Pages

INDONESIA DEFENCE adalah blog Berita,ulasan, artikel Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Perkembangan Alutsista terkini, serta perkembangan POLITIK DALAM DAN LUAR NEGERI.

BERITA TERKINI DI INDONESIA DEFENCE

Wednesday, January 5, 2011

Kapal selam tipe 214


Kapal Selam U-214 Jerman, dalam pertemuan kedua delegasi pengadaan Kapal Selam untuk TNI AL juga dibahas

 Kapal selam tipe 214 adalah salah satu kapal selam konvensional yang terlaris di dunia, dan Indonesia mempertimbangkan untuk memilikinya.
Negara – Negara
Yang Mengoperasikan Kapal selam tipe 214

1. Korea Selatan. Republik of Korean Navy telah memesan sembilan kapal selam Tipe 214, yang diberi nama sebagai kelas Son Won-Il, yang akan dibangun di Korea oleh Galangan kapal Hyundai Heavy Industries dan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME). Tiga kapal selam pertama telah beroperasi sejak 2007, dan enam kapal selam berikutnya akan dibuat mulai tahun 2012. Son Won-Il juga dilengkapi Radar yang sama dengan Papanikolis yaitu SPHINX-D Radar System buatan Thales Defence Deutschland GmbH dan mampu membawa makanan, air bersih dan bahan bakar untuk 84 hari operasi.
Kapal Selam Pertama kedua ketiga dan kelima dibuat di Galangan Kapal Hyundai dan rencananya untuk kapal selam kempat dan ke enam dibuat di Galangan kapal DSME. Pada bulan Maret 2008, surat kabar terbesar di Korea, Chosun Daily, melaporkan bahwa jenis kapal selam pertama 214 (Son Won Il) yang telah diserahkan kepada Angkatan Laut Republik Korea pada Desember 2007 memiliki beberapa masalah penting berkaitan dengan tingkat kebisingan (Noise Level) yang berlebihan. Namun masalah tersebut diklaim oleh pihak angkatan laut dapat diselesaikan dengan baik oleh galangan kapal Hyundai, HDW dan pihak angkatan Laut Korea. Masalah tersebut menurut salah satu perwira kapal selam Angkatan Laut Korea berada pada sistem kemudi horisontal belakang dan propeler. Keseimbangan kapal terutama saat berada di permukaan juga mengalami masalah (diidentifikasi masalah yang sama terjadi pada kapal selam Yunani; Papanikolis).
Untuk fasilitas pangkalan pihak HDW juga menyediakan untuk pengisian H2 untuk Sistem AIP di pangkalan angkatan laut di Jinhae, namun saat pengisian diharapkan temperatur air laut tidak lebih dari 32°C. Khusus untuk loading torpedo yang sebelumnya dilaksanakan melewati geladak dilaksanakan modifikasi sehingga loading torpedo dilaksanakan melalui peluncur torpedo (petor). Karena dianggap lebih efisien sama dengan kapal selam mereka sebelumnya yaitu 209 yang juga melalui petor.
2. Yunani. Kontrak untuk membangun tiga Kapal selam untuk Angkatan Laut Yunani/Hellenic Navy telah ditandatangani 15 Februari 2000 dan 4 kapal selam akan dibangun pada bulan Juni 2002. Kapal pertama kelas Papanikolis dibangun di HDW di Kiel, Jerman dan sisanya di Hellenic Shipyards Co di Skaramangas Yunani.
Kelas Papanikolis dilengkapi dengan antena radar yang tidak menembus badan tekan. Di bagian atas tiang radar pemancar radar diinstal pemancar dari Sistem Radar Sphinx dipasok oleh Thales Deutschland GmbH di Kiel. Sensor radar transceiver FMCW dinyatakan tidak dapat dideteksi oleh sistem ESM dalam jarak menengah. Teknologi ini disebut LPI (Low Probability of Intercept). Kekuatan transmisi dari radar ini lebih rendah dari kekuatan transmisi telephone selular tetapi resolusi yang dihasilkan lebih akurat dibandingkan dengan radar daya pulse tinggi. Radar Thales Sphinx adalah radar taktis yang dirancang khusus untuk kapal selam 214.
Kapal selam kedua yang dibuat di Yunani, Pipinos, secara resmi diluncurkan Pebruari 2007 dan uji coba penerimaan pelabuhan Yunani di Piraeus. Pada tanggal 21 September 2009 TKMS mengumumkan bahwa kontrak dengan Angkatan Laut Yunani untuk keempat kapal selam telah dibatalkan karena tunggakan negara lebih dari 520.000.000 Euro. Pihak TKMS sedang menempuh mahkamah arbitrasi untuk menyelesaikan masalah ini. Pada tanggal 27 Oktober 2009, Departemen Pertahanan Yunani secara resmi menyatakan bahwa mereka berniat menerima tiga kapal yang dibangun di Yunani namun Kapal pertama (Papanikolis) yang dibangun di Kiel tidak akan diterima, dan akan ditawarkan untuk dijual. Hasil dari penjualan akan digunakan untuk membayar hutang kepada TKMS.
3. Portugal. Pemerintah Portugal menandatangani kontrak di Lisbon dengan Konsorsium Submarine Jerman (GSC) untuk pembangunan dua kapal selam kelas 214 optional tambahan untuk satu kapal selam. Kontrak senilai 800.000.000 € telah ditandatangani bersama dan kedua kapal selam tersebut akan diserahkan ke Angkatan Laut Portugal Januari 2010 dan Oktober 2010.
Kapal selam pertama S167 Tridente dilluncurkan pada tanggal 15 Juli 2008 dan resmi masuk Angkatan Laut Portugal pada Januari 2010, sementara kapal kedua S168 Arpao diluncurkan pada bulan Mei 2001 dan akan resmi bergabung dengan Angkatan Laut Portugal pada bulan Oktober 2010.
4. Turki dan Pakistan (Penandatanganan Kontrak). Pada bulan November 2008, Pakistan telah menandatangani Kontrak untuk pengadaan 3 kapal selam tipe 214 yang semuanya akan dibuat di Pakistan. Pihak HDW menyatakan penyerahan kapal selam pertama untuk Pakistan akan dilaksanakan 64 bulan setelah penandatanganan kontrak.
Pada bulan Juli 2009, Turki telah menandatangani kontrak pengadaan 6 kapal selam tipe 2140. Sesuai dengan kontraknya pihak HDW akan memberikan seluruh material untuk membangun keenam kapal selam tersebut di Galangan Gölçük Naval Shipyard (GNSY) di Turki. Semua kapal selam tersebut dilengkapi dengan sistem AIP.
Kesimpulan. Indonesia perlu mempertimbangkan lagi untuk pengadaan kapal selam jenis ini mengingat permasalahan yang terjadi di banyak negara serta mahalnya biaya operasional AIP. Taktik dan strategi pertahanan negaralah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama selain faktor deterrence effect tentunya. 
Data Teknis Kapal selam tipe 214
· Displacement: 1,690 t surfaced / 1,860 t submerged
· Dimensions: length 65 m / beam 6.3 m / draught 6 m
· Pressure hull: HY-80/HY-100 High Tensile steel
· Persenjataan: 8 x 533 mm Peluncur, 4 Petor mampu meluncurkan Sub Harpoon
· Propeller : low noise skew back propelle/ Sabit
· Diesel engines: 2 x MTU 16V-396 (3.96 MW)
· Charging generators: 2 x Piller Ntb56.40-10 0.97 MW
· Sistem AIP : 2 x HDW PEM fuel cell module BZM120 (120 kW x 2)
· Electric motor: 1 x Siemens Permasyn (2.85 MW)
· Kecepatan: 12 kt surfaced / 20 kt submerged
· Kecepatan deangan fuel cells: 2-6 kt estimated
· Jarak Jangkau Permukaan: 12,000 miles (19,300 km)
· Jaraj Jangkau Menyelam: 420 nmi @ 8 kt (780 km @ 15 km/h)
· Jarak Jangkau dengan fuel cells: 1,248 nmi @ 4 kt (2,310 km @ 7 km/h)
· Mission endurance: 12 Minggu
· Menyelam Tanpa Snorkeling: 3 minggu
· Kedalaman Operasi: Lebih dari 250 m officially, 400 m estimated
· Awak Kapal: 5 Periwra + 22 crew
· Radar navigasi : SPHINX-D with 4Kw pulse and Tactical LPI radar sensor (Thales Deutschland Kiel)
sumber: http://wira96.multiply.com/

