Pages

Sunday, June 26, 2011

24 Pesawat Tempur F-16 Hibah AS Dikirim Bertahap

  Jum'at, 24 Juni 2011 | 14:38 WIB

Pesawat Jet tempur F-16. AP/Luca Bruno
 

TEMPO Interaktif, Surabaya - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono berharap hibah 24 pesawat tempur jenis F-16 dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki TNI Angkatan Udara.

"Hibah (F-16) sekarang sedang diproses. Prinsipnya, TNI memilih program hibah. Itu sudah diajukan ke pemerintah dan Amerika sedang dalam mengkaji. Saya harapkan itu berjalan sesuai rencana," kata Agus seusai menjadi Inspektur Upacara pada Apel Kebangsaan Gerakan Muda (GM) Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI Polri (FKPPI) di lapangan Markas Kodam V Brawijaya, Surabaya, Jumat, 24 Juni 2011.

Pesawat F-16 Amerika (photo : ANG)


Menurut Agus, rencananya Amerika akan menghibahkan sebanyak 24 unit pesawat F-16 yang akan dilakukan secara bertahap dalam empat tahun. "24 unit sesuai rencana, per tahunnya sesuai kemampuan retrofit atau pemeliharaan peningkatan kemampuan, kalau tidak salah setiap tahun delapan unit," kata Agus.

Nantinya akan dibuatkan beberapa skuadron udara tersendiri untuk pesawat tempur F-16 hibah ini, melengkapi dua skuadron F-16 yang saat ini telah dimiliki TNI AU di Lapangan Udara Iswahjudi Madiun.

Panglima TNI menepis keraguan banyak kalangan tentang sulitnya mendapatkan suku cadang jika nantinya F-16 tersebut telah dihibahkan ke Indonesia. "Sekarang kita sudah punya F-16, semua berjalan dengan baik dan lancar. Suku cadang juga didukung karena kita punya kerja sama," katanya.

Agus menambahkan, proses hibah 24 pesawat tempur tersebut masih dalam tahap upgrading sebelum benar-benar diserahkan ke Indonesia. Tak hanya itu, setelah penyerahan hibah ini, F-16 yang telah dimiliki TNI AU juga akan menyusul di-upgrade (ditingkatkan) dengan teknologi dan kemampuan terkini pesawat tersebut.

TEMPO INTERAKTIF

Friday, June 24, 2011

POLITIK LUAR NEGERI : Turki Dukung Pengakuan Negara Palestina

 Menter Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu dalam pertemuan dengan pemimpin Otorita Ramallah Mahmoud Abbas, mengatakan Turki akan melanjutkan dukungannya bagi pengakuan negara merdeka Palestina.
IRNA mengutip media-media Turki melaporkan, Abbas, Kamis malam (23/6) dalam pertemuan di Ankara, membahas perkembangan di Palestina. Ia juga membicarakan proses perundingan damai gerakan Fatah dan Hamas.
Menlu Turki juga menyampaikan kesimpulan pertemuannya Selasa lalu dengan Khaled Meshaal, kepala Biro Politik Hamas di Istanbul.
Abbas kemarin telah bertemu dengan Presiden Turki Abdullah Gul dan hari ini dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan PM Recep Tayyip Erdogan.
Recananya dalam sidang tahunan Majelis Umum PBB pada September 2011, keanggotaan negara merdeka Palestina akan diputuskan di badan dunia ini.
Masyarakat internasional mendukung tuntutan bangsa Palestina bagi sebuah negara di sebagian besar Jalur Gaza, Tepi Barat dan Timur al-Quds - semua wilayah yang diduduki Israel dalam Perang Enam Hari 1967.
Lebih dari 100 negara telah mendukung deklarasi Palestina sebagai sebuah negara merdeka. Di antaranya beberapa negara Amerika Latin, seperti Argentina, Bolivia, Brazil, Chile, Ekuador, Guyana, Paraguay, Peru, Uruguay dan Venezuela. (IRIB/RM/AR)

IRIB

Russian MiG-29 fighter jet crashes, two killed


18:31 23/06/2011
MOSCOW, June 23 (RIA Novosti) -
Two pilots were killed on Thursday when a Russian Air Force MiG-29 fighter jet crashed in the Astrakhan region on Thursday, law enforcement sources said.
“At 4.43 p.m. the aircraft went off the radar screens around 43 km from the town of Akhtubinsk in Astrakhan region,” the source said.
The crash site has been located and an Mi-8 rescue helicopter is on its way to the site.
Akhtubinsk is home to the Russian Air Force’s test and tactical evaluation center, but it is not yet known if the aircraft came from that base.

