Pages

Wednesday, January 12, 2011

J-20,Perpaduan Teknologi AS dan Rusia


PDF Print




J-20 CINA

Thursday, 13 January 2011
BEIJING(SINDO) – China tak bisa dipandang sebelah mata dalam teknologi pesawat siluman.Ini setelah dua hari yang lalu China dilaporkan menguji coba pesawat perdana mereka. Beijing telah menunjukkan taringnya dengan sukses menguji coba pesawat jet tempur berteknologi siluman, yakni J-20.

Pesawat tempur itu menjadi andalan China dalam mempertahankan teritorialnya. Dengan suksesnya uji coba J- 20,musuh bebuyutan Negeri Panda, Amerika Serikat (AS) langsung bersikap waspada dengan perkembangan teknologi militer Negeri Tirai Bambu itu yang dinilai sangat pesat. Informasi yang tidak diragukan menyebutkan teknologi J-20 hampir sama seperti pesawat siluman terbaru AS, yakni F-22 Raptor dan B-2 Spirit.


                                         (F-22 Raptor) USA

Baik J-20 dan pesawat siluman lainnya memiliki teknologi yang membuat mereka tidak dapat dipantau radar musuh dan mampu menghindari sinar laser. Menteri Pertahanan AS Robert Gates pun terkagum-kagum atas teknologi yang dikembangkan China.“ Menurut saya, yang telah kita saksikan adalah mereka (China) bisa jadi sudah lebih maju dari yang diperkirakan intelijen kami dalam membuat pesawat itu,” papar Gates. J-20 itu terbang dari pangkalan udara di Chengdu selama 15 menit pada Selasa (11/1).

                                         (F-35A Lightning II) USA

Jet tempur siluman China memiliki bodi lebih besar dari jet siluman yang sudah ada. J-20 dikemudikan satu orang,dua mesin,serta lebih berat dan besar dari Sukhoi T-50 milik Rusia dan F-22.Menurut Ted Galen Carpenter, seorang ahli pertahanan di Institut Cato,Washington, mengatakan bahwa pesawat tempur China ini tidak akan membawa perubahan.

                                Penerbangan pertama prototipe Sukhoi Pak Fa T-50 Russia
 “Keseimbangan kekuatan dunia tidak akan berubah dalam 10 tahun mendatang.Namun, secara psikologi dan simbol memang penting,” tutur Carpenter. China selama ini terganggu dengan kehadiran militer Amerika di halaman belakang mereka. Sebelumnya, para analis memperkirakan J-20 bakal dirilis pada 2019 mendatang.Yang membuat miris pada pakar pertahanan adalah J-20 memadukan antara teknologi Rusia dan AS.Kekurangan teknologi pesawat siluman AS dan Rusia ditutupi J-20.Rentang sayap dengan lebar 14 meter dan berbobot 36.000 kg membuat pesawat tersebut sangat kokoh.

Dengan bangganya, Beijing mengklaim bahwa teknologi J-20 merupakan buatan anak dalam negeri. Sementara itu, Matthew Buckley, pilot jet tempur Angkatan Laut AS menyebutkan bahwa J-20 memiliki kemampuan siluman.“Pesawat F-18 yang saya terbangkan seperti truk besar dalam radar. Pesawat itu ada kemungkinan sama sekali tidak tampak,”tuturnya. Disisilain,menurutKerryBrown, dari lembaga Chatham House,J-20 menunjukkan kemampuan riset militer China.

“Namun,kemampuan Beijing masih jauh di belakang AS,” ujarnya. Kemampuan J-20 hanya untuk kepentingan pertahanan China dan menekan Taiwan. Sementara itu, Richard Fisher, senior fellowhubungan militer Asia di International Assessment and Strategy Center,lembaga keamanan di Washington menyatakan bahwa pejabat China mengaku program itu bertujuan menandingi F- 22 Raptor. “Pesawat itu memiliki potensi besar mengalahkan F-22 dan jauh lebih unggul dibanding F- 35,”paparnya.

