Pages

Wednesday, November 3, 2010

Wanita Malaysia Selundupkan Shabu dalam Kemaluannya

Rabu, 3 November 2010 14:37 WIB

Jakarta (ANTARA News) - Direktorat Narkoba Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya membekuk seorang wanita asal Malaysia, NRU, karena menyelundupkan shabu berbungkus kondom dan dimasukkan ke kemaluannya.

"Petugas menemukan dua bungkus shabu yang dibungkus kondom di dalam vaginanya," kata Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Anjan Pramuka Putra di Jakarta, Rabu.

Anjan mengatakan NRU ditangkap di Hotel Acacia, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (14/10).

Polisi menyita barang bukti berupa 400 gram shabu, uang tunai Rp230 ribu, 25 Ringgit Malaysia, satu lembar bukti menempati kamar Hotel Acacia dan satu lembar tiket elektronik pesawat Air Asia tujuan Kuala Lumpur - Denpasar.

Kemudian satu kartu kartu keimigrasian, dua lembar "boarding", pesawat Air Asia dan Sriwijaya Air, dua unit telepon selular dan satu tas warna coklat.

Anjan menyebutkan tersangka juga menyimpan shabu dalam pembalut yang digunakan di pakaian dalamnya.

NRU mengaku kepada penyidik, dia mendapatkan pasokan shabu dari seorang warga Nigeria di Malaysia berinisial RJ yang masih berstatus daftar pencarian orang.

Polisi  juga menangkap dua tersangka pengedar shabu lainnya, yakni SH alias Ang asal Indonesia dan JH alias Crl asal Malaysia.

Keduanya ditangkap di depan kamar 1212 Hotel Swiss Bel, Mangga Besar Jalan kartini Raya, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Sabtu (16/10).

SH menyelundupkan shabu seberat 600 gram dengan cara melilitkan ke tubuhnya dari Batam menuju Jakarta menggunakan pesawat Lion Air sesuai perintah JH.

Sementara JH mengaku shabu itu milik dua warga Malaysia, yakni AS dan AHW yang berstatus buronan.

Petugas juga menyita uang tunai 43 Ringgit Malaysia, satu unit telepon selular, paspor Malaysia dan kartu keimigrasian atasnama JH, tiket pesawat Lion Air, kain panjang untuk membalut shabu, serta kwintansi pemesanan kamar Hotel Swiss Bel.

Anjan menyatakan ketiga tersangka dikenai Pasal 113 ayat (2) subsider Pasal 114 ayat (2) dan atau Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman penjara minimal lima tahun atau maksimal hukuman mati.(*)
ANTARA

Menembus Badai Demi Korban Selamat

Hendra Agusta

Menembus Badai Demi Korban Selamat
Sejumlah anak korban gempa mengangkat bantuan logistik untuk didistribusikan kepada desa-desa terisolir pasca tsunami dengan pesawat helikopter di Desa Makalok, Pagai Selatan, Kab.Mentawai, Sumbar, Minggu (31/10). (ANTARA/Maril Gafur)
Mentawai (ANTARA News) - Roda helikopter Mi-17 milik TNI-AD belumlah menyentuh tanah, pun baling-balingnya masih berputar kuat di atas bumi menyapu air dan lumpur untuk kemudian mengangkatnya ke udara kuat-kuat.

Tapi ratusan pengungsi tsunami Dusun Bulusat, Pagai Selatan, Mentawai, tanpa alas kaki dan bertelanjang dada sudah belarian menuju satu ladang lumpur bekas terjangan tsunami ke mana Mi-17akan mendarat.

Dari balik jendela helikopter, wajah-wajah yang kembali bersemangat terlihat jelas.

Mereka berlarian dengan cepatnya ke arah helikoper yang mesinnya masih menderu.

Orang-orang bertelanjang dada itu sama sekali tak menghiraukan angin kencang dari tiupan baling-baling heli yang bisa membuat tubuh mereka terhuyung-huyung, bahkan terbanting.

Mereka itu pemuda, bapak-bapak, bahkan anak-anak. Kaki telanjang mereka nampak dipaksakan untuk berlari sekencangnya meski dalam beberapa hari kekurangan makan.

Dari atas helikopter para personil TNI-AD membuka pintu dan bersiap menurunkan bantuan berupa bahan makanan dan logistik lainnya.

