Pages

Sunday, November 14, 2010

RI-Kamboja Tingkatkan Kerjasama Militer


0diggsdigg


Liputan6.com, Jakarta: Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menerima kunjungan kehormatan Panglima Angkatan Bersenjata Kamboja Jenderal Pol Saroeun beserta Staf. Kunjungan kehormatan ini didahului dengan penyambutan secara kemiliteran di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (12/11).

Dalam siaran pers yang dikirim ke sejumlah media massa disebutkan, kunjungan Panglima Angkatan Bersenjata Kamboja dimaksudkan untuk lebih meningkatkan hubungan persahabatan. Selain itu meningkatkan kerjasama militer antarkedua angkatan bersenjata, khususnya kerjasama pelatihan tentara Kamboja.

Hubungan dan kerjasama militer antara Kamboja dan Indonesia sebenarnya telah berlangsung lama. Bahkan, di bawah naungan PBB, TNI berperan aktif dan ditunjuk menjadi bagian dari pasukan perdamaian di Kamboja.

Dalam kesempatan itu, Jenderal Saroeun menyampaikan rasa empati atas terjadinya bencana alam di Indonesia akhir-akhir ini. Panglima yang diangkat sejak 25 Januari 2009 juga berperan aktif dalam kerjasama dengan Indonesia. Itulah sebabnya, Saroeun dianugerahi Bintang Yudha Dharma Utama oleh pemerintah Republik Indonesia. Upacara penganugerahan bintang tersebut dilaksanakan di Kementerian Pertahanan dan disematkan langsung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Sumber: LIPUTAN 6

EMB-314 Super Tucano, Pengganti Si Kuda Liar (I) (II)




ALUTSISTA - Dipameran pertahanan dan keamanan Indonesia (Indo-Defence 2010) pada 10-13 November nanti, Kemenhan akan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pembelian satu skuadron pesawat EMB-314 Super Tucano dari Embraer-Brazil. Apa dan bagaimana keistimewaan pesawat ini, simak artikel berikut.

EMB-314 Super Tucano adalah versi yang disempurnakan dari pesawat latih EMB-312 Tucano, dengan kecepatan lebih cepat dan ketinggian lebih tinggi. Tucano juga telah beroperasi di Angkatan Udara dari 17 negara. Prototipe Super Tucano terbang pertama kali pada tahun 1992. Keduanya murni dikembangkan dan dibangun oleh Embraer, Brasil.

Embraer EMB 314 Super Tucano dikenal dengan nama ALX atau A-29 adalah pesawat turboprop yang didesain khusus sebagai pesawat serang ringan yang mampu mengemban misi sebagai pendukung operasi kontra pemberontakan (COIN), patroli pemantauan dan pesawat latih. Meskipun hadir dengan mesin berbaling-baling, Super Tucano diciptakan dengan mengkombinasikan teknologi avionik modern dan sistem senjata terkini.

Selain Brazil sendiri, pesawat tersebut juga telah digunakan AU Kolombia, Chili, Republik Dominika dan Ekuador. Embraer juga berencana untuk merambah ke beberapa negara di Asia dan Timur Tengah.

Pada tahun 1995, Embraer memenangi kontrak dari Brasil Air Force (FAB) pengembangan varian Super Tucano, dikenal sebagai proyek pesawat serang ringan ALX. Pesawat ini dioptimalkan untuk kondisi lingkungan di Amazon, Brazil. ALX diciptakan untuk mampu beroperasi disegala kondisi cuaca, siang dan malam, misi dari pangkalan terpencil dan tak beraspal tanah landasan pacu dengan sedikit dukungan. Pesawat produksi pertama selesai pada tahun 1999.

Pada Agustus 2001, AU Brazil menandatangani kontrak pembelian 76 Super Tucano dengan konfigurasi 25 unit kursi tunggal (A-29 ALX) dan 51 unit kursi ganda (AT-29 ALX). AT-29 ditempatkan di pangkalan AU-Natal untuk menggantikan posisi AT-26 Xavante yang habis masa baktinya.

Salah satu misi utamanya adalah melakukan patroli perbatasan di bawah program sistema de Vigilancia da Amazonia (SIVAM) yakni program pengawasan kawasan Amazon.

