Pages

Thursday, November 11, 2010

Indonesia Nears Decision on F-16, C-130 Upgrades

F-16 TNI AU (photo : Indoflyer)
Indonesia should make a decision on a mid-life upgrade for its Lockheed Martin F-16A/Bs in 2011 or 2012, but could also buy an additional batch of six Block 50/52 fighters.

If the upgrade takes place it will extend the service life of the Indonesian air force's current F-16s from 4,000 to 8,000 flight hours, and make them as capable as new-build models, says an industry source. An upgrade to all 10 aircraft is likely to cost around $150 million.

Modernisation work would take one year per aircraft, with the work to be conducted in Indonesia using kits provided by Lockheed, according to details revealed at the tri-service Indo Defence Expo & Forum in Jakarta. The air force also wants to acquire Falcon Star and Falcon Up upgrades for its current fighters.
In addition, Lockheed is pushing for Indonesia to purchase six more F-16s in the Block 50/52 configuration to give it a full squadron of 16 operational aircraft.

Another option, albeit less likely, would be for the nation to replace its current F-16s with ex-US

Air National Guard Block 50/52 airframes. However, these would have a remaining service life of only 1,500h each and be less compatible with the US Air Force's support system for the type. C-130 Hercules TNI AU (photo : Indoflyer)

Indonesia is also in discussions with Lockheed about a possible service life extension programme for its C-130B/H transports, although the fighter upgrade has the higher priority.

A decision to upgrade both types would be consistent with the nation's plans to modernise its military. In October, defence minister Purnomo Yusgiantoro said about 150 trillion Indonesian rupiah ($16.8 billion) is needed over the next five years to support the process.


Indonesia's F-16s and C-130s are a legacy of the Cold War, when Washington considered the nation a key ally. That changed when a US arms embargo was imposed in 1992 after Indonesian soldiers killed East Timorese pro-independence demonstrators. The restrictions were tightened in 1999 after a brutal crackdown in an unsuccessful attempt to prevent East Timor's independence.

The embargo resulted in the grounding of most of the nation's F-16s until it was lifted in 2005 when Washington began to view Indonesia as a model of a majority-Muslim country that is also a secular democracy.

Relations have steadily improved, underlined by US President Barack Obama's visit to Indonesia on 9-10 November.

(Flight International)

Video Animasi : PKR Sigma 10514


JAKARTA - Kapal Patroli Kawal Rudal (PKR) yang digadang-gadang sebagai main combatan vessel TNI AL bukan hanya memiliki bentuk cantik sebagai light fregat, tapi juga memiliki banyak kelebihan baik dari sistem persenjataan, radar dan kemampuan lainnya. Meskipun Kemenhan hanya memesan 1 unit, nantinya prototype PKR ini menjadi basis pengembangan kapal-kapal combatan TNI AL dimasa depan. Jalesveva Jayamahe! ©alutsista 
video bisa dilihat di KLIK DI LINK INI
http://alutsista.blogspot.com/search/label/Download%20Video

video


Kartika, Landing Hovercraft Utility Buatan Litbang TNI AL





JAKARTA - Bertempat dipelataran display statis depan Hall pameran Indo-Defence 2010, mulai Rabu (10/11) hingga Sabtu (13/11) nanti dipamerkan prototype hovercraft utility karya anak bangsa hasil buatan Balitbang Kemenhan bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Berbeda dengan Landing Craft Air Cushion (LCAC) yang digunakan marinir AS, Kartika menggunakan struktur material sandwich composite pada lambungnya dan jenis skirt pada bantalan craftnya. Ditenagai oleh 2 buah mesin diesel berkekuatan 1550Hp, hovercraft ini ditengarai mampu dipacu hingga kecepatan 40 knot. Muatan maksimum yang bisa diangkut hingga 20 ton. "Sanggup membawa 1 mobil truck 3/4 lho mas!", ungkap petugas yang menjaganya.