Belum juga menyentuh tanah, bahan makanan itu langsung diraih tangan-tangan para korban yang penuh harap mendapatkan kebutuhan secepatnya demi menyambung hidup mereka.

Beberapa di antara mereka saling berebut hingga mengoyakkan kardus pembungkus bahan makanan. Isi kardus berupa mie instan pun tumpah dan berserakan di tanah berlumpur.

Hanya sejenak menyentuh tanah, mie instan-mie instan berbungkuskan plastik itu berpindah tangan ke para korban tsunami yang berebut memungutnya.

Dalam hitungan menit, bantuan ludes. Ada yang memperoleh banyak, ada yang hanya mendapat sedikit, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapat apa-apa.

Yang jelas, sebagian besar wajah-wajah itu tampak ceria karena bantuan yang lama mereka tunggu telah tiba. Bantuanhsempat tertunda-tunda karena kapal yang akan membawanya gagal berlayar karena cuaca buruk di perairan laut Mentawai.

Cuaca buruk
Adalah cuaca buruk seperti telah diprediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menjadi faktor urungnya kapal-kapal berlayar menyalurkan bantuan kepada korban tsunani di dusun-dusun terpencil.

BMKG memprediksi hujan curah tinggi dan gelombang besar akan terjadi di perairan Mentawai, dan itu bisa mengganggu pelaksanaan tanggap darurat pascagempa dan tsunami Mentawai.

"Kita sudah terima laporan dari BMKG yang menyebutkan prediksi cuaca buruk di perairan Mentawai pada tanggal 30 dan 31 Oktober hingga 1 dan 2 November 2010," kata Kepala Badan Nasional Penanggulanggan Bencana (BNPB) Syamsul Muarif.

Prediksi BMKG itu menyebutkan, akan terjadi hujan berintensitas tinggi dan gelombang laut hingga enam meter yang membahayakan pelayaran ke Pulau Pagai, salah satu kawasan terparah dihantam tsunami.

Faktanya, cuaca buruk memang telah menghalangi terkirimnya bantuan melalui laut ke daerah terkena tsunami Mentawai. Akibatnya korban selamat dan pengungsi mesti menunggu lama bantuan, padahal itu penting dalam menyambung hidup mereka.

Sejumlah warga mengatasi soal ini dengan memakan keladi dan buah pisang dari kebun-kebun yang luput dari terjangan tsunami.

Dusun-dusun yang minim bantuan itu umumnya ada di pesisir pantai barat Mentawai yang menghadap langsung Samudera Hindia. Gelombang di pantai ini bisa mencapai enam meter.

Mengkhawatirkan cuaca buruk yang menyertai pelayaran, Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim, memutuskan distribusi bantuan bahan makanan dan logistik lainnya melalui laut dihentikan sementara, diganti lewat udara dengan helikopter.

Delapan helikopter TNI-AD, TNI-AL, Basarnas dan PMI disiagakan di Sikakap untuk menyalurkan bantuan ke para korban yang mengungsi di wilayah sulit terjangkau.

Yang pertama
Salah satu dari delapan helikopter itu telah mendarat di Dusun Bulasat. Heli ini telah ditunggu lama oleh ratusan warga pengungsi yang selamat dari terjangan tsunami Mentawai Senin pekan lalu.

Begitu heli Mi-17 berhasil menembus daerah terisolir itu, untuk kemudian sampai di tengah ratusan orang yang mengungsi ini, para korban berbondong-bondong mengambil bantuan bahan makanan dan logistik yang diturunkan heli itu.

Lapar dan terkurung membuat mereka agak menyepelekan risiko. Bagaimana tidak, mereka terpaksa menahan badan dari angin kencang yang ditimbulkan baling-baling helikopter buatan Rusia itu, asalkan bantuan secepatnya mereka genggam.

Tidak jarang, mereka berebutan saat barang diturunkan dari helikopter. Barang yang telah didapat, langsung mereka panggul atau gotong, menjauhi helikopter.

Ismail, salah seorang di antara pengungsi-pengungsi itu menuturkan, sampai bantuan yang diangkut Mi-17 itu datang, tidak ada secuil pun bantuan yang sampai ke daerahnya.

