Pages

Friday, January 13, 2012

Kita Dukung Pembelian MBT (Leaopard 2A6)

Leopard 2A6 Bundeswehr melakukan manuver di tanah berlumpur dan menyeberangi sungai. (Foto: Bundeswehr)

Saudara - Saudaraku setanah air, Jujur Saya hanya rakyat biasa, tapi kalau mendengar Pertahanan dan keamanan Bangsa ini adalah harga mati untuk diperjuangkan.

Kenapa begitu Dengan pertahanan yang kuat kita akan aman. dengan amannya suatu negara rakyat menjadi tenang. dengan ketenangan kita bisa melakukan kegiatan kegiatan ekonomi. ekonomi meningkat maka kesejahteraan rakyat meningkat. dan sebaliknya.

Nah sekarang Masalah Pembelian MBT Leopard 2A6 selalu dapat sandungan dari Pengamat.LSM.dan elit politik senayan.mereka ramai amai menolaknya.

Nah sekarNg kita sebagai rakyat jangan tinggal diam dukung pembelian MBT. Gak Penting Jenis MBT apa? yang penting kita punya MBT.
saran
leopard
T-90
K2 Black Panthher

Negara Tetangga saja seperti Malaysia sudah Punya MBT PT-91 up grade dari PT-72, Singa Pura dah punya Leopard.

MBT Leopard 2A6 Bundeswehr manuver di tanah berlumpur. Singapura,Malaysia, Vietnam, Kamboja memiliki main battle tank. (Foto: Bundeswehr)
Alasan Kita harus punya MBT :
1. Kita memang butuh  Karena kita memang belum punya MBT, Kita cuma punya light tank( Amx13, Scorpion)
2. Negara dikawasan sudah punya maka kita perlu kesetaraan , bukan perlombaan senjata.
3. Dalam latihan bersama TNI AD sering tidak ikut lantaran spek tank yang disesuaikan tersebut TNI Kita belum punya , namun kalau mengenai personil tidak diragukan lagi.
4. Wajar Karena TNI selama 20 tahun tidak memodernisasi alutsistanya jadi ketinggalan dengan negara tetangga di kawasan.
5.MBT saya katakan bisa jalan di indonesia , apa pun ceritanya MBT bisa jalan di indonesia, kenapa kita tidak bisa? sementara Malaysia,singapura bisa?
6.Soal teknologi, Tank buatan jerman ini gak diragukan lagi walau dibuat di tahun 80 tank-tank ini telah dia upgrade oleh tuannya dengan teknologi terkini.
7.Menurut KSADPengadaan MBT leopard 2A6 dibarengi Transfer Of Tecnologi (TOT) dan sesuai dengan Renstra TNI 2010-2014 untuk mencapai MEF.

Mengenai penempatan tank yang dipusatkan di Jawa, menurut Bapak Pramono, semata-mata agar lebih mudah diangkut ke mana saja di wilayah Indonesia. Pasalnya, untukmemindahkan tank tempur itu, diperlukan alat angkut militer yang sampai saat ini baru ada di Jakarta dan Surabayakita dukung pembelian MBT.

Bapak KSAD juga meminta masyarakat tidak khawatir akan penyalahgunaan tank oleh AD. Bagaimanapun, tank tempur tidak akan digunakan di daerah padat penduduk. "Prinsipnya, tank hanya akan melawan tank," ujarnya.

Kenapa Baru sekarang? Kenapa medadak? ya kita baru pulih dan bangkit dari keterpurukan ekonomi , pertumbuhan ekonomi  sekarang sedang membaik nah sekaranglah saatnya kita beli alutsista. Saya kira pengadaan ini tidak mendadak wong ada blue printnya kok yang tertuang dalam renstra TNI 2011 - 2014, kita harus baca peluang nah eropa sedang dilanda krisis yang mengakibatkan pemangkasan angaran militer besar besaran termasuk belanda untuk mengurangi anggaran mereka menjual  MBT leopard 2a6 dengan harga murah bahkan di barengi TOT, nah kita sedang butuh itu , ya kita harus tangkap kesempatan itu kalo gak ya diambil negara lain dan pengadaan ini melalui G to G, maaf gak mafia atau broker. dan satu lagi apakah perang itu tidak mendadak? Perang kapan saja bisa meletus maka dari itu kita perkuat alutsista kita.

Tank Leopard buatan Jerman memiliki kemampuan untuk bertempur menghadapi sasaran bergerak walaupun melewati medan yang sangat sulit dan tidak rata. Varian yang aktif antara lain 2A4 , 2A5, 2A6 , dan 2A7.
Berikut ini daftar negara pengguna tank Leopard;
1. Austria 114 unit bekas Belanda.
2. Belanda 445 unit.
3. Kanada 120 unit, 20 diantaranya
disewa dari Jerman untuk Perang
Afghanistan. 15 lagi dibeli dari Jerman
untuk suku cadang
4. Chili 132 unit bekas Jerman.
5. Denmark 51 unit bekas Jerman.
6. Finlandia 124 unit bekas Jerman.
7. Jerman 2.350 unit.
8. Norwegia 52 unit bekas Belanda.
9. Polandia 128 unit bekas Jerman.
10. Portugal 37 unit bekas Belanda.
11. Singapura 96 unit bekas Jerman.
12. Spanyol 327 unit, 108 diantaranya
bekas Jerman.
13. Swedia 120 unit, ditambah 160 unit
bekas Jerman.
14. Swiss 380 unit.
15. Turki 339 unit bekas Jerman.
16. Yunani 353 unit.

Ayo beri komen untuk mendukng pembelian MBT

By Indonesia Defence dan berbagai sumber

Yahya sacawiria Fraksi PD : MBT tidak sesui dgn kondisi di indonesia

Rabu, 11 Januari 2012, 13:52 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Anggota
Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) dari Fraksi Partai Demokrat
Yahya Sacawiria menilai rencana
pembelian tank leopard oleh
Kementerian Pertahanan
(Kemenhan) tidak sesuai dengan
kondisi wilayah di Indonesia.
"Saya hanya melihat kegunaannya
dihadapkan dengan kondisi wilayah di
seluruh Indonesia," ujar Yahya kepada
INILAH.COM , Rabu (11/1/ 2012).
Yahya menjelaskan tank leopard yang
rencananya dibeli dari Belanda,
memiliki bobot mati dengan tangki
penuh sekitar 63 ton. Berat ini dinilai
tidak cocok dengan medan jalan yang
ada di Indonesia.
"Akan sangat cocok untuk medan
Indonesia adalah tipe battle tank
(sekitar 20 ton) dengan kemampuan
manuver lebih lincah," jelasnya.
Untuk itu, Komisi I meminta Kemenhan
memikirkan hal tersebut dengan
pertimbangan-pertimbangan spesifikasi
tersebut. "Kita berharap mengacu juga
kepada renstra (rencana strategis)
sesuai minimum essential force (MEF),"
katanya.
Seperti diberitakan, Kementerian
Pertahanan merencanakan pembelian
100 Tank Leopard sebagai bagian
modernisasi alutsista TNI peridoe
2011-2015 untuk mencapai kekuatan
pokok MEF dengan total anggaran
Rp150 triliun.
Tank Leopard buatan Jerman memiliki
kemampuan untuk bertempur
menghadapi sasaran bergerak
walaupun melewati medan yang sangat
sulit dan tidak rata. Varian yang aktif
antara lain 2A4 , 2A5, 2A6 , dan 2A7.
Berikut ini daftar negara pengguna tank
Leopard;
1. Austria 114 unit bekas Belanda.
2. Belanda 445 unit.
3. Kanada 120 unit, 20 diantaranya
disewa dari Jerman untuk Perang
Afghanistan. 15 lagi dibeli dari Jerman
untuk suku cadang
4. Chili 132 unit bekas Jerman.
5. Denmark 51 unit bekas Jerman.
6. Finlandia 124 unit bekas Jerman.
7. Jerman 2.350 unit.
8. Norwegia 52 unit bekas Belanda.
9. Polandia 128 unit bekas Jerman.
10. Portugal 37 unit bekas Belanda.
11. Singapura 96 unit bekas Jerman.
12. Spanyol 327 unit, 108 diantaranya
bekas Jerman.
13. Swedia 120 unit, ditambah 160 unit
bekas Jerman.
14. Swiss 380 unit.
15. Turki 339 unit bekas Jerman.
16. Yunani 353 unit. [[bar]
sumber inilah.com

Sekjen Gerindra : Batal Kan Pembelian MBT leopard 2a6 ex Belanda

Kamis, 12 Januari 2012, 14:09 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Tak banyak
yang tahu jika PT Pindad bekerja
sama dengan PT PAL telah berhasil
memproduksi tank amfibi untuk TNI
Angkatan Laut (AL) .
Jika pemerintah mau berhemat
anggaran dan percaya terhadap hasil
karya dalam negeri, tank amfibi BTR-50
dan PAL-AFV bisa dimodifikasi menjadi
tank tempur jenis taktis untuk TNI
Angkatan Darat (AD).
"Hanya tinggal tambah meriam saja
sudah jadi tank, karena rodanya sudah
pakai rantai besi seperti tank. Kalau
mau dimodif jadi main battle tank
tinggal diperbesar ukurannya," ujar
anggota Komisi I DPR Ahmad Muzani,
Kamis (12/1 /2012).
Pembuatan tank tempur dalam negeri
lanjut Muzani, dipastikan menelan biaya
lebih murah daripada membeli 100 unit
Tank Leopard bekas dari Belanda
seharga Rp12 triliun.
"Aneh kok Kementerian Pertahanan
lebih memilih beli tank bekas daripada
membuat sendiri, padahal sama saja
pelurunya buatan Pindad juga," terang
Muzani.
Sekjen Partai Gerindra ini pun
mendesak agar rencana pembelian 100
unit Tank Leopard bekas dari Belanda
dibatalkan. "Sudahlah lebih baik
dibatalkan saja, kita perkuat alutsista
kita dengan buatan dalam negeri," seru
Muzani. [mah]
sumber inilah.com

