Pages

Thursday, January 19, 2012

Jangan Ikuti Opini Anggota Dewan Cepat Beli MBT LEOPARD 2A6, Sebelum Krisis Selat Hormuz Pecah


Kepada Pemerintah Saya sarankan cepat ambil kesempatan emas ini jangan hiraukan anggota dewan yang mengeluarkan opini penolakan terhadap pembelian MBT Leopard 2A6.  Menurut hemat saya Anggaran untuk modenisasi alutsista TNI sudah disahkan oleh DPR artinya itu sah secara hukum nah mengenai teknisnya usernya lah yaitu TNI (Kaveleri) yang membutuhkan MBT Leopar 2A6, jadi bukan mengada ada, untuk Kesejah teraan rakyat dan pendidikan sudah ada porsinya masing masing dan tertuang dalam anggaran.

Kalau kita perhatikan eskalasi krisis selat hormus makin memanas, kalau sempat ditutupnya selat hormus akan berdampak berat bagi perekonomian kita , jelas BBM akan melambung naik yang disebabkan oleh kuranganya pasokan minyak dunia yang terhamat sebagai akibat ditutupnya selat hormus,  kalau keadaan seperti ini nah akan dimanfaatkan oleh politisi yang menolak pembelian MBT leopard 2A6 sebagai senjata untuk menyerang pemerintah dengan isu kesejahteraan rakyat (isu kenaikan BBM), kalo gini jadinya aduh jelas-jelas akan ditunda bahkan terancam batal pembeliannya karena angaran tersebut akan dialihkan untuk kesejahteraan rakyat atas desakan politisi yang kontra pembelian MBT.  Dan Pemerintah pun akan berfikir 1000 kali tentunya pemerintah mau tidak mau harus pro rakyat supaya konflik horizontal tidak terjadi.

Pembelian MBT leopar 2A6 ex belanda dengan harga murah itu terjadi bukan di negara kita saja bahkan negara eropa dan singapura saja membeli MBT leopard bekas lalu di Upgrade.  Ya wajarlah suatu pemimpin dia ahir kepemimpinannya ingin nama baiknya itu harum, makanya pemerintah diahir kepemerintahanya di tahun 2014 menginginkan postur pertahanan kita itu kuat, itu tertuang dalam restra TNI 2011-2014 untuk men capai kekuatan pokok minimu (MEF) dan itu sudah ada blu printnya.  Nah Kan perjalanan untuk kesana tidak semulus yang dikira tentunya ada rintangan dan halangan, seperti ketidak sukaan partai oposisi yang menentang habis habisan kebijakan pemerintah mengatasnakan rakyat, kalau menurut pendapat saya justru sebaliknya, memang yang tahu soal alutsista akan mendukung pembelian lepard 2A6 ini hanya sebatas kalangan saja seperti kalangan menengah atas , bloggersista, pemerhati alutsista didunia maya bukan pemerhati alutsista abal abalan ya , nah harusnya ayo kita bersama sama berikan penjelasan kepada masyarakat indonesia betapa pentingnya alutsista untuk mempertahan NKRI ini.

Begini Jika Pertahanan Kuat maka terciptalah suatu keamanan yang kondusif dinegara ini, kalo sudah aman kegiatan ekonomi,bisnis pun jadi berkembang yang akan berdampak pada kemampuan daya beli masyarakat meingkat, artinya masyarakat bisa belanja ke pasar dengan aman, mejajakan jualannya ke pasar aman, pebisnis menjalankan bisnisnya aman, kira - kira begitulah gambaranya.

Jadi saya mewakili kawan kawan blogersista,facebooksista, indodef sista,WT,WW,pemerhati alutsista di dunia maya dan masyarakat mendukung pembelian MBT leopar 2A6 sebelum krisis selat hormuz pecah dan kami berdoa agar krisis selat hormuz tidak akan pernah terjadi dan AS pun seyogyanya agar mempertimbangkan aksi militernya ke selat hormuz.ahir kata Segera Dibeli Leopard 2A6 dan wellcome to NKRI.

Oleh IWJ
By Indonesia Defence, 2012


MBT Leopard 2A6, Pemerintah dan DPR saling Ngotot

VIVAnews – Pemerintah dan DPR terlibat perang opini
terkait perlu tidaknya membeli tank Leopard bekas yang
diobral murah Belanda. Bagi Kementerian Pertahanan, ini
kesempatan, mumpung Negeri Kincir Angin sedang terpaksa
mengurangi alat utama sistem pertahanan (alutsista) gara-
gara hantaman krisis Eropa. Sebaliknya, DPR beranggapan,
kendaraan tempur kategori Main Battle Tank itu tak cocok
digunakan di tanah air.
Menjawab keberatan DPR, Kepala Staf Angkatan Darat
Jenderal Pramono Edhie Wibowo bersikukuh, Leopard cocok
digunakan untuk kawasan Asia Tenggara, termasuk
Indonesia. Apalagi negara tetangga, seperti Malaysia,
Singapura, dan Kamboja sudah punya tank bikinan Jerman
yang masuk lima besar termodern di dunia itu.
"Mereka tinggal di kawasan yang sama dengan kita.
Kebetulan kita di pulau tapi kawasan daratannya sama
hutannya sama. Apakah jalan-jalan kita tidak lebih baik dari
mereka," kata Pramono Edhie di Mabes TNI, Jakarta, Rabu 18
Januari 2012.
Ia menambahkan, bukannya ujug-ujug pihaknya ingin
melengkapi alutsista dengan tank kelas berat itu. Penelitian
sudah dilakukan, pihak-pihak yang mumpuni pun sudah
memberi masukan. Permintaan Leopard pun sudah
diajukan Batalyon Kavaleri, sebagai pihak pengguna. "Saya
hukumnya wajib mencari. Jadi saya persilakan untuk melihat
tank berat yang ada dan untuk dipelajari. Jadi ada
urutannya," ujar Edhie."Jadi teknis saya tanyakan ke
pengguna, saya juga tidak lebih mahir dari kavaleri. Jadi
bicara masalah teknis mereka yang punya, kalau mereka
minta ya saya adakan.”
Soal mengapa tidak memakai buatan dalam negeri, Edhie
menjelaskan, saat ini Indonesia belum mampu membuat
tank jenis berat sekelas Leopard."Untuk tank berat kita
belum mampu," kata dia.
Dia menjelaskan, ada tiga jenis kualifikasi tank: ringan,
sedang, dan berat. Teknologi Indonesia saat ini baru
mencoba untuk membuat tank dengan kelas sedang.
Edhie lantas membeberkan kondisi tempur militer
Indonesia. Dari 11 Batalyon Kavaleri yang dimiliki Angkatan
Darat, 2 Batalyon terbaru memiliki tank dengan nama
Scorpion."Itu tank ringan dan itu semua produk tahun 1950-
an. Jadi kalau dilihat itu kita sudah jauh ketinggalan untuk
soal tank," ujarnya.
Saat ini, dia melanjutkan, Angkatan Darat bekerjasama
dengan PT Pindad meng-upgrade 13 tank AMF 13 agar bisa
mencapai taraf sedang. Edhie berharap, segera ada
peningkatan teknologi supaya bisa menyerap teknologi asing
untuk memproduksi tank dengan jenis berat.
Soal jadi tidaknya membeli Leopard, keputusan belum final.
Bagi Belanda, Leopard adalah salah satu divisi tank di
Belanda yang akan dihapuskan, namun keputusan ada di
tangan Indonesia. "Mereka punya cadangan sekitar 150
tank. Selanjutnya kita diberi kesempatan untuk melihat dan
memilih, menentukan harga," tandasnya. "Itu barangnya
sudah ada di gudang. Semakin cepat disetujui, pembelian
juga akan cepat ke Indonesia.
Jika terealisasi, dana USD280 juta akan ditukar dengan 100
unit tank Leopard. Pembelian G to G alias antar
pemerintah , untuk mempersempit ruang gerak percaloan.
Tak asal omong
Penjelasan pemerintah yang disebar media belum dianggap
memuaskan anggota dewan. Sebaliknya, Wakil Ketua Komisi
I, Tubagus Hasanuddin mengatakan, pihaknya tidak asal
menolak rencana pembelian tank Leopard bekas dari
Belanda. Penolakan yang dilakukan oleh DPR itu telah
didasari analisa yang obyektif.
"Saya dan teman-teman dengan sungguh-sungguh
mempelajari dengan seksama tentang keunggulan dan
kelemahan tank Leopard bekas yang akan dibeli TNI dengan
harga cukup mahal, dan kemudian menyatakan menolak
pembelian itu," ujar Tubagus dalam pesan singkat kepada
VIVAnews , Rabu 18 Januari 2012.
Dia menambahkan, sejauh ini Kementerian Pertahanan
sebagai mitra kerja Komisi I, belum pernah mengajukan
usulan pembahasan rencana pembelian tank tersebut. Juga
menjelaskan soal rencana pembelian 100 tank Leopard ,
yang terdiri dari 50 unit tipe 2A4 dan 50 unit tipe 2A6. "Tank
ini memang canggih, tapi cukup mahal," kata Tubagus.
Untuk tipe 2A4, kata dia, harganya 700.000 euro atau sekitar
Rp8 miliar per unit, sedangkan tipe 2A6 800.000 euro atau
sekitar Rp9,2 miliar per unit.
Bukan hanya menguras anggaran negara, Tubagus
mengatakan, kendaraan tempur itu tak cocok untuk medan
di Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan
bertanah gembur. Sebab bobot tank ini lebih dari 60 ton.
Cocoknya untuk pertempuran di gurun."Dan kurang taktis
untuk sistem pertahanan pulau-pulau seperti di Indonesia,"
ujar Tubagus.
Dia menambahkan, sebenarnya atas perintah presiden pada
tahun 2010, PT Pindad telah berhasil mengembangkan
model medium tank dengan bobot 23 ton. Tank ini dinilai
lebih cocok digunakan di Indonesia. "Itu sudah menjadi
prototipe, tinggal dikembangkan. Lebih ringan, lincah dan
murah karena diproduksi anak bangsa," katanya.
Bukannya menghalangi niat TNI untuk memiliki alutsista
canggih, DPR hanya ingin mengingatkan, belilah yang sesuai
kondisi dan tepat digunakan di Indonesia. "Kami setuju TNI
dilengkapi Alutsista yang canggih, tapi harus cocok dengan
doktrin pertahanan dan karakter geografis serta medan di
Indonesia," tuturnya.
Sebelum perang urat syaraf terjadi, DPR versus pemerintah,
sebelum rencana pembelian Leopard terungkap di dalam
negeri, ribut-ribut justru duluan terjadi di Negeri Belanda.
Seperti dimuat situs Radio Nederland Siaran Indonesia ,
pada 14 Desember 2012, Tweede Kamer menyetujui mosi
tidak percaya yang diajukan partai Kiri Hijau (GroenLinks ).
Alasannya, Belanda tidak ingin terlibat dalam pelanggaran
hak asasi manusia.
"Keputusan penolakan berkaitan erat dengan track record
Indonesia. Kita tahu mereka telah memporakporandakan
Aceh, Timor Timur. Baru-baru ini juga terjadi kerusuhan di
Papua," ujar Arjan El Fassed, pihak yang mengajukan mosi.
Menurut anggota parlemen dari GroenLinks itu, penjualan
tank kepada Indonesia berisiko besar terhadap pelanggaran
hak asasi manusia. Tank kemungkinan besar bisa
dipergunakan untuk menghabisi para demonstran.
Kekhawatiran parlemen Belanda ditanggapi Menteri
Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro. Kata dia, tuduhan itu
telat. "Pemerintah AS sudah mendeklarasikan kalau
Indonesia tak ada masalah dengan HAM. Tapi parlemen
Belanda bilang ada masalah, ini terlambat," kata Purnomo
Yusgiantoro. (sj)
© VIVAnew

