Pages

Sunday, February 5, 2012

Mereka Mulai Menyadari




Tiada hari tanpa belanja alutsista, mungkin itulah ungkapan gaya bahasa yang pantas didengungkan ke ruang publik karena memang selama setahun terakhir ini saja daftar belanja alutsista kita jelas terpampang di papan pengumuman semua media Indonesia baik baca, kaca dan maya.  Jelasnya  kita sedang menunggu kedatangan jet-jet tempur Sukhoi, F16, T-50 Golden Eagle dan pesawat jenis lain misal Super Tucano, Hercules, C295, UAV.  Kemudian Fregat, Kapal selam, Kapal cepat rudal, Kapal cepat trimaran, LST, Main Battle Tank, Panser, Rudal SAM, MLRS, Howitzer dan lain-lain.  Ada juga berbagai jenis helikopter misalnya Mi35, Mi17, Bell 412 Ep, Cougar, heli anti kapal selam.

Bangga, wow tentu saja.  Coba saja tanya pada seluruh rakyat bangsa ini melalui survey dan sampling atau metode lain, mayoritas kita akan mengatakan  setuju dan pantas.  Memang pantas dong, wong ini untuk eksistensi bangsa, untuk menjaga pagar halaman agar tidak diusik oleh “celeng” sebelah rumah sampai-sampai patok batas pun dikira umbi atau talas.  Pantas juga KSAD kita bilang lugas di rapat DPR beberapa waktu lalu :Lu cabut patok gua sikat !  kan jelas arahnya.  Atau statemen Menhan beberapa bulan lalu tentang tapal batas Tanjung Datu Kalbar: Kalau berani digeser kita serang.  Dua statemen keras ini tentu sudah membuat si “celeng” sebelah rumah berhitung ulang.
Barisan Tank Scorpion dalam Latgab TNI di Sangatta
Kita pun sudah bisa membayangkan dalam sebuah seremoni lima oktober tahun 2012 dan seterusnya akan ada bintang-bintang alutsista baru yang dipamerkan.  Seremoni birthday TNI tahun ini saja bintang yang bakalan muncul setidaknya Super Tucano, UAV, Sukhoi tambahan, adiknya Clurit, wajah baru Trimaran, BMP3 F tambahan, MBT, rudal SAM jarak menengah dan lain lain.  Lalu di seremoni 2013 muncul lagi bintang baru Golden Eagle, MLRS, LST, Fregat, Falcon upgrade, Sukhoi lagi, saudaranya Clurit yang lain.

Nah, bintang-bintang baru itu kalau mau diuji bersama paling layak dilakukan antara  awal sampai dengan pertengahan tahun 2014 melalui show of force latihan gabungan TNI berskala besar.  Dijamin pasti lebih spektakuler dengan gelar alutsista baru dalam jumlah besar karena pada saat itu kita sudah punya kuantitas dan kualitas alutsista yang bisa diandalkan.  Penambahan alutsista itu antara lain ada 80 tank amfibi BMP3F yang sangar itu, ada 100 MBT Leopard, ada tigapuluhan KCR termasuk 6 dari Clurit Class, ada 3 Fregat anyar bergabung dengan 6 Fregat eksisting, ada 3 Trimaran pakai rudal.  Kalau mau di list banyak banget yang sudah berdatangan, maklum lagi panen raya.  Kalau ini digabung dengan alutsista eksisting sudah pasti bernilai gahar. Nah uji kualitas tempurnya ada di latihan gabungan itu sehingga integrasi sistem pertempuran dengan beragam jenis alutsista tadi akan menggambarkan dahsyatnya suasana kebatinan dan nilai tempur yang dimiliki.  Efek getarnya banyak celeng berubah menjadi kambing atau remeh menjadi ramah.  Dan ini bagian dari kampanye militer untuk jangan menjual persoalan teritori yang sudah jelas dasar hukumnya kalau tidak ingin digebuk.

Dalam bingkai mikro penambahan alutsista TNI diniscayakan akan mampu meredam pelecehan teritori sekaligus penguat posisi bargaining diplomasi karena sejatinya kekuatan pengawal republik adalah untuk payung ini.  Dalam ruang yang lebih luas adalah untuk mengantisipasi dinamika kawasan Asia Tenggara yang sulit diprediksi dengan konflik Laut Cina Selatan. Kalau prajurit TNI diajak gelut fisik, adu endurance dan survival dengan prajurit negara lain kita yakin yang tampil sebagai pemenang adalah prajurit TNI karena disitu letak keunggulan hulubalang kita. Bahkan dalam berbagai kejuaraan adu tangkas menembak prajurit TNI selalu menempati posisi puncak, itu tak terbantahkan. Namun dalam upaya menguasai perkembangan teknologi pertempuran kita perlu meng update dan memodernisasi alutsista karena itu wajib hukumnya. Sekali anda melalaikan kewajiban ini maka prajurit TNI yang unggul kualitas personal itu akan menjadi pasukan gagah gemulai.
Konvoy Armada TNI AL pulang dari Latgab Sangatta
Perkuatan TNI sebenarnya adalah perkuatan pagar agar tak mudah dimasuki oleh maling atau rampok sumber daya.  Komparasinya sederhana, ada sebuah rumah besar dan kaya tapi pagarnya hanya pagar lapuk. Lalu datang rampok, menjarah menguras, dan si empunya rumah hanya mampu teriak tanpa mampu memberikan  perlawanan.  Si rampok tertawa terkekeh-kekeh, sembari bilang: Kasian deh lu.  Kalau kita lihat peta dunia atau google earth, negeri ini luar biasa strategisnya posisi geografisnya, kekayaan alamnya, rentang pantainya, jumlah penduduknya.  Lalu kalau bicara pagar halamannya, alamak, parah kali kawan, mirip seperti pemilik rumah mewah tadi, cuma bisa teriak tanpa melakukan perlawanan.

Nah sekarang pagar itu sedang dibenahi, diperkuat, dipergahar.  Di laut kekuatan armada ditambah menjadi 3 armada tempur dengan kekuatan minimal 274 KRI.  Pangkalan utama kekuatan armada ada di Tanjung Pinang, Makassar dan Sorong.  Jakarta dan Surabaya tetap menjadi pangkalan utama karena disana ada Kolinlamil untuk mobilisasi pasukan Marinir dan TNI AD. Kekuatan pasukan  Marinir ditambah 1 divisi sehingga menjadi 3 divisi.  Matra udara menambah skuadron tempur dan angkut seirama dengan kedatangan alutsista utama pesawat tempur dan angkut.  Satuan-satuan radar diperbanyak, pangkalan-pangkalan TNI AU diperkuat tidak saja dengan hanud titik (rudal jarak pendek) tetapi juga dengan hanud area ( rudal jarak menengah).  TNI AD tidak ketinggalan dengan menambah Heli tempur, Heli angkut, MBT, Panser, MLRS, Rudal, Roket, Howitzer. Kostrad ditambah menjadi 3 Divisi selain penambahan batalyon tempur Kodam di beberapa daerah perbatasan.