Pindad: Thank Buatan Pindad Ibarat Mobil Toyota

INILAH.COM, Jakarta - Tank medium
buatan PT Pindad memiliki
spesifikasi yang jauh berbeda
dengan tank Leopard buatan
Jerman.
Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto
Soedarsono mengatakan, tak medium
Pindad memiliki tenaga lebih kecil
daripada Leopard. Tank Pindad
berkekuatan 500 tenaga kuda,
sedangkan Leopard berkekuatan 1.500
tenaga kuda.
"Leopard itu termasuk tank top dunia,
ibaratnya Lamborgini sedangkan tank
Pindad adalah Toyota," ujar Adik seperti
diberitakan inilahkoran, Jumat
(13/1/ 2012).
Ukuran tank medium buatan Pindad
yang lebih kecil dibanding Leopard
membuatnya lebih lincah dan taktis
dalam melakukan manuver dan
pergerakan. "Tank medium Pindad
lebih murah harganya tapi jangan
dibandingkan dengan Leopard karena
beda kelas," ujar Adik.
Sebelumnya diberitakan, Kementerian
Pertahanan (Kemenhan) berencana
membeli 100 unit tank Leopard bekas
dari Belanda seharga Rp14 triliun.
Rencana ini ditentang Komisi I DPR
yang mengusulkan agar Kemenhan
membeli tank medium buatan Pindad
yang pembuatannya diinstruksikan
langsung SBY.
Tank tipe medium buatan PT Pindad
tersebut dinilai sangat sesuai dengan
kebutuhan penguatan alat utama
sistem pertahanan (Alutsista) yang
dibutuhkan TNI.
"Prototipe tank sudah jadi dan sudah
jalan. Sudah dikunjungi oleh Komisi I.
Hasilnya cocok, kenapa tidak
dikembangkan. Produk anak bangsa
murah dan cocok. Tinggal sekarang
bilang Oke, buat yang banyak," papar
Wakil Ketua Komisi I DPR, TB
Hasanuddin, di gedung DPR, Jakarta,
Kamis (12/1 /2012). [mah]
sumber inilah.com

Pindad: RI Butuh Leopard Saingi Tank T72 Malaysia

 Malaysia memborong 48 MBT PT-91 dari Polandia, tank ini modernisasi dari tank buatan Rusia T-72. Diperkirakan Malaysia akan menerobos perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan mengandalkan PT-91, jika terjadi konflik. TNI AD berencana membeli MBT sedangkan TNI AU akan menempatkan skuadron pesawat tanpa awak dan skuadron Tucano di Pulau Kalimantan. Pembelian Tucano masih belum ada kejelasan dari Kemenhan. (Foto: aliflamm)

INILAH.COM, Jakarta - Meski mampu membuat tank medium, PT Pindad menilai Indonesia tetap memerlukan tank besar seperti Leopard buatan Jerman.

Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Soedarsono mengatakan, Leopard dibutuhkan untuk memperkuat postur pertahan Indonesia dalam menandingi Malaysia.

"Malaysia punya tank kelas berat jenis T72 buatan Rusia, tank Leopard juga tank kelas berat seperti T72," ujar Adik seperti diberitakan inilahkoran, Jumat (13/1/2012).

Jika Kementerian Pertahanan (Kemenhan) jadi membeli Leopard, maka lanjut Adik, Pindad siap memproduksi amunisi peluru untuk Leopard.

Pindad telah menjalin kerjasama dengan Rheinmetall perusahaan otomotif dan industri pertahanan dari Jerman yang memproduksi Leopard. "Mereka berjanji akan sharing teknologinya sama kita salah satunay terkait rudal dan alutsista lainnya," jelas Adik. [mah]

sumber : Inilah

Thursday, January 12, 2012

PT DI Targetkan Kontrak Rp9 T dengan Kemhan


R Ghita Intan Permatasari - Okezone
Kamis, 12 Januari 2012 11:06 wib
BANDUNG - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menargetkan mendapatkan kontrak sebesar Rp9 triliun dengan Kementerian Pertahanan dan Keamanan (Kemhan).

"Target kita untuk kontrak dengan Kemhan senilai Rp9 triliun dalam kurun waktu 2011 hingga 2014," ungkap Director of Aerostructure PT DI Andi Alisjahbana, kala ditemui di kantornya, Bandung, Kamis (12/1/2012).

Andi menuturkan, hingga saat ini kontrak yang baru terealisasi hampir 50 persen. Adapun kontrak tersebut adalah pembuatan helikopter untuk TNI Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL). Rencananya, PT DI akan membuat enam helikopter dan pengirimannya akan dilakukan secara bertahap dimulai dari 2011.

Di sisi lain, PT DI juga melakukan ekspor ke negara Korea, sebanyak empat pesawat jenis CN-235, di mana saat ini sudah terkirim tiga pesawat dan menyisakan satu pesawat yang dikirim tahun ini.

Selain itu, perusahaan pembuatan pesawat terbang pelat merah tersebut, pada 2013 akan melakukan ekspor pesawat jenis 212-400 ke negara Thailand. Delapan pesawat, dijadawlakan akan mulai dikirim pada 2013. (mrt) (rhs)

sumber : OKEZONE

Dirgantara Produksi 15 Pesawat N-219 untuk Papua


Desmunyoto P. Gunadi / Jurnal Nasional
 
Jurnas.com | PT Dirgantara Indonesia akan memproduksi sebanyak 15 unit pesawat jenis N-219 yang akan digunakan untuk penerbangan perintis di Provinsi Papua.

"Pengembangan N-219 sudah mulai dilakukan yang prototipenya ditargetkan rampung pada 2014," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana di Bandung, Kamis (12/1).

Menurut Andi, biaya produksi satu unit pesawat berkapasitas 19 penumpang ini mencapai sekitar 4 juta dolar AS.

"Untuk itu dibutuhkan dana sekitar 60 juta dolar AS atau sekitar Rp540 miliar untuk menyelesaikan seluruh proyek tersebut," katanya.

Ia menjelaskan pihaknya sudah menyampaikan proposal kepada pemerintah untuk mendapat pembiayaan dari APBN. "Pengembangan pesawat N-219 tersebut mendapat dukungan penuh pemerintah seperti Kementerian Ristek, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan," katanya.

Menurutnya pesawat jenis N-219 merupakan tipe pesawat yang sangat cocok dan handal untuk wilayah perintis seperti Papua dan sekitarnya.

Pasalnya, dari 310 bandara di seluruh wilayah Papua sebanyak 90 persen di antaranya memiliki landasan pacu kurang dari 800 meter.

"Landasan pacu di wilayah Papua umumnya berukuran pendek, bahkan ada yang hanya 400 meter. Tentu dibutuhkan pesawat yang cocok untuk digunakan di wilayah itu," tegasnya.

Selain pembiayaan dari pemerintah, juga akan diupayakan diperoleh dari perusahaan yang akan mengoperasikan pesawat komersial tersebut. Antara

sumber: Jurnas

TNI membutuhkan Panzer Light Tank,Medium Tank, dan Main Battle Tank (MBT)



Main Battle Tank (MBT)Leopard 2A6 Bundeswehr melakukan manuver di tanah berlumpur dan menyeberangi sungai. (Foto: Bundeswehr)

Dalam menyusun kekuatan kaveleri,tentunya harus dilengkapi beberapa varian alat tempur,baik tank dan panser. Lengkapnya peralatan tempur,merupakan alternatif persenjataan yg harus siap setiap saat untuk digunakan oleh pasukan kavaleri. Saat kapan TNI menggunakan panzer, light tank, medium tank dan main battle tank,tentunya dalam penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan,strategi n kondisi medan tempur. Tentunya tidak serta merta peralatan tersebut secara keseluruham akan digunakan. Sebagai contoh: untuk menghadapi MBT musuh,apakah kita akan menghadapinya dengan Light tank, hal ini jelas konyol ,untuk daerah danau,apakah kita akan menggelar MBT, tentunya juga tidak, namun akan lebih tepat menggelar tank amfibi. Dengan demikian,berbagai kebutuhan TNI harus tersedia secara lengkap sesuai dg kebutuhannya. Jangan sampai di saat menghadapi pertempuran TNI kedodoran, kalo hal itu terjadi, pasti yang paling bertanggungjawab adalah pengambil kebijakan.

Saat ini Indonesia sudah punya Light Tank,seperti AMX13 dan Scorpion dalam jumlah yg cukup,jadi untuk sementara tidak perlu adanya penambahan. Apalagi kekuatan kavaleri juga sudah didukung oleh beberapa tipe panzer. Jadi berdasarkan pertimbangan tersebut,penambahan tank MBT adalah sangat tepat,karena TNI belum memiliki jenis tank tersebut.

Pembangunan pertahanan,sebaiknya dilakukan secara pararel,yaitu pertama,dengan melakukan pengadaan alusista yg belum mampu diproduksi sendiri kedua, terus melakukan pengembangan dan pemberdayaan industri strategis hingga benar-benar  berkemampuan tinggi.

Sebenarnya perlu diakui,bahwa industri strategis kita masih pada taraf pengembangan dalam membuat medium tank,itupun masih prototype. Jadi belum ada kemampuan membuat MBT. Dengan demikian,kebutuhan MBT harus tetap didatangkan dari luar negeri. Sementara kemampuan produksi dalam negeri,masih merupakan orientasi jangka panjang,sehingga hal tersebut bisa digunakan utk penggantian light tank yg sudah uzur,tanpa mengurangi beberapa tipe tank.

Pada sisi lain perlu disadari,bhw proses rancang bangun juga membutuhkan waktu yg cukup panjang,namun upaya tersebut tetap perlu dan harus dilakukan guna menunjang kemandirian industri strategis. Untuk saat ini yg harus dipahami,bahwa untuk mengisi kekosongan alutsista,khususnya MBT, tetap perlu dilakukan proses pengadaan. Hal ini mengingat bahwa kekosongan salah satu alutsista TNI, akan berakibat lemahnya kekuatan pertahanan.

Berdasarkan uraian tersebut,bisa simpulkan bahwa peralatan tempur khususnya tank,harus tetap tersedia berbagai varian,baik mulai light,mediun  dan main battle tank. Dengan tersedianya berbagai alternatif persenjataan,maka kesiapan tempur TNI akan semakin baik.

