Pages

Monday, November 22, 2010

U.S. Delta IV rocket with secret satellite blasts off


A United Launch Alliance Delta IV rocket
06:15 22/11/2010
© flickr.com/ NNSANews/United Launch Alliance
A Delta IV rocket carrying a secret payload for the National Reconnaissance Office (NRO) blasted off on Monday from Cape Canaveral, the launch company said on its website.
The launch took place at 1:58 am Moscow time [22:58 Sunday GMT]. The blastoff, initially scheduled for November 18, had been delayed several times.
Commercial launch company United Launch Services (ULA) said the mission was "in support of national defense," without giving any further details.
Fox News earlier said the payload, known only as NROL-32, is widely assumed to be "the largest satellite in the world," with a mission "to bolster U.S. eavesdropping abilities."
Delta IV is the biggest unmanned rocket currently in service in the United States.

MOSCOW, November 22 (RIA Novosti)

RIA NOVOSTI

Russia's second 5G-fighter to fly before yearend

T-50
12:13 22/11/2010
© RIA Novosti. Aleksei Druzhinin
Flight trials of the second prototype of Sukhoi's fifth-generation fighter aircraft are due before the end of the year, Sukhoi holding CEO Mikhail Pogosyan said on Monday. The first prototype of the fighter, codenamed T-50, made a maiden flight in late January and has conducted 40 in total, Pogosyan told journalists in Russia's Far East.
"The flight trial program is moving ahead faster than we expected," Pogosyan said.
He said talks with India's Hindustan Aeronautics Limited (HAL) on the joint development of the fifth-generation fighter aircraft are due to conclude before the end of the year.
Earlier reports said an agreement would be signed in December.
The new warplane is expected to enter service with the Russian Air Force in 2015.

KHANTY-MANSIISK, November 22 (RIA Novosti)

RIA NOVOSTI

Smith Confident of Fighter Jets Delivery




Hornet and F-35 JSF (photo : Xinhua)
Defence Minister Stephen Smith has expressed confidence in the new Joint Strike Fighter (JSF) ahead of a United States report expected to be highly critical of the project.
Mr Smith said Australia had committed to buying 14 aircraft - all of which are the conventional takeoff and landing variant which had experienced few problems.

In contrast, the other two variants, the aircraft carrier version and the short takeoff and vertical landing (STOVL) versions have experienced considerable development problems and delays.

Mr Smith said the baseline review of JSF progress, commissioned by US Defence Secretary Robert Gates and conducted by the US Defence Acquisition Board, was to be released on Monday (US time).

"We will, as appropriate, have access to that briefing and we will see what consequences, if any, flow," Mr Smith told reporters.

Media leaks in the US say the report predicts a further three-year delay in the program and a $US5 billion ($A5.07 billion) cost blowout.

The Lockheed Martin F-35 Lightning JSF is an advanced stealth multi-role combat aircraft that will be the mainstay of US and allied air forces to around mid-century.

Australia will acquire up to 100 aircraft, with the first due to enter service in 2018.

The $16 billion bill makes it Australia's most expensive ever equipment acquisition.

The JSF project has faced frequent criticism about the aircraft's costs, late delivery and doubts about it being as good as initially promised.

Mr Smith said Australia had very sensibly ensured there was plenty of scope for delays in the planned JSF delivery schedule.

"So we are confident that the 14 Joint Strike Fighters we have committed to take will be delivered on schedule," he said.

"Our schedule is to see those 14 produced effectively in 2014 in the US, for work and training to occur in the US for a period of time, and for those to be delivered here for the 2017-18 timetable."

Mr Smith said in the meantime Australian defence capability was maintained through the existing upgraded F/A-18 Hornets and the 24 new Super Hornets, now entering service.


(Sidney Morning Herald)

Sunday, November 21, 2010

Pembelian Kapal Selam Harus Satu Paket



Kapal selam diesel Jerman kelas 214

JAKARTA – Rencana pembelian kapal selam oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) hendaknya dilakukan satu paket. Pembelian satu paket memungkinkan adanya transfer teknologi dan penyertaan industri pertahanan dalam negeri.

“Empat kapal selam yang sudah kami setujui harus dibeli dari satu negara. Perkara negara mana yang akan diajak bekerja sama, kita serahkan wewenang itu kepada Kemhan dan TNI karena mereka yang lebih paham,” kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq saat dihubungi di Jakarta, Minggu (21/11).

