Pages

Friday, September 24, 2010

PERLOMBAAN SENJATA Batas Itu Telah Tercapai?


0diggsdigg



Pesawat tempur F-22 Raptor milik Angkatan Udara AS terbang di atas Pangkalan Udara Kadena, Jepang, 24 Februari 2010. Departemen Pertahanan AS telah menghentikan pemesanan pesawat canggih ini karena harganya terlalu mahal dan tidak terpakai di medan tempur Irak dan Afganistan.

Dalam dunia persilatan dikenal pepatah di atas langit masih ada langit. Selama ini, pepatah tersebut seolah juga berlaku dalam perlombaan senjata di dunia. Namun, bahkan langit pun memiliki batas teratas.

Sebuah laporan di majalah The Economist edisi 28 Agustus ini mengungkap fakta, yang meski sudah bisa diduga dalam kondisi perekonomian dunia saat ini, tetapi tetap mengejutkan.

Negara-negara yang selama ini dikenal sebagai adidaya dalam hal militer, mulai memikirkan ulang strategi pengembangan persenjataan mereka karena biaya yang makin mencekik leher. Benarkah batas langit itu telah tercapai?

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Robert Gates telah memerintahkan penghentian produksi pesawat tempur F-22 Raptor, akhir tahun ini. Dengan demikian, total jumlah produksi pesawat tempur tercanggih itu hanya akan berhenti di angka 187 unit. Padahal, pada awal produksinya dulu, pesawat itu diperkirakan paling tidak akan diproduksi hingga 750 unit.

Di Eropa, pesanan untuk pesawat Eurofighter Typhoon, yang dikembangkan Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol, juga merosot. Hal yang sama juga dikhawatirkan terjadi pada proyek pesawat F-35 Joint Strike Fighter (JSF) yang dikembangkan bersama antara AS dan Eropa.

Krisis keuangan dunia, perubahan ancaman konflik global, hingga kemajuan teknologi sendiri menjadi beberapa faktor yang memicu negara-negara maju tersebut memikirkan ulang strategi militer mereka, termasuk dalam hal kelengkapan senjata.

Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg, minggu ini, mengumumkan akan memangkas jumlah personel angkatan bersenjatanya, dari sekitar 247.000 personel menjadi hanya sekitar 165.000 personel. Rencana ini adalah bagian dari rencana Jerman untuk menghemat anggaran pertahanan hingga sebesar 8,3 miliar euro (Rp 95,8 triliun) hingga 2014.

Keterbatasan

Menurut Guttenberg, pihaknya akan berkonsentrasi pada pengembangan pasukan yang kecil, tetapi berkualitas lebih baik dan lebih operasional.

Langkah serupa juga dilakukan Inggris, yang berencana memotong belanja pertahanan 10-20 persen dalam lima tahun mendatang. Spanyol juga menyatakan akan mengurangi hingga 9 persen dan Italia 10 persen.

Karena keterbatasan anggaran pertahanan, saat ini Perancis hanya mengoperasikan satu kapal induk, yakni kapal induk Charles de Gaulle. Inggris juga hanya mempertahankan dua kapal induk berukuran sedang, yakni HMS Invincible dan HMS Ark Royal, tetapi menurut The Economist, dua kapal tersebut sering berlayar tanpa membawa pesawat.

Di belahan lain Eropa, Belanda telah menghentikan program pengintaian maritim, Denmark telah meninggalkan armada kapal selamnya, dan negara- negara Baltik tidak lagi memiliki angkatan udara (AU) yang bisa diandalkan kecuali mengandalkan pesawat-pesawat dari sekutu NATO untuk mengamankan ruang udara mereka.

Amerika sendiri, sebagai pemimpin dan patron Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), kewalahan mengelola pengeluaran militernya meski dengan anggaran pertahanan sebesar 700 miliar dollar AS per tahun (sekitar Rp 6,3 kuadriliun, atau hampir setara dengan anggaran pertahanan negara sedunia digabung jadi satu).

