Pages

Tuesday, November 23, 2010

Sekjen PBB Serukan Dua Korea Kendalikan Diri

Sekjen PBB Serukan Dua Korea Kendalikan Diri
PBB (ANTARA News/AFP) - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon pada Selasa menyerukan pengendalian diri kedua Korea setelah mengecam serangan artileri oleh Korea Utara ke arah Korea Selatan, kata juru bicaranya.

Belum ada negara memohon sidang Dewan Keamanan PBB untuk membicarakan penyerangan itu, kata diplomat.

"Sekjen mengecam serangan itu dan menyerukan pengendalian diri secepatnya," kata juru bicara Ketua PBB dalam pernyataannya, dengan menambahkan bahwa Ban "sangat prihatin oleh ketegangan di semenanjung Korea akibat serangan artileri" Korut pada Selasa.

"Ban mendesak segala perbedaan pandangan harus dituntaskan melalui jalan damai dan perundingan," tambah pernyataan itu.

Sekjen PBB menyatakan keprihatinan mendalamnya kepada kepresidenan Inggris dalam Dewan Keamanan, namun Duta Besar Inggris Mark Lyall Grant mengatakan bahwa belum ada negara memohon sidang dewan tersebut untuk membicarakan serangan itu.

Diplomat mengatakan bahwa diperkirakan tidak ada permohonan pada Rabu, karena negara dunia harus lebih dulu memutuskan langkah nyata, yang akan dewan itu lakukan sebagai tanggapannya.

Dewan Keamanan membutuhkan beberapa hari untuk menindak-lanjuti penenggelaman kapal perang Korsel pada Maret, yang diduga dilakukan Korut.

Utusan Korut untuk PBB menolak membicarakan kejadian terbaru itu ketika dihubungi AFP. (BPY/K004)
 
ANTARA

Amerika, China Desak Dua Korea Menahan Diri

Amerika, China Desak Dua Korea Menahan Diri
Ilustrasi ( ANTARA/REUTERS-Jo Yong-Hak)
Beijing (ANTARA News) - Amerika Serikat dan China menyetujui pengendalian diri harus dilaksanakan di semenanjung Korea, kata utusan khusus Amerika Serikat bagi Korea Utara, Stephen Bosworth, seusai perundingan dengan pejabat China pada Selasa.

Komentar Bosworth itu muncul setelah Korut menembakan sejumlah mortir artileri ke pulau Korea Selatan dalam salah satu prristiwa paling menegangkan di perbatasan sejak perang 1950-1953.

"Kejadian itu tentu muncul dalam pembicaraan saya dengan pejabat China dan kami akan bertukar pendapat bahwa pertikaian itu sangat tidak diinginkan dan menunjukkan dengan jelas bahwa pengendalian diri harus dilakukan," kata Bosworth kepada pewarta, dengan menambahkan bahwa China dan Amerika Serikat menyetujui hal tersebut.

Bosworth di kawasan itu mengunjungi mitra Amerika Serikat dalam upaya enam negara membebasnuklirkan Korea Utara. Pembicaraan itu juga menyertakan China sebagai tuan rumah, kedua Korea, Rusia serta Jepang.

Kedatangannya di Beijing pada Selasa terkait pernyataan Korut bahwa mereka sedang melaksanakan pengayaan uranium, yang memicu peringatan bahaya.

Bosworth mengatakan bahwa dalam perundingannya dengan pejabat China mengenai pernyataan nuklir itu, mereka menyetujui "pendekatan banyak pihak merupakan cara tunggal untuk mewujudkan penyelesaian masalah tersebut", yang mengacu pada perundingan enam negara tersebut.

Bosworth menyatakan perundingannya dengan pejabat China "sangat berguna".

Ia akan bertemu dengan pejabat China, termasuk Wakil Menteri Luar Negeri Cui Tiankai dan utusan khusus Cina untuk masalah Korea Utara, Wu Dawei.

Menurut Kedutaan Besar Amerika Serikat, Bosworth dijadwalkan meninggalkan Beijing pada Rabu.(*)

ANTARA

Korut Ancam Serangan Lanjutan

Seoul (ANTARA News) - Korea Utara mengancam akan melanjutkan serangan "tanpa ampun" kepada Korea Selatan pada hari Selasa setelah negara komunis itu melancarkan serangan artileri mematikan ke arah perbatasan laut barat mereka yang genting.

Dalam sebuah pernyataan di Kantor Pusat Berita Korea (KCNA), Panglima Tinggi Militer Korut menuduh militer Korsel memulai ketegangan dengan menembak ke arah sebelah Korut.

"Pasukan revolusi kami akan melanjutkan serangan militer tanpa ampun dengan tidak ragu-ragu jika negara boneka itu (Korsel) masuk tanpa izin walau hanya berjarak 0,0001 milimeter ke dalam perairan kami," ujar pernyataan itu.

