Pages

Wednesday, November 24, 2010

MENHAN RI: Indonesia Jepang Upayakan Tingkatkan Kerjasama Pertahanan



23 November 2010, Jakarta -– Kerja sama Indonesia dan Jepang sebaiknya tidak hanya pada sektor ekonomi namun diupayakan ditingkatkan pada sektor pertahanan, demikian disampaikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, saat menerima kunjungan kehormatan dari anggota Senat Jepang, Yosuke Kondo, yang juga sebagai wakil Partai Demokrat Jepang di Kantor Kemhan RI, Jakarta, Senin(22/11). Saat ini kerja sama yang dibangun antara Jepang dan Indonesia sebagian besar pada sektor energi, baik gas maupun pertambangan lainnya.

Lebih lanjut Menhan menyampaikan hubungan kerja sama antara Indonesia dan Jepang sangat penting, disamping mengingat historis kedua negara pada masa Kemerdekaan. Saat ini Jepang telah membuka kesempatan kepada beberapa siswa militer Indonesia untuk belajar di Akademi Militer Yokoshuka Jepang.

Sebagai langkah konkret kerja sama tersebut, Kementerian Pertahanan Indonesia juga akan berkunjung ke Jepang pada waktu yang akan datang, dengan membawa dua agenda diantaranya terkait pembicaraan lanjut mengenahi rencana latihan bersama kedua negara dalam penanggulangan bencana yang akan digelar pada bulan Maret tahun 2011. Sedangkan agenda kedua adalah meresmikan patung PETA (Pembela Tanah Air), sebagai pendiri cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.

Pada latihan penanggulangan bencana yang rencananya akan dilaksanakan di Sulawesi Utara dengan mengundang 27 negara ASEAN REGIONAL FORUM (ARF). Jepang pada acara tersebut akan bertindak sebagai Co Chair dan Indonesia sebagai tuan rumah, selanjutnya untuk kesuksesan kegiatan tersebut diperlukan pertemuan yang khusus membahas mekanisme pelaksanaan.

Pada akhir pertemuan, baik Menhan maupun Mr Yosuke sepakat bahwa pembangunan perbatasan masing-masing negara sangat perlu ditingkatkan dengan kehadiran patroli keamanan maupun pembangunan sektor ekonomi serta peran aktif masyarakat, sebagai upaya menangkal masuknya pihak asing yang bermaksud menguasai sumber daya alam yang ada di wilayah negara masing-masing, khususnya Migas.

Turut mendampingi Menhan, Karo Tata Usaha Laksma TNI Ir. Yuhastihar dan Karo Humas Brigjen TNI I Wayan Midhio, sedangkan mendampingi Mr Yosuke, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kojiro Shiojiri dan Atase Pertahanan Jepang untuk Indonesia Kolonel Sugimoto.

DMC

Tuesday, November 23, 2010

Kekuatan TNI Belum Dimanfaatkan Secara Optimal



23 November 2010, Jakarta -- Gelar kekuatan TNI yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari kota-kota hingga ke pedesaan, belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Kementerian/Lembaga Pemerintahan non Kementerian (LPNK) maupun Pemerintah Daerah. Padahal, peran serta TNI dibutuhkan dalam melaksanakan prioritas percepatan pembangunan daerah.

Hal itu disampaikan Asisten Teritorial Panglima TNI Mayjen Suprapto, melalui makalahnya yang dibacakan Wakil Asisten Teritorial Brigjen Marinir Lukman Sofian dalam Pertemuan Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) yang digelar di Markas Besar TNI Cilangkap, Selasa (23/11).

TNI sendiri, tutur Lukman, sesuai dengan Postur TNI telah merumuskan pembangunan kekuatan, kemampuan maupun gelar kekuatan yang disesuaikan dengan hakekat ancaman yang mungkin timbul baik dari dalam maupun luar negeri. "Tetapi kondisi gelar kekuatan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal," imbuhnya.

Ia menjelaskan lebih lanjut, saat ini Kementerian/LPNK sebagai pelaksana lembaga eksekutif yang menjalankan program dan kebijakan pemerintah dalam pembangunan di daerah, dalam implementasinya belum bekerja maksimal. Karena tidak semua Kementerian/LPNK memiliki badan pelaksana di daerah.

"Sehingga wajar apabila tidak dapat melaksanakan program pembangunan di daerah terisolir khususnya daerah rawan dan pulau terluar pada daerah perbatasan darat antarnegara," ujarnya.

Dalam kondisi seperti inilah diperlukan peran serta TNI. "Karena dalam tugas Operasi Militer Selain Perang diantaranya adalah memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya yang dilaksanakan secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta," katanya.