Demi kejayaan NKRI,buanglah kepentingan pribadi,kelompok dan golongan. Satukan seluruh jiwa untuk kejayaan Bangsa dengan rasa keikhlasan tanpa melukai hati rakyat.. Jauhkan rasa saling curiga dan saling menjatuhkan. Mari sama-sma kita bangun negara kita,agar menjadi negara yg kuat n berwibawa di mata dunia.

Oleh Pengamat Alutsista/User dll yang tidak berkenan disebut namanya
Artikel ini dari reader blog Indonesia Defence (Indodefsista)
Diedit Oleh Admin Indonesia Defence
Sebelumnnya Admin mengucapkan Terimakasih kepada pembuat artikel ini yang tidak mau disebutkan namanya dengan ID anymous

Rusia Peringatkan Eropa Atas Sanksi Minyak Iran


Seorang pejabat senior Rusia memperingatkan Uni Eropa untuk tidak bergabung dalam sanksi minyak Amerika Serikat terhadap Iran, karena langkah itu memiliki konsekuensi ekonomi yang pahit bagi negara-negara anggota blok itu.

"Jika Uni Eropa mengikuti Amerika dan memaksakan embargo pada ekspor minyak Iran, maka organisasi itu sendiri yang akan menderita kerugian terburuk dan bukan AS, sebab Washington memiliki banyak cadangan minyak," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Rusia, Nikolai Patrushev kepada Interfax pada Kamis (12/1).

"Mengingat masalah jangka panjang ekonomi di zona euro, kebijakan seperti itu hanya akan memperburuk situasi," tambahnya.

Pejabat itu menuturkan pemerintah Rusia menyadari rencana Eropa untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran dalam pertemuan mendatang pada 23 Januari.

"Uni Eropa adalah mitra dagang, ekonomi, dan politik yang paling penting bagi kita. Euro adalah mata uang kedua dalam cadangan negara kita. Oleh karena itu, secara fundamental sangat penting bagi Rusia agar Eropa tidak menjadi lemah, tapi harus menjadi lebih kuat sebagai salah satu pusat dari tatanan dunia sekarang," jelasnya.

Patrushev lebih lanjut menandaskan tuduhan Amerika Serikat bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, yang menjadi pembenaran utama Washington untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Tehran, belum pernah terbukti.

"Kami telah mendengar selama bertahun-tahun bahwa Iran akan membuat bom atom dalam beberapa pekan ke depan. Namun, komponen militer program nuklir Iran belum pernah terbukti sama sekali," tegasnya.

Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan pada Rabu bahwa negaranya tidak akan bergabung dalam sanksi AS dan Eropa terhadap sektor minyak Iran.

SUMBER :(IRIB Indonesia/RM)

Para Pejabat AS Kutuk Perlakuan Marinir AS atas Mayat Taliban

Pejabat-pejabat AS telah mengutuk video yang menunjukkan beberapa anggota Marinir Amerika mengencingi mayat pejuang Taliban.


Foto: Reuters
Menhan AS, Leon Panetta memerintahkan Korps Marinir AS dan panglima NATO di Afghanistan untuk menyelidiki video pelecehan mayat Taliban oleh marinir AS (foto: dok).
Menteri Pertahanan Leon Panetta hari Kamis mengatakan video itu "benar-benar tercela." Dia bertekad mereka yang bertanggung jawab akan dituntut bertanggung jawab sepenuhnya.

Panetta memerintahkan Korps Marinir Amerika dan panglima pasukan keamanan NATO di Afghanistan untuk menyelidiki video itu.
Menteri pertahanan itu berbicara lewat telepon hari Kamis dengan Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan menegaskan akan ada penyelidikan serius atas insiden itu.

Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengulangi kecaman Panetta atas tindakan itu, dengan mengatakan hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai Amerika dan standar perilaku yang diharapkan dari personil militer Amerika.

Karzai mengatakan, pemerintahnya "sangat terganggu" oleh video itu, dan bahwa tindakan itu menodai mayat-mayat warga Afghanistan tersebut. Dia menyebut tindakan itu "tidak manusiawi."

Seorang juru bicara Taliban (Zabihullah Mujahed) mengatakan walaupun video itu "mengejutkan," menurutnya hal itu tidak akan mengganggu pembicaraan damai dengan Amerika.
Pentagon mengatakan tidak punya alasan untuk meragukan keaslian rekaman itu.
Para pejabat militer Amerika hari Kamis mengatakan Korps Marinir telah mengidentifikasi personil dalam rekaman video itu, tetapi tidak memberikan nama-nama mereka.

SUMBER : VOA INDONESIA

Lockheed Martin F-35 Program Exceeds 2011 Flight Test Goals

Lockheed Martin F-35 Program Exceeds 2011 Flight Test Goals


The Lockheed Martin [NYSE: LMT] F-35 System Development and Demonstration 2011 flight test program resulted in the completion of more test flights and test points than in any year.
The 2011 flight test plan called for the accumulation of 872 flights and 6,622 test points by Dec. 31. For the year, the SDD program flew 972 flights and tallied 7,823 test points. The F-35A Conventional Takeoff and Landing (CTOL) variant flew 474 flights and accomplished 3,600 test points. The F-35B Short Takeoff/Vertical Landing (STOVL) variant accomplished 333 flights and 2,636 test points. The F-35C Carrier Variant (CV) flew 165 flights and tallied 1,587 test points. Along with this, the STOVL executed 268 vertical landings. The cumulative 2011 milestones were achieved through a combination of planned test flights and test points along with test flights and test points added throughout the year.
“The success of the flight test program is the result of a team of dedicated government and contractor professionals,” said Larry Lawson, Lockheed Martin’s F-35 program executive vice president and general manager. “The test team continues to gain momentum and they will build upon this success for an even better 2012. I couldn’t be prouder of the team.”
The overall F-35 SDD flight test program plan calls for the verification of 59,585 test points through developmental test flights by Dec. 31, 2016. Through 2011, the flight test team has accomplished 12,728 test points or 21.4 percent of overall testing requirements.
“These achievements speak to the rapid maturation of the F-35 program and to our team’s commitment to performing with excellence,” said J.D. McFarlan, vice president of F-35 Test and Verification. “We will now turn towards 2012, expanding the flight envelope as we continue to demonstrate the F-35’s excellent flight characteristics for all three variants.”

Major flight test achievements in 2011 include:

  • A major highlight for October was the completion of F-35B short takeoff/vertical landing (STOVL) ship suitability testing aboard the USS WASP (LHD-1) off the coast of Virginia. The test began when BF-2 executed the first shipboard vertical landing on Oct. 3. The next day, BF-2 executed the first short takeoff from the WASP. During the third week of sea trials, BF-2 and BF-4 operated simultaneously on the ship. Combined, they accomplished 72 short takeoffs and 72 vertical landings during the three-week testing period.
  • The mission systems test aircraft performed Block 1A and Block 1B software testing including demonstrating Communication Navigation and Identification (CNI) range and accuracy and integrated Electro-Optical Targeting System testing that included Tactical FLIR (Forward Looking Infra-Red) and combat laser firing. The software also displayed imagery from the Distributed Aperture System on the Helmet Mounted Display. Further testing accomplished radar search and target tracking, Synthetic Aperture Radar Mapping, Electronic Warfare testing, and multi-sensor fusion of four sensors. In addition, baseline Radar Cross Section signature testing was accomplished on three mission system aircraft.
  • On Nov. 18, CF-3, an F-35C test aircraft, conducted the first F-35 launch from the Navy’s new Electromagnetic Aircraft Launch System (EMALS). Testing the F-35C on EMALS marked the beginning of the process to integrate the carrier variant with the future carrier fleet aircraft launching system.
  • The F-35B STOVL jets conducted 268 vertical landings (VLs) in 2011 compared to 10 VLs in 2010. F-35B aircraft also completed 395 short takeoffs (STOs) this year.
  • AF-1 achieved the F-35’s maximum design limit speed of Mach 1.6 for the first time on Oct. 25.
  • Jet Blast Deflector (JBD) testing was performed by F-35C Lightning II carrier variant (CV) aircraft CF-2 at Joint Base McGuire-Dix-Lakehurst, N.J. from June 25-July 8. CF-2 successfully completed this portion of tests required to ensure the F-35C is compatible aboard an aircraft carrier.
  • AF-6 and AF-7 completed Maturity Flight testing of the training syllabus software at Edwards Air Force Base, Calif., designed to simulate operating an F-35 without a mission control room.
  • The F-35 program successfully performed aerial refueling testing with KC-135 and KC-10 aircraft.
SUMBER DEFENCE TALK:

AS Kerahkan Armada Perang ke Timteng



Amerika Serikat telah mengirimkan kapal induk USS Carl Vinson ke Teluk Persia di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan strategis itu, Press TV melaporkan pada Kamis (12/1).

Pentagon menyatakan bahwa kedatangan kapal yang membawa 80 pesawat tempur dan helikopter itu adalah agenda "rutin" dan ditujukan untuk meringankan beban kapal induk USS John Stennis.

Pentagon menambahkan bahwa USS Carl Vinson telah tiba di daerah yang menjadi tanggung jawab Armada Kelima Angkatan Laut AS, yang meliputi Teluk Persia, Laut Merah, Teluk Oman dan bagian dari Samudera Hindia.

Angkatan Laut AS bagaimanapun mengatakan, kapal induk tersebut belum sampai di Teluk Persia dan tidak akan melintasi Selat Hormuz.

Juru bicara Pentagon, John Kirby mengatakan, USS Abraham Lincoln di Samudera Hindia juga dalam perjalanan untuk bergabung dengan USS Carl Vinson.

