Pages

Tuesday, November 23, 2010

LAPAN UJI TERBANG LIMA BUAH ROKET EKSPERIMEN


0diggsdigg


Garut, Lapan.go.id - Senin (22/11), Lapan berhasil menguji terbang lima buah roket eksperimen berdiameter 200 mm dan 100 mm di stasiun peluncuran roket Lapan, Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Kelima roket tersebut membawa muatan Global Positioning System (GPS) untuk mengetahui posisi roket. Menurut Ka Pustekwagan Lapan, Ir. Yus Kadarusman Markis, Dipl. Ing., pengujian terbang ini tidak hanya untuk mengetahui posisi roket, tetapi juga dilakukan pengujian fungsi sistem separasi dan sustainer.

Selain muatan GPS, masing-masing roket juga membawa misi muatan lainnya. Untuk roket RX-200 membawa muatan untuk tracking radar, yakni alat untuk mengetahui posisi roket secara penghitungan jarak dengan menggunakan frekuensi radio yang dipasang dari tiga titik ground station. Sedang, roket RWX-200 dan RWX-100, memasang fungsi sistem separasi dan sustainer sebagai roket kedua.

Ir. Hermayudi Irwanto, M. Eng. menambahkan, roket RWX-200 merupakan pengembangan lebih lanjut dari RWX-100. Dan semua ini berjalan sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah direncanakan. Sedangkan untuk roket RTX-100, dilakukan pengujian sistem folded wing. Maksud pengujian ini untuk mengetahui pengontrolan sistem terbukanya sayap mulai dari keadaan tertutup dan kestabilan sayap saat setelah terbuka.

Selanjutnya, untuk roket RKX-200, ia menjelaskan, tujuan pengujiannya ditekankan pada pendeteksian sistem manuver roket, mulai dari roll (guling), pitch (anggukan), dan yaw (gelengan) dari pergerakan roket saat meluncur.

Dari semua pengujian terbang roket-roket eksperimen Lapan kali ini, Yus Kadarusman menegaskan, semua data yang diperoleh berjalan dengan baik. “Tentunya, ini masih tetap harus dikembangkan lebih lanjut agar mendapatkan hasil yang lebih optimal,” tegasnya.

Sumber : LAPAN

Monday, November 22, 2010

Castro: NATO "Mafia", Obama "Penjinak Ular"

Castro: NATO Mafia, Obama Penjinak Ular
Havana (ANTARA News)) - Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) merupakan "mafia militer" pada perang "pembantaian" di Afghanistan dan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama mendapatkan penghargaan sebagai "penjinak ular terbaik" yang pernah ada, ujar Fidel Castro, Senin.

Dalam sebuah artikel yang disiarkan untuk menanggapi Konferensi Tingkat Tinggi sekutu Barat di Portugis, mantan pemimpin Kuba menjuluki NATO sebagai sebuah "lembaga agresif" yang mengabaikan "miliaran warga menderita kemiskinan, keterbelakangan, kekurangan pangan, tempat tinggal serta kesehatan dan pekerjaan".

Castro yang telah berumur 84 tahun, sebagai tokoh komunis yang masih hidup telah memimpin Kuba sejak Revolusi 1959 hingga pengunduran dirinya karena masalah kesehatan pada 2006 dengan menyerahkan tangkup jabatan kepada saudaranya, Raul, sebagaimana dikutip dari AFP.

Castro menjuluki NATO sebagai "seekor burung yang dimangsa yang tersaji di wilayah kekaisaran Yankee", sehingga digunakan oleh AS untuk mengupahi "perang pembantaian di Afghanistan".

Obama menepis rencana ambisius yang terungkap pada KTT di Lisabon yang membuat para pemimpin Barat mendesak pemerintah Afghanistan untuk mengambil alih pengamanan pada 2014, yang diperkirakan mereka akhirnya akan "menyerahkan kekuasaan kepada pihak berwenang di Afghanistan, dengan kekalahan".