9 komentar:

Anonymous said...

Perkuat Angkatan Laut kita , untuk perkuat ketahanan bangsa. Jalesveva Jayamahe... Merdeka !!!

D'oka said...

2 Amur 950/lada class atau Akula class + 2 Turqoise class/rubish class france udah mantap banget pakai jaga perairan, syukur2 dikasih beli U 212A sama germany WOW ..dijamin tetangga susah tidur! kalau untuk TOT dan KS latih+patroli..pakai DSX 3000 (214nya Korsel) sudah mantap, kalo ragu ya Changbogo class juga gak apa2. Kalau seperti contoh diatas yg dibeli, berarti cocok dengan statement, "kapal selam yang kita miliki harus bisa mengimbangi tetangga sebelah"

Anonymous said...

Mengutip dari negara tetangga Singapura, Bapak Singapura Goh Cok Tong waktu itu bilang ali alih membeli dari luar negeri, Singapura akan menjadi negara yang bisa buat TV sendiri. Indonesia buat kapal selam, frigate kalau perlu buat pesawat fighter sendiri dong, jangan cuma bisa beli! Boleh dong punya visi besar, bangsa kita kan bangsa yang besar!

Anonymous said...

Maju terus industri strategis dalam negeri. Maju dan jayalah Indonesiaku!

Anonymous said...

Bikin alutsista sendiri, lebih bangga dan pazti akan maju

Anonymous said...

keinginan tanpa usaha dan kerja keras adalah mimpi....
usaha dan kerja keras tanpa perencanaan adalah asal-asalan...

Anonymous said...

denger denger pt PAL akan buat sendiri....kapal selam, kalau beli jangan kelompok nato,jerman bahaya, korsel antek amrik juga,mending dengan russia, tapi russia pelit alih tot

nunul said...

sebagai negara besar kita harus mampu membuat senjata sendiri. bilamana belum bisa memang terpaksa harus membeli dengan syarat alih teknologi dan spesifiasi maupun persenjataan harus lebih canggih drpd negara tetangga. dengan demikian dapat membangkitkan harga diri bangsa yang saat ini sepertinya hilang.

DenJaka said...

Maju TNIku Jaya Negreriku,..

Post a Comment

DISCLAIMER : KOMENTAR DI BLOG INI BUKAN MEWAKILI ADMIN INDONESIA DEFENCE , MELAINKAN KOMENTAR PRIBADI PARA BLOGERSISTA
KOMENTAR POSITIF OK