Pages

Tuesday, November 9, 2010

Dari Santunan, F-16 Hingga Sukhoi


0diggsdigg

Presiden Barack Obama langsung disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ibu Ani Yudhoyono saat tiba di Istana Merdeka

INILAH.COM, Jakarta - Kabar baik bagi Indonesia! Seperti dilaporkan sebuah harian ibukota (Rakyat Merdeka-red) edisi Minggu 7 Nopember 2010, Amerika Serikat (AS) disebutkan akan memberikan 'santunan' dana sebesar US$700 juta dolar.

Santunan itu akan ditegaskan Presiden Obama bersamaan dengan kunjungannya ke Indonesia. Dana sekitar Rp6,2 triliun itu merupakan bagian dari komitmen AS membantu pengurangan emisi dunia yang menyebabkan 'bumi makin panas'.

Indonesia, termasuk salah satu negara yang menyebabkan berkurangnya emisi dunia. Hutan-hutan tropis di Kalimantan dirusak sampai ke akar-akarnya. Hutan-hutan lebat yang tadinya menjadi penyejuk alam jagat raya, setelah dihancurkan, justru seperti 'alat pemanas'.

Indonesia masih beruntung. Karena masyarakat dunia tidak sepenuhnya menyalahkan Indonesia. Masyarakat dunia sadar penebangan hutan tropis itu dilakukan Indonesia dalam rangka pemenuhan kehidupan.

Sebagai kompensasinya, Indonesia diminta memperbaiki hutannya. Keluarlah santunan Rp6,2 triliun dari rekening bank pemerintah AS. Dana itu nantinya digunakan untuk penghijauan kembali daerah yang sudah gundul. Dengan dana itu Indonesia wajib melakukan re-forestisasi.

Kalau santunan itu dilihat dari konteks momentum, siapapun mungkin akan berfikir, Presiden Obama benar-benar pemimpin AS yang mengerti kesulitan Indonesia. Dalam soal bantuan dia tidak hanya bicara tetapi konkrit bertindak.

Obama ternyata seorang anak baik hati. Sekalipun keturunan Afrika, tetapi asal-usulnya itu tidak mengalahkan fakta sejarah kehidupannya di masa kecil yang dipelihara putera asal Indonesia, Lolo Soetoro.

Barack Obama adalah contoh manusia seperti pepatah, 'kacang yang tidak lupa akan kulitnya'. Kalau mau lebih 'heboh' ditambahkan, Obama ternyata orang Indonesia yang berhasil menjadi Presiden di AS. Sekalipun ia di Washington tetapi tetap memikirkan Jakarta.

Dilihat dari segi jumlah, siapapun mungkin akan berucap: "Hari gene, masih ada yang mau memberi santunan? Kenapa harus ditolak?". Atau: "Gile bener. BLT (bantuan langsung tunai) Obama hampir sama dengan jumlah talangan BI untuk Bank Century, Rp6,7 triliun!".

Namun apapun versi dan alasannya, sebetulnya pemberian santunan itu, tetap perlu dikritisi. Jangan sampai Indonesia terpesona. Perlu dicatat, AS terkenal sebagai negara yang suka memberi tetapi sekaligus meminta lebih banyak. "No free lunch", kata para profesional AS.

Pandangan yang terakhir ini agaknya lebih mendekati kebenaran. Pemberian santunan tak mungkin hanya karena alasan penghutanan kembali hutan tropis. Apalagi pencairan dana tidak dilakukan sekaligus melainkan mencicil. Dana US$700 juta itu akan dicairkan setiap tahun US$100 juta dan ada pra-syaratnya.

Pemberian santunan itu terjadi di saat Indonesia secara bertahap mulai berpaling dari AS. Jika dulu ketergantungan Indonesia pada AS, relatif tinggi, tahun-tahun terakhir ini mulai dikecilkan. Contohnya, pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Setelah merasa dipermainkan AS dalam pengadaan suku cadang pesawat tempur F-16, Indonesia kemudian melirik Rusia. Sambutan negara bekas Uni Sovyet ini, ternyata positif. Rusia bersedia menjual pesawat-pesawat tempur Sukhoi dengan harga dan syarat lebih kompetitif.