Pesawat pertama kali dikirim ke AU Brazil pada Desember 2003, hingga September 2007 Embraer telah menyerahkan sekitar 50 unit pesawat kepada AU Brazil. Pengiriman pesawat ini telah diselesaikan di akhir tahun 2009 kemarin.

Selain sebagai pesawat latih tingkat dasar dan lanjutan, Super Tucano juga dapat dioperasikan sebagai pesawat patroli perbatasan dan counter-insurgency operations (operasi penumpasan pemberontakan).

Pesawat sanggup bermanuver hingga +7g dan -3.5g. Ukurannya yang kecil sanggup mereduksi sinyal radar dan visual, dikombinasi dengan kecepatan yang tinggi dan lincah dalam bermanuver memberikan tingkat survivability cukup tinggi. Tingkat keamanannya pun bertambahan berkat pelindung baja disekitar kokpit dan critical systems redundancy.


EMB-312 Tucano

Di bulan Agustus 2001, Embraer mengumumkan penandatanganan kontrak pembelian 10 unit Super Tucano dengan Republik Dominika. Pesawat tersebut akan difungsikan sebagai pesawat latih, keamanan internal, patroli perbatasan dan perang melawan narkotika. Namun belakangan jumlahnya dikurangi menjadi 8 pesawat, dan pada 18 Desember 2009 kemarin telah diserah terimakan 2 pesawat.

Pada Februari 2005, Venezuela menyatakan minatnya membeli 24 unit EMB-314 Super Tucano kepada Brazil dalam 2 tahap. Tahap pertama 12 unit, sisanya di tahap selanjutnya. Namun proses pembeliannya dibatalkan karena tekanan dari Amerika yang memberlakukan embargo kepada Venezuela termasuk semua komponen sukucadang yang dibuat AS. Saat ini Super Tucano masih menggunakan 30% komponen dari AS.

Pada Desember 2005, AU Kolombia memesan 25 pesawat Super Tucano yang akan digunakan untuk berpatroli di sepanjang garis perbatasannya dan untuk keamanan internal. Pengiriman 5 unit pertama dilakukan pada Desember 2006 dan rampung seluruhnya pada Agustus 2008. Pesawat pesanan Kolombia ini menggunakan perangkat avioniks yang dipasok dari Elbit System.

April 2008, AU Chili memutuskan membeli 12 pesawat EMB-314. Kontraknya sendiri ditandatangani pada Agustus 2008. Empat pesawat telah diterima AU Chili (FACH) pada 23 Desember 2009.

Sejarah, Disain dan Pengembangan

Berlokasi di São José dos Campos, Brazil, Embraer pertama kali didirikan pada tahun 1969 lewat inisiatif pemerintah Brazil saat itu. Perusahaan ini diprivatisasi pada 7 Desember 1994.



Pada 31 Maret 2006, mayoritas pemegang saham Embraer termasuk pemegang saham khusus dan pemilik ADR menyetujui proposal restrukturisasi ‘Embraer’s capital’. Restrukturisasi ini memungkinkan Embraer menyederhanakan struktur penyertaan modal menjadi 1 jenis kepemilikan saham (saham biasa) dan berkontribusi untuk meningkatkan BUMN tersebut lebih efisien dan transparan.

Pengadaan pesawat serang ringan terbaru AU Brazil merupakan bagian dari kebutuhan pemerintah Brasil akan pesawat patroli pengamanan wilayah perbatasan dalam realisasi proyek SIVAM (Amazon Monitoring System). Pesawat tersebut bersama dengan pesawat patroli R-99A dan R-99B nantinya bertanggung jawab mencegat penerbangan ilegal dan patrol sepanjang perbatasan.

Langkah pertama yang dilakukan oleh AU Brazil adalah membentuk proyek pesawat ALX, yang secara tidak langsung diproyeksikan sebagai pengganti pesawat latih militer Embraer EMB 326GB Xavante. Proyek pesawat baru tersebut harus cocok dengan kondisi lingkungan Amazon yang notabene mempunyai suhu dan kelembaban tinggi serta curah hujan relatif tinggi.

Proyek pesawat ALX kemudian ditetapkan menggunakan mesin turboprop karena sangat cocok dengan misi yang bakal diembannya seperti : jarak terbang jauh, perawatan mudah, mampu beroperasi siang dan malam hari, tahan disegala kondisi cuaca dan mampu mendarat di landasan pendek dan berbatu.