Untuk itu, diperlukan penguatan koordinasi di antara Kementerian/LPNK dan Pemerintah Daerah dengan TNI sehingga pelaksanaan prioritas percepatan pembangunan akan lebih mudah dicapai.

Menurut dia, sebenarnya ada dua hal yang bisa dijadikan landasan untuk melakukan koordinasi dan kerjasama dalam pembangunan tersebut. Yakni kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang nomor 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, sebagai arah pembangunan nasional.

"Kebijakan itu menjadi pedoman, sehingga dapat melaksanakan kerjasama antara Pemda dengan unsur TNI di daerah dalam membantu pelaksanaan percepatan pembangunan daerah," tuturnya.

Selain itu, Instruksi Presiden (Inpres) nomor 1 tahun 2010 tanggal 19 Februari 2010 tentang program percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional, juga menguatkan program kegiatan optimalisasi peran TNI. "Karena sangat signifikan terhadap kegiatan seperti hal pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, lingkungan hidup dan pengelolaan bencana," imbuhnya.

Ia mencontohkan, kerjasama yang sebenarnya bisa dilakukan antara lain dengan Kementerian Kehutanan dalam mengatasi kerusakan hutan dan mencegah kebakaran hutan, kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam hal penyelamatan sumber daya laut dan pengelolaan tambak dan hasil laut. Dan BNPP dalam hal pelatihan dan penanggulangan bencana alam.

"Kerjasama juga perlu ditingkatkan dengan menyinergikan program, yang diprioritaskan di daerah perbatasan darat, pulau-pulau terpencil dan terluar serta daerah rawan konflik," tutupnya.

MI

Jet Tempur TNI AU Berseleweran di Udara Jakarta


Sukhoi TNI AU. (Foto: Dispenau)

23 November 2010, Jakarta -- Wakil Kepala Pusat Penerangan (Wakapuspen) TNI Brigjen TNI Avianto Saptono membenarkan dalam dua hari ini pesawat tempur TNI-AU akan melayang di udara Ibukota Jakarta dan sekitarnya.

Pesawat tempur itu merupakan satu dari skenario latihan TNI-AU yang bersandi Tetuko. Dan dimaksudkan untuk mengamankan tempat-tempat strategis yang berada di Pemprov DKI Jakarta dan sekitarnya.

Menurut rencana pesawat tempur yang bakal melintas adalah Sukhoi jenis SU-30MK dan SU-27SK.

"Saya sudah mengonfirmasi kepada Asisten Operasi Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) yang kebetulan juga pada saat ini menyelenggarakan latihan Tetuko. Pesawat-pesawat tempur itu memang bermanuver khususnya di wilayah udara Indonesia termasuk di atas Ibukota Jakarta. Kesemuanya itu merupakan bagian dalam latihan yang diselenggarakan selama dua hari, yaitu sampai besok," katanya di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (23/11).

Menurutnya, pesawat tempur itu bermanuver di kawasan Jakarta dikarenakan setiap musuh selalu menyerang terlebih dahulu adalah ibukota negara. Sehingga TNI-AU melakukan latihan di kawasan Jakarta.

"Kalau latihan di Pulau Seribu, maka yang menyerangnya siapa karena di kawasan itu laut semua. Jadi latihannya di wilayah udara Indonesia khususnya tempat-tempat strategis yang menjadi pusat pemerintahan, karena musuh menyerangnya ke kawasan tersebut, bukan batas laut," ujarnya.

Avianto mengaku bahwa pihaknya sudah memberitahukan akan ada latihan, tetapi karena belum memastikan waktunya akhirnya tidak disampaikan kepada semua masyarakat.

"Ya mungkin melalui media massa ini kami mohon maaf apabila masyarakat terganggu. Tetapi itu semua hasilnya nanti keamanan negara kita sendiri aman dari serangan musuh," tegasnya.

Dikatakan lebih lanjut, TNI dan rakyat Indonesia semua menjaga wilayah. "Jika diserang melalui udara maka kita sudah siap. Itu adalah bagian dari latihan yang kita lakukan saat ini. Latihan ini rutin tiap tahun dilakukan, supaya melatih kesiapsiagaan khususnya TNI-AU. Karena kami mempunyai motto yaitu memprediksi setiap hari adanya ancaman, maka kami selalu siaga," tandasnya.

Warta Kota

DPM Teo Calls on Australian Prime Minister


Deputy Prime Minister and Minister for Defence Teo Chee Hean calling on Australian Prime Minister Julia Gillard at the Australian Parliament House.

23 November 2010 -- Deputy Prime Minister and Minister for Defence Teo Chee Hean called on Australian Prime Minister Julia Gillard in Canberra today. Both parties reaffirmed the close and broad-based bilateral relations between the two countries, of which the strong and long-standing defence ties are a key pillar. Their meeting also reinforced the political support from both countries for the extensive interactions and cooperation between both armed forces, including the ongoing cooperation in the multinational reconstruction efforts in Afghanistan.