Menanti kedatangan F16 C/D

VIVAnews – Skuadron tempur Republik
Indonesia akan segera diperkuat
dengan datangnya pesawat F-16 hasil
hibah dari Amerika Serikat. Paling tidak
tiga tahun lagi, yaitu 2014, ke-24
pesawat hibah tersebut akan mendarat
di Indonesia.
Hal itu diungkapkan oleh Menteri
Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.
“Proses hibah sudah jalan. Dua sampai
tiga tahun bisa siap,” ujarnya di Kantor
Kementerian Pertahanan, Minggu 18
Desember 2011.
Hibah pesawat F-16 dari AS ini
bukannya tak menuai kontroversi.
Meski DPR menyetujui langkah
pemerintah untuk menerima hibah
pesawat, namun mereka meninggalkan
catatan khusus.
Awalnya, pemerintah sebetulnya
berencana untuk membeli 6 unit
pesawat tempur baru jenis F-16 Block
52 senilai Rp3,8 triliun. Hal ini pun
sudah disetujui oleh Komisi I DPR yang
membidangi pertahanan keamanan dan
merupakan mitra kerja TNI.
“Anggaran sudah disiapkan. Kami
sudah memprogram pembelian F-16
Block 52. Pesawat sekelas itu cukup
canggih. Pesawat tempur kita sudah
tua, harus ada penggantinya,” kata
Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus
Hasanuddin, kepada VIVAnews.
Namun, ujar Tubagus, tiba-tiba datang
tawaran hibah F-16 grounded dari AS.
Tubagus sendiri cenderung tidak
sepakat dengan tawaran hibah
tersebut. Menurutnya, pesawat baru
memiliki daya tahan lebih lama
ketimbang pesawat grounded.
“Pesawat baru bisa 30 tahun umurnya.
Tapi pesawat grounded cuma 12 tahun.
Lagipula, pesawat hibah itu disimpan
dan ditongkrongkan AS begitu saja
seperti rongsokan di Gurun Arizona.
Apa kita mau yang seperti itu?” kata
politisi PDIP itu.
Namun, pada akhirnya, DPR menyetujui
hibah pesawat F-16 dari AS tersebut.
Keputusan itu diambil melalui rapat
bersama dengan Menteri Pertahanan,
Panglima TNI, dan Kepala Staf Angkatan
Udara. “Komisi I setuju hibah dengan
berbagai syarat,” kata Tjahjo Kumolo,
anggota Komisi I DPR yang juga Ketua
Fraksi PDIP.
Tjahjo menjelaskan, PDIP sebenarnya
cenderung menolak hibah pesawat AS
karena dinilai bakal memberatkan
Indonesia di kemudian hari. Tjahjo
menyatakan, diperlukan dana yang
sangat besar untuk meng- up grade
pesawat-pesawat hibah AS itu agar
memiliki kemampuan setara dengan
F-16 Block 52. “Jadi lebih baik beli baru
yang jangkauan masa terbangnya
terjamin,” kata dia.
Tapi, imbuh Tjahjo, sebagian besar
anggota Komisi I dan fraksi-fraksi
lainnya di DPR setuju dengan langkah
pemerintah tersebut. PDIP sendiri
mewanti-wanti agar pesawat hibah AS
itu di-up grade hingga memenuhi
minimum essential force , dengan
melibatkan tenaga ahli dari Indonesia.
AS Puji Indonesia
Asisten Menteri Luar Negeri AS, Kurt
Campbell, menilai keputusan Indonesia
menerima hibah 24 unit pesawat jet
tempur jenis F-16 dari AS merupakan
langkah yang sangat efektif. AS
meyakinkan, meski pesawat-pesawat
hibah itu adalah bekas pakai, namun
kemampuan dan kualitasnya akan tetap
tinggi bila telah dimutakhirkan atau di-
up grade .
“Hibah 24 unit F-16 merupakan langkah
yang sangat efektif dan cerdas dari segi
biaya. Pesawat bekas akan di- up grade
untuk memenuhi standar berkualitas
tinggi,” tegas Campbell di Jakarta,
Oktober 2011 lalu.
Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot
Marciel, juga mengutarakan pendapat
senada. Menurutnya, Indonesia sangat
diuntungkan dengan hibah 24 unit jet
tempur F-16 dari negaranya. “Biaya
pemeliharaan atau perawatannya jauh
lebih murah ketimbang harus membeli
produk baru,” kata Merciel di sela-sela
pertemuan Bali Democracy Forum IV di
Nusa Dua, Bali, 8 Desember 2011.
Benarkah demikian? Betul bahwa
menerima hibah pesawat sama artinya
dengan gratis. Namun, Indonesia tetap
perlu mengeluarkan biaya sekitar US
$750 juta atau setara dengan Rp6,7
triliun untuk pemutakhiran 2 lusin jet
tempur tersebut. Hal itu dikemukakan
oleh Departemen Pertahanan AS,
Pentagon, di Washington.
“Indonesia adalah mitra penting bagi
AS dan pemimpin di Asia Tenggara.
Departemen Pertahanan AS tengah
bekerja untuk mendukung militer
Indonesia dalam upaya memodernisasi
kekuatannya,” kata bicara Pentagon,
Kolonel Laut Leslie Hull-Ryde, seperti
dikutip Reuters beberapa waktu lalu.
Pesawat AS yang akan dihibahkan ke
Indonesia adalah F-16 model C/ D yang
sudah pensiun dan tidak lagi masuk
dalam inventaris Angkatan Udara AS.
Bila sudah dimutakhirkan, menurut
Hull-Ryde, pesawat F-16 bekas tersebut
akan dihibahkan ke Indonesia tanpa
biaya. Namun, lanjutnya, pemutakhiran
mesin dan komponen pendukung F-16
itu “diperkirakan tidak akan lebih dari
US$750 juta.”
Kesepakatan hibah F-16 ini telah
diumumkan bersama oleh Presiden AS
Barack Obama dan Presiden RI Susilo
Bambang Yudhoyono dalam
pertemuan jelang KTT Asia Timur di
Bali, 18 November 2011 lalu. Dalam
siaran persnya, Kantor Kepresidenan
AS menyatakan bahwa armada F-16
‘bekas’ AS itu cocok dengan keperluan
Indonesia dalam mengamankan
wilayahnya.
© VIVAnews

KASAD: MBT Leopard 2A6 Cocok untuk Indonesia

VIVAnews - Kepala Staf Angkatan Darat
Jenderal Pramono Edhie Wibowo
menyatakan Tank Leopard asal Belanda
cocok untuk kawasan Asia Tenggara,
termasuk Indonesia.
Edhie menjelaskan bila dilihat dari
negara-negara Asia Tenggara, beberapa
negara sudah memiliki tank berat.
Seperti Malaysia, Singapura, Vietnam
dan Kamboja,
"Itu mereka tinggal di kawasan yang
sama dengan kita, kebetulan kita di
pulau tapi kawasan daratannya sama
hutannya sama. Apakah jalan-jalan kita
tidak lebih baik dari mereka," kata
Pramono Edhie di Mabes TNI, Jakarta,
Rabu 18 Januari 2012.
Menurut Edhie, untuk menentukan tank
kelas berat jenis Leopard, pihaknya
sudah melakukan penelitian, termasuk
menanyakan kepada pihak-pihak yang
mumpuni soal alutsista. Apalagi
kebutuhan akan Leopard juga
merupakan permintaan si pemakai
yakni Batalyon Kavaleri.
"Saya hukumnya wajib mencari, jadi
saya persilakan untuk melihat tank
berat yang ada dan untuk dipelajar. Jadi
ada urutannya," ujar Edhie.
Jenderal Edhie mengakui memang
belum memberikan penjelasan terkait
pengadaan tank Leopard asal Belanda
ini kepada DPR. Namun ia menegaskan
kebutuhan akan tank kelas berat
berjenis Leopard adalah permintaan
pengguna.
"Jadi teknis saya tanyakan ke pengguna,
saya juga tidak lebih mahir dari kavaleri
jadi bicara masalah teknis mereka yang
punya, kalau mereka minta ya saya
adakan," ujarnya.
Soal tank Leopard ini Wakil Ketua
Komisi I, Tubagus Hasanuddin,
mengungkapkan penolakan DPR.
Berbeda dengan KSAD, dari hasil
penelitian dan analisa DPR, tank
Leopard tidak cocok untuk kontur alam
Indonesia . (umi)
© VIVAnews