Perubahan ini bagi Indonesia perlu dan mendesak. Sementara bagi AS, sesuatu yang tidak boleh terjadi. Indonesia harus terus berkiblat ke AS. Soalnya dampak ikutan dari rencana penggunaan Sukhoi oleh skuadron tempur Indonesia bakal meluas.

Dengan rencana TNI AU di 2024, Indonesia harus memiliki 160 buah pesawat Sukhoi, ini berarti penjaga keamanan udara NKRI, otomatis akan berubah. Teritori udara Indonesia akan dijaga personil-personil yang akrab dengan teknologi Rusia.

Penerbang-penerbang pesawat tempur Indonesia lebih bersahabat dengan Rusia yang nota bene masih merupakan 'musuh abadi' AS. Sehingga perubahan ini secara pencitraan bakal merugikan posisi dan kepentingan AS di Indonesia.

Ditambah lagi kemungkinan pembelian 160 buah pesawat Sukhoi itu akan membuat ratusan miliar dolar AS milik Indonesia berpindah ke rekening industri militer Rusia. Andaikan satu pesawat bernilai Rp1 triliun saja, sedikitnya Indonesia akan membelanjakan sekitar Rp160 triliun.

Padahal harganya bisa lebih mahal dari itu. Dana sebesar itu dari segi bisnis cukup menggiurkan. Sekaya-kayanya industri militer AS, mereka tetap menganggap dana miliaran dolar tersebut sebagai jumlah yang besar. Sejauh ini negosiasi jual beli Sukhoi itu masih belum final. Sehingga bagi AS, ada peluang merebut bisnis tersebut.

Itu sebabnya baik kunjungan Obama dan santunan AS Rp6,2 triliun, kepada Indonesia, tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Tetapi harus dilihat sebagai bagian dari sebuah transaksi.

Perspektifnya, semua transaksi ada hitungannya. AS tidak ingin kehilangan Indonesia, karena dalam kacamata bisnis sama dengan sebuah kerugian.

Sumber: INILAH

Obama Buka Sepatu, Pukul Bedug di Istiqlal

Obama Buka Sepatu, Pukul Bedug di Istiqlal
Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal, Subandi, mengatakan, Presiden AS Barrack Husein Obama harus membuka dan melepas sepatunya saat memasuki masjid Istiqlal.

"Seperti para tamu-tamu negara lainnya, Obama juga akan membuka sepatunya. Istiqlal ini sudah sering menerima kedatangan tamu kepala negara dunia. Mereka semua ikut aturan kita. Jadi Obama, juga akan membuka sepatunya," ujar Subandi, Selasa.

Subadi menjelaskan, Masjid Istiqlal sudah terbiasa menerima tamu negara.

Untuk itu, segala persiapan penyambutan seperti karpet merah dan lainnya sudah tersedua.

"Kami sudah pasang permanen di pintu VVIP. Karena tamu negara yang datang ke sini tidak sedikit. Paling kalau warnanya sudah pudar, kami ganti yang baru," ujar Subandi.

Menurut Subandi, jika dilihat sepintas, Istiqlal seolah tidak mengadakan persiapan apapun terkait kedatangan Obama, namun standar pelayanan serta persiapan penyambutan tamu negara, Istiqlal telah lebih dahulu siap ketimbang lokasi-lokasi kunjungan tamu negara lain.

"Nantinya Obama mau diajak ke mana, sudah kami siapkan. Terus juga ada cindera mata dan sebagainya," terang Subandi.

Dia mengatakan, Obama dan Michele Obama, istri akan melihat-lihat masjid terbesar Asia Tenggara itu Rabu 10 November, pukul 08.45 ? 09.15 WIB, tanpa didampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Di Pintu Al Fatah, Obama akan disambut oImam Besar Masjid Istiqlal, Pengurus Inti Masjid, beberapa pejabat Kementerian Agama dan lain sebagainya.

Di tempat itu juga Obama dipastikan akan memasuki masjid untuk melihat beduk raksasa.

