Pages

Sunday, November 21, 2010

Pentagon Akui Insiden Internet China


Wicak Hidayat - detikinet




ilustrasi (ist)

Washington - Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengakui adanya insiden internet di Pentagon pada April 2010. Insiden itu melibatkan China.

Hal itu dikemukakan Kolonel David Lapan, juru bicara Pentagon, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Minggu (21/11/2010). "Kami sudah mengetahui, pada 8 April 2010, ada trafik internet (kami) yang di-reroute melalui China," ujarnya.

Namun hal yang masih belum jelas adalah, apakah insiden itu dibarengi dengan niat jahat atau tidak. Bahkan ia menegaskan tidak ditemuinya hal jahat dalam insiden tersebut.

Saat ini insiden itu jadi sorotan komisi US-China di DPR-nya AS. Disebutkan bahwa insiden itu mempengaruhi situs pemerintah dan militer AS, hingga koneksi internet di kantor Menteri Pertahanan Robert Gates.

Di sisi lain, Beijing menyatakan ketidaksukaannya pada apa yang dilakukan komisi tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan pola pikir komisi tersebut bagaikan era 'Perang Dingin'.

Sedangkan China Telecom juga membuat pernyataan terpisah yang menyebutkan bahwa insiden itu bukanlah suatu kesengajaan. Mereka menolak jika disebut terjadi 'pembajakan' trafik internet, seperti yang disebutkan oleh komisi tadi.


( wsh / rou ) 

DETIK NET

Insiden Internet China Bahayakan Pentagon?


Wicak Hidayat - detikinet


 
Washington - Dalam waktu yang singkat, terjadi insiden internet yang mempengaruhi koneksi di Pentagon. Ahli keamanan menilai, insiden itu punya potensi bahaya yang cukup besar. Pentagon dalam bahaya?

Demikian pendapat Larry Wortzel, mantan Kolonel yang kini menjadi salah satu anggota komisi yang menyelidiki insiden tersebut, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Minggu (21/11/2010).

Wortzel mencontohkan, selama internet teralihkan ke China bisa saja terjadi pencurian alamat-alamat email di Departemen Pertahanan atau Pentagon. Kemudian, ujarnya, seseorang bisa mengirimkan pesan palsu yang mirip asli yang berisi program jahat.

"Jika saya melihat hal seperti ini, saya bertanya-tanya: 'siapa ya, yang tertarik dengan komunikasi dari seluruh Departemen Pertahanan dan pemerintahan federal AS? Rasanya, tidak mungkin hanya seorang mahasiswa dari Shanghai University," ujarnya.

Meski demikian, juru bicara Pentagon, Kolonel David Lapan, mengatakan jaringan internal Pentagon tak akan terpengaruh oleh insiden ini.

"Kami punya pengamanan yang akan melindungi semua komunikasi yang keluar ke internet," ujarnya yakin.



( wsh / rou ) 

detik net

EMB-314 Super Tucano, Pengganti Si Kuda Liar (III)




Mesin

EMB-314 Super Tucano ditenagai oleh mesin turboprop asal Kanada Prat & Whitney PT6A-68A berdaya 969 kW. Mesin ini telah dilengkapi dengan sistem pemantau dan control otomatis. Sedangkan untuk varian ALX memiliki mesin yang jauh lebih kuat daripada EMB-314 (AT-29). ALX ditenagai mesin turboprop Pratt dan Whitney Kanada jenis PT6A-68/3 berdaya 1.600 shp. Keduanya memiliki lima bilah propeller dari Hartzell dengan kecepatan konstan sepenuhnya.

Tucano memiliki daya tampung bahan bakar sebanyak 695 liter, yang mampu memberikan jangkauan operasi sejauh 1.500 km dengan ketahanan terbang selama 6 jam 30 menit. Pesawat memiliki kecepatan jelajah hingga 530km/jam dengan kecepatan maksimum 560km/jam.

Sejarah Operasional

25 Super Tucano varian AT-29B yang dibeli langsung dari Embraer oleh AU Kolombia senilai 234 juta dollar, diterima secara bertahap dalam 4 kali pengiriman. Tiga pesawat pertama diterima pada 14 Desember 2006 di Lanud militer CATAM di Bogotá. Kemudian menyusul 2 pesawat pada hari minggunya tanggal 16 Desember 2006. Kolombia menerima kembali 10 pesawat pada semester pertama tahun 2007 dan sisanya pada Juni 2008.

Super Tucano digunakan AU Kolombia untuk menggantikan peran pesawat sejenis, Rockwell OV-10 Bronco dan Cessna A-37 Dragonfly.



Di tahun 2008, AU Kolombia mempersenjatai Super Tucanonya dengan bom Griffin di wilayah udara Ekuador selama "Operasi Phoenix" untuk menghancurkan sel teroris dan berhasil membunuh wakil komandan FARC, Raúl Reyes. Serangan ini menimbulkan ketegangan diplomatik antar kedua negara.

