Pages

Sunday, November 7, 2010

Habibie: Industri Dirgantara Indonesia Sengaja Dihambat





0
digg


PT DI Sedang Memproduksi CN-235

DEPOK (Suara Karya): Mantan Presiden Prof Dr Ing BJ Habibie meyakini, pengembangan industri kedirgantaraan di Indonesia terhenti lantaran sengaja dihambat oleh salah satu negara industri maju. Sukses Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) memproduksi CN-235, bangsa Indonesia dianggap sudah menguasai teknologi kedirgantaraan yang bakal maju seperti Jepang.

"Pada satu ketika di Singapura, saya mendapat informasi bahwa jangan ada lagi Jepang kedua di Asia," tutur Habibie ketika berbicara dalam Studium Generale Kongres ke-27 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kongres tersebut berlangsung di Graha Insan Cita, Kota Depok, Sabtu (6/11) siang.

Tampak hadir dalam acara pembukaan mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan Ketua BPK Anwar Nasution, dan mantan Menpora Mahadi Sinambela. Kongres ke-27 HMI, yang bertema Sinergi HMI untuk Indonesia yang Bermartabat, dibuka Menpora Andi Mallarangeng.

Ketika IPTN berhasil memproduksi CN-235, Habibie semakin yakin akan kecanggihan bangsa Indonesia dalam membuat produk berteknologi tinggi. "Saya katakan kepada Pak Harto (Presiden Soeharto-Red) bahwa yang membuat pesawat bisa terbang bukan lantaran kepres atau kekuasaan. Pesawat itu bisa terbang karena orang-orang pintar di belakangnya," ujar mantan Menteri Riset dan Teknologi itu.

Oleh karena itu, dia berpesan kepada generasi muda Indonesia, termasuk para anggota HMI, pencapaian yang telah dilakukannya agar dilanjutkan. "Saya berharap kemampuan generasi sekarang dan mendatang melampaui kemampuan kakeknya," kata Habibie.

Ia mengingatkan bahwa Bung Karno (Presiden Soekarno- Red) sangat bercita-cita agar bangsa Indonesia tidak dinilai sebagai bangsa kuli atau kuli bangsa-bangsa. "Kita telah memulainya, bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk membuat produk berteknologi tinggi. Setiap orang berhak untuk menguasai teknologi," katanya.

Hal lain yang diingatkannya adalah pemanfaatan waktu untuk kegiatan produktif. Dalam dunia ekonomi dikenal ada neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Dari neraca tersebut bisa diketahui seberapa besar produk yang diperjualbelikan atau seberapa besar penggunaan anggaran. Terkait pemanfaatan waktu untuk kegiatan produktif, menurut Habibie, perlu ada neraca jam kerja.

Sementara itu, Akbar Tandjung, dalam sambutannya, mengimbau para anggota HMI untuk meneladani sikap Prof Lafran Pane, tokoh pendiri HMI. Lafran Pane, tutur dia, dikenal sebagai figur yang jujur dan bersemangat juang tinggi.

Ia pun mengingatkan bahwa HMI juga memiliki cendekiawan yang patut dibanggakan. Disebutnya, Prof Nurcholish Madjid, dan Prof Ismail Hasan Metareum. Nama mereka diabadikan dalam setiap ruang tempat para anggota HMI berkongres. Dengan demikian, diharapkan semua peserta terinspirasi oleh keteladanan para tokoh tersebut selama berkongres.

Di tempat yang sama, Menpora Andi Mallarangeng, dalam sambutannya, mengajak pemuda lebih giat menimba ilmu untuk meningkatkan daya saingnya. "Pesaing kita bukan lagi di dalam negeri, tapi luar negeri. Perguruan tinggi kita harus lebih baik dari Singapura atau Malaysia," tuturnya.

Ketua Umum PB HMI Arip Mustopha, dalam sambutannya, mengemukakan, ada agenda strategis HMI ke depan yang akan dibahas dalam kongres. Pertama, meneruskan peran aktif membangun demokrasi berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal. Kedua, menghasilkan lebih banyak entrepreneur untuk menjawab kebutuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Sumber: SUARA KARYA

Dana Kementerian Pertahanan Baru Cair Rp.600 Milyar





NAS-332 Super Puma TNI AU

JAKARTA - Jatah Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk menambah kebutuhan alutsista berupa pinjaman dalam negeri sebesar Rp 800 miliar di tahun 2010 ini baru terealisasi sebesar Rp 600 miliar, atau 75% dari total jatah pinjaman. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan hal itu akhir pekan lalu.

