Pages

Saturday, September 25, 2010

SatGultor Den 81 Kopassus



Sat-81/Gultor
Sat-81/Gulto
Mengantisipasi maraknya tindakan pembajakan pesawat terbang era tahun 1970/80-an, Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI menetapkan lahirnya sebuah kesatuan baru setingkat detasemen di lingkungan Kopassandha. Pada 30 Juni 1982, muncullah Detasemen 81 (Den-81) Kopassandha dengan komandan pertama Mayor Inf. Luhut B. Panjaitan dengan wakil Kapten Inf. Prabowo Subianto. Kedua perwira tersebut dikirim untuk mengambil spesialisasi penanggulangan teror ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman dan sekembalinya ke Tanah Air dipercaya untuk menyeleksi dan melatih para prajurit Kopassandha yang ditunjuk ke Den-81.


Keinginan mendirikan Den-81 sebenarnya tidak terlepas dari peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok, 31 Maret 1981. Nah, pasukan yang berhasil membebaskan Woyla inilah yang menjadi cikal bakal anggota Den-81, dan belakangan diganti lagi jadi Satuan 81 Penanggulangan Teror (Sat-81 Gultor). Dari periode 1995­ - 2001, Den-81 sempat dimekarkan jadi Group 5 Antiteror.

Satuan yang ada di bawah kendali Sat-81 adalah Batalyon 811 dan Batalyon 812.

Secara organisatoris, Gultor langsung di bawah komando dan pengendalian Komandan Jendral Kopassus. Gultor saat ini dipimpin perwira menengah berpangkat kolonel. Proses rekrutmen prajurit Gultor dimulai sejak seorang prajurit selesai mengikuti pendidikan para dan komando di Batujajar. Dari sini, mereka akan ditempatkan di satuan tempur Grup 1 dan Grup 2, baik untuk orientasi atau 

mendapatkan pengalaman operasi.Sat-81/Gultor

Sekembalinya ke markas, prajurit tadi akan ditingkatkan kemampuannya untuk melihat kemungkinan promosi penugasan ke Satuan Sandi Yudha atau Satuan Antiteror. Untuk antiteror, pendidikan dilakukan di Satuan Latihan Sekolah Pertempuran Khusus Batujajar. Operasi terakhir terbilang sukses Den-81 yaitu saat pembebasan 26 sandera yang ditawan GPK Kelly Kwalik di Irian Jaya pada 15 Mei 1996. Namun Operasi Woyla masih menjadi satu-satunya operasi antiteror dalam skala besar yang dijalankan TNI hingga saat ini. Tidak jelas berapa jumlah prajurit Sat-81 Gultor saat ini.



Polri Siap Libatkan Tim Khusus TNI


0diggsdigg



Anggota Raider Kodam Iskandar Muda berlari usai meledakkan sebuah rumah yang digunakan teroris untuk menawan seorang pejabat. Ini merupakan simulasi penanganan terorisme.



Satuan komando TNI Angkatan Darat, Satuan-81 Penanggulangan Teror (Satgultor) mengikuti upacara penutupan latihan gabungan TNI/Polri di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (15/3/2010). Latihan gabungan berlangsung dari tanggal 11-13 Maret 2010 untuk menanggulangi berbagai ancaman aksi terorisme di Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan, pihaknya siap melibatkan pasukan khusus yang beranggotakan gabungan dari tiap angkatan di TNI untuk menangani terorisme. Menurut Kapolri, aksi kelompok teroris sudah menjadi musuh bersama.

Dikatakan Kapolri, tim khusus itu akan dikoordinasikan oleh Bandan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Anggota tim berasal dari Detasemen Bravo (Den Bravo-90) Angkatan Udara, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) Angkatan Laut, dan Detasemen Gultor (Den-81 Gurlor) Angkatan Darat.