Gates mengatakan, ia akan mengurangi sedikitnya 50 perwira tingginya untuk menghemat biaya. Saat ini, angkatan bersenjata AS memiliki lebih dari 900 perwira tinggi setingkat jenderal dan laksamana. Selain itu, ia juga akan menghapus komando gabungan angkatan (joint-forces command), memotong anggaran para kontraktor, dan mengurangi staf di kantor departemen pertahanan sendiri.

Masalah biaya ini juga disebut-sebut menjadi salah satu alasan percepatan penarikan mundur pasukan AS dari Irak, khususnya untuk memusatkan tenaga dan biaya bagi perang di Afganistan.

Makin tinggi


Wajar saja negara-negara ini mengeluhkan anggaran pertahanan karena harga dan biaya perawatan persenjataan terbaru saat ini sama sekali tidak bisa dibilang murah, bahkan untuk ukuran kocek mereka.

Harga pesawat F-22 Raptor saat ini mencapai 160 juta dollar AS (Rp 1,4 triliun) per unit, atau 350 juta dollar AS (Rp 3,2 triliun) per unit jika termasuk ongkos pengembangan pesawat itu ke depan. Bandingkan dengan harga pendahulunya, F-16 Fighting Falcon, yang ”hanya” 50 juta-60 juta dollar AS (Rp 450 miliar) per unit.

Harga pesawat pengebom siluman B-2 Spirit lebih tinggi lagi, yakni sekitar 2 miliar dollar AS (hampir Rp 18 triliun) per unit. Itu sebabnya, AU AS akhirnya hanya membeli 20 unit B-2 dari total 132 unit yang direncanakan sebelumnya.

Harga pesawat (dan senjata berteknologi tinggi lain, seperti kapal perang) ini dari generasi ke generasi akan terus meningkat seiring dengan makin mahalnya teknologi yang harus dicangkokkan ke dalamnya. Peningkatan harganya bahkan disebut jauh di atas laju inflasi atau pertumbuhan produk domestik bruto negara produsen.

Dalam sebuah analisis, pakar industri penerbangan AS, Norman Augustine, pernah membuat ekstrapolasi harga pesawat tempur ini berdasarkan tren yang terjadi saat ini, dan kesimpulannya: ”Pada tahun 2054 seluruh anggaran pertahanan hanya cukup untuk membeli satu pesawat.”

Tidak terpakai

Selain mahal, pesawat-pesawat berteknologi tinggi ini belum tentu terpakai di medan perang yang sesungguhnya. Dalam rapat dengan Komisi Angkatan Bersenjata Senat AS dua tahun lalu, Gates mengatakan, F-22 Raptor belum pernah terpakai dalam satu misi pun selama perang di Irak dan Afganistan.

”Faktanya, kita saat ini menghadapi dua perang, di Irak dan Afganistan, dan pesawat F-22 itu belum pernah terpakai di satu misi pun dalam dua perang tersebut,” ungkap Gates, seperti dikutip majalah Time (www.time.com, 7 Februari 2008).

Alih-alih, para perwira tinggi militer AS di lapangan justru mengaku puas dengan performa pesawat tak berawak (drone atau UAV, unmanned aerial vehicle), yang berharga beberapa kali lebih murah dan tidak berisiko menewaskan pilot, dalam menghadapi gerilyawan Taliban di Afganistan dan perbatasan Pakistan.

Kekuatan udara AS memang tak terkalahkan dan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan invasi ke Irak pada tahun 2003. Namun, begitu pasukan darat AS menduduki Irak selama 7,5 tahun kemudian, mereka tak mampu mengendalikan sepenuhnya kondisi di dalam negeri Irak sampai misi perang dihentikan hari Selasa (31/8) lalu.

Zaman memang sudah berubah sejak era Perang Dingin berakhir. Dulu, dalam konteks mencari perimbangan kekuatan, terjadi perlombaan senjata, baik dalam hal teknologi maupun jumlah, antara Blok Barat dan Blok Timur.

Kini, tanpa F-22 dan B-2 pun, kekuatan udara AS sudah tak ada yang menandingi di dunia ini, apalagi ”sekadar” untuk menyerang negara dunia ketiga, seperti Irak atau Afganistan.