Pada tahun 2006, Embraer berpotensi menjual 24 unit Super Tucano ke Venezuela karena ada permintaan dari AU-nya. Namun dibatalkan secara sepihak oleh Brazil, dimana presiden Venezuela, Hugo Chavez, menyatakan Amerika bertanggung jawab dan berada dibalik pembatalan kontrak pembelian.

Satu Super Tucano juga dibeli oleh anak perusahaan “Blackwater Worldwide”, sebuah lembaga keamanan swasta yang di kontrak militer Amerika di Irak dan Afganistan.

Pada 2008 US Navy menyewa Super Tucano atas perintah U.S. Special Operations Command (US-SOCOM) untuk digunakan mendukung operasional pasukan khusus. 100 pesawat Super Tucano juga tengah ditawarkan pemerintah Brazil kepada US Air Force sebagai pesawat counterinsurgency pada tahun 2009. Amerika sendiri saat ini masih mengandalkan pesawat A-10 Warthog untuk peran pesawat counterinsurgency.

Indonesia Pesan 8 Super Tucano

Diajang pameran industri pertahanan Indo-Defence 2010 lalu, raksasa penerbangan Brasil, Embraer, mengumumkan telah memenangkan kompetisi untuk menyediakan delapan pesawat serang ringan bermesin turbojet Super Tucano bagi TNI AU di Kemayoran, Jakarta pada Rabu (10/11).

Sejauh ini Embraer tidak membeberkan berapa besar nilai perjanjian tersebut, tetapi koran lokal Brazil menyebutkan angka 10 juta dollar AS. Perjanjian itu mencakup sarana pendukung dan paket logistik yang terintegrasi. Rencananya pengiriman pesawat dimulai tahun 2012 nanti.

"Kami sangat senang bahwa TNI AU menjadi pelanggan terbaru dari Sistem Pertahanan Embraer," kata Orlando Jose Ferreira Neto, Wakil Presiden Eksekutif Embraer. "Super Tucano merupakan pesawat serang ringan yang sudah terbukti dan pesawat latih yang sudah maju, yang saat ini sudah digunakan oleh lima angkatan udara. Kami yakin, pesawat itu sangat sesuai dengan kebutuhan Indonesia," tambahnya.

Sebelumnya dua tahun lalu, yakni pada bulan April 2008, TNI AU menyatakan ketertarikannya mengakuisisi 16 unit pesawat Super Tucano untuk menggantikan pesawat COIN, Rockwell OV-10F Bronco di Skuadron 21, Malang, yang telah di kandangkan karena habis masa pakainya. Kedepannya TNI AU berharap pemerintah akan melengkapi jumlah pesawat ini menjadi 1 skuadron (16 unit).

Bahkan pilot senior TNI AU, Marsda TNI Ganjar Wiranegara yang pernah menjajal kehebatan pesawat ini di Brazil pada tahun 2007 lalu merasa kagum atas kemampuan yang dimiliki Super Tucano. "Meskipun pesawat tidak memiliki radar, avionil Super Tucano mampu menerima data link-nya (Send/Receive tracks/waypoint), weapon system status, present position transmission, transmit aircraft systems status, operational coordination serta intelligence information tentang targets dan avoidance area. Untuk terbang malam Super Tucano juga telah dilengkapi Night Vision Goggles (NVG) Gen III, dimana external dan internal lights full NVG compatible.



Komandan Pangkalan Udara (Lanud) TNI-AU Abdul Rahman Saleh Malang, Marsekal Pertama Dwi Putranto pernah mengatakan bahwa pesawat Super Tucano akan ditempatkan di Skuadron 21 yang sebelumnya diisi OV-10F Bronco.

Oktober 2010 lalu persiapan sudah dilakukan, dan dalam waktu dekat tim dari Embraer akan datang ke Lanud Abdul Rahman Saleh guna melihat fasilitas yang ada.

Fasilitas yang akan disempurnakan di antaranya hanggar dan parkir pesawat di Skuadron 21, serta menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. "Diharapkan pada 2011 sudah ada pembangunan fasilitas untuk 16 pesawat," tegasnya.

Pilot-pilot yang akan menerbangkan Super Tocano nantinya akan dilatih di negara produsennya, Brasil. Sebelumnya pilot OV-10 untuk sementara waktu disebar ke beberapa satuan TNI AU. "Setelah Super Tocano datang, mereka akan ditarik kembali," tukasnya. Copyright Alutsista

ALUTSISTA

Saturday, November 20, 2010

Russia, India 'likely' to sign 5G fighter contract in December

Topic: Russia-India partnership

Russia's 5G fighter
20:24 18/11/2010
© RIA Novosti. Alexey Drujinin

Russia and India are highly likely to sign a fifth-generation fighter design contract in December, Deputy Prime Minister Sergei Ivanov said on Thursday.
Russia's Sukhoi holding and India's Hindustan Aeronautics Limited (HAL) agreed in early 2010 to jointly develop a fifth-generation fighter jet. India confirmed that it had finalized a draft contract at a meeting with Russia in early October.
"If all procedures are completed by the time of our president's visit [to India] in December, the contract will be ready for signing," Ivanov said.
The new aircraft will be based on Russia's T-50 prototype fifth-generation fighter, which has already made several test flights, and is expected to enter service with the Russian Air Force in 2015.
NEW DELHI, November 18 (RIA Novosti)

