Pages

Tuesday, November 16, 2010

Cabinet Approves 1.6 billion to Buy 6 Gripen


JAS-39 Gripen and SAAB 340 AEW (photo : Gripen)
The government provided 1.6 billion as a commitment to buy six Gripen aircraft from Sweden. Request Commander Air Force Commander or his deputy to sign the purchase agreement.

On 16 November at the National Assembly, Prime Minister spokesman Mr Supachai said the Cabinet will provide multi-role combat aircraft Gripen 39C to replace US aircraft's 18 F-5A/B which will be retired a second phase. With the job done in five years from fiscal year 2011-2014 which was bought by the government to government process (G to G) including equipment, logistics and training, project management is handled Organization providing military weapons, Sweden (FORSVERETS MASTERIEL VERK: FMV), as well as improve building and project management to prepare for Air Force aircraft.


RBS-15 anti-ship missile (photo : defense industry daily)
In addition, the Air Force receive special offers from the Swedish government include:
1. Aiborne control and early warning aircraft (SAB 340 AEW) equipped with ERIEYE radar.
2. Anti-ship missiles (RBS-15B) 12.
3. Postgraduate scholarship funds for 24 man.
4. Technology transfer and bilateral industrial cooperation.
Chief of the Air Force or representatives must sign an agreement to purchase multi-purpose combat aircraft Gripen 39 C under an agreement as adopted. Including the signing of a document to modify the purchase agreement that may occur later. Only if the details are not changed substantially. The amount does not change.
(ThaiRath)

Australian Super Hornet Trainers Delivered


The Australian Super Hornet Integrated Visual Environment Maintenance Trainer (ASH IVEMT), shown above, is one of two training devices delivered to the Royal Australian Air Force (RAAF) at Amberley Air Force Base, Ipswich, Australia in October . The IVEMT encompasses all training aspects of the RAAF FA-18E/F maintenance technician specialties. (photo : U.S. Navy)

NAVAL AIR STATION PATUXENT RIVER, Md. – Naval Aviation Training Systems program office (PMA-205) delivered two Super Hornet Integrated Visual Environment Maintenance Trainers (IVEMT) to the Royal Australian Air Force (RAAF) at Amberley Air Force Base, Ipswich, Australia in October.

The IVEMT is a 3-D visual trainer which allows military personnel to virtually navigate through multiple aircraft systems. It provides maintainers training on ground operation, maintenance, and testing. It also offers troubleshooting procedures for the F/A-18 Super Hornet aircraft including avionics, environmental control, electrical, flight control, fuel, engines, landing gear, and hydraulic systems.

The IVEMT was designed exclusively for RAAF and is the first Super Hornet maintenance trainer to be delivered to a foreign military. The design is an upgraded version of the U.S. Navy’s Visual Environment Maintenance Trainer (VEMT).

“We are excited to provide our allies with advanced training capabilities which will enhance our joint mission execution,” said Capt. John Feeney, Naval Aviation Training Systems program manager.

The device, built by Boeing, St. Louis, Mo., and DiSTI, Orlando, Fla., includes cockpit and instructor operator stations, as well as student/aircraft interface trainer stations and a cockpit/trainer equipment station. The aircraft functionality is displayed through touch screen interactive panels.

“With the realistic look and feel of the aircraft, as well as state-of-the-art technology, the IVEMT capabilities allow for training of all RAAF FA-18E/F maintenance technician specialties,” said Peter Schroeder, PMA-205 Australia training systems team lead. Instructors can integrate various faults into the system for increased situational awareness training.

The IVEMT will support simulation training for Australian maintenance personnel in support of the 24 F/A-18F Super Hornets recently procured from the U.S. Navy. The aircraft will progressively arrive in Australia through 2011.The IVEMTs will be ready for training late 2010.

Kiprah Kemhan RI Dalam Satu Tahun Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II

0diggsdigg

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro

Jakarta, 16 Nopember 2010 – Kementerian Pertahanan menjadikan keberhasilan pencapaian target program kerja 100 hari pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II untuk menetapkan pencapaian target pada program selanjutnya. Pencapaian target Kementerian Pertahanan diawali dengan Reformasi Birokrasi dan Penggiatan Kelembagaan sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan.