Spesifikasi resmi J-20 memang belum dirilis ke publik secara detail. Jika dibandingkan F-22 Raptor milik AS, J-20 tidak kalah saing.Khusus F-22 Raptor,awalnya diperuntukkan menyaingi pesawat tempur Rusia. Kelebihan utama F-22 salah satunya adalah radar AN/APG-77 AESA yang dirancang untuk operasi superioritas udara dan serangan darat, yang sulit dideteksi pesawat lawan,menggunakan apertur aktif dan dapat melacak beberapa target sekaligus dalam cuaca apapun.

AN/APG-77 mengganti frekuensinya 1.000 kali setiap detik.Ini membuatnya juga sangat sulit dilacak. Radar tersebut juga dapat memfokuskan emisi terhadap sensor lawan dan membuat pesawat lawan mengalami gangguan. Dalam hal kemampuan senjata, F-22 dirancang untuk membawa peluru kendali udara ke udara yang tersimpan secara internal di dalam badan pesawat agar tidak mengganggu kemampuan silumannya.

Pesawat ini juga bisa membawa bom,misalnya, Joint Direct Attack Munition (JDAM) dan Small- Diameter Bomb (SDB) yang lebih baru. Untuk senjata cadangan, F- 22 membawa meriam otomatis M61A2 Vulcan 20 mm yang tersimpan di bagian kanan pesawat. Meriam ini membawa 480 butir peluru dan akan habis bila ditembakkan secara terusmenerus selama sekitar lima detik.

Pesawat siluman AS lainnya adalah Northrop Grumman B-2.B-2 berteknologi siluman yang kerap digunakan untuk mengebom. B-2 digunakan dalam tiga peperangan AS,yakni Perang Kosovo pada 1999 saat pesawat siluman tersebut menghancurkan 33% target pengeboman Serbia dalam delapan pekan.B-2 juga menjatuhkan bombom pada rakyat Afghanistan dengan dukungan pengisian bahan bakar di udara.Dalam perang Irak, B-2 juga turut diterjun dalam operasi tempur udara. Karakteristik B-2 sangat khas.

Pesawat itu mampu melakukan penetrasi ke wilayah musuh tanpa terdeteksi sedikit pun karena mampu meredam radar yang dipancarkan melalui visual atau pun suara. Mesin-mesinnya tertanam di dalam sayap.Namun, sebagian besar spesifikasitidakdiumumkanke publik. Selain B-2,AS juga memiliki F- 35 yang memiliki kemampuan siluman. Pesawat tersebut memiliki kursi tunggal, mesin tunggal, dan merupakan generasi kelima pesawat tempur yang mampu melakukan serangan darat dengan efektif.

Pesawat itu didesain tim industri penerbangan antariksa yang dipimpin Lockheed Martin dan pertama kali terbang pada 15 Desember 2006. Rusia pun tidak kalah. Rusia berusaha menandingi superioritas Amerika Serikat dalam hal kecanggihan pesawat tempur militer berteknologi siluman.Rusia ingin mengangkat kedigdayaan pesawat tempur seperti pada zaman Uni Soviet.Awal tahun lalu, Rusia menguji coba T-50 setelah dua dekade F22-Raptor milik AS menjadi raja di udara.

Pesawat jet militer generasi kelima ini tidak dapat terlihat oleh radar, dan sistem penerbangan maupun sistem persenjataan yang canggih.Pesawat siluman itu juga mampu terbang dalam kecepatan superionik lebih dari 1.200 km/jam. Pesawat T-50 bakal menambah kemampuan pertahanan Rusia karena selama ini hanya AS yang memiliki pesawat jet sejenis. Ingin menjadi pesaing Washington, Moskow berjanji akan membuat 1.000 pesawat tempur siluman dalam empat dekade mendatang.