"Kemungkinan akan memukul beduk itu juga untuk mengetahui buyinya," terang Subandi.

Menurut Subandi, Presiden Obama akan mengunjungi Masjid Istiqlal untuk melihat masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara dan untuk mengenal sejarah berdirinya masjid tersebut yang berada di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Kedatangan presiden dari negara adidaya tersebut tambah Subandi, diharapkan dapat membawa angin perdamaian dan toleransi umat beragama bagi negara-negara Muslim di dunia.

Berapa menit setelah Obama pergi. Masjid Istiqlal kembali akan dikunjungi Presiden Austria Heinz Fischer yang dijadwalkan datang Rabu, 10 November, pukul 09.30-10.00 WIB.(*)

ANT/AR09


Antara

Yudhoyono Terima Presiden Fischer

Yudhoyono Terima Presiden Fischer
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) berbincang dengan Presiden Austria Heinz Fischer saat berjalan menuju lokasi upacara penyambutan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11). (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa akan menerima Presiden Austria Heinz Fischer yang melakukan kunjungan kenegaraan, sebelum memimpin delegasi masing-masing melakukan pertemuan dwipihak.

Menurut keterangan Juru Bicara Kepresidenan bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, Presiden Fischer melakukan kunjungan kenegaraan pada 9-11 November 2010.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk memperkuat hubungan dwipihak Indonesia-Austria di berbagai bidang.

"Dalam pertemuan bilateral ini, kedua delegasi akan membahas perluasan dan penguatan kerja sama politik, ekonomi, termasuk perdagangan dan investasi, serta peningkatan kerja sama pembangunan. Selain itu, pertemuan juga akan membahas kerja sama sosial budaya, khususnya di bidang pendidikan dan dialog antarkepercayan," kata Faiza.

Kedua pihak akan menandatangani nota kesepahaman mengenai kelanjutan dan perluasan kerja sama di bidang dialog antar agama dan keyakinan yang diharapkan dapat meningkatkan saling pengertian dan tradisi masing-masing.

Pada 11 November Presiden Fischer akan melakukan peletakan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Selama di Indonesia, ia juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke katedral, Masjid Istiqlal serta kunjungan kehormatan kepada Ketua DPR Marzuki Alie .

Dalam kunjungannya tersebut, kata Faiza, Fischer akan didampingi 53 pelaku bisnis Austria. Hal ini mencerminkan daya tarik Indonesia bagi kerja sama investasi dan perdagangan dengan Austria. Faiza mengatakan, hubungan Indonesia-Austria telah terjalin baik sejak 1954.

"Hubungan baik ini didasarkan pada prinsip saling menghormati dan menghargai. Kerja sama di antara kedua negara di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya cenderung berkembang," kata Faiza.

Di bidang ekonomi, total perdagangan RI-Austria pada tahun 2008 mencapai 393,4 juta dolar AS. Namun, pada tahun 2009 seiring krisis keuangan global, volume perdagangan menurun menjadi 300,4 juta dollar AS.

Investasi Austria menempati urutan ke-35 di Indonesia. Dalam kurun waktu tahun 1990-2009, total investasi kumulatif Austria mencapai 20,60 juta dolar AS.

Seusai menerima kunjungan kenegaraan Presiden Fischer, Presiden Yudhoyono Selasa petang kemudian dijadwalkan meneriman Presiden AS Barack Obama yang juga melakukan kunjungan kenegaraan.
(ANT/A024)
Antara

RI-Austria Dorong Suksesnya Perundingan Palestina-Israel

RI-Austria Dorong Suksesnya Perundingan Palestina-Israel
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) dan Presiden Austria Heinz Fischer memberikan keterangan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11). (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Austria sepakat untuk mendorong suksesnya perundingan perdamaian di Timur Tengah demi terwujudnya negara Palestina dan Israel yang hidup berdampingan dalam damai.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Australia Heinz Fischer di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, seusai melakukan pertemuan dwipihak dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Kami memiliki pandangan yang paralel tentang tujuan akhir dari perundingan Timur Tengah mengenai Palestina dan Israel," katanya.

