Pages

Thursday, October 28, 2010

400 Marinir Berangkat ke Wasior


28 Oktober 2010, Surabaya -- KRI dr Soeharso-990 sesaat sebelum diberangkatkan ke Wasior, Papua Barat. (Foto: Kuwadi/Dispen Marinir)



Para prajurit Korps Marinir TNI AL memasuki KRI dr Soeharso-990. 400 prajurit yang diberangkatkan ke Wasior, Papua Barat ini berasal dari Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir, Brigif-1 Marinir, Resimen Kavaleri-1 Marinir dan Batalyon Taifib-1 Marinir. (Foto: Kuwadi/Dispen Marinir)

Selain prajurit, Marinir juga mengirim sejumlah truk ke Wasior, Papua barat. (Foto: Kuwadi/Dispen Marinir)


BERITA HANKAM

Rusia Uji Coba Tiga Rudal Strategis


0diggsdigg


MOSKOWA, KOMPAS.com - Rusia, Kamis, sukses melakukan uji coba tiga rudal balistik antar-benua yang berbeda sebagai bagian dari uji coba regular atas arsenal strategisnya, lapor kantor-kantor berita setempat.

Pasukan bersenjata memulai uji coba dengan meluncurkan rudal Topol RS-12M (yang disebut SS-25 Sickle oleh NATO) dari kosmodrom Plesetsk, di utara Rusia menuju sasaran di semenanjung Kamchatka di Lautan Pasifik. Rudal antar-benua Topol memiliki jarak tembak 10.000 kilometer. Rudal tersebut pertama diujicoba tahun 1983 dan dimasukkan ke dalam arsenal nuklir Uni Soviet tahun 1988. Peluru kendali itu awalnya dirancang untuk digunakan selama 10 tahun.

Pasukan Rusia pada uji coba itu meluncurkan dua rudal antarbenua dari kapal selam nuklir di laut utara, kata sumber militer yang dikutip kantor-kantor berita Rusia. Rudal yang pertama adalah P-29P (RSM-50), dengan jarak 6.500 kilometer, yang dapat diluncurkan dari kedalaman 50 meter (atau 160 kaki). Beberapa menit kemudian, pasukan meluncurkan rudal Sineva (dirujuk sebagai Skiff oleh NATO) dari Laut Barents. Rudal yang dimasukkan ke dalam arsenal Rusia tahun 2007 dan 2008 itu mencatat jarak tembak terpanjangnya 11.574 kilometer.

"Ketiga uji coba yang berhasil itu mengonfirmasi spesifikasi rudal-rudal tersebut dan kapasitas tempur kekuatan nuklir strategis negara," kata seorang jurubicara kementerian pertahanan pada kantor berita Interfax.

Sumber: KOMPAS

KRI Soeharso Tetap Bertolak ke Wasior


0diggsdigg


suarasurabaya.net| KRI dr. Soeharso-990 akhirnya diberangkatkan ke Wasior Papua Barat sesuai rencana semula. Perubahan tujuan ini diterima tim KRI dr. Soeharso, Kamis (28/10).

Keberangkatan KRI dr. Soeharso-990 merupakan bagian dari Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana Wasior. Kepastian ini ditegaskan Letkol Laut YAYAN SUGIANA Kepala Dispenarmatim.

Sebelumnya, kapal perang TNI AL jenis RS apung itu sempat dialihkan tujuannya dari Wasior ke Mentawai, melihat kondisi daerah itu pasca gempa dan tsunami, Senin (25/10) lalu. Namun, hari ini rupanya, pusat menginstruksikan KRI dr. Soeharso bertolak ke Wasior Papua Barat.

Letkol Laut (P) HERIBERTUS YUDHO WARSONO Komandan kapal KRI dr. Soeharso menambahkan selama ini kebutuhan untuk korban Wasior belum terpenuhi. Selain itu, berbagai bantuan yang telah masuk dan diterima oleh Komando Armatim memang ditujukan untuk korban bencana banjir Wasior.

"Ini sesuai kebijaksanaan pimpinan. Selama ini wasior bahan bantuan blm terpenuhi. Lagipula pesanan dari awal memang ke Wasior, ini yang diutamakan," kata YUDHO pada suarasurabaya.net, Kamis (28/0).

Kapal tersebut akan membawa 80 orang tim medis yang terdiri dari dokter dan asisten dengan keahlian anestesi, bedah tulang, bedah umum, kesehatan gigi, kulit dan kelamin, mata, THT, penyakit dalam, serta perawat. TNI AL juga membawa serta 126 ABK dan 400 orang dari Zeni Marinir, Infanteri dan perbekalan yang siap bertugas di lapangan.

Tidak hanya itu, kapal tersebut juga mengangkut sejumlah bahan bantuan hasil sumbangan dari masyarakat. Diantaranya makanan, obat-obatan, pakaian, genset dan tenda.

Sumber: SUARASURABAYA

Bom Nuklir Kini Tak Butuh Misil, Cukup Taruh di Kargo Pesawat

Jakarta - Bom-bom berhulu ledak nuklir kini tidak lagi harus diluncurkan ke sasaran dengan misil-misil antar negara atau antar benua. Cukup taruh bom di kargo pesawat penumpang dan arahkan pesawat yang sarat penumpang tersebut ke sasaran.

"Ada kecenderungan semacam itu. Itu mengapa kini pemerintah AS sangat teliti mengenai kargo," ujar Robert E Kelley, seorang ilmuwan nuklir Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan Kelley dalam diskusi soal ambisi Nuklir Burma di Hotel Akmani, Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (28/10/2010).

Kelley merupakan mantan direktur di international Atomic Energy Agency (IAEA). Dia memiliki 30 tahun pengalaman di US Nuclear Complex. Kelly juga memiliki pengalaman lapangan menginpeksi senjata nuklir di Irak, Afrika Selatan dan Libia.

"Kita tidak bisa mengecek satu per satu bawaan di Kargo dengan seksama. Coba anda bayangkan, ada berapa ribu pesawat yang terbang setiap harinya," jelas Kelley.

Terkait ambisi nuklir Burma, Kelley menilai saat ini Burma, belum dapat membuat bom. Tapi inilah yang sedang mereka persiapkan sekarang.

"Bayangkan sebuah pesawat terbang dari Rangoon. Membawa sebuah bom nuklir dalam kargonya dan penuh penumpang untuk menuju ke satu tempat," terang dia.

Sumber: DETIK

Medvedev dan Obama Akan Bertemu di Jepang

Medvedev dan Obama Akan Bertemu di Jepang
Dimitry Medvedev (ANTARA News/ist)
Moskow (ANTARA News) - Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dijadwalkan menggelar pembicaran di sela pertemuan APEC di Jepang bulan depan, kata pihak Kremlin pada Kamis.

"Presiden Rusia dan Amerika akan menjalani pertemuan penuh di sela pertemuan APEC di Yokohama, Jepang pada 13-14 November," sebuah pernyataan menyebutkan tanpa penjelasan lebih lanjut.

Kedua pemimpin tersebut akan bertolak ke Jepang setelah menghadiri pertemuan ekonomi negara G-20 di Korea Selatan pada 11-12 November.

Di dalam pertemuan Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) ke-21 negara anggota akan membicarakan isu rumit tentang pembukaan pasar mereka untuk negara lainnya.

Namun, APEC telah menghasilkan kemajuan selama bertahun-tahun guna mengupayakan zona perdagangan bebas di wilayah seputaran Pasifik yang dinamis, sebuah inisiatif yang didukung AS sejak lima tahun lalu dengan dimulai dari sekelompok kecil ekonomi mulai mendapatkan momentumnya.

Obama akan bertemu Presiden China Hu Jintao di Korea Selatan pada 11 November sebelum pertemuan negara G-20 di tengah ketegangan ekonomi AS - China dan sengketa wilayah yang meradang antara Beijing dan negara tetangganya.

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Ben Rhodes mengatakan bahwa hubungan Obama dengan Medvedev merupakan salah satu yang paling dekat dan aktif dibandingkan dengan pemimpin asing lainnya.

"Mereka akan mendapat kesempatan untuk merundingkan berbagai isu, termasuk perkembangan yang telah dicapai baru-baru ini terkait dukungan AS terhadap rencana Rusia masuk ke dalam WTO, juga tentang kerja sama yang selama ini dilaksanakan seperti non proliferasi, keamanan nuklir, dan isu keamanan lainnya," kata Rhodes.(*)

ANTARA

NATO, Antara Gitar, Google, dan Senjata

NATO, Antara Gitar, Google, dan Senjata
Tentara Amerika Serikat yang tergabung dalam Pasukan perdamaian NATO merayakan sepuluh tahun masa tugas mereka di pristina. (ANTARA/REUTERS/Hazir Reka)
Jakarta (ANTARA News) - Ketika Barat bersiap menggelar KTT NATO, negara-negara bebas mesti memikirkan bagaimana membuat alat pencipta pengaruh yang lebih cerdas.

Pada rangkaian puncak KTT NATO pada 19 November di Lisabon, masyarakat transatlantik harus menghadapi tidak saja masalah yang sedang dihadapinya kini (dari Afghanistan sampai Rusia), tapi juga bagaimana cara bangsa-bangsa bebas menggunakan kekuasaannya dapat dan harus memajukan dunia.

NATO mesti menjawab pertanyaan-pertanyaan besar berikut, Bagaimana dunia bebas memimpin ketika nilai-nilainya diserang? Ketika menghadapi ancaman dan tantangan yang tidak diketahuinya di masa lalu? Dan ketika model ekonomi - sumber kekuatan dan kebebasan kita - sedang dipertanyakan?

Smart power

Kata kunci untuk menghadapi tantangan dalam koridor kekuasaan Washington dan ibukota-ibukota Eropa adalah "smart power."

Namun kata kunci itu tidak memiliki pengganti untuk merefleksikan kejujuran. Apa yang paling dibutuhkan Barat adalah pandangan baru terhadap seluruh kemampuan dan kepentingannya yang kemudian dapat mencapai tujuannya.

Dipandang sebagai terobosan, smart power adalah sesuatu yang baru dan kekuasaan yang ramah; kombinasi formula lembut (budaya) dan keras (militer).

Kenyataannya adalah kebutuhan hard power tidak hilang. Dan soft power saja tidak akan cukup untuk memenangkan perang, menekan ancaman diktator, atau menjaga perdamaian. Kita tetap hidup di dunia yang membutuhkan baik pedang maupun mata bajak.

Soft power selalu memiliki tempat. Selama perang dingin, lagu-lagu rock dari The Beatles, The Rolling Stones, dan Janis Joplin memainkan peran politik yang penting dalam menginspirasi generasi muda yang tidak puas dan pemberontak di Eropa Timur menumbangkan Tirai Besi.

Kini, lagu rock hampir seperti sebuah anakronisme dari soft-power, bersama dengan siaran-siaran radio gelombang pendek, pelatihan bahasa Inggris di luar negeri; dan program-program diplomasi publik lainnya yang mahal yang dibiayai Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Dalam 20 tahun terakhir, masyarakat transatlantik telah memperluas institusi militer, politik, dan ekonomi, tetapi tidak menciptakan terobosan baru untuk menambah amunisi pengaruh soft dan hard power-nya.

Setidaknya dalam masalah yang besar. Amerika sedang memilah mana yang keliru dan ekstrem dari kekuatan militernya pasca 9/11. Namun Eropa juga harus bercermin mengapa pengaruh strategis global dan politiknya tidak sebanding dengan kekuatan ekonominya. Amerika bukan Mars. Eropa bukan Venus.

Penggunaan baik hard power maupun soft power yang lebih baik dan tentunya lebih cersa, adalah keharusan.

Implementasi aspek-aspek soft power yang lebih efisien dapat memitigasi kebutuhan intervensi militer riil.

Dalam kerangka hubungan transatlantik, kebutuhan untuk serius mewujudkan pembagian kerja antara AS dan Eropa sepanjang garis hard power dan soft power, adalah tidak dapat dihindari. AS bukan Mars dan Eropa bukan Venus. Keduanya orang Bumi.

Kekuatan - hard atau soft, Amerika atau Eropa - tetaplah kekuatan dan berspektrum. Pada dua ujung spektrum daya terlihat ada ekstrem-ekstremnya: kekuatan nuklir strategis di sisi satu dan diplomasi kebudayaan di sisi lainnya.

Taktik peang yang panas dan keras di ujung spektrum merah, sementara saluran-saluran lembut nan dingin di arah sebaliknya. Ada banyak ruang di antara kedyanya, contohnya bantuan militer untuk aksi-aksi kemanusiaan atau membantu memerangi penyakit mematikan di Afrika.

Ketika memperluas metafora kekuasaan spektral, kita juga perlu memahami bahwa ada bagian dari spektrum yang "tak terlihat" bagian-bagian itu menyerang.

Ambil contoh aktor-aktor non negara. Mereka telah menjadi kutukan dalam beberapa tahun terakhir, dan banyak dari mereka yang menjadi sumber kekhawatiran dan ancaman. Yang terburuk adalah ketika warga gaib di ujung keras spektrum kekuasaan, menjadi terlihat ketika mereka melakukan serangan teroris yang mematikan.

Di ujung lebih lembut, masyarakat bebas memiliki aktor non negaranya sendiri. Teknologi kita yang inovatif dan matang --YouTube, Facebook, Google, dan lain-lain-- memberdayakan manusia di seluruh dunia.

Contohnya, para pahlawan tanpa tanda jasa dari komunitas internet menggambarkan bagaimana menghadapi pengawasan Internet oleh rezim Iran melalui server proxy.

Teknologi dengan sendirinya bukan obat kebebasan yang mujarab. Ini hanyalah alat. Dan alat dapat digunakan kebaikan dan juga kejahatan.

Power toolbox


Konsep kekuatan spektral pada dasarnya adalah cara baru dalam melihat kekuatan toolbox kita secara lebih terintegrasi. Negara-negara bebas dan demokratis, aliansi, dan organisasi-organisasi harus mulai melihat lebih jelas lagi warna, bayangan dan campuran kekuatan yang penuh dan lebar pandangan spektrum.

Hasil yang paling diharapkan akan menjadi kerangka kerja yang akan membantu mendefinisikan penggunaan yang lebih efisien dan efektif dari aset-aset manusia, ekonomi, militer, ilmiah, dan budaya kita.

Pada akhirnya ini adalah hadiah terbesar bahwa penggunaan kekuatan spektral secara penuh dan canggih hanya akan efektif di tangan orang-orang yang memahami bahwa pengaruh abadi tidak pernah dicapai hanya dengan kekuatan militer atau pengaruh ekonomi saja, sebaliknya dengan membagi nilai dan solusi yang secara bersamaan menguntungkan baik masyarakat global maupun perorangan.

Ditulis Andras Simonyi (mantan Duta Besar Hungaria untuk Amerika Serikat dan NATO) dan Markos Kounalakis (Presiden Washington Monthly dan peneliti pada Center for Media and Communication Studies di Central European University, Budapest) dalam Christian Science Monitor.

adam/jafar


ANTARA

Militer Korsel Siaga Penuh

Seoul (ANTARA News) - Militer Korea Selatan meningkatkan  kesiapan keamanan ke tingkat paling tinggi pada pekan ini, menjelang konferensi tingkat tinggi G-20 di Seoul, kata para perwira militer seperti dikutip kantor berita Yonhap.

Militer Korsel juga akan bekerja sama dengan pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di Selatan dan Jepang guna memantau gerakan-gerakan Angkatan Bersenjata Korut untuk menjamin keamanan pertemuan itu pada 11-12 November, kata mereka.

"Tingkat kewaspadaan telah dinaikkan ke posisi paling tinggi sejak Rabu," kata seorang perwira Staf Gabungan Bersama Selatan (JCS). "Pemantauan Korut akan tetap pada level paling tinggi hingga 13 November."

Korsel, yang mendapat giliran menjadi ketua G-20 tahun ini, berharap menaikkan profilnya di kancah global melalui pertemuan itu.

Keamanan mendapat perhatian tinggi karena secara teknis negara itu masih dalam keadaan konflik dengan Korea Utara sejak Perang Korea 1950-1953 berakhir bukan dengan perjanjian perdamaian.
(M016/A038)
ANATARA

BERITA POLULER