Pages

Wednesday, October 20, 2010

Indonesia Harus Miliki "Blue Water Navy"


0diggsdigg


Makassar (ANTARA News) - Indonesia harus meningkatkan kemampuan armada Angkatan Lautnya dari "Green Water Navi" menjadi "Blue Water Navy".

Peningkatan ini sangat penting, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan harus memiliki armada laut yang kuat, kata Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof Ikrar Nusa Bhakti, di Makassar, Rabu.

Untuk meningkatkan angkatan laut menjadi Blue Water Navy, minimal Indonesia harus memiliki armada penghancur atau destroyer.

Indonesia saat ini hanya mampu memiliki Green Water Navy atau armada laut sekelas Fregate untuk memperkuat angkatan laut.

Menurutnya, armada laut fregate ini berada empat tingkat di bawah kapal induk, atau berada di urutan terakhir setelah Aircraft Carrier, Cruiser dan Destroyer.

Dengan angkatan laut Green Water Navy, TNI Angkatan Laut Indonesia hanya mampu untuk menjaga wilayah laut Indonesia saja.

"Jika dibandingkan dengan sejumlah negara yang baru berkembang, seperti India dan China, masing-masing telah memiliki rencana strategis untuk memiliki empat kapal induk," tuturnya.

Rencana pemilikan empat kapal induk tersebut akan terealisasi pada tahun 2020.

Pada tahun 2011, India bahkan sudah memiliki dua kapal induk, sedangkan China sebanyak satu unit.

"Meskipun China dan India bukan merupakan negara kepulauan, namun negara tersebut tetap memperkuat armada lautnya," terangnya.

Peningkatan angkatan laut ini menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk menghadapi perubahan arsitektur global setelah Perang Dingin, yang salah satunya dalam hal perspektif militer.

Sumber: ANTARA

Sistem Pemantau Nusantara


Memiliki belasan ribu pulau yang tersebar luas dan kerap kali tertutup awan, tidak mudah bagi Indonesia memantau kondisi sumber daya alamnya secara menyeluruh sepanjang tahun. Penginderaan jauh sistem radar dapat mengatasi kendala itu. Namun, sistem tersebut telah berkembang jauh.

Sistem observasi jarak jauh ini telah dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan dengan menggunakan pesawat tanpa awak dan satelit kecil.

Observasi permukaan bumi dalam segala cuaca ini memerlukan keandalan sistem, baik pada sensor maupun wahana yang menjadi tumpangannya. Untuk sistem pemantauan yang berfungsi sebagai ”mata”, penggunaan Synthetic Aperture Radar (SAR) di Indonesia terbukti dapat berfungsi baik untuk memetakan wilayah yang tertutup awan.

Sensor ini bukan hanya digunakan di wilayah Nusantara yang sebagian besar wilayahnya selalu tertutup awan. Dan, karena bekerja sama dengan gelombang radio, sensor ini dapat dioperasikan pada malam hari sehingga 24 jam dapat digunakan untuk mengamati permukaan bumi dan informasi lapisan bumi di dalamnya.

Apabila sensor optik seperti kamera hanya mengetahui informasi permukaan bumi saja, sensor SAR dapat digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi di kedalaman sampai beberapa meter dari permukaan bumi, tergantung dari kondisi permukaan dan gelombang mikro yang digunakan oleh sensor ini.

Sistem SAR ini dikembangkan lebih lanjut oleh Josaphat Tetuko Sri Sumantyo dari Center for Environmental Remote Sensing, Universitas Chiba, Jepang. Sensor baru ini disebut Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR).

Beberapa kelebihan dapat dicapai pada CP-SAR dibandingkan sensor radar konvensional. ”Dengan sistem SAR yang lama digunakan beberapa antena. Untuk menyimpan citra diperlukan dua memori dan unit penyuplai daya berukuran besar. Sedangkan sistem baru hanya menggunakan daya lebih kecil sehingga sistem tersebut lebih kecil dan ringan,” kata Josaphat.

Ringannya alat tersebut dicapai CP-SAR yang hanya menggunakan satu antena. Dengan pengembangan sistem sensor yang baru tersebut, aplikasinya untuk kegiatan search and rescue (SAR) dapat lebih cepat untuk menampilkan citra hasil penginderaan jauh.

Dengan CP-SAR dapat dilakukan sistem pantulan gelombang melingkar. Datanya dapat langsung diklasifikasi oleh stasiun penerima citra. Pada sistem SAR lama, analisis citra satelit memakan waktu beberapa hari.

Sistem ini dikembangkan Josaphat sejak 2005. Peneliti yang pernah bergabung di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini juga mengembangkan aplikasi SAR pada satelit dan pesawat tanpa awak. Uji coba sensor pada simulasi pesawat tanpa awak telah dilakukan di Jepang pada 2008.

Josaphat berharap, pengujian sensor CP-SAR dengan wahana satelit dapat dilakukan pada 2014 sejalan dengan program Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang menargetkan peluncuran roket pengorbit satelit empat tahun mendatang.

Untuk aplikasinya pada wahana satelit dan pesawat tanpa awak, Josaphat bekerja sama dengan peneliti dari Lapan. Uji coba SAR yang baru ini dengan menggunakan pesawat tanpa awak akan dilakukan Desember mendatang di stasiun peluncuran roket di Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat, dan Bandara Margahayu, Bandung.

Sementara itu, uji coba di Jepang akan dilakukan di Shikabe Hokkaido dan Pulau Iwojima.

Pesawat tanpa awak

Pemantauan permukaan bumi dari udara untuk berbagai keperluan telah lama dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang dan satelit. Selain itu, dikembangkan pula pesawat terbang tanpa awak (PTTA).

Wahana tak berpilot ini dari beberapa aspek memiliki kelebihan dibandingkan dua sarana tersebut. Untuk kegiatan survei udara, PTTA biaya produksinya lebih rendah. Wahana nir-awak ini mampu menjelajah medan berbahaya yang tidak mungkin dilakukan pesawat biasa, seperti terbang rendah untuk pemantauan wilayah kebakaran hutan dan wilayah perbatasan.

Saat ini telah ada empat prototipe PTTA, termasuk model unmanned aerial vehicle (UAV-530). Tiga prototipe lainnya dibuat oleh ITB, Robo Aero Indonesia, dan UAVindo.

Pembuatan UAV-530 sendiri merupakan program riset khusus bidang teknologi pertahanan di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi yang melibatkan instansi pemerintah dan swasta nasional, di antaranya Lapan, BPPT, Balitbang TNI AU, dan Balitbang Kementerian Pertahanan. Untuk komponennya, rancang bangun, dan rekayasanya didukung PT Pindad, PT LEN Industri, PT Dirgantara Indonesia, dan ITB. Program ini dimulai Maret 2007 dan berakhir tahun ini.

Pesawat UAV-530 memiliki beberapa kelebihan, yaitu struktur sayap dapat dilipat sehingga mampu menjelajah wilayah yang sulit ditempuh pesawat kecil. ”Untuk pemantauan yang memerlukan terbang lambat, sayap itu direntangkan dengan sistem kendali jarak jauh,” kata Hari Purwanto, Staf Ahli Menristek Bidang Hankam.

Pesawat tersebut dikendalikan melalui sistem komunikasi yang ditempatkan di darat atau remotely piloted vehicle (RPV). Pada UAV-520 ada dua sistem komunikasi, yaitu sistem kendali dan kamera yang secara real time menampilkan citra di layar monitor di darat.

Sebelum mencapai tahap UAV-530, hingga Desember 2007 telah disiapkan tiga prototipe berkecepatan rendah dan berkecepatan tinggi. Prototipe berkecepatan rendah hingga 180 km per jam. Wahana tanpa awak ini mampu melayang di atas ketinggian sekitar 1 km dan radius operasional 15 km.

Prototipe kedua memiliki kecepatan 380 km per jam dengan kemampuan jelajah di atas ketinggian 1 km. Dua prototipe PTTA ini menggunakan minyak tanah. Namun, UAV-530 menggunakan avtur seperti pesawat terbang umumnya.

Sumber: KOMPAS

IAEA Akui Kesiapan Indonesia Bangun PLTN


0diggsdigg

Ilustrasi PLTN

TANGERANG, KOMPAS.com - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Suharna Surapranata mengatakan bahwa Indonesia sudah siap membangun reaktor nuklir. Hal itu diungkapkan Menristek saat menghadiri International Science International Conference On Materials Science and Technology, di Kompleks Puspiptek, Serpong, Tangerang, Rabu (20/10/10).

Menristek juga mengungkapkan bahwa Badan Atom Internasional atau IAEA sudah mengakui kesiapan Indonesia. Hal senada juga diungkapkan oleh Anhar Riza Antariksawan, Deputi Penelitian Dasar dan Terapan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Kesiapan yang dinilai adalah kesiapan pre project dan project. Sejauh ini, Indonesia baru siap dalam tataran pre project.

"Sejauh ini, Indonesia baru mendapatkan pengakuan kesiapan pre project dalam membangun reaktor nuklir. Belum mendapatkan kesiapan project sebab proyeknya sendiri belum berjalan," Tambah Arhan Antariksawan, staf Badan Tenaga Atom Nasional.

Penilaian kesiapan pre project itu meliputi beberapa bidang, terdiri dari kesiapan sumber daya, kemampuan ekonomi dan kesiapan tempat. Soal kesiapan tempat misalnya, harus melihat beberapa parameter seperti bencana alam, potensi gempa dan banjir. Beberapa tempat sudah dijadikan alternatif pilihan, seperti Banten, Belitung dan Kalimantan.

Sementara terkait waktu pembangunan reaktor nuklir sendiri masih belum bisa ditentukan, sebab masih akan dibahas dengan beberapa pihak. Yang jelas, Indonesia berkompetisi dengan beberapa negara untuk pembangunan reaktor ini. Negara-negara lain yang dinyatakan IAEA siap untuk membangun reaktor nuklir adalah Yordania dan Vietnam.

Sumber: KOMPAS

KRI Teluk Amboina-503 Angkut Pasukan ke Merauke


0diggsdigg

JAKARTA (Pos Kota) – Salah satu unsur Kapal Perang Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), KRI Teluk Amboina – 503 melaksanakan kegiatan operasi ke wilayah Timur Indonesia dalam rangka mendukung pergeseran pasukan pengamanan perbatasan di Pulau-pulau terluar kawasan Indonesia bagian Timur yang berbatasan dengan negara tetangga.

KRI Teluk Amboina-503 yang dikomandani Letkol Laut (P) Desmon Hermono Kusumo ini mengangkut pasukan dari Batalyon 405/Banyumas Kodam IV Diponegoro tolak dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang pekan lalu dan mengangkut lebih dari 600 personel ditambah satu kompi pasukan khusus TNI AD dan pasukan tersebut telah didebarkasi di Merauke.

Menurut Letkol Laut (P) Desmon Hermono Kusumo saat dihubungi kemarin mengatakan bahwa KRI Teluk Amboina-503 telah kembali dari Merauke dan mengangkut pasukan yang telah melaksanakan tugas Pamtas Batalyon Linud 433/Kostrad dan saat ini berada di Perairan Laut Banda menuju markas induk di Maros Makasar.

KRI Teluk Amboina-503 adalah kapal jenis Landing Ship Tank buatan Jepang pada tahun 1960 yang berada di bawah pembinaan Satuan Lintas laut Militer (Satlinlamil ) Jakarta. Kapal ini memiliki spesifikasi berat 4198 ton dan dilengkapi dengan fasilitas yang mampu mengangkut sampai 800 pasukan, memiliki kemampuan kecepatan berlayar sampai dengan 8 knot atau 8 mil per jam.

Operasi pergeseran pasukan dan material merupakan salah satu tugas dan fungsi Kolinlamil sebagai pembina kemampuan sistem angkutan laut militer, dengan menyelenggarakan pergeseran pasukan TNI dan Polri yang meliputi personel, peralatan dan perbekalan, baik yang bersifat administratif maupun taktis strategis.

Sumber: POSKOTA

China Tawarkan RI Bekerjasama di Bidang Pertahanan


BEIJING - Wakil Presiden Boediono mengatakan, Indonesia masih akan mempertimbangkan tawaran China untuk kerja sama bidang pertahanan.

Dikonfirmasi ANTARA di Beijing, Rabu (20/10), Boediono mengungkapkan, dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Wen Jiabao, dibicarakan beberapa materi kerja sama yang telah dilakukan kedua negara.

"Salah satunya beliau menawarkan kerja sama pertahanan. Namun, Indonesia akan mempertimbangkan lebih dalam lagi," ungkap Wapres, usai berfoto bersama dengan para wartawan yang menyertai kunjungan kerjanya ke China.

Pada kesempatan yang sama Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, Indonesia berkeinginan agar kerja sama pertahanan itu berupa kerja sama industri pertahanan yang mendukung pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri.

"Jadi, untuk persenjataan kita belum mengarah ke sana," katanya.

Dalam pertemuan selama 30 menit dengan PM Jiabao, dibicarakan berbagai hal yang menyangkut tindaklanjut beberapa kesepakatan yang telah dilaksanakan kedua negara.

Indonesia dan China sejak 25 April 2005 menjalin kemitraan strategis di berbagai bidang kerja sama seperti politik, keamanan, ekonomi, pembangunan sosial budaya dan lainnya.

Untuk mengimplementasikan kemitraan strategis itu, kedua negara telah menandatangani rencana aksi 2010-2015.

Dalam bidang politik keamanan melalui Kementerian Ristek dan Teknologi dan Komisi Iptek Industri Pertahanan China (Costind) menandatangani nota kerja sama peroketan.

Kerja sama itu melibatkan institusi BUMN yang bergerak di bidang industri strategis seperti PT PAL dan PT Pindad.

Selain itu, pada April 2005 kedua negara juga sepakat bekerja sama dalam masalah kelautan.

Sedangkan dalam bidang hukum, kedua negara sepakat menjalin kerja sama mengatasi tindak kejahatan pencucian uang.

Sumber : ANTARA

Indonesia set to continue buying arms from Russia


Indonesia set to continue buying arms from Russia
12:08 20/10/2010
© Photo Igor Kuzevanov
Indonesia will continue its military-technical cooperation with Russia, the country's defense minister said on Wednesday. Purnomo Yusgiantoro spoke after an official transfer of three Russian-made Mi-35P combat helicopters to Indonesia.
"We will continue our military-technical cooperation with Russia," the minister said, noting the high quality and reliability of Russian-made military equipment.
With the addition of the three Mi-35s, the fleet of Russian-made helicopters in service with the Indonesian Armed Forces now comprises five Mi-35 attack helicopters and six Mi-17V5 multipurpose helicopters.
Under a $300 million contract, signed in 2007, Russia recently completed the delivery of three Su-30MK2 and three Su-27SKM fighters to Jakarta in addition to two Su-27SK and two Su-30MK fighters purchased in 2003.
"Our current priority is to create a full-size squadron of Su fighter jets comprising 16 aircraft," Yusgiantoro said.
There are several other prospective areas of military-technical cooperation both countries were eager to pursue, Yusgiantoro said, without elaborating.
According to media reports, Russia and South Korea are competing in the second round of a tender for the supply of two submarines to Indonesia.
Jakarta became one of Russia's main arms customers in 1999 when the United States tightened an embargo on arms sales to the country over alleged human rights violations.
JAKARTA, October 20 (RIA Novosti)

Indonesia Melanjutkan Pembelian Alutsista Dari Rusia


0diggsdigg


Kilo class submarine (photo : Militaryphotos)

JAKARTA, Oktober 20 (RIA Novosti) - Indonesia akan melanjutkan kerjasama militer-teknis dengan Rusia, Menteri pertahanan negara.

Purnomo Yusgiantoro berbicara setelah peresmian tiga helikopter tempur buatan Rusia Mi-35P ke Indonesia.

"Kami akan melanjutkan kerjasama kami militer-teknis dengan Rusia," kata menteri, mencatat kualitas tinggi dan kehandalan peralatan militer buatan Rusia.

Dengan penambahan tiga Mi-35, armada helikopter buatan Rusia dalam pelayanan dengan Tentara Nasional Indonesia sekarang terdiri dari lima helikopter Mi serangan-35 dan enam helikopter Mi-17V5 serbaguna.

Berdasarkan kontrak $ 300 juta, yang ditandatangani pada tahun 2007, Rusia baru saja menyelesaikan pengiriman pejuang tiga Su-30MK2 dan tiga Su-27SKM ke Jakarta selain dua Su-27SK dan dua pejuang Su-30MK dibeli di tahun 2003.

"Prioritas kami saat ini adalah untuk menciptakan sebuah skuadron ukuran penuh jet tempur Su terdiri dari 16 pesawat," kata Purnomo.

Ada calon beberapa negara lain kerjasama militer-teknis kedua negara sangat ingin untuk ditindak lanjuti, Yusgiantoro mengatakan, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Menurut laporan media, Rusia dan Korea Selatan bersaing di babak kedua tender untuk penyediaan dua kapal selam ke Indonesia.

Jakarta menjadi salah satu pelanggan utama senjata Rusia pada tahun 1999 ketika Amerika Serikat memperketat embargo penjualan senjata kepada negara atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Sumber: RIA

BERITA POLULER