Pages

Saturday, November 13, 2010

Russia to showcase advanced weaponry at arms show in Indonesia


BMP-3 is one of the exhibits to be presented at an upcoming biennial arms show in Indonesia
03:12 04/11/2010
© RIA Novosti. Alexei Kudenko

Nine Russian defense companies will exhibit various types of sophisticated weaponry at an upcoming biennial arms exhibition in Indonesia, the Russian Federal Service for Military-Technical Cooperation said.
Indo Defense 2010 Expo & Forum will be opened on November 10 in Jakarta to host over 400 exhibitors from 38 countries until November 13.
"Russia will exhibit various types of advanced equipment for the Ground Forces, the Air Force, air defense, the Navy, special forces, electronic warfare, military medicine and combat training," the service said in a statement on Wednesday.
Russia exports weaponry to over 100 countries.
Its main arms customers are India, Indonesia, Algeria, China, Venezuela, Malaysia and Syria. Vietnam also emerged as a key importer after it signed a deal to buy submarines, aircraft and other military hardware from Russia late last year.
Russia's arms exports are expected to hit an all-time high of over $10 billion in 2010.

MOSCOW, November 4 (RIA Novosti)

RIA NOVOSTI

Produsen Alutsista Indonesia Tampilkan Produk-produk Baru di Indodefence 2010 (2)


13 November 2010

Wahana Subskimmer Angkatan Laut (photo : Defense Studies)

Matra Laut

R&D Angkatan Laut kali ini menampilkan hasil risetnya berupa subskimmer, wahana ini dapat dipakai di permukaan air maupun menyelam, cocok digunakan untuk operasi pasukan khusus. Wahana dengan panjang 5,5m ini mampu membawa 4 personil dan mempunyai kecepatan 20 knot di permukaan air dan 2-4 knot ketika digunakan untuk penyelaman.

LCAC Kartika yang mampu membawa beban 3 ton (photo : Defense Studies)

Angkatan Darat menampilkan kapal pendarat berbantalan udara (LCAC) tipe hovercraft dengan nama Hovercraft Kartika. Kapal dengan panjang total 14,2m merupakan kapal pendarat hovercraft terbesar milik Angkatan Darat. Wahana ini mampu mengangkut beban 3 ton. Kecepatan jelajah wahan ini 20-25 knot, dengan kecepatan maksimal 30 knot.

Kapal PKR-105 kerjasama bareng dengan Damen Schelde (photo : Defense Studies)

Guided Missile Escort PKR 105 menjadi primadona pada pameran ini. Penunjukan Damen Schelde sebagai mitra PT. Pal untuk membuat kapal ini pada bulan Agustus lalu akan segera diikuti kontrak dengan Kementrian Pertahanan. PKR 105 akan menjadi kapal paling canggih dan modern di armada tempur Angkatan Laut.

KCR-40 yang sedang dikerjakan oleh Palindo - Batam (photo : Defense Studies)


Kapal Cepat Rudal 40 meter ditampilkan oleh 2 perusahaan yaitu PT. Palindo Marine Shipyard dan PT. Pal. Palindo sebagai perusahaan galangan kapal yang berlokasi di Batam saat ini sedang mengerjakan KCR 40 pesanan Angkatan Laut. Kapal ini sudah mengadopsi desain stealth, bentuk radar navigasi yang menjulang tinggi mengingatkan kita pada kapal-kapal milik Angkatan Laut Singapore. Kapal dengan panjang 43 meter ini sanggup dipacu dengan kecepatan 27-30 knot.


LST-117 rancangan PT. Pal (photo : Defense Studies)
Ada 2 tipe miniature kapal pendarat tank dengan panjang 117 meter yaitu LST 117 yang dirancang oleh PT. Pal dan yang dirancang oleh PT. Dok Kodja Bahari. Perbedaan yang terlihat nyata pada LST yang dirancang mampu mengangkut helicopter ini adalah penempatan sekoci di bodi samping. Pada disain Pal sekoci diletakkan atas-bawah sehingga bodi kapal menjadi terlihat tinggi, sedangkan disain DKB sekoci diletakkan muka belakang. Kecepatan kapal ini berkisar 14-16 knot.