Perkuatan pengawal republik ini tidak lepas dari ruang pantau intelijen dan hankam negara tetangga, utamanya Malaysia, Singapura dan Australia.  Bahasa tubuh ketiga jiran ini menampakkan reaksi berbeda.  Australia misalnya memberikan warning terhadap peningkatan kekuatan TNI sebagai sebuah upaya menyetarakan keseimbangan kawasan seraya memberikan ruang perspektif untuk bekerja sama  lebih erat antar militer kedua negara.  Meskipun begitu aura kekhawatiran bangsa bule yang “nyasar” ke selatan Asia ini tetap bergema.  Ini ciri khas sekalgus arogansi Barat Anglo yang merasa tidak ingin harkatnya disaingi.
Pasukan Marinir dalam sebuah upacara militer
Sikap Singapura relatif lebih tenang dan diam. Negeri ini memang jarang mengumbar pernyataan reaksi terhadap perkembangan militer negara tetangganya.  Sikap diam ini mencerminkan kedewasaan emosional hankam mereka.  Singapura cenderung lebih suka tak pamer khawatir,  meski secara intelijen mereka sangat ingin tahu alutsista apa lagi yang akan dibeli oleh Indonesia.  Lalu bagaimana dengan Malaysia yang dalam Pameran LIMA akhir tahun silam tak jua jadi menambah arsenal udaranya meski sempat menggadang-gadang Typhoon. Komunitas militer yang banyak berdiskusi dengan jiran sebelah bisa membaca suasana hati mereka.  Sebelumnya ada semacam arogansi terhadap keunggulan alutsista yang mereka miliki terhadap RI.  Namun sejak negeri ini melakukan belanja alutsista secara besar-besaran, sikap itu sudah jauh berkurang dan bahkan berganti dengan sikap, menyadari bahwa negeri ini tak bisa disikapi dengan kesombongan militer.  

Inilah yang disebut efek gentar dan getar. Perkuatan alutsista TNI bukan dimaksudkan untuk ngajak gelut tetangga tetapi sebagai penguat dan penggentar agar jiran tak lagi remehkan teritori RI.  Kekuatan militer sejatinya adalah untuk menjaga nilai-nilai kesetaraan dalam hidup bertetangga, menjadi payung bargaining dalam langkah diplomasi untuk penyelesaian sengketa batas wilayah sekaligus menjadi kekuatan pukul terakhir demi eksistensi teritori yang diyakini benar.  Itulah kodrat eksistensi dan harga diri.  Sama seperti eksistensi diri kita sebagai pribadi yang bernama manusia, pada dasarnya suka dengan nilai-nilai kebenaran universal, kebersamaan, kesetaraan, saling menghargai dan menghormati.  Jika nilai-nilai ini dilanggar maka kodrat marah pun muncul dipermukaan wajah.  Sabar juga bagian dari kodrat tadi yang dianalogikan sebagai kekuatan bargaining menahan diri.  Nah kalau itu tak jua menemukan titik selesai, ya gelut saja demi eksistensi dan harga diri. Dan itu sah.
*******
Oleh :Jagvane, 05 Peb 2012

KS KRI Nanggala 402 Tiba Di Surabaya


Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno (menuruni tangga usai melakukan inspeksi ke dalam kapal selam KRI Nanggala-402 di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2). Kapal selam tersebut kembali bergabung dengan TNI AL usai menjalani perbaikan menyeluruh di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/12)

6 Februari 2012, Surabaya: Kapal selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala-402, Senin, merapat di Dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, setelah menjalani perbaikan menyeluruh selama hampir dua tahun di Korea Selatan.

Kedatangan kapal selam buatan Jerman itu disambut langsung Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, anggota Komisi I DPR RI, pejabat Kementerian Pertahanan, dan petinggi TNI AL.

KSAL dan sejumlah pejabat yang hadir menyempatkan diri meninjau bagian dalam kapal yang diperbaiki total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korsel, sejak Desember 2009 itu.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan TNI AL dan bergabung dengan satu kapal selam lainnya KRI Cakra-401.


Anggota TNI AL melakukan penghormatan ketika kapal selam KRI Nanggala-402 tiba di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2). (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/12)

Seperti halnya KRI Nanggala, kapal selam KRI Cakra juga sudah lebih dulu menjalani "overhoul" di galangan yang sama di Korsel pada 2004-2006.

Perbaikan total yang dijalani KRI Nanggala meliputi, struktur kapal, lapisan baja, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonar berteknologi terkini.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter dengan mesin diesel elektrik yang mampu melaju hingga kecepatan sekitar 25 knot di dalam air.

Sumber: ANTARA News

Allahu Akbar, Iran Sukses Luncurkan Satelit Navid-e Elm-o Sanat

Memperingati hari Sepuluh Fajr Kemenangan Revolusi Islam (Dahe-ye Fajr), Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad secara resmi mengeluarkan perintah peluncuran satelit nasional Navid-e Elm-o Sanat. Demikian dilaporkan televisi al-Alam Jumat (03/2).

Satelit Navid-e Elm-o Sanat dibuat oleh Universitas Elm-o Sanat Tehran diluncurkan ke angkasa dengan ucapan Allahu Akbar bersandi suci "Ya Mahdi Adrikni" pada pukul 03:30 Jumat dinihari dan menempati jalur orbitnya dengan sukses.

Berdasarkan laporan ini, satelit yang dibuat Universitas Elm-o Sanat Tehran ini termasuk satelit pemantau yang bertugas memetakan bumi dengan presisi gambar yang sangat detil.

Satelit Navid-e Elm-o Sanat ini tergolong kelas mikro yang mengorbit di ketinggian 250 hingga 375 kilometer dan berat 50 kilogram dengan orbital sudut 55 derajat.

Aplikasi satelit ini dipergunakan untuk pelbagai kepentingan di bidang ilmu meteorologi, manajemen bencana alam, mengkaji kelembaban dan suhu udara, bahan kimia atmosfer, angin, salju, hujan dan samudera.

Satelit nasional Iran ini akan mengorbit bumi setiap kali dalam 90 menit dan kamera yang dipasang akan mengirimkan gambar dengan resolusi tinggi ke 5 stasiun bumi yang terletak di pelbagai daerah Iran.

Satelit Navid-e Elm-o Sanat lebih baik ketimbang satelit Omid dari sisi teknologi kontrol dan lebih stabil. (IRIB Indonesia/SL)

Ralph Shoenman: Navid-e Elm-o Sanat Bukti Kemampuan Iran Hadapi AS

Ralph Shoenman, pengamat politik menjelaskan, kesuksesan Republik Islam Iran meluncurkan satelit Navid-e Elm-o Sanat ke orbit menunjukkan kemampuan Iran menghadapi Amerika Serikat (AS).
 
"Mengingat perubahan intonasi petinggi AS dalam menyikapi Iran, petinggi Tehran harus melakukan persiapan matang mempengaruhi opini publik regional dan internasional menghadapi makar AS," ungkap Shoenman dalam wawancaranya dengan Press TV Jum'at (3/2).
 
Ia juga mengisyaratkan kesuksesan Iran meluncurkan salelit Navid-e Elm-o Sanat ke orbit dan  menekankan, setiap keberhasilan Iran menunjukkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) negara ini untuk menghadapi ancaman Amerika Serikat.
 
Satelit Navid atau Gospel dirancang untuk mengumpulkan data tentang kondisi cuaca dan memantau bencana alam. Satelit tersebut memiliki berat sekitar 110 pon (50 kilogram) dan akan mengorbit bumi di ketinggian hingga 234 mil (375 kilometer), mengitari planet ini 15 kali sehari. Satelit ini dari jenis yang dikenal sebagai miniatur atau mikrosatelit, yang biaya produksi dan peluncurannya jauh lebih murah.
 