Dana tersebut diperoleh dari pinjaman kepada Bank BNI 46. "Pemerintah memang sedang memprioritaskan pendanaan lewat pinjaman dalam negeri," ujarnya.

Dana Rp 600 miliar tersebut nantinya dipergunakan untuk membeli alutsista dari industri nasional. Salah satunya membeli senjata serbu SS2 untuk TNI AD, perangkat radar dan sonar untuk CN-235 TNI AL, dan heli Super Puma 332 untuk TNI AU.

Sisa jatah Rp 200 miliar yang akan diperoleh dari bank-bank nasional lainnya diharapkan bisa cair sebelum akhir 2010. "saat ini kami sedang sibuk-sibuknya mengusahakan agar dana tersebut bisa cair," tambahnya.

Sumber : KONTAN

Songsong Obama, Personel TNI & Polri Bersenjata Disebar di Penjuru UI



Fitraya Ramadhanny - detikNews


Jakarta - Pengamanan Kampus Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, ditingkatkan menjelang kedatangan Presiden AS Barack Obama. Pengamanan ini dilakukan oleh personel TNI dan Polri bersenjata lengkap yang disebar di penjuru kampus.

Pantauan detikcom, pengamanan mulai terasa sejak gerbang utama Kampus UI. Di sini, anggota TNI bersenjata laras panjang sudah siaga di sudut jalan. Di antara mereka juga tampak polisi dari Brimob Polda Metro Jaya.

Peningkatan keamanan ini semakin terasa di sekitar gedung Rektorat dan Balairung UI. Di sekitar Balairung UI ini tampak sejumlah truk TNI dan 2 mobil water cannon milik Brimob. Beberapa anggota TNI juga terus menyisir jalanan dan kebun sekitar Balairung. Di antara mereka juga kelihatan anggota TNI/Polri berpakaian preman.

Pemkot Depok pun ikut sibuk. Tampak 2 mobil pemadam kebakaran dan 2 mobil ambulans ikut berjaga di sekitar Balairung. Meski demikian, pemeriksaan personal terhadap pengunjung kampus belum dilakukan. Perkuliahan tetap seperti biasa.

Obama dijadwalkan berada di Jakarta pada Selasa-Rabu 9-10 November. Menurut rencana, selain bertemu SBY, Obama juga akan berpidato di Masjid Istiqlal, meletakkan karangan bunga di TMP Kalibata dan berpidato di tempat terbuka, yang belakangan disebut bertempat di kampus UI. Saat ini Obama masih berada di India, dalam rangka tur ke Asia selama 10 hari.
(asp/nrl)

detik

Jelang Obama Datang, Gedung Putih Terus Koordinasi dengan UI



Andi Saputra - detikNews







Jakarta - Menyambut kedatangan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia, pihak Gedung Putih terus berkoordinasi dengan kampus Universitas Indonesia (UI). Mereka meminta pendapat UI tentang lokasi kuliah umum dan faktor lainnya.

"Beberapa kali pihak White House koordinasi dengan kami. Mereka meminta masukan apabila kuliah umum di tempat terbuka bagaimana. Tapi karena melihat cuaca tidak menentu, pihak UI menyarankan supaya di tempat tertutup. Takutnya di tengah pidato tiba-tiba hujan," kata staf Humas UI, Devie Rachmawatie, saat berbincang dengan detikcom, Senin (8/11/2010).

Meski demikian, pihak Gedung Putih tetap memeriksa seluruh penjuru UI. Namun, pihak Gedung Putih yang terdiri dari staf keamanan, media hingga event organizer. "Bagi UI, siapa pun tamunya akan kami sambut. Untuk pelaksanaan, kami cuma sebagai tempat saja, selebihnya negara antar negara," tambah Devi.

UI hingga saat ini belum bisa memastikan kedatangan Obama ke kampus tersebut. Pihak UI baru akan diberitahu kepastian kehadiran di UI setelah Obama mendarat di Jakarta. Setelah itu baru akan ada sterilisasi kampus guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Sampai saat ini masih normal, kegiatan kampus masih seperti biasa. Tapi kalau sudah oke datang, pasti ada sterilisasi. Apakah datang atau tidak, bagi UI, digosipin saja sudah senang," ujar Devi.