Fakta terbaru ini mengingatkan, dalam perang, keunggulan teknologi dan anggaran melimpah belum tentu menjadi faktor penentu kemenangan.

Sumber: KOMPAS

Indonesia Akan Miliki FBI dan CIA Tangani Teroris


0diggsdigg

Densus 88 sedang menjaga tiga terduga teroris Medan yang dibawa ke RS Polri Soekanto, Jakarta, Rabu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pembentukan badan penanggulangan terorisme yang terintegrasi dari Polri dan TNI saat ini sedang digodok di Kementrian Pertahanan. Nantinya, badan ini akan memiliki tugas seperti FBI (Federal Bureau of Investigation) dan CIA (Central Intelligence Agency).

"Badan tersebut berbentuk pasukan khusus yang terdiri dari berbagai angkatan dalam TNI dan Polri,"kata Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Agus Suhartono saat fit and proper test calon Panglima TNI di Komisi I DPR, Jakarta, Kamis (23/9/2010).

Menurut Agus, diperlukan penggiatan dalam penanganan terorisme. Karena itu, badan khusus ini akan memiliki intelejen, penanggulangan, dan penyelesaian hukumnya sendiri.

Nantinya, dalam badan tersebut Polri diturunkan sebagai pengintai seperti FBI, BIN dipersiapkan seperti CIA, dan TNI sebagai special force-nya. "Itu konsep yang sedang kami bahas,"ujarnya.

Saat ini diakui bahwa sudah hampir memasuki tahap kritis. Tetapi, sesuai dengan undang-undang TNI belum bisa masuk keranh tersebut dan dianggap polisi masih mampu menghadapi bahaya terorisme. "TNI akan turun apabila diminta polisi. Itu undang-undangnya," ujar Agus.

Sumber: TRIBUN

Pabrik Pesawat Embraer Bidik Indonesia

0diggsdigg

Embraer 170

Jakarta ( Berita ) : Pabrik pesawat jet ternama dunia, dari Brazil, Embraer akan memfokuskan diri untuk penjualan pesawat jet komersial di wilayah Asia Pasifik terutama Indonesia karena pasar masih sangat menjanjikan di masa depan.

Executive Vice President untuk jet eksekutif, Embraer, Luis Carlos Affonso dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis [23/09] mengatakan, Embraer mempertimbangkan pertumbuhan potensial dalam lalu lintas udara global, khususnya di Asia Tenggara.

Untuk tiga tahun kedepan, pertumbuhan lalu lintas global akan meningkat sebesar 4,9 persen, ujarnya. Pertumbuhan terbesar masih tetap dialami oleh China sebesar 7,3 persen, namun secara keseluruhan untuk China dan Asia Pasifik termasuk Indonesia akan mewakili lebih dari dua pertiga lalu lintas udara global pada 029.

Dalam penerbangan nonstop pertamanya dari Mumbai, India ke Airport Luton London (LTN), Inggris, Lineage 1000 menempuh jarak 4.015 nautical miles (7.435 km) dalam waktu 9 jam dan 15 menit. Jarak ini sama dengan jarak 4.400 nautical miles (8.149 km ) tanpa angin halus, katanya.

Luis Carlos Affonso mengatakan, perusahaan dengan jet eksekutif berukuran besar khusus demontrasi Lineage 1000, telah menunjukkan pencapaian yang luar biasa terhadap dunia penerbangan dan merasa bangga dengan pencapai penerbanan jarak jauh oleh jet Embraer.

Terbukti para pelanggan memberikan apresiasi atas gabungan daya jarak tempuh dan kenyamanan yang ditawaran Lineage 1000. khususnya bagi kedua kota tersebut yang menghubungkan pasar benua Asia dengan Eropa, katanya.

Penerbangan tersebut berjalan dengan memenuhi seluruh persyaratan atas cadangan bakar dari Direktorat Jenderal Penerbanbgan sipil India (DGCA) dengan tujuh orang penumpang-tiga orang kru kabin dan empat orang dalam sebuah Lineage 1000 berperalatan standar.