AS "akan melalui masa sulit atas hasil perampasan perangnya" dan menggunakan "sumber media besarnya untuk mengatur, mengarang, dan membingungkan opini masyarakat dunia", ujar Castro.

"Obama telah menyatakan kejelasan bahwa janjinya untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan mungkin ditunda sehingga kami patut memberikannya penghargaan selain Hadiah Nobel juga dengan penghargaan sebagai "penjinak ular terbaik" yang pernah ada," kata Castro.
(ANT/A024)
Antara

Alutsista yang dimiliki TNI ke depan harus multifungsi


0diggsdigg

Indonesia Menaruh Minat Untuk Pengadaan Pesawat Angkut A400 M Dimasa Yang Akan Datang

Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI, Nurhayati Ali Assegaf, mengatakan, pihaknya memberi penghargaan kepada TNI karena telah bekerja cepat dalam menangani korban bencana alam, termasuk letusan Gunung Merapi.

"Komisi I memberikan apresiasi kepada TNI yang bekerja sigap membantu para korban letusan Gunung Merapi. Dari awal sudah duluan membantu korban, menyiapkan dapur umum, mampu menghibur korban sehingga tidak makin sedih dan kesepian," kata Nurhayati di Jakarta, Minggu.

Ia menambahkan, apresiasi tersebut disampaikannya setelah mendapat paparan dari Pangdam Diponegoro Brigjen TNI Langgeng Sulistyono.

"Tentunya, setelah mendengarkan paparan dari Pangdam, Komisi I mendalami paparan tersebut dan menyaksikan sendiri di lapangan bagaimana kerja TNI sebagaimana yang dipaparkan oleh Pak Langgeng. Kita berikan apresiasi karena kerja TNI sangat cepat dan bagus, koordinasi yang terukur," kata dia.

Ditambahkannya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diharapkan bisa meningkatkan kerja sama dengan TNI dalam menanggulangi bencana karena TNI terlatih dan mampu menghadapi persoalan dengan cepat.

"BNPB juga harus seperti TNI, bekerja cepat, terlatih dan bisa bekerjasama dengan TNI," ujar Nurhayati yang juga Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ini.

Terkait dengan penanggulangan bencana yang dilakukan oleh TNI, anggota Komisi I dari Fraksi Partai Demokrat ini berharap Alat Utama Sistem Persenjataan atau Alutsista yang dimiliki TNI ke depan harus multifungsi.

"Peran TNI harus didukung dengan dana dan peralatan yang memadai. Komisi I berharap agar Alutsista yang akan dibeli haruslah multifungsi, bisa sebagai alat perang dan juga bisa sebagai alat untuk misi kemanusiaan, membawa bantuan bagi korban bencana seperti pembelian pesawat Hercules," ujar dia.

Nurhayati beserta beberapa orang anggota Komisi I DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Yogyakarta, pekan lalu. Dalam kunjungan kerja tersebut, Komisi I banyak mendapatkan masukan dari TNI terkait bencana dan juga memantau secara langsung kerja TNI di lokasi bencana Gunung Merapi.

Sumber: ANTARA

Panglima TNI: Jangan Abaikan Wilayah Udara


0diggsdigg

Sukhoi TNI AU

Jakarta (ANTARA News) - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menyatakan bahwa seluruh jajarannya harus menjaga seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) termasuk wilayah udara nasional dari beragam ancaman kedaulatan negara.

"Wilayah udara tidak lagi dipandang sebagai teritorial kosong yang layak diabaikan, melainkan menjadi salah satu simbol kehormatan, kedaulatan dan sekaligus menjadi bagian integral dari kepentingan nasional," katanya, dalam amanat tertulisnya pada pembukaan latihan puncak Komando Pertahanan Udara Nasional "Tutuka XXXIV" di Jakarta, Senin.