RIA NOVOSTI

Thursday, June 23, 2011

Cina Menentang Standar Ganda Melawan Terorisme

 Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hong Lei mengatakan, Beijing menentang kebijakan standar ganda dalam memerangi terorisme.
Ketika menjawab pertanyaan IRNA, Kamis (23/6) soal langkah memerangi terorisme, Lei menuturkan, perang melawan terorisme membutuhkan tekad kuat masyarakat internasional dan semua negara dunia harus saling bekerjasama untuk mensukseskan misi ini.
Ia secara tersirat mengkritik kekuatan yang mengaitkan terorisme dengan kultur, peradaban dan agama tertentu. Ditegaskannya, teroris adalah musuh kolektif umat manusia dan PBB memiliki peran penting dalam memeranginya.
Seraya menjelaskan bahwa perang kontra terorisme tidak hanya terbatas pada dimensi militer, tapi juga mencakup sektor ekonomi, Lei menuturkan, semua negara harus saling membantu untuk mencabut akar terorisme di dunia.
"Kebijakan standar ganda tidak dapat memberantas terorisme hingga ke akar-akarnya," tegas Lei.
Berbicara tentang rencana Iran untuk menggelar Konferensi Internasional Memerangi Terorisme, Lei menandaskan, "Kami telah menerima undangan Tehran untuk menghadiri pertemuan itu, dan kini tengah membahas delegasi Cina yang akan bertolak ke Iran."
Pada kesempatan itu, pejabat senior Cina ini menegaskan komitmen negaranya untuk bekerjasama dengan semua negara dalam memerangi terorisme.
Konferensi Internasional Memerangi Terorisme akan digelar pada pada 25-26 Juni 2011 di Tehran. Pertemuan ini bertujuan membahas akar dan dimensi terorisme, kerjasama internasional untuk melawan gerakan itu, memperkuat mekanisme global untuk memerangi terorisme, peran lembaga-lembaga internasional dan regional dalam masalah itu dan pandangan agama langit terkait fenomena berbahaya ini. (IRIB/RM/PH)

IRIB

Rusia Peringatkan Langkah Intervensif AS

 Moskow memperingatkan intervensi Amerika Serikat dalam kasus sengketa pulau antara Rusia dan Jepang.
Ria Novosti melaporkan, Departemen Luar Negeri Rusia Kamis (23/6) dalam statemennya menyatakan, keraguan terkait kepemilikan Rusia atas kepulauan Kuril selatan dan intervensi Washington dalam hal ini tidak pada tempatnya.
Dalam statemen ini disebutkan, kepulauan Kuril selatan di akhir perang dunia kedua secara legal termasuk wilayah Rusia dan tercatat pula dalam piagam PBB.
Pernyataan ini dirilis Rusia menyusul lobi antara AS dan Jepang di tingkat menteri pertahanan kedua negara dan kesepakatan terkait normalisasi hubungan Moskow-Tokyo serta penyelesaian sengketa atas kepulauan Kuril.
Sengketa antara Moskow dan Tokyo terkait kepulauan Kuril selatan pada bulan November serta pasca kunjungan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev ke pulau tersebut semakin sengit.
Di kepulauan Kuril tercatat sekitar 19 ribu warga menghuni tempat tersebut dan pada tahun 1945, di akhir perang dunia kedua wilayah ini diduduki Rusia. Kepulauan Kuril menjadi wilayah Uni Soviet sebelum runtuh.
Sementara itu, Jepang mengklaim bahwa empat pulau di kepulauan Kuril yang tak jauh dari wilayah Jepang harus dikembalikan ke negara ini setelah perang dunia kedua berakhir dan runtuhnya Uni Soviet. (IRIB/Ria Novosti/MF)