"Akan ada penindakan pada momen-momen tertentu bila diperlukan. Kita akan bersama-sama pada striking force pada masa akan datang. Ini sudah musuh bersama yang tidak bisa dibiarkan," jelas Kapolri saat jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (24/9/2010).

Seperti diketahui, penanganan teroris selama ini menjadi tanggung jawab Polri dibawah Tim Densus 88 Anti Teror Polri. Namun, selama 10 tahun terakhir, kelompok teroris tidak pernah berhenti melakukan teror di berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 563 teroris ditangkap hidup, 44 terduga teroris tewas, dan 10 teroris tewas bunuh diri sejak tahun 2000.

Akibat aksi teroris dalam 10 tahun terakhir, 298 warga tewas dan 838 lainnya mengalami luka hingga cacat. Selain itu, 19 polisi tewas dan 29 lainnya luka berat. Terakhir, korban dari pihak Polri yakni tiga anggota yang tewas ditembak di Mapolsek Hamparan Perak, Sumatera Utara.


Sumber: KOMPAS

Black Phanter dan Elang Khatulistiwa Tiba di Iswahjudi



24 September 2010, Madiun -- ”Black Phanter” dari Skadron Udara 12 dipimpin langsung oleh Komandan Lanud Pekanbaru, Kolonel Pnb Nanang Santoso, S.E., dan ”Elang Khatulistiwa” dari Skadron Udara 1 Lanud Syamsudin Noor Pontianak yang dipimpin Komandan Skadron Udara 1, Letkol Pnb T.E. Migdiawan, tiba di Lanud Iswahjudi, Jum’at (24/9), yang selanjutnya akan melaksanakan latihan bersama terbang formasi/fly pass di Trainning Area Lanud Iswahjudi.

”Elang Katulistiwa” demikian panggilan Hawk 100/200 dari Skadron Udara 1 Lanud Syamsudin Noor Pontianak dan ”Black Panther” dari Skadron Udara 12 Lanud Pekan Baru, akan melaksanakan latihan terbang formasi di Lanud Iswahjudi hingga Rabu, (29/9) mendatang, yang selanjutnya akan bertolak ke Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, tempat dimana akan dilangsungkannya upacara peringatan ke 65 tahun HUT TNI.

Seperti yang disampaikan oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsma TNI Ismono Wijayanto, beberapa hari yang lalu, latihan bersama tersebut sebagai upaya untuk menyamakan waktu dalam hitungan ”second” pada saat melaksanakan fly pass/terbang formasi agar terlihat indah dan enak ditonton pada saat fly pass dihadapan Presiden RI nantinya.

Kedatangan pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Udara 1 dari Lanud Syamsudin Noor, Pontianak dan Skadron Udara 12 Lanud Pekan Baru, tersebut disambut langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi Marsma TNI Ismono Wijayanto, Danwing 3 Kolonel Pnb Andyawan M.P., serta para pejabat Lanud Iswahjudi, di shelter Skadron Udara 15.

Pentak Lanud Iswahjudi

Kapsul Soyuz Mendarat di Kazakhstan


0diggsdigg

illustrasi

Liputan6.com, Almaty: Setelah sempat tertunda, kapsul Soyuz yang membawa tiga awak kosmonot dari stasiun luar angkasa mendarat selamat di padang rumput Kazakhstan. Demikian dikatakan pejabat Rusia di Almaty, Kazakhstan, Sabtu (25/9).

Pejabat Rusia yang enggan disebutkan namanya mengatakan, pemulangan astronot asal Amerika Serikat Tracy Caldwell Dyson serta dua kosmonot Rusia Alexander Skvortsov dan Mikhail Kornienko sempat tertunda sehari dari jadwal. Penundaan terjadi karena kendala teknis yang dihadapi saat kapsul melakukan undocking.

Beberapa sumber menyebutkan, kesalahan sinyal dalam sistem komputerisasi pesawat menjadi penyebabnya. Sementara itu, puluhan helikopter Rusia terlihat terbang mengawal kapsul itu menjelang pendaratan.

