Su-30 of the Vietnam Air Force (photo : Hanh Chinh)
Russia has put Vietnam on a contract first four Su-30MK2
Le Bourget, - RIA Novosti. Russia has launched a contract to supply of Su-30MK2 Vietnam, the first four aircraft sent to this country, told reporters Wednesday at the Air Show in Le Bourget, head of the delegation of Rosoboronexport Sergey Kornev.
Russia signed a contact with Vietnam to supply eight fighters. In addition an agreement was signed for the supply of another 12 fighters in this country. The term of the contract - 2011-2012.
"The first four aircraft of the Su-30MK2 sent to this country," - said Kornev.
Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan segera menyelesaikan produksi pesawat teranyarnya N-219. Pesawat N-219 akan menjalani proses sertifikasi pada 2013, diperkirakan akan mengudara tahun 2014.
Head of Structure Design PT Dirgantara Indonesa Budi Sampurno mengatakan pesawat tipe ini sudah bisa diterbangkan di dalam negeri karena telah memiliki sertifikat FAR 23, yaitu sertifikat untuk tipe pesawat kecil.
"Sudah dirancang sesuai dengan sertifikat FAR 23," katanya kepada detikFinance ketika ditemui di kantor Kementerian Perindustrian Kamis (23/6/2011).
Budi menjelaskan, untuk penjualan tahun pertama di 2014 pesawat baru ini akan dipasarkan di dalam negeri. Ditargetkan N-219 bisa meraup penjualan sebanyak 154 pesawat.
"Untuk tahun 2014, targetnya lokal dulu. Untuk sipil sebanyak 97 pesawat, untuk militer 57 pesawat. Harganya kira-kira US$ 4 juta (Rp 34 miliar kurs Rp 8500/US$)," tuturnya.
Budi menjelaskan, komponen dari pesawat ini hanya 40% yang diproduksi di dalam negeri, sisanya masih didatangkan dari negera lain. Namun, Budi percaya pesawat N-219 ini komponen lokalnya akan bisa mencapai 60%.
"Kursi dan interior diusahakan dalam negeri. Target tahun 2014 komponen lokalnya mencapai 40% dan bertahap mudah-mudahan akan bisa mencampai 60% komponen lokalnya," jelasnya.
Untuk peluang ekspor, lanjut Budi, sudah ada beberapa negara yang tertarik untuk membeli pesawat ini, salah satunya Aljazair. Bahkan, Aljazair menawarkan untuk dapat membuat pabrik perakitannya di sana.
"Aljazair tertarik untuk beli. Mereka juga menawarkan bikin pabrik di sana. Tapi masih dalam taraf tertarik saja belum ada perjanjian resmi," ujarnya.
Bahkan Negeri Ginseng Korea Selatan (Korsel) juga terlihat tertarik sampai menawarkan diri membantu mengajukan sertifikat kelayakan terbang N-219 ke Amerika Serikat. Korsel berharap agar pesawat N-219 tersebut dapat beroprasi di langit negara mereka.
"Korea Selatan mencoba yang katanya mau membawa ke Amerika untuk serifikasi. Biar pesawatnya bisa masuk ke Korea. Ya baru taraf penjajakan aja," jelasnya.
Pesawat ini, kata Budi, rencananya baru akan dibuat sebanyak 4 unit di tahun 2013, dua pesawat akan digunakan untuk menguji di udara dan dua pesawat lainnya untuk diuji di laboratorium.
Lebih lanjut Budi menjelaskan, pesawat ini memang lebih cocok untuk penerbangan perintis di wilayah Indonesia Timur. Maskapai penerbangan seperti Merpati pun siap untuk menerbangkan pesawat tipe N-219.
"Departemen Perhubungan sudah siap ingin membeli pesawat, nanti Merpati sebagai operatornya," imbuhnya.
Pesawat tipe N-219 memiliki kapasitas untuk mengangkut 19 penumpang dengan pola tempat duduk setiap barisnya berisi 3 kursi. Untuk lepas landas pesawat ini hanya membutuhkan jarak sekitar 430 meter dan untuk mendarat membutuhkan jarak sekitar 480 meter. Pesawat ini mampu untuk melakukan penerbangan sekitar 5-6 jam untuk pengisian bahan bakar penuh.
JAKARTA – Berbagai jenis alat utama sistem senjata (alutsista) produksi putra-putri bangsa tidak saja digunakan untuk kebutuhan pertahanan dalam negeri, tapi berkualitas ekspor. Senapan serbu generasi 2 (SS2) produksi PT Pindad menjadi salah satu daya tarik yang selalu ditawarkan Indonesia dalam kerja sama pertahanan dengan negaranegara sahabat.
