Pages

Sunday, February 8, 2026

Tak Gentar Hadapi Jet Siluman, Sistem Rafale F4 Indonesia Ini bakal Ditakuti Pilot F-35B Singapura

Rafale



Persaingan supremasi udara di kawasan Asia Tenggara memasuki babak baru yang sangat mendebarkan setelah Singapura mengonfirmasi kedatangan jet tempur siluman generasi kelima mereka.

Dikutip dari Defence Security Asia, Singapore to Receive First F-35B Stealth Fighters by End-2026 as RSAF Enters Fifth-Generation Airpower Era, 7 Februari 2026, negara tetangga tersebut akan segera mengoperasikan F-35B yang memiliki kemampuan lepas landas pendek dan mendarat vertikal.

Di sisi lain, Indonesia tidak tinggal diam dengan mendatangkan Rafale F4 dari Perancis yang sering dijuluki sebagai jet tempur "omnirole" terbaik di kelasnya saat ini.

Pertanyaan besar yang kini menghantui para pengamat militer adalah apakah Rafale F4 milik TNI Angkatan Udara mampu meladeni F-35B Singapura dalam simulasi pertempuran jarak jauh atau Beyond Visual Range (BVR).

Banyak orang berasumsi bahwa jet siluman akan selalu menang karena tidak terlihat oleh radar, namun dunia peperangan udara jauh lebih kompleks daripada sekadar angka di atas kertas.

F35


F-35B mengandalkan radar AN/APG-81 AESA yang dianggap sebagai salah satu radar paling canggih di dunia dengan kemampuan pemindaian yang sangat cepat dan presisi tinggi.

Dikutip dari Simple Flying, The Ultimate Guide To The F-35 Lightning II's Advanced Sensor Suite, 3 Mei 2024, radar ini mampu mendeteksi target dari jarak yang sangat jauh tanpa memancarkan sinyal yang mudah dilacak oleh musuh.

Teknologi ini memungkinkan F-35B untuk melihat musuh terlebih dahulu dan menembakkan rudal sebelum keberadaannya sendiri terdeteksi oleh radar lawan.

Namun, Rafale F4 membawa radar RBE2 AESA yang telah ditingkatkan secara signifikan untuk mendeteksi target dengan radar cross section (RCS) yang sangat kecil.

Dikutip dari Army Recognition, New Rafale fighter jet F4.3 Tested in Multi Domain Scenarios to Validate System Enhancements, 30 Juli 2025, radar ini dikombinasikan dengan algoritma pemrosesan sinyal terbaru yang dirancang khusus untuk menghadapi ancaman pesawat siluman.

Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada cara mereka beroperasi, di mana F-35B mengandalkan kejutan sementara Rafale mengandalkan ketajaman sensor yang berlapis.

Perisai Elektronik SPECTRA: Senjata Rahasia Jet Perancis

Kekuatan utama Rafale yang sering membuat pilot F-22 dan F-35 waspada bukanlah radarnya, melainkan sistem peperangan elektronik terintegrasi yang disebut SPECTRA.

SPECTRA adalah kependekan dari Self-Protection Equipment to Counter Threats for Rafale Aircraft yang berfungsi sebagai perisai sekaligus mata tambahan bagi sang pilot.

Sistem ini mampu mendeteksi, mengidentifikasi, dan melokalisasi ancaman elektromagnetik dengan akurasi yang sangat tinggi tanpa perlu menyalakan radar aktif.

Dikutip dari Thales Group, SPECTRA: Electronic Warfare suite for survivability of the Rafale combat aircraft, sistem ini dapat menciptakan "zona buta" bagi radar lawan melalui teknik gangguan sinyal atau jamming yang sangat canggih.

Hal inilah yang menjadi kunci bagi Rafale Indonesia untuk mengimbangi teknologi siluman F-35B Singapura dalam pertempuran jarak jauh.

Secara teori, jika SPECTRA mampu menangkap emisi radar dari F-35B, Rafale dapat mengetahui posisi pesawat siluman tersebut meskipun ia tidak muncul secara jelas di layar radar konvensional.

Strategi Deteksi Pasif Melawan Teknologi Siluman

Jet tempur siluman seperti F-35B dirancang untuk memantulkan gelombang radar ke arah lain, sehingga radar aktif akan kesulitan menangkap pantulannya.

Namun, setiap pesawat tempur tetap memancarkan panas dari mesinnya dan emisi elektronik dari sistem komunikasinya.

Rafale F4 dilengkapi dengan sensor Optronique Secteur Frontal (OSF) yang berfungsi seperti teleskop infra merah berkekuatan tinggi.

OSF memungkinkan pilot Rafale untuk mendeteksi target berdasarkan jejak panas mesin sejauh puluhan kilometer tanpa mengeluarkan sinyal radar sedikit pun.

Dalam skenario BVR, Rafale dapat terbang dalam mode "senyap" dan menggunakan OSF untuk mencari tanda-tanda panas dari F-35B yang sedang berpatroli.

Dikutip dari Omnirole Rafale, L’Optronique Secteur Frontale du Rafale, sensor ini memberikan keunggulan taktis yang luar biasa karena musuh tidak akan pernah tahu bahwa mereka sedang dikunci oleh sensor pasif.