The first flight of a single-seat Super Tucano production aircraft occurred on 2 June 1999, while the first flight of the two-seat version took place on 22 October 1999.

Penerbangan perdana pesawat Super Tucano dari varian kursi tunggal dilakukan pada 2 Juni 1999, sedangkan varian kursi gandanya pada 22 Oktober 1999. Copyright Alutsista

EMB-314 Super Tucano, Pengganti Si Kuda Liar (II)



Cockpit

Keseluruhan kokpit Super Tucano telah menggunakan material kaca (glass cockpit) yang kompatibel untuk penglihatan di malam hari. Pesawat dilengkapi dengan perangkat sistem avionik buatan Elbit Systems Ltd of Haifa, Israel. Perangkat ini termasuk diantaranya : head-up display (HUD), advanced mission computer, sistem navigasi dan dua layar multifungsi liquid crystal ukuran 6in x 8in.

Head-up display dengan area pandang 24° dan advanced weapon delivery system yang terintegrasi lewat data bus MIL-STD-1553B. Pilot Tucano telah dilengkapi dengan sistem kendali HOTAS (hand on throttle and stick). Dimana dalam mengendalikan kemudi, kecepatan dan persenjataan, Pilot cukup meletakkan tangannya di kedua tongkat kendali pesawat. Tongkat kendali throttle (kecepatan) dan stick diambil dari handson.

Kabin Pilot dilindungi pelindung baja kevlar dan telah dilengkapi dengan kursi lontar. Kanopi sistem clamshell, bergantung di bagian depan hingga ke belakang yang diaktifkan secara elektrik, sistem de-icing dan glass-cockpit mampu bertahan hingga kecepatan 300kt serta mampu menahan benturan burung. Selain itu kabin juga telah terinstalasi sistem oksigen generasi terbaru OBOGS buatan Northrop Grumman.

Persenjataan dan Navigasi

Pesawat ini dilengkapi dengan dua central mission computer. Sistem integrasi senjata terkomputerisasi ini berisi perangkat lunak pembidik senjata, manajemen senjata, perencanaan misi dan misi pelatihan. Alalt perekam di pesawat menggunakan post mission analysis.



Pesawat memiliki lima cantelan untuk membawa senjata dan beban eksternal dengan berat maksimum 1.500 kg. Senjata internal pesawat berupa senapan mesin 12,7 mm yang terpasang di kedua sayap dengan daya tembak 1.100 peluru per menit. Untuk misi-misi tertentu, Tucano mampu menggotong bom, rudal udara-ke-udara dan rudal udara-ke-permukaan. AU Brasil mempersenjatai pesawatnya dengan rudal udara-ke-udara jarak pendek jenis MAA-1 Piranha dari Orbita dengan sistem pemandu inframerah.

Varian dua tempat duduk Tucano (AT-29) telah dilengkapi dengan kubah FLIR (forward-looking infrared) jenis AN/AAQ-22 SAFIRE di bagian bawah badan pesawat. Sistem thermal imaging Safire dipasok oleh FLIR Systems untuk membidik, navigasi dan melacak sasaran. Sistem ini memungkinkan pesawat untuk melaksanakan pengawasan dan menyerang misi baik siang maupun malam disegala kondisi cuaca.

Untuk perangkat navigasi pesawat telah dilengkapi dengan advanced laser inertial navigation and attack system, a global positioning system (GPS) and a traffic alerting and collision avoidance system (TCAS). Copyright Alutsista

Sumber:@Alutsista

Hovercraft Buatan Anak Bangsa


0diggsdigg

Kartika, hovercraft buatan anak bangsa, saat melakukan demonstrasi di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktorat Pembekalan Angkutan (Ditbekang) TNI Angkatan Darat berhasil membangun sebuah hovercraft. Yang membanggakan, hovercraft tersebut merupakan hasil buatan anak bangsa.

"Hanya mesinnya saja yang beli. Selebihnya buatan anak bangsa. Kita kerjasama dengan para insinyur dari ITB (Institut Teknologi Bandung), Undip (Universitas Diponegoro), dan ada juga dari ITS (Institut Teknologi Surabaya)," ungkap Kolonel Budiyono, ketua tim pembuatan Hovercraft Ditbekang TNI AD, saat ditemui Tribunnews di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta, Jumat (12/11/2010).