Satelit ini diluncurkan pada Jum'at dini hari pukul 3:30 waktu setempat. Hadir dalam acara tersebut, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Menteri Luar Negeri, Ali Akbar Salehi dan Menteri Negara Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kamran Daneshjoo. (IRIB Indonesia/MF)

Produksi Massal Rudal Jelajah “Zafar” Dimulai

Program produksi massal rudal jelajah maritim baru bernama "Zafar" diresmikan oleh Kementerian Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Ahmad Vahidi.
 
Fars News (4/2) melaporkn, produksi massal rudal tersebut diresmikan bertepatan dengan peringatan Sepuluh Hari Kemenangan Revolusi Iran. Tipe pertama rudal "Zafar" itu juga telah diserahkan oleh Brigjen Vahidi kepada panglima Angkatan Laut Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Laksamana Ali Fadavi.
 
Vahidi kepada wartawan mengatakan, "Seperti yang telah kami umumkan sebelumnya, produksi massal rudal Zafar telah dimulai hari ini (Sabtu, 4/2). Rudal ini adalah tipe rudal anti-kapal, jarak dekat dan dengar menggunakan sistem kendali radar. Rudal ini mampu menghancurkan target sedang hingga kecil dengan keakuratan tinggi."
 
Salah satu keunggulan rudal jarak dekat ini, menurut Vahidi, adalah flesibilitasnya untuk dipasang di berbagai jenis perahu cepat dan kapal patroli Iran, serta memiliki sistem penangkal perang elektronik. Rudal ini sepenuhnya hasil kerja keras para ahli militer dalam negeri Iran.
 
Lebih lanjut Vahidi menjelaskan, "Setelah ditembakkan, rudal ini akan menurunkan ketinggiannya dan setelah itu memasuki posisi jelajah sehingga tidak terdeteksi musuh dan pada tahap berikutnya adalah menemukan target pada ketinggian sangat rendah."
 
Menyangkut kecepatan penggunaan rudal tersebut, Vahidi menandaskan, rudal Zafar dapat ditembakkan dalam setiap tiga detik baik secara per unit, maupun multi-shot. (IRIB Indonesia/MZ)

Angkatan Udara Iran Siap Tempur

Komandan Angkatan Udara Iran mengatakan bahwa sanksi terhadap Iran telah mendorong negara ini untuk mencapai swasembada di berbagai bidang.

Berbicara pada upacara khusus menandai ulang tahun ke-33 kemenangan Revolusi Islam, Brigjend Hassan Shahsafi mengatakan, sanksi Barat telah memacu Angkatan Bersenjata Iran untuk mengukir prestasi unik di bidang teknis dan sains. Ditambahkannya, keahlian teknologi pengayaan uranium dan peluncuran satelit Omid ke orbit bumi adalah di antara beberapa prestasi negara.

"Iran mengadopsi doktrin defensif, tidak memiliki rencana untuk menargetkan negara manapun, dan menyeru semua negara regional untuk bekerja sama dalam menjaga keamanan Timur Tengah, tanpa ketergantungan pada pasukan asing," jelasnya.

Brigjend Shahsafi menuturkan, Republik Islam Iran mengejar sebuah kebijakan yang independen dan mempertahankan kehadiran yang kuat di kawasan Teluk Persia, sejalan dengan posisi geostrategis penting di bidang keamanan dan energi.

"Angkatan Udara Iran dalam kesiapan tempur penuh untuk mempertahankan wilayah udara negara dan integritas wilayah serta memantau pergerakan musuh di kawasan untuk merespon setiap ancaman," tegasnya. (IRIB Indonesia/RM)

Iran Produksi Rudal Kendali Laser “Basir”

Republik Islam Iran memamerkan rudal kendali laser cerdas barunya yang diberi nama "Basir" dan merupakan hasil kerja keras para pakar militer domestik.

Hal itu dikonfirmasikan oleh Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi Senin (30/1) pada acara pameran rudal tersebut di Tehran. Vahidi menambahkan bahwa ini merupakan pertama kalinya para pakar domestik di Organisasi Industri Pertahanan Iran berhasil memproduksi rudal kendali laser canggih.

Ditegaskan Vahidi bahwa Basir dirancang untuk menghancurkan tank, kendaraan militer, jembatan, dan target bergerak atau permanen lainnya dengan tingkat keakuratan tinggi. Selain itu rudal tersebut juga mampu mengidentifikasi dan melacak target.

Brigjen Vahidi mencatat bahwa rudal tersebut memiliki memiliki jangkauan 20 km, dan sangat berguna di daerah pegunungan.

Vahidi menjelaskan bahwa Republik Islam Iran kini masuk dalam jajaran lima negara terkemuka dunia yang mampu memproduksi senjata pintar dengan menggunakan teknologi pribumi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Republik Islam telah meraih prestasi besar di sektor pertahanan dan bahkan mencapai kemandirian dalam produksi perangkat keras militer penting dan sistem pertahanan.

Tehrantelah berulang kali meyakinkan negara-negara lain, terutama negara jiran bahwa kekuatan militernya bukan ancaman bagi negara-negara lain, mengingat doktrin pertahanan Iran semata-mata berdasarkan pada prinsip pencegahan. (IRIB Indonesia/MZ)

sumber : irib

TNI AU Bantah Rencana Beli Pesawat dari Israel

Jurnas.com | TENTARA Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) memastikan rencana pembelian Pesawat Terbang Tanpa Awak (PPTA). Namun begitu, TNI AU membantah pesawat tersebut berasal dari Israel.

“Kami telah memasukkan kebutuhan terhadap pesawat ini dalam program pengadaan alutsista,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma Azman Yunus di Jakarta, Jumat (3/2). Meskipun PPTA ini diajukan untuk memenuhi kebutuhan TNI AU pengadaan dilakukan oleh Kementerian Pertahanan.

Dia membantah kabar TNI AU mengajukan pengadaan PPTA asal Israel. “Kami tidak tahu darimana pesawat itu. Karena hal itu merupakan kewenangan Kemhan,” ujarnya. Nantinya, TNI AU akan membentuk tim untuk menyusun spesifikasi yang dibutuhkan TNI AU dalam pesawat tersebut.