RIA NOVOSTI

Amerika Desak Pakistan Ijinkan Eskalasi Operasi Pesawat Tanpa Awak

CIA Amerika Serikat mendesak pemerintah Pakistan mengijinkan Badan Intelejen Amerika (CIA) memperluas serangan pesawat tanpa awaknya di Pakistan.
Koran Washington Post dalam sebuah laporan pada Jumat (19/11) menulis bahwa AS berniat melancarkan serangan udara ke daerah di sekitar kota Quetta Pakistan.
Mengutip pejabat AS dan Pakistan yang tidak menyebutkan namanya, laporan itu menambahkan bahwa Islamabad menolak tuntutan tersebut dan menilainya sebagai penghinaan terhadap kedaulatan Pakistan.
Menurut seorang pejabat Pakistan, Amerika Serikat berharap Pakistan membuka kawasan udara Pakistan agar dapat menerbangkan apa saja di atas langit Pakistan.
Berdasarkan laporan tersebut, Pakistan telah menyetujui langkah-langkah yang lebih sederhana, termasuk di antaranya peningkatan jumlah agen-agen CIA di Quetta.
AS berusaha meningkatkan serangan ilegal pesawat tanpa awaknya di Pakistan. Serangan yang menewaskan ratusan orang. Untuk tahun ini saja, pesawat tanpa awak CIA telah melakukan lebih dari 101 serangan.
Serangan udara ilegal itu diprakarsai oleh mantan presiden AS George W. Bush, dan ditingkatkan oleh Barack Obama. Washington mengklaim serangan tersebut menarget kelompok milisi. Namun menurut data statistik, serangan tersebut telah merenggut nyawa ratusan warga sipil di Pakistan sejak 2008.(IRIB/MZ/MF)

IRIB

NATO: Target Penarikan Pasukan dari Afghan Realistis

Baskoro Pramadani - Okezone
LISBON - Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Anders Fogh Rasmussen mengatakan bahwa target presiden AS Barack Obama untuk memindahkan tanggung jawab keamanan di Afghanistan dari pasukan bantuan NATO kepada pihak lokal pada 2014 merupakan hal yang realistis.

Pasukan Bantuan Keamanan Internasional NATO atau yang lebih dikenal dengan ISAF saat ini masih menempatkan sekira 130.000 tentara di Afghanistan, sebagian besar dari mereka adalah pasukan AS. Namun, Obama mengatakan misi yang diemban ISAF saat ini sudah memasuki tahap baru.

Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan yang dihadiri oleh para pemimpin NATO di Lisbon seperti disitat dari BBC, Sabtu (20/11/2010).


Presiden Afhanistan Hamid Karzai juga akan hadir dalam pertemuan tersebut terkait dengan rencana penarikan pasukan dari negaranya. Juru bicara Karzai mengatakan bahwa dia dan NATO sebenarnya memiliki "kepentingan yang sama," namun masih ada beberapa isu yang harus diselesaikan sebelum rencana penarikan pasukan tersebut terlaksana.

Walaupun merencanakan penarikan pasukan pada 2014, namun ISAF diproyeksikan untuk tetap memiliki peran di Afghanistan setelahnya, namun akan lebih difokuskan untuk melatih pasukan Afghanistan.(mbs)

OKE ZONE

Perang Afghanistan Picu Perpecahan NATO

Kolumnis Foreign Policy In Focus, Conn Hallinan meyakini bahwa perang Afghanistan telah menciptakan friksi dan perpecahan yang sangat lebar di kalangan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Conn dalam wawancaranya dengan Press TV menyinggung soal merosotnya popularitas NATO di kalangan negara-negara Eropa sembari menyatakan, upaya untuk mengusung NATO ke kancah internasional dengan menggelar operasi di Afghanistan ternyata telah gagal dan dengan kegagalan ini, maka NATO tidak layak lagi dianggap sebagai aliansi global.
Mengomentari pernyataan sebelumnya Presiden AS Barack Obama soal penarikan pasukan asing dari Afghanistan pada tahun 2011, Conn Hallinan menandaskan, pernyataan akhir para pejabat NATO mengenai penarikan pasukan mereka dari Afghanistan pada tahun 2014 sejatinya menyalahi apa yang dikatakan Obama sebelum ini.
Kolomnis institut penelitian politik yang berpusat di Washington itu menegaskan, NATO tidak akan mundur dari Afghanistan pada 2014, dan dengan mengusung dalih-dalih baru mereka akan memperpanjang kembali misi militernya di negeri yang porak-poranda dilanda perang ini.
Conn menambahkan, digelarnya sidang NATO di Lisabon, Portugal sejatinya bertujuan untuk menjaring dukungan publik di Kanada, AS, dan Eropa sehingga sulit rasanya untuk mengharapkan pasukan Barat ditarik keluar dari Afghanistan.

IRIB

BERITA POLULER