Rusia mengandalkan India sebagai pelanggan utama pesawat tempur Sukhoi. Ide awal pesawat siluman sebenarnya ditemukan seorang pakar dari Rusia. Ironisnya, kini, Rusia justru berada di belakang AS.Awalnya, ide pesawat siluman ditemukan Pyotr Ufimsev pada 1966 dengan hipotesis berjudul Metode Gelombang Tepian dalam Teori Fisik Difraksi.Ufimtsev adalah ahli yang berpengalaman dalam Institut Rekayasa Radio Moskow. Ufimtsev mengalkulasikan cara- cara baru, yakni membentuk ruang bentuk geometris khusus yang mencerminkan radiasi elektromagnetis.

Dengan menciptakan kalkulasi silang sebuah radar yang mudah dilumpuhkan. Dia menetapkan rumus konfigurasi bersisi dua dimensi, berupa tata cara mengutak-atik komponen dalam sebuah radar. Hasilnya, radar bisa terganggu bila dikacaukan dengan sinar dua dimensi tadi.

Hingga kemudian, pada 1979, Rusia mengembangkan satu pesawat intai dan dari uji coba ternyata berhasil mengecoh radar antipesawat terbang AS di Padang Pasir Nevada. Namun, pada 1976, salinan teknologi pesawat siluman tersebut akhirnya bocor dan jatuh ke tangan AS. Dikembangkan Divisi Teknologi Angkatan Udara Amerika hingga mengembangkan teknologi siluman tersebut dengan hasil nyata,SR-71 Blackbird,F-117, dan B-2. (AFP/Guardian/ andika hm)  
sumber : SINDO
                                          F33 sebelumnya KFX 201 (indonesia- korsel) 
Tidak kalah dengan AS,Russia, dan Cina , Negara kita indonesia bersama sahabat kita Korsel sedang membangun Jet tempur generasi kelima speknya dibawah F35 diatas F16 yang bernama F33 sebelumnya KFX, mudah mudahan dengan begitu RI akan bangkit seperti Korsel dan Cina , mandiri dalam pengadaan alutsistanya dan memberdayakan Industri pertahannnya kusunya PT DI. adapun info F33 adalah sebagai berikut

F-33 (sebelumnya KF-X)
 Tipe Pesawat tempur multifungsi
 Produsen KAI dan Dirgantara Indonesia
 Diperkenalkan direncanakan 2020
 Status Dalam pengembangan
 Pengguna Korea Selatan dan Indonesia

F-33 (sebelumnya KF-X) adalah sebuah program Korea Selatan dan Indonesia untuk mengembangkan pesawat tempur multi-fungsi canggih untuk Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) dan Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara (TNI-AU)[1], program ini dipelopori oleh Korea Selatan dengan Indonesia sebagai mitra utama. Negara-negara lain seperti Turki telah menunjukkan minat dalam kerjasama pengembangan dan produksi pesawat. Ini adalah program pengembangan pesawat tempur kedua Korea Selatan setelah KAI FA-50.
Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada upacara wisuda di Akademi Angkatan Udara pada Maret 2001. Meskipun persyaratan operasional awal untuk program KF-X seperti yang dinyatakan oleh ADD (Badan Pengembangan Pertahanan) adalah untuk mengembangkan pesawat ber kursi-tunggal, ber mesin jet kembar dan dengan kemampuan siluman (stealth) yang lebih baik dibanding Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih kurang stealth dibanding Lockheed Martin F-35 Lightning II, fokus dari program tersebut telah bergeser untuk memproduksi pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi dari pesawat tempur kelas KF-16 pada tahun 2020. [2][3]



WIKIPEDIA/INDONESIA DEFENCE

Presiden Tiongkok akan Pidato tentang Hubungan Tiongkok-AS


Presiden Hu Jintao akan menyampaikan pidato mengenai hubungan Tiongkok-AS dan pembangunan ekonomi Tiongkok dalam kunjungannya ke AS.
Menhan AS Robert Gates (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Hu Jintao di Beijing, Selasa, 11 Januari 2011.
Foto: Reuters
Menhan AS Robert Gates (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Hu Jintao di Beijing, Selasa, 11 Januari 2011.