Melalui jalur penerbangan antar dua kota ini, para pemilik penumpang maupun penerbangan potensial untuk pesawat jet berukuran sangat besar yang sangat modern dan mewah.

Sumber: BERITA SORE

Russia delivers three Mi-35M helicopters to Indonesia


0diggsdigg


Russia has delivered three Mi-35M Hind assault helicopters to Indonesia, a military source said on Thursday.

Russia signed an agreement with Indonesia in September 2007 to provide a $1 billion credit line to the Southeast Asian country for Russian weapons purchases. Indonesia planned to buy ten Mi-17 transport helicopters, five Mi-35Ms, six Sukhoi fighters and two Kilo-class submarines financed by the credit.

Jakarta became one of Russia's major arms customers in 1999 when the United States tightened an embargo on arms sales to the country over alleged human rights violations.

Washington has since lifted the ban, but Indonesia, the world's most populous Islamic country, continues to turn to Russia for its military hardware imports.

Moscow has already delivered three Su-27SKM fighters to Indonesia as the final part of an August 2007 $300 million deal for six of the Sukhoi fighters.

The agreement followed a 2003 deal on the purchase of four fighter jets by Indonesia from Russia.

The planes will take part in a military parade dedicated to Indonesian Armed Forces Day on October 5.

The Mi-35M is an export version of the Mi-24 Hind that was used extensively in Afghanistan. The Mi-24/35 can be used for transportation, assault and medical evacuation tasks.

Russia has also delivered Mi-35Ms helicopters to Venezuela and Brazil.

From: RIA

Thursday, September 23, 2010

Ahmadinejad Tuding AS Dalangi Serangan 11 September


Rita Uli Hutapea - detikNews


AFP
New York - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Dalam pidatonya di sidang Majelis Umum PBB di New York, Ahmadinejad mengklaim bahwa mayoritas bangsa AS meyakini pemerintah AS berada di balik serangan teroris 11 September 2001 di AS.

Tak ayal lagi, pernyataan Ahmadinejad itu menimbulkan kekesalan para diplomat AS dan negara-negara Barat lainnya. Delegasi AS dan sejumlah delegasi negara-negara Eropa langsung bangkit meninggalkan ruang sidang.

Dalam pidatonya, Ahmadinejad mencetuskan ada sejumlah teori mengenai apa yang terjadi pada 11 September 2001. Salah satu teori, menurut Ahmadinejad, adalah sebuah kelompok teroris melakukan serangan itu dan pemerintah AS memanfaatkannya untuk melancarkan perang di Timur Tengah.

Teori lainnya, pemerintah AS mendalangi serangan itu untuk menyelamatkan rezim Zionis.

"Kedua: bahwa beberapa segmen dalam pemerintahan AS mengatur serangan itu untuk membalikkan perekonomian Amerika yang menurun dan cengkeramannya pada Timur Tengah guna menyelamatkan rezim Zionis," ujar Ahmadinejad.

"Mayoritas rakyat Amerika serta sebagian besar negara dan politikus di seluruh dunia setuju dengan pandangan ini," cetus Ahmadinejad seperti dilansir News.com.au, Jumat (24/9/2010).

Mendengar statemen itu, sontak saja delegasi AS bangkit dari kursi mereka dan langsung pergi meninggalkan ruang sidang. Aksi walkout ini juga diikuti beberapa delegasi negara-negara Eropa.

Dalam pidatonya, Ahmadinejad juga mengusulkan agar PBB melakukan penyelidikan independen atas serangan teroris tersebut. Sehingga di masa mendatang, sah-sah saja untuk mengungkapkan pandangan mengenai peristiwa itu.

Ironisnya, sebelum pidato Ahmadinejad, Presiden AS Barack Obama menyampaikan pidato yang bernada konsiliasi terhadap Iran. Dalam pidatonya di sidang tahunan PBB itu, Obama mengatakan, negara-negara besar tetap menginginkan dialog dengan Teheran soal program nuklirnya.