Banyak pihak masyarakat yang menilai bahwa pembangunan bidang pertahanan negara mulai menunjukkan hal yang positif. Action plan dan master plan yang disusun Menteri Pertahanan di awal tahun 2010 telah sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Kinerja Kemhan telah terencana dan memiliki skala perioritas yang terkonsep dan memiliki konstruksi. Pencapaian kinerja Kemhan yang telah terencana tersebut dapat terlihat dari beberapa program utama yang dikelola oleh Kemhan, yakni Program Legislasi, Program Peningkatan Kemampuan Pertahanan, Program peningkatan kesejahteraan Prajurit, Program Kebijakan Penetapan Perbatasan, Program Peningkatan kemampuan Sisfo Hanneg dan Program Kerjasama Luar Negeri.

Sebagai salah satu contoh di program legislasi yaitu, dua Rancangan Undang-Undang pada RUU Kamnas dan RUU Revitalisasi Industri Pertahanan telah diserahkan kepada Setneg pada tanggal 21 Oktober 2010. Sedangkan untuk RUU Komponen Cadangan (Komcad) yang telah diserahkan oleh Presiden kepada DPR dan siap dibahas pada forum Rapat Kerja dengan Komisi I DPR RI pada program 2010. Kemhan juga masih memiliki dua RUU lain yang merupakan program lanjutan dari program 2009 yang masih belum terselesaikan pada pembahasan di DPR. Adapun dua RUU tersebut, RUU Peradilan Militer dan RUU Rahasia Negara.

Pencapaian kinerja Kemhan lainnya selama Kabinet Indonesia Bersatu II dalam satu tahun terdapat pada program peningkatan Kemampuan pertahanan. Adapun program tersebut diawali dari Penyusunan Cetak Biru Pertahanan atau (Minimum Essential Force/MEF), yang berisi tentang kebutuhan kekuatan dari alutista pertahanan Indonesia hingga tahun 2024. baik kekuatan satuan operasional, persenjataan dan anggarannya.

Pada program Pengalihan Bisnis TNI, hingga kini hasil yang dicapai adalah telah terbentuknya perangkat-perangkat pengendalian proses pengalihan Bisnis TNI, yang sepenuhnya ditanggani oleh pemerintah. Dengan demikian TNI secara resmi pada bulan agustus 2010 tidak menangani masalah bisnis lagi.

Program Revitalisasi Industri Pertahanan yang merupakan program Inpres 01/2010, hasil yang dicapai adalah terbentuknya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Adapun sidang perdananya telah dilaksanakan pada tanggal 7 oktober 2010, dengan menetapkan Menteri Pertahanan sebagai ketua KKIP.

selain itu juga menetapkan Menteri BUMN sebagai wakil ketua dan Wakil Menteri Pertahanan sebagai sekretaris KKIP. sedangkan anggotanya sendiri terdiri dari Menteri Ristek, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Panglima TNI, Kapolri, serta didukung oleh kelompok kerja sebagai pelaksana. Hal ini ditindaklanjuti dengan terbentuknya Tata Kerja KKIP. Pencapaian Program Revitalisasi Industri Pertahanan ini juga diikuti oleh pencapaian target pada program-program pendukung lainnya. Sebut saja Penyusunan Dokumen Rencana Induk dan Road Map Revitalisasi Industri Pertahanan yang dapat diselesaikan dari jadwal yang telah ditentukan.

Program Penelitian dan Pengembangan Alutsista, hasil yang dicapai adalah telah dikerjakan/diprogram kegiatan Litbang untuk membuat prototype alat peralatan dengan pengembangan sendiri sesuai kemampuan anggaran yang tersedia. Pencapaian program pendukung lainnya adalah program pengadaan Alutsista buatan dalam negeri, hasil yang dicapai adalah telah diprogramkan pengadaan hasil produksi dalam negeri.

Masih didalam program peningkatan kemampuan pertahanan, Kemhan memiliki Program inisiatif pembangunan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI dalam program four in one yakni menjadi tempat latihan terpusat untuk penyiapan pasukan perdamaian PBB, bantuan bencana alam, stand by force satuan mekanisme dan penangulangan terorisme. Pada saat ini sedang dibangun dalam lahan 200 hektar dan proses penyelesaian direncanakan pada tahun 2013.