"Penyebaran kapal-kapal itu di kawasan adalah hal yang rutin, telah lama direncanakan dan tidak ada yang aneh," jelas Kirby.
SUMBER :(IRIB Indonesia/RM)

Ketika Pihak asing mencoba menggangu kedaulatan wilayah udara kita

Jakarta - Untuk kesekian kalinya, TNI AU berhasil
memergoki dan mencegat pesawat-pesawat asing di
wilayah udara Indonesia yang tak mempunyai izin
melintas. Dalam peristiwa terakhir disebutkan dua
pesawat Sukhoi TNI AU membayang-bayangi pesawat jet
P2-ANW Dassault Falcon 900EX di langit Banjarmasin,
Kalimantan Selatan, selama 37 menit, waktu yang cukup
lama, pada 29 November 2011.
Pesawat yang ternyata ditumpangi oleh Deputi Perdana
Menteri Papua Nugini H. O. N. Belden Namah, yang
sedang melakukan penerbangan dari Subang, Selangor,
Malaysia, ke Papua Nugini, dicegat oleh 'sayap tanah air'
Indonesia karena tidak memberi respons positif ketika
diajak berkomunikasi oleh Kontrol Udara Makassar.
Untung kejadian tersebut berakhir dengan tidak
dipaksakan pesawat Falcon itu untuk mendarat setelah
baru diketahui izin melintasnya.
Merasa terintimidasi dengan kejadian itu, maka hubungan
kedua negara, Indonesia-Papua Nugini, sempat memanas.
Kejadian itu membuat Perdana Menteri Papua Nugini
Peter O'Neil mengancam mengusir Duta Besar Indonesia
untuk Papua Nugini.
Terlepas masalah hubungan diplomatik kedua negara, kita
harus mengapresiasi kerja TNI AU. Meski dengan
keterbatasan yang ada dan kepemilikan pesawat yang
masih minim, TNI AU selama ini berhasil menjaga wilayah
udara kita dengan gagah perkasa. Pembelian pesawat
Sukhoi dan F-16, yang mahal, telah menunjukan
kesebandingan dengan fungsi yang telah dilakukan yakni
menjaga dan mempertahankan wilayah nasional.
Kesuksesan mencegat pesawat Falcon itu mirip dengan
ketika Sukhoi TNI AU, Maret 2011, menghentikan
penerbangan Pakistan Internasional Airlines (PIA), jenis
Boeing 737 seri 300, yang melintas wilayah udara
Indonesia tanpa izin. Gerakan pesawat yang terdeteksi
oleh radar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II
di Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan,
membuat dua Sukhoi TNI AU yang ada di Skuadron Udara
5 Lanud Sultan Hasanuddin langsung terbang dan
memberikan peringatan pesawat asing itu mendarat
darurat. Pencegatan terhadap pesawat yang ditumpangi
oleh pasukan PBB yang hendak melintas dari Dili, Timor
Leste, ke Malaysia itu berhasil memaksa mereka untuk
mendarat di Lanud Hasanuddin, Makassar, Sulawesi
Selatan.
Sebelumnya, Desember 2010, pesawat Malaysia jenis BAE
146-200 yang membawa 81 penumpang yang sebagian
besar penumpang pesawat adalah keluarga Kerajaan
Melaka, Menteri Pertanian Malaysia, putra PM Malaysia
Najib Razak, berhasil ditahan oleh TNI selama 5 jam di
Bandara Udara Djuanda, Surabaya, Jawa Timur, karena
tidak mengantongi izin resmi melintas di Indonesia.
Pesawat itu hendak melakukan penerbangan Dili, Timor
Leste ke Kuala Lumpur, Malaysia.
Dari sekian kali pencegatan yang dilakukan oleh TNI AU
terhadap pesawat tanpa izin yang melintas di wilayah
udara Indonesia, peristiwa Insiden Bawean-lah yang
paling menegangkan. Insiden Bawean adalah ketika 3
pesawat F-16 TNI AU berhasil mendeteksi penerbangan
ilegal 5 pesawat F-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika
Serikat (US Navy) yang sedang terbang dan bermanuver di
perairan Bawean, Jawa Timur, Juli 2003.
Dari pantauan radar, kelima F-18 Hornet itu terbang lebih
dari satu jam dan mengadakan latihan tempur. Apa yang
dilakukan itu tentu saja selain bisa dikatakan mengganggu
kedaulatan wilayah udara Indonesia, juga menyebabkan
terganggunya penerbang n komersial yang menuju ke
Surabaya dan Bali. Bagi pihak Indonesia, pesawat-pesawat
US Navy itu tak meminta izin dengan ATC terdekat. Sedang
pihak US Navy melakukan demikian karena mereka merasa
berada di perairan internasional sehingga tak perlu
meminta ijin kepada Indonesia.
Kejadian itu sangat menegangkan sebab yang dihadapi
oleh pesawat tempur TNI AU adalah juga pesawat tempur,
bukan pesawat sipil. Sehingga tak heran bila saat di udara
posisi yang terjadi adalah masing-masing pihak siap
dogfight.
Merasa TNI AU inferior dengan pilot-pilot tempur pesawat
US Navy, jumlah pesawat F-18 Hornet lebih canggih serta
lebih banyak, serta adanya dukungan pesawat tempur lain
dari kapal induk US Navy yang berada di perairan, maka
pilot-pilot F-16 mulai memperkenalkan diri. Dengan
memperkenalkan diri kepada pilot-pilot F-18 Hornet itulah
akhirnya ketegangan menjadi reda. Dan akhirnya pesawat-
pesawat pesawat tempur kedua negara balik ke posisi
masing-masing.
Dari kejadian-kejadian di atas bisa disimpulkan bahwa,
pertama, sepertinya ada unsur-unsur kesengajaan dari
pihak Malaysia untuk mengganggu wilayah udara kita,
terbukti dari pesawat-pesawat yang melintas tanpa izin
semua melalui rute dari dan ke Malaysia. Pihak-pihak di
Malaysia mengabaikan izin melintas bisa jadi karena
mereka menganggap bahwa penjagaan wilayah udara
Indonesia, seperti wilayah perbatasan darat atau wilayah
laut, adalah lemah sehingga mereka tak merasa khawatir
bila melintas tanpa permisi.
Kedua, dengan berhasilnya TNI AU menjaga wilayah udara,
sudah sepatutnya alutsista kepada TNI AU lebih
ditingkatkan. Rencana pembelian pesawat F-16 dan Sukhoi
agar lebih dipercepat. Disebut, jumlah pesawat F-16 yang
dimiliki Indonesia saat ini 10 unit yang merupakan F-16 A/
B Blok 15 yang dibeli pada tahun 1986. Dengan membeli
cara hibah sebanyak 24 pesawat maka kekuatan pesawat
F-16 TNI AU menjadi 34 pesawat. Bila membeli baru, 6
pesawat, maka kekuatan pesawat F-16 TNI AU menjadi 16.
Baik DPR maupun pemerintah mempunyai dasar masing-
masing soal pembelian pesawat itu, secara hibah atau
baru.
Demikian pula rencana pembelian 8 pesawat Sukhoi baru
akan bisa membangun satu skuadron tempur Sukhoi.
Diberitakan, Indonesia kini telah memiliki empat pesawat
tempur Sukhoi masing-masing jenis SU-27SK (dua unit)
dan SU-30MK (dua unit). Pastinya pembelian pesawat-
pesawat itu didukung dengan alutsista penunjang, seperti
radar, rudal, dan lain sebagainya.
Ketiga, modernitas alutsista sangat berpengaruh terhadap
kesiapsiagaan TNI dalam mempertahankan wilayah i
Indonesia. Peristiwa Insinden Bawean yang menyebabkan
kita lebih menerima kehadiran secara ilegal pesawat US
Navy karena mereka memiliki alutsista yang lebih canggih
dan modern.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, bisa dilakukan
dengan memperbanyak latihan. Berhasilnya TNI AU
mencegat pesawat-pesawat ilegal melintasi di udara
karena para pilot TNI AU telah sering melakukan latihan.
Bila pencegatan terhadap pesawat ilegal kita sudah mahir
maka yang perlu ditingkatkan adalah pelatihan tempur,
siapa tahu Insinden Bawean terulang.
Sumber : DETIK

Politisi: pembelian 100 tank Leopard mendadak

Kamis, 12 Januari 2012 12:53 WIB | 813 Views

Leopard A-5 (wikipedia)
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq mengatakan bahwa pembelian 100 tank Leopard oleh Kementerian Pertahanan dan TNI dilakukan secara mendadak tanpa ada komunikasi dengan Komisi I DPR RI.

"Ini kan rencana tiba-tiba, karena didasari keinginan negara Eropa menjual sebagian alutista mereka. Bisa saja TNI mencari peluang membeli alutista yang ditawarkan," kata Mahfudz, di Jakarta, Kamis.

Di samping itu, masih kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, pembelian tank tetap harus sesuai medan dan kebutuhan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Indonesia.

"Untuk pembelian tank Leopard, Komisi I DPR RI berpandangan itu tidak cocok untuk wilayah  Indonesia karena bobotnya yang 62 ton. Tank Leopard itu digunakan untuk medan seperti di Eropa dan tidak cocok dengan Indonesia," kata dia.

Mahfudz berpendapat pengadaan alutsista dari luar negeri sebaiknya dilakukan dengan sistem "G to G" atau kerjasama dari pemerintah ke pemerintah agar bisa memutus mata rantai dari pihak ketiga.

Komisi I DPR RI, ujar Mahfudz, menilai pengadaan tank Leopard sebagai langkah yang tidak tepat dan lebih mendorong agar PT Dirgantara Indonesia untuk membuat prototipe tank kelas menengah yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

Dukungan ini selaras dengan keinginan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah disampaikan pada tahun 2008.