Keunggulan MBT leopard 2A6

VIVAnews - Indonesia merencanakan
menambah kekuatan militernya.
Rencananya, 100 tank jenis Leopard
2A6 akan dibeli pemerintah dari
Belanda.
Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal
Pramono Edhie Wibowo, menyatakan
Leopard asal Belanda cocok untuk
kawasan Asia Tenggara, termasuk
Indonesia.
Leopard 2 ini merupakan tank andalan
Jerman pada masa lalu. Tank tempur
utama Jerman ini merupakan
pengembangan dari Leopard 1,
dikembangkan oleh Krauss-Maffei pada
awal 1970. Tank ini pertama kali
digunakan pada 1979. Dan kini sudah
lebih dari 3.480 Leopard 2 telah
diproduksi.
Angkatan Darat Jerman pertama kali
menggunakan Leopard 2 dalam perang
di Kosovo. Tank ini juga pernah
digunakan pasukan Kanada dan
Denmark di Afganistan.
Leopard tipe 2A6 ini merupakan salah
satu tank tempur terbaik di dunia.
Bahkan, laman www.military-
today.com menyebutkan kualitas tank
ini melebihi tank jenis Abrams M1A 2,
Challenger 2 dan Leclerc dalam hal
perlindungan, daya tembak dan
mobilitas.
Leopard 2A6 ini juga dilindungi bahan
lapis baja generasi terbaru. Dan lebih
canggih dibanding pendahulunya, tipe
2A5.
Untuk persenjataan, Leopard 2A6
menggunakan kanon Rheinmetall
kaliber 120 mm. Senjata ini dirakit
sesuai dengan standar NATO. Selain
itu, tank ini memiliki persenjataan
sekunder berupa senapan mesin
kaliber 7,62 mm.
Kendaraan tempur ini dapat diisi 4
orang yakni komandan, penembak,
pengisi peluru, dan sopir. Mesinnya,
diesel MTU turbocharged dengan 1.500
tenaga kuda. Tank berbobot 62,3 ton
ini memiliki panjang 7,7 meter, lebar 3,7
meter, dan tinggi 3 meter.
© VIVAnews

Keunggulan MBT leopard 2A6

VIVAnews - Indonesia merencanakan
menambah kekuatan militernya.
Rencananya, 100 tank jenis Leopard
2A6 akan dibeli pemerintah dari
Belanda.
Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal
Pramono Edhie Wibowo, menyatakan
Leopard asal Belanda cocok untuk
kawasan Asia Tenggara, termasuk
Indonesia.
Leopard 2 ini merupakan tank andalan
Jerman pada masa lalu. Tank tempur
utama Jerman ini merupakan
pengembangan dari Leopard 1,
dikembangkan oleh Krauss-Maffei pada
awal 1970. Tank ini pertama kali
digunakan pada 1979. Dan kini sudah
lebih dari 3.480 Leopard 2 telah
diproduksi.
Angkatan Darat Jerman pertama kali
menggunakan Leopard 2 dalam perang
di Kosovo. Tank ini juga pernah
digunakan pasukan Kanada dan
Denmark di Afganistan.
Leopard tipe 2A6 ini merupakan salah
satu tank tempur terbaik di dunia.
Bahkan, laman www.military-
today.com menyebutkan kualitas tank
ini melebihi tank jenis Abrams M1A 2,
Challenger 2 dan Leclerc dalam hal
perlindungan, daya tembak dan
mobilitas.
Leopard 2A6 ini juga dilindungi bahan
lapis baja generasi terbaru. Dan lebih
canggih dibanding pendahulunya, tipe
2A5.
Untuk persenjataan, Leopard 2A6
menggunakan kanon Rheinmetall
kaliber 120 mm. Senjata ini dirakit
sesuai dengan standar NATO. Selain
itu, tank ini memiliki persenjataan
sekunder berupa senapan mesin
kaliber 7,62 mm.
Kendaraan tempur ini dapat diisi 4
orang yakni komandan, penembak,
pengisi peluru, dan sopir. Mesinnya,
diesel MTU turbocharged dengan 1.500
tenaga kuda. Tank berbobot 62,3 ton
ini memiliki panjang 7,7 meter, lebar 3,7
meter, dan tinggi 3 meter.
© VIVAnews

DPR Ogah Merestui Leo

VIVAnews - Rencana pembelian tank
Leopard bekas dari Belanda belum juga
mendapat restu dari Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR). Tentangan tak hanya
datang dari anggota Komisi I, tapi juga
unsur pimpinan Dewan.
Wakil Ketua DPR RI, Pramono Anung
mengatakan, salah satu yang menjadi
pokok keberatan adalah soal harga.
Dana US$280 juta akan ditukar dengan
100 unit tank Leopard, dianggap
kelewat mahal.
"Kalau mau beli tank, simpel saja, kalau
harga terlalu mahal dibandingkan saja.
DPR bisa mengecek. TNI memang perlu
persenjataan yang lebih kuat, (tapi)
jangan sampai ditunggangi agar tidak
menimbulkan kecurigaan. Tawarkan ke
semua produsen," kata dia, Kamis 19
Januari 2012.
Politisi PDIP itu menduga, pemerintah
belum solid sehingga belum siap
memproduksi alat utama sistem
pertahanan (alutsista) di dalam negeri.
"Industri dalam negeri harus didorong,
kita harus malu dengan anak-anak
SMK. Harus ada political will , saya yakin
kita mampu. Tank bukan teknologi
canggih. Harus ada blue print, harus
ada keinginan politik," kata dia.
Perang urat syaraf pemerintah-DPR
tentang pembelian Leopard bekas asal
Belanda tak kunjung berakhir.
Kemarin, Kepala Staf Angkatan Darat
Jenderal Pramono Edhie Wibowo
menjawab soal kekhawatiran para
politisi.
Pertama, soal cocok tidaknya Leopard
digunakan di Indonesia. Jenderal Edhie
mengatakan, tank yang sama juga
digunakan di negara-negara tetangga,
Malaysia, Singapura, juga Kamboja.
"Mereka tinggal di kawasan yang sama
dengan kita. Kebetulan kita di pulau
tapi kawasan daratannya sama
hutannya sama. Apakah jalan-jalan kita
tidak lebih baik dari mereka," kata
Pramono Edhie di Mabes TNI, Jakarta,
Rabu 18 Januari 2012.
Kenapa tidak memakai buatan dalam
negeri? "Untuk tank berat (teknologi)
kita belum mampu," kata dia.
Soal harga, pihak pemerintah
berpendapat, ini justru kesempatan
mendapatkan alutsista murah.
Mumpung Belanda mengobral tank
mereka, sebagai langkah penghematan
gara-gara hantaman krisis Eropa. (umi)
viva news

Tiga Kapal Perang Rusia Merapat di Surabaya

VLADIVOSTOK, KOMPAS.com — Iring-
iringan kapal militer dari Armada Pasifik
Rusia dijadwalkan merapat di Surabaya,
Kamis (19/1/ 2012) ini. Konvoi dipimpin
kapal perusak Admiral Panteleyev.
Demikian dinyatakan juru bicara Armada
Pasifik Rusia di Vladivostok, Kamis, seperti
dikutip kantor berita RIA Novosti. Admiral
Panteleyev akan diiringi kapal tunda
penyelamat Fotiy Krylov dan kapal tanker
Boris Butoma.
Kapal-kapal tersebut mampir di Indonesia
dalam perjalanan pulang menuju pangkalan
mereka di Vladivostok, Rusia timur jauh,
setelah sebelumnya menjalankan misi
antiperompak di Teluk Aden, dekat perairan
Somalia.
Seperti diberitakan sebelumnya, tugas
Admiral Panteleyev di Teluk Aden sudah
digantikan kapal perusak Admiral Tributs.
Selama di Surabaya, para perwira dan
pelaut dari tiga kapal ini akan bertemu
dengan para perwira dan prajurit TNI AL,
dan berjalan-jalan keliling kota.
Menurut siaran pers Pangkalan Utama TNI
AL (Lantamal) V Surabaya, Rabu
(18/ 1/2012), tiga kapal Rusia tersebut akan
berada di Surabaya selama sekitar empat
hari, dan dijadwalkan baru bertolak pada
Minggu (22/ 1/2012).
Selain berkunjung ke Panglima Armada
Timur TNI AL dan Wali Kota Surabaya, para
perwira dan personel AL Rusia akan
melakukan berbagai latihan bersama
dengan kolega mereka dari TNI AL.
Admiral Panteleyev adalah salah satu dari
kapal perusak kelas Udaloy yang
dioperasikan AL Rusia. Kapal sepanjang 163
meter ini dirancang untuk misi antikapal
selam dan dianggap setara dengan kapal
perusak kelas Spruance dari AL Amerika
Serikat.
Kapal ini dipersenjatai dengan rudal
antikapal selam SS-N- 14, rudal antipesawat
SA-N- 9 Kinzhal, dan rudal antikapal
permukaan SS-N-22 Sunburn.
Di samping itu juga ada meriam 100 mm
berlaras ganda, empat senapan mesin
gatling 30 mm, sistem pertahanan jarak
dekat CIWS Altair CADS-N-1, dan dua
peluncur roket kaliber 213 mm antikapal
selam RBU 6000, serta dua tabung peluncur
torpedo Type-53.
Kapal perang ini juga dilengkapi hangar
dan dek pendaratan helikopter untuk
membawa dua helikopter Kamov Ka-27
Helix. (RIA Novosti/ naval-technology.com/
DHF)
sumber kompas

Pramono: Pemerintah tak Transparan soal Leopard

 Leopard 2A6
NILAH.COM, Jakarta - Pimpinan DPR meminta pemerintah transparan dengan rencana pembelian tank Leopard dari Belanda. Pemerintah dianggap tidak solid sehingga merembet ke DPR yang menolak rencana tersebut.