Budiyono mengatakan pembangunan Hovercraft, yang turut disponsori salah satu pengusaha tekstil asal Solo, Jawa Tengah, dirampungkan pada Oktober lalu.

Setelah melalui serangkaian tes, Hovercraft yang diberi nama Kartika itu melakukan demonstrasi di Pameran Indodefence 2010 di Arena PRJ, 10-13 November 2010. Tanpa hambatan, Kartika melakukan manuver di atas lapangan conblok yang biasanya digunakan sebagai lapangan parkir.

"Kalau di air bisa lincah lagi. Kendaraan ini kan bisa dipakai untuk segala medan. Itu sebenarnya dia melayang sekitar 15 cm dari permukaan," tuturnya.

Budiyono mengaku pihaknya mampu membuat lima hingga 10 unit Hovercraft. Namun hal itu tentu saja tergantung permintaan. Begitu pula untuk penggunaan Kartika yang sudah siap dioperasikan.

"Fungsi utamanya untuk mengangkut pembekalan TNI. Tapi Hovercraft ini juga bisa dimanfaatkan untuk misi kemanusian, misalnya menyalurkan bantuan ke daerah-daerah yang sulit dijangkau," kata Budiyono.

Letkol MA Ramadhan, salah seorang anggota tim pembangunan Hovercraft, mengatakan Kartika mampu menerjang ombak dengan ketinggian 1,2 meter. Hovercraft yang mampu beroperasi hingga tujuh jam, dengan bahan bakar 1,2 ton Solar, itu juga masih mampu menerjang ombak di atas ketinggian tersebut.

"Hanya saja manuvernya masih nyaman dengan ketinggan ombak 1,2 meter," kata Ramadhan di tempat yang sama.

Disinggung mengenai daya angkut, Ramdhan mengatakan saat ujicoba, Kartika bisa mengangkut beban 5,5 ton. Padahal dalam spesifikasinya tertulis 3 ton. "Itu pun masih bisa ditambah," tegasnya.

Sumber: TRIBUN

24 Pesawat Lawas Lebih Baik Dari Pada 6 Pesawat Baru



Pesawat F-16C/D Block 52 baru yang rencananya akan dibeli Indonesia

JAKARTA - Pemerintah Indonesia masih mengkaji rencana pembelian pesawat tempur F-16 bekas yang ditawarkan Pemerintah Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Pertahanan RI, Brigadir Jenderal I Wayan Midhio mengatakan pengkajian masih dilakukan oleh tim teknis dari Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI. "Kita akan kaji dan lihat akses pembiayaannya dan untung-ruginya," ujarnya kepada Tempo via sambungan telepon, Sabtu (13/11).

Wayan sekaligus meralat kabar bahwa Indonesia akan menerima pesawat F-16 tersebut dalam bentuk hibah. Pemerintah awalnya berencana membeli enam buah pesawat F-16 baru. Namun Amerika justru menawarkan F-16 lawas mereka sejumlah 24 unit, yang setara dengan enam pesawat baru tersebut. "Bisik-bisiknya belum ada apakah serius atau benar. Belum tahu kapan (pastinya)," kata dia. Namun, "Lebih cepat lebih baik."

Wayan berpendapat pilihan yang lebih baik adalah menerima tawaran 24 pesawat lama dibandingkan enam pesawat baru. "Kita masih membutuhkan kuantitas untuk mengamankan wilayah, dibandingkan negara tetangga," ujarnya.

Soal pesawat baru atau pesawat lama, menurut Wayan tak perlu dipermasalahkan. Karena, penggunaan pesawat memiliki standar tertentu. Lagipula, 24 pesawat F-16 lawas yang ditawarkan Amerika masih cukup bagus.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Saturday, November 13, 2010

RI-China Bahas Kerja Sama Industri Pertahanan

RI-China Bahas Kerja Sama Industri Pertahanan
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia akan membahas lebih rinci mekanisme dan sistem kerja sama industri pertahanan dengan China yang dirintis kedua negara sejak lama.