"Komisi I DPR RI sudah menyampaikan pandangannya terkait pembelian tank. Saya tidak tahu apakah TNI memaksakan pembelian tank ini. Kalau dipaksakan, bisa menjadi tanda tanya sendiri," kata dia. (Zul)

sumber Antara

Pesawat F-16 mengawal pesawat Garuda yang ditumpangi Presiden SBY


Tribun Pekanbaru - Kamis, 12 Januari 2012 12:31 WIB
|
pesawat_kawal.jpg
Kompas/A Tomy Trinugroho
pesawat F-16 mengawal pesawat Garuda yang ditumpangi SBY
TRIBUNPEKANBARU.COM-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (12/1/2012) sekitar pukul 10.30 WIB, tiba di Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, setelah menjalani penerbangan sekitar 40 menit dari Malang.Seusai makan siang di Madiun, Presiden dan rombongan rencananya melanjutkan perjalanan lewat darat menuju Pacitan.
Dalam perjalanan udara menuju Madiun, pesawat Garuda yang ditumpangi rombongan Presiden didampingi empat pesawat F-16 yang berpangkalan di Lanud Iswahjudi.
Keempat pesawat ini mendampingi pesawat Presiden sejak di tengah perjalanan hingga sampai di Madiun.
"Selamat pagi dan salam sejahtera dari ketinggian 22.000 kaki. Kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Presiden dan Ibu, beserta rombongan. Merupakan satu kehormatan bagi kami, pesawat tempur TNI Angkatan Udara, untuk melaksanakan tugas escort pesawat Indonesia One," kata salah seorang pilot pesawat F-16 lewat radio yang diperdengarkan di kabin pesawat Presiden.
"Beberapa saat lagi kita akan memasuki restricted area Iswahyudi, tempat penjaga angkasa bersarang dan menempa diri untuk menghadapi segala ancaman udara. Kami TNI Angkatan Udara selalu siap sedia menjaga setiap jengkal wilayah kedaulatan Republik Indonesia dari udara. Akhirnya, kepada Bapak Presiden dan Ibu, beserta rombongan, kami ucapkan selamat datang di Lanud Iswahyudi. Have a nice flight and happy landing. All falcon, kepada Presiden Republik Indonesia, hormat gerak! Tegak gerak!" ujar pilot itu.(*)

sumber : TribunPekanbaru

Wednesday, January 11, 2012

Lepaskan Jubah kebesaran kita, lepaskan ego, lepaskan kepentingan pribadi golongan dan buang kepentingan lainya untuk Pertahanan dan Keaman RI yang Kuat dan disegani bangsa bangsa di dunia


Leopard 2A6 Bundeswehr melakukan manuver di tanah berlumpur dan menyeberangi sungai. (Foto: Bundeswehr)
Kalau kita lihat komentar-komentar dari LSM ,Pengamat dan  elit Politik yang ada di DPR, kita miris mendengarnya , prihatin dan perlu dipertanyakan Nasionalis mereka, kecintaan terhadap NKRI ini, dan perlu dipertanyakan juga apakah meraka orang titipan? antek antek Asing?

Isu terhangat pengadaan Main Battle Tank dari Pengamat, LSM,Elit Politik mereka menyerbu pemerintah untuk membatalkan pembelian MBT Leopard 2A6. ya dengan alasan Klasik Main Battle Tank Gak cocok di geografis Indonesia karena bobot MBT tersebut 62 Ton. Saya katakan MBT bisa jalan di negeri tercinta ini lihat di negara-negara lain MBT jalan dilumpur dan pinggiran rawa bahkan menyebrangi sungai yang berlumpur.  Saya sarankan untuk Pengamat ,LSM,Elit Politik amati cermati dan lihat dinegara lain biar terbuka wawasan untuk apa MBT itu , MBT bukan untuk nembaki rakyat sendiri , lo rakyat kita sendiri masa ditembaki digilas pake MBT? terlalu naif dan terlalu dini untuk mengatakan MBT tidak cocok di Indonesia.

Wahai Para pengamat,LSM,Elit politik Lepaskan Jubah kebesaran , lepaskan ego, lepaskan kepentingan pribadi  golongan dan buang kepentingan lainya untuk Pertahanan dan Keaman RI yang Kuat dan disegani bangsa bangsa di dunia, Kalau membuat komentar-komentar yang tidak enak didengar dan melemahkan kekuatan pertahanan kita hanya karena UUD (ujung ujung nya duit) itu artinya sama saja membuat bangsa dan negara ini hancur selalu diusik selalu ditumpangi oleh negara negara lain.

TNI sedang membangun kekuatan yang dituangkan dalam renstra TNI 2010-2014 dan ingin mencapai MEF tentunya modernisasi dan peningkatan jumlah alutsista tentunya kita harus dukung agar pertahanan dan kemamanan kita kuat dan mempunnyai efek deterance yang mumpuni dan disegani bangsa bangsa di dunia.

Pemerintah tentunya dalam pengadaan alutsista untuk mencapai MEF harus meminta persetujuan DPR nah disini Komisi I DPRRI jangan lah ego dan sewot  sewotan ngambek alhasil karena ego gagallah semua pengadaan alutsista TNI yang nota benenya untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negara , sebagai contoh pengadaan MBT leopard 2A6 dari belanda belum meminta persetujuan elit politik di media dah koar koar MBT tidak cocok untuk indonesia , nah kalo gini gimana? buat bingung masyarakat, Istilahnya gini Kata Masyarakat : " Apanya kalian ribut ribut gak jelas apa kurang amplopnya?" apa kurang jatah ? merasa tidak dihargai?. Ingat DPR itu pake uang rakyat berilah contoh teladan dan buat rakyat tidak bingung.

Seharusnya DPR harus menjalankan fungsinya DPR sebagai pengawal dan partner pemerintah bukan jadi musuh pemerintah, yang terjadi sekarang DPR seolah olah jadi musuh pemerintah bisa nya menganjal ganjal saja, apa mungkin gak dapet jatah? , Ok ini jaman era demokrasi semua bebas ngomong , mbo ya kasih contoh yang baik dan santun bukan songong songonga, ego-egoan,kuat-kuattan, kalo kaya gini gimana jadinya bangsa ini?. kalo menurut pendapat saya ada musuh dalam selimut yang ingin melemahkan sistem pertahan dan keamanan kita dengan isu HAM, dan sebagainya .

Jadi bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. majulah TNI dengan modernisasi alutsistanya dan segerahlah nongkrong MBT-MBT di NKRI ini karena tetangga kita dikawasan ini sudah punya MBT. Majulah bangsa ku

oleh : IWJ
By Indonesia Defence





Komisi I Tolak Pembelian 100 Tank Leopard Bekas dari Belanda


Leopard 2A6 Bundeswehr melakukan manuver di tanah berlumpur dan menyeberangi sungai. (Foto: Bundeswehr)

11 Januari 2012, Senayan: Komisi I DPR tidak setuju atas rencana pemerintah membeli 100 tank Leopard 2A6 bekas dari Belanda. Spesifikasi tank tersebut dinilai tidak cocok dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari hutan dan pegunungan.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengungkapkan, tank Leopard sangat cocok untuk perang kota atau perang di area gurun pasir. Sebab tank itu memiliki kemampuan tembak hingga 6 km, sementara berdasarkan kajian tank yang dioperasikan di Indonesia hanya bisa efektif menembak lurus dalam jarak 1–2 Km saja.

"Dalam rapat internal Komisi 1 kemarin, mayoritas fraksi menolak rencana pemerintah membeli tank bekas dari Belanda tersebut. Bahkan anggota Fraksi dari pemerintah, Demokrat bersikap sama, menolak," kata Hasanuddin di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta Rabu (11/1).

Hasanudin mengatakan, sebelumnya Kemenkeu menyampaikan bahwa tahun ini Indonesia mendapat alokasi pinjaman luar negeri (PLN) untuk belanja alutsista sebesar 6,5 miliar US dolar. Di mana sebagian dari dana itu dikabarkan akan digunakan Kementerian Pertahanan membeli 100 tank Leopard 2A6 bekas dari Belanda. Jika DPR menolak rencana tersebut, maka dana pinjaman tersebut tidak bisa cair.

"Pertanyaannya jika DPR tidak setuju dengan rencana pembelian itu, kemudian pemerintah tetap membelinya, dari mana sumber dana untuk pembelian itu, kan gitu. Karena kabarnya pemerintah optimis dapat segera mendatangkan 100 Tank Leopard 2A6 bekas dari Belanda itu segera," ujar politisi PDIP ini.

Purnawirawan jenderal TNI ini memaparkan, bahwa DPR bukannya tidak setuju pemerintah membeli tank. DPR setuju-setuju saja, asal kondisi barangnya sesuai dengan geografi Indonesia. Berdasarkan penjelasan salah satu anggota Komisi I yang sudah 30 tahun tugas di batalyon tank Salim Mengga, tank yang cocok untuk dipergunakan di Indonesia yakni kelas medium sekitar 23 ton.

"Dalam hal ini sebenarnya Presiden juga telah mengeluarkan perintah untuk melakukan riset untuk jenis tank yang cocok digunakan di Indonesia. Kemudian PT Pindad telah selesai membuat prototipe bagi tank yang diinginkan tersebut. Lalu kenapa sekarang yang muncul justru tank kelas berat, 63 ton. Inikan jadi tanda tanya, apa yang di inginkan presiden dengan yang dilakukan bawahannya berbeda," tegasnya.

Sebelumnya KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, selain Tank, TNI AD juga akan membeli beberapa jenis persenjataan lainya seperti peluncur roket multi laras, helikopter type 1412 dan helikopter Apache. Selain itu TNI AD juga akan membeli meriam 155 mm dari Perancis.

Pramono menyebutkan, untuk Tank Leopard 2A6 seberat 62 ton seharga 280 juta US dolar, awalnya TNI AD membeli 44 unit. Setelah dilakukan negosiasi, pihak pabrik dari Eropa menawarkan 100 unit dengan harga sama dan diputuskan untuk membeli 100 unit tank Leopard itu.

Sumber: Jurnal Parlemen

Komisi I Tunggu Penjelasan Pemerintah Soal Hibah Hercules

C-130H Hercules dari 37 Squadron RAAF, berpangkalan di RAAF Base Richmond terbang di atas kota Melbourne. (Foto: Australia DoD)

10 Januari 2012, Senayan: Komisi I DPR hingga kini belum bersikap dan mengambil keputusan atas rencana pemerintah menerima hibah 4 unit pesawat Hercules bekas jenis C130 seri H dari Australia. Sebab, pemerintah belum menyampaikan rencana tersebut kepada DPR selain rencana menerima hibah 24 unit pesawat bekas F-16 dari Amerika Serikat.

"Pemerintah hingga kini belum menyampaikanya ke DPR soal rencana menerima pesawat bekas dari Austrlia, Hercules jenis C130 seri H itu. Karenanya DPR tidak tahu atas rencana itu dan hingga kini sudah tentu belum ada persetujuan dari DPR," kata Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin di gedung Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (10/1).

Hasanuddin mengatakan, memang sebelumnya pemerintah berencana untuk menerima hibah pesawat bekas Hercules dari Australia. Namun kemudian hal itu dibatalkan. Bahkan saat itu juga telah disiapkan anggarannya untuk kepentingan retrofit, sebesar Rp 430 miliar. Namun tiba-tiba pemerintah memutuskan batal, dan alokasi anggaran itu dialihkan untuk perbaikan pesawat lainnya.