Senjata SS2 mulai digunakan militer Indonesia sejak sekitar 2005. Kini, PT Pindad telah memproduksi berbagai varian SS2 seperti SS-V1 (standar refile),SS-V2 (carbine),dan SS2- V4 (sniper), serta SS2-V5 (subcombat). Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin pada April lalu juga menawarkan senjata ini kepada Arab Saudi.
Dalam kunjungan itu,Sjafrie menjadikan senjata SS2 sebagai buah tangan dari Indonesia selain replika pesawat CN235. Langkah ini memperlihatkan hasil positif. “Mereka akan ke PT Pindad, tapi belum ada pembicaraan mengenai berapa unit (yang akan mereka beli),”katanya seusai menerima kunjungan siswa Sesko dari Arab Saudi di Jakarta kemarin.
Sjafrie menegaskan, keandalan senjata SS2 sudah teruji. “Sudah dibuktikan dalam suatu pertandingan dan berhasil menang di Asia Pasifik.Juga sudah dibuktikan dalam pertempuran. Harapansaya,inibisa menjadi standar (persenjataan di luar negeri),”paparnya. Salah satu kejuaraan yang diikuti senjata SS2 adalah lomba menembak Australian Army Skill At Arms Meeting (AASAM) di Australia.
Kejuaraan ini diikuti belasan negara di Asia Pasifik.Pada 2009 tim dari Indonesia berhasil menjadi yang terbaik dengan menggunakan senjata SS2-V4. Dalam pertandingan antarnegera, ASEAN juga demikian. Senjata SS2 produksi PT Pindad ini diklaim sebagai senjata yang paling pas untuk kebutuhan negara-negara tropis.
Selain tahan terhadap kelembaban yang tinggi, desain senjata ini disebut-sebut lebih ergonomis dan ringan,sekitar 3,2 kg dalam kondisi kosong. Dan yang paling penting, akurasinya cukup bisa diandalkan. Senjata dengan panjang 930 mm (laras 460 mm) itu menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO,223 remington kaliber 5.56 x 45 mm.
Menurut informasi, senjata ini mampu menembakkan rata-rata 700 butir peluru per menit. Kecepatan peluru mencapai 710 meter per detik dengan jarak efektif 450 m. Senjata ini merupakan hasil pengembangan dari SS1 produksi PT Pindad dan digunakan sejak 1991. SS1 pernah dipakai dalam operasi di Aceh, Timor Timur (Timor Leste),dan Papua. Senjata SS1 memiliki berat kosong 4,01 kg dengan ukuran panjang 997 mm
Kapal induk AS USS Carl Vinson berlabuh di lepas Manila
Manila, (Analisa)
Pasukan AS berkewajiban membantu mempertahankan pasukan, kapal atau pesawat Pilipina berdasarkan Pakta Pertahanan Bersama tahun 1951 jika mendapat serangan di kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan, demikian dikatakan para pejabat Pilipina, Rabu (22/6).
Kepulauan Spratly yang kaya gas dan minyak sudah lama dianggap sebagai salah satu pusat konflik Asia. China, Pilipina dan Vietnam saling mengajukan protes diplomatik dan somasi belum lama ini terkait klaim wilayah itu, sehingga menyulut ketegangan. Bagian-bagian wilayah itu juga diklaim oleh Brunei, Malaysia, Pilipina, Taiwan dan Vietnam.
Pakta Pertahanan Bersama yang ditandatangani para pejabat AS dan Pilipina pada 30 Agustus 1951 menyeru masing-masing negara membantu mempertahankan satu sama lain andaikata agresor menyerang wilayah mereka atau kawasan Pasifik.
Departemen Urusan Luar Negeri Pilipina mengatakan dalam dokumen kebijakan bahwa pakta tadi mengharuskan Washington membantu membela pasukan Pilipina andaikata mereka diserang di Spratly, berdasarkan surat diplomatik AS yang menetapkan kawasan Pasifik berdasarkan pakta itu meliputi Laut China Selatan. Laut China Selatan secara khusus tidak disebutkan dalam pakta tersebut.
Pada perkembangan lain dilaporkan, China mendesak Amerika Serikat, untuk tidak melibatkan diri dalam sengketa Laut China Selatan, dengan mengatakan keterlibatan AS membuat situasi bisa lebih buruk.
Ketegangan di Laut China Selatan meningkat dalam bulan belakangan ini menyangkut sikap China yang lebih agresif dalam klaimnya atas perairan itu.
Wakil Menteri Luar Negeri China Cui Tiankai mendesak Amerika Serikat menjauhkan diri dari sengketa itu dan mengatakan China sangat cemas akan provokasi-provokasi yang sering dilakukan negara-negara lain di Laut China Selatan.