Duel Rudal Jarak Jauh: Meteor Melawan AMRAAM

Pertempuran BVR tidak akan lengkap tanpa membahas senjata pamungkas yang dibawa oleh kedua pesawat ini di bawah sayap mereka.

Rafale F4 Indonesia akan dipersenjatai dengan rudal Meteor yang memiliki teknologi ramjet sehingga mampu melesat dengan kecepatan tinggi hingga akhir lintasan

Dikutip dari MBDA Systems, Meteor, rudal ini memiliki zona "no-escape" terbesar dibandingkan rudal udara-ke-udara lainnya di dunia.

F-35B Singapura umumnya mengandalkan rudal AIM-120D AMRAAM yang juga sangat mematikan dan memiliki jangkauan yang sangat jauh.

Meskipun AMRAAM sangat canggih, teknologi motor roket konvensionalnya akan kehilangan energi di akhir jarak tempuhnya, berbeda dengan Meteor yang terus dipacu oleh mesin ramjet.

Dalam duel jarak jauh, rudal Meteor memberikan peluang lebih besar bagi Rafale untuk menghancurkan target yang mencoba melakukan manuver menghindar di menit-menit terakhir.

Kesenjangan Generasi atau Perbedaan Doktrin?

Banyak pihak berargumen bahwa Indonesia tertinggal satu generasi karena tetap memilih pesawat generasi 4,5 daripada langsung beralih ke generasi kelima.

Namun, pilihan ini mencerminkan doktrin pertahanan Indonesia yang lebih mengutamakan kedaulatan data dan kemandirian operasional.

Dikutip dari Defence Security Asia, Indonesia Takes Delivery of First Rafale B Jets: A Landmark Shift in Southeast Asia’s Air-Power Balance, 2 Desember 2026, pembelian Rafale memberikan akses penuh kepada Indonesia untuk mengintegrasikan senjata lokal tanpa hambatan protokol ketat dari Amerika Serikat.

Singapura, dengan F-35B mereka, mendapatkan teknologi paling mutakhir namun harus terhubung erat dengan sistem logistik global yang dikendalikan secara pusat oleh produsennya.

Rafale F4 dirancang sebagai pesawat transisi yang memiliki banyak fitur generasi kelima di dalam tubuh pesawat yang lebih mudah dirawat dan dioperasikan.

Indonesia tidak benar-benar tertinggal, melainkan memilih alat yang lebih fleksibel untuk menjaga wilayah kepulauan yang sangat luas dan beragam tantangannya.


Dalam sebuah simulasi pertempuran udara, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi siluman paling hebat.

Kemenangan ditentukan oleh siapa yang mampu mengintegrasikan sensor, senjata, dan taktik tempur dengan paling efisien di medan perang yang kacau.

F-35B Singapura memiliki keunggulan dalam hal serangan kejutan dan kecanggihan sensor fusion yang tak tertandingi saat ini.

Namun, Rafale F4 Indonesia dengan sistem SPECTRA dan rudal Meteor adalah predator yang sangat berbahaya bagi pesawat siluman mana pun yang berani masuk ke jangkauan tembaknya.

Kedua pesawat ini membuat peta kekuatan udara di Asia Tenggara menjadi sangat seimbang, di mana tidak ada satu pihak pun yang bisa menang dengan mudah tanpa pengorbanan besar.

Pada akhirnya, kualitas pilot dan dukungan infrastruktur darat akan menjadi faktor penentu utama dalam duel maut antara dua raksasa udara ini. ***


Sumber: zona jakarta,Defence Security Asia, Simple Flying, Thales Group, MBDA Systems, Omnirole Rafale, Army Recognition

Sumber: Defence Security Asia, Simple Flying, Thales Group, MBDA Systems, Omnirole Rafale, Army RecognitionSumber: Defence Security Asia, Simple Flying, Thales Group, MBDA Systems, Omnirole Rafale, Army RecognitionSumber: Defence Security Asia, Simple Flying, Thales Group, MBDA Systems, Omnirole Rafale, Army Recognition




Friday, February 6, 2026

Indonesia akan memiliki Skadron Agresor MiG-29C/UB untuk pelatihan tempur udara?


Melalui unggahannya di Linkedin hari ini, perusahaan manufaktur pertahanan dan antariksa, PT E-System Solutions FZ (PT ESS) mengumumkan akan menyediakan Skadron Agresor yang sangat dibutuhkan untuk pelatihan tempur udara.

Dikatakan bahwa PT ESS bekerja sama dengan Leonardo untuk memodernisasi sistem pelatihan pesawat TNI AU dan unit helikopter TNI AD.



Langkah-langkah yang dilakukan antara lain adalah dengan pengadaan pesawat latih tempur M-346F Block 20 sebagai platform Lead-In Fighter Trainer (LIFT). Pesawat ini akan digunakan untuk melatih pilot muda agar siap menerbangkan pesawat generasi 4+ dan 5.