Riset dan Kerjasama

Berbeda dengan kontrak pengadaan 4 korvet Diponegoro class yang telah selesai dikerjakan oleh Damen Schelde maka dalam pembuatan kapal PKR-105 ini Damen akan bekerja sama dengan PT. Pal dan memberikan transfer teknologi pembuatan kapal tersebut kepada Indonesia.
Pindad-Tatra sepakat untuk bekerjasama (photo : Defense Studies)
Pindad ternyata juga telah bekerjasama dengan Tatra pemasok truk dari Ceko. Seperti diketahui, Marinir telah menggunakan truk Tatra 813 8x8 GRAD dan truk 6x6 Tatra 810 untuk mengangkut amunisi roket tersebut. Kedua logo perusahaan ini ditampilkan bersama secara mencolok.

Kerjasama Pindad dengan FNSS yang ditandatangani pada bulan Juni 2010 untuk produksi kendaraan roda rantai belum menghasilkan prototipe yang dapat dibawa pada pameran ini.

INTI saat ini berhasil menggandeng Harris Corporation untuk pengadaan alat komunikasi bagi Angkatan Darat. Dalam tender pengadaan alat komunikasi ini akan terjadi persaingan dengan perusahaan saudara yaitu LEN yang memilih bekerjasama dengan Thales.

Telemetri roket D230 (photo : Defense Studies)
LEN baru saja sukses melakukan kerjasama dengan LAPAN dalam membuat sistem telemetri roket D230, sehingga ujicoba roket yang dilakukan dapat diikuti kecepatannya, arahnya dan ketepatannya secara real time.

(Defense Studies)

Misil Tercepat Produksi India


0diggsdigg


Rudal BRAHMOS

KOMPAS.com - India, negeri yang selama ini dikenal dengan film dan tariannya, ternyata juga handal dalam industri pertahanan. Negeri ini mampu menciptakan misil yang bisa mengalahkan missil-missil lain produksi negara maju.

"Missil Brahmos, itu nama misil produksi kami. Keunggulannya, misil kami merupakan missil supersonic tercepat di dunia sekaligus dengan akurasi yang tinggi. Kecepatannya bisa mencapai 1km/detik," kata Praveen Pathak, Addl GM (Marketing Promotion) Brahmos Aerospace, perusahaan yang memproduksi missil ini dalam pameran Indo Defence 2010 di Pekan Raya Jakarta, Jumat (12/11/2010).

Dibandingkan dengan misil subsonic yang dipasarkan saat ini, misil buatan India ini mampu bergerak lebih cepat 3 kali lipatnya. Selain itu, jarak tempuh yang bisa diraih juga bisa mencapai 2,5 - 3 kali lipat dari misil subsonic. Dan yang paling penting, daya hancur misil ini bisa mencapai 9 kali lipat dari misil subsonic populer dunia.

Pathak mengatakan, "Keunggulan lain dari misil ini adalah kemampuannya untuk diinstal dimana saja, mulai helicopter, pesawat, kapal hingga kapal selam." Selain itu, sistem kendali misil mampu melaksanakan Salvo Firing atau penembakan serentak, target Assignment atau penugasan target dan memastikan sekelompok target baik di darat maupun di laut. Salvo pada 9 proyektil dapat menembus dan menghancurkan kelompok kapal musuh terdiri dari tiga fregat dengan pertahanan anti misil modern.

Misil-misil yang akan diluncurkan diinstal di dalam alat luncur. Misil tersebut akan dikirim lengkap dengan daya pendorongnya di dalam Transportation and launch Conister (TLC). Misil versi udaranya dimodifikasi sehingga memiliki berat yang lebih ringan tetapi lebih kuat selama proses peluncuran.

Menurut Pathak, misil tercepat produksinya ini berbiaya murah jika dilihat dalam jangka panjang. "Harga misil pada awalnya mungkin tak jauh berbeda dengan misil lain. Tapi, biaya perawatan misil ini jauh lebih murah. Anda hanya perlu maintenance misil selama sekali dalam tiga tahun, berbeda dengan misil lain yang menuntut perawatan secara terus-menerus," kata Pathak.

Brahmos Aerospace yang memproduksi misil ini sendiri merupakan perusahaan joint venture antara Rusia dan India. Namun, seluruh pengembangan teknologi, proses produksi, tenaga kerja damn tempat produksi berasal dan dilakukan di India.

"Kami memilih Rusia karena mereka memiliki pengalaman dalam soal mesin, sementara kami memiliki pengalaman dalam soal sistem sehingga kami akan mampu memproduksi misil yang paling baik," kata Pathak. Joint Venture sendiri sudah dimulai pada tahun 1998 dan pada tahun 2005 berhasil meluncurkan produk ini.

Secara umum, misil ini unggul karena jarak tempuh yang jauh, garis lengkung arah peluru yang lebar, dilengkapi dengan anti pertahanan kapal perang serta energi kinetik yang terpasang yang membantu daya rusak kapal.