Pernyataan itu dibacakan pada televisi dan stasiun radio di Korut secara jelas.

Dua anggota marinir tewas dan puluhan bangunan terbakar setelah tembakan artileri Korut menimpa perbatasan Korsel di pulau Yeonpyeong di dekat perbatasan maritim antara kedua negara itu.

Korut tidak mengakui perbatasan tersebut, dengan merujuk pada kenyataan bahwa perbatasan itu diputuskan secara sepihak oleh Amerika Serikat setelah perang Korea pada 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata.

Sebanyak tiga pertempuran kelautan terjadi di kawasan itu pada 1999, dan pemerintah Korsel menyalahkan Korut atas serangan yang menenggelamkan kapal perang di kawasan itu pada Maret.

"Hanya batasan kelautan militer yang telah kami buat yang berlaku di kawasan itu," ujar Korut dalam pernyataannya dengan menuduh Korsel telah menembakan puluhan serangan artileri ke arah mereka.

Panglima militer Korsel menyangkal bahwa mereka melakukan provokasi kepada Korut ataupun melakukan latihan Hoguk yang Korut anggap sebagai sebuah perintis invasi.
(F001/KR-BPY/H-AK)
ANTARA

Republik Indonesia Prihatin Atas Baku Tembak Korut-Korsel

RI Prihatin Atas Baku Tembak Korut-Korsel
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Marty M Natalegawa atas nama Pemerintah Indonesia menyampaikan keprihatinan yang sangat mendalam atas terjadinya saling tembak antara Korea Utara dan Korea Selatan di Pulau Yeonpyeong yang telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Dalam pernyataan pers Pemerintah Indonesia yang dikeluarkan di Jakarta, Selasa malam, Menlu juga mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia mendesak kedua pihak untuk segera menghentikan permusuhan, melakukan upaya maksimal untuk menahan diri dan menghindari terjadinya peningkatan ketegangan.

Pada kesempatan itu Pemerintah Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya dimulai kembali perundingan enam pihak yang diikuti oleh Korea Selatan, Korea Utara, Amerika Serikat, Rusia, China dan Jepang guna membahas seluruh aspek yang terkait dengan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.

Pada Selasa, Korea Utara menembakkan artileri ke Pulau Yeonpyeong yang terletak di dekat perbatasan maritim antara Korea Utara dan Selatan. Hal itu kemudian memicu baku tembak kedua Korea.

Korea Utara tidak mengakui perbatasan tersebut, dengan merujuk pada kenyataan bahwa perbatasan itu diputuskan secara sepihak oleh Amerika Serikat setelah perang Korea pada 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata.

Sebanyak tiga pertempuran kelautan terjadi di kawasan itu pada 1999, dan pemerintah Korsel menyalahkan Korut atas serangan yang menenggelamkan kapal perang di kawasan itu pada Maret tahun ini.

Dalam sebuah pernyataan di Kantor Pusat Berita Korea (KCNA) yang dikutip oleh kantor berita Korea Selatan Yonhap, Panglima Tinggi Militer Korut menuduh militer Korsel memulai ketegangan dengan menembak ke arah sebelah Korut.

Upaya untuk meredakan ketegangan antara kedua Korea yang dipicu oleh program nuklir kontroversial Korea Utara telah dilakukan dalam rangkaian perundingan enam pihak. Perundingan-perundingan itu, terakhir diselenggarakan Desember 2008.

Korut meninggalkan forum itu April 2009. Lima bulan kemudian negara itu mengumumkan mereka telah mencapai tahap akhir pengayaan urnaium- satu jalan baru penting untuk membuat sebuah bom nuklir.

(ANT/S026)

Antara

Rusia Khawatir Aksi Militer


0diggsdigg

Korut Menembakkan Artileri Di Pulau Yeonpyeong, Korea Selatan 3Km Dari Perbatasan Korut-Korsel(Foto: theglobeandmail.com)

MINSK, KOMPAS.com — Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Selasa (23/11/2010), memperingatkan bahaya besar yang ditimbulkan dari penembakan Korea Utara ke sebuah pulau di Korea Selatan. Ia mengatakan bahwa situasi itu berpeluang berubah menjadi aksi militer.

"Hal ini, sayangnya, bukan insiden pertama semacam ini," kata Lavrov kepada wartawan pada kunjungannya ke Minsk.

"Ini sudah kasus ketiga tahun ini," tambahnya.

"Ini bisa berubah menjadi aksi militer. Ini adalah bahaya sangat besar yang kita perlu hindari dengan segala cara yang mungkin," imbuhnya.