Pada program utama lainnya seperti program kesejahteraan prajurit, pencapaiannya dapat terlihat dari beberapa program pemberian tunjangan-tunjangan khusus bagi TNI dan PNS. Salah satunya adalah pemberian tunjangan khusus bagi TNI dan PNS yang bertugas dalam wilayah perbatasan.

Tunjungan khusus operasional perbatasan tersebut dengan rincian sebagai berikut, bagi yang bertugas dipulau terluar tanpa penduduk mendapat tunjangan sekitar 150 % dari gaji pokok. Bagi yang bertugas diwilayah perbatasan tanpa penduduk mendapat tunjangan sekitar 100 % dari gaji pokok. Bagi yang bertugas di wilayah di perbatasan yang ada penduduknya mendapat tunjangan sebesar 75 % dari gaji pokok. Dan bagi yang bertugas Mobile/ patroli di laut atau udara mendapat tunjangan sebesar 50 % dari Gaji pokok.

Pemberian Tunjangan Kesehatan sekitar saat ini hanya 2 % juga ditambah 2 %, sehingga sama dengan pegawai negeri pada umumnya. Kemhan juga telah mengusahakan Tunjangan dan Santunan kepada Prajurit TNI yang cacat. Sedangkan program penyediaan perumahan bagi prajurit TNI dan PNS telah disepakati kerjasama dengan Kementerian Perumahan Rakyat pembangunan perumahan sebanyak 76 twin block @ 64 rumah dalam jangka 5 tahun ke depan. Untuk di wilayah perbatasan akan dibangun Rumah hingga tahun 2014.

Program-program Kemhan lainnya yang juga dicapai adalah program Kebijakan Penetapan Perbatasan, berhasil menyelesaikan penyusunan Position Paper tentang batas darat dan laut antara RI dengan Malaysia, Timor Leste, Philipina dan PNG. Program Peningkatan Kemampuan Sisinfo Hanneg untuk memenuhi data dan informasi yang dibutuhkan dan bisa dikolaborasikan dengan Kementerian/Lembaga lain hingga saat ini telah dapat digelar sistem informasi geografi (masalah perbatasan, gelar pasukan dan sebagainya). Pencapaian Program terakhir Kemhan, yakni program Kerjasama luar negeri dengan focus teknologi pertahanan dalam rangka kemandirian industri pertahanan telah menghasilkan beberapa dokumen kerjasama dan akan ditindaklanjuti pada tahap pelaksanaannya.


Demikian siaran pers Menhan yang disampaikan melalui Kepala Biro Humas Setjen Kemhan.

Sumber : DMC

Russia to sell additional RD-93 jet engines to China


Mesin jet RD-93, Rusia berencana menjual 100 RD-93 pada Cina yang akan dipasang pada jet tempur FC-1/JF-1. (Foto: china-defense.blogspot)



Russia's state-run arms exporter Rosoboronexport is preparing a contract for the delivery of additional RD-93 jet engines to China, a senior official from the company said on Tuesday.

Beijing concluded a $238-mln contract with Moscow in 2005 for supplies of a 100 RD-93 engines with options for another 400 to equip its FC-1 Fierce Dragon fighter jets, jointly developed with Pakistan.

"We are holding new talks with the China National Aero-Technology Import & Export Corporation [CATIC] on another option for additional 100 RD-93 engines," Deputy General Director of Rosoboronexport Alexander Mikheyev said at the Airshow China 2010, which is being held on November 16-21 in Zhuhai.

"We hope that this contract will be signed," Mikheyev added.

The RD-93 engines is a variant of the RD-33 engine developed to power the MiG-29 fighter jet.

The RD-93 was developed by Russia's Klimov design bureau specifically for the FC-1 fighter, known in Pakistan as the JF-17 Thunder.

From : RIA

Russia ready to sell Su-35 fighter jets to China


0diggsdigg

Su-35 fighter aircraft

Russia's state-run arms exporter Rosoboronexport said on Tuesday it was ready to hold talks with China on the delivery of advanced Su-35 fighter aircraft to the Chinese air force.

"We are ready to work with our Chinese partners to this end [Su-35 deliveries]," Deputy General Director of Rosoboronexport Alexander Mikheyev said at the Airshow China 2010, which is being held on November 16-21 in Zhuhai.

The Su-35 Flanker-E, powered by two 117S engines with thrust vectoring, combines high maneuverability and the capability to effectively engage several air targets simultaneously using both guided and unguided missiles and weapon systems.