Hovercraft yang diberinama Kartika ini memiliki dimensi panjang 20m, lebar 11m dan tinggi 5,7m. Untuk propeller menggunakan variabel pitch control dengan sistem belt transmision, sedangkan daya angkatnya (lifter) dan pengendalinya memakai sistem centrifugal fan yang terhubung dengan hydraulic motor.

Kedepannya paling tidak kita berharap innovasi yang telah berhasil dibuat anak bangsa ini mampu diwujudkan hingga ketahap produksi, tidak hanya sekedar sukses proyek litbang saja. Smoga!!
sumber©alutsista

Kapal Patroli Kawal Rudal 105m (PKR Sigma 10514)





JAKARTA - Kapal Patroli Kawal Rudal (PKR) 105m yang pada Agustus lalu dilaunching Menhan Purnomo Yusgiantoro bersama KSAL dan perwakilan Galangan Kapal Belanda, Damen, hingga kini telah memasuki tahap desain konstruksi dan struktur kapal, dijadwalkan tahap ini akan selesai pada akhir tahun 2010 ini. Proses pembangunannya dijadwalkan selesai pada tahun 2014.

Tidak dipungkiri ini merupakan langkah besar Kementrian Pertahanan dalam merevitalisasi Industri pertahanan bidang maritim, PT.PAL. Proyek PKR bisa dibilang merupakan proyek pengganti Korvet nasional yang pernah di cetuskan KSAL lama, Bernard Kent Sondakh. Ide proyek Korvet Nasional muncul setelah adanya larangan negara Jerman kepada Indonesia untuk menggunakan armada kapal perangnya (Korvet Parchim) saat Aceh dalam kondisi Operasi Militer.

Guna mengakomodasi keinginan TNI AL tersebut, dalam prosesnya PT.PAL sempat bermitra dengan shipyard asal Italia untuk mengakuisisi Korvet Commandante Class menjadi basis pembangunan Korvet Nasional lengkap dengan program alih teknologinya. Namun setelah lama tidak ada kejelasan akhirnya bergulir proyek PKR dimana basis pengembangannya mengadopsi modul kapal perang Sigma buatan Damen.




Sebagaimana kita ketahui program alih teknologi sigma terkendala setelah Damen membatalkan proses pengerjaan kapal tersebut yang sedianya 2 unit di buat di Belanda dan 2 unit di Indonesia. Kemenhanpun akhirnya mengkaji ulang dengan mengundang galangan kapal luar untuk mewujudkan proyek nasional PKR ini, hingga akhirnya kembali Damen yang terpilih sebagai pemenang.

Di ajang Indo-Defence 10-13 November 2010 kali ini PKR 105 mendominasi stand pameran Damen dan PT.PAL lengkap dengan video animasi yang dibuat khusus Damen untuk mempromosikan kapal perang tersebut ke pengunjung.  
sumber :©alutsista

TNI Kaji Hibah F16 dari AS

TNI Kaji Hibah F16 dari AS


Jakarta (ANTARA News) - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, pihaknya tengah mengkaji hibah dua skuadron pesawat tempur F16 A/B Fighting Falcon dari Amerika Serikat.

"Sedang kita kaji tawaran AS untuk hibah F16, bagaimana tindaklanjutnya kita kaji mendalam," katanya usai melepas pasukan TNI ke Lebanon, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Kamis.

Agus mengatakan, meski hibah namun TNI harus mempertimbangkan besaran anggaran yang harus dialokasikan sehingga 24 unit F16 A/B itu bisa diterima dan digunakan untuk memperkuat armada tempur TNI.

Yang penting, tambah Panglima TNI, pihaknya akan mengkaji dari berbagai sisi, termasuk sisi politik dan hubungan baik kedua negara.

"Kita punya embargo dengan AS, itu juga harus menjadi pertimbangan dan kajian mendalam," kata Agus Suhartono.

Sebelumnya, Pemerintah AS menawarkan F-16 Fighting Falcon varian terbaru F-16 C/D.