Yang kedua, adalah menyediakan Skadron Agresor pertama, sebagai skadron khusus untuk simulasi musuh (Aggressor Squadron) yang terdiri dari campuran pesawat MiG-29C/UB hasil modernisasi, dan target udara nirawak (Unmanned High Subsonic Aerial Target).

ang ketiga, adalah sistem pelatihan integrasi. Proyek ini mencakup simulasi darat penuh, dukungan logistik, dan integrasi teknologi digital untuk mengajarkan taktik pertempuran udara yang kompleks.

Langkah ini, tulis PT ESS, merupakan bagian dari rencana besar modernisasi pertahanan yang dimulai sejak masa kepemimpinan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto lima tahun lalu dan kini dilanjutkan oleh Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.

Hal ini menyoroti kebutuhan akan solusi sistem pelatihan lanjutan yang mampu melatih pilot muda secara efektif dan hemat biaya untuk menerbangkan dan mengembangkan taktik yang terkait dengan pengenalan fungsi tempur baru yang terkait dengan platform tempur canggih tersebut.

sumber Airspaceview



3 Jet Tempur Rafale Asal Prancis Tiba di Indonesia

Kedatangan Rafale ini menambah jajaran pesawat tempur TNI AU yang sebelumnya telah diisi oleh T-80, Hawk 100/200, Sukhoi Su-30, dan F-16.





SEBANYAK tiga unit pesawat tempur Rafale telah tiba di Indonesia dan kini ditempatkan di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Pesawat tempur buatan Prancis itu dianggap sebagai bagian dari penguatan alutsista pertahanan udara nasional.

Kepala Biro Informasi Pertanahan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan, ketiga pesawat tersebut merupakan bagian dari pengadaan tahap pertama atau Batch-1 dari total 42 unit Rafale yang dipesan pemerintah Indonesia. 

“Secara administratif dan teknis, proses serah terima telah diselesaikan,” kata Rico, Selasa, 27 Januari 2026.

Menurut dia, pengiriman berikutnya akan dilakukan secara bertahap sesuai kontrak dan kesiapan teknis kedua pihak. Seremoni penerimaan resmi pesawat tempur itu akan digelar kemudian dengan menyesuaikan agenda pimpinan nasional. “Saat ini Rafale ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin sesuai kebutuhan operasional,” kata dia. 

Kedatangan Rafale ini menambah jajaran pesawat tempur TNI AU yang sebelumnya telah diisi oleh T-80, Hawk 100/200, Sukhoi Su-30, dan F-16. Dikabarkan juga TNI AU dijadwalkan menerima tiga unit Rafale tahap kedua pada April 2026, sebelum pengiriman berlanjut hingga seluruh 42 unit terpenuhi.

Tercatat Kemhan telah memborong sebanyak 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Prancis setelah kontrak pembelian tahap ketiga untuk 18 unit terakhir efektif.

Kepala Biro Infohan Sekretariat Jenderal Kemhan yang kala itu dijabat Brigadir Jenderal Edwin Adrian Sumantha menyampaikan kontrak efektif itu menjadi dasar Dassault Aviation mulai memproduksi 18 unit terakhir jet tempur Rafale pesanan Indonesia.

"Kemenhan RI sebelumnya telah mengefektifkan kontrak pengadaan tahap pertama dengan Dassault Aviation pada September 2022 sejumlah enam unit dan Agustus 2023 sejumlah 18 unit. Totalnya pengadaan pesawat tempur Rafale oleh Kementerian Pertahanan RI berjumlah 42 unit," kata Edwin.

Pembelian jet tempur Rafale merupakan satu dari lima kerja sama baru di bidang pertahanan yang disepakati antara Menteri Angkatan Bersenjata Republik Prancis Florence Parly dan Prabowo yang saat itu masih menjadi menteri pertahanan pada Kamis, 10 Februari 2022. 

sumber tempo






Tuesday, December 30, 2025

KRI Balaputradewa-322

 


Indonesia telah mencapai tonggak penting dalam modernisasi angkatan lautnya dengan peluncuran fregat pertama kelas Merah Putih, yang akan beroperasi sebagai KRI Balaputradewa-322. Kapal ini dibuat oleh PT PAL berdasarkan desain Arrowhead 140 dari Babcock, Inggris.

Peluncuran dan penamaan KRI Balaputradewa-322 telah dilaksanakan pada , Bulan Desember 2025, di fasilitas PT PAL di Surabaya.

Proyek strategis Fregat Merah Putih (FMP) merupakan inisiatif utama Kementerian Pertahanan RI untuk memperkuat pertahanan maritim. Seluruh proses pengadaan dan pengembangan kapal ini dilakukan untuk memenuhi spesifikasi operasional ketat dari TNI Angkatan Laut sebagai penggunanya.

Visi strategis pertahanan negara tersebut didorong oleh Presiden RI Prabowo Subianto, termasuk saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI. Pelaksanaan proyek ini merupakan implementasi dari kemampuan industri pertahanan dalam negeri, khususnya PT PAL.

Dasar hukum proyek ini dimulai pada 16 September 2021 di London, Inggris. Saat itu, Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace menyaksikan penandatanganan kontrak produksi fregat Arrowhead 140, dengan penandatanganan oleh Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Jenod.