Ia menilai perundingan itu akan berhasil apabila baik dengan adanya pengakuan yang setara pada negara Palestina dan israel sehingga kedua negara dapat hidup berdampingan dalam damai. "Masyarakat internasional harus memberikan kontribusi sebanyak mungkin untuk mencapai itu," katanya.

Pada September lalu perundingan Palestina-Israel yang dimediasi oleh Amerika Serikat terhenti oleh karena penghentian moratorium pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat.

Palestina menolak untuk duduk berunding apabila pembangunan pemukiman tidak dihentikan. Sementara itu Israel menolak memperpanjang moratorium pembangunan pemukiman.

Negara-negara Liga Arab memberi waktu Amerika Serikat untuk segera menyelesaikan kebuntuan itu.

Presiden Fischer melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, 9-11 November 2010.

Dalam lawatannya itu turut serta sedikitnya 50-an pengusaha Austria. Kehadiran Fischer itu merupakan undangan dari Presiden Yudhoyono.
(G003*U002/A041)
 
Antara

Kunjungan Obama Peluang Tingkatkan Hubungan Ekonomi

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan bahwa kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia merupakan peluang untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara.

"Kunjungan ini bisa memberi semangat ke dalam. Kita bisa memanfaatkannya untuk meyakinkan pelaku usaha di sana bahwa Indonesia adalah negara tujuan investasi yang menarik," katanya ketika dihubungi di Jakarta, Selasa.

Pemerintah bersama pelaku usaha Indonesia, menurut dia, selanjutnya bisa memanfaatkan kunjungan orang nomor satu negara Paman Sam itu sebagai alat promosi untuk menarik lebih banyak investasi Amerika Serikat dan menawarkan produk ekspor ke sana.

"Supaya pebisnis sektor swasta di sana lebih memperhatikan Indonesia sebagai daerah tujuan investasi yang menarik," katanya.

Ia menambahkan, pelaku usaha dalam negeri selanjutnya juga harus proaktif melakukan upaya-upaya untuk memperbesar pangsa pasar produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat.

Sebelumnya Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat juga berharap kedatangan Barack Obama dapat mendorong peningkatan investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada sektor industri pengolahan.

"Selama ini dia kan ambil minyak dan gas, pertambangan, sumber daya alam. Saya minta selanjutnya dia masuk industri lain seperti industri alat berat," katanya.

Sementara Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar memandang kunjungan Obama sebagai saat untuk menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang makin cepat.

Menurut dia, Amerika Serikat merupakan sumber investasi yang penting sehingga hubungan yang ada perlu terus diperbaiki untuk menarik lebih banyak investasi dan keuntungan dari kegiatan perdagangan.

Oleh karena itu, kata dia, pelaku usaha dari kedua negara perlu mempelajari potensi kerja sama pada masa mendatang.

Amerika Serikat merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia.

Nilai total perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat cenderung meningkat sejak tahun 2005 sampai 2008 dan menurun pada tahun 2009.

Tahun 2008, nilai total perdagangan Indonesia-Amerika Serikat mencapai 20,9 miliar dolar AS dan kemudian turun menjadi 17,9 miliar dolar AS pada 2009.

Sementara selama Januari-Agustus 2010, total perdagangan Indonesia-Amerika Serikat mencapai 15,6 miliar dolar AS, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2009 yang nilainya 11,3 miliar dolar AS.

Neraca perdagangan Indonesia-Amerika Serikat selalu surplus sejak tahun 2005. Surplus perdagangan Indonesia-Amerika Serikat tahun 2009 sebanyak 3,7 miliar dolar AS dan selama periode Januari-Agustus 2010 surplus 2,8 miliar dolar AS.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan istrinya Michele Obama beserta rombongan tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta pada Selasa sore.

Obama dijadwalkan tiba di Istana Merdeka, Jakarta, pada pukul 17.00 WIB dan akan disambut dengan upacara kenegaraan.