Namun, karena keterbatasan angggaran yang dimiliki, maka Pemerintah Indonesia menolak.

Pada kesempatan terpisah, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Eri Biatmoko mengatakan, pihaknya menginginkan tambahan tiga skuadron pesawat tempur untuk memaksimalkan pengamanan wilayah udara nasional.

"Khusus untuk F16, TNI Angkatan Udara telah memiliki program rutin `Falcon Up` untuk meng-`upgrade` kemampuan pesawat," katanya.

Eri mengungkapkan, pihaknya telah merencanakan menambah enam F16 Fighting Falcon pada 2014.

"Saat ini kita merencanakan meng-upgrade F16 A/B dengan teknologi baru pada 2011 dan 2012 oleh Lockheed Martin. Ini masih proses," katanya.

Sumber: ANTARA

Panglima TNI : TNI Sambut Baik Hibah Pesawat F-16


0diggsdigg

F-16 Block 52

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana hibah 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat disambut senang oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal tersebut disampaikan oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono seusai melepas kontingen Garuda, di Markas Besar TNI, Cilangkap, Rabu (11/11/2010).

"Kita sedang kaji dan bahas kerja kelanjutannya. Meski itu hibah, tapi kita harus ada kesiapan alokasi anggaran," katanya.

Menurutnya, proses hibah tersebut kini masih dalam proses politik bidang pertahanan ataupun sikap negara. Namun, pihaknya terus mendorong agar hibah tersebut dapat diterima.

Panglima TNI menganggap hibah pesawat bekas tersebut sebagai pilihan terbaik, jika dibandingkan membeli sejumlah pesawa tempur baru, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa jika pesawat F-16 hasil hibah tersebut memiliki airframe yang bagus, serta kemampuan combat-nya ditingkatkan, maka itu sama saja kualitasnya dengan pesawat baru.

"Jadi kenapa tidak jika akhirnya kita dapat (pesawat F-16) dalam jumlah besar, tapi dengan kemampuan komponen yang baru," tambahnya.

Proses pembicaraan hibah tersebut, menurutnya, selain untuk menjaga hubungan antarkedua negara agar tetap terjalin baik, juga agar masalah-masalah yang dulu ada tidak lagi terjadi. Pasalnya, F-16 yang telah dimiliki Indonesia suku cadangnya sempat diembargo AS.

"Di sisi lain kita juga ingin mengembangkan industri dalam negeri untuk mendukung pesawat-pesawat yang sudah ada sekarang," katanya.

Sumber: KOMPAS

Menhan Malaysia: Mahasiswa di DIY Jangan Banci


0diggsdigg

Menhan Malaysia Ahmad Zahid Hamidi

YOGYAKARTA - Pemerintah Malaysia menarik mundur 408 mahasiswanya yang baru menempuh kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyusul erpsi Gunung Merapi.

Menurut Menteri Pertahanan Malaysia Dato Seri Ahmad Zahid Hamidi, Kamis (11/11/2010), para mahasiswa bisa pulang karena kuliah mereka memang dihentikan sementara.

Namun anjuran Pemerintah Malaysia tidak berlaku bagi sekira 52 mahasiswa tingkat akhir.

"Yang belajar tahun akhir tidak perlu pulang. Saya harap mereka tidak menjadi banci, jadi mereka harus belajar di sini untuk membantu perawatan korban," terangnya di Gedung Kepatihan, Jalan Malioboro.

Selanjutnya, Pemerintah Malaysia akan menunggu anjuran dari Sri Sultan Hamengkubuwono untuk memberangkatkan kembali 408 mahasiswa baru tersebut.

Saat bertemu Sri Sultan, Hamidi juga menyerahkan barang bantuan bagi korban Merapi, yang dikirimlan oleh Perdana Perdana Menteri Malaysia Dato Najib Tun Abdul Razak.

Bantuan yang diserahkan berupa makanan, pakaian, dan selimut, senilai total Rp1 miliar.

Sumber: OKEZONE

BERITA POLULER