Fregat ini memiliki dimensi besar, mencapai panjang 140 meter dengan bobot sekitar 5.996 ton pada muatan penuh. Kapal dirancang sebagai platform multirole canggih yang mampu menghadapi berbagai skenario pertempuran.



Inti dari kemampuan serang dan pertahanan udara FMP adalah Sistem Peluncur Vertikal (VLS) 64 sel dari Roketsan, Turkiye. VLS ini memungkinkan kapal membawa campuran rudal strategis.

Rudal yang dapat diluncurkan mencakup rudal antipesawat jarak menengah dan rudal antikapal jarak menengah hingga jauh. Ini diharapkan menjadikannya benteng pertahanan udara yang tangguh.

Sebagai senjata utama di permukaan, FMP KRI Balaputradewa-322 dilengkapi dengan dua pucuk meriam Leonardo 76 mm. Kedua meriam ini terpasang di bagian depan kapal untuk memberikan dukungan tembakan dan serangan presisi.

Pertahanan jarak dekat (CIWS) FMP diperkuat oleh meriam Millennium 35 mm buatan Rheinmetall. CIWS ini sangat krusial untuk menangkis ancaman cepat seperti rudal antikapal dan Drone.

Melengkapi pertahanan titik, FMP juga membawa empat unit meriam kendali jarak jauh 12,7 mm. Meriam ini berfungsi untuk pertahanan terdekat terhadap sasaran asimetris.

Dalam peran antikapal selam, FMP dilengkapi dua tabung torpedo, masing-masing dengan tiga laras. Tabung torpedo yang digunakan adalah model Leonardo B515/3.

Kemampuan ASW didukung oleh sistem sonar canggih yang terpasang pada lambung kapal. Sonar ini adalah model Fersah 100-N/MF yang diproduksi oleh Aselsan dari Turkiye.

Seluruh sistem senjata dan sensor FMP dikendalikan oleh Sistem Manajemen Tempur (CMS) Advent. CMS berteknologi tinggi ini dikembangkan oleh perusahaan pertahanan Turkiye lainnya, yaitu Havelsan.

Berbagai sensor utama diintegrasikan ke dalam CMS Advent untuk memberikan kesadaran situasional lengkap. Salah satunya adalah radar AESA 2D Cenk 400-N, sebagai sensor pengawasan udara utama.

Sensor lain termasuk radar multifungsi Mete Han dan radar khusus kendali helikopter MAR-D. Akurasi penembakan didukung oleh radar kendali tembakan Akrep.

KRI Balaputradewa-322 ditenagai oleh empat mesin diesel dalam konfigurasi CODAD. Konfigurasi ini memungkinkan kombinasi daya yang efisien untuk berbagai kecepatan. 

FMP mampu mencapai kecepatan maksimum yang tinggi hingga 28 knot. Pada kecepatan jelajah yang ekonomis (15 knot), kapal ini memiliki jangkauan operasional yang luar biasa, mencapai 9.000 mil laut.

Sebagai kapal fregat berbobot besar, KRI Balaputradewa-322 dirancang dengan akomodasi yang memadai untuk misi jangka panjang.

Kapal ini mampu menampung kru inti sekitar 100 hingga 120 personel. Namun, total akomodasi yang disediakan oleh desain Arrowhead 140 memungkinkan kapal menampung hingga 160 orang. Hal ini memberikan fleksibilitas untuk membawa personel tambahan seperti tim operasi khusus atau tim pelatihan.

Setelah acara Shipnaming dan Launching KRI Balaputradewa-322 yang dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto mewakili Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, pada 18 Desember 2025, pihak PT PAL mengatakan masih ada tahapan panjang untuk preses integrasi sistem dan persenjataan pada kapal ini.

Meski PT PAL tidak menjelaskan secara rinci tahapan-tahapan pengerjaan berikutnya, tahapan dalam proses pembuatan kapal perang berikutnya biasanya adalah proses integrasi seluruh sistem, khususnya Sistem Manajemen Tempur (CMS), radar, dan persenjataan.

Setelah semua proses instalasi selesai, kemudian dilaksanakan pengujian fisik seluruh paket persenjataan, termasuk VLS 64 sel dan meriam-meriam kaliber besar.

Proses ini mencakup Harbour Acceptance Trials (HAT) yang menguji fungsi kapal saat sandar, dan diakhiri dengan Sea Acceptance Trials (SAT) atau uji coba di laut.

Jika semua uji coba performa dan tempur berhasil dan telah mendapatkan sertifikasi, kapal siap untuk diserahterimakan dan dikukuhkan secara resmi ke dalam jajaran operasional TNI Angkatan Laut.


SUMBER JAGADRAYA ID

Tuesday, November 25, 2025

Gara-gara Israel, Arab Saudi Mesti Rela Dapat Jet Tempur F-35 Versi Downgrade Jika Jadi Beli dari AS

 


F35 yang diincar arabsaudi

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat akhirnya memberikan lampu hijau untuk penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi.