TNI AU tidak memertimbangkan dari negara mana pesawat itu diproduksi selama memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan. Kebutuhan pun belum disusun TNI AU karena prosesnya belum sampai ke tahapan itu. “Belum ada proses yang berjalan. Kami masih menunggu Kemhan. Yang pasti sudah ada program untuk pengadaan PPTA itu,” ujarnya.

sumber : JURNAS

As Peringatkan RI Masalah Papua

as

[WASHINGTON] Amerika Serikat
mendesak Indonesia dalam
penanganan sejumlah kasus di Papua.
Salah satu diantaranya yang disorot
adalah kasus sidang pengadilan lima
aktivis Papua yang mendeklarasikan
kemerdekaan di wilayah NKRI ini.
Padahal Indonesia merupakan sekutu
yang hangat dengan AS.
Namun pengadilan di Papua mendapat
sorotan atas kasus pengibaran bendera
Papua Merdeka dan pendeklarasian
berdirinya negara Papua dalam sebuah
acara.
Jika terbukti bersalah, kelima aktivis
Papua ini bisa dihukum penjara dengan
tuduhan melakukan makar.
“Kami mendesak otoritas di Indonesia
supaya menjalankan prosedur
keamanan dalam kasus ini dengan
didasari hukum Indonesia dan juga
kewajiban hukum internasional
Indonesia pada semua orang yang
didakwa,” tegas juru bicara
Kementerian Luar Negeri AS, baru-baru
ini.
“Kami meminta Pemerintah Indonesia
untuk mau bekerjasama dengan warga
asli Papua untuk mendengar keluhan
mereka, kemudian menyelesaikan
konflik di sana secara damai, dan juga
membangun Provinsi Papua,” ungkap
Kemenlu AS seperti dikutip AFP. [L-9 ]

sumber suarapembaharuan

Rusia Kembali Menghidupkan Patroli Rutin KS di Perairan Internasional Seluruh Dunia

Borey-class SSBN Yuriy Dolgorukiy

MOSKWA, KOMPAS.com -
Kapal-kapal selam strategis
Rusia akan menghidupkan
lagi "tradisi" berpatroli rutin
di perairan internasional di
seluruh dunia mulai Juni
2012 nanti. Ini berarti
mengulang kebiasaan
angkatan bersenjata Uni
Soviet pada era Perang
Dingin.
"Pada 1 Juni atau tak lama
setelah itu, kami akan
melanjutkan patroli tetap di
lautan di seluruh dunia oleh
kapal-kapal selam nuklir
strategis," tutur Kepala Staf
Angkatan Laut Rusia,
Laksamana Vladimir
Vysotsky.
Sejak Uni Soviet runtuh,
jumlah patroli kapal selam
nuklir Rusia di perairan
internasional terus merosot.
Pada puncaknya di tahun
1984, pada saat era Perang
Dingin, ada lebih dari 230
operasi patroli kapal selam di
perairan internasional setiap
tahun. Sementara saat ini,
hanya ada sekitar 10 operasi
kapal selam per tahun.
Vysotsky meyakini, armada
kapal selam tetap menjadi
tulang punggung kekuatan
AL Rusia, dan akan terus
memainkan peran
pertahanan yang penting di
masa depan.
Rusia saat ini
mengoperasikan 12 kapal
selam strategis bertenaga
nuklir, yakni lima kapal kelas
Delta-III, enam kapal kelas
Delta-IV, dan satu kapal kelas
Akula (Typhoon menurut
sebutan NATO). Dua kapal
selam kelas Akula, yakni
Arkhangelsk dan Severstal,
disimpan sebagai kekuatan
cadangan di pangkalan AL
Severodvinsk, Rusia utara.
Rusia juga berencana
membuat delapan kapal
selam strategis generasi
terbaru, yakni kelas Borey,
hingga 2020. Kapal selam
pertama dari generasi ini,
Yury Dolgoruky, dijadwalkan
bergabung dengan Armada
Pasifik Rusia di Vladivostok
paling cepat bulan Juni tahun
ini. (RIA Novosti/DHF)

sumber kompas

F35 Tertunda, AU AS Perpanjang Usia F16

f16



WASHINGTON DC,
KOMPAS.com — Angkatan
Udara Amerika Serikat
(USAF) berencana
menganggarkan dana 2,8
miliar dollar AS (Rp 25,1
triliun) untuk memodernisasi
armada pesawat tuanya. Hal
itu dilakukan setelah
produksi pesawat masa
depan F-35 Lightning II terus
tertunda-tunda.
USAF saat ini merencanakan
meningkatkan kemampuan
350 pesawat tempur F-16
Fighting Falcon untuk
menjaga kondisinya agar
layak operasional sambil
menunggu F-35 memasuki
skala produksi penuh.
"Masalah dengan F-35
adalah pesawat-pesawat
tersebut tidak dikirim secepat
rencana awal," ujar Jenderal
Norton Schwartz, Kepala Staf
Angkatan Udara AS, Jumat
(3/2 /2012).


Rencana modernisasi
armada F-16 ini sedang
disusun sebagai bagian dari
pengajuan anggaran
pertahanan untuk tahun
fiskal 2013.
Pesawat yang dibuat dalam
program Joint Strike Fighter
(JSF) itu dirancang untuk
mengganti seluruh armada
pesawat tempur yang
dioperasikan angkatan
bersenjata AS saat ini. Varian
F-35A , yang lepas landas dan
mendarat dari lapangan
terbang konvensional,
dirancang untuk
menggantikan F-16.
Namun, berbagai masalah
teknis serius terus
menghambat produksi
pesawat tempur generasi
kelima ini, dan ongkos
produksinya pun terus
membengkak.
Meski demikian, Menteri
Angkatan Udara AS, Michael
Donley, menegaskan,
Pemerintah AS akan
berkomitmen terhadap
program JSF dan tetap akan
memesan 2.443 unit
pesawat ini seperti rencana
semula.
Sebelumnya, sempat ada
kekhawatiran beberapa
negara mitra program JSF
bahwa militer AS akan
memangkas jumlah
pesanannya, yang akan
berdampak pada kenaikan
harga satuan F-35 .
"Ini adalah program yang
harus dilakukan bagi
angkatan bersenjata kami.
Ini adalah masa depan
kekuatan udara kami, tidak
hanya bagi AU, AL, dan Korps
Marinir, tetapi juga bagi 12
mitra internasional kami,"
tandas Donley.
Sebelumnya, militer AS
berharap 423 unit pesawat
ini sudah akan dikirim
selama periode 2013-2017.
Namun, dengan berbagai
kendala yang terjadi, jumlah
rencana pengiriman itu
dipangkas menjadi hanya
244 pesawat. (AFP/DHF)

sumber Kompas

Nanggala Telah Tiba di Perairan RI

KRI Nanggala diserahterimakan ke Indonesia oleh DSME. (Foto: DSME)

Jakarta (ANTARA News) - Kapal selam TNI
Angkatan Laut KRI Nanggala/402 telah tiba
di perairan Indonesia, setelah menjalani
perbaikan menyeluruh di Korea Selatan
selama hampir dua tahun.
Juru bicara TNI Angkatan Laut Laksamana
Pertama Untung Suropati kepada ANTARA
di Jakarta, Minggu mengungkapkan KRI
Nanggala kemungkinan sudah berada di
Laut Jawa sebelum akhirnya tiba di
Dermaga Ujung Surabaya, Komando
Armada RI Kawasan Timur, Senin (6/2 ).
"KRI Nanggala secara resmi akan disambut
kedatangannya oleh Kepala Staf Angkatan
Laut Laksamana TNI Soeparno dan Ketua
Komisi I DPR," katanya menambahkan.
Seperti KRI Cakra-401 , maka KRI Nanggala
menjalani perbaikan total di galangan kapal
di galangan kapal Daewoo Shipbuilding &
Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan.
Kembalinya kapal selam tipe U-209 /1300
buatan Jerman pada 1981 itu,
memantapkan kekuatan pemukul TNI
Angkatan Laut bersama KRI Cakra-401
sebagai arsenal bawah laut Tanah Air.
Selama perbaikan total di Korea Selatan itu,
KRI Nanggala-402 bermesin diesel-listrik
buatan galangan kapal di Kiel, Jerman, itu
diperkuat struktur kapal, lapisan bajanya,
sistem navigasi, dan persenjataan bawah
air serta sonarnya.
KRI Nanggala dan KRI Cakra dibuat
galangan kapal Howaldtswerke, Kiel, Jerman
pada 1981 tipe U-209 /1300.
Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395
ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x
5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik
mampu melaju dengan kecepatan kurang
lebih 25 knot di dalam air, menyelam di
kedalaman sekitar 200 meter dari
permukaan laut.

