penting di tingkat regional, dengan menjabat sebagai pemimpin ASEAN di tahun 2011 dan berinisiatif membentuk Bali Democracy Forum.

Dikatakannya Indonesia dan Uni Eropa telah menandatangani perjanjian kemitraan komprehensif atau Partnership Comprehensive Agreemeent pada tahun 2009 dan berupaya untuk terus meningkatkan hubungan bilateralnya.

Acara yang dibuka Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Arif Havas Oegroseno itu berlangsung selama dua jam.

Pertanyaan mengenai visi regional Asia, agenda HAM ASEAN dan peranan yang bisa dimainkan oleh Indonesia dalam mewujudkan perdamaian di Korea Utara disampaikan oleh peserta seminar.

Diantara peserta yang hadir adalah Renate Nikolay, penasihat senior Lady Ashton utk urusan Aisa Pasifik, Walter Wolf dari Komisi Eropa serta Kolonel Corinne Fault yang merupakan Direktur Jendral Royal High Institute for Defense, demikian Stania Puspawardhani. (ZG/K004)

ANTARA

Presiden: Cegah Eskalasi Ketegangan Semenanjung Korea

Presiden: Cegah Eskalasi Ketegangan Semenanjung Korea
Jakarta  (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendesak, agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara kunci mencegah peningkatan ketegangan di Semenanjung Korea.

"Saya harus mengatakan bahwa situasi itu membahayakan dan kalau berlanjut bisa picu konflik yang besar dan perang baru, bisa meluas, bukan mustahil bisa melibatkan negara lain," kata Presiden Yudhoyono saat membuka sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden Jakarta, Kamis.

Presiden menyatakan, dunia internasional, PBB dan negara kunci bisa mencegah terjadinya konflik yang lebih luas.

Menurut Kepala Negara, Indonesia berpandangan bahwa serangan artileri militer yang menewaskan warga sipil merupakan suatu tindakan yang tidak tepat.

"Indonesia berpendapat bahwa serangan militer tembakan artileri yang bisa picu konflik tidak tepat dan tidak dibenarkan," tegasnya.

Kepala Negara menyatakan, Indonesia sangat prihatin dengan perkembangan yang terjadi di Semenanjung Korea dan juga jatuhnya korban tewas.

Indonesia, kata Presiden, akan memanfaatkan momentum pelaksanaan pertemuan tingkat tinggi negara-negara Asia Timur dengan negara anggota ASEAN pada 2011 mendatang untuk mendiskusikan masa depan keamanan dan stabilitas kawasan khususnya terkait isu di Semenanjung Korea dan Laut China Selatan.

"Salah satu agenda dan topik yang kita rancang adalah regional political dan security dialogue, saya pandang tepat bila bisa diacarakan seperti itu," katanya.

Dengan kehadiran pemimpin negara-negara anggota ASEAN dan delapan negara lainnya, yaitu Korea Selatan, India, Selandia Baru, Australia, China, Amerika Serikat, Jepang dan Rusia, maka penting didiskusikan keseimbangan politik dan keamanan kawasan Asia untuk menunjang pertumbuhan ekonomi.

Sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden membahas dua agenda, yaitu kesra dan perekonomian, yang dihadiri oleh seluruh menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II.

ANTARA

Rusia Harapkan Pernyataan PBB Mengenai Serangan Korut

Rusia Harapkan Pernyataan PBB Mengenai Serangan Korut
Moskow (ANTARA News/Reuters) - Rusia Kamis mengatakan mereka mengharapkan Dewan Keamanan PBB akan membuat pernyataan mengenai serangan artileri Korea Utara terhadap Korea Selatan dalam beberapa hari ini.

Korea Utara Selasa lalu telah menembakkan serangkaian tembakan artileri ke pulau Yeonpyeong di Korea Selatan, salah satu serangan paling keras terhadap tetangganya itu sejak Perang Korea berakhir pada 1953. Menurut laporan, empat orang telah tewas dalam serangan itu.

"Anggota-anggota Dewan Keamanan telah mengadakan konsultasi mengenai masalah ini," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada wartawan dalam penjelasan singkat pada pers di Moskow.

"Saya mengharapkan dalam beberapa hari mendatang Dewan akan menyampaikan pendapatnya dan bahwa ini akan membantu menenangkan situasi," kata Lavrov. (S008/K004)
ANTARA

BAE Systems Delivers Hornets Ahead Of Schedule


F-18 Hornet RAAF. (Foto: Australia DoD)

23 November 2010, NEWCASTLE, Australia –- BAE Systems has underlined its commitment to total performance by delivering the two most recent F/A-18 Hornets under the RAAF’s Deeper Maintenance Support Contract ahead of schedule and under budget.

The BAE Systems Australia Fast Jet Support maintenance team and partner L-3 MAS Canada delivered the first Hornet three working days ahead of schedule, followed by the second Hornet being delivered ten working days early at its Williamtown facility.

The Company, in co-operation with the DMO’s Tactical Fighter Systems Program Office, is implementing the Smart Maintenance concept as part of Defence’s Strategic Reform Program (SRP).

Commander of the RAAF Air Combat Group Air Commodore Mel Hupfeld said: “Air Force appreciates the endeavours and achievements of BAE Systems in supporting
SRP.

“We look forward to all of our industry partners assisting, on a sustainable basis, to the improved delivery of effective capability at lower cost to the Commonwealth of Australia. These early results from BAE Systems are encouraging and I congratulate them and applaud their initiatives.”

BAE Systems’ Aerospace Business Unit began introducing ‘Lean’ processes in 2009 and these recent successes reflect a continuing improvement in aircraft availability and reduced cost.

Director Aerospace John Monaghan, said: “We have worked very hard at every level — from the technicians on the line to our lead management team — to achieve the Commonwealth’s SRP objectives.

“Lean is taken very seriously and the implementation of Lean concepts is central to that process.

“We are striving along with our contract partners in L-3 MAS Canada to hone and refine our methods through phase based servicing, consultation, workforce engagement and constant improvement, using integrated monitoring, review and evaluation of our maintenance processes at every step.

“Even though we have carried out the work ahead of schedule, we have not compromised the safety of our personnel or airworthiness”

Since 2009, BAE Systems and partner L-3 MAS Canada have provided deeper maintenance and modification support for all 71 Australian F/A-18 Hornet fighters.

BAE Systems

AU Thailand Pesan Lagi 6 Gripen


Gripen AU Thailand batch pertama sedang uji penerbangan perdana. (Foto: gripen)

25 November 2010 -- Perusahaan pertahanan dan keamanan Swedia Saab mendapat pesanan pembuatan 6 pesawat tempur Gripen kursi tunggal versi C dari Swedish Defence Material Administration (FMV) senilai 2,2 milyar krone untuk dikirimkan ke Angkatan Udara Kerajaan Thailand.

Pemerintah Swedia diwakili FMV dan Thailand meneken perjanjian pembelian sistem pertahanan udara terintegrasi buatan Saab, termasuk jet tempur Gripen.

Thailand telah mengoperasikan enam Gripen dan pesawat Saab 340 yang dilengkapi sistem radar Saab Erieye.

AU Thailand memiliki juga 43 F-16A block 15OCU dan 11 F-16B block 15OCU dibeli dibawah program Naresuan, serta 3 F-16A block 15OCU dan 4 F-16B block 15OCU hibah pemerintah Singapura kompensasi diperkenankan menggunakan fasilitas latihan AU Thailand di Udon Thani, total 71 F-16 A/B block 15OCU.

Saab/Berita HanKam

BERITA POLULER