Meski merupakan salah satu pembeli senjata terbesar dari Washington, Riyadh ternyata tidak akan mendapatkan F-35 dengan spesifikasi penuh.

Keputusan ini disebut-sebut dipengaruhi tekanan politik dan pertimbangan strategis terkait hubungan khusus AS dengan Israel, yang selama ini menikmati versi F-35 paling canggih dibanding negara lain.

Persetujuan penjualan F-35 kepada Arab Saudi diumumkan saat kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ke Washington.

Presiden Donald Trump saat itu menegaskan bahwa penjualan tersebut merupakan bagian dari penguatan hubungan pertahanan kedua negara.

Pesawat yang akan diterima Saudi adalah versi ekspor dengan kemampuan lebih rendah dari F-35 milik Amerika Serikat maupun Israel.

Jet tempur yang dikirim ke Saudi akan kehilangan sejumlah fitur penting. Di antaranya adalah sistem peperangan elektronik mutakhir, sejumlah persenjataan canggih, serta hak modifikasi internal yang selama ini menjadi keistimewaan Israel melalui F-35I Adir.

Israel bahkan memiliki kewenangan memodifikasi perangkat lunak F-35, memasukkan radar jamming, hingga integrasi senjata buatan lokal, sesuatu yang tidak akan diberikan kepada Arab Saudi.

Keputusan AS ini tidak lepas dari doktrin Qualitative Military Edge (QME), yaitu kebijakan yang ditetapkan agar Israel selalu memiliki keunggulan militer di kawasan Timur Tengah.

Israel telah lama menjadi satu-satunya operator F-35 di wilayah tersebut dan memiliki versi paling maju.

Pemerintah Israel tidak menolak secara langsung penjualan F-35 kepada Saudi, tetapi memberikan syarat agar langkah itu diiringi dengan normalisasi hubungan Israel-Saudi, sebuah rencana besar yang dikampanyekan pemerintahan Trump saat itu.

Meski begitu, Trump justru memisahkan pembahasan normalisasi dari penjualan senjata.

Dikutip dari CNN World edisi Rabu, 19 November 2025 berjudul "Why Trump's plan to sell F-35 jets to Saudi Arabia is so controversial." 

Menurut pengamat kebijakan luar negeri Nawaf Obaid, Washington tampak lebih fokus memastikan transaksi pertahanan tersebut berjalan lancar tanpa hambatan politik yang terlalu besar dari Israel.

Sikap ini membuat kesepakatan semakin kontroversial, sebab Saudi menjadi negara non-demokratis pertama yang berpotensi menerima F-35.

Meski catatan hak asasi manusia negara itu terus menjadi sorotan sejak kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018.

Masalah lain adalah dominasi Amerika Serikat dalam perangkat lunak F-35. Meski rumor kill switch dibantah keras oleh AS maupun Lockheed Martin, kedua pihak tetap memiliki kontrol penuh atas pembaruan dan izin penggunaan software pesawat tersebut.

Artinya, meskipun Arab Saudi membeli F-35 dalam jumlah besar, kemampuannya tetap sepenuhnya bergantung pada izin yang diberikan Washington.

Inilah yang membuat pesawat Saudi akan tetap inferior dibanding F-35 Israel yang mendapatkan tingkat akses sistem lebih tinggi.

Sementara itu, reaksi dari pejabat Israel terbelah.Mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot mengkritik keras pemerintahan Netanyahu, menilai bahwa Israel tidak lagi mampu mengendalikan keputusan strategis AS terkait kawasan.

Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membantah kritik tersebut dan menyatakan bahwa AS telah menjamin keunggulan kualitas angkatan udara Israel tetap terjaga

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Netanyahu berdialog langsung dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menegaskan bahwa penjualan F-35 ke Saudi tidak akan mengancam superioritas Israel

Situasi semakin rumit setelah pembicaraan normalisasi Israel-Saudi yang sempat berkembang sejak Abraham Accords mengalami kebuntuan selama masa pemerintahan Biden.

Konflik baru yang menyusul setelah serangan 7 Oktober dan perang berkepanjangan di Gaza membuat Arab Saudi mengambil langkah lebih hati-hati dalam menanggapi upaya normalisasi.

Riyadh juga menuntut adanya jalur jelas menuju pembentukan negara Palestina jika Israel ingin kesepakatan ini berlanjut.

Menurut analis dari Foundation for Defense of Democracies, Hussain Abdul-Hussain, justru Arab Saudi berpotensi menjadi pihak yang paling untung bila berani melakukan normalisasi tanpa syarat 

Ia menilai bahwa kerja sama terbuka dengan Israel dapat mempercepat modernisasi ekonomi dan memperkuat posisi Riyadh dalam peta geopolitik Timur Tengah

Namun, kenyataannya Saudi tetap mempertahankan posisi tradisionalnya, menunggu adanya perubahan fundamental dari Israel sebelum melangkah lebih jauh.

Walau demikian, penjualan F-35 kepada Arab Saudi belum final.Administrasi Trump saat itu berupaya keras menyelesaikannya sebelum masa jabatannya berakhir.Jika disetujui penuh, proses produksi dan pengiriman diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Bahkan ketika jet tersebut tiba, Arab Saudi tetap tidak akan mendapatkan lebih dari dua skuadron. Di mana lebih sedikit dibanding Israel yang kini mengoperasikan dua skuadron dan tengah menuju skuadron ketiga.