"Kami sangat membutuhkan bantuan, setelah lama menunggu dan tahu distribusi terhalang cuaca buruk di laut. Karena itu, kami menunggu kedatangan helikopter yang membawa bantuan," kata Ismail.

Sebelum bantuan itu sampai ke wilayah mereka, para pengungsi bertahan dengan sisa makanan yang ada dan dari kebun-kebun yang tidak terkena tsunami.

Dusun Bulasat dihuni 313 orang. Setelah gempa 7,2 Skala Richter yang diikuti tsunami Senin akhir Oktober itu, 299 dari 313 orang tersebut terpaksa mengungsi. Tidak ada data mengenai 14 orang lainnya. (*)
ANTARA

Arab Saudi Tertarik Borong Tank Leopard dari Spanyol

 

Wakil Menhan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Sultan bin Abdul Aziz Al-Saud berbicara dengan Menhan Spanyol Jose Luis Rodriguez Zapatero saat berkunjung ke Istana Moncloa, Madrid, Selasa (2/10). (Foto: Reuters)

3 November 2010 -- Pangeran Khaled bin Sultan bin Abdul Aziz Al-Saud wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Spanyol Jose Luis Rodriquez Zapatero, saat berkunjung ke Spanyol, Selasa (2/10) diberitakan kantor berita AFP.

Kedua pejabat mendiskusikan pembelian tank Leopard 2E buatan Spanyol senilai lebih dari 3 milyar euro, pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan untuk diteken, ungkap seorang pejabat Spanyol.

Arab Saudi “ memperlihatkan ketertarikan mengakusisi tank dan Spanyol percaya mempunyai tank yang diinginkan Arab Saudi dalam hal kualitas dan harga yang kompetitif,“ tambah pejabat tersebut.

Spanyol akan bekerja menyelesaikan kesepakatan dan negosiasi dapat terjadi minggu atau bulan depan, ucap seorang sumber, ditambahkannya delegasi Arab Saudi akan berkunjung melakukan penilaian spesifikasi tank.

Tank Leopard 2E AD Spanyol. (Foto: armyrecognition.com)

Harian El Pais memberitakan minggu lalu, jika kesepakatan pembelian terjadi akan menjadikan penjualan senjata terbesar dalam sejarah Spanyol.

Akan tetapi, penekenan kontrak tergantung persetujuan perusahaan Jerman Kraus-Maffei and Rheinmetaal Group, selaku pemilik hak paten tank Leopard.

Tank Leopard yang dioperasikan oleh Angkatan Darat Spanyol dibuat oleh General Dynamaic-Santa Barbara.

Arab Saudi dan Spanyol meneken kerjasama militer pada 2008, saat hanya terbatas dalam pelatihan pilot jet tempur Typhoon AU Arab Saudi oleh AU Spanyol di pangkalan udara Moron Spanyol.

AFP/Berita Hankam

TNI AL Kerahkan Alutsista dan Prajurit Tangani Bencana Alam di Wasior, Mentawai dan Merapi

 

Sejumlah personil Korps Marinir TNI AL menaikan dan menyusun bahan bantuan dan logistik ke kapal bermotor untuk didistribusikan kepada korban gempa dan tsunami di PelabuhanLaut Sikakap,Mentawai, Rabu (3/11). Pendistribusian bantuan lewat laut kembali dilakukan setelah sebelumnya dihentikan akibat cuaca buruk yang melanda perairan laut Mentawai, pascabencana yang menewaskan 427 orang dan 75 orang hilang. (Foto: ANTARA/Hendra Agusta/Koz/hp/10)

3 November 2010 -- Sebanyak 11 kapal perang dan satu pesawat udara TNI AL jenis Cassa serta sedikitnya 2.145 personel TNI Angkatan Laut dikerahkan untuk menangani berbagai bencana yang menimpa tanah air, baik banjir bandang di Distrik Wasior, Teluk Wondana, Provinsi di Papua Barat, meletusnya Gunung Merapi, Sleman di Jawa Tengah serta musibah Tsunami di bagian Barat Kepulauan Mentawai, Sumatera.