Kemhan dan TNI saat ini sedang menjajaki empat negara yang diperkirakan akan bekerja sama dalam pengadaan kapal selam. Empat negara itu ialah Jerman, Korea Selatan, Rusia, dan Prancis. Mahfudz berharap pada Januari atau Februari 2011 pemerintah sudah menetapkan kerja samanya (MoA).

Yang jelas, politisi dari PKS ini memberi catatan agar kerja sama tersebut bisa menguntungkan Indonesia, terutama dalam rangka modernisasi alutsista dan revitalisasi industri pertahanan dalam negeri.

Ditanya tentang anggaran yang dialokasikan untuk pembelian empat kapal selam ini, Mahfudz mengatakan tak begitu hapal. Dari penelusuran Koran Jakarta, harga satu kapal selam standar mencapai 300 juta dollar AS atau 2,7 triliun rupiah (kurs 9.000 rupiah/dollar AS).

Kalau yang dianggarkan empat kapal selam, berarti pemerintah membutuhkan dana hingga 10,8 triliun rupiah atau hampir setara dengan alokasi anggaran untuk modernisasi alutsista pada tahun 2011.

Dari segi terknologi, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Rizal Darma Putra melihat, Jerman terdepan dibandingkan tiga negara lain yang sedang dijajaki. “Jerman terkenal dengan pengalamannya membuat kapal selam diesel berteknologi canggih. Terlepas dari itu, Rizal berharap pemerintah memperhatikan keberlanjutan pemeliharaan kapal selam yang akan dibeli.

Untuk kebutuhan Indonesia, Rizal melihat bukan kapal selam dengan daya jelajah yang jauh yang dibutuhkan.

Terpenting, kapal selam yang nantinya dibeli harus mampu menjaga perairan Indonesia, terutama di selat-selat strategis yang meliputi Malaka, Lombok, Sunda, dan Makassar. “Kita membutuhkan kapal selam yang bisa menyelam secara senyap, mampu menghindar dari deteksi sonar,” katanya. Pengadaan kapal selam, tambah Rizal, amat dibutuhkan.

“Asalkan bisa menggunakan anggaran dengan cermat dan akuntabel,” katanya. Dia berharap pemerintah saat ini memprioritaskan pada modernisasi alutsista dibandingkan hal lain seperti rencana pembentukan komponen cadangan.

Menurutnya, pemerintah bisa mengesampingkan pembentukan komponen cadangan agar dananya bisa dialokasikan untuk pengadaan alutsista. Saat ini Indonesia baru memiliki dua kapal selam yang diberi nama KRI Cakra dan KRI Nanggala. Keduanya merupakan produksi Jerman dengan kelas 209/1300 yang dibuat pada tahun 1981.

Sumber : KORAN JAKARTA

SAF Conducts HIMARS Live-Firing Exercise in the US


The Singapore Armed Forces' HIMARS in action during the battery live-firing exercise.

21 November 2010 -- The Singapore Armed Forces (SAF) conducted a High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) battery live-firing exercise, code-named Daring Warrior, from 10 to 21 Nov 2010. About 170 personnel from 23rd Battalion Singapore Artillery participated in the exercise at Fort Sill, Oklahoma, USA.

The battery live-firing is the first being conducted using the SAF's HIMARS, after taking delivery of the system in July this year.The exercise also featured a joint live-firing with the US Army, witnessed by Assistant Chief of General Staff (Operations) Brigadier-General Tung Yui Fai and Commanding General, United States Fires Center of Excellence and Fort Sill Major-General David Halverson on 19 Nov 2010. The two generals also met with the participating troops from both armies.

Training in the US allows the SAF to build up its operational capabilities and readiness, and facilitates the sharing of professional knowledge among soldiers of the two armies. The US’ support for Exercise Daring Warrior reflects the long-standing and excellent defence ties between Singapore and the US.

Mindef

Pakistan Borong Radar dan Rudal Untuk JF-17 Thunder


Prajurit AU Pakistan duduk di depan JF-17 Thunder saat dipamerkan di Zhuhai Airshow 2010. (Foto: AP)

21 November 2010 -- Angkatan Udara Pakistan menegaskan membeli avionik dan rudal untuk melengkapi 250 jet tempur JF-17 Thunder, diberitakan harian China Global Times, Kamis (18/11).

KASAU Pakistan Rao Qamar Suleman saat wawancara eksklusif dengan Global Times, mengatakan sedang mengevaluasi sistem pertahanan udara buatan China lainnya.