Sumber: LIPUTAN 6

Latihan Bersama Kontingen UNIFIL Perancis dan AB Libanon



(Foto: Getty Images)

25 September 2010 – Angkatan Bersenjata Lebanon dan pasukan penjaga perdamaian dari Angkatan Laut Perancis mengadakan latihan bersama di pantai Maameltein, Jumat (24/9) atas permintaan UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) dan Kedutaan Besar Perancis di Lebanon.

Manuver melibatkan Angkatan Udara Lebanon, AL Lebanon, Pasukan Khusus AL Lebanon, Resimen Udara, dan Resimen Pertama Lapis Baja serta AL Perancis.

Perancis melibatkan kapal amphibi Foudre serta sejumlah helicopter.



Kapal perang AB Peranci dan Lebanon merapat ke pantai. (Foto: Getty Images)

Ranjau laut di ledakan saat latihan perang berlangsung. (Foto: Getty Images)

Berita HanKam

Friday, September 24, 2010

Kopassus dan SAS Latihan Bersama


0diggsdigg

illustrasi

Denpasar (ANTARA News) - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD dan SAS Australia akan melaksanakan latihan penanggulangan teror bersama di Bali dalam waktu dekat, kata Kepala Penerangan Komando Daerah Militer IX/Udayana, Letnan Kolonel Artileri I Kadek A Atmawijaya.

"Latihan ini telah dijadwalkan sejak beberapa lama lalu, bukan semata-mata karena ada potensi ancaman. Lebih baik kita selalu bersiap menghadapi keadaan terburuk, sehingga latihan semacam ini selalu dilakukan. Kali ini memang lokasi latihan di Bali," katanya kepada ANTARA, di Denpasar, Jumat siang.

Kontingen latihan anti teror yang terlibat meliputi Satuan Penanggulangan Teror 81 Komando Pasukan Khusus TNI-AD dari markas besarnya di Kawasan Cijantung, Jakarta Timur, dengan mitranya dari Special Air Service Australia.

Beberapa perwira kunci dari kedua satuan komando ini telah tiba di Denpasar sejak beberapa hari lalu dan tengah melakukan koordinasi lapangan serta penyamaan jalur komando.

Latihan anti teror di Bali ini, katanya, akan dilaksanakan di beberapa tempat. "Skenario persisnya belum kita tahu, namun dimulai dari Lapangan Nitimandala Renon, Denpasar, dan berakhir di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai," katanya.

Dalam skenario awal, latihan terpadu anti teror ini dimulai dengan informasi ancaman penyanderaan dan perusakan di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.

Personel-personel gabungan Indonesia dan Australia yang dipadukan dalam satu gugus tugas penanggulangan dan diberangkatkan ke titik ancaman melalui helikopter dari Dinas Penerbangan TNI-AD.

Setiba di lokasi yang dikuasai teroris, tim penanggulangan teror langsung beraksi dengan perlengkapan dan persenjataan yang telah disiapkan. Alhasil, kawanan teroris bisa digulung dan aksi terorisme itu dinyatakan dapat ditanggulangi.

"Bali telah dikenal sebagai tujuan wisata kelas dunia. Tanggung jawab kita bersama untuk mengamankannya, dalam hal ini kami melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi kami dan saat ini kami tengah bermitra dengan Angkatan Darat Australia."

Semula latihan bersama Komando Pasukan TNI-AD dan Special Air Service Australia ini dijadwalkan dilaksanakan sebelum kunjungan Presiden Amerika Serikat, Barack H Obama, pada Juni lalu.

Namun Obama membatalkan kunjungan ke Indonesia dan hingga kini belum disepakati saat persis kunjungan resmi itu dilakukan.

Antara SAS Australia dan Komando Pasukan Khusus TNI-AD memiliki beberapa kesamaan kualifikasi, di antaranya penanggulangan teror, operasi intelijen, operasi kontra intelijen, hingga sabotase atas instalasi vital pihak lawan.