Russia's Sukhoi aircraft maker earlier said it planned to start deliveries of the new aircraft, billed as "4++ generation using fifth-generation technology," to foreign clients in 2011 and produce Su-35s over a period of 10 years up to 2020.

China International Aviation & Aerospace Exhibition (Airshow China) is the only international aerospace trade show in China that is endorsed by the Chinese central government. The biannual arms exhibition has been held in Zhuhai since 1996.

From : RIA

China Menyeruak Menantang Airbus dan Boeing

 A320 Air Bus

A mockup of jumbo jet C919, the major project of the Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), is displayed at the Asian Aerospace '09 in Hong Kong, China, Sept. 8, 2009. COMAC is a company established in 2008 with the State Council approval to develop C919, the first home-made jumbo jet of China. It is expected to enter service in 2016.(http://www.china-defense-mashup.com/?p=4058)
 
Beijing (ANTARA News) - China, Selasa, memenangkan kontrak pengadaan 100 jet penumpang besar yang dibangun di dalam negeri, dan ini menantang dua raksasa penerbangan dunia Airbus dan Boeing dalam apa yang akan segera disebut pasar penerbangan terbesar dunia.

Tiga maskapai terbesar China menandatangani kesepakatan membeli C919, termasuk unit leasing dari General Electric, lapor koran Global Times dalam lamannya.

Maskapai-maskapai China itu adalah Air China, China Southern dan  China Eastern.

Korporasi Pesawat Komersial China (COMAC), pembuat jet penumpang dalam negeri itu, mengumumkan kesepakatan dicapai dalam Zhuhai Airshow di provinsi Guangdong, namun tidak mengungkapkan berapa banyak pesawat yang dibeli oleh ketiga maskapai itu.

Pesawat C919 --jet bertempat duduk tunggal yang bisa ditumpangi 190 orang-- adalah jet penumpang besar buatan China yang pertama, dan dipandang sebagai pesaing potensial untuk Airbus A320 dan Boeing 737.

Sebuah prototipe C919 diluncurkan di Zhuhai, Senin.  Pesawat ini melakukan uji terbangnya pada 2014 dan dikirimkan ke para pemesannya pada 2016.

Wu Guanghui, kepala perancang pesawat dan wakil presiden COMAC, mengungkapkan bahwa perusahaan China itu telah menaksir permintaan C919 untuk pasar domestik dan pasar luar negeri sampai mencapai rekor 2.000 unit, demikia Harian Rakyat.

Perusahaan itu tidak mengungkapkan jangka waktu untuk penaksiran pesanan pesawat itu.

COMAC menolak berkomentar saat dikontak oleh AFP.

Pesawat ini adalah bahian kunci dari rencana China mematahkan duopoli Airbus dan Boeing dalam produksi jet komersial besar, yang saat ini mengandalkan pasar penerbangan domestik, dan segerak akan menjadi yang terbesar di dunia.

Dua minggu lalu, Airbis menandatangani kesepakatan sebesar 14 miliar dolar AS untuk memasok 102 pesawat bagi maskapai-maskapai China.

Lalu lintas udara di China, yang naik dua kali lipat dalam dua dekade terakhir, kembali diperkirakan meningkat dua kali lipat pada 2020, dengan jumlah bandar tumbuh dari 160 menjadi 240 unit, demikian perkiraan satu perusahaan penerbangan Eropa.

Kepala administrasi penerbangan sipil China mengatakan bulan lalu bahwa negara itu memerlukan sampai 5.000 pesawat untuk mengangkut penumpan dan kargo sampai 2015.

Berita penandatanganan ini muncul hanya sehari setelah China mengumumkan rencana untuk melonggarkan pengawasan penerbangan tingkat rendah yang adalah langkah untuk memacu sektor penerbangan swasta di negeri itu.

Peraturan penerbangan saat ini ketat dengan mensyaratkan pilot swasta mengajukan izin untuk bisa terbang di ketinggian rendah.

Harian Rakyat melaporkan bahwa reformasi diperkirakan mendorong lebih banyak orang bisa memiliki jet pribadinya dan demi mendorong misi penerbangan sipil lainnya seperti penggunaan helikopter penanggulangan bencana.