Selama di Indonesia, Obama akan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerjasama Komprehensif Indonesia-AS, mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat, dan memberi kuliah umum di Universitas Indonesia.

(M035/B012/S026)
 
Antara

Obama Tiba di Istana Merdeka

Obama Tiba di Istana Merdeka
Presiden AS Barack Obama (ANTARA/REUTERS/Jim Young)
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama bersama Michelle Obama, Selasa sore, tiba di Istana Merdeka Jakarta dan langsung disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Ani Yudhoyono.

Belasan mobil yang tergabung dalam iring-iringan kendaraan yang mengatar Obama tiba di Istana Merdeka tepat pukul 17.00 WIB.

Setibanya di halaman samping Istana Merdeka, Obama dan Michele disambut langsung oleh Presiden Yudhoyono danAni Yudhoyono.

Keempatnya tampak akrab dan saling berjabat tangan. Sesaat kemudian, keempatnya menuju teras Istana untuk upacara penyambutan.

Dengan menghadap bendera kedua negara, Presiden Yudhoyono dan Obama mendengarkan lagu kebangsaan kedua negara, bersamaan dengan dentuman meriam.

Beberapa saat kemudian, Presiden Yudhoyono dan Obama memasuki ruang Kredensial di dalam Istana Merdeka dan berfoto bersama di hadapan para pewarta.

Setelah itu, keduanya memasuki ruang Jepara untuk melakukan pertemuan bilateral dalam format kecil.

Seperti diberitakan, Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa sore, diguyur hujan lebat, tepat ketika segala persiapan menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sedang dilakukan.

Hujan lebat mengguyur kawasan itu sejak sekitar pukul 16.00 WIB, atau beberapa saat sebelum Obama dan rombongan tiba di bandara Halim Perdanakusuma.

Akibat hujan, sejumlah perlengkapan yang akan digunakan untuk menyanbut Obama di halaman Istana Merdeka basah kuyup.

Panggung kehormatan yang tepat berada di depan istana tak luput dari guyuran air hujan. Sejumlah penyangga kamera televisi yang sudah disiagakan juga basah.

Sejumlah pekerja istana dan beberapa wartawan nampak sibuk memindahkan peralatan itu ke tempat yang tidak terkena hujan.

Akibat hujan, upacara penyambutan yang rencananya digelar di halaman Istana Merdeka dibatalkankemudiandialihkan ke teras istana.

Pesawat khusus kepresidenan Air Force One mendarat di bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 16.20 WIB. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti DjalaltT Obama dan rombongan langsung menuju komplek Istana Kepresidenan, Jakarta.

Di Istana, Obama dijadwalkan akan menghadiri pertemuan bilateral dalam format kecil yang akan berlangsung sekitar 30 menit. Setelah itu akan digelar pertemuan bilateral yang lebih besar, dan dihadiri oleh sejumlah pejabat dari kedua negara.

Kemudian, Presiden Yudhoyono dan Obama akan menggelar konferensi pers bersama di halaman tengah komplek Istana Kepresidenan. Acara kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan malam kenegaraan.

Keesokan harinya, Obama akan mengunjungi Masjid Istiqlal. Dia juga dijadwalkan meletakkan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Obama juga akan berpidato di Universitas Indonesia, Depok, sebelum meninggalkan Indonesia dan bertolak ke Korea Selatan untuk menghadiri pertemuan puncak G-20.
(ANT/A024)

antara

Sunday, November 7, 2010

Belajar Strategi Perang Israel dan Cara Menghadapinya!!! (3)




Poin penting lain terkait kegagalan strategi perang rezim Zionis Israel. Rezim penjajah ini memasuki sebuah perang mampu merealisasikan tujuannya menduduki sebuah daerah. Bayangkan, selama 33 hari mereka berperang di kota Bent Jbeil yang hanya berjarak 4 kilometer dari perbatasan Palestina pendudukan, tapi tetap tidak mampu mendudukinya. Kegagalan ini terus berlangsung hingga perundingan gencatan senjata disepakati.

Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam penjelasan sebelumnya, tahapan perundingan gencatan senjata akan dilakukan oleh rezim Zionis Israel lewat PBB bila mereka telah menduduki sebuah daerah. Artinya, perundingan itu hanya sekadar pengesahan Zionis Israel atas daerah itu dan bahwa Israel telah memiliki daerah tersebut.

Kenyataan yang terjadi pada hakikatnya merupakan sebuah kekalahan lain rezim Zionis Israel. Namun yang paling penting dari semua ini, untuk pertama kalinya front dalam negeri Israel menjadi sasaran serangan Hizbullah Lebanon. Ini istilah yang dibuat oleh Israel sendiri di mana seluruh kawasan Palestina pendudukan utara telah menjadi medan tempur.

Ada satu masalah besar yang sampai saat ini masih menjadi teka-teki bagi militer rezim Zionis Israel. Rezim penjajah ini masih belum mampu membongkar sistem komunikasi apa yang dipakai Hizbullah dalam perang 33 hari. Karena menurut mereka apa saja yang diketahui mereka sebagai sistem komunikasi Hizbullah mulai dari antena hingga bangunan telah mereka bombardir hingga rata dengan tanah. Tapi mereka sedemikian terkejut, betapa Sayid Hasan Nasrullah hingga akhir perang masih tetap tampil dan berhubungan dengan pasukannya di lini depan.

Rezim Zionis Israel betul-betul dalam kebingungan. Betapa tidak, setiap kali Sayid Hasan Nasrullah mengeluarkan perintah, pasti ada rudal yang ditembakkan dan ini menjadi tanda tanya besar bagi Israel. Apa sebenarnya sistem komunikasi yang dipakai Hizbullah yang tidak dimiliki oleh militer Irak?

Untuk menjawab masalah ini pasca perang 33 hari, Zionis Israel mendatangkan satu delegasi dari Amerika. Tim khusus ini ditugaskan mengkaji sistem komunikasi apa yang dipakai Hizbullah sehingga mampu bertahan selama dibombardir hebat dalam 33 hari. Karena sistem ini mampu memberikan kekuatan kepada Hizbullah untuk melanjutkan perlawanannya.

Kekalahan yang dialami di Lebanon Selatan dalam perang 33 hari ini membuat Zionis Israel kembali merevisi strategi perangnya dan kembali pada strategi pertama. Ini memaksa perubahan dalam kepemimpinan dan Jenderal Dan Halutz menjadi korban pertamanya. Ia kemudian digantikan oleh Jenderal Gabi Ashkenazi yang berasal dari angkatan darat. Dengan demikian, militer Zionis Israel memusatkan kekuatannya pada pasukan darat. Mereka baru memahami bahwa tanpa memusatkan kekuatan pada angkatan darat, mereka tidak akan mampu meraih kemenangan di satu perang pun. Sementara angkatan udara kembali pada peran semulanya sebagai pasukan pendukungMasalah lain yang dibicarakan serius oleh Zionis Israel adalah melindungi front dalam negeri. Bila kita ingin mengetahui kapan Zionis Israel akan menyerang negara lain, kita harus tahu sejauh mana mereka mampu melindungi front dalam negerinya. Pasca perang 33 hari hingga kini setiap tahunnya Zionis Israel menggelar latihan perang dan setiap kalinya mereka baru memahami betapa mereka punya masalah serius di front dalam negeri. Manuver tersebut sangat memalukan bagi Zionis Israel!

Rezim Zionis Israel senantiasa memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari ‘negara' Barat, tapi jelas bahwa terkait masalah perlindungan dalam negerinya mereka harus dikategorikan dalam negara-negara dunia ketiga. Karena di setiap latihan militer yang mereka gelar terlihat jelas ketidakkompakan dalam sistem pertahanan kota, antara bagian gawat darurat dan rumah-rumah sakit dan begitu juga antarbunker-bunker yang ada. Ini masalah serius yang muncul dalam setiap manuver militer yang dilakukan Zionis Israel setiap tahunnya.