Sumber: KOMPAS

Industri Alutsista RI Bisa Jadi Basis Dunia


0diggsdigg


Kendati industri alutsista kini meredup, Menhan RI Purnomo Yusgiantoro optimistis, industri pertahanan Indonesia mampu menjadi basis produksi industri pertahanan dunia.

INILAH.COM, Jakarta - Kendati industri alutsista kini meredup, Menteri Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro optimistis, industri pertahanan Indonesia mampu menjadi basis produksi industri pertahanan dunia.

Industri alutsista (alat utama sistem senjata) Indonesia sempat mengalami kejayaan di era 1980an hingga 1990an, sebelum akhirnya meredup akibat krisis ekonomi 1998 dan

krisis ekonomi global tahun lalu. Namun, Purnomo yakin, Indonesia masih bisa sejajar dengan asing.

Saya yakin, melalui Indodefence 2010 kali ini, tamu-tamu dari angkatan bersenjata negara-negara sahabat bisa melihat bagaimana industri pertahanan Indonesia bisa sejajar dengan mereka, ujar Purnomo, di sela di Seminar Indodefence 2010 bertema Empowering Indonesia's Defence Industries to Increase National Defence Capabilities, Kamis (11/11), di JIExpo, Jakarta.

Purnomo mengatakan bahwa sistem komunikasi menjadi kunci suksesnya penanganan bencana. Berikut wawancara lengkapnya.

Bagaimana industri alutsista Indonesia saat ini?

Kita (Kemhan) baru saja membuat KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan). Organisasi ini akan mengatur mengenai industri alutsista kita. Saya menjabat sebagai Ketua KKIP, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin jadi Sekretaris KKIP Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin. Yang jelas kita ingin Indonesia bisa menjadi basis produksi persenjataan dunia.

Kapan KKIP mulai bekerja?

Kita sudah mulai dan saat ini kita sedang membuat road map hingga nantinya pada 2024 indonesia memiliki basis produksi industri pertahanan yang kuat. Road map ini akan kita bagi selama lima tahun untuk evaluasi. Kita juga akan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk joint operation dengan tiga Badan Usaha Milik Negera Indusri Pertahanan (BUMNIP), seperti PT Pindad, PT PAL dan PTDI masih mengembangkan joint operation melalui order komponen yang bersifat spesifik. Misalnya, PT PAL menjalin kerja sama dengan industri dalam negeri dan luar negeri.

Terkait bencana alam yang terjadi di tanah air, bagaimana langkah Kemhan dan TNI untuk penanganan bencana alam?

Sesuai Undang-Undang (UU) TNI No. 34 tahun 2004, dimana di dalamnya ada 14 item, disebutkan bahwa tugas utama TNI untuk operasi militer selain peran adalah penanganan bencana alam. Pada pertemuan ASEAN Plus di Hanoi, Vietnam, kemarin, dimana Kemhan dari semua negara di ASEAN sepakat bahwa pertahanan di tiap-tiap negara saat ini meliputi lima area, yaitu maritime security (kemanan maritim), peacekeeping (pemeliharaan perdamaian), humanitarian disaster relief (penanganan bencana alam), dan military medicine (penanganan medis militer).
Jadi selain mempertahankan kemanan negara, TNI juga bertanggung-jawab untuk penanganan bencana alam. TNI selalu masuk ke daerah bencana untuk pertama kali dan membantu masyarakat yang menjadi korban bencana alam.

Apa kendala TNI untuk penganganan bencana alam di Kep. Mentawai dan Gunung Merapi?

Kami melihat pentingnya alat komukasi wilayah (Alkomwil). Di Mentawai, kami akui adanya kesulitan untuk alat komunikasi di sana. Jadi kami juga sedang bekerjasama dengan pihak terkait untuk mengembangkan alat komunikasi khusus penanganan bencana. Untuk daerah kepulauan memang dibutuhkan radio satelit, tapi kita akan mengembangkan alat komunikasi yang bisa menjangkau daerah-daerah terpencil. Oleh karena itu kita berusaha bekerjasama dan membuat alat komunikasi yang efisien.

Selain komunikasi, apalagi masalah di lapangan?

Kami juga berusaha menangani masalah alat-alat kesehatan atau medis. Kami juga terus mencoba mengembangkan untuk membuat rumah sakit sementara yang mudah untuk didirikan, serta sanitasi yang sangat diperlukan korban bencana alam atau pengungsi.