Meski banyak kontroversi mengiringinya, penjualan F-35 versi downgrade kepada Arab Saudi menunjukkan bahwa diplomasi pertahanan di Timur Tengah kini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan persenjataan.

Tetapi juga oleh kontrol perangkat lunak, hak modifikasi, serta aliansi politik yang telah berlangsung puluhan tahun antara AS dan Israel. Bagi Arab Saudi, F-35 tetap menjadi lompatan teknologi besar, namun posisinya tetap dibatasi agar tidak mampu menyaingi superioritas udara Israel.

 

sumber z jakarta

 

 

Modernisasi Kekuatan Udara Terbesar di Timur Tengah, Arab Saudi Akuisisi 48 Jet Siluman F-35 dan 60 F-15EX

 

F35

RIYADH - Arab Saudi sekarang menerapkan salah satu upaya modernisasi angkatan udara yang paling berdampak dalam sejarah militer Timur Tengah dengan rencana untuk mengakuisisi 60 pesawat tempur Boeing F-15X Eagle II dan 48 Lockheed Martin F-35 Lightning II, yang secara strategis akan mengubah keunggulan udara yang dinamis di wilayah tersebut.

F15ex

Dari Defense Security Asia, rencana mega-ekonomi multi-miliar dolar AS, yang timbul dari perkembangan di komunitas pertahanan Arab Saudi dan kegiatan diplomatik yang lebih dinamis antara Riyadh dan Washington, menandakan lonjakan besar dalam kemampuan tempur.

Royal Saudi Air Force (Angkatan Udara Kerajaan Saudi) ketika negara itu menghadapi ancaman rudal Iran, Houthi, dan lanskap keamanan regional yang berubah dengan cepat.

Pemilihan waktu untuk akuisisi ini signifikan karena bersamaan dengan munculnya keterlibatan profil tinggi Putra Mahkota Mohammed bin Salman dengan pemerintahan Trump untuk menandatangani kemitraan pertahanan dan teknologi jangka panjang yang memperkuat kedaulatan Arab Saudi sambil meningkatkan pengaruh geopolitik Amerika Serikat di Timur Tengah.

Paket pembelian, diperkirakan melebihi  142 miliar dolar AS termasuk pelatihan, persenjataan, sistem pendukung dan persyaratan pemeliharaan jangka panjang, memperkuat hubungan strategis yang mampu sepenuhnya mengubah doktrin preventif regional, keuntungan militer kualitatif Israel, dan keseimbangan kekuatan dari Teluk ke Indo-Pasifik.

Langkah modernisasi ini juga datang pada saat RSAF bergerak dari platform generasi keempat dari warisan ke armada hibrida yang mampu beroperasi di wilayah udara yang sangat defensif, termasuk lingkungan yang berada di bawah ancaman pertahanan udara Iran, sistem rudal jarak jauh, serta ancaman cepat dari sistem udara tak berawak.

Akuisisi ini juga sejalan dengan tujuan Visi 2030 Arab Saudi yang menekankan diversifikasi pertahanan negara, keterlibatan industri lokal, dan pengurangan ketergantungan pada platform warisan Eropa atau AS melalui integrasi perusahaan industri pertahanan Saudi ke dalam ekosistem produksi Amerika berteknologi tinggi.

Arab Saudi telah lama memiliki salah satu kekuatan penerbangan militer paling dominan di dunia Arab, dengan lebih dari 230 pesawat tempur yang mencakup F-15, Eurofighter Typhoon dan Panavia Tornado, dibangun untuk mempertahankan keunggulan udara atas Iran dan kekuatan proyek di daerah yang tidak stabil.

Armada F-15SA Arab Saudi, yang berjumlah sekitar 84 varian canggih yang diperoleh melalui kesepakatan 29,4 miliar dolar pada tahun 2010, memberikan lonjakan teknologi melalui kontrol fly-by-wire modern, avionik digital dan kemampuan serangan yang tepat, tetapi keuntungannya sekarang berada di bawah tekanan luar biasa karena evolusi ancaman saat ini

 

Serangan drone Dan rudal 2019 di fasilitas Aramco di Abqaiq dan Khurais menggunakan rudal jelajah jarak jauh dan amunisi yang berkeliaran telah menembus pertahanan udara Arab Saudi, memicu kebutuhan strategis untuk pesawat tempur siluman, jaringan pertahanan udara terintegrasi dan rudal, serta postur pencegahan berlapis-lapis.

Pengembangan rudal balistik, UAV SWARM, rudal jelajah Iran dan sistem hipersonik seperti Fattah telah memperluas spektrum ancaman, memaksa perencana strategis Riyadh untuk memprioritaskan platform yang mampu melakukan serangan jarak jauh, operasi penghindaran tinggi, serta kemampuan tempur di daerah-daerah dengan cakupan pertahanan udara yang kompleks.