IRIB

Rusia kembali Goda Iran dengan Rudal S-300

 Pejabat tinggi di perusahaan negara Rusia, Rosoboronexport mempertimbangkan kemungkinan dimulainya kembali perundingan dengan Republik Islam Iran atas penjualan sistem rudal S-300 ke Tehran.
Kepala Rosoboronexport, Anatoly Isaikin mengkonfirmasikan kemungkinan akan melanjutkan pembicaraan dengan Iran terkait penjualan rudal S-300, jika Dewan Keamanan PBB mencabut sanksi atas Tehran, kantor berita Rusia, Itar-Tass melaporkan pada Selasa (21/6).
Dia mengatakan, jika pihak Iran menunjukkan minat dalam hal ini, maka pembicaraan akan dilanjutkan.
Di bawah kontrak 800 juta dolar yang ditandatangani pada tahun 2007, Rusia wajib untuk menyerahkan kepada Iran setidaknya lima sistem rudal S-300. Namun, pelaksanaan kontrak berulang kali ditunda sampai Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi 1929 rekayasa AS terhadap Iran pada Juni 2010.
Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengeluarkan dekrit pembatalan penjualan S-300 ke Iran pada pada September tahun lalu dengan dalih untuk menerapkan resolusi 1929 Dewan Keamanan PBB.
Iran mengecam pembatalan sepihak oleh Rusia dan menegaskan bahwa rudal S-300 merupakan sistem pertahanan yang tidak termasuk dalam ketentuan resolusi PBB. Karena itu tidak tepat jika Moskow menjadikan resolusi anti-Iran yang tidak adil itu sebagai alasan.
Sejumlah pakar politik dan militer juga Rusia menilai langkah Medvedev akan mengganggu hubungan bilateral antara Moskow dan Tehran. Menurut mereka, industri militer Rusia juga menelan kerugian milyaran dolar akibat pembatalan tersebut. (IRIB/RM/PH)


IRIB

Ilmuwan NASA Acungkan Jempol untuk Peluncuran Satelit Rasad

 Iran Ilmuwan anggota Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Shervin Taqawi mengatakan, "Iran dari sisi ilmu pengetahuan memiliki potensi sangat tinggi dan yang tampak saat ini adalah bahwa Republik Islam mampu mengirim satelit ke orbit bumi dengan menggunakan roket peluncur ringan."
Kantor berita Fars (21/6) melaporkan, peluncuran satelit kedua Rasad ke orbit bumi dan kemajuan yang dicapai Republik Islam Iran di bidang ini, bahkan membuat media massa seperti radio Farda, yang anti-Iran dan dikelola oleh Dinas Rahasia AS (CIA), tidak mampu menyensornya. Meski demikian, radio berbahasa Persia pro-AS itu tetap berusaha mengesankan bahwa satelit Rasad bersifat militer.
Ilmuwan NASA penemu jam nuklir itu menegaskan, "Para penelti Iran mampu melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh Korea Utara. Sebelumnya, Iran telah meluncurkan satelit Omid. Namun perbedaan antara satelit terbaru dengan Omid adalah bahwa satelit Rasad digunakan untuk mengukur dari jarak jauh."
Dalam menepis misi militer pada pelucuran satelit Rasad, Taqawi mengatakan, "Harus kita katakan bahwa Iran telah mampu menempatkan muatan yang lebih ringan di orbit bumi, dari apa yang dibawa oleh rudal balistik antarbenua. Karena teknologi yang digunakan pada rudal balistik jauh lebih berat dari yang diluncurkan oleh Iran."
Di akhir pernyataannya, Taqawi mengatakan, "Saya kembali menekankan bahwa Republik Islam Iran memiliki potensi sangat tinggi. Dan pada akhirnya, sebuah negara yang mampu mengirim muatan ringan ke orbit bumi seperti satelit Rasad yang hanya berbobot 50 kilogram, menunjukkan bahwa dalam waktu dekat Teheran akan mampu mengirim muatan yang lebih berat ke orbit bumi. Harus saya katakan bahwa, hal inilah yang sampai saat ini belum dapat dilakukan oleh negara seperti India."
(IRIB/MZ)


IRIB

BERITA POLULER