Apa harapan Anda untuk industri alat-alat pertahanan dalam negeri?


Kami ingin Indonesia bisa menjadi basis produksi untuk industri senjata dan pertahanan. Setelah krisis ekonomi 1998 dan krisis ekonomi global tahun lalu, industri pertahanan kita memang. Tapi saya yakin, melalui Indodefence 2010 kali ini, tamu-tamu dari angkatan bersenjata negara-negara sahabat bisa melihat bagaiamana industri pertahanan Indonesia yang bisa sejajar dengan mereka.

Sumber: INILAH

Menhan : SEJUMLAH NEGARA TAWARKAN HIBAH HERCULES KE INDONESIA


0diggsdigg

Hercules C-130 J Milik AU Norwegia

Jakarta, 12/11/2010 (Kominfo-Newsroom) Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengakui banyak tawaran hibah pesawat angkut jenis Hercules C130 untuk TNI dari sejumlah negara. Namun, harus dipilah-pilah kondisi pesawatnya guna menghindari biaya tinggi.

"Kita sudah cek di beberapa negara itu, wah itu parah sekali, kalau masih memungkinkan tidak apa-apa, tapi kalau ongkos lebih mahal tidak usah," katanya di Jakarta, Jumat (12/11).

Menurut Purnomo, semua itu disesuaikan dengan kemampuan anggaran, sehingga perlu pertimbangan kuantitas dan kualitasnya. Persoalan hibah menghibah tidak bisa sembarangan. "Kita lihat dulu kondisi pesawatnya, kalau rusak berat kan juga nggak bisa," tuturnya.

Lebih lanjut dia mengatakan tawaran hibah hercules bukan hanya dari Amerika saja, tapi Jadi Norwegia dan Australia. Dia mencontohkan Australia menawarkan hibah ke Indonesia tapi itu menunggu pesawat barunya C130 seri C datang. Jadi ada proses selama menunggu sembari proses birokrasi juga harus dipenuhi.

Menurutnya, proses pembicaraan hibah sudah ada dari tingkat paling tinggi hingga ke menteri. Proses dilakukan petahapan. "Aturannya memang begitu. tidak mudah, memang, tapi terus kita percepat," ujarnya.

Lebih lanjut Purnomo mengatakan pihaknya juga sudah berbicara mengenai operasi perang dan non perang untuk membantu bencana alam. Dicontohkan KRI Suharso sebagai kapal jenis landing platform dock (LPD) efektif untuk operasi kesehatan di daerah. "Tahun depan akan kita pakai di Wakatobi. Tapi KRI Suharso peralatannya minim, sehingga kita katakan mau nggak Menteri Kesehatan dan Menteri Kesra mengajukan ke Menteri Keuangan, " ujarnya.

Jika itu dapat di-share, ujarnya, KRI Suharso bisa pakai untuk operasi kesehatan dalam bakti sosial dalam Sail Wakatobi mendatang.

Sumber : KOMINFO

Anis: TNI Belum Perlu Pesawat Tempur


0diggsdigg


Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua DPR RI Anis Matta menilai, saat ini yang diperlukan bagi TNI adalah pesawat angkut untuk misi kemanusiaan.

"TNI belum butuh pesawat tempur, tapi pesawat angkut, untuk misi kemanusiaan, membantu mengangkut bantuan kepada korban bencana, mengangkut personel TNI dan relawan," kata Anis di Gedung DPR, Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan, meskipun ada bantuan hibah dari pemerintah Amerika Serikat terkait pesawat tempur F-16, sebaiknya TNI memikirkan kembali.

"TNI sebaiknya selektif dan memilih yang lebih penting, apalagi Indonesia sedang banyak mengalami bencana," kata dia.

Adanya respons positif dari Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono terkait bantuan AS itu, menurut Anis, tak lebih bertujuan memperbaiki hubungan Indonesia dengan AS.

"Saya melihat kontek respons Panglima TNI karena untuk memperbaiki hubungan kedua negara," kata Anis.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan, pemerintah belum memutuskan akan menerima hibah pesawat tempur F-16 sebanyak 24 unit dari Amerika Serikat atau tidak, karena perlu kajian secara luas.

"Kita akan kaji ulang. Kita belum sampai pada satu keputusan. Jadi yang kita lihat sekarang adalah efektivitas dari F-16 itu sendiri," kata Purnomo.