"Apakah TNI butuh yang kuat iya, kami harus dorong. Tapi supaya mekanisme tidak dimanfaatkan, maka harus dibuat terbuka dan transparan. Jangan hanya dari satu produsen tapi yang lain tidak," kata Wakil Ketua DPR Pramono Anum di gedung DPR, Kamis (19/1/2012).

Menurut dia, persoalan ini menjadi rumit karena adanya kepentingan-kepentingan. Ada kecurigaan sesuatu terjadi dari pembelian tank tersebut. "Sebenarnya ini menjadi persoalan rumit ketika banyak interes di dalamnya. Ada quote and quote 'sesuatu'. Kalau butuh, tapi harganya terlalu mahal dan bisa dicek apa terlalui mahal," tuturnya.

Pramono juga menilai, pemerintah tidak akur sehingga persoalan ini berdampak pada ketidaksetujuan anggota DPR terutama Komisi I. "Internal pemerintah tidak solid, sehingga membuat DPR kenapa tidak menyetujui," tambahnya.[yeh

sumber : inilah.com

Belanja Alutsista RI Terkendala Ketidaksiapan

INILAH.COM, Jakarta - Komunitas militer atau Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat ini sedang sumringah. Sebab baru di periode Presiden SBY alokasi anggaran Alutsista mengalami lonjakan signifikan.
Untuk 2012 saja, TNI mendapat alokasi Rp65 triliun. Sementara total anggaran hingga 2014 TNI mendapatkan dana hingga Rp150 triliun. Dengan anggaran itu TNI AD misalnya bakal punya banyak tank baru. TNI AL mendapatkan kapal selam dan tank amfibi, sementara TNI AU bisa membeli pesawat F-16 buatan Amerika Serikat juga jet tempur Sukhoi, buatan Rusia.
Sejak reformasi 1998, baru kali ini perhatian pemerintah terhadap TNI lebih berimbang dengan Polri. Alasan lain TNI sumringah, sebab selain tergolong cukup besar, persetujuan DPR-RI terhadap jumlah anggaran tersebut, prosesnya dicapai dengan mudah. DPR pun nampaknya tidak lagi ingin dianggap ikut menghambat setiap usaha pemberdayaan TNI.
Sesuai strategi dan target pemerintah, peremajaan Alutsista diharapkan membuat TNI memiliki kekuatan memadai. Terutama dalam menghadapi ancaman pihak luar. Pada 2009, tatkala konflik Indonesia dan Malaysia dalam kepemilikan pulau Ambalat bereskalasi, sempat muncul kekuatiran.
Jika terjadi perang terbuka antara kedua negara, yang dikhawatirkan, TNI tidak akan mampu mengimbangi kekuatan Malaysia. Pantauan yang ada menyebutkan, sistem persenjataan Tentara Kerajaan Malaysia jauh lebih unggul dari TNI.
Itu sebabnya ketika semua kekuatan Udara dan Laut sudah diarahkan ke wilayah pulau yang disengketakan, secara tiba-tiba Presiden SBY memerintahkan agar TNI mengendorkan pameran kekuatan terhadap Malaysia. Kini dengan penetapan anggaran itu, keraguan ataupun kekhawatiran atas kemampuan TNI menghadapi Malaysia, termasuk menjaga NKRI, sepertinya sudah hilang.
Setidaknya sudah ada optimisme baru. Pada 2014 atau 2015, bila Malaysia memprovokasi lagi, maka Indonesia sudah siap menghada inya. Namun yang menjadi sorotan sekarang adalah pengalokasian anggaran yang cukup besar itu kelihatannya tidak cukup diimbangi kesiapan TNI.
Kesiapan yang dimaksud seperti soal jenis senjata apa saja yang akan dibeli. Dan fabrikan mana yang cocok. Soal jenis senjata dan negara asal, masih menjadi perdebatan. Dan yang tidak kalah pentingnya, TNI tidak pernah menyinggung tentang kesiapan SDM, pengendali persenjataan itu.
Man Behind The Gun, kelihatannya tidak banyak diperhitungkan oleh para perencana. Padahal semua orang tahu, peran dan kesiapan manusia pada akhirnya akan menentukan kegunaan sebuah senjata.
Ada dua matra yang nampak tidak cukup siap. TNI AD misalnya sudah menetapkan membeli tank jenis Leopard buatan Jerman yang sekarang ini sedang digunakan oleh tentara kerajaan Belanda.
KSAD Jenderal Pramono Eddhi Wiwobo memastikan, pembelian tank bekas itu sudah final. Kementerian Pertahanan pun sudah mengundang Komisi I DPR-RI ke Belanda untuk melakukan verifikasi atas tank Leopard.
Tapi belum dua hari KSAD memastikan pilihan atas Leopard, tiba-tiba dari Belanda terdengar kabar Den Haag, membatalkan penjualan tank Leopard kepada Indonesia. Alasan yang diberikan oleh negara yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun itu, Leopard akan digunakan oleh TNI untuk kegiatan yang melanggar HAM.
Padahal sebelum memastikan keputusan, KSAD terlebih dahulu sudah menjelaskan tentang seluruh proses rencana pembelian itu. Penjelasan KSAD juga sekaligus mengeliminir asumsi dari mantan Wakasad, Letjen (Purn) Kiki Syahnakri.
Kiki dalam sebuah ulasannya di harian Kompas Desember 2011 antara lain menyebut, tank Leopard tidak cocok dengan kondisi alam Indonesia. Kelemahan lainnya, Leopard boros bahan bakar. Dengan pembatalan pihak Belanda itu, dapat dipastikan, TNI AD harus melakukan revisi atas belanja Alutsista-nya.
Revisi tersebut kemungkinan akan mempengaruhi agenda Kementerian Pertahanan untuk memperkuat Alutsista. Di matra lainnya, TNI AU juga terlihat ada ketidaksiapan. Matra ini terkesan sulit menentukan pilihan. Membangun dengan konsep yang berpijak pada kualitas atau dengan kuantitas?
TNI AU merupakan korban kebijakan embargo militer dari Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun sejumlah pesawat tempur jenis F-16 milik TNI AU buatan AS tidak bisa diterbangkan. Sebab suku cadangnya yang hanya bisa dibeli di AS, oleh Washington dinyatakan tidak boleh dibeli Indonesia.
Atas dasar itu TNI melirik Sukhoi, buatan Rusia. Tapi tiba-tiba TNI AU tergoda membeli F-16 baru. Selain itu TNI AU mau menerima hibah (pemberian cuma-cuma) atas 24 buah pesawat jenis yang sama, namun sudah tidak bisa terbang.
Kembali di sini terlihat ada ketidak-siapan. Sebab tadinya disebutkan 24 buah pesawat F-16 akan diberikan secara cuma-cuma. Nyatanya setelah opini dalam negeri sudah terbentuk positif, pernyataan hibah itu kemudian dikoreksi.
Yaitu berhubung sudah tidak bisa diterbangkan, maka harus diperbaiki lagi. Padahal untuk memperbaikinya, Indonesia tetap mengeluarkan triliunan rupiah. Bagi rakyat Indonesia sendiri, khususnya masyarakat sipil, peremajaan Alutsista kali ini, sebetulnya sah dan wajar-wajar saja.
Orang awam sebetulnya tidak akan pernah bisa tahu berapa sebetulnya anggaran yang diperlukan untuk sektor Alutsista agar NKRI benar-benar aman dari ancaman. Demikian pula awam tidak akan paham, jenis senjata, tank, kapal selam, kapal tempur buatan mana yang cocok untuk Indonesia.
Tetapi yang cukup bikin rakyat bingung adalah sikap dan cara para penentu dan pengambil keputusan di lingkungan TNI ataupun Kementerian Pertahanan. Lembaga yang demikian penting ini sepertinya belum punya konsep dan perencanaan jangka panjang. Kalau pun ada, sifatnya masih ad hoc ataupun instan.
Ketika Malaysia menjadi ancaman dan negara tetangga itu punya 1.000 tank, maka perencanaan Alutsista pun merujuk ke Malaysia. Padahal jenis ancaman dari luar terhadap Malaysia, jelas sangat berbeda dengan Indonesia. Setelah ada anggaran, TNI ternyata tidak cukup siap bagaimana menggunakan, membelanjakan anggaran yang disediakan.
Ketidaksiapan ini berisiko kalau tidak mau disebut berbahaya. Irak dan Libya merupakan contoh dimana belanja persenjataan tidak didasarkan persiapan yang matang. Akibatnya dua negara itu hancur sekalipun memiliki Alutsista yang canggih. Penyebab kehancurannya, karena strategi Alutsista kedua negara itu hanya disusun atas dasar situasional. Tidak berjanga panjang. [mdr]

SUMBER : INILAH,COM

Mabes TNI Siapkan Daftar Belanja Alutsista





.
Jurnas.com | DALAM rangka pemenuhan Minimum Essential Forces (MEF), TNI telah menyiapkan alat utama sistem senjata (alutsista) yang dilakukan selama 2010-2014. Pengadaan tersebut menganggarkan dana sebesar Rp156 triliun. Dana ini dibagi untuk pengadaan alutsista baru, peningkatan kemampuan alutsista yang telah dimiliki, dan modernisasi.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menjelaskan, TNI selalu melakukan pertimbangan setiap kali melakukan pengadaan alutsista dari luar negeri. Selain harus dengan mekanisme joint production atau transfer of technology, dipertimbangkan juga kemungkinan embargo oleh negara penjual.

Selama ini, banyak negara yang menawarkan kerja sama pengadaan alutsista untuk Indonesia sehingga Indonesia dapat menyeleksinya sesuai syarat dan kebutuhan. “Negara yang mau kerja sama dengan Indonesia banyak, tinggal pilih. Selama ini kami melakukan pengadaan misalnya pesawat tempur dan kapal selam dari Korea Selatan, rudal dari China, pengembangan lain sedang kami susun,” kata Panglima TNI usai Rapat pimpinan TNI di Mabes TNI di Jakarta, Rabu (18/1).