Benar, dari sisi ini Zionis Israel harus dikategorikan dalam kelompok negara-negara dunia ketiga. Pasca latihan militer, seorang komandan militer kepada televisi Israel mengatakan bahwa manuver militer yang dilakukan ini menunjukkan betapa Israel tidak akan melakukan perang hingga lima tahun mendatang!!!

Ada poin lain yang patut dicermati saat rezim Zionis Israel kalah dalam perang 33 hari. Faktor yang tidak boleh dipandang remeh ini adalah pengaruh Intifada II terhadap militer Zionis Israel. Dalam Intifada II perjuangan bangsa Palestina dilakukan di Tepi Barat Sungai Jordanm, bukan dari Jalur Gaza. Geografi Tepi Barat juga berbeda dengan Gaza.

Jalur Gaza sebuah kawasan padat penduduk dan untuk melakukan infiltrasi ke sana, militer Zionis Israel menghadapi kesulitan dan membutuhkan biaya besar. Berbeda dengan Gaza, Tepi Barat Sungai Jordan memiliki wilayah lebih luas dengan populasi yang menyebar. Di kawasan ini, militer Zionis Israel dengan mudah memasuki setiap daerah dan menangkap warga Palestina.

Dengan gambaran tersebut, setiap konflik atau kontak senjata militer Zionis Israel dengan warga Palestina sejak tahun 2000 hingga 2006 dalam Intifada II dianggap mudah oleh mereka. Di masa itu, militer Israel menganggap setiap konflik dengan warga Palestina sebagai rekreasi mereka. Mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa setiap kali ingin menangkap warga Palestina, maka hal itu dapat dilakukan dengan mudah dan kenyataan di lapangan memang terbukti demikian. Tapi kesalahan besar militer Zionis Israel adalah mereka terjun dalam perang 33 hari dengan cara pandang ini!!!

Dalam catatan kenangan seorang perwira militer Israel disebutkan, "Saat itu kami telah berhasil melewati jalur perbatasan. Yang terlintas di benak adalah kami akan menghadapi seorang Arab yang sedang duduk di bawah tendanya sambil memangku klashinkov. Begitu mendekatinya dengan mudah kami merampas senjata itu dari tangannya lalu meringkus dan memboyongnya ke Israel... Tapi semua bayangan itu buyar ketika kami telah memasuki daerah Lebanon. Karena kami menghadapi satuan militer terlatih, sangat efisien, dipersenjatai dengan senjata modern, punya semangat tinggi dan mampu melakukan operasi-operasi militer sulit. Semua ini gara-gara dampak Intifada II yang kami hadapi selama ini."

Pasca kekalahan itu rezim Zionis Israel terjun dalam sebuah perang lagi di Gaza selama 22 hari. Sebuah perang yang sangat tidak seimbang. Dalam perang ini hanya militer Zionis Israel yang secara berkesinambungan membombardir Jalur Gaza. Perang 22 hari bukan perang klasik di mana ada dua pihak yang melakukan konflik senjata. Namun hal penting dan sangat mempengaruhi konstelasi politik Timur Tengah adalah selama 22 hari menyerang Gaza pemerintahan Hamas tidak juga bertekuk lutut seperti yang mereka harapkan.

Tentu saja setelah tidak mampu merealisasikan tujuannya, apa yang dilakukan militer Zionis Israel selama 22 hari terhitung satu kekalahan. Perang ini sangat berdampak besar. Karena untuk pertama kalinya dipublikasikan laporan Goldstone yang mengecam Zionis Israel di tingkat internasional. Rezim Zionis Israel dikecam di seluruh dunia dan bermunculan keberanian untuk mengadili para pemimpin Israel di negara-negara Barat. Para perwira dan pejabat tinggi Zionis Israel menjadi tersangka dan diusut secara hukum.

Begitu besarnya pengaruh kekalahan Zionis Israel dalam perang 22 hari di Jalur Gaza, sehingga kini para pengambil keputusan di Israel akan berpikir panjang untuk memutuskan menyerang daerah lain. Mereka tahu benar, bahwa bila terjadi perang dan melakukan kejahatan lain, maka merekalah yang bahkan dikecam di tingkat internasional.

(IRIB/MZ/SL)

BERITA POLULER