"Jadi sepengetahuan DPR yang terakhir ya memang pemerintah membatalkan rencana menerima hibah pesawat bekas dari Austrlia itu. Kalau sekarang tiba-tiba pemerintah bilang akan menerima hibah pesawat tersebut dan tinggal menunggu persetujuan dari DPR, ya kita belum tahu itu," ungkap politisi PDIP ini.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan saat ini pemerintah tinggal menunggu persetujuan dari DPR untuk menerima hibah pesawat Hercules bekas dari Australia. Selain itu Purnomo mengatakan sebelum dibawa ke Indonesia, pesawat Hercules tersebut harus lebih dulu diretrofit. Saat ini pemerintah masih menyusun anggaran retrofit pesawat hibah itu, untuk dimasukan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (ABPN) Perubahan tahun 2012.

Purnomo menambahkan kehadiran empat unit pesawat Hercules akan menambah kekuatan pertahanan Indonesia termasuk untuk membantu akomodasi penanggulangan bencana.

TB Hasanuddin: Pesawat Super Tucano Bukan untuk Tempur

Pesawat Super Tucano yang dipesan pemerintah Indonesia dari Brasil akan datang mulai Maret 2012 mendatang. Untuk sementara empat unit dari 16 pesawat yang dipesan.

"Ya, saya gembira pesawat sudah mulai dikirim bertahap dan akan segera mengganti pesawat lama di Skuadron 21 Abdulrahman Saleh," kata anggota Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin kepada Jurnalparlemen.com, Senin (9/1).

Menurut politisi PDIP ini, Super Tucano A29 terbang untuk bantuan dekat, bukan untuk fighter. "Bantuan dekat itu untuk menembak sasaran di darat. Koordinasi dengan satuan-satuan di darat dan satuan-satuan di laut. Itu cukup bagus dan harganya relatif murah," kata anggota DPR asal Majalengka, Jawa Barat ini.

Super Tucano direncanakan akan terbang perdana di hadapan publik pada HUT TNI AU 9 April mendatang. Super Tucano memiliki keunggulan close air support. Juga memiliki kemampuan menembakkan asap ke darat secara cepat untuk menunjukkan posisi musuh.

Sumber: Jurnal Parlemen

Waspadai Iran, AS Akan Perbaharui Persenjataan Negara Teluk


Aulia Akbar
Selasa, 10 Januari 2012 13:04 wib
ilustrasi : arabianbusiness
ilustrasi : arabianbusiness
RIYADH - Amerika Serikat (AS) mendesak negara Teluk agar memperbaharui misil-misilnya, di samping itu, AS juga melanjutkan pembangunan sistem pertahanan misil dengan negara-negara Teluk lainnya. Misil-misil itu ditujukan untuk melindung negara penghasil minyak dari ancaman misil Iran.

Pada 2 Januari lalu, perusahaan militer asal Massachusetts, Raytheon Co mengumumkan penandatanganan kontraknya dengan Uni Emirat Arab untuk membangun sistem anti-misil Terminal High Altitude Area Defence (THAAD). Uni Emirat Arab juga mendapatkan 96 misil untuk pertahanannya pada Desember 2011.

Pada 2010 lalu, AS juga menempatkan radar AN/TPY-2 di Gurun Negev, yang terletak di bagian selatan Tel Aviv. Radar itu ditujukan untuk memperkuat kapabilitas pertahanan misil Israel dan juga mendeteksi misil Iran. Demikian seperti diberitakan UPI, Selasa (10/1/2012).

Selain membicarakan masalah penempatan sistem pertahanan misil Teluk, AS juga mendesak Arab Saudi agar memperbaharui misil patriotnya. Perusahaan Raytheon juga sudah memperbaharui misil patriot milik Kuwait.

Keenam negara Dewan Kerja Sama Teluk, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Bahrain, sebelumnya sudah sepakat untuk menjalankan konsep integrasi pertahanan pada dua dekade yang lalu. Meski demikian, proses kerja sama itu tampak tersendat karena beberapa negara Teluk menolak untuk berada di bawah kendali Arab Saudi, yang menjadi figur terkuat bagi negara Teluk.

Bila memang proyek pertahanan itu selesai dibangun, sistem pertahanan misil AS tampaknya semakin bertambah kuat, pasalnya North Atlantic Treaty Organization juga memiliki misil di Turki. Menurut Turki, misil-misil NATO tidak diarahkan ke Iran, namun AS sebelumnya mengatakan bahwa misil-misil ditujukan untuk mewaspadai ancaman di Timur Tengah.(AUL)
 
sumber OKE ZONE 

ASEAN akan kembangkan kerja sama maritim di 2012

Rabu, 11 Januari 2012 21:28 WIB 
Marty Natalegawa (FOTO ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Negara-negara anggota ASEAN setuju untuk mengembangkan lebih jauh lagi kerja sama maritim di kawasan, kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

"Para Menlu ASEAN menyetujui saran Indonesia untuk memberdayakan Forum Maritim ASEAN yang sudah melakukan pertemuan tahunannya sejak 2010 agar menjadi ajang untuk membahas kerja sama maritim di kawasan," kata Menlu yang dihubungi ANTARA Rabu, setelah mengikuti Pertemuan Informal Menlu ASEAN di Siem Reap, Kamboja.

Marty mengatakan, di masa yang akan datang Forum Maritim ASEAN selain menjadi ajang diskusi masalah kelautan bagi negara-negara anggota juga akan mengundang negara-negara anggota Konferensi Asia Timur (EAS) untuk membahas isu serupa.

"Ke depan kita ingin lebih menonjolkan faktor kerja sama di bidang kelautan daripada permasalahannya," kata Marty.

Dia menambahkan bahwa selain kerja sama maritim, menlu ASEAN dalam pertemuan di Siem Reap, Rabu, juga setuju untuk memberdayakan Pusat Koordinasi ASEAN Untuk Bantuan Kemanusiaan dalam Manajemen Bencana (AHA Center) yang berlokasi di Jakarta agar mempertajam kemampuan ASEAN untuk menangani situasi paska bencana di kawasan.

Sektor kelautan selama beberapa tahun terakhir telah menjadi isu yang menyebabkan ketegangan diantara negara-negara ASEAN. Mulai dari konflik perbatasan di Laut China Selatan antara empat negara ASEAN dan China hingga masalah pencurian ikan sempat membuat panas situasi di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya. 


sumber : Antara

Rusia Kembangkan Sistem Misil Baru

foto
Pravda.ru
TEMPO.CO, Jakarta - Rusia kini mengembangkan sistem misil strategis dengan teknologi yang sama sekali baru untuk meningkatkan daya gempur Strategic Missile Forces mereka. Sistem baru ini mereka yakini mampu mengatasi berbagai sistem pertahanan misil. Situs berita Pravda.Ru melaporkan ini mengutip pertanyaan seorang sumber di Kementerian Pertahanan Rusia kepada kantor berita Interfax.

"Kami memperkirakan akan mendapatkan rudal baru dengan hulu ledak pada 2018-2020 yang memungkinkan kami mengatasi sistem pertahanan rudal pada waktu itu," kata sumber tersebut. Dia menambahkan sekarang mereka tengah mempersiapkan sebuah sistem untuk misil kelas menengah dengan perlengkapan yang serbabaru. "Dengan demikian pada pergantian tahun 2015 kami bisa mulai meng-upgrade divisi rudal kami."

Sebelumnya Departemen Pertahanan Rusia menyatakan sedang mengerjakan sebuah desain kompleks untuk meluncurkan rudal balistik antarbenua seberat 100 ton.

Berbagai langkah ini ditengarai merupakan reaksi Presiden Dmitry Medvedev atas penempatan rudal pertahanan di Eropa. Tahun ini, misalnya, dua divisi Strategic Rocket Forces Rusia akan mendapat roket "Yars", yang menggunakan rudal balistik antarbenua RS-24. Yars dirancang untuk menggantikan si tua "stiletto" yang kini bertugas di Ivanovo.

Dmitry Medvedev telah menyatakan keberatannya saat bertemu dengan Presiden Barack Obama dalam forum Asia-Pacific Economic Cooperation di Hawaii, November lalu. Tapi, menurut The New York Times, setelah pembicaraan face-to-face itu Presiden Medvedev menyatakan, “Posisi kami tetap jauh terpisah.”

Para pejabat Amerika berusaha menyakinkan bahwa penempatan sistem pertahanan rudal di Eropa dimaksudkan untuk berjaga-jaga terhadap ancaman Iran. Tapi, menurut Pravda, Amerika tak mau memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan mengarahkan rudalnya ke Rusia. Lantaran itu pemerintah Rusia lalu mengumumkan serangkaian tindakan untuk membenahi pertahanan. Medvedev bahkan bicara soal kemungkinan menarik diri dari perjanjian START-III dan mempersiapkan diri menghadapi perang cyber.

sumber : Tempo.co

Indonesia signs $500 mln contract to buy six Russian jet fighters


Sukhoi Su-30MK2 jet fighters
13:07 10/01/2012
MOSCOW, January 10 (RIA Novosti)

Indonesia has signed a $470 million contract with Russia to buy six Sukhoi Su-30MK2 jet fighters for the Indonesian Air Force, The Jakarta Post daily has reported.
The deal was confirmed by Russian defense-industry and diplomatic sources, but the Sukhoi aircraft maker and arms exporter Rosoboronexport declined to comment.
Deliveries will start after 2013.
Indonesian Deputy Minister of Defense Sjafrie Sjamsoeddin said his office had handed over the contract to Rosoboronexport on December 30.
“We have another contract still in progress,” Sjafrie said.
The Indonesian Air Force currently has 10 Sukhoi jetfighters - six Sukhoi SU-27SKMs and four Sukhoi SU-30MK2s. The Air Force plans to place one squadron of the jetfighters at Hasanuddin Airbase in Makassar.
Russia recently completed a $300-million contract signed in 2007 on the delivery of three Su-30MK2 and three Su-27SKM fighters to Jakarta in addition to two Su-27SK and two Su-30MK fighters purchased in 2003.

sumber : RIA NOVOSTI

Cina: Invasi Militer Serang Iran Hancurkan Perekonomian Dunia


Seorang diplomat senior Cina mengatakan melancarkan perang terhadap Iran dengan dalih program nuklirnya akan membawa bencana bagi perekonomian dunia.