Pengalaman RSAF dalam memukul mundur serangan drone dan rudal Houthi buatan Iran di Yaman telah mengungkap kesenjangan dalam kesadaran situasional, perlindungan pangkalan udara dan kemampuan untuk melakukan patroli terus menerus serta pencegahan jarak jauh di era eskalasi cepat.

Pembekuan pembicaraan F-35 oleh pemerintahan Biden setelah insiden Khashoggi sebelumnya menghambat ambisi Riyadh untuk memperoleh kemampuan pesawat tempur generasi kelima selama beberapa tahun, tetapi kemenangan Donald Trump dalam pemilihan 2024 membuka kembali ruang ketika Washington memposisikan kembali Arab Saudi sebagai skala strategis utama melawan Iran dan sebagai elemen stabilitas terhadap pengaruh Tiongkok yang semakin besar.

Terobosan besar dicapai pada 4 November 2025 ketika penilaian intelijen Pentagon menyetujui penghalang ekspor kritis yang sebelumnya mencegah akses Arab Saudi ke F-35, membuka jalan bagi paket pengadaan hingga 48 pesawat potensial senilai 142 miliar dolar termasuk dukungan

Konsultasi simultan untuk F-15EX, didorong oleh kebutuhan operasional serta penawaran kerja sama industri oleh Boeing, mencerminkan strategi pelacakan ganda yang meningkatkan kemampuan serangan penetrasi sublusi RSAF dan kapasitas serangan muatan tinggi dalam visi pengadaan terintegrasi.

Lockheed Martin F-35 Lightning II menandai masuknya Arab Saudi ke dalam kelompok eksklusif operator kapal induk tak terlihat generasi kelima dengan kemampuan untuk mengubah kapasitas negara dalam operasi superioritas udara, perang elektronik, serangan yang tepat, dan misi pengawasan intelijen dalam pertahanan Iran.

Akuisisi 48 unit varian CTOL ini merupakan lonjakan kualitatif dramatis dengan memperkenalkan platform multi-reportrol yang dioptimalkan untuk bertahan hidup di jaringan pertahanan udara kompak seperti sistem S-300PMU-2 Iran dan kemungkinan sistem S-400 Rusia.

 

Desain F-35 yang dapat diamati rendah secara signifikan mengurangi jejak radar, memungkinkan pilot Saudi untuk beroperasi jauh di wilayah udara Iran, di mana pesawat generasi keempat konvensional akan menghadapi risiko signifikan terutama pada dini hari konflik.

Radar pesawat AESA AN/APG-81, dikombinasikan dengan sistem penargetan elektro-optik dan sistem aperture terdistribusi, menciptakan gambaran medan tempur 360 derajat yang terintegrasi, memungkinkan pilot Saudi untuk mendeteksi ancaman sebelum mereka terdeteksi oleh musuh.

Ruang senjata internal F-35 mampu membawa hingga 5.700 pon senjata berpemandu dalam konfigurasi penuh siluman, dengan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas tembak hingga 18.000 pound melalui pencangkokan eksternal dalam operasi non-silumen.

Kombinasi siluman dan senjata memberi Arab Saudi kapasitas serangan pertama yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama dalam skenario yang melibatkan infrastruktur nuklir Iran, pangkalan rudal balistik, dan aset komando IRGC-QF.

MADL F-35 mengamankan link data meningkatkan kemampuan perang yang berpusat pada jaringan, yang memungkinkan pesawat F-35 Saudi untuk berbagi data target dengan aset AS, sekutu Teluk dan sistem Saudi AWCS masa depan di bawah jaringan “rich chain” terintegrasi.

Harga satuan sekitar 80 juta dolar tidak mencerminkan biaya keseluruhan program yang melebihi 10 miliar dolar AS setelah mempertimbangkan pelatihan, infrastruktur pemeliharaan serta kebutuhan penanganan teknologi sensitif.

Arab Saudi setara dengan kekuatan Indo-Pasifik seperti Jepang, Korea Selatan dan Australia, yang menggunakan F-35 sebagai elemen pencegahan terhadap ancaman Tiongkok dan Korea Utara.

Perjanjian F-35 juga memicu kekhawatiran Israel bahwa akses Arab Saudi ke platform tersebut dapat mengurangi keuntungan militer kualitatifnya meskipun ada 75 unit F-35I di negara itu.

Para pejabat pertahanan AS terus memperingatkan mata-mata Tiongkok tentang teknologi F-35 melalui serangan cyber atau rute kerja sama industri, terutama mengingat keterlibatan Huawei dalam infrastruktur digital Arab Saudi.

Sumber Koran Jakarta

 

 

Friday, October 17, 2025

Prancis mengizinkan Indonesia membeli Rafale? dan Alasan utama kerjasama Indonesia-Prancis

 


Prancis mengizinkan Indonesia membeli Rafale karena adanya kesepakatan strategis yang saling menguntungkan, termasuk transfer teknologi yang menjadi prioritas Indonesia, jaminan suplai suku cadang tanpa ancaman embargo, dan kerja sama industri pertahanan jangka panjang. Selain itu, hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis yang kuat serta kebutuhan Indonesia untuk memodernisasi alutsistanya menjadi faktor penting dalam keputusan ini.