Korea Utara menembakkan puluhan peluru artileri ke sebuah pulau di Korea Selatan, Selasa, dan menewaskan dua orang, mengakibatkan kebakaran serta memicu baku tembak seiring meningkatnya kewaspadaan militer Korea Selatan.

Akibat insiden yang tampaknya merupakan salah satu insiden perbatasan paling serius sejak perang 1950-1953, pasukan Korea Selatan membalas tembakan dengan meriam.

Lavrov juga tampaknya sangat mengutuk Korea Utara yang memulai terjadinya baku tembak. "Mereka yang memulai dengan menembak ke pulau Korea Selatan ... memikul tanggung jawab besar," kata Lavrov.

Perlu dilakukan upaya segera untuk menghentikan baku tembak.

Sumber: KOMPAS

Korsel Ancam Lakukan Pembalasan


0diggsdigg

Korut Menembakkan Artileri Di Pulau Yeonpyeong, Korea Selatan 3Km Dari Perbatasan Korut-Korsel(Foto: theglobeandmail.com)

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan akan melakukan balasan yang tegas terhadap setiap provokasi lanjutan dari Korea Utara setelah negara komunis itu menembakkan puluhan peluru artileri ke sebuah pulau Korea Selatan, Selasa (23/11).

"Militer kami militer... akan membalas setiap provokasi lanjutan," kata sebuah pernyataan yang dikeluarkan lembaga kepresidenan Korea Selatan. "Serangan Korea Utara terhadap Pulau Yeonpyeong jelas merupakan sebuah provokasi. Lebih lanjut, tembakan sembrono yang menyasar warga sipil merupakan hal tak terampunkan. Pemerintah Korea Utara harus bertanggung jawab."

Para pejabat militer Korea Selatan mengatakan, serangan mendadak yang terjadi Selasa siang itu menewaskan seorang marinir dan melukai 13 tentara lainnya. Sejumlah rumah di pulau itu terbakar tetapi korban sipil tidak diketahui. Korea Selatan telah memerintahkan militernya untuk berada dalam kondisi siaga tertinggi menyusul serangan tersebut.

Sumber : KOMPAS

Korut Tembakan Artileri ke Korsel


0diggsdigg

Korut Menembakkan Artileri Di Perbatasan Korut-Korsel(Foto: theglobeandmail.com)

SEOUL--MICOM: Korea Utara menembakkan artileri ke satu pulau perbatasan Korea Selatan, Selasa (23/11), menimbulkan korban dan memicu baku tembak dengan pasukan Korsel.

Penembakan itu terjadi setelah Korut mengungkapkan tentang kegiatan program pengayaan uraniumnya yang telah berjalan -- tahap kedua untuk membuat senjata nuklir -- yang menimbulkan kecemasan serius bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Sekitar 50 peluru artileri Korea Utara mendarat di pulau Yeonpyeong Korea Selatan dekat perbatasan Laut Kuning yang tegang, yang menimbulkan beberapa orang cedera dan kerusakan belasan rumah, kata stasiun televisi YTN.

Empat tentara Korsel cedera akibat serangan artileri Korut itu, kata kantor berita Yonhap.

Militer Korsel dalam siaga tinggi, kata kementerian pertahanan, dan YTN memberitakan jet-jet Angkatan Udara Korsel dikerahkan ke pulau itu.

"Satuan artileri Korut melancarkan provokasi penembakan ilegal pada pukul 14.34 waktu setempat (12.34 WIB) dan pasukan Korsel segera membalas untuk mempertahankan diri."

Seorang penduduk pulau itu, Lee Jong-Sik mengemukakan, "Paling tidak 10 rumah terbakar. Saya tidak melihat secara jelas asap itu. Lereng-lereng bukit juga ditembaki. Kami diberitahu melalui siaran-siaran pengeras suara agar meninggalkan rumah-rumah kami."

Gambar televisi menunjukkan asap hitam terlihat di pulau itu. Ketegangan di semenanjung yang terbagi dua itu tidak mereda sejak tenggelamnya sebuah kapal perang Korsel Maret, yang menurut Seoul akibat kena serangan torpedo Korut. Pyongyang membantah keras tuduhan itu.

Pada Oktober lalu, pasukan Korut dan Korsel terlibat baku tembak di perbatasan Perang Dingin mereka, bertepatan dengan keadaan darurat bagi militer Korsel menjelang KTT G-20 para pemimpin dunia di Seoul awal bulan ini.

Insiden terbaru itu meletus ketika seorang utusan khusus AS bertolak menuju China, Selasa, dalam usaha meminta bantuan China menghentikan proyek nuklir baru Pyongyang, yang diungkapkan kepada para pakar nuklir AS yang menyebutnya satu program mutakhir Korut untuk memperkaya uranium.

Sumber: MEDIA INDONESIA

BERITA POLULER