Agus mengatakan, perspektif pertahanan negara, perkembangan dan kecenderungan yang akan terjadi, diwarnai semakin strategisnya makna dan peran wilayah udara bagi suatu bangsa.

"Karena itu, wilayah udara nasional tidak bisa dianggap remeh dan harus diamankan dari berbagai ancaman," katanya.

Latihan yang dilakukan di Pangkalam Udara Halim Perdanakusuma itu bertemakan "Melalui Operasi Pertahanan Udara, Terwujud Kesiapsiagaan Operasional Kohanudnas Untuk Mengamankan Wilayah Udara Yuridiksi Nasional RI Dalam Rangka Mendukung Tugas Pokok TNI."

Manuver lapangan diikuti seluruh satuan tempur TNI seperti Skuadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin yang mengerahkan tiga pesawat Sukhoi SU-27/30, Skuadron Udara 3 Pangkalan Udara Iswajudi dengan mengerahkan pesawat F-16, Satuan Arhanud, Den Rudal dan tiga kapal perang Republik Indonesia.

Panglima TNI mengingatkan, latihan yang berlangsung hingga 24 November 2010 tersebut bertujuan menguji profesionalisme dan kesiapan personel serta armada pendukungnya.

"Latihan ini bertujuan menguji profssionalisme dan `assasement` kita terhadap setiap perkembangan situasi yang terjadi, agar mampu menghadapi segala bentuk perubahan buruk yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Jadi lakukan latihan ini dengan penuh dedikasi," katanya.

Sumber: ANTARA

2014 Jangkauan Roket Buatan Lapan Lebih 400 Km


0diggsdigg

Salah Satu Roket Buatan Lapan

Dr Soewarto Hardhienata meninggalkan Pusat Latihan Tempur TNI di Baturaja, Palembang, pukul 13.30 WIB, dua pekan silam dengan hati lega. Setengah jam sebelumnya, empat roket yang menjadi proyek gabungan beberapa lembaga penting, termasuk Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), tempatnya bekerja sebagai Deputi Kepala Bidang Teknologi Dirgantara, kembali sukses diuji coba.

Roket-roket berjangkauan 14 kilometer dan berdiameter 12,2 sentimeter itu semuanya bisa diluncurkan dan mengenai sasaran pada akhir pekan itu. Keberhasilan ini tidak hanya membuat proyek semakin mencorong di depan anggota kabinet yang hadir, termasuk Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro serta Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, tapi juga menjadi tonggak penting.

"Ini untuk pertama kalinya roket Lapan diberi hulu ledak," kata Soewarto. Sebelumnya, roket-roket buatan Lapan cenderung hanya untuk kepentingan riset. Belum ada roket yang benar-benar dimanfaatkan. Setelah sukses uji coba mutakhir itu, Kementerian Pertahanan pun mengumumkan akan memasang roket bernama R-Han 122 di kapal-kapal tempur Indonesia dan ditargetkan pada 2014 sudah diproduksi 500 buah.

Proyek pembuatan roket ini relatif cepat, hanya sekitar tiga tahun. "Ini proyek kolaborasi, jadi cepat," kata Dr Timbul Siahaan, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertahanan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan.

Beberapa lembaga negara memang sudah memiliki teknologinya. Lapan memiliki teknologi roket, Pindad sudah puluhan tahun berpengalaman di bidang pembuatan hulu ledak, serta PT Dirgantara Indonesia memiliki fasilitas dan berpengalaman membuat torpedo. Semuanya bergabung. "Kalau dari awal (penelitian sendiri), tidak akan cukup waktunya," kata Timbul.

Roket R-Han 122-yang berarti roket pertahanan berdiameter 122 milimeter-merupakan turunan roket Lapan RX-120. Roket Lapan ini sedikit diperbesar dengan alasan sederhana. "Kalau di militer ada standar roket 122," kata Soewarto. Salah satu roket seukuran yang digunakan Indonesia adalah roket yang diluncurkan dari RM-70 Grad, peluncur roket buatan Republik Cek.