"Kami masih akan membahas lebih rinci mekanisme dan sistem yang akan dijalankan dalam kerja sama industri pertahanan antara Indonesia-China," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjawab ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Ia menuturkan, masih perlu banyak penyesuaian antara kedua negara untuk dapat melakukan kerja sama industri pertahanan dengan sebaik-baiknya atas dasar saling percaya, saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain.

Wamenhan menuturkan, secara umum Indonesia dan China sepakat untuk mempererat hubungan bilateral kedua negara diberbagai bidang termasuk pertahanan dan keamanan seperti yang tertuang dalam kemitraan strategis yang disepakati kedua pihak pada 2005.

Selain itu, Indonesia dan China memiliki kesepakatan kerja sama pertahanan yang ditandatangani kedua menteri pertahanan pada 7 November 2007. "Namun, seluruh kesepakatan itu harus dipertajam lagi aturan mainnya, mekanismenya, sistem yang yang akan dijalankan seperti apa. Ini yang terus akan dibicarakan antara kedua pihak secara berkesinambungan," tutur Sjafrie.

Pada kesempatan terpisah, Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, segala kemungkinan kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dan China akan terus dijajaki.

"Namun, Indonesia mengharapkan agar kerja sama industri pertahanan kedua negara itu dapat mendukung pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri. Karena itu target kami saat ini yakni membangkitkan kembali industri pertahanan nasional," katanya.

Indonesia menjalin kerja sama industri pertahanan dengan beberapa negara semisal dalam bentuk produksi bersama.

(R018/N002/S026)
Antara

Iran says ready to test domestic air defense system similar to S-300


S-300 air defense missile systems
15:14 10/11/2010
© RIA Novosti. Dmitri Korobeynikov
Iran is set to test-fire a domestically-designed air defense system similar to the Russian S-300 after Russia refused to fulfill a delivery contract, the IRNA news agency said on Wednesday.
Russia signed a deal to deliver five battalions of S-300PMU-1 air defense systems to Iran in 2007 but banned the sale in September, saying the systems, along with a number of other weapons, were covered by the fourth round of sanctions imposed by the UN Security Council against Iran over its nuclear program in June.
"We had plans to purchase the S-300 from Russia as part of our agenda to meet some of our security needs, but under pressure from the United States and Israel, [Russia] refrained from delivering the defense system to our country," Brig. Gen. Mohammad Hassan Mansourian said.
"[Missile defense] systems similar to S-300 will soon undergo test firing and field modification while other long-range systems are also being designed and developed," Mansourian said.
The general also said Iran's air defenses would soon be strengthened with a new generation of Mersad and Shahin missiles.
The advanced version of the S-300 missile system, called S-300PMU1, has a range of over 150 kilometers (over 100 miles) and can intercept ballistic missiles and aircraft at low and high altitudes, making it an effective tool for warding off possible air strikes.
Russia has delivered 29 Tor-M1 short-range air defense missile systems to Iran under a $700-million contract signed in late 2005. Russia has also trained Iranian Tor-M1 specialists, including radar operators and crew commanders. The S-300 system is significantly superior to the Tor-M1.
MOSCOW, November 10 (RIA Novosti)

RIA NOVOSTI

Russian arms exporter to take part in INDO Defence 2010 Expo&Forum


Russian arms exporter to take part in INDO Defence 2010 Expo&Forum
03:03 10/11/2010
© RIA Novosti. Anton Denisov
Russia will present a large number of military equipment and technologies during the INDO Defence 2010 Expo&Forum due in Indonesia on November 10-13, state-run arms exporter Rosoboronexport said. "Today the potential for developing military and technical cooperation between Russia and Asia-Pacific countries is very big: this arms market remains quite capacious, and Russia offers the entire spectrum of the most advanced weapons and military equipment," the company said in a press release.
"We are talking about aviation equipment (Su (Sukhoi), MiG (Mikoyan) and Il (Ilyushin) planes, Mi (Mil) and Ka (Kamov) helicopters, various weaponry and equipment for them), as well as about navy and armored equipment, weaponry for special forces, ammunition... and many other equipment that Asia-Pacific countries need," the statement said.
Russia's new generation advanced military aircraft trainer Yak-130s, which attracts special attention around the world, will also be presented at the exhibition, along with Tor, Buk, S-300 and Igla missile systems, the document said.

MOSCOW, November 10 (RIA Novosti)

RIA NOVOSTI

BERITA POLULER