Panglima menambahkan, masing-masing matra selaku user alutsista telah menetapkan shopping list pengadaan alutsista yang dibutuhkan. Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo memaparkan, selama 2010-2014 TNI AD akan membeli satu batalyon tank berat, satu batalyon multiple launcher rocket system dengan jarak tembak sejauh 70 kilometer (km). “Ini yang kami akan beli, karena kami tak punya,” kata Pramono yang mendampingi Panglima.

Selain itu, lanjut KSAD, TNI AD juga akan melakukan pengadaan heli serang, meriam 155 milimeter dengan jarak tembak 40 km, dan heli serbu. Tak kalah penting adalah modernisasi alutsista penangkal udara yaitu rudal untuk menembak pesawat. “Pesawat sekarang kan sudah cepat semua, ada yang supersonik contohnya,” ujarnya.

SUMBER : JURNAS

KSAD: Leopard Diharapkan Meningkatkan Kemampuan Industri Pertahanan Nasional


Jurnas.com | PEMBELIAN tank bera Ttau Main Battle Tank (MBT) jenis Leopard milik militer Belanda diharapkan dapat menjadi sarana memeroleh teknologi pembuatan MBT. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo ini merupakan hal penting karena industri dalam negeri belum mampu memproduksi.

“Tank beratnya Indonesia belum mampu. Sehingga kami berharap ada harapan teknologi andai membeli tank berat. Dengan persyaratan TOT bisa mentransfer, sehingga Indonesia bisa membuat sendiri,” kata KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo usai Rapim TNI di Mabes TNI Jakarta, Rabu (18/1).

Menurutnya, kemampuan industri pertahanan nasional saat ini baru sampai pada retrovit tank tringan. Untuk tank sedang dan tank berat, KSAD menyatakan Indonesia belum mampu. “Sehingga kalau ada TOT, kami bisa kirim orang agar bisa meningkatkan kemampuan,” ujarnya.

Pengadaan MBT ini, tutur KSAD, bertujuan untuk menyamakan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) dengan negara lain, karena Indonesia telah tertinggal jauh. Di Asia Tenggara, negara tetangga sudah memiliki tank jenis ini seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Negara-negara tersebut, jelas KSAD, juga merupakan negara kepulauan seperti Indonesia sehingga alasan penolakan pembelian tank berat dengan alasan Indonesia negara kepulauan tidak tepat. “Jalannya sama, hutannya sama, kondisinya juga sama. Apakah struktur jalan kita tidak lebih baik dari negara itu,” imbuhnya.

Saat ini, lanjut KSAD, dukungan tank bagi TNI AD hanya jenis tank ringan. Tank ringan yang dimiliki saat ini diantaranya Scorpion, dan AMX 13 yang merupakan produk tahun 1950-an. “Kalau dilihat cukup lama kita tertinggal dalam teknologi tank. Padahal tank itu ada tiga kelas, ringan, sedang dan berat,” paparnya. Untuk tank AMX 13, TNI AD saat ini melakukan kerja sama dengan PT Pindad untuk meretrofit 13 unit tank tersebut.

SUMBER : JURNAS

TNI AL DAN TNI AU SIAPKAN DAFTAR BELANJA


Desmunyoto P. Gunadi / Jurnal Nasional
Kapal perang KRI Frans Kaisepo merapat di dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta. Kapal yang dibuat di Belanda ini memperkuat alat utama sistem senjata TNI.
Jurnas.com | DUA matra di kesatuan TNI, masing-masing Angkatan Laut dan Angkatan Udara tidak mau kalah dalam menyiapkan daftar belanja alat utama sistem senjata (alutsista) untuk memperkuat yang telah ada.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno menyebutkan, kebutuhan TNI AL terbagi dalam empat jenis yaitu kapal, pesawat, pangkalan dan marinir. “Untuk kapal, TNI AL akan melakukan pengadaan kapal atas air, kapal selam, kapal cepat ringan, dan kapal latih sebagai pengganti KRI Dewa Ruci,” jelas KSAL usai menghadiri rapat pimpinan TNI, Rabu (18/1).

Untuk pesawat, TNI AL akan mengadakan pesawat patroli maritim, pesawat anti kapal selam, dan heli angkut. Sedangkan dalam rangka penguatan pangkalan, TNI AL akan melakukan pembentukan Komando Wilayah Laut RI (Kowila), penambahan armada dari dua menjadi tiga armada, serta peningkatan Pos TNI AL (Posal) menjadi Landasan TNI AL. “Posal kelas C menjadi kelas B, Posal B menjadi A, dan Posal A menjadi Lanal,” ungkap KSAL.

Tak kalah penting, TNI AL melakukan penguatan Marinir dengan melakukan penambahan satu divisi Marinir, tank ampibi BMP 3 F, Amunisi, Roket serta Meriam. “Semuanya kita tingkatkan secara paralel,” tambahnya.

Tak ketinggalan TNI AU juga melakukan penguatan alutsistanya yang terbagi dalam empat pokok. Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat menguraikan, untuk alutsista yang bersifat counter air, TNI AU menyiapkan penambahan enam pesawat Sukhoi sehingga memiliki 16 unit.

Pesawat tempur F-16 yang dihibahkan Pemerintah Amerika Serikat sebanyak 30 unit turut memperkuat TNI AU. Untuk keperluan Air Strike, TNI AU akan mendapatkan pesawat T-50 dari Korea Selatan Sebanyak 16 unit. Ada juga Super Tucano buatan Brasil yang akan menggantikan pesawat OV-10. “Sedangkan untuk air mobility kami akan menambah sembilan Hercules tipe H. Empat dilakukan melalui hibah dan lima lainnya akan membeli dari negara lain,” jelas KSAU.

Selain itu, TNI AU juga akan mengadakan sembilan pesawat C-295 buatan PT Dirgantara Indonesia dan Airbus Military yang mampu mengangkut hingga sembilan ton.

“Untuk Air SAR, kami akan melakukan up-grade tiga Boeing 737, CN-235 untuk patroli maritim, serta akan membeli pesawat helikopter Cougart EC 275, mudah-mudahan bisa dapatkan 8-9 unit dengan dana yang ada,” imbuhnya. Selain itu, TNI AU juga akan membeli pesawat latih dan pesawat aerobatic serta rudal untuk pertahanan udara.

SUMBER : JURNAS

Wednesday, January 18, 2012

Daftar Belanja Alutsista TNI Periode 2010-2014




Menhan, Purnomo Yusgiantoro (depan), menyalami Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono (kiri ke kanan), KSAD, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, KSAL, Laksamana TNI Soeparno dan KSAU, Marsekal TNI, Imam Sufaat, saat Rapat Pimpinan TNI di Cilangkap, Jakarta, Rabu(18/1). Foto : ANTARA/ Ujang Zaelani

JAKARTA - Mabes TNI mendapat kucuran dana Rp 156 triliun untuk belanja alutsista dalam periode 2010-2014. Lantas belanja alutsista apa saja dari anggaran tersebut?

"Dalam hal pembelanjaan kita sudah punya shopping list 2010-2014, dengan anggaran Rp 156 triliun masing-masing angkatan sudah memiliki kebutuhannya," kata Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, dalam jumpa pers di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/01).

Dijelaskan Agus, dari dana itu ada yang digunakan untuk pengadaan alutsista baru sebagai pengganti alutsista lama. Dan ada pula pembelian alutsista bekas pakai. Selain untuk meningkatkan kemampuan, persenjataan bekas yang dibeli akan dilakukan modernisasi.

"Itu bagian upaya kita memenuhi bagian pertahanan," lanjut Agus.

Pada kesempatan tersebut, para kepala staf angkatan membeberkan rencana belanja dari masing-masing angkatannya.

Satu Batalyon Tank

"Shoping list dari Rp 14 triliun yang dialokasikan untuk Angkatan Darat (TNI AD) yang mengemuka adalah tentang pengadaan tank Leopard. Sebenarnya kita ingin membeli 1 batalion tank berat, namun dana yang kita miliki terbatas," kata Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Purnomo Edhie Wibowo.

Selain itu, AD juga berencana membeli 1 batalion Multiple Launcher Rocket System (MLRS) berjarak tembak 7 km, heli serang, howitzer 155mm berjarak tembak 40 km, serta memodernisasi rudal dan artileri anti pesawat.

"Alat kita sudah 20 tahun tidak dimodernisasi," tutur Pramono.

Tiga Komando Wilayah Laut

Sementara itu, Angkatan Laut (AL) alokasi dananya digunakan untuk pengadaan kapal selam, kapal cepat rudal, kapal PKR, serta kapal cepat. Untuk pesawat, TNI AL dipastikan bakal membeli pesawat patroli maritim, heli anti kapal selam, pesawat angkut dan pesawat anti kapal permukaan.

Dalam hal pemekaran organisasi, TNI AL akan menambah komando wilayah laut RI dari 2 (Armabar dan Armatim) menjadi 3 armada, juga mengadakan beberapa pos angkatan laut (Posal). Sedangkan untuk marinir akan ada penambahan 1 divisi marinir, penambahan tank Amphibi BMP-3F, amunisi roket, dan meriam.

"Tidak ada pilih kasih semuanya kita tingkatkan secara pararel," kata Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Soeparno.

Pesawat Baru dan Hibah

Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Supaat, juga menuturkan pengadaan dari angkatannya. Menurutnya, ada 4 hal pokok dalam pengadaan di Angkatan Udara (AU).

Pertama adalah air priority dengan mengadakan tambahan jet tempur Sukhoi, menerima hibah jet tempur F-16 sebanyak 30 dengan 24-nya di-upgrade dan 6 sebagai cadangan. Untuk Air Strike AU akan mendapatkan KAI T-50 (jet latih multifunsi) dari Korea sebanyak 16 unit.

Kemudian pesawat serang darat OV-10F bakal digantikan Supertocano dari brazi, yang dijadwalkan tiba tahun ini. Untuk air mobility AU akan menambah 9 pesawat angkut Hercules, di mana 4 di antaranya merupakan hibah dan 5 dibeli dari negara lain. Semuanya dari tipe H.