Pada penanganan bencana banjir bandang di Wasior, 5 kapal perang dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), masing-masing KRI Hasanuddin-366, KRI Fatahillah-361, KRI Kalakay-818, KRI dr. Soeharso-990, dan KRI Ahmad Yani-351, dikerahkan untuk mengangkut barang bantuan berupa bahan makanan, obat-obatan, peralatan laboratorium, kendaraan, serta personel. Bahkan KRI Hasanuddin-366 digunakan sebagai sarana tranportasi laut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan untuk melaksanakan peninjauannya menuju Wasior.

Untuk membantu pemulihan bencana di Distrik Wasior, TNI AL bahkan telah membentuk Satuan Tugas Pemulihan dan Rehabilitasi Pasca Bencana (Satgas PRPB) yang dipimpin oleh Kolonel Laut (P) Benny Sukandari sebagai Komandan Satgas. Dengan menggunakan Kapal rumah sakit KRI dr. Soeharso-990 yang dilengkapi 73 orang tim medis yang terdiri dari para dokter umum, dokter spesialis berikut paramedis, satgas saat ini telah berada di Wasior bersama 400 prajurit Korps Marinir yang juga diterjunkan untuk melaksanakan bhakti sosial kesehatan dan kemanusiaan dalam rangka menangani korban banjir bandang masyarakat Wasior yang luka-luka.

400 prajurit yang diberangkatkan ke Wasior, Papua Barat ini berasal dari Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir, Brigif-1 Marinir, Resimen Kavaleri-1 Marinir dan Batalyon Taifib-1 Marinir. (Foto: Kuwadi/Dispen Marinir)

Selanjutnya untuk menangani musibah tsunami di Kepulauan Mentawai, 5 (lima) unsur kapal perang dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat yakni KRI Imam Bonjol-383, KRI Teluk Gilimanuk-531, KRI Teluk Peleng-535, KRI Teluk Sabang-544, dan KTI Teluk Cirebon-543, dan sebuah unsur dari Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) yaitu KRI Teluk Manado-537 dikerahkan untuk mengangkut berbagai jenis bahan makanan, obat-obatan, selimut, tenda, pakaian, kendaraan truk, ambulan dan personel dalam rangka melaksanakan operasi tanggap darurat membantu meringankan derita warga Kepulauan Mentawai. Sedangkan pesawat Cassa TNI AL dari Satuan Udara Armada RI Kawasan Barat diperbantukan untuk melaksanakan dropping bahan makan dari udara ke lokasi-lokasi yang sulit dijangkau transportasi lainnya.

Selain kedua lokasi musibah di atas, prajurit TNI AL juga diterjunkan untuk membantu operasi tanggap darurat musibah meletusnya Gunung Merapi di Sleman, Provinsi Jawa Tengah. Sekitar 160 prajurit TNI AL dari Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Yogyakarta dikerahkan menangani warga yang tetimpa musibah tersebut.

Menurut Kepada Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal), dikerahkannya Alutsista termasuk pengerahan prajurit TNI AL sebagai Satgas penanggulangan bencana di tanah air, merupakan perwujudan dari tugas TNI dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Satgas ini dibentuk guna membantu misi kemanusiaan bagi korban gempa dan tsunami, kata Kadispenal.

Para personel TNI AL ini, lanjut Kadispenal, selain mengoperasikan rumah sakit terapung pada KRI dr. Soeharso-990 atau mendirikan rumah sakit lapangan di tempat-tempat pengungsian, juga melaksanakan SAR untuk mencari warga yang hilang maupun tewas, serta mendistribusikan bahan bantuan.

Dispenal

Potensi Pertahanan Indonesia Sangat Besar


JAKARTA (Suara Karya): Kandungan cadangan perang yang dimiliki Indonesia ternyata sangat besar dan strategis. Selain sumber daya manusia, Indonesia juga memiliki ketersediaan sumber daya laut yang 70 persen lebih besar dari daratan.

Demikian dikatakan pengamat maritim Laksamana Muda (Purn) Robert Mangindaan, pengamat maritim dari Universitas Indonesia (UI) Edy Prastyanto dalam seminar akhir Perwira Siswa Dikreg Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut (Seskoal) Angkatan ke-48 di Seskoal, Jakarta, Selasa (2/11).

Robert mengatakan, potensi ketangguhan perang dan pertahanan negara Indonesia patut disadari masyarakat dan pemerintah Indonesia. Bukan mustahil, potensi yang ada sekarang menjadi kekuatan besar untuk menggentarkan kekuatan perang negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.