Suleman mengatakan radar aktiv dan rudal jarak sedang homing dikembangkan oleh China, rudal SD-10, akan menjadi persenjataan standar Beyond Visual Range (BVR) JF-10. Beliau menambahkan “AU Pakistan tidak mempunyai rencana memasang peralatan dan persenjataan Barat pada pesawat untuk saat ini.“

Akhir Maret, Dow Jones memberitakan perusahaan dirgantara Perancis ATE, bersama Thales Group dan MBDA kandidat kuat pemenang kontrak pengiriman radar dan rudal senilai 1,2 milyar euro untuk batch pertama 50 JF-17 Thunder. Harian Perancis Le Monde memberitakan kesepakatan telah ditandatangani saat kunjungan kerja Perdana Menteri Pakistan Yoisaf Raza Gilani ke Perancis.

Pemerintah Perancis tidak memberikan lampu hijau menyetujui kesepakatan, menimbang faktor kepentingan ekonomi lebih besar dan geopolitik. Menurut sumber di kantor kepresidenan Nicolas Sarkozy, penolakan ini terkait hubungan Perancis-Pakistan.

KASAU Suleman tertarik bom berkendali dikembangkan oleh Aviation Industry Corporation of China Defense (AVIC Defense) saat mengunjungi Zhuhai Air Show 2010 di Provinsi Guandong. “Bom ini ideal untuk operasi anti militan,” ucap Suleman.

Suleman mengungkapkan juga Pakistan akan memesan juga sistem pertahanan rudal dari China, termasuk rudal permukaan-ke-permukaan.

JF-17 Thunder

AU Pakistan meningkatkan produksi JF-17 Thunder (FC-1 Xiaolong sebutan China), dengan maksud mendapatkan 25 jet tempur hingga akhir tahun ini.

JF-17 Thunder/FC-1 Xiaolong dikembangkan hasil kerja sama perusahaan China Chengdu Aircraft Industries Corporation dan perusahaan Pakistan Pakistan Aeronautical Complex, ditenagai mesin buatan Rusia RD-93. China telah meneken kontrak pembelian 100 mesin RD-93 dari China. China juga sedang mengembangkan mesin pengganti RD-93.

Pakistan gencar menawarkan JF-17 Thunder ke sejumlah negara, seperti Mesir, Turki dan Indonesia. Paket penjualan termasuk penawaran pembuatan di negara pembeli.

JF-17 Thunder ditampilkan secara statis pertama kalinya pada Farnborough Air Show di dekat London pada 19-25 Juli. Pada Zhuhai Air Show, JF-17 Thunder beraksi diudara melakukan sejumlah manuver.

Pemerintah Pakistan merapat ke China untuk melengkapi alutsista angkatan bersenjatanya, meski Amerika Serikat telah menjual jet tempur baru F-16 C/D , frigate bekas, helikopter serta sejumlah alutsista lainnya. Pemerintah Amerika Serikat berkepentingan mempersenjatai AB Pakistan dalam kampanye memerangi militan di daerah perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Kecanggihan alutsista yang dijual ke Pakistan, dibawah dibandingkan alutsista yang dijual ke India, sebagai seteru Pakistan.

Global Times/Berita HanKam

Pentagon Akui Insiden Internet China


Wicak Hidayat - detikinet




ilustrasi (ist)

Washington - Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengakui adanya insiden internet di Pentagon pada April 2010. Insiden itu melibatkan China.

Hal itu dikemukakan Kolonel David Lapan, juru bicara Pentagon, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Minggu (21/11/2010). "Kami sudah mengetahui, pada 8 April 2010, ada trafik internet (kami) yang di-reroute melalui China," ujarnya.

Namun hal yang masih belum jelas adalah, apakah insiden itu dibarengi dengan niat jahat atau tidak. Bahkan ia menegaskan tidak ditemuinya hal jahat dalam insiden tersebut.

Saat ini insiden itu jadi sorotan komisi US-China di DPR-nya AS. Disebutkan bahwa insiden itu mempengaruhi situs pemerintah dan militer AS, hingga koneksi internet di kantor Menteri Pertahanan Robert Gates.

Di sisi lain, Beijing menyatakan ketidaksukaannya pada apa yang dilakukan komisi tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan pola pikir komisi tersebut bagaikan era 'Perang Dingin'.

Sedangkan China Telecom juga membuat pernyataan terpisah yang menyebutkan bahwa insiden itu bukanlah suatu kesengajaan. Mereka menolak jika disebut terjadi 'pembajakan' trafik internet, seperti yang disebutkan oleh komisi tadi.


( wsh / rou ) 

DETIK NET

BERITA POLULER