"Semua orang tahu bahwa 40 persen dari minyak yang dikirim setiap hari ke seluruh dunia melewati Selat Hormuz. Perang dimulai di wilayah akan membawa bencana bagi perekonomian dunia, "kata Chen Xiaodong pada Selasa (10/1).

Kepala Urusan Asia Barat dan Afrika Utara Departemen Kementerian Luar Negeri China  itu mengungkapkan, "Kami mendesak semua pihak terkait untuk menahan diri dari mengambil tindakan yang akan memperkeruh situasi, dan membuat upaya bersama untuk mencegah perang," tegas Chen.

AS dan Israel berulangkali mengancam akan menerapkan opsi invasi militer terhadap Iran.

Tehran membalas ancaman AS dengan menggelar manuver militer Velayat 90 selama 10 hari yang membentang dari timur Selat Hormuz di Teluk Persia hingga Teluk Aden.

Kepala Angkatan Laut Iran, Laksamana Habibullah Sayyari mengatakan "Tujuan manuver militer kami demi mewujudkan stabilitas dan keamanan di kawasan, tanpa perlu beralih ke kekuatan luar."

Seorang analis pertahanan Amerika, Adam Lowther menyerukan kepada para politisi AS untuk mengurungkan opsi invasi militer terhadap Iran. "Iran memiliki kemampuan militer untuk menghadapi AS dalam perang," kata Akademisi dari Universitas Angkatan Udara AS ini mengungkapkan alasannya.

Lowther menjelaskan, "Iran tidak seperti Grenada, Panama, Somalia, Haiti, Bosnia, Serbia, Afghanistan atau Irak yang bisa dengan mudah dikuasai AS dalam invasi militer. Sebab kemampuan militer sejumlah negara itu tidak mampu bersaing dengan AS."

"Angkatan Laut Iran terampil dalam pertempuran littoral dan mereka mampu menutup Selat Hormuz untuk durasi yang cukup untuk memicu malapetaka ekonomi," tegas Lowther.

"Manuver militer angkatan laut Iran baru-baru ini menggambarkan strategi yang jelas untuk menutup Selat Hormuz. Bahkan mereka bisa menenggelamkan kapal perang Amerika yang masuk daerah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan kerugian yang signifikan bagi pelayaran komersial dan menyebabkan harga minyak meroket," pungkasnya.
Sumber:(IRIB Indonesia/PH)

Pindad Mampu Produksi Peluru Tank Leopard

INILAH.COM, Jakarta - Meskipun Tank Leopard berukuran besar namun perawatannya tidak rumit. PT Pindad diyakini mampu menyediakan suku cadang dan peluru tank tersebut.

Pemerhati industri militer Ade Nasution mengatakan, perawatan tank tak serumit perawatan pesawat terbang. Sebab prinsip teknologi tank tergolong sederhana.

"Merawat tank tidak rumit seperti pesawat terbang, kunci tank di gear box, rantai dan mesin. Kalau peluru kan Pindad bisa bikin juga," terangnya, Rabu (11/1/2012).

Mantan praktisi bisnis militer ini juga mengatakan, Tank Leopard diperlukan untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah kondisi minimnya anggaran TNI. "Pemerintah bisa cicil atau utang, karena tidak ada dana. Ini sebuah keuntungan untuk kekuatan tempur TNI," terangnya.
Seperti diberitakan, Kementerian Pertahanan merencanakan pembelian 100 Tank Leopard sebagai bagian modernisasi alutsista TNI peridoe 2011-2015 untuk mencapai kekuatan pokok minimum (essential minimum forces) dengan total anggaran Rp150 triliun. [mah]

Inilah 
baca Juga

KPK Diminta Pantau Proyek 100 Tank Bekas Belanda

dan Neta Menolak Pembelian Tank Leopard 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta mencermati proyek pengadaan 100 unit tank Leopard A3 dari Belanda untuk TNI. Sebab, dikhawatirkan dalam proyek senilai  Rp 12 triliun ini ada unsur KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) dan gratifikasi.
Indonesia Police Watch (IPW) yang juga Deklarator Pengawas KPK, mendapat informasi bahwa saat ini sejumlah pihak yang dekat dengan Cikeas sangat aktif melobi kalangan Komisi I DPR agar mendukung pembelian 100 tank tersebut. "Bahkan, sejumlah anggota Komisi I akan diboyong pihak pelobi ke Belanda pada akhir Januari ini, untuk melihat kondisi tank tersebut," kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Rabu (11/1/2012).
Sebagaimana kritik sejumlah anggota Komisi I sebelumnya, bahwa penggunaan tank Leoparhd seharga 120 juta dolar AS per unit itu sangat tidak tepat untuk medan di Indonesia.
Menurut Neta, ada empat alasan pembelian tank tersebut harus ditolak. Keempat alasan itu, yakni tank Leopard 62 ton terbilang sangat berat, teknologi pada tank bekas itu jauh tertinggal karena buatan Jerman tahun 1980, biaya perawatan terlalu mahal, serta tank tersebut tidak cocok dengan kondisi alam Indonesia yang terdiri dari hutan, rawa-rawa, dan kepulauan (tank jenis Leoparhd hanya cocok untuk medan seperti di Eropa dan Afrika Utara).
Tragisnya lagi, lanjut Neta, ke 100 tank itu akan ditempatkan di kota-kota besar, seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar dan Medan. Sehingga dikhawatirkan tank ini akan digunakan untuk menghadapi aksi demo mahasiswa dan rakyat. "Padahal, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah tank-tank taktis dan kecil untuk menjaga kawasan perbatasan," ujarnya.
Pada Desember 2011 lalu, parlemen Belanda juga telah menolak pemerintah mereka menjual tank Leopard, yang tak lagi dipakai, ke Indonesia, dengan alasan rekam jejak Indonesia dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) masih dipandang buruk. Belanda khawatir tank-tank bekas negaranya itu akan digunakan tentara Indonesia untuk menghadapi para demonstran.
"Untuk itu, KPK didesak mencermati proyek pengadaan 100 tank ini. Jangan sampai dana Alutsita TNI yang sangat terbatas sekarang ini disalahgunakan oknum-tertentu untuk membeli alat-alat militer yang tidak tepat guna dan mubazir. Komisi I DPR juga diimbau agar menolak pembelian tank tersebut," tandasnya.

sumber :http://www.tribunnews.com/2012/01/11/kpk-diminta-pantau-proyek-100-tank-bekas-belanda





Kemhan: Pengadaan "Leopard" Harus Sesuai Prosedur


MBT Leopard 2A6 Bundeswehr. (Foto: Bundeswehr)

11 Januari 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan menyatakan proses pengadaan 100 unit Main Battle Tank (MBT) Leopard dari Belanda, harus sesuai prosedur dan aturan yang berlaku.

"Kami sudah memiliki aturan, prosedur yang baku, sehingga semua pengadaan alat utama sistem senjata termasuk `Leopard`, harus mengikuti," kata Sekjen Kementerian Pertahanan Eris Herryanto kepada ANTARA News, di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan seluruh pengadaan alat utama sistem senjata harus merujuk pada kebutuhan pokok minimum (Minimum Essential Forces/MEF). Semisal untuk rencana strategis 2010-2014 telah ditetapkan alat utama sistem senjata apa saja, berapa banyak, dan dari mana pendanaannya diambil apakah pinjaman dalam negeri atau luar negeri.

"Proses tersebut melibatkan seluruh kementerian terkait, seperti Kemenkeu dan Bappenas, hingga akhirnya ditetapkan alokasi pinjaman pemerintah, dalam hal ini Renstra 2010-2014, dan baru proses pengadaan pun berjalan. Proses pengadaan awalnya dilakukan di masing-masing angkatan darat, laut dan udara dengan dibentuknya panitia awal pengadaan, proses pra-kualifikasi, pembukaan tender, dan jika lulus diajukan ke Mabes TNI dan Kemhan," ujarnya.

Eris menambahkan Kemhan akan menilai apakah seluruh proses pengadaan mulai dari awal di masing-masing angkatan hingga ke Mabes TNI sudah benar, dan apakah spesifikasi teknis dan operasional yang diajukan sesuai kebutuhan dan merujuk kepada MEF.

"Jika semua itu sudah dilalui, maka kita akan bentuk tim evaluasi pengadaan dengan mengundang pula perusahaan, produsen yang sudah diajukan angkatan dari hasil tim evaluasi pengadaan itu, baru kita ajukan ke Menhan untuk diputuskan, dan kemudian dituangkan dalam kontrak," ungkapnya.

Tentang adanya pihak-pihak yang menginginkan proyek pengadaan "Leopard" itu dengan mendekati komisi pertahanan dan lainnya, Eris mengatakan,"Ya silakan saja. Tetapi kan setiap pengadaan alat utama sistem senjata itu semua sudah ada aturan dan prosedurnya, dan harus merujuk pada MEF,".

TNI Angkatan Darat akan melengkapi sistem pertahanan dengan memborong arsenal dari lima pabrik di Eropa dan Amerika. Peralatan yang akan dibeli dengan dana APBN 2011 sebesar Rp 14 triliun itu dipastikan produk baru.

Alutsista yang akan dibeli tersebut, antara lain, main battle tank Leopard 2A6 yang berbobot 62 ton. Indonesia akan membeli 100 unit tank yang sudah dipakai di 15 negara itu dengan harga per unit 280 juta dollar AS. TNI AD juga akan membeli multiple launch rocket system untuk kekuatan 2,5 batalion.

Untuk meriam 155 buatan Perancis dan helikopter serang darat AH-64 Apache buatan Boeing, Amerika Serikat, TNI AD juga mendapatkan harga khusus yang relatif murah. Khusus untuk delapan helikopter, Amerika Serikat memberikan diskon lima juta dollar AS sehingga harganya turun menjadi 25 juta dollar AS.

Sumber: ANTARA News

Tuesday, January 10, 2012

Tujuh Alasan Amerika Tidak Menyerang Iran

foto
Kapal perang Iran meluncurkan misil dalam sebuah latihan militer di Laut Oman, Minggu (1/1). AP Photo/ISNA,Amir Kholousi

TEMPO.CO, Jakarta - Adam Lowther, analis Pertahanan Amerika Serikat, mengemukakan tujuh alasan pertimbangan AS tidak menyerang Iran. Ini tujuh alasan dari anggota analis pertahanan AS di Universitas Angkatan Darat Amerika tersebut.