Sumber Antara

Saturday, February 4, 2012

UAV BPPT Tidak Terdeteksi Radar


UAV Alap-Alap dalam sebuah pengujian oleh BPPT (photo : BPPT)


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Teknologi
pesawat intai tanpa awak alias unmanned
aerial vehicle (UAV), buatan Badan
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi
(BPPT) tidak bisa dideteksi radar pesawat.
Kepala Program Pesawat Udara Nir Awak
(PUNA) BPPT Joko Puwono, mengatakan
prototipe pesawat terbang produksinya
dijamin tidak terdeteksi radar musuh.
Pasalnya seluruh bahan pesawat terbuat
dari komposit murni tidak mengandung
unsur metal. Meski begitu, pihaknya
menyatakan pesawat intai Wulung, Gagak,
Pelatuk, Alap-alap, hingga Slipi, tetap butuh
pengembangan dan inovasi untuk
menyiasati semakin canggihnya
pendeteksian teknologi radar lawan.
"Pesawat kami dijamin tidak terdeteksi
radar, tapi kalau memuai sedikit karena
panas mesin bisa jadi terdeteksi radar.
Masih butuh pengembangan," beber Joko
kepada Republika, Sabtu (4/2) .
Karena pengembangan pesawat intai butuh
modal, pihaknya menyarankan Kementerian
Pertahanan (Kemenhan) agar tidak perlu
jauh-jauh membeli produk Israel Aerospace
Industries (IAI). Selain bisa memperkuat
industri pertahanan dalam negeri, lanjut
Joko, anggaran pembelian pesawat dapat
digunakan untuk inovasi dan
pengembangan pesawat intai karya BPPT.
Berdasarkan catatan Republika, harga
pesawat intai IAI dengan teknologi terbaru
rata-rata 6 juta dolar AS atau Rp 54 miliar.
Adapun PUNA BPPT hanya menghabiskan
anggaran Rp 1,3 miliar per unit.
Memang diakuinya produk Israel lebih
canggih, namun kalau pesawat intai BPPT
semakin sering diutak-atik maka butuh
beberapa tahun untuk mengejar
ketertinggalan teknologi. Ini lantaran
sumber daya manusia (SDM) BPPT hanya
kurang mendapat kesempatan dan
pembelajaran sebab Kemenhan maupun
user lain tidak pernah mengajak pihaknya
untuk mengembangkan pesawat intai
terbaru. "Pesawat kami ada yang jenis
patroli keamanan di lautan hingga untuk
membuat hujan buatan, tinggal
dimodernisasi saja," papar Joko.
(Republika )

Panser Anoa dan N219 ada di ITB

Pesawat N219. (Foto: BBPT)
4 Februari 2012, Jakarta: Sebuah
panser Anoa buatan PT Pindad
menutup Jalan Ganesha,
Bandung, Sabtu, 4 Februari 2012.
Mobil komando itu dipamerkan
pada ITB Fair yang berlangsung
3-5 Februari 2012.
Puluhan pengunjung terlihat
mengerumuni kendaraan
berbahan baja tersebut yang
ditempatkan tepat di seberang
gerbang kampus ITB. Sebagian
memanfaatkan untuk memotret
dan menaiki kabin belakang
panser yang dibuka.
Tak jauh dari situ, PT Dirgantara
Indonesia memamerkan
purwarupa pesawat N219.
Pesawat berpenumpang 19 orang
itu dirancang untuk digunakan di
daerah terpencil sekaligus
sebagai pengangkut barang.
ITB Fair merupakan acara rutin
dua tahunan. Acara ini
menampilkan berbagai karya
mahasiswa ITB yang tergabung
dalam puluhan himpunan
kampus, dosen, juga sejumlah
produk BUMN dan swasta.
Menurut salah seorang panitia
acara, Adelia, beberapa wahana
yang bisa dinikmati pengunjung
tanpa tiket itu adalah planetarium
kecil, gua ITB, dan alunan musik
angklung yang dimainkan oleh
robot alias Klungbot. "Ada juga
festival kuliner mulai jam makan
siang nanti," ujarnya, Sabtu, 4
Februari 2012.
Acara yang dimulai pukul 10 pagi
hingga 10 malam itu tersebar dari
depan gerbang hingga tengah
kampus. Malam nanti, juga akan
digelar Pasar Malam dengan
iringan musik.
Sumber: TEMPO

Friday, February 3, 2012

Kami Dukung Presiden Yang Membrikan Intruksi Agar Pengadaan aLutsista bebas dari Mark Up

Jakarta - Komisi I DPR mendukung
penuh peringatan Presiden SBY pada
sidang terbatas kabinet bidang
Polhukam hari ini Kamis (2/2 ) soal
pengadaan Alutsista.
"Yaitu harus hindari mark-up akibat
percaloan dan utamakan produk
dalam negeri," ujar Ketua Komisi I
DPR Mahfudz Siddiq dalam pesan
singkatnya yang diterima
Jurnalparlemen.com.
Kata Mahfudz, untuk menghapuskan
praktek mark-up, Kemhan dan Mabes
TNI serta ketiga angkatan harus
terbuka kepada Komisi I DPR tentang
penganggaran dan penetapan
kontrak pembelian. "Juga harus
dipastikan tidak ada lagi terjadi
perubahan-perubahan di tengah
jalan. Kita semua tahu harga alutsista
sifatnya abu-abu, tidak seperti belanja
modal lainnya," ujarnya.
Sehingga, kata Mahfudz pengadaan
alutsista itu memang harus terbuka.
Agar tidak ada ruang bagi praktek
mark-up. "Adapun soal pengadaan
dari dalam negeri, Presiden harus
cermat monitor daftar belanja
alutsista dan bila perlu konfirmasi
langsung kesiapan perusahaan-
perusahaan industri pertahanan
nasional dalam memenuhi produk
alutsista," tegasnya.
Sebagai contoh, kata Mahfudz, pada
tahun 2011 alokasi belanja alutsista
ke dalam negeri baru sekitar 13
persen. Dengan alokasi anggaran
modernisasi alutsista 2010-2014
sebesar Rp 150 triliun, mestinya
minimal 40 persen dibelanjakan di
dalam negeri atau dengan skema
joint-production.
"Ini penting untuk merevitalisasi
industri pertahanan nasional yang
mulai didukung keuangannya oleh
Menkeu melalui PMN sebesar Rp 3
triliun pada 2011. Jika hal-hal ini
dijalankan dengan penuh komitmen,
maka Komisi I DPR tidak ragu untuk
terus mendorong peningkatan
anggaran modernisasi alutsista TNI
yang sudah banyak usang," ujarnya.
Juga yang terpenting, menurut
Mahfudz, perlunya peningkatan
prioritas modernisasi alutsista matra
laut untuk maksimalkan pengamanan
wilayah maritim Indonesia yang
sangat luas dan masih rawan
terhadap lalu-lintas ilegal yang
merugikan perekonomian nasional.
"Saat ini potensi kerugian negara per
tahun akibat illegal fishing, illegal
logging, penyelundupan BBM, dan
perompakan ditaksir mencapai nilai
Rp 40 triliun," ujarnya.
Mahfudz menambahkan, bahwa
Presiden SBY punya kesempatan 2
tahun lagi untuk majukan TNI dari
aspek alutsista dan kesejahteraan
prajurit. Sehingga Indonesia ke
depan benar-benar disegani di
kawasan dan bisa secara mandiri
mengontrol wilayah kedaulatannya.
"Last but not least, prinsip yang sama
juga harus dijalankan oleh Polri yang
anggaran belanja modalnya juga
sangat besar," tegasnya.
Sumber : Jurnal Parlemen