Obama dijadwalkan berada di Jakarta pada Selasa-Rabu 9-10 November. Menurut rencana, selain bertemu SBY, Obama juga akan berpidato di Masjid Istiqlal, meletakkan karangan bunga di TMP Kalibata dan berpidato di tempat terbuka, yang belakangan disebut bertempat di kampus UI. Saat ini Obama masih berada di India, dalam rangka tur ke Asia selama 10 hari.

(asp/nrl)
DETIK

AS Gelar Pesawat Predator di Yaman

Washington, (Analisa)

Pemerintah Presiden Amerika Serikat Barack Obama menggelar pesawat-pesawat tanpa awak ‘Predator’ di Yaman untuk memburu mata-mata al-Qaeda yang semakin aktif di negara Arab itu, kata suratkabar The Washington Post, Minggu (7/11).

Tetapi mengutip para pejabat senior AS yang tidak disebutkan nama mereka, suratkabar itu memberitakan militer AS dan mata-mata intelijen tidak menembakkan rudal-rudal dari pesawat itu karena tidak memiliki laporan intelijen yang solid tentang keberadaan para gerilyawan.

Bulan lalu, dua paket yang dialamatkan ke gereja kaum Yahudi di Chicago berisikan bahan peledak PETN yang disembunyikan dalam kotak tinta printer ditemukan di Dubai dan Bandara East Midlands Inggris, yang memicu kegusaran internasional.

Hari Jum’at (5/11), cabang al-Qarda Yaman mengaku bertanggung jawab atas persekongkolan itu dan atas jatuhnya sebuah pesawat kargo September lalu.

Kelompok al-Qaeda di Jazirah Arab (AQAP) mengirim pesan itu di laman internet "jihaddis" dan menyerukan pengiriman lebih banyak paket bahan peledak untuk "memperluas targetnya dengan melibatkan pesawat sipil di Barat serta pesawat kargo"

Para pejabat AS mengatakan pesawat-pesawat Predator telah melakuan patroli di udara Yaman selama beberapa bulan untuk mencari para pemimpin dan mata-mata al-Qaeda, kata berita itu.

Tetapi setelah serangkaian serangan pasukan Yaman dan rudal-rudal jelajah AS awal tahun ini, para pemimpin al-Qaeda Yaman ingin menghentikan serangan, kata suratkabar itu mengutip seorang pejabat senior pemerintah Obama.(Ant/AFP)

HARIAN ANALISA

Menhan Gates: Militer AS di Asia Tidak Ditujukan kepada China




Melbourne, (Analisa).

Menlu AS Hillary Rodham Clinton, bersiap mengadakan hening cipta bersama saat upacara peletakan karangan bunga di Shrine of Remembrance Minggu (7/11) di Melbourne, Australia.

Upaya militer Amerika Serikat (AS) untuk memperkuat kehadirannya di Asia tidak ditujukan untuk menghadapi China, kata Menteri Pertahanan AS Robert Gates, Minggu (7/11).
Sebuah suratkabar Australia menyiarkan laporan yang mengatakan, Australia akan memberikan izin militer AS untuk memperluas penggunaan pangkalan-pangkalannya, namun seorang pejabat pertahanan AS dengan hati-hati mengatakan bahwa keputusan apapun seperti itu mungkin memerlukan waktu sedikitnya beberapa bulan lagi.

Gates mengatakan, tinjauan strategi kekuatan militer AS tidak termasuk pangkalan-pangkalan baru di Asia.

"Sejauh tinjauan postur, kami tidak memandang menambahkansetiap pangkalan atau apa, suatu pangkalan baru di Asia. Tapi (bukannya berfokus pada hal itu) benar-benar bagaimana kita meningkatkan hubungan yang sudah kita bina," katanya kepada wartawan sebelum ia mendarat di Melbourne.

Gates akan melakukan berbagai pembicaraan di Melbourne bersama Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, yang telah sejak dua pekan melakukan kunjungan regional, yang didominasi oleh keprihatinan AS mengenai ketegangan China dengan tetangganya.

Washington dan sekutu-sekutunya di Asia-Pasifik telah makin waspada terhadap niat China, yang menghabiskan banyak dana untuk memodernisasi militernya, dan pengiriman angkatan laut yang menegaskan bahwa kedaulatan atas Laut China Selatan diperebutkan.