Menurut dia, hibah pesawat tempur F-16 ini harus dipertimbangkan matang, dan dengan kalkulasi yang tepat. Pasalnya jika pesawat yang dihibahkan jenis blok 15 yang sama dimiliki TNI, maka harus di-upgrade. Itupun kemampuannya di bawah F-16 yang paling baru dengan jenis blok 53.

"Semakin tinggi kita upgrade, semakin tinggi ongkosnya. Kita hitung-hitungan sekarang. Kita mesti lihat dari spesifikasi teknis, dari spesifikasi ekonomisnya. Sudah pas atau belum dengan rencana kita," kata Purnomo.

Dia mencontohkan TNI AU memiliki 10 unit F-16. Jika dibeli lagi 6 unit baru menjadi satu skuadron penuh. "Maka perlu hitung-hitungan apakah jenis lama dan baru apakah upgrade semua ke blok yang lebih tinggi. Hitung-hitungan seperti itu yang sedang kita bicarakan."

Menurut Purnomo, hibah pesawat F16 tersebut perlu satu proses yang tidak bisa cepat karena ini di bawah item yang dinaungkan dalam Access Defence Article.

Sumber: YAHOO

AS Lockheed Martin Up grade F16 TNI AU Russia Upgrade Sukhoi TNI AU


Departemen Pertahanan Indonesia dalam beberapa bulan ke depan harus membuat keputusan pada meningkatkan F-16 tahun 2011-2012, menurut Flightglobal. Saat ini, TNI AU mempunyai sepuluh pesawat ini, jam penerbangan yang tersisa yang berjarak sekitar empat ribu jam. Jika keputusan untuk upgrade akan dibuat, biaya perawatan termasuk penyediaan peralatan yang diperlukan akan sekitar $ 150 juta.

Modernisasi F-16 TNI AU sekitar satu tahun. Agaknya, pekerjaan akan dilakukan di Indonesia, dan pemasok peralatan yang diperlukan untuk upgrade akan berbasis di AS Lockheed Martin. Akibatnya, meningkatkan lifetime pesawat akan meningkat menjadi delapan ribu jam terbang, dan karakteristik pesawat tempur akan dibandingkan dengan yang di versi terbaru F-16. Sementara itu, Lockheed Martin mengharapkan untuk menjual Indonesia baru enam F-16 50 / 52 Blok.

Menteri Pertahanan Indonesia telah berbicara Lockheed Martin tentang program memperpanjang masa operasional C-130B / H Hercules. Saat ini, TNI mempunyai 32 pesawat. Program untuk memodernisasi pesawat tempur dan transportasi diterapkan secara paralel.

Pada awal Oktober 2010 Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro Indonesia telah mengumumkan bahwa lima tahun mendatang akan dihabiskan untuk pembelian pesawat dan helikopter untuk TNI AU dan TNI AD 150 T(16,8 miliar dolar). Seperti yang diharapkan, dua-pertiga dari jumlah ini akan dialokasikan dari APBN, sedangkan sisanya dari uang Departemen Pertahanan Indonesia mengharapkan untuk menerima dalam bentuk pinjaman. Sebagian dari dana tersebut akan dihabiskan untuk upgrade pesawat yang ada.

Perlu dicatat bahwa banyak F-16 dan C-130 TNI AU yang memerlukan perbaikan dan modernisasi. Pada tahun 1992 Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap Indonesia, mengakhiri kerjasama militer-teknik dengan negara. Pada tahun 1999 sanksi diperketat sebagai hasilnya, Indonesia telah kehilangan kesempatan untuk membeli di pasar luar negeri suku cadang yang dibutuhkan untuk memperbaiki pesawat dari AS. Sebagai hasilnya, F-16 dan C-130 TNI AU banyak yang tidak bisa terbang.

Sanksi tersebut dicabut di Indonesia pada tahun 2005, membuat negara mampu melakukan perbaikan kecil pesawat tertentu.

Pada akhir September tahun ini, Purnomo mengatakan bahwa dalam 20 tahun ke depan, Indonesia berencana membeli 180 pesawat tempur Sukhoi dari Rusia. Dari pesawat ini akan terbentuk sepuluh skuadron. Saat ini, pesawat tempur sukhoi mempunyai sepuluh Sukhoi yaitu dua Su-30MK, tiga Su-30MK2, Su-27SK dua dan tiga Su-27SKM. Dalam waktu dekat TNI AU akan meng-upgrade ke versi pesawat MC dan SC dari MK2 dan SCM. Pada pertengahan September, selain itu Indonesia akan berniat untuk membeli enam lebih Sukhoi Su-30MK2.

Sumber: Lenta / maju indonesiaku

BERITA POLULER