Namun hanya beberapa jam kemudian, Ahmadinejad justru membalas pidato Obama itu dengan kata-kata yang menimbulkan kekesalan AS.

(ita/nrl)

detik 

Alquran dan Injil


Rita Uli Hutapea - detikNews


Foto: GETTY
New York - Pidato Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam sidang tahunan Majelis Umum PBB menimbulkan aksi walkout para delegasi AS, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Para diplomat Barat tersebut meninggalkan ruang sidang setelah Ahmadinejad mencetuskan spekulasi bahwa pemerintah AS mendalangi serangan teroris 11 September 2001.

Saat berpidato di markas besar PBB, Ahmadinejad memegang kitab suci Alquran dan Injil. Pemimpin republik Islam itu menyinggung tentang rencana pembakaran Alquran oleh sebuah gereja di Florida, AS guna memperingati serangan 11 September. Gereja tersebut pada akhirnya membatalkan rencana pembakaran Alquran.

Menurut Ahmadinejad, ancaman pembakaran Alquran tersebut merupakan perbuatan "setan". Dengan memegang kedua kitab suci itu, Ahmadinejad mengatakan, "kebenaran tidak bisa dibakar".

Ahmadinejad seperti diberitakan News.com.au, Jumat (24/9/2010), juga menuturkan bahwa rakyat Iran menghormati kedua kitab suci dan agama tersebut.

Dalam pidatonya, Ahmadinejad juga mencetuskan ada sejumlah teori mengenai apa yang terjadi pada 11 September 2001. Salah satu teori, menurut Ahmadinejad, adalah sebuah kelompok teroris melakukan serangan itu dan pemerintah AS memanfaatkannya untuk melancarkan perang di Timur Tengah.

Teori lainnya, pemerintah AS mendalangi serangan itu untuk menyelamatkan rezim Zionis.

"Kedua: bahwa beberapa segmen dalam pemerintahan AS mengatur serangan itu untuk membalikkan perekonomian Amerika yang menurun dan cengkeramannya pada Timur Tengah guna menyelamatkan rezim Zionis," ujar Ahmadinejad.

"Mayoritas rakyat Amerika serta sebagian besar negara dan politikus di seluruh dunia setuju dengan pandangan ini," cetus Ahmadinejad.

Mendengar statemen itu, sontak saja delegasi AS bangkit dari kursi mereka dan langsung pergi meninggalkan ruang sidang. Aksi walk out ini juga diikuti para delegasi negara-negara Eropa.

Para pemimpin dan diplomat dari 192 negara saat ini berkumpul di markas besar PBB di New York untuk mengikuti sidang tahunan Majelis Umum PBB.
(ita/nrl)

detik 

Kapal AL Australia akan Merapat di Makassar


0diggsdigg


MAKASSAR--MI: Dua kapal milik Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy) HMAS Success dan HMAS Arunta akan merapat di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, umat (24/9).

Kunjungan dua kapal AL Australia tersebut sebagai bagian dari kunjungan persahabatan ke kawasan di Indonesia, demikian siaran pers dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta yang diterima di Makassar, Kamis (23/9).

Selain kunjungan ke Makassar, dua kapal AL Australia lainnya yakni HMAS Tobruk dan HMAS Toowoomba juga akan merapat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 25 September 2010 untuk kunjungan serupa.

Selama kapal AL Australia berada di Makassar dan Surabaya, perwakilan media massa diberi kesempatan meliput dan melakukan wawancara dengan Komandan Kapal.

Selain itu, Media massa juga diberi kesempatan meliput kunjungan siswa-siswi sekolah persahabatan Australia-Indonesia (Bridge) ke Kapal di Makassar dan Surabaya.

Di Makassar, kunjungan siswa-siswi itu berlangsung 25 September dan di Surabaya 27 September 2010.

Program Bridge Australia-Indonesia adalah salah satu cara mempererat persahabatan yang telah berlangsung antara sekolah dari kedua negara.

Sumber: MEDIA INDONESIA

BERITA POLULER