Gates mengatakan, militer AS "mencari cara untuk memperkuat dan mungkin membuat lebih kuat keberadaan kami di Asia".

Tapi dia menekankan bahwa pergerakan AS di kawasan, termasuk agenda kebijakan di Australia, tidak merespon terhadap tindakan Beijing.

"Tidak, ini sama sekali bukan tentang China," kata Gates, menunjuk peningkatan hubungan dengan negara-negara di kawasan itu atas kepentingan bersama seperti kontra-terorisme, kontra-pembajakan dan bantuan bencana.

"Ini lebih tentang hubungan kita dengan negara Asia lainnya daripada tentang China. Kami telah benar-benar meningkatkan keterlibatan kami selama 18 bulan terakhir atau lebih."

Dia menunjuk kunjungannya ke Vietnam bulan lalu untuk menghadiri pertemuan kepala pertahanan Asia-Pasifik dan untuk Clinton partisipasi pada KTT Asia-Pasifik di Hanoi pekan lalu sebagai contoh keterlibatan itu.

Analis memantau ketat friksi regional tentang friksi dengan China di kedua peristiwa, terutama mengingatkan sengketa antara Beijing dan Tokio atas kepulauan Diaoyu, yang disebut Senkaku di Jepang.

Para pejabat AS mencatat Australia sebagai salah satu sekutu Washington terdekat.

Australia telah berperang bersama pasukan AS di setiap konflik besar sejak Perang Dunia I, termasuk di Afghanistan, di mana Australia tercatat sebagai pendukung di luar NATO terbesar dengan sekitar 1.550 tentara.

Penjualan peralatan militer AS ke Australia juga meningkat menjadi 1,45 miliar dolar di tahun 2010 dari $ 162. 500.000 pada tahun 2001.

Sementara itu Senat AS telah mencapai perjanjian perdagangan alat-alat pertahanan bulan lalu yang memungkinkan peningkatan perdagangan bilateral pertahanan mereka.

Gates mengatakan, pembicaraan di Melbourne akan mencakup pertahanan rudal dan cyber teknologi, dan menyebutkan agenda pembicaraan sebagai "cantik tapi ambisius". (Ant/Rtr)

HARIAN ANALISA

Obama Harus Buktikan Atensinya


Presiden Barack Obama Berbincang Dengan Presiden SBY pada Waktu G-20 Di AS

Jakarta (ANTARA News) - Dua anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi dan Paskalis Kossay, mengingatkan Barack Obama untuk membuktikan atensinya memperkuat kerjasama militer Indonesia-AS, khususnya di bidang pendidikan.

Keduanya mengungkapkan itu secara terpisah di Jakarta, Minggu, menyambut rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat ke Indonesia pada 9 dan 10 November, setelah tertunda dua kali.

"Peningkatan kerjasama pendidikan dan pelatihan (militer) tanpa `embel-embel` harus dibuktikan. Maksudnya, agar jangan lagi ada upaya mengutak-atik masalah HAM dan lain sebagainya sebagai prasyarat. Karena itu sangat tidak obyektif," ujar Fayakhun Andriadi.

Sementara itu bagi Paskalis Kossay, bagaimana pun AS amat berkepentingan dengan kekuatan militer RI yang mumpuni di kawasan Asia Pasifik.

"Omong kosong jika mereka (AS) banyak dalih. Sebab, bila (militer) RI tak kuat, keseimbangan pertahanan kawasan berpotensi terganggu, karena AS tentu inginkan kita bisa mengimbangi (militer) Tiongkok yang kini mulai masuk kelas `super`," katanya.

Selain kerjasama (pendidikan dan peatihan) militer, Fayakhun Andriadi juga mengeritisi implementasi `free trade agreement` (FTA) RI-AS, sebagaimana juga telah dilakukan Indonesia dengan Tiongkok (FTA RI-RRT).

"Ini sangat krusial, agar jangan lagi ekspor impor kita via Singapura yang telah membuat negeri kota itu untung besar selama bertahun-tahun," katanya.

Pada hal lain, Paskalis Kossay juga mengajak Barack Obama punya sikap yang pas terhadap berbagai masalah di Tanah Papua.

Sumber: ANTARA

BERITA POLULER