"Kemudian dari dalam negeri AU akan mendapatkan 9 pesawat C-295 hasil kolaborasi PTDI dengan Airbus Military," kata Imam.

Selanjutnya, untuk Air-SAR atau Recognition, AU akan meng-upgrade pesawat Boeing 737-400 yang saat ini ada 3 unit, kemudian AU juga akan mendapatkan CN-235 untuk patroli maritim dan helicopter EC 275 "Cougar".

Untuk pesawat latih, AU akan membeli pesawat LOB dari Jerman sebanyak 24 buah. Lalu menambah KT-1 Wongbee yang sekarang kini dipakai aerobatic menjadi 24 unit.

Terakhir, untuk pertahanan udara (hanud), AU akan membeli sistem rudal hanud Oerlikon dan rudal udara ke udara.

"Itu yang akan kita rencanakan di samping menghidupkan kekuatan yang sekarang ini ada," tutur Imam.

Sumber : DETIK.COM

TNI Tetapkan Enam Prioritas Pembangunan Pertahanan Negara


18 Januari 2012, Jakarta: Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan telah menetapkan empat di antara enam prioritas pembangunan pertahanan negara pada 2012. Yakni, kemampuan pertahanan untuk mencapai kekuatan pokok minimum (minimum essential forces/MEF).

"Pengembangan kekuatan MEF difokuskan pada peningkatan profesionalisme, modernisasi alutsista, serta pengamanan wilayah perbatasan dan pulau terluar," katanya usai Rapat Pimpinan TNI 2012 di Jakarta, Rabu.

Prioritas kedua, lanjut Panglima TNI, pencegahan penanggulangan gangguan keamanan dan pelanggaran hukum di laut dengan meningkatkan operasi bersama dan mandiri di laut.

Ia mengatakan, prioritas ketiga membantu menciptakan rasa aman dan ketertiban masyarakat meliputi penangkalan terorisme, pemberdayaan wilayah pertahanan, operasi intelijen, operasi strategis, koordinasi pencegahan, dan penanggulangan terorisme melalui operasi bantuan TNI.

"Selanjutnya prioritas keempat adalah modernisasi deteksi dini keamanan nasional yang difokuskan pada perluasan cakupan deteksi dini di dalam dan luar negeri melalui analisa lingkungan strategis," katanya.

Panglima Agus Suhartono saat membuka Rapim TNI 2012 mengatakan, berdasarkan perkembangan kondisi nasional dan lingkungan strategis saat ini dan kecederungannya pada 2012 maka persepsi ancaman yang potensial maupun faktual berada pada isu politik dan ekonomi nasional.

Ia mengatakan, masalah bencana alam, dampak pemanasan global, aksi kelompok radikal, konflik horizontal, dan gerakan separatis maupun perbatasan, berdampak kepada kebijakan penetapan skala prioritas pembangunan TNI. "Tidak itu saja, termasuk permasalahan regional maupun global yang berdampak pada situasi nasional," katanya.

Beberapa permasalahan regional misalnya masalah perbatasan, kejahatan lintas nasional, dan keamanan laut, sedangkan di tingkat global antara lain kesulitan perekonomian di Amerika Serikat dan Eropa, kelangkaan energi, pemanasan global, dan perkembangan politik di Timur Tengah.

Rapim TNI 2012 yang bertema "Dengan Komitmen dan Konsistensi yang Tinggi, TNI Bertekad Melanjutkan Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Kekuatan Pokok Minimum" itu juga menampilkan pameran peralatan pertahanan dalam negeri di lapangan apel BIII Mabes TNI.

TNI Tetap Waspadai Embargo Senjata


TNI tetap mewaspadai kemungkinan embargo dalam setiap pengadaan persenjataan dan peralatan militernya.

"Embargo itu memang salah satu yang kerap menjadi kekhawatiran dalam setiap pengadaan alutsista," kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono usai hari pertama Rapat Pimpinan TNI di Jakarta, Rabu.

Indonesia pernah menjadi sasaran embargo militer Amerika Serikat dan sekutunya pada 1999 terkait dengan dugaan pelanggaran HAM militer Indonesia di Timor-Timur (kini Timor Leste).

Embargo tersebut mengakibatkan tingkat kesiapan dan kemampuan sebagian besar alat dan persenjataan TNI terutama buatan AS dan sekutunya, menurun drastis. Aksi embargo itu, akhirnya dicabut pada November 2005 secara bertahap oleh AS dan sekutunya.

Ancaman embargo juga kembali dimunculkan oleh parlemen Belanda yang menolak rencana pembelian 100 unit Main Battle Tank "Leopard" oleh Indonesia untuk TNI Angkatan Darat, dengan tudingan pelanggaran HAM di masa lalu.

Panglima TNI mengatakan dalam setiap rencana pengadaan alat utama sistem senjata pihaknya harus benar-benar melalui kajian mendalam, apakah alat atau persenjataan yang dimaksud sesuai kebutuhan dan dari negara mana akan diadakan.

"Kita sebagai pengguna selalu mengkaji apa yang cocok dengan kebutuhan dan dari mana akan diadakan. Jika itu sudah pasti kita pilih, kita tetapkan melalui kontrak," kata Agus menambahkan.

Panglima TNI mengatakan pemerintah khususnya TNI telah menjalin kerja sama dengan banyak negara untuk melengkapi dan memodernisasi alat militer dan persenjataannya.

"Misalnya dalam pengadaan kapal selam, kami kerja sama dengan Korea Selatan. Pengadaan peluru kendali, kami kerja sama dengan Tiongkok dan lainnya," katanya.

Sumber: Investor Daily

Pembelian Tank Leopard mematikan industri dalam negeri


Kamis, 19 Januari 2012 10:39 WIB


Tank Leopard (military.wikia.com)

Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI Al Muzzammil Yusuf menilai rencana Kemenhan membeli 100 unit Tank Leopard eks Belanda akan mematikan industri strategis dalam negeri serta bertolak belakang dengan keinginan publik yang menghendaki kemandirian teknologi domestik.

"Rencana pembelian itu harus dikaji ulang. Selama ini PT. Pindad mampu memproduksi tank yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia, lalu kenapa harus impor dari luar. Jika ini tetap dilakukan maka industri dalam negeri akan
bangkrut karena tidak ada yang beli," ujarnya di Jakarta, Kamis.

Dikatakannya pula bahwa Presiden SBY harus konsisten dengan agenda riset nasional 2010-2014 yang menargetkan kemandirian dalam pengadaan berbagai tipe tank untuk pertahanan dan kemananan.

Pemerintah, katanya lagi, harus tinggalkan paradigma lama yang sudah biasa impor Alutsisa karena jika terus dibiarkan maka makelar pembelian alutsista luar negeri akan terus hidup dan mengancam bangkrutnya industri strategis dalam negeri.

"Saya meminta kepada Presiden SBY untuk mengarahkan visi tersebut kepada Kemenhan. Jangan sampai terkesan masing-masing kementerian jalan sendiri-sendiri dan tidak ada koordinasi serta visi yang sama," ujarnya.

Muzzammil juga mempertanyakan argumentasi pembelian Tank Leopard bekas itu untuk alih teknologi. Menurut dia, hal itu tidak perlu dilakukan dengan membeli tank bekas hingga 100 unit yang menelan biaya 280 juta US dolar.

"Serahkan saja kepada PT Pindad atau PT DI untuk melakukan riset peningkatan kualitas tank yang sudah mereka produksi sehingga bisa setara dengan Tank Leopard," ujarnya.
SUMBER :ANTARA

Kasal: kapal selam pertama selesai 2015


Rabu, 18 Januari 2012 23:31 WIB | 1062 Views

ilustrasi Kapal Selam (FOTO ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengatakan, kapal selam pertama dari tiga unit yang dipesan dari Korea Selatan, akan selesai pada 2015.

"Untuk yang pertama diperkirakan selesai pada 2015," katanya, di sela Rapat Pimpinan TNI 2012 di Mabes TNI, Jakarta, Rabu.

Ia menegaskan kontrak pengadaan tiga kapal selam baru untuk TNI Angkatan Laut telah ditandatangani antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME).

Kontrak tersebut ditandatangani pihak Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sedangkan pihak DSME diwakili oleh President & CEO DSME Sang-Tae Nam pada Desember 2011.

Kasal menambahkan, untuk kapal selam pertama itu sepenuhnya dibuat di Korea Selatan, dan dua unit sisanya akan dikerjakan bersama antara Indonesia dan Korea Selatan untuk selanjutnya sepenuhnya dikerjakan Indonesia yakni PT PAL.

Senada dengan Kasal, sebelumnya Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan dalam kontrak itu ada ketentuan mengenai mekanisme alih teknologi mulai dari awal hingga akhir pengadaan selesai seluruhnya.

"Artinya dari awal pembelian proses alih teknologi itu sudah berjalan, yakni dengan mengirimkan sejumlah teknisi yang masa kerjanya masih panjang untuk melihat langsung proses pembuatan kapal selam itu," ujar Wamenhan.

"Pengadaan sumber daya manusia yang akan dikirim ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya PT PAL. Dan jumlahnya relatif besar minimal 50 orang," ujar Sjafrie.

Pada pengadaan tahap kedua, para teknisi yang telah dikirimkan tersebut diharapkan mulai terlibat dalam hal-hal teknis menyangkut pembuatan kapal selam.

"Nah disini mulai ada interaksi fisik langsung para teknisi kita dalam proses pembuatan kapal selam. Jadi, peran negara produsen sudah sekitar 50 persen diambil oleh para teknisi kita," tutur dia.

Sjafrie menambahkan selama proses pembuatan dua kapal selam itu selain menyiapkan dan mengirimkan para teknisi juga sudah dibangun pula galangannya. "Sehingga semua ini berjalan paralel," katanya.

Selanjutnya, ujar Sjafrie, pada pembuatan kapal selam ketiga sudah dapat dilakukan di Indonesia dan seluruhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga Indonesia.