Negara di Asia yang memiliki jumlah miliarder terbanyak kedua di dunia, dipandang luas sebagai pasar masar depan yang secara potensial kaya untuk penerbangan pribadi dan mewah. (*)

AFP/adm/AR09
Antara

Empat WNI Disiksa Tentara Malaysia



TRIBUNNEWS.COM, NUNUKAN - Empat warga negara Indonesia (WNI) di Nunukan, Senin (15/11/2010) kemarin diduga telah disiksa Tentara Laut Diraja Malaysia. Mereka ditangkap di perairan Indonesia lalu digiring ke peraiaran Malaysia, selanjutnya mendapatkan penyiksaan. Selain ditampar, para WNI tersebut juga dipaksa pulang berenang ke Indonesia.

Berikut kronologis kejadian tersebut seperti dituturkan Ermansyah, pegawai di Syahbandar Nunukan yang menjadi salah satu korban dalam kasus tersebut.

Sekitar jam 09.00 pagi, Ermansyah dan rekannya di Syahbandar Budi Sabadri serta dua teman lainnya Janirun dan Randi berangkat menggunakan sampan menuju ke perairan sekitar Pos Keca, di Muara Sungai Sebuku. Sekitar pukul 10.00 mereka tiba di Pos TNI Angkatan Laut untuk melaporkan aktivitas mereka yang akan memancing di sekitar perairan itu. Di kawasan itu, warga Nunukan memang biasa memancing.

Sekitar pukul 16.00, petugas yang diduga Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) menggunakan kapal patrol loreng bermesin 60 PK datang menghampiri mereka. Petugas berseragam loreng lengkap dengan senjata laras panjang tersebut, menanyakan identitas para WNI tersebut. Karena mengaku sebagai WNI, para petugas itupun meminta paspor atau lintas batas. Sebab menurut mereka, para pemancing ini sudah berada di wilayah perairan Malaysia.

Namun karena tak mampu menujukkan dokumen apapun, keempat WNI tersebut dipaksa terjun ke laut. Sekitar lima menit kemudian, mereka diminta naik ke sampan. Mereka digeledah lalu digiring masuk ke sungai di sekitar wilayah Malaysia.

Sampan diminta berjangkar sementara Ermansyah dibawa para petugas tersebut untuk diinterogasi. Saat ditanyai petugas, ia mengaku sebagai penjual ikan. Namun anggota TLDM tidak percaya, dan menuduh dia sebagai intelejen Indonesia.

"Saya disuruh bukan baju, kemudian dia bilang badan kamu bersih. Kamu CDI (intelejen) kan? Saya bilang bukan, saya cuma penjual ikan. Tetapi dia malah menampar saya. Mungkin ada lima kali saya ditampar," ujarnya.

Ermansyah tetap membantah sebagai seorang intelejen. Iapun diancam akan dipotong dengan parang dan ditusuk menggunakan pipa.

"Dia bilang itu parang, kalau kamu tidak mengaku saya tebas kamu. Saya bilang tebas saja leher saya. Saya ini penjual ikan," katanya.

Beberapa saat kemudian, petugas tersebut meminta uang sejumlah Rp 8 juta. Namun setelah melalui negosiasi yang cukup panjang, akhirnya mereka sepakat memberikan uang senilai Rp 5 juta dan dua pucuk senapan angin.

Ermansyah dan Budi dibiarkan pulang menggunakan sampan untuk mengambil uang dan senapan sementara Janirun dan Randi dijadikan jaminan. Selama rekannya pulang, Janiruan dan Randi direndam di sekitar pohon bakau.

"Padahal di sekitar sungai itu terkenal banyak buayanya. Ini sebenarnya yang ditakutkan teman-teman," katanya.

Sebenarnya dalam perjanjian itu, Ermansyah harus kembali paling lambat satu jam lagi. Namun hingga pukul 20.00 mereka tak juga kembali. Saat itulah kedua rekannya disuruh pulang dengan berenang.

Dari pukul 20.00 hingga pukul 23.00 Janirun dan Randi harus berenang hingga sampai ke Pos TNI AL. Sekitar pukul 23.00 keduanya dijemput dari Pos TNI AL Sekaca dan dibawa pulang ke Nunukan. Pukul 24.00 keduanya tiba di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan.

Sumber : TRIBUN

BERITA POLULER