Komando Pasukan Khusus TNI-AD tercatat juga pernah "mencicipi" kontak senjata langsung dengan SAS Inggris pada saat konfrontasi dengan Malaysia terjadi pada awal dasawarsa `60-an di hutan belantara Kalimantan Utara.

Sumber: ANTARA

Dubes: Pemerintah AS Akui Papua Bagian NKRI


0diggsdigg



New York (ANTARA News) - Pemerintah Amerika Serikat melalui "Deputy Assistance Secretary Department of State" Joe Yan mengatakan Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kata Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal.

"Posisi pemerintah AS adalah mengakui Papua sebagai bagian yang tak terpisahkan dari NKRI dan mengharapkan agar implementasi penuh otonomi khusus dapat segera dilaksanakan," kata Dino, di New York, Kamis atau Jumat waktu waktu Indonesia.

Hal tersebut dikatakan saat acara jumpa pers bersama media Indonesia dengan Wapres Boediono yang juga dihadiri oleh Menlu Marty Natalalegawa, Kepala BKPM Gita Wirjawan, serta Ketua Unit Kerja bidang Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto

Menurutnya, penegasan itu dilakukan mengingat pemerintah AS selalu mengikuti perkembangan terkait Provinsi Papua dan Papua Barat, termasuk laporan tentang tuduhan pelanggaran HAM di wilayah tersebut.

Penegasan serupa, katanya, juga dilakukan oleh Deputy Assistant Secretary of Defanse Robert Scher yang menyampaikan pentingnya hubungan RI-AS dengan menekankan Indonesia sebagai negara demokrasi terbsar ketiga telah melakukan reformasi bidang pertahanan dan profesionalisme militer.

Dubes mengatakan, AS menilai reformasi di tubuh TNI telah nyata sebagaimana direfleksikan pada fakta penyerahan kekuasaan dari militer kepada pemerintah sipil.

"Pemerintah AS yakin akan keseriusan pemerintah RImengubah organisasi TNI menjadi organisasi militer profesional. Dimasukkannya kurikulum HAM dalam pendidikan TNI merupakan bukti nyata upaya reformasi tersebut," katanya.

Penegasan pemerintah AS itu dilakukan terkait pada 22 September 2010 di Kongres ASberlangsung dengar pendapat mengenai Papua yang diprakarsai oleh Ketua Sub-Komite mengenai Asia, Pasifik dan Lingkungan Global Eni Faleomavaega dari Partai Demokrat.

Dalam dengar pendapat tersebut menghadirkan pejabat administrasi AS yang diwakili "Deputy Assistant Secretary East Asia Pacific Affairs dan Deputy Assistant Secretary of Defance for South East Asia Affairs".

Juga diikuti kalangan nonpemerintah yang diwakili oleh sejumlah LSM seperti "West Papua Action Network, Human Right Watch, serta The City University of New York".

Menurut dubes, dalam dengar pendapat tersebut para penentang otonomi khusus berusaha untuk menggugah simpati anggota kongres dengan menyampaikan pengalaman pribadi masing-masing terhadap perlakuan yang diklaim dari pemerintah dan aparat keamanan RI.

Kelompok tersebut berupaya untuk kembali mempertanyakan proses "Act of Free Choice" tahun 1969 yang dinilai tidak mencerminkan aspirasi rakyat Papua.

"Mereka juga menyatakan bahwa proses pelaksanaan otonomi khusus gagal, sehingga perlu dilakukan dialog dengan melibatkan mediasi pihak ketiga," katanya.

Dubes Dino meyakinkan bahwa masalah Papua tidak akan mengganggu hubungan bilateral Indonesia dan AS mengingat masalah tersebut saat ini sudah tidak lagi menjadi isu sangat penting.

Sumber: ANTARA

BERITA POLULER