"Itu kebijakan dasar, strategi besar dalam mekanisme pengadaan alat utama sistem senjata yang ditetapkan Indonesia baik untuk pengadaan alat utama sistem senjata berteknologi tinggi seperti kapal selam, maupun berteknologi sedang," kata Wamenhan.

sumber : Antara

Made In Indonesia : APC Amhibi Tampil dalam Rapim TNI 2012


18 Januari 2012

APC Amphibi buatan PT. Wirajayadi Bahari (all photos : Wirajayadi Bahari)

Rapim TNI 2012 Gelar Alutsista Produk Indonesia

[JAKARTA] Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2012 yang berlangsung di Markas Besar (Mabes) TNI diwarnai acara gelar Static Show Alat Perlengkapan Pertahanan (Alpahan) Produksi Industri Dalam Negeri. Di dalam tenda, terdapat 38 stand yang menampilkan sejumlah peralatan dan perlengkapan militer.

Sementara di luar tenda, memamerkan berbagai kendaraan tempur serta alat berat militer. APC Amphibi merupakan kendaraan tempur untuk mengangkut pasukan pendarat marinir produksi TNI Angkatan Laut (AL) dan PT Wirajayadi Bahari.

"Hasil produksi telah diuji coba dan memenuhi standar dan keselamatan TNI AL serta ergonomis sebagai kendaraan tempur amphibi, yang memenuhi standar operasional TNI AL," kata Owner PT Wirajayadi Bahari, Bintoro, di Mabes TNI, Jakarta, Rabu (18/1).


Dia menjelaskan, proses pembangunan dilakukan di Denhar Lanmar Surabaya. APC Amphibi yang diproduksi juga dapat disejajarkan dengan produk sejenis dari negara lain. "APC Amphibi ini tidak kalah dengan negara luar," jelas Bintoro.

Dia berharap, alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri dapat diandalkan di kemudian hari. "Alutsista dalam negeri harus jadi andalan dan kebanggaan Indonesia," tandasnya. [CKP/L-8]

Ada “Demokrasi” Dalam Pengadaan Alutsista



Bicara dana alutsista diluar spek teknisnya adalah bicara tentang manisnya gula sehingga ramai-ramai para semut mendatanginya.  Ada semut bule, ada semut ireng, ada semut hidung mancung, ada juga semut berwajah makelar. Bayangkan saja dengan kucuran dana 150 trilyun untuk masa lima tahun ini, berbagai jenis alutsista didatangkan ke markas brigade dan batalyon TNI.  Proses mendatangkan alutsista itu yang sejatinya membuat banyak semut berdatangan untuk ikut mencicipi manisnya gula alutsista.
Belum hilang dari ingatan kita ribut soal F16 misalnya apakah harus beli baru blok 52 sebanyak 6 biji atau menerima hibah 24 F16 jet second lalu di upgrade jadi setara blok 52.  Betapa riuhnya suasana “demokrasi” antara Komisi I DPR dengan Pemerintah.  Argumen yang dilontarkan sebagian kalangan parlemen di komisi itu terkesan emosional daripada rasional. Gaya bicara mereka seakan merasa lebih tahu dari Usernya, lalu mematok definisi lebih baik memilih beli baru 6 biji F16 dengan alasan lebih menggentarkan.  Maka cecak pun berdecak kagum dengan ketololan itu.  Bagaimana mungkin dengan 6 biji F16 baru itu bisa menggentarkan, padahal Singapura sudah punya 60 biji F16 blok 52 dan 24 F15 seri terbaru.  Pantas saja cecak pun berdecak.
Tank Leopard 2 yang digadang-gadang itu
 Meski  akhirnya usulan pemerintah untuk menerima hibah upgrade 24 F16 dari AS disetujui juga setelah melalui jalur ngambek karena ngembeknya tak digubris, toh simulasi demokrasi konyol yang dipertontonkan itu menjadi catatan tersendiri bagi rakyat cerdas sembari bergumam, apa memang iya itu suara hati rakyat, atau hanya suara mereka sendiri, atau ada suara lain yang dititipkan melalui suara anggota dewan.  Argumen yang dikedepankan sebagian anggota Komisi I tidak mencerminkan kualitas intelektual, lebih merefleksikan sikap asal bisa beda supaya kelihatan lebih menonjol “kualitas akunya”.
Kini isu terbaru bergulir lagi.  Kali ini tentang pengadaan 100 unit MBT (Main Battle Tank) Leopard 2 yang sudah digagas, dibicarakan lugas oleh KSAD, Mabes TNI dan Kemhan.  Bergegas pula mengunjungi negara pemiliknya yang memang mau menjualnya.  Lalu tiba-tiba saja ramai yang membicarakan pantas tidaknya MBT itu untuk tanah airku ini.  Kan jadi lucu kalau alasannya masalah bobot, tidak sesuai dengan kontur bumi nusantara, atau alasan lain mau perang dengan siapa, atau alasan yang dicari lagi, sepenting itukah MBT.
Sekali lagi rakyat cerdas harus bisa menangkap bahwa hiruk pikuk yang mengatasnamakan demokrasi itu boleh jadi adalah pesanan makelar alutsista jenis lain atau dari pabrik lain atau bisa saja pesanan dari negara lain agar kita tak usah beli MBT, atau kalaupun mau beli jangan yang Leopard. Intelijen makelar senjata bisa menyuarakan dirinya melalui orang dewan atau LSM  bahkan media yang tentu saja harus melalui “terowongan jalur gaza” agar tak ketahuan pamrihnya.  Melalui tangan orang lain yang punya gigi dimulailah kampanye anti MBT, atau kampanye anti Leopard, dengan harapan syukur-syukur ada perubahan merk sesuai keinginan makelar salesman tadi.
Pertanyaan substansinya adalah siapa yang lebih tahu dengan keunggulan satu jenis alutsista, ya tentu si User sendiri.  TNI AD butuh Leopard bukan karena bujuk rayu pabrikan Leopard, tetapi sudah melalui proses waktu dan kajian mendalam. Sangat kebetulan harganya lebih murah dari bandrol biasa.  Logikanya sederhana, diantara semua jenis MBT yang dianalisis, berdasarkan kajian teknis dan kegunaan terpilihlah Leopard, dan itu sudah lama dipendam.  Lalu ada dana untuk alokasi alutsista angkatan darat, maka dimulailah penjajakan dengan mengunjungi negara produsen.
Konvoy Tank AMX 13 Milik Batalyon Kav Tank Ambarawa
Kita  kadang merasa “lucu hati” dengan tingkah dan gaya anggota dewan yang merasa menjadi seperti tuhan untuk menentukan keputusan berdasarkan selera dia dan atau selera makelar alutsista yang joint venture dengan dia.  Bajunya pasti demokrasi, capnya parlemen, atas nama rakyat katanya.   Masih ingat dalam benak kita anggota dewan koar-koar bahwa border RI dicaplok Malaysia di kawasan Tanjung Datu Kalbar.  Publik merasa terbawa arus pernyataan itu tetapi terbukti kemudian tertipu dengan statemen itu yang jelas-jelas tak benar.  Lalu setelah semuanya diluruskan dan diputihkan karena  memang tak ada yang salah dengan border itu, si anggota dewan sedikit pun tak mampu mengucapkan kata maaf.  Ya itu tadi karena dia sudah merasa seperti tuhan, paling benar dalam segala hal.  Merasa menjadi pemilik rumah demokrasi sementara yang lainnya hanya mengontrak.
Hiruk pikuk dengan tema Alutsista biar kelihatan seperti berdemokrasi sebenarnya ada dasar hukumnya yaitu UUD maksudnya ujung-ujungnya duit. Makelar Alutsista bisa meminjam tangan berbagai pihak tak terkecuali tangan internal TNI dan Kemhan agar jualannya dibeli.  Hukum ekonomi alutsista ini sudah berlaku umum di berbagai negara di bumi ini.  Namanya juga salesman pasti berbagai cara ditempuh untuk mencapai goalnya.  Tak perlu diperdebatkan, kajian dari pihak pengguna lah yang menentukan jenis alutsista yang seperti apa yang hendak dibeli. 
Maka jika MBT dari jenis Leopard 2 yang terpilih selayaknya kita mendukung.  Yang perlu dikritisi adalah prosedur pengadaannya, tranparansi proses, kualitas barang yang akan diterima, kewajaran harga dan pola bayarnya.  Jadi agak sumbang terdengar ketika TNI AD butuh MBT Leopard lalu ada suara gentayangan di telinga membisikkan hasutan, kita tak perlu MBT karena bisa ambles, jangan pilih Leopard karena tak cocok dengan iklim kita.  Lebih baik beli yang ini atau pakai yang itu.  Nah ketahuan kan siapakah dia yang umbar omongan itu.
*******
Jagvane / 14 Januari 2012
 

PRO DAN KONTRA PEMBELIAN MBT LEOPARD 2A6 AKAN HILANG APA BILA KITA PAKAI HATI DAN NURANI KITA


MBT LEOPARD 2A6
Kalau kita lihat di media online banyak bermunculan komentar pro dan kontra pembelian Tank leopard 2A6, sebenarnya para pengamat dan DPR yang kontra pembelian MBT Leopard 2A6 kembali melihat apa arti dari tank? kalau kita simak pengertian tank menurut sumber dari WIKIPEDIA : Tank adalah kendaraan tempur lapis baja yang bergerak menggunakan roda berbentuk rantai. Ciri utama tank adalah pelindungnya yang biasanya adalah lapisan baja yang berat, senjatanya yang merupakan meriam besar, serta mobilitas yang tinggi untuk bergerak dengan lancar di segala medan. Meskipun tank adalah kendaraan yang mahal dan membutuhkan persediaan logistik yang banyak, tank adalah senjata darat paling tangguh dan serba-bisa pada medan perang modern, dikarenakan kemampuannya untuk menghancurkan target darat apapun, dan efek mentalnya terhadap infanteri

Nah dari pengertian diatas tidak disebutkan bahwa tank itu harus ada syarat dengan ketentuan wilayah geografis suatu negara semisal indonesia tidak cocok karena keadaan geografisnya ada pegunungan ,rawa , danau. Tank  mempunyai mobilitas yang tinggi untuk bergerak dengan lancar di segala medan.