During his working visit to Australia, Mr Teo also met with Defence Minister Stephen Smith, Minister for Foreign Affairs Kevin Rudd, Senator John Faulkner, Opposition Leader Tony Abbott, Shadow Minister for Defence David Johnston, Special Minister of State for the Public Service and Integrity Gary Gray, Minister for Indigenous Employment and Economic Development, Minister for Sport, and Minister for Social Housing and Homelessness Honourable Mark Arbib and Chief Government Whip Joel Fitzgibbon. At a joint press conference with Mr Smith yesterday, Mr Teo reiterated Singapore's appreciation of the strong and extensive defence relationship between Singapore and Australia. "We are very grateful for the opportunities that Australia has provided for Singapore to train here in Australia. It has been a great help to us, our training in Shoalwater Bay as well as our flight training in Royal Australian Air Force (RAAF) Base Pearce in Perth. I have just visited both places and it is going very well, and we are very grateful for the cooperation," said Mr Teo.

Minister for Defence, Stephen Smith with Singapore’s Deputy Prime Minister and Minister for Defence, Teo Chee Hean at the Press Conference. (Foto: Australia DoD)

Mr Teo had also visited the Republic of Singapore Air Force Flying Training Institute in the Royal Australian Air Force Base Pearce earlier. He had also witnessed an integrated live-firing involving air and land platforms such as the F-16 fighter aircraft, Apache AH-64 helicopters and Singapore Self-Propelled Howitzer, Primus, when he visited the Singapore Armed Forces troops participating in Exercise Wallaby 2010 at the Shoalwater Bay Training Area in Queensland.

DPM Teo visits RSAF Flying Training Institute in Perth

Mr Teo trying out the flight simulator, which is part of the RSAF 130 SQN's ground-based training system.

Deputy Prime Minister and Minister for Defence Teo Chee Hean visited the Republic of Singapore Air Force (RSAF) Flying Training Institute (FTI) at the Royal Australian Air Force (RAAF) Base Pearce in Perth, Australia, today. During his visit to RAAF Base Pearce, which is home to the RSAF's 130 Squadron (SQN), Mr Teo tried out the flight simulator, viewed a static display of the state-of-the-art Pilatus PC-21 trainer aircraft and interacted with pilot trainees and RSAF personnel stationed there.

The RSAF has modernised the training programmes for our pilot trainees, which include a comprehensive flying programme as well as a ground-based training management and support system to improve the standard and efficiency of our training. The PC-21 trainer aircraft, with a superior aerodynamic performance and advanced avionics, allows RSAF pilot trainees to build a strong foundation in flying fundamentals and allows the RSAF to identify those with fighter flying aptitude early. The RSAF pilot trainees also utilise a suite of ground-based training systems, including the flight simulator, to shorten their learning curve. In addition, the simulator's ability to generate complex operational scenarios enhances the RSAF pilot trainees' situational awareness and skills in aerial tactics. Commanding Officer of 130 SQN, Lieutenant Colonel Eric Wee, said: "Besides training potential RSAF pilots by equipping them with basic flying skills, trainee pilots also start developing their airmanship, situational awareness and emergency handling skills at the squadron. These competencies are being taught progressively to allow them to develop better flight and air combat skills, as well as mission management skills."

RSAF FTI at Base Pearce has also adopted an outsourcing programme which has increased cost effectiveness. Under a contract awarded through the MINDEF Public-Private Partnership (PPP), Lockheed Martin has been providing the RSAF with a training package using the PC-21 trainer aircraft. They also supply and maintain the fleet of PC-21 trainer aircraft and a suite of ground-based training systems.

Training in Australia and other overseas locations allows the RSAF to overcome airspace constraints in Singapore. The RSAF signed a Memorandum of Understanding with the RAAF to establish the FTI at RAAF Base Pearce in March 1993. Australia has also provided Shoalwater Bay Training Area to the Singapore Armed Forces for training, which Mr Teo visited yesterday to observe Exercise Wallaby. The training arrangements are testament to the close and long-standing bilateral defence relations between Singapore and Australia.

Mindef

China Prihatin Pemboman di Semenanjung Korea

China Prihatin Pemboman di Semenanjung Korea
Beijing (ANTARA News) - China pada hari Selasa menyatakan prihatin atas baku tembak antara Korea Utara dan Korea Selatan. China menyerukan kedua pihak untuk berusaha menuju ke arah stabilitas dan perdamaian di semenanjung Korea.

"Kami telah mencatat laporan yang relevan dan kami menyatakan keprihatinan atas situasi itu, "kata juru bicara kementerian luar negeri Hong Lei wartawan.