"Dari pendekatan ketahanan nasional, ada aspek statis yang perlu diperhitungkan. Sayangnya, aspek statis itu belum disadari oleh kita semua," ujarnya.

Potensi yang mampu membangkitkan kekuatan pertahanan dan angkatan perang Indonesia, adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta jiwa, bisa diandalkan untuk melaksanakan perang besar dan sangat mengerikan.

"Apabila setengah persen dari jumlah tersebut disiapkan sebagai kombatan, Indonesia patut diperhitungkan sebagai kekuatan perang yang sangat mengerikan," ujar Robert.

Potensi lainnya, katanya, adalah ketersediaan kekayaan laut Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pembangunan pertahanan negara yang kuat dan tangguh.

Menurut Robert, kerugian yang dialami Indonesia dalam setiap tahunnya itu seharusnya bisa untuk membeli kapal perang besar dan canggih seharga 300 juta dolar AS per unit maupun membeli ratusan peluru kendali senilai 12 - 15 juta dolar AS per unit.

"Potensi ini tidak terjaga dan tidak disadari karena leading sector untuk eksploitasi kekayaan di laut hanya fokus pada pengembangan budi daya. Tentunya kebijakan ini juga berakibat pada armada perikanan nasional yang tidak mendapatkan atensi sewajarnya," kata dia.

Potensi ketiga yang sangat menguntungkan adalah Indonesia merupakan negara yang memiliki laut terluas di dunia. "Potensi geografik merupakan elemen utama untuk membangun negara maritim yang kuat dan tentunya berbeda dengan negara yang berada di tengah benua," ujar Robert.

Sumber: SUARA KARYA

Pesawat Tempur: Membangun Semangat Nasionalisme, Mengatasi Ketergantungan

Deru pesawat-pesawat tempur TNI Angkatan Udara terjadi pada Hari Ulang Tahun TNI Tahun 2010 membuat kita semangat. Semangat dalam arti menimbulkan keinginan yang menggebu dan membara dalam hati untuk suatu saat ke depan wilayah dirgantara Indonesia dipenuhi oleh pesawat-pesawat tempur.

Memang benar sebuah negara memerlukan pesawat tempur untuk mempertahankan kedaulatan. Tidak dipungkiri bahwa pesawat tempur juga bukan alat untuk dapat menguasai wilayah (pendudukan). Pesawat Tempur adalah alutsista untuk menembak jatuh pesawat-pesawat lawan dan juga menghancurkan atau melemahkan kekuatan lawan (Center of gravity) sehingga pasukan sendiri dapat dengan leluasa melakukan manuver-manuver baik di darat maupun di laut tanpa mendapat gangguan dari kekuatan lawan dari udara (keunggulan udara). Oleh karenanya negara memerlukan kekuatan udara (air power) yang kuat baik dari segi jumlah dan kemampuannya.

Mahal dan Ketergantungan

pesawat B-737 800 TNI

Pesawat Tempur dalam perkembangannya sangat pesat sehingga makin lama teknologi sangat sulit dikejar. Kemajuan teknologi ini berakibat kepada mahalnya sebuah pesawat tempur. Sebagai pembanding sebuah pesawat B-737 800 series seharga 45 juta USD. Sedangkan sebuah pesawat tempur generasi ke IV berkisar antara USD 50 juta sampai dengan USD 75 juta. Oleh karena itu negara harus menyediakan anggaran yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan ini. Kita tahu bahwa negara kita sedang memfokuskan kepada kekuatan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat tanpa mengabaikan faktor keamanan dan pertahanan Negara, sehingga kebutuhan pesawat tempur tidak dapat dipenuhi secara ideal.

Selain mahal harganya, hanya negara-negara maju dan menguasai teknologi yang mampu membuatnya, sehingga negara-negara pengguna sangat tergantung kepada negara-negara pembuat. Pesawat Tempur kadangkala digunakan oleh suatu Negara pembuat untuk mengendalikan negara lain sesuai dengan kepentingan politiknya. Oleh karenanya negara-negara pengguna tidak leluasa lagi untuk menggunakan alutsista tersebut untuk kepentingan pertahanan negaranya.

Semangat Nasionalisme

Kita memang patut berbangga sebagai anak bangsa melihat modernisasi alutsista TNI, termasuk didalamnya kebanggaan terhadap pesawat tempur yang memiliki kemampuan dan teknologi mutakhir yang memperkuat TNI AU dalam menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia serta menjaga martabat bangsa di kawasan. Namun demikian, hendaklah disadari bahwa kebanggaan ini tidaklah menjadi kebanggaan selamanya yang hanya dapat menggunakan alutsista kita dari hasil produksi negara lain. Bangsa kita bertekad dan memang tidak ingin bergantung dengan negara lain dalam pemenuhan kebutuhan alutsista, dimana sering membawa implikasi kepentingan negara pembuat dalam penggunaannya, seperti pengalaman yang lalu bila terjadi embargo akan sangat berpengaruh terhadap kepentingan strategis pertahanan bangsa dan negara.

Disisi lain, penggunaan produk dalam negeri (local content) akan dapat mendukung tercapainya kemandirian bangsa Indonesia dalam hal pengadaan alutsista dimasa mendatang. Kita harus mampu secara mandiri ataupun kerja sama dengan negara lain untuk membuat pesawat tempur canggih yang mampu memenuhi kebutuhan secara optimal untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Untuk jangka panjang, memproduksi alutsista buatan negeri sendiri memberikan nilai yang tinggi bagi penanaman jiwa nasionalisme dan kebanggaan anak bangsa yang mencintai Tanah Air. Mereka yang diwariskan dengan industri pertahanan yang handal akan merasa bangga bahwa Indonesia sudah mampu memproduksi pesawat tempur yang mutakhir, kapal perang, kapal selam, tank, rudal dan arsenal lainnya. Kondisi ini akan memberikan semangat bertanah air yang tinggi dan menumbuhkan fighting spirit anak bangsa dalam membela tanah airnya, sehingga hal ini dapat dimanfaatkan sebagai daya tangkal yang tinggi bagi negara lain.

Mengenai efek penggentar (deterrent effect), ini adalah konsep ab-strak yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh teknologi yang tinggi. Suatu negara apabila memiliki kekuatan militer yang tidak bisa diketahui oleh negara lain, maka itu sudah cukup untuk menjadi efek penggentar, meskipun skalanya tentu akan berbeda-beda.

Apalagi kalau diketahui bahwa teknologi yang dipakai oleh negara itu sangat genuine, tidak bisa ditembus dan tidak bisa ditandingi. Semua negara produsen alusista selalu menyimpan suatu teknologi yang hanya dikuasai oleh negaranya sendiri dan tidak dijual ke negara lain. Hal ini salah satunya untuk antisipasi supaya dalam gelar kekuatan total, alutsista tersebut tidak bisa ditangkal oleh negara manapun.

Membangun industri pertahanan nasional sejatinya adalah menjaga supaya industri nasional tetap bekerja secara progresif. Di satu sisi, dapat memperkuat kemampuan pertahanan nasional.

Di sisi lain, dapat menjalankan roda perekonomian dengan efek bola salju yang mampu menghidupkan industri-industri lain dalam rantai produksinya, ataupun melahirkan industri-industri baru yang beragam. Secara makro, hal ini juga akan mendorong kemajuan teknologi yang lebih tinggi lagi, dan pada gilirannya akan menghasilkan efisiensi dan meningkatkan competitive advantage negara.

Keberhasilan untuk Bersama

Alutsista Buatan Dalam Negeri

Dan inilah sebenarnya harapan dan kebanggaan kita terhadap kemandirian industri pertahanan dalam memenuhi kebutuhan alutsista demi menjaga kedaulatan dan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Bahwa Indonesia adalah negara besar, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya dan kemampuan yang kita miliki asalkan bersatu bisa mewujudkan kemampuan bangsa dalam mewujudkan impian untuk memiliki pesawat tempur canggih produksi anak negeri.