Pengadaan UAV yang penting Harus Sesuai Spek dari TNI AU

Jakarta - TNI AU memastikan akan melakukan pengadaan
enam unit Pesawat Terbang Tanpa Awak (PPTA). Keenam
pesawat ini nantinya akan ditempatkan di Landasan Udara
(Lanud) Supadio di Pontianak.
“Dalam rencana pengadaan untuk memenuhi Minimum
Essential Forces (MEF) kami akan mengadakan enam unit
PPTA,”kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau)
Marsekal Pertama TNI Azman Yunus di Jakarta, Jumat
(3/2 ).
Menurut Azman, TNI AU berencana menempatkan
pesawat tersebut di Pontianak. Ke depan, TNI AU
berharap memiliki satu skadron PPTA. “Kalau butuh
skadron pesawat tanpa awak, bisa saja. Kami akan menuju
kesana,” jelasnya.
TNI AU disebut-sebut akan melakukan pengadaan PPTA
asal Israel. DPR RI menolak rencana pembelian ini. DPR
beralasan, Israel telah terlalu banyak melakukan
pelanggaran HAM.
Bagi TNI AU, dari manapun pesawat itu tidak menjadi
pertimbangan asalkan memenuhi spesifikasi yang
dibutuhkan. Namun begitu, kepastian apa yang menjadi
kebutuhan TNI AU dari PPTA tersebut belum disusun
karena tim penyusunnya belum terbentuk.
Sebelumnnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro
menyatakan belum mengetahui rencana pengadaan PPTA
tersebut.
Sumber : JURNAS

Menhan : Banyak Ragamnya Alutsiata Yang Kita Beli

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro
mengakui saat ini banyak proyek pengadaan alutsista (alat
utama sistem persenjataan). "Kalau dihitung, tidak tahu.
Jumlahnya saya belum tahu," kata dia, usai sidang kabinet
terbatas di kantor Presiden, Kamis 2 Februari 2012.
Jenis alutsista yang dibeli Indonesia pun beragam, ada
yang bergerak dan ada yang tidak bergerak. Tapi,
pemerintah mengusahakan agar pembelian senjata
memang sesuai dengan kebutuhan. "Prosesnya dari user
(TNI AD, TNI AL atau TNI AU), ke Mabes TNI, baru ke
Menhan. Dari situ (baru) ada pembelian," kata Purnomo.
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono telah meminta
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengutamakan
pengadaan alutsista dari industri dalam negeri. "Manakala
tidak tersedia, boleh mengadakan dari luar. Tapi dengan
format yang baik, dengan kerangka kerja sama yang baik
supaya di kemudian hari bisa mandiri," ucap Presiden.
Sebelumnya, saat membuka Sidang Kabinet Terbatas
bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Presiden meminta
agar kultur mark up dan kongkalikong dalam pengadaan
alutsista dihilangkan. "Saya sudah lama menengarai dulu,
kultur mark up, kultur kongkalikong dengan perusahaan-
perusahaan tertentu, sehingga merugikan negara. Kami
bertekad jangan lagi ada seperti itu," kata Presiden.
Yudhoyono menjelaskan pemerintah tetap memberi ruang
dan kesempatan bagi setiap orang untuk berbisnis di
pengadaan alutsista. Namun jangan sampai ada lobi dan
penggalangan dukungan berbagai pihak hingga terjadi
mark up dan negara pun dirugikan. "Saya tahu barangkali
tidak nyaman kebijakan seperti ini. Ada yang merasa
dirugikan atau kurang penghasilan. Tapi harus dilakukan di
era kita harus pertanggungjawabkan belanja kalau
menyangkut anggaran negara," ujarnya.
Segala praktek pengadaan alutsista yang tidak benar,
menurut SBY, harus segera dihentikan. "Saya masih
mencium godaan-godaan ke arah itu. Dan kalau itu terjadi,
beri tindakan tegas termasuk siapa yang mengajak
melakukan penyimpangan pengadaan alutsista. Hakikatnya
semua pengadaan di negeri ini, di kementerian mana pun,"
katanya.
Sumber: TEMPO

LAPAN KEMBNGKAN SATELIT MIKRO

JAKARTA - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
(Lapan) tengah mengembangkan satelit mikro Lapan-A2
yang dijadwalkan akan diluncurkan pada semester dua
tahun 2012 dan membawa misi utama melakukan
observasi bumi.
"Satelit ini dimuati video RGB Camera Surveilance, Sistem
Deteksi Kapal laut Automatic Identifiction System (AIS) dan
Alat komunikasi Orari untuk penanganan bencana," kata
Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Dr Ing
Soewarto Hardhienata di Jakarta, Kamis (2/2 ).
Peluncurannya masih akan menggunakan roket peluncur
satelit PSLV (Polar Satellite Launch Vehicle) milik India dari
stasiun peluncuran Sriharikota, India dan akan
ditempatkan pada orbit ekuatorial untuk melewati wilayah
Indonesia setiap 97 menit atau sampai 14 kali sehari.
Pengembangan satelit mikro program 2008-2013 ini
dilaksanakan di Pusat Teknologi Satelit Lapan dengan
menerapkan pengetahuan dan pengalaman selama
pengembangan satelit mikro Lapan-Tubsat.
Lapan sebelumnya telah berhasil mengembangkan satelit
mikro berbobot 70 kg dengan nama Lapan-Tubsat (Lapan-
A1) bekerja sama dengan Technishe Universitaet Berlin
Jerman dan telah diluncurkan sejak Januari 2007 dengan
roket yang sama.
"Satelit itu saat ini masih berfungsi dengan baik dan pada
Januari 2012 telah genap berusia 5 tahun di orbit,"
katanya.
Selain Satelit Lapan-A2 , Lapan kini tengah
mengembangkan Satelit Lapan-IPB yang difokuskan untuk
kepentingan ketahanan pangan dengan muatan Imager
untuk citra resolusi 18 megapixel dengan lebar cakupan 90
km dan Automatic Identifiction System (AIS).
"Satelit mikro Lapan-IPB rencananya akan diluncurkan
akhir tahun 2013, juga dengan roket India dari india.
Bedanya kalau Lapan-A2 ditempatkan pada orbit
ekuatorial, Lapan-IPB akan ditempatkan pada orbit polar
(kutub ke kutub) dan akan melintasi Indonesi 2-4 kali
sehari saja.
Kedepannya agar Indonesia tidak terus tergantung pada
negara lain dalam meluncurkan satelit, Lapan juga tengah
mengembangkan Roket Pengorbit Satelit yang merupakan
roket empat tingkat dan sedang dipersiapkan roadmap-
nya.
"Roket 4 tingkat ini terdiri dari dari 6 unit roket yakni 5
roket RX-420 sebagai roket pendorong dan 1 roket utama
RX-320 yang sudah diujicobakan dan diluncurkan
sebelumnya," ujarnya.
Sumber : ANTARANEWS.COM