Presiden Hu Jintao akan memberi pidato penting mengenai hubungan Amerika-Tiongkok dalam kunjungan kenegaraannya di Amerika Serikat pekan depan.
Demikian menurut keterangan pers dari Asisten Menteri Luar Negeri Tiongkok Cui Tiankai pada hari Rabu, yang mengatakan pidato tersebut juga akan menanggapi anggapan Amerika Serikat dan masyarakat internasional mengenai pembangunan damai Tiongkok. Ia mengatakan tanggal dan tempat yang pasti bagi pidato pidato tersebut belum ditetapkan.
Cui mengatakan masalah ekonomi akan dibicarakan dalam pertemuan Hu dengan Presiden Amerika Barack Obama pada tanggal 19 Januari. Amerika Serikat sedang mendesak Tiongkok agar membiarkan nilai mata uangnya meningkat dengan lebih cepat, tetapi Cui mengemukakan bahwa Tiongkok juga mempunyai keprihatinan  akan keamanan asetnya di Amerika Serikat.
Ia mengatakan kedua Presiden akan merundingkan cara meningkatkan pemulihan ekonomi dunia yang berimbang dan mampu bertahan.

BBC

Menhan AS Dorong Beijing Pererat Hubungan Militer AS-Tiongkok

Robert Gates berada di Beijing untuk meyakinkan militer Tiongkok supaya membuka jaringan komunikasi yang stabil dengan Amerika.
Foto: ASSOCIATED PRESS
Menhan AS Robert Gates saat tiba di bandara internasional Beijing, Minggu 9 Januari 2010.

Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates tiba di Beijing untuk kunjungan tiga hari guna memperkuat hubungan antar-militer antara kedua negara.
Gates dilaporkan akan berusaha sekali lagi untuk meyakinkan militer Tiongkok supaya membuka jaringan komunikasi yang stabil dengan Amerika untuk mencegah kesalah-pahaman yang bisa memicu konfrontasi.
Kata Gates kepada wartawan kemarin, ia prihatin atas persenjataan Tiongkok yang paling mutakhir. Tiongkok, katanya, agaknya telah mendapat kemajuan besar dalam membangun pesawat silumannya yang pertama. Gates juga menyebut, kemajuan militer Tiongkok dalam membangun sistem peluru kendali anti-kapal, suatu hal yang mencemaskan.
Kata Gates lagi, Tiongkok jelas punya kemampuan untuk menantang kekuatan militer Amerika dan Amerika harus memperhatikan hal ini serta menanggapinya dengan programnya sendiri.
Angkatan bersenjata Tiongkok memulihkan hubungan terbatas dengan angkatan bersenjata Amerika tahun lalu, setelah memutuskan hubungan itu karena Amerika menjual senjata bernilai miliaran dolar kepada Taiwan.

BBC

Gates Optimis Hubungan AS-Tiongkok akan Lebih Harmonis


Menhan AS Robert Gates puas hasil kunjungannya ke Tiongkok, yang dimaksudkan untuk memulihkan kontak langsung antara kubu militer kedua negara
Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates (kiri) bertemu dengan Presiden Tiongkok Hu Jintao di Beijing, Selasa, 11 Januari 2011.
Foto: DoD
Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates (kiri) bertemu dengan Presiden Tiongkok Hu Jintao di Beijing, Selasa, 11 Januari 2011.

Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates mengatakan dirinya mendapati para pemimpin sipil dan militer siap untuk membawa hubungan Amerika-Tiongkok ke tingkat berikutnya. Demikian menurut Gates yang baru saja merampungkan kunjungan empat harinya di Tiongkok
Pada hari kunjungan terakhirnya hari ini, Gates berkunjung ke Pusat Komando Nuklir Tiongkok dan Tembok Besar di sebelah utara Beijing. Gates akan bertolak ke Jepang hari ini juga dