Pages

Monday, September 27, 2010

Korps Pengawal Revolusi Islam Terima Rudal Fateh 110


27 September 2010 -- Rudal jarak pendek generasi ketiga Fateh 110 (Fateh A-110B) produksi dalam negeri Iran, sukses diuji coba 25 Agustus, dikirimkan ke Korps Pengawal Revolusi Islam 21 September. Upacara penyerahan rudal dihadiri Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi.

Panjang rudal 9 meter dan berat 3500 kg, menggunakan bahan bakar padat serta mempunyai akuratan tinggi dan kemampuan control yang baik.







(Foto: MEHR/Vahid-Reza Alaii)

MEHR/Berita HanKam

Menhan : 2020 Sudah Ada Generasi Pesawat Tempur



Mock up jet tempur KF-X.

27 September 2010, Makassar -- Menteri Pertahanan dan Keamanan Menhan, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan pada 2020 Indonesia sudah generasi pesawat tempur atas kerjasama dengan Korea Selatan.

"Pada 2020 nanti sudah ada generasi pesawat tempur yang dihasilkan dari kerjasama indonesia dengan Korea Selatan," ujar Purnomo yusgiantor di Lanud Makassar, Senin.

Ia mengatakan, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia-Korsel itu sudah dilakukan pada tanggal 15 Juli 2010 yang lalu di Seoul-Korea Selatan.

Dalam kerjasama itu, Indonesia dilibatkan dalam pembuatan pesawat tempur KFX. KFX sendiri merupakan singkatan dari Korean Fighter experimental yang merupakan pesawat tempur desain dari Korea Selatan.

Sekjen Mentri Pertahanan dan Keamanan Marsekal Madya TNI Erris Herryanto juga mengaku jika dalam kerjasama itu, RI akan berusaha agar pembuatan KFX dapat dilakukan di Tanah Air, khususnya di PT Dirgantara Indonesia (DI).

"Kita berharap pesawatnya dapat dibuat di sini (Indonesia). Ini akan dibahas dalam kesepakatan selanjutnya," ujarnya.

Menurutnya, dalam kontrak kerja sama Indonesia-Korsel, lima prototipe ditargetkan untuk dibuat bersama. Satu dari lima prototipe itu akan dibuat di Indonesia sedangkan empat lainnya akan dibuat di Korsel. Setelah kontrak kerja sama itu akan ada fase produksi pesawat tempur yang akan diproduksi dalam negeri.

"Setelah kontrak kerja sama itu akan ada fase dimana pesawat tempur akan diproduksi dalam negeri," terangnya.

Dalam kesepakatan yang diteken Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekjen Kemhan RI Marsekal Madya TNI Erris Herryanto, Indonesia akan menanggung 20 persen biaya dan akan memperoleh 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16 ini.

ANTARA News

Sunday, September 26, 2010

Pasukan Elite Sisir Daerah Pantai



Seorang personel Brimob berjaga-jaga di lokasi Mapolsek Hamparan Perak, pasca penyerangan oleh kawanan bersenjata, di Kabupaten Deli Serdang, Sumut, Kamis (23/9). Mapolsek Hamparan Perak, Rabu (22/9) dini hari, diserang kawanan bersenjata yang terkait dengan aksi terorisme dan tindak kriminal sebelumnya, mengakibatkan tiga personel kepolisian tewas, dan hingga hari kedua pasca penyerangan tersebut, Mapolsek Hamparan Perak masih diberi garis polisi. (Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi/ss/10)

27 September 2010, Medan -- Tim gabungan Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror,Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu),Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Komando Daerah Militer (Kodam) I/Bukit Barisan (BB) menyisir kawasan pesisir timur Sumatera Utara untuk mengejar penyerang Markas Kepolisian Sektor Hamparan Perak.

Menurut informasi, tim gabungan memfokuskan pencarian di pesisir karena kuat dugaan kawasan itu menjadi tempat persembunyian penyerang yang juga diduga sebagai perampok Bank CIMB Niaga Cabang Jalan Aksara Medan. Apalagi, kawasan pesisir ini tak jauh dari Mapolsek Hamparan Perak yang diserang Rabu (22/9) lalu. “Belum ada hasil, mereka masih nyisir di sekitar pesisir pantailah,” ucap salah seorang petugas yang minta namanya tidak disebutkan. Seperti diketahui, pengungkapan pelaku penyerangan Mapolsek Hamparan Perak dan jaringan teroris di Sumut melibatkan pasukan khusus Mabes TNI, juga melibatkan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dengan ujung tombak Kepolisian.

Pasukan Kopassus,yang tiba di Medan, Sabtu (25/9) langsung bergabung dan ditempatkan di sejumlah wilayah yang dianggap rawan di Sumut. Mereka saling berkoordinasi dengan Densus 88 Antiteror dan Polda Sumut. Tim gabungan tersebut, dibagi tugas dan ditempatkan di beberapa daerah. Satu sama lainnya saling berkoordinasi untuk mengetahui perkembangan. Dalam tugas ini, seluruh anggota dilengkapi senjata lengkap dan alat komunikasi. Kepala Bidang Humas Poldasu Komisaris Besar (Kombes) Pol Baharudin Djafar mengatakan, tim masih mengejar pelaku penyerangan Mapolsek Hamparan Perak yang menewaskan tiga personel kepolisian.

Dia mengaku bukan kapasitasnya menyatakan bahwa penyerang adalah jaringan teroris Jantho,Aceh Barat. Menurut dia,Poldasu tidak memiliki wewenang untuk menetapkan hal itu. Namun, penyerang dinyatakannya terkait aksi perampokan Bank CIMB Niaga Cabang Aksara Medan,Agustus lalu. Data kasus perampokan yang terjadi di wilayah hukum Poldasu telah diserahkan kepada Densus 88 yang kemudian melihat adanya keterkaitan para pelaku perampokan dengan jaringan terorisme di Indonesia.

“Karena Poldasu tidak memiliki wewenang untuk itu (menetapkan teroris).Tapi, pelaku penyerangan Polsek Hamparan Perak terkait dengan perampokan Bank CIMB Niaga. Data ini kita kasih ke Densus 88 Mabes Polri dan mereka melihat ada korelasi, pelaku perampokan Bank CIMB Niaga tersebut dengan jaringan teroris,”paparnya.

Mapolsek Hamparan Perak normal kembali

Kemarin, aktivitas pelayanan masyarakat di Mapolsek Hamparan Perak sudah kembali normal kembali meskipun masih dalam penjagaan ketat aparat Brigade Mobil (Brimob) bersenjata lengkap. “Setelah dua hari berduka dan police line dibuka, maka pelayanan kembali normal,” kata Kapolsekta Hamparan Perak Komisaris Polisi (Kompol) Murdhani. Menurut dia, pengamanan semakin ditingkatkan,mulai dari penambahan personel dan juga patroli. Namun, belum ada rencana pemasangan CCTV, karena belum ada perintah dari pimpinan. “Karena itu kanmenyangkut anggaran dari pusat, jadi sifatnya harus menunggu, tapi enggak menggunakan CCTV pun semoga amanaman saja,” harapnya.

Satu kotak amunisi ditemukan

Kepala Desa Sampali Sri Astuti mengungkapkan, perangkat desanya bersama aparat TNI/Polri menemukan satu kotak amunisi senjata laras panjang perkebunan sawit milik PTPN2 di Dusun XXV, Desa Pematang Johor,Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan,Sabtu (25/9). Semula amunisi itu ditemukan oleh seorang anggota CPM bernama Kopral Kepala (Kopka) TNI Dwirono yang kemudian menyerahkannya kepada Markas Detasemen Polisi Militer (Denpom) I/7 Medan untuk diteliti. “Benar, perangkat kami bersama aparat TNI/Polri menemukan peluru itu,” katanya kepada SINDO kemarin.

Kepala Dusun Dua XXV,Arifin yang ikut dalam penyisiran bersama aparat TNI/Polri mengatakan, amunisi yang ditemukan lengkap dengan magasin jenis AK 47 di. “Magasin itu masih adaa pelurunya sekitar 30 butir. Kami samasama menghitungnya,” terangnya. Dia memaparkan, setelah ditemukan Kopka Dwiroso, mereka kemudian menanyakan kelengkapan senjata itu kepada sejumlah anggota polisi militer (PM) karena dicurigai milik anggota TNI yang tertinggal. Tetapi,karena tidak ada mengaku sebagai pemiliknya,mereka kemudian menyerahkan temuan itu ke Denpom untuk ditindak lanjuti. “Lalu diserahkan kepada atasannya di Denpom biar diamankan,”tandasnya.

Menurut informasi, penemuan amunisi itu berawal kecurigaan seorang penggembala sapi yang tidak diketahui namanya. Pada, Jumat (24/9) pagi sekitar pukul 06.30 WIB dia melihat tiga orang menggenakan cadar dan celana hitam serta membawa masing-masing senjata api laras panjang. Ketiganya didengarnya sedang berbicara. Lantaran takut, si penggembala melarikan diri dan melaporkannya ke petugas penjaga perkebunan.Petugas pun mencari orang yang mencurigakan itu, namun tidak ditemukan lagi.

Kepala Bidang Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) Komisaris Besar (Kombes) Pol Baharudin Djafar mengaku belum menerima laporan tentang penemuan amunisi itu. “Belum ada informasinya saya terima,”ucapnya singkat.

SINDO

Lengkapi Sukhoi, TNI AU Akan Beli Rudal


(Foto: Dispenau)

27 September 2010, Makassar -- Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat mengungkapkan TNI AU sedang melakukan perundingan dengan Pemerintah Rusia bagi pengadaan peluru kendali atau misil guna melengkapi pesawat tempur tersebut.

"Kami sedang merundingkan pembelian rudal bagi Sukhoi," katanya kepada pers di Makassar, Senin, usai serah terima tiga pesawat tempur Sukhoi tipe SU-27 SKM dari Pemerintah Rusia.

Imam Sufaat mengatakan, proses pembelian rudal tersebut dilakukan karena produsen pesawat Sukhoi tidak sama dengan produsen rudal.

"Pembelian rudal ini memang dilakukan dari Rusia," kata Imam Sufaat saat mendampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Imam Sufaat mengatakan, ada hal-hal teknis yang harus dibicarakan dengan pabrik rudal tersebut karena misil tersebut harus sesuai dengan sistem komputer yang ada pada Sukhoi.

Sementara itu, Menhan Purnomo mengatakan, sekali pun sukhoi tidak dilengkapi dengan rudal, bukan berarti di dalam pesawat itu tidak ada senjata sama sekali. "Kita membeli bom dari Turen," kata Purnomo.

Di Turen, Malang, terdapat pabrik amunisi milik PT Pindad yang mempunyai spesialisasi untuk pembuatan senjata serta amunisi.

Kasau Imam Sufaat menambahkan, pembelian pesawat Sukhoi tersebut satu paket dengan program pemeliharaan dan perawatan.

Ia mengatakan, untuk 2010, TNI AU mendapat anggaran pemeliharaan sebesar Rp1,3 triliun, sementara pada 2008, Mabes TNI AU hanya menerima biaya perawatan dan pemeliharaan sebesar Rp500 juta.

Kasau menjelaskan, penggunaan anggaran perawatan pesawat itu berdasarkan instruksi Menhan Purnomo Yusgiantoro yang meminta seluruh jajaran TNI AU untuk merawat dan memelihara alat utama sistem senjata mereka secara maksimal.

"Jadi, jangan hanya masalah penyediaan peswat yang harus dibicarakan, tapi juga masalah pemeliharaan dan perawatan," kata Menhan.

Hadir pada acara tersebut Dubes Indonesia untuk Rusia, Hamid Awaluddin, serta Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin yang merupakan mantan sekretaris militer kepresidenan pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

ANTARA News

Menhan: TNI AU Akan Beli Lagi Sukhoi


Menhankam Purnomo Yusgiantoro (kiri) mengangkat jempolnya dalam cockpit Sukhoi SU 30 MK2 dengan Pilot Komandan Skadron Udara 11 Letkol Penerbang Tonny Haryono (kanan) di Lanud Sultan Hasannudin, Makasar, Senin (27/9) . Selama 25 menit Menhan diudara menjajal ketangguhan pesawat buatan Rusia tersebut. (Foto: ANTARA/pandu dewantara/hp/10)

27 September 2010, Makassar -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, TNI AU akan membeli lagi pesawat tempur Sukhoi dari Rusia hingga mencapai satu skuadron atau 16 pesawat.

"Renstra (rencana strategis) tahun 2010-2014 telah menetapkan pembelian pesawat tempur Sukhoi hingga satu skuadron," katanya di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Senin, usai menyaksikan serah terima tiga Sukhoi tipe SU-27 SKM dari pemerintah Rusia.

Sedangkan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat mengatakan, pengadaan pesawat Sukhoi telah dilakukan secara bertahap dengan pengiriman empat pesawat yang kemudian disusul dengan tiga pesawat, dan tiga pesawat lagi.

Purnomo mengatakan, pengadaan pesawat tempur Sukhoi dimungkinkan karena pemerintah Rusia siap menyediakan berapa pun jumlah pesawat tempur itu sesuai dengan permintaan Indonesia.

Menhan Purnomo juga menambahkan, selain pesawat Sukhoi, Kementerian Pertahanan bersama Mabes TNI serta Mabes TNI AU juga akan membeli jenis-jenis pesawat lainnya seperti F-16 serta pesawat pengganti Hawk dari Australia.

Sementara itu, ketika ditanya tentang senjata di pesawat Sukhoi, Menhan mengakui bahwa ketiga pesawat Sukhoi terakhir itu memang tidak dilengkapi senjata rudal.

Hal itu, katanya, antara lain disebabkan karena pabrik senjata berbeda dengan pabrik Sukhoi itu sehingga tidak menjadi satu paket.

Namun Purnomo menegaskan, sekali pun Sukhoi tidak dilengkapi dengan rudal, TNI kini sudah memesan bom dari Turen, Jawa Timur.

Di Turen, Malang, terdapat pabrik amunisi milik PT Pindad yang mempunyai spesialisasi untuk menghasilkan amunisi dan senjata.

ANTARA News

Jangan Biarkan Kebanggaan Itu Semu...


Layar KRI Dewaruci terkembang penuh sesaat setelah tiang layar utama yang nyaris patah selesai diperbaiki. Gambar diambil di Laut Mediterania, pertengahan bulan September lalu. (Foto: KOMPAS/C Wahyu Haryo PS)

27 September 2010 -- ”Bisa mengawaki KRI Dewaruci rasanya seperti mimpi. Sejak lama saya mengidamkan ada di kapal ini, tetapi tidak terbayang sama sekali kalau akhirnya mimpi itu terwujud.”

Suaranya terdengar bergetar, sudut matanya berkaca-kaca. Terpancar rasa haru, senang, sekaligus bangga dari benak Letnan Satu Laut (Pelaut) Chusnul Hidayat kala mengucapkan kalimat tersebut.

Semburat cahaya jingga yang mengantar mentari kembali ke balik cakrawala, Sabtu (11/9) petang, serasa mengamini suara hati Chusnul itu. Saat itu, KRI Dewaruci yang kami tumpangi juga mengangguk-angguk mengikuti alunan ombak Laut Mediterania.

Bagi Chusnul, mengawaki KRI Dewaruci tidak hanya berarti berkesempatan pergi ke luar negeri, menambah wawasan baru dari belahan dunia lain, serta memiliki kawan di luar negeri. ”KRI Dewaruci begitu melegenda dan terkenal di dunia. Kapal ini sudah berkali-kali mengarungi samudra, keliling dunia, singgah, dan bertemu dengan banyak orang di luar negeri,” ujarnya berapi-api.

KRI, singkatan dari Kapal Perang Republik Indonesia, Dewaruci adalah kapal layar yang digunakan sebagai kapal latih taruna Akademi Angkatan Laut Surabaya. Bulan-bulan ini kapal ini berkeliling dunia untuk mengikuti sejumlah lomba berlayar internasional sekaligus melatih kadet TNI AL. Wilayah-wilayah yang disinggahi di antaranya adalah Le Havre (Perancis), Antwerp (Belgia), Hartlepool (Inggris), Cherboug (Perancis), hingga Amsterdam (Belanda). Dalam Sail 2010, misalnya, KRI Dewaruci meraih penghargaan sebagai ”The Most Spectacular Entry Harbour in Amsterdam”.

Tentang KRI Dewaruci yang tersohor di seantero dunia, hal itu tidaklah berlebihan. Setidaknya, dalam pelayaran di Eropa yang saya ikuti selama hampir tiga minggu sejak pertengahan Agustus lalu, saya menyaksikan orang-orang dari sejumlah negara begitu antusias menyambut dan mengunjungi KRI Dewaruci. Orang dari sejumlah negara itu tentu tidak hanya mengagumi KRI Dewaruci yang berusia 58 tahun itu.

Mereka ternyata juga kagum dengan ketangguhan awak KRI Dewaruci yang berani menantang maut, mengarungi ganasnya samudra di berbagai penjuru dunia. Apalagi awak KRI Dewaruci menggunakan kapal yang boleh dibilang sudah cukup tua. KRI Dewaruci dibuat pada tahun 1952 di galangan kapal HC Stulchen & John Ship Hamburg, Jerman.

Saya pun menyaksikan kegigihan awak KRI Dewaruci menghadapi badai Laut Utara Eropa, mengatasi kebocoran kapal, serta memperbaiki tiang layar utama yang nyaris patah.

Tidak salah jika taruna-taruna Akademi Angkatan Laut pun menjalani pelatihan kebaharian di KRI Dewaruci. Mereka yang nantinya menjadi perwira TNI AL, garda terdepan dalam menjaga wilayah perairan Indonesia, memang seharusnya ditempa di KRI Dewaruci.

Ada sekitar 80 taruna yang menjalani pelatihan tahun ini berlayar bersama KRI Dewaruci. Di kapal itu mereka mempraktikkan ilmu pengetahuan yang selama ini didapatkan di akademi. Mulai dari pengetahuan astronomi, navigasi, komunikasi, mengendalikan kapal, hingga mengatasi keadaan darurat ataupun menyiapkan diri menghadapi musuh. Semua pelatihan itu dilakukan dengan disiplin ketat. Mental dan fisik taruna benar-benar digembleng di sana. Hampir semua kegiatan taruna terjadwal dan harus dijalani sungguh-sungguh.

Dengan kondisi demikian, tentu rasa rindu kepada keluarga di rumah menjadi demikian besar. Apalagi mereka harus melewatkan momen-momen bersejarah di dalam keluarga, seperti kelahiran anak, perkawinan kerabat, bahkan kematian anggota keluarga. Dalam pelayaran kali ini, setidaknya ada delapan anak dari awak KRI Dewaruci lahir.

”Hampir tiap hari saya memandangi foto putri pertama saya yang dikirim istri lewat MMS (layanan pesan multimedia),” kata Kepala Departemen Logistik KRI Dewaruci Letnan Satu Laut (Pelaut) Wasis Nindito.

Meski ditempa disiplin militer yang ketat, jangan dibayangkan pelaut yang mengawaki KRI Dewaruci itu adalah sosok yang sangar dan kaku. Justru sebaliknya, mereka adalah sosok pelaut yang ramah, mudah bergaul, dan mampu berkesenian cukup baik. Di tiap kota yang disinggahi, mereka selalu menerima dan meladeni percakapan dengan orang yang ingin berkunjung ke KRI Dewaruci. Mereka juga menampilkan beragam tarian dari Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua.

Misi yang diemban awak KRI Dewaruci memang tidak bisa dianggap remeh. Mereka menjadi duta bangsa, duta budaya, dan duta pariwisata. Lebih dari itu, mereka juga menjadi duta yang membina hubungan persahabatan dengan dunia internasional.

Kesejahteraan minim

Sungguh ironis ketika mengetahui kesejahteraan yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan risiko pertaruhan nyawa dan misi besar yang mereka sandang. Semula saya membayangkan, sepulang berlayar pastilah pelaut-pelaut ini mengantongi uang yang lumayan besar bagi anak istrinya. Nyatanya, uang berlayar yang mereka dapatkan hanya Rp 300.000-Rp 400.000 per bulan. Uang saku yang diberikan hanya saat bersandar berkisar Rp 3 juta per bulan.

Rasanya ingin menangis ketika menerima titipan uang dari sejumlah awak KRI Dewaruci. Uang itu sengaja dititipkan agar saat saya kembali ke Tanah Air bisa segera dikirimkan kepada keluarga mereka. Jumlahnya beragam, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga kurang dari Rp 2 juta. Saya tahu uang itu benar-benar dibutuhkan keluarga mereka karena sesaat setelah saya mendarat di Jakarta, salah seorang istri awak KRI Dewaruci menghubungi saya dan menanyakan uang titipan tersebut.

Apa yang dialami awak KRI Dewaruci boleh jadi merupakan cerminan kesejahteraan prajurit TNI AL secara keseluruhan. Jika demikian adanya, akankah kita membiarkan kebanggaan mereka sebagai pelaut ulung, bangsa yang mewarisi jiwa bahari dari negara kepulauan terbesar itu, sebagai sebuah kebanggaan yang semu?

KOMPAS

Kapal Perang Australia Undang Siswa


Seorang tentara angkatan laut Australia menjelaskan cara kerja senapan mesin kepada siswa SMP Darul Ulum I Jombang, Jawa Timur, di kapal perang HMAS Tobruk milik Australia yang bersandar di Dermaga Jamrud, Tanjung Perak, Surabaya, Senin (27/9). Sejumlah sekolah di Jawa Timur mengunjungi dua kapal perang milik Australia yakni kapal HMAS Tobruk dan HMAS Toowoomba yang bersandar selama tiga hari (25-28 September 2010). (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/mes/10)

26 September 2010, Surabaya -- Indonesia kembali menarik perhatian angkatan laut negara lain. Kali ini, Australia Royal Navy (RAN) ingin mengenal TNI-AL lebih dekat. Selama tiga hari, dua kapal perang negara tersebut, yakni HMAS Tobruk dan HMAS Toowoomba, berada di Surabaya untuk kegiatan sosial serta kunjungan kenegaraan. Selain itu, RAN akan saling bertukar ilmu pertahanan negara dengan TNI-AL.

Dua kapal berjenis landing ship heavy dan anzac class itu tiba di Pelabuhan Tanjung Perak pukul 10.00. Kapal-kapal yang berlayar dari Sydney tersebut membawa 298 personel. Saat merapat di Kota Pahlawan, rombongan langsung disambut tari remo dan sejumlah pejabat Lantamal V. Rencananya, mereka melakukan kunjungan ke Pangarmatim, Danlantamal V, wali kota Surabaya, dan berwisata.

Istimewanya, HMAS Tobruk juga akan melakukan open ship. Warga Surabaya, khususnya siswa sekolah, bisa blusukan ke kapal perang Australia itu pada Senin (27/9). Siswa dan guru bisa langsung berinteraksi dengan awak kapal yang dikomandoi Kolonel Paul Scott itu. ''Kami sangat berbahagia bisa datang ke Surabaya. Yang ingin lebih mengenal kami, silakan datang ke kapal,'' ujar Paul.

Dia menjelaskan, setelah dari Indonesia, rombongan akan melanjutkan kunjungan ke beberapa negara di Asia Tenggara lainnya. Namun, Indonesia menjadi prioritas karena hubungan TNI-AL dan RAN sangat kukuh. Apalagi, selama ini pihaknya telah bekerja keras untuk mengembangkan kemitraan di bidang keamanan, pelatihan, pendidikan, serta latihan kerja sama operasi.

Atase Pertahanan Australia Brigadir Jenderal Gary Hogan menambahkan, kerja sama maritim merupakan unsur kunci kesepakatan Indonesia dan Australia. Khususnya tentang kerangka kerja sama keamanan. Kunjungan kapal dan latihan bersama secara berkala diharapkan bisa memperkukuh hubungan yang telah dijalin. ''Juga, memungkinkan dua angkatan laut untuk beroperasi secara efektif bersama-sama,'' tegasnya.

Jawa Pos

BERITA POLULER