Kemudian Apa sih Main battle Tank  ?

Tank tempur utama (Main battle tank, MBT) adalah kendaraan tempur yang memiliki perlindungan paling kuat di medan perang. Perlindungannya dirancang untuk melindungi tank dan pengendaranya dari semua bahaya, termasuk penetrator energi kinetik yang ditembakkan tank lain, peluru kendali anti-tank (ATGM) yang ditembakkan infanteri atau pesawat udara, dan ranjau. Tetapi jumlah perlindungan yang dibutuhkan untuk melindungi tank dari segala arah akan sangat berat dan tidak memungkinkan; oleh karena itu dalam perancangan sebuat tank harus ditemukan keseimbangan yang tepat antara perlindungan dengan berat

Artinya dari pengertian tersebut diatas tidak ada dijelaskan tank harus dijalan kan di suatu tempat, analisa para pengamat dan anggota dewan yang kontra pembelian MBT leopard A26 tidak berdasar dan mengada ada. Justru Main Battle tank Leopard adalah Tank Tempur Utama yang modern , tank tersebut bisa bermanuver disegala medan dialah pemimimpinya, suspennsinya bagus sehingga pada saat keakurasian penembakan pada saat kecepatan tinggi itu akurat, dan tank Leopard Jerman ini memiliki mesin pembakaran dalam multi-bahan bakar, yang dapat menerima diesel, bensin, dan bahan bakar lainnya. kemudian dari segala kemampuan tank buatan jerman ini (Leopard 2A6) mengungguli dari rivalnya MBT Abram dari AS dan MBT Chalenger.

Pergerakan Main Batle Tank
Sebuah tank tempur utama dirancang untuk memiliki mobilitas tinggi dan dapat melewati segala macam medan. Tank menggunakan dua atau empat tapak rantai untuk bergerak. Rantai ini digerakkan oleh sebuah roda besar di tiap tapaknya yang menyalurkan tenaga dari mesin. Roda rantainya yang lebar menyebarkan tekanan yang dihasilkan oleh beratnya tank, membuat tekanan yang dihasilkan dapat setara dengan kaki manusia.[6] Jenis medan yang sangat menyulitkan tank adalah tanah yang sangat lembut seperti rawa, dan medan berbatu yang memiliki batu-batu besar. Pada medan "biasa", tank diharapkan bisa berjalan dengan kecepatan 30–50 km/jam, dan kecepatan di jalanan bisa mencapai 70 km/jam.( sumber wikipedia).

Jadi kalau kita baca dan kupas pemaparan diatas jelas jelas diatas kertas MBT sudah mengungguli dan dapat melalui segala medan.

Saya berharap kepada Anggota DPR komisi I (Bapak TB Hasanuddin dan rekan rekannya yang Kontra pembelian MBT leopard 2A6) dapat mempertimbangkanya.

Ya memang dunia politik itu tidak bisa ditebak dan sangat rumit tapi dengan  hati nurani dan rasa saling memiliki dan menjauhkan dari segala kepentingan golongan tentunya semua pro dan kontra tersebut tidak akan terjadi, semoga  Pembelian Leopard 2A6 terealisasi  dan DPR RI kususnya Komisi I menyetujuinya sehingga kami rakyat indonesia akan meraasa terwakili dan bangga terhadap Bapak-bapak dan ibu-Ibu dewan disana.

BY INDONESIA DEFENCE 2012 

Tuesday, January 17, 2012

Ada Aroma Politik Jegal Pramono di Balik Penolakan Tank Leopard?


Foto: TNI AD
Jakarta - Sejumlah anggota Komisi I DPR menolak pembelian Tank Leopard eks Belanda. Diduga ada aroma politik dalam kasus ini, bukan hanya sekadar masalah alutsista.

"Saya menduga ada upaya menjegal KSAD Jenderal Pramono Edhie. Ini bukan sekadar teknis masalah Alutsista saja, ada kepentingan politik dari oposisi," ujar pengamat militer Aris Santoso kepada detikcom, Selasa (17/1/2011).

Aris menjelaskan sudah tradisi setiap Kepala Staf TNI AD ingin meninggalkan jejak saat kepemimpinannya. Mantan KSAD Jenderal Ryamirard Ryacudu misalnya meninggalkan jejak setelah membangun Batalyon Raider di setiap Kodam. Sementara Djoko Santoso menghidupkan kembali brigade infanteri di beberapa Kodam.

"Nah, Pramono sepertinya ingin menjadikan tank ini sebagai jejaknya kelak," tutur Aris.

Aris menduga serangan dari oposisi wajar terjadi, apalagi Pramono disebut-sebut akan diusung Partai Demokrat sebagai Capres di 2014.

"Ada upaya politik untuk mengagalkan jejak fenomenal Pramono Edhie. Padahal kan proyek ini dananya sudah ada," jelas dia.

sumber Detik

Indonesia Butuh Monster Lapis Baja Sekelas Tank Leopard 2A6


 
Foto: Wikipedia
Jakarta - Rencana pembelian 100 buah Tank Leopard 2A6 eks Belanda menjadi Polemik di tanah air. Namun dengan perkembangan teknologi saat ini, sudah saatnya Indonesia memiliki tank kelas berat sekelas main battle tank (MBT).

"Ini penting untuk TNI. Untuk mengejar ketinggalan Korps Kavaleri dari negara lain. Sekarang ini kan Kavaleri kita mandek hanya mengandalkan tank-tank ringan. Tidak ada pengembangan untuk mempelajari MBT," ujar pengamat militer Aris Santoso kepada detikcom, Selasa (17/1/2011).

Aris menambahkan Singapura saja yang negara metropolitan sudah punya tank kelas berat sejak tahun 1980an. Tank itu ditaruh di Taiwan, sehingga mereka berlatih di sana. Hal itu menunjukkan keseriusan Singapura untuk membangun angkatan perangnya. Demikian juga negara-negara ASEAN lain.

"Masa Indonesia tidak punya MBT," kata dia.

Mengenai kondisi geografi Indonesia yang dinilai tidak cocok bagi MBT, Aris menilai hanya bagaimana masalah taktik penggunaannya. Misalnya apakah nanti monster lapis baja ini dipakai untuk menyerang, atau bertahan, tentunya sesuai taktik. Jadi bukan sama sekali tank ini tidak bisa dipakai.

"Tank ini juga penting untuk daya getar Indonesia," katanya.

Indonesia saat ini memang hanya mengandalkan tank ringan sekelas Scorpion dan AMX 13. Tentu saja tank-tank ringan yang hanya berbobot 15-25 ton ini bukan tandingan tank kelas berat yang berbobot 50 ton keatas. Dari segi persenjataan pun jelas berbeda. Scorpion misalnya, hanya mengandalkan kanon 76 mm. Bandingkan dengan MBT yang memiliki kanon 120 mm. Demikian pula daya perusak dan proteksi lapis baja, tank ringan tentu bukan tandingan tank kelas berat.

sumber : detik

Pemerintah Anggarkan Rp 57 T untuk Pembelian Alutsista TNI


TNI AD akan dilengkapi helikopter serbu Apache buatan Boeing, Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)

16 Januari 2012, Jakarta: Dalam upaya mendukung agar Tentara Nasional Indonesia (TNI) dapat melaksanakan tugas pokoknya, Pemerintah melakukan percepatan pemenuhan kebutuhan kekuatan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) tahun 2010 – 2014, dengan menyediakan anggaran Rp 57 triliun. Sebanyak Rp 7 triliun di antara dana Rp 57 triliun ini sudah dialokasikan pemerintah melalui DIPA Kementerian Pertahanan (Kemhan) tahun anggaran 2010 lalu.

Alokasi anggaran Alutsista TNI itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Percepatan Pemenuhan Kekuatan Pokok Minimal Alutsista TNI Tahun 2010 – 2014, yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 27 Desember lalu.

Dalam Keppres itu disebutkan, Menteri Pertahanan Purnomo Yosgiantoro akan menyusun kerangka kebutuhan tambahan pendanaan untuk tahun anggaran 2010 – 2014, dengan nilai paling banyak Rp 57 trilun.

Daftar kebutuhan itu memuat:
a. jenis/spesfikasi teknis/jumlah pengadaan barang dan jasa;
b. harga untuk setiap unit pengadaan barang dan jasa;
c. negara produsen barang dan jasa; d. alih teknologi/produksi bersama untuk kepentingan pengembangan industry pertahanan dalam negeri;
e. sifat pengadaan barang dan jasa; dan rencana pengadaan dan perkiraan kebutuhan anggaran dalam setiap tahun.

Selanjutnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) akan menilai daftar kebutuhan yang disusun Menhan itu sebagai bagian dari Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, dan untuk selanjutnya diteruska kepada Menteri Keuangan Agus Martowardoyo

“Menteri Keuangan menetapkan sumber pendanaan untuk membiayai pemenuhan kebutuhan kekuatan pokok minimal Alutsista 2010 – 2014 melalui mekanisme APBN, sebagian bagian dari pagu Kementerian Pertahanan setiap tahun anggaran,” bunyi pasal 6 ayat 1,2,3 Keppres No. 35/2011 itu.

Adapun mekanisme pengadaan barang dan jasa akan dilaksanakan oleh Menteri Pertahanan, dengan mempertimbangkan perbaikan mekanisme perencanaan, peningkatan kemampuan penyerapan anggaran, dan akuntabilitas pengelolaan anggaran. “Sifat pengadaan barang dan jasa dilakukan dalam satu tahun ataupun tahun jamak,” tegas pasal 8 Keppres tersebut.

Keppres Nomor 35 Tahun 2011 itu juga menegaskan, bahwa pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI dilakukan dengan mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri, dan dilaksanakan dalam rangka revitalisasi industri pertahanan dalam negeri.

Sumber: Seskab

BERITA POLULER