1. Iran punya kapabilitas militer yang mumpuni untuk menghadapi Amerika Serikat dalam beberapa dekade ini. Iran tidak seperti negara-negara bekas invasi AS, seperti Grenada, Panama, Somalia, Haiti, Bosnia, Serbia, Afganistan, atau Irak. Militer Iran jauh lebih kompeten dan memiliki kemampuan. Iran juga berpengalaman dalam mempelajari taktik dan strategi AS melalui pengamatannya selama perang Irak satu dekade ini.

Angkatan laut Iran punya keterampilan laut yang baik dalam pertempuran litoral dan mempunyai kemampuan untuk menutup Selat Hormuz untuk waktu yang cukup lama. Penutupan Selat Hormuz ini dapat menjadi posisi tawar yang tinggi atas diberlakukannya sanksi ekonomi terhadap Iran. Dampak paling signifikan atas penutupan Selat Hormuz adalah naiknya harga minyak dunia.

2. Tidak seperti Irak, Angkatan Darat Iran dan Korps Pengawal Revolusi Iran tidak akan meletakkan senjatanya pada serangan awal. Menurut Lowther, Iran banyak belajar dari Irak dan Afganistan tentang bagaimana mengalahkan AS. Iran tidak akan menyerah begitu saja pada serangan pertama dari AS.

3. Kementerian Intelejen Iran merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Kementerian Iran terbukti dapat mengatasi kelompok-kelompok yang bersifat anti-Iran selama 3 tahun terakhir. Bahkan baru-baru ini Pengadilan Revolusioner Iran menjatuhi hukuman mati kepada seorang pria keturunan Iran-Amerika Serikat karena terbukti menjadi mata-mata CIA, dinas rahasia Amerika Serikat.

4. Gerakan Perlawanan Hizbullah kemungkinan besar dapat membantu perlawanan Iran terhadap AS. Menurut Lowther, Hizbullah dapat memainkan peranan penting bagi Iran untuk memberikan perlawanan bagi AS. Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, memperingatkan bahwa apa pun yang dilakukan Israel atau Amerika Serikat secara militer pada fasilitas nuklir Iran akan mengarah pada perang dengan melibatkan banyak pihak.

"Saya tidak mengancam, tapi setiap orang yang punya perasaan dapat melihat bahwa serangan Israel-AS terhadap Iran atau keterlibatan militer di Suriah akan mengarah pada perang regional," kata Nasrallah di selatan Beirut, November 2011.

5. Iran mempunyai kemampuan yang mengesankan dalam perkembangan dunia maya. Lowther menulis serangan terhadap infrastruktur nuklir Iran kemungkinan akan berlanjut. Peretas alias hacker Iran mungkin akan menargetkan data penting di sektor publik dan swasta, yang dapat mematikan sistem dan data.

6. Militer AS layak untuk beristirahat, terlebih setelah hampir satu dekade terus berperang. Soalnya, sudah satu dekade ini AS berperang dengan Irak dan Afganistan. Joseph Stiglitz, peneliti AS, berpendapat, perang ini menjebak AS ke dalam krisis ekonomi dan terbenam dalam lilitan utang akibat biaya militer yang amat tinggi.

7. Serangan AS atas Iran akan membawa AS ke dalam perang yang lebih besar. Akibatnya, sulit bagi AS melakukan istirahat dan perbaikan.

Pada akhirnya, Lowther menyarankan AS untuk menimbang kembali semua pilihan sebelum beralih kepada konflik militer.


sumber :Tempo.CO

Qantas Ditunjuk untuk Memerbaiki Hercules Hibah untuk TNI AU


 
MARCEL ANTONISSE / AFP
Jurnas.com | MESKIPUN tim teknis baru berangkat Februari mendatang, pesawat angkut Hercules yang dihibahkan pemerintah Australia dipastikan mendapat peremajaan di negeri Kanguru. Perbaikan dilakukan di bengkel milik maskapai Qantas.

Kini tengah dikalkulasi berapa biaya yang dbutuhkan untuk melakukan perbaikan dan membawa pesawat ke Indonesia. "Nominalnya baru diketahui setelah mendapat laporan dari tim teknis yang meninjau pesawat secara langsung ke Australia," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta, Selasa (10/1).

Kontrak kerja sama hibah empat unit pesawat itu juga akan ditandatangani setelah tim teknis melaporkan temuannya. Namun begitu, pemerintah Indonesia dan Australia telah melakukan komunikasi terkait hibah ini. "Amerika sebagai produsen Hercules saat ini juga telah menyetujui rencana hibah dari Australia ke Indonesia. AS dalam hal ini Presiden Barack Obama, memiliki kebijakan, alutsista buatan AS harus mendapatkan persetujuan negeri Paman Sam itu sebelum dihibahkan ke negara lain," katanya.

sumber : Jurnas

AS Mulai Khawatir Penutupan Selat Hormuz


Juru bicara Departemen Pertahanan AS mengatakan militer Amerika telah mendeteksi tidak ada tanda-tanda bahwa Iran mempersiapkan diri untuk menutup Selat Hormuz meskipun ada retorika keras dari Tehran.

"Kami memiliki beberapa pengetahuan tentang niat untuk menghambat lalu lintas maritim Selat Hormuz. Kami tidak melihat adanya langkah-langkah aktif yang diambil oleh Iran untuk menutup kawasan itu," ujar George Little seperti dikutip AFP pada Selasa (10/1).

Menyinggung ancaman Tehran baru-baru ini untuk menutup Selat Hormuz jika sanksi dikenakan pada sektor minyak Iran, pejabat Pentagon itu menyerukan penurunan ketegangan di kawasan Teluk Persia.

"Kami benar-benar ingin menurunkan ketegangan di seputar Selat Hormuz. Ini merupakan perairan penting bagi wilayah tersebut dan bagi Iran sendiri," jelas Little.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur yang paling penting di dunia pelayaran, dengan transfer harian sekitar 15 juta barel minyak. Jumlah tersebut menyumbang 90 persen dari ekspor minyak dari negara-negara kaya minyak di pesisir Teluk Persia dan hampir 40 persen dari seluruh konsumsi minyak global.

Penutupan rute strategis itu mungkin akan memiliki konsekuensi serius bagi perekonomian dunia, karena akan sangat mengurangi pasokan minyak mentah dan gas alam cair.

sumber (IRIB Indonesia/RM)

Monday, January 9, 2012

Analis Pertahanan AS: Iran Bisa Tenggelamkan Kapal Induk Amerika



Seorang analis pertahanan Amerika, Adam Lowther menyerukan kepada para politisi AS untuk mengurungkan opsi invasi militer terhadap Iran.

"Iran memiliki kemampuan militer untuk menghadapi AS dalam perang," kata Akademisi dari Universitas Angkatan Udara AS ini mengungkapkan alasannya.

Lowther menjelaskan, "Iran tidak seperti Grenada, Panama, Somalia, Haiti, Bosnia, Serbia, Afghanistan atau Irak yang bisa dengan mudah dikuasai AS dalam invasi militer. Sebab kemampuan militer sejumlah negara itu tidak mampu bersaing dengan AS."

Dia juga mencatat bahwa militer Iran dewasa ini jauh lebih kompeten dan kuat. "Setelah menyaksikan perang di Irak selama satu dekade, Iran memiliki pemahaman yang baik tentang taktik dan strategi AS di Irak," tegasnya.

"Angkatan Laut Iran terampil dalam pertempuran littoral dan mereka mampu menutup Selat Hormuz untuk durasi yang cukup untuk memicu malapetaka ekonomi," tegas Lowther.

"Manuver militer angkatan laut Iran baru-baru ini menggambarkan strategi yang jelas untuk menutup Selat Hormuz. Bahkan mereka bisa menenggelamkan kapal perang Amerika yang masuk daerah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan kerugian yang signifikan bagi pelayaran komersial dan menyebabkan harga minyak meroket," pungkasnya.

Angkatan Laut Iran menggelar menuver militer pada tanggal 24 Desember 2011  yang membentang dari timur Selat Hormuz di Teluk Persia hingga Teluk Aden.
Beragam kapal selam dari berbagai kelas termasuk Tareq dan Ghadir, serta rudal, dan torpedo terbaru diterjunkan dalam manuver militer tersebut.

Korps Angkatan Laut Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) akan menggelar manuver militer besar di Teluk Persia dan Selat Hormuz pada bulan Februari mendatang.

Iran berulang kali menegaskan bahwa kekuatan militernya didasarkan pada doktrin pertahanan dan pencegahan, serta tidak menimbulkan ancaman bagi negara lain.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman, dan menjadi rute minyak utama dunia.

sumber :(IRIB Indonesia/PH)

Panglima TNI: Hercules Hibah Perlu Peningkatan Kemampuan


 
BEN BORG CARDONA / AFP
Jurnas.com | PANGLIMA TNI Laksamana Agus Suhartono menyebutkan, yang perlu dilakukan saat ini terkait hibah empat unit pesawat angkut berat Hercules C-130 H series dari Pemerintah Australia adalah menyiapkan peningkatan kemampuan pesawat bekas tersebut. “Pemerintah Australia sudah menyetujui hibah itu. Sekarang tinggal bagaimana caranya meningkatkan kemampuan Hercules agar layak terbang,” kata Panglima TNI di Jakarta, Senin (9/1).

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus memperkirakan, pesawat tersebut memerlukan pemeliharaan structure dan airframe pesawat atau Programme Depot Maintainance (PDM).

Selain itu, lanjut Panglima, hibah Hercules ini memerlukan persetujuan beberapa pihak. Di dalam negeri, hibah ini harus diajukan ke DPR untuk mendapatkan persetujuan. Di luar negeri, hibah ini harus mendapat persetujuan dari Pemerintah AS selaku produsen Hercules.

Pemerintah AS menerapkan kebijakan seluruh alutsista produksi AS harus mendapatkan persetujuan Negeri Paman Sam itu jika akan dihibahkan ke negara lain. "Tapi kelihatannya Pemerintah AS sudah setuju," imbuh Panglima.

sumber : JURNAS

BERITA POLULER