Dalam dunia militer, roket seukuran ini disebut roket artileri karena fungsinya persis seperti meriam: menyapu pasukan musuh. Di "kelas" berikutnya, roket jarak menengah dan antarbenua. Sejumlah negara-di Asia bukan hanya Jepang, India, atau Cina, melainkan juga Iran dan Korea Utara-sudah mampu memproduksi roket berjangkauan ratusan kilometer. Indonesia saat ini sedang dalam taraf pengembangan dan targetnya pada 2014 sudah memproduksi roket jarak jauh yang tidak hanya bisa membawa bom ke benua lain, tapi juga satelit ke antariksa (baca "Empat Tahun Lagi").

Roket R-Han 122 tidak memiliki kendali sendiri dan tanpa sistem navigasi. Untuk mengarahkannya, personel yang meluncurkan harus menghitung sudut peluncuran. Akurasinya juga bukan titik, melainkan area dengan radius sekitar 500 meter. Saat terbang, roket akan meluncur sambil berguling. Ini membuat jangkauan roket makin jauh dan terarah.

Dengan sistem ini, roket R-Han 122 menjalani uji coba cukup lama. Tahap awal, setelah desain, seperti biasa uji coba di darat untuk menguji sistem pendorongnya. Baru kemudian dilakukan uji coba peluncuran yang sesungguhnya. "Sekitar 25 kali uji coba peluncuran," kata Soewarto, "semuanya sukses."

Uji coba itu dijalankan di Pameungpeuk dekat Garut, Lumajang di Jawa Timur, serta Baturaja, Palembang. Saat uji coba di Pameungpeuk dan Lumajang, roket diluncurkan ke arah laut. Sayang sekali, saat uji coba di Lumajang, ada kecelakaan meski bukan oleh roket R-Han 122. Kecelakaan itu mencederai dua warga yang berada di gubuk sekitar lapangan peluncuran. "Kalau roket ini (R-Han 122), tidak ada masalah," kata Soewarto.

Uji coba berikutnya dilakukan di Baturaja, Palembang. Sebagai roket artileri, roket akan diisi peledak betulan. Uji coba mesti dilakukan dengan sasaran darat. "Karena harus menguji hulu ledak, tidak bisa di laut," kata Soewarto. Mereka memilih Baturaja karena tempatnya luas, 23 ribu hektare, sehingga relatif aman jika ada masalah. Uji coba ini juga sukses.

Tapi tim ini tidak puas dengan jangkauan hanya 14 kilometer. Tim sudah mengembangkan R-Han 122 dengan jangkauan 23 kilometer, hampir dua kilometer lebih jauh dari roket RM-70 Grad. Jangkauan lebih jauh ini dicapai dengan cara sederhana: bahan bakar diperpanjang. Dalam versi sekarang, bahan bakar memiliki panjang satu meter. Dalam versi selanjutnya, panjangnya sampai dua meter. Versi lebih panjang ini sudah diuji coba di darat. "Akan segera diuji coba terbang dalam waktu dekat ini," kata Soewarto.

Proyek lain juga sudah menunggu. "Kita sedang mengembangkan R-Han 200," kata Siahaan. Roket sebesar itu, menurut Soewarto, mampu menjangkau sekitar 40 kilometer.

Empat Tahun Lagi

Meski menjadi bagian penting dalam proyek R-Han 122 atau R-Han 200 menaikkan gengsi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), konsentrasi utama lembaga para ahli roket ini adalah membuat roket yang bisa mengirim satelit ke antariksa. Target Lapan pada 2014: bisa memproduksi roket bernama RPS-01 untuk mengirim satelit. "Sejauh ini tahap-tahap (ke arah sana) berlangsung baik," kata Dr Soewarto Hardhienata, Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan.