6 Februari 2012: Selamat Datang KRI Nanggala 402

JAKARTA - Kapal selam TNI-AL, KRI
Nanggala-402 kini tengah dalam
pelayaran kembali ke Tanah Air usai
menjalani reparasi total di galangan
kapal Daewoo Shipbuilding & Marine
Engineering, Okpo, Korea Selatan.
Dijadwlkan kapal akan tiba di
pangkalannya di Koarmatim TNI-AL,
Surabaya, pada 6 Februari nanti.
KSAL, Laksamana TNI Soeparno, dan
sejumlah besar pimpinan TNI-AL
beserta pimpinan DPR akan
menyambut kehadiran kembali kapal
selam tipe U-209/ 1300 buatan Jerman
pada 1981 itu. Kehadirannya
menambah kelengkapan kekuatan
kapal selam Indonesia, karena
sebelumnya kapal selam KRI
Cakra-401 telah lebih dahulu
diretrofit di galangan yang sama.
Selama perbaikan, kapal telah
diperkuat strukturnya, termasuk
"kulit" bajanya, sistem navigasi dan
persenjataan serta sistem sonarnya.
Sistem sonar ini sangat vital, karena
berfungsi sebagai mata, telinga dan
indra pendeteksi kapal musuh.

KRI Nanggala-402 dikomandani
langsung keberangkatannya dari
Korea oleh Letnan Kolonel Pelaut
Purwanto, dengan melayari perairan
Selatan Korea Selatan hingga
memasuki perairan Nusantara.
Nanggala berada di Korea sejak
Desember 2009 dan usai menjalani
sea trial pasca perbaikan pada
Desember 2011 lalu.
DSME sebelumnya juga sukses
meretrofit kembali KRI Cakra-401
pada Mei 2004 hingga 13 Februari
2006. Selama proses perbaikan,
tenaga ahli Indonesia juga
diberdayakan untuk mengetahui dan
menguasai teknologi perbaikan kapal
selam dari Korea Selatan.
KRI Nanggala-402 dan KRI Cakra-401,
dibuat di galangan kapal
Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada
1981 dari tipe U-209/ 1300. Kapal ini
memiliki bobot mati 1.395 ton,
berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x
5,5 meter. Dengan mesin diesel
elektrik mampu melaju dengan
kecepatan kurang lebih 25 knot di
dalam air, menyelam di kedalaman
sekitar 200 meter dari permukaan lut,
dan diawaki 35 anak buah kapal
termasuk komandannya.
Di kawasan, selain Indonesia,
Singapura juga memiliki empat kapal
selam bekas Kerajaan Swedia dari
kelas Sjoormen (kelas Challenger);
diikuti Malaysia yang membeli juga
kapal selam baru kelas Scorpene dari
Perancis.
Sumber : ANTARANEWS.COM

Indonesia serahkan dokumen larangan uji coba nuklir ke PBB

Jumat, 3 Februari 2012 13:53 WIB 

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, menyerahkan dokumen ratifikasi traktat pelarangan menyeluruh uji coba nuklir atau Comprehensive Nuclear Test-Bali Treaty (CTBT) ke Perserikatan Bangsa-bangsa dalam kunjungannya ke New York pada pekan ini.

"Dokumen itu sudah diserahkan dalam kunjungan Menlu ke markas PBB," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, kepada pers di Jakarta, Jumat.

Dengan adanya ratifikasi traktat pelarangan yang diserahkan Indonesia, maka masih tersisa delapan negara yang melakukan ratifikasi.

"Mereka adalah India, Pakistan, Iran, Israel, Mesir, Amerika Serikat, Korea Utara, dan China," jelas Michael.

Indonesia merupakan negara ke-36 yang mengesahkan ratifikasi pada awal Desember tahun lalu. Dari 44 negara pemilik reaktor dan senjata nuklir (Annex II), baru 36 negara yang meratifikasi traktat itu.

"Kami terus mendorong agar negara ataupun pihak-pihak yang belum meratifikasi untuk mengesahkannya segera, agar traktat tersebut memiliki kekuatan legal dan mengikat," tambah dia.

Sebelumnya, Indonesia sempat menunda ratifikasi karena menunggu negara-negara yang memiliki nuklir lebih dulu meratifikasi traktat ini. Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, berpendapat dunia yang bebas nuklir akan mendorong perdamaian dunia.

"Jaminan dari ancaman senjata nuklir hanya bisa dicapai dengan penghapusan uji coba senjata nuklir tanpa syarat dan tanpa standar ganda," ujar Marty beberapa waktu lalu.

Dengan dilakukannya ratifikasi, nantinya akan menginspirasi negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara untuk segera meratifikasi traktat tersebut dan mewujudkan kawasan itu menjadi daerah bebas nuklir melalui penandatanganan protokol bebas nuklir.
SUMBER : Antara

Thursday, February 2, 2012

PKS: Jangan Beli Senjata Israel yang Bunuh Warga Palestina



3 Pebruari 2012, Jakarta: Rencana pembelian pesawat tanpa awak milik Israel menuai kecaman. Salah satunya dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Melalui kadernya di DPR, Al Muzzammil Yusuf mendesak Kementerian Pertahanan dan TNI mempertimbangkan aspek teknis dan politis terkait rencananya membeli pesawat intai milik Israel.

"Sebagai penjaga konstitusi, TNI harus tegas menolak bekerja sama dengan Israel, negara penjajah yang bertentangan dengan Konstitusi RI," ujar anggota Komisi I DPR di Jakarta, Jumat (3/2).

Karena, menurut Muzzammil yang juga Wakil Ketua FPKS DPR itu, secara teknis, TNI nantinya akan kesulitan dalam pengadaan suku cadangnya mengingat Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Sedangkan secara politis, kata Muzzammil, bekerja sama dengan Israel tidak sesuai dengan Konstitusi RI karena Israel adalah penjajah yang telah banyak menewaskan korban sipil di Palestina.

"Dalam Pembukaan UUD 1945 telah jelas-jelas bahwa Indonesia tidak mengakui penjajahan yang dilakukan oleh negara mana pun, termasuk Israel. Bagaimana mungkin ini tidak menjadi pertimbangan TNI dan Kemenhan dalam membeli pesawat intai atau alutsista lainnya," ujarnya.

Lebih lanjut Muzzammil mengatakan, dirinya mendapatkan informasi bahwa tender pesawat intai ini sudah dilakukan sejak pertengahan tahun 2006. Tiga besar calon pemenang tender adalah perusahaan berasal dari Filipina, Rusia, dan Indonesia.

"Perusahaan dari Filipina inilah yang merupakan perwakilan dari Israel yang diduga telah menjadi pemenang dalam tender pesawat intai di Kemenhan. Apakah informasi ini benar? Saya berharap penjelasan dari Kemenhan," kata Muzzammil.

Muzzammil berharap agar TNI dan Kemenhan benar-benar mempertimbangkan kedua aspek tersebut dan konsisten untuk mendukung kemajuan dan kemandirian industri pertahanan strategis dalam negeri.