Alasan utama kerjasama Indonesia-Prancis

Transfer Teknologi dan Kemandirian: Kesepakatan ini mencakup transfer teknologi, kerja sama industri, riset dan pengembangan, serta pemeliharaan di dalam negeri. Hal ini sejalan dengan target Indonesia untuk membangun kemandirian di sektor pertahanan.

Jaminan Pasokan dan Tanpa Embargo: Pembelian Rafale dari Prancis memberikan keuntungan berupa jaminan suplai suku cadang yang terjamin dan terhindar dari ancaman embargo, berbeda dengan negara lain yang mungkin lebih rentan terhadap tekanan politik.

Kemitraan Strategis: Kesepakatan ini memperdalam hubungan pertahanan kedua negara dan menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis Prancis di kawasan Indo-Pasifik.

Pesawat Tempur Berkualitas Tinggi: Rafale adalah jet tempur generasi 4,5 yang canggih dengan berbagai kemampuan, termasuk kemampuan multi-misi, radar dan sensor yang canggih, serta bahan bakar yang irit.

Kebutuhan Alutsista Indonesia: Pembelian ini juga didasari oleh kebutuhan mendesak untuk mengganti armada lama seperti F-5 yang sudah tua, serta untuk memperkuat pertahanan udara Indonesia secara keseluruhan.

PT Dirgantara Indonesia dan Havelsan akan bermitra mengembangkan pesawat jenis AWACS (Airborne Early Warning and Control).

 


Perusahaan kedirgantaraan milik negara Republik Indonesia, PT Dirgantara Indonesia dan perusahaan teknologi pertahanan milik negara Turkiye, Havelsan akan bermitra mengembangkan pesawat jenis AWACS (Airborne Early Warning and Control). 

Kesepakatan itu terjalin dalam Indonesia-Türkiye Business Forum yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia dan The Foreign Economic Relations Board of Turkey di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta, pada ha Rabu, (12/02/2025). 

Untuk proyek pesawat AWACS ini, PT Dirgantara Indonesia menjadi kontraktor utama yang menyiapkan tenaga ahli dalam pembuatan desain, perakitan, produksi, pengujian, serta hingga pemeliharaan. Para teknisi itu akan bekerjasama dengan perwakilan Havelsan. Khusus untuk mesin simulasi, PT Dirgantara Indonesia membuka joint technology development untuk Havelsan. 

Berdiri sejak 1982, Havelsan Turkiye telah mengembangkan 90 persen perangkat lunak sistem pesawat AWACS di Turkiye. Pesawat AWACS tersebut memiliki kemampuan deteksi dini, pengawasan udara, serta manajemen pertempuran berbasis udara yang terintegrasi.

BERITA LAINNYA

TEMPO.CO, Bandung - PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI dan Havelsan, perusahaan teknologi pertahanan asal Turki, akan bermitra mengembangkan pesawat Airborne Early Warning and Control alias AWACS. Kesepakatan itu terjalin dalam Indonesia-Türkiye Business Forum yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan The Foreign Economic Relations Board of Turkey (DEK) di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta, pada Rabu, 12 Februari 2025.

Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan dan Chief Executive Officer Havelsan Mehmet Akif Nacar, dalam agenda tersebut, juga menyepakati kolaborasi pengembangan simulator penerbangan pesawat CN235-220. “Kami optimis dapat menghadirkan solusi yang tidak hanya mendukung kemandirian pertahanan Indonesia, tetapi juga berkontribusi bagi pasar global,” ucap Gita melalui keterangan pers yang diterima Tempo pada hari penandatanganan perjanjian tersebut.

Untuk proyek pesawat ini, PTDI menjadi prime contractor yang menyiapkan tenaga ahli dalam pembuatan desain, perakitan, produksi, pengujian, serta hingga pemeliharaan. Para teknisi itu akan bekerjasama dengan perwakilan Havelsan. Khusus untuk mesin simulasi, PTDI membuka joint technology development untuk Havelsan.

Sebagai pabrikan pesawat pelat merah di Indonesia, PTDI berpengalaman mengembangkan simulator penerbangan untuk berbagai jenis pesawat, mulai dari N250 Engineering Flight Simulator; CN235-220 Operational Flight Trainer; serta N219 Engineering Full Flight Simulator. Perseroan juga pernah menggarap simulator helikopter, yakni NAS332 Full Flight Simulator dan H225M Full Flight Simulator.

Havelsan juga terbiasa menggarap sistem visual canggih yang diharapkan bisa menyokong simulasi berkualitas tinggi. PTDI dan Havelsan menargetkan pengembangan sistem simulator pesawat Level D yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia dan pasar global.

Kolaborasi ihwal AWACS dan simulator penerbangan itu ditandatangani saat gelaran Indonesia-Türkiye Business Forum yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan The Foreign Economic Relations Board of Turkey (DEK) di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, Rabu, 12 Februari 2025. Pertemuan antar pengusaha Indonesia dan Turki tersebut dilakukan bersamaan dengan kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ke Indonesia.

 

 

 

 

 

BERITA POLULER