China mengklaim jauh lebih luas atas sebagian besar wilayah perairan seluas 1,7 juta km persegi termasuk kepulauan-kepulauan Paracel dan Spratly. (AP/es/Ant/Rtr)
Russia is outraged at the maneuvers of American USS Monterey cruiser carrying the AEGIS air defense system near the Georgian coast on the Black Sea, the Foreign Ministry said on Tuesday.
The U.S. warship arrived for joint exercises with Georgia as part of the Phased Adaptive Approach program designed to shape the European segment of the U.S.-led project to build a global missile defense system, the Trend news agency said.
"The Russian Foreign Ministry earlier expressed concern that along with negotiations on cooperation in the global air defense system, [the U.S.] is conducting simultaneous 'reconnaissance' operations near the borders of our country," the ministry said.
Russia has been deeply concerned over U.S. plans to deploy a European air defense system near the Russian borders, saying it threatened its national security. Washington said it needed the system as a shield against possible threats from Iran or North Korea.
"And now this American warship has demonstratively entered the Georgian port of Batumi," the Russian Foreign Ministry said.
Relations between Russia and Georgia have been complicated in the past decade. Russia has traditionally supported Georgia's breakaway republics of Abkhazia and South Ossetia, while Georgia has been looking to join NATO. In 2008, Russia and Georgia fought a five-day war over the two breakaway Georgian republics, after which Russia recognized them both as being independent states.
"Whatever the explanations are, it is clear that the Georgian authorities will see the incident as encouragement for their ambitions for revenge against the Russian allies of Abkhazia and South Ossetia, which is unlikely to help stability in the region," the ministry said.
Russian diplomats said they expected a more constructive approach from U.S. authorities, which would help provide security in the South Caucasus and the Black Sea region as a whole and respect the interests of all local countries.
After one year of industry funding, the Eurofighter and Euroradar consortia have received renewed strong support from the Partner Nations and have agreed to continue the full scale development programme of the next generation E-Scan radar, confirming the 2015 entry into service date.
Supported by the Eurofighter partner nations: the United Kingdom, Italy, Germany and Spain, Eurofighter GmbH and Euroradar began full scale development of the new CAPTOR-E radar in July 2010.
The new radar will have AESA capability that far exceeds any other radar available today and in the foreseeable future and will be developed to satisfy the requirements of the Partner Nations and customers across the globe.
The new radar will retain the key features of the existing market leading Captor-M radar in order to exploit the maturity of the current system, using latest generation technology to provide further advanced performance. The Typhoon’s AESA radar will offer a variety of benefits over M-Scan, including increased detection and tracking ranges, advanced air-to-surface capability and enhanced electronic protection measures.
The new AESA array, larger than the ones available to our competitors thanks to the Typhoon’s voluminous radome, will be fitted on a repositioner that will provide a wider field of regard when compared to those installed or scheduled for introduction on other fighters.
The new radar will offer customers the freedom to retrofit their existing Typhoons when required. The radar will have significant growth potential and both existing and new customers will be able to participate in tailoring the radar to meet their individual operational requirements.
The new AESA Radar is part of the platform and systems enhancement ongoing with Eurofighter to ensure Typhoon leads the way as the world’s best new generation multi-role combat aircraft.'
France has transferred to Russia all the technology it asked for under a $1.7-billion deal for two French-built Mistral class amphibious assault ships for the Russian Navy, a Russian arms exporter said on Monday.
Under the deal signed on Friday, the first warship will be delivered in 2014 and the second in 2015.
"The French side has transferred all technologies, including the SENIT 9 [command and control] system, as well as two other systems," said Anatoly Isaikin, head of the Rosoboronexport state-controlled arms exporter.
A formal contract for the construction of the two Mistral class ships will be signed separately at a later date, he said, adding it could take up to three months to compile.
The warships will be equipped with Russian-built Ka-52 Alligator multirole helicopters, Isaikin said.
Navy chief Adm. Vladimir Vysotsky said on Friday, the warships will be provided with Russian weapon systems, including amphibious landing assets and carrier aviation.
The use of Mistral class ships will significantly increase the effectiveness of humanitarian operations, he said, adding that they could be used both in peacetime and in wartime for a variety of missions.
The program has alarmed Russia's neighbors, especially Georgia.
Russia and France in January signed an intergovernmental agreement to build two Mistral class helicopter carriers at the STX shipyard in Saint-Nazaire, France. Another two are planned to be constructed later in Russia.
Contract talks stumbled over Russia's demand for the transfer of sensitive electronic systems.
A Mistral-class ship is capable of carrying 16 helicopters, four landing vessels, 70 armored vehicles, and 450 personnel.
France has two Mistral class amphibious assault ships in service and is building a third.