TNI AU Berencana Beli 16 Pesawat Tanpa Awak Israel

Mabes TNI AU mengakui berencana membentuk satu skuadron pesawat tanpa awak alias unmanned aero vehicle (UAE). Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Azman Yunus, menyatakan kebutuhan TNI AU yang mendesak di antaranya adalah pemenuhan pesawat tanpa awak.

Azwan mengaku, pesawat intai diperlukan untuk membantu operasionalisasi TNI AU dalam merekam data potensi ancaman wilayah perbatasan dari udara. "Kami ingin membentuk satu skuadron atau 16 unit pesawat tanpa awak," kata Azwan kepada Republika, Kamis (2/2).

Menurut Azwan, TNI AU dalam kapasitas sebagai operator atau pengguna pesawat. Adapun pemilihan pesawat dan dari mana negara tempat pembelian pesawat menjadi kewenangan penuh Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

Karena itu, pihaknya tidak mengetahui alasan mengapa akhirnya pilihannya jatuh kepada pesawat buatan Israel. "Kami hanya menyodorkan pesawat intai yang bisa terbang selama 10 sampai 13 jam. Yang memilih spesifikasi itu Kemenhan," terangnya.

Sumber: Republika

Lebih Canggih, RI Pilih Pesawat Intai Israel


02 Februari 2012

UAV buatan Israel telah dipakai di banyak negara, teknologi autonomous UAV secara penuh dan predikat "battle proven" untuk UAV berjenis MALE dan HALE baru dikuasai oleh Amerika dan Israel (photo : Canada DoD)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Simpang siur pembelian pesawat intai UAV buatan Israel Aerospace Industries (IAI) oleh TNI AU bukan sekadar isu. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Brigjen Hartind Asrin, mengatakan pembelian pesawat tanpa awak itu dimasukkan dalam daftar belanja TNI AU periode 2010-2014. Dijelaskannya, pembelian pesawat buatan Israel lebih didasarkan pada persoalan teknis.
Setelah dilakukan diskusi dan kajian matang, papar Hartind, TNI AU menjatuhkan putusan untuk membeli pesawat intai Israel. Pihaknya juga mengharap pembelian yang ditujukan untuk meningkatkan alat utama sistem persenjataan (alutista) ini tidak dikait-kaitkan dengan isu macam-macam. Seperti, Israel digolongkan sebagai negara pelanggar hak asasi manusia (HAM) maupun isu lain yang tidak ada hubungannya dengan penambahan kekuatan matra udara.
“Pesawat ini kualitasnya bagus, paling canggih. Karena industri pertahanan mereka paling maju,” kata Hartind, Kamis (2/2). Pembelian pesawat ini menggunakan mekanisme pembiayaan kredit ekspor.
Meski begitu, pihaknya tidak tahu kapan pesawat intai UAV tersebut datang ke Indonesia. “Kami berharap pada 2012 ini paling sedikit tiga pesawat UAV datang. Tapi, tidak tahu lagi setelah DPR ramai begini.” ujar Hartin.
(Republika)

Baca Juga :

TNI AU Berencana Beli 16 Pesawat Tanpa Awak Israel

02 Februari 2012

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mabes TNI AU mengakui berencana membentuk satu skuadron pesawat tanpa awak alias unmanned aero vehicle (UAE). Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Azman Yunus, menyatakan kebutuhan TNI AU yang mendesak di antaranya adalah pemenuhan pesawat tanpa awak.

Azwan mengaku, pesawat intai diperlukan untuk membantu operasionalisasi TNI AU dalam merekam data potensi ancaman wilayah perbatasan dari udara. "Kami ingin membentuk satu skuadron atau 16 unit pesawat tanpa awak," kata Azwan kepada Republika, Kamis (2/2).

Menurut Azwan, TNI AU dalam kapasitas sebagai operator atau pengguna pesawat. Adapun pemilihan pesawat dan dari mana negara tempat pembelian pesawat menjadi kewenangan penuh Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

Karena itu, pihaknya tidak mengetahui alasan mengapa akhirnya pilihannya jatuh kepada pesawat buatan Israel. "Kami hanya menyodorkan pesawat intai yang bisa terbang selama 10 sampai 13 jam. Yang memilih spesifikasi itu Kemenhan," terangnya.

(Republika)

PTDI Bisnis Simulator Pesawat


02 Februari 2012
Simulator helikopter Bell-412 (photo : Kaskus Militer)
JAKARTA - PT Dirgantara Indonesia (DI) mulai melakukan ekspansi bisnisnya dengan membuat simulator pesawat. Pengembangan tersebut tidak jauh bisnis utama perusahaan yaitu membuat pesawat dan komponen pesawat. Direktur Aircraft Service PT DI Rudi Wuraskito mengatakan, sudah ada beberapa unit simulator yang berhasil dibuat. Misalnya untuk pesawat jenis CN 235 dan Helikopter Super Puma. Tidak hanya itu, perusahaan yang dahulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) tersebut juga membuat simulator untuk kapal laut. "Ada 3-4 simulator yang sudah kita buat," ungkap Rudi.
Untuk 1 unit simulator CN 235, lanjut Rudi, dijual seharga USD 12 juta. Sementara simulator Super Puma harga jualnya tidak diketahui. Sebab, PT DI hanya salah satu pemasok komponen. Bukan kontraktor utama. Tapi, untuk 1 unitnya perusahaan yang berpusat di Bandung tersebut mendapatkan USD 3 juta. "Itu sebagian saja. Kita subkontraktor. Kontraktor utama di Kementerian Pertahanan," katanya.
Menurut Rudi, PT DI baru mau fokus menekuni bisnis simulator tersebut. Dulunya, perseroan tidak bisa melakukan ekspansi usaha karena diminta fokus membuat pesawat saja."Awal kita membuat simulator karena ada yang minta. Malaysia yang memiliki 8 pesawat CN 235 meminta dibuatkan simulatornya. Super Puma karena TNI Angkatan Udara butuh. Cuma kita sifatnya membantu. Ada main kontraktor," kata Rudi.
Ditegaskan Rudi, saat ini pihaknya belum bisa langsung bersaing dengan produsen simulator lainnya. Terutama dari sisi branding. Harus dibangun kepercayaan dengan konsumen terlebih dahulu. "Kita lakukan kerja sama dengan yang sudah branded. Sehingga lebih murah harganya," ucap Rudi.
Untuk membuat simulator, tambah Rudi, hal utama yang diperlukan adalah data base pesawat. Data perilaku pesawat pasti dimiliki pabrik. Hanya, untuk mendapatkan data base tersebut tidak mudah. Harganya pun sangat mahal, mencapai 20 persen dari total harga simulator. "Kalau harga simulator USD 10 juta, maka data basenya USD 2 juta. Kalau bikin sendiri pakai teknologi kita bisa saving 30-40 persen. Ada penghematan yang cukup banyak," katanya.
Dikatakan Rudi, dalam 4-5 tahun mendatang diharapkan PT DI sudah mampu bersaing dengan produsen simulator lainnya. Saat ini, perusahaan sedang merintis dari yang keculu. Jika langsung memulai dengan besar banyak yang tidak percaya. "Simulator banyak ke aplikasinya. Sejauh ini kita lihat produk karena pesawat terbangnya apa," ujarnya. (cdl)

BERITA POLULER