"Kami berharap pihak-pihak terkait berbuat lebih banyak untuk memberikan kontribusi bagi perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea," tegasnya.

Korea Selatan sebelumnya menyatakan "sangat cemas" atas pengungkapan Korea Utara tentang kegiatan nuklir terbarunya ketika ketua utusan nuklir Seoul mengunjungi China pekan ini, kata seorang juru bicara kementerian luar negeri, Selasa.

Utusan Seoul Wi Sung-Lac "menyatakan sangat cemas atas pengungkapan baru-baru ini kegiatan pengayaan uranium dan fssilitas reaktor nuklir di Yongbyon," kata juru bicara itu kepada AFP.

Wi dan sejawatnya dari China Wu Dawei, yang bertemu di Beijing membicarakan kemungkinan tanggapan-tanggapan dan berjanji untuk berusaha lebih keras bagi dimulainya kembali perundingan enam negara yang lama mengalami jalan buntu itu, katanya.

Pernyataan Korea Utara (Korut) kepada para pakar nuklir Amerika Serikat yang mengunjungi negara itu tentang kegiatan program pengayaan uranium itu telah menimbulkan kecemasan di Amerika Serikat, Korea Selatan (Korsel) dan Jepang.

Seorang utusan penting Amerika Serikat, Stephen Bosworth Selasa bertolak ke China untuk meminta dukungan Beijing mendesak Korea Utara menghentikan program nuklirnya, setelah Pyongyang mengungkapkan telah membangun sebuah fasilitas pengayaan uranium yang telah beroperasi.

Bosworth, wakil khusus AS untuk kebijakan Korea Utara juga mengemukakan kepada wartawan di Tokyo bahwa Washington telah menghubungi Rusia untuk menekan lebih jauh terhadap Korut.
(/H-AK/A038)
ANTARA

Kanada Minta Serangan Korut Kali Ini Adalah Yang Terakhir

Ottawa (ANTARA News/AFP) - Kanada Selasa "mengutuk dengan keras" serangan artileri Korea Utara di sebuah pulau Korea Selatan, yang menewaskan dua marinir Korea Selatan dan menimbukan momok kembali ke konflik skala-penuh di kawasan itu.

Perdana Menteri Kanada Stephen Harper meminta serangan itu "yang terakhir dalam serangkaian tindakan agresif dan provokatif oleh Korea Utara, yang terus mencerminkan ancaman menyeramkan pada keamanan dan stabilitas internasional di Asia timurlaut".

Ia menegaskan kembali "dukungan tegas" Kanada pada Korea Selatan dan minta Korea Utara untuk mengekang diri dari "tindakan serampangan dan suka berperang" serta tunduk pada Perjanjian Gencatan Senjata Korea yang mengakhiri perang Korea 1950-53.

Kanada bulan lalu memutuskan hubungan dengan Korea Utara karena penenggalamannya awal tahun ini atas sebuah kapal perang Korea Selatan, dan mengatakan negara itu telah merangcang sanksi hukuman tambahan terhadap rezim stalinis tersebut.

Serangan torpedo terhadap kapal angkatan laut Korea Selatan Cheonan itu menyebabkan 46 tentara Korea Selatan tewas. (S008/K004)
ANTARA

Para Pejabat Penting AS Bertemu, Bicarakan Serangan Korut

Washington (ANTARA News/AFP) - Gedung Putih Selasa mengadakan pertemuan para pejabat penting sipil, militer dan intelijen untuk membicarakan serangan Korea Utara terhadap sebuah pulau Korea Selatan.

Beberapa pejabat mengatakan pertemuan itu, yang dipimpin oleh Penasehat Keamanan Nasional Tom Donilon, mencakup Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, Menteri Pertahanan Robert Gates, wakil-wakil mereka dan pejabat-pejabat penting kebijakan luar negeri urusan Asia.

Direktur Intelijen Nasional James Clapper, Laksamana Michael Mullen, kepala para kepala staf gabungan, dan wakil kepalanya, Jendral James Cartwright, juga diundang.

Duta Besar Washington untuk PBB Susan Rice ikut pembicaraan itu melalui konferensi video.

Barisan itu sama dengan daftar nama para pejabat yang sering dipanggil oleh Presiden Barack Obama pada pertemuan-pertemuan kabinet perang Afghanistan-nya.

Obama sedang dalam perjalanan pulang dalam pesawat kepresidenan Air Force One dari kunjungan ke Indiana dan diperkirakan Selasa malam akan menelpon Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak.

Amerika Serikat telah mengatakan sebelumya bahwa terlalu dini untuk mempertimbangkan tanggapan militer pada serangan Korea Utara di pulau di laut Kuning itu, dan menambahkan bahwa Presiden Barack Obama "sakit hati" dengan serangan tersebut. (S008/K004)
ANTARA

BERITA POLULER