Saat ini bangsa Indonesia telah mampu membuat pesawat angkut ringan, dan tidak mustahil kedepan kita juga akan meningkatkan kemampuan untuk memproduksi pesawat tempur yang berteknologi tinggi. Berbagai upaya telah kita lakukan untuk membangun industri pertahanan dalam negeri melalui pemberdayaan BUMN Industri Pertahanan dan industri swasta lainnya untuk menghasilkan alutsista produksi dalam negeri termasuk kerjasama dengan negara sahabat yang mempunyai semangat yang sama dan mau bekerja sama dengan kita untuk mewujudkan impian dan keinginan membuat pesawat tempur produksi dalam negeri, sehingga kedepan kita berkemampuan untuk memenuhi pesawat tempur.

Sejalan dengan itu semua, pada tanggal 7 Oktober 2010 adalah sidang pertama KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan) yang akan menentukan kearah mana Industri Pertahanan Indonesia akan dibangun. KKIP ini telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden No 42 Tahun 2010. KKIP ini sangat diharapkan untuk mampu mengkoordinasikan pelaksanaan dan pengendalian kebijakan nasional di bidang industri pertahanan. Selain itu untuk mendorong industri nasional yang berpotensi menjadi lebih professional, innovative, effective dan efficient serta terintegrasi dalam memenuhi kebutuhan alutsista dan nonalutsista, satu perangkat pengelolaan industri pertahanan dalam bentuk regulasi berupa peraturan perundang-undangan tentang revitalisasi industri strategis pertahanan dan keamanan nasional.

Dalam kerangka itulah kepada ahli-ahli rancang bangun pesawat bangsa Indonesia dimanapun saat ini berada untuk bersinergi bersama mewujudkan impian Bangsa Indonesia membangun kekuatan dalam memproduksi pesawat tempur sendiri.

Sumber: SUARA KARYA

Tuesday, November 2, 2010

Enam Helikopter Dikerahkan Salurkan Bantuan ke Mentawai

Enam Helikopter Dikerahkan Salurkan Bantuan ke Mentawai
Padang (ANTARA News) - Sebanyak enam unit helikopter dikerahkan untuk menyalurkan bantuan bagi korban tsunami yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.

"Enam helikopter yang dikerahkan tersebut empat unit dari PMI, dan satu unit milik TNI, serta satu unit dari PT Newmont," kata Kabid Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Ade Edwar, di Padang, Selasa.

Menurutnya, helikopter tersebut membawa barang batuan yang berasal dari para donatur yang dikumpulkan Posko Bantuan Gempa dan Tsunami BPBD Sumbar.

"Helikopter tersebut berangkat dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Ketaping menuju Kabupaten Kepulauan Mentawai," katanya.

Dia menambahkan, helikopter tersebut berangkat setiap harinya untuk membawa barang batuan gempa dan tsunami ke Kabupaten Kepulauan Mentawai.

"Di samping membawa bantuan, helikopter juga membawa korban tsunami yang akan dirawat ke Rumah Sakit M Jamil Padang," katanya.

Dia mengatakan, helikopter ini mendistribusikan bantuan bagi warga yang berada di tempat pengungsian yang sulit ditembus para relawan.

"Helikopter tersebut sangat efisien mendistribusikan bantuan yang sulit ditembus para relawan," katanya.

Menurutnya, selain dari helikopter, distrisbusi bantuan juga dilakukan dengan kapal yang diberangkat dari Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang.

"Kapal juga dapat membawa bantuan, para relawan, serta tim medis untuk membantu pengobatan warga yang berada di tempat pengungsian," katanya.

Dia menambahkan, walaupun cuacua buruk yang diprediksi BMKG, pihaknya tetap mendistribusikan bantuan bagi warga yang berada di tempat pengusian.

"Tidak ada bantuan yang menumpuk di Posko Bantuan Gempa BPBD Sumbar, pendistribusian dilakukan dengan helikopter dan kapal," katanya.

BMKG memprakirakan cuaca buruk di perairan Mentawai, sehingga tiga hari ke depan pendistribusian bantuan yang dilakukan melalui kapal laut cukup berbahaya bagi keselamatan para relawan yang mengantarkan bantuan.

Prakiraan BMKG itu menyebutkan, akan terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan gelombang laut mencapai empat hingga lima meter.

Kondisi cuaca buruk itu membahayakan bagi pelayaran ke Pulau Pagai terutama dalam rangka pelaksanaan tanggap darurat pascagempa dan tsunami.(*)
(ANT-031/A035/R009)
 
ANTARA

BERITA POLULER