Roket itu terdiri atas empat tingkat. Tingkat teratas roket RX-320 yang sudah diproduksi dan sukses diuji coba Lapan. Tiga tingkat di bawahnya semula direncanakan terdiri atas RX-420 semua plus dua roket pendorong (booster) di kiri-kanan. RX-420 sudah sukses diuji coba sejak tahun lalu dan menjadi roket terbesar buatan Indonesia.

Tapi sejumlah perhitungan membuat Lapan kemudian mencoba menghilangkan sepasang booster itu. Salah satu alasannya: kerumitan perhitungan. Jika tenaga dua roket itu tidak benar-benar sama, arah luncuran bisa kacau, bisa melenceng. Sebagai gantinya, roket tingkat pertama tidak lagi berdiameter 420 milimeter, tapi diperbesar menjadi 550 milimeter. "Bulan depan ini uji statis RX 550 di Pameungpeuk (dekat Garut)," kata Soewarto.

Ini kemajuan mengingat, sejak 1960-an sampai 2006, Lapan seperti berhenti membuat roket. Mereka berkonsentrasi pada urusan seperti pengindraan jarak jauh. Selama empat dekade itu teknologi roket Indonesia berhenti pada diameter 250 milimeter.

Selain mampu membawa satelit, roket empat tingkat berjangkauan hampir 400 kilometer itu bisa diubah menjadi roket militer. "Muatannya bisa diganti hulu ledak," kata Soewarto.

Sumber: TEMPO

Super Hornet Back on Agenda

F/A-18E/F would be potential candidate as a new MMRCA for RMAF (photo : Flightglobal)
KUALA LUMPUR: The Boeing Co remains hopeful of concluding a deal to sell up to 18 F/A-18E/F Super Hornet strike fighters to Malaysia, which the US aircraft manufacturer has been negotiating since 2002.
Boeing Defence, Space and Security president and chief executive officer Dennis Muilenburg said the company has submitted a proposal to the Royal Malaysian Air Force (RMAF) for its F/A-18E/F Super Hornets, and negotiations are ongoing."We are hopeful that things will move forward in the near term... We can accommodate customers' (delivery) schedules, both near term and long term.

"We have demonstrated the ability to produce the Super Hornets for multiple customers on schedule," he said here on Tuesday.

He declined to reveal whether Boeing had proposed that the RMAF buy the single-seater Super Hornet E model or the two-seater F model, although reports had suggested that up to 18 units of the two-seater version were proposed.RMAF currently operates eight earlier generation two-seater F/A-18Ds and was reportedly planning to buy eight to 16 more aircraft before the 1997 Asian financial crisis forced a spending cut.

Recently, however, Malaysian defence officials had indicated that multi-role fighter purchase was back on the agenda.Muilenburg said RMAF had expressed satisfaction with its fleet of eight F/A-18Ds from Boeing."They provide tremendous (day-night strike) capability, reliable and the cost of maintaining the jets is low.

"I think the expectation (of the RMAF) is to continue to operate and expand that fleet rather than replace it.

"In this regard, the Super Hornets are an attractive option because these fighter jets provide direct interoperability with the F/A-18Ds fleet.

"They will have common support equipment as well as common air crew and maintenance training systems."

Apart from the Super Hornets, Muilenburg said Malaysia had not indicated any other aircraft procurement plans.

"But as with all of our customers, we continue to provide awareness of the products that are available (from Boeing). We are ready to respond if specific opportunities come forward."

This was Muilenburg's first visit to Malaysia where he had a meeting with Prime Minister Datuk Seri Najib Razak, Defence Minister Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi and commercial customer, Measat Satellite Systems Sdn Bhd.

"During the meeting with the prime minister, one of the things that we talked about was how Boeing can help Malaysia achieve its New Economic Model goals and how we can be part of the industrial player (via offset programmes) going forward," Muilenburg said."

(For instance), if we are successful in bringing our Super Hornets to Malaysia, part of our industrial participation package will include composites manufacturing work being done in Malaysia.

"Structurally, the Super Hornet is built largely from aluminium alloys with extensive use of carbon fibre composite skins in the wings and titanium in several critical areas."

It's possible (through Boeing's Super Hornet industrial cooperation programme), our partners like Asian Composites Manufacturing Sdn Bhd and Composites Technology Research Malaysia Sdn Bhd in Malaysia can become a key supplier of composite materials.

"To date, they have both demonstrated terrific capability in composites manufacturing."
Boeing is also in discussions with Measat to supply two additional commercial communications satellites and Ku-band transponders.

Three of four Measat satellites in orbit today were built by Boeing.


(New Straits Times)

Turki Tawarkan Produksi Tank




Tank ringan produksi FNSS yang ditawarkan kepada Indonesia (photo : Defense Studies)
JAKARTA (SINDO) – Pemerintah Turki menawarkan kerja sama produksi kendaraan tempur jenis tank kepada Indonesia. Hal itu diungkapkan Juru Bicara Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI I Wayan Midhio di Jakarta, kemarin.
Midhio mengatakan, tawaran Turki tersebut dalam bentuk transfer teknologi. Tawaran itu masih dalam proses pembahasan di Kemhan. ”Turki sudah datang menawarkan kerja sama produksi tank dengan transfer teknologi,” paparnya. Namun, Midhio tidak menyebutkan jenis tank yang ditawarkan tersebut. Kerja sama industri pertahanan dengan Turki, lanjut Midhio, selama ini berlangsung dengan baik. Kedua negara,ujarnya,juga sudah menyepakati transfer teknologi berupa modifikasi pesawat CN 235 dari pesawat biasa menjadi pesawat patroli maritim dengan kelengkapan sarana elektronik mutakhir.

”Kerja sama militer Indonesia dengan Turki memang cukup menguntungkan dan terus akan ditingkatkan karena negara ini penguasaan teknologi militernya sangat maju,”katanya. Indonesia belakangan ini memang sedang aktif melakukan pembicaraan-pembicaraan strategis dengan sejumlah negara, terutama menyangkut pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) sekaligus pembangunan industri pertahanan. Pekan lalu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebutkan, Indonesia dan Cina juga sedang menjajaki produksi rudal bersama. Cina memang berencana memproduksi rudal antikapal C-705 untuk pertahanan udara dan laut.

Peluru kendali tersebut merupakan pengembangan dari rudal C- 802 yang telah digunakan kapalkapal perang milik TNI Angkatan Laut. ”Misalnya,pengadaan misil C 802 dan C 705. Kalau mau perbanyak, kenapa tidak dibangun di Indonesia saja?”kata Purnomo. Pengamat militer dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Evan A Lesmana mengatakan, kerja sama pertahanan memang harus dibarengi dengan tindak lanjut yang konkret. Misalnya, sampai sejauh mana kerja sama dapat diwujudkan dalam bentuk pelatihan militer atau transfer teknologi dalam pengadaan alutsista? ”Persoalan kerja sama pertahanan kan bukan dari segi kuantitas berapa banyak kerja sama yang ditandatangani.Tapi, follow up-nya untuk membantu kapabilitas angkatan bersenjata,” tegasnya.

Lebih lanjut, Evan mengungkapkan, dalam konteks pengadaan alutsista memang diperhadapkan pada persoalan yang tidak mudah. Pemerintah dan TNI perlu memikirkan agar persenjataan yang akan diadakan ataupun rencana transfer teknologi benar-benar terencana dan dapat terintegrasi dengan baik. Merujuk data yang dikeluarkan Kemhan tahun 2004,ujar Evan, sampai saat ini Indonesia masih memakai alutsista dari 17 negara sebanyak 173 jenis. ”Pembelian maupun transfer teknologinya harus terencana. Jangan sampai ada persenjataan yang sebenarnya tidak dibutuhkan,” ujarnya. (pasti liberti)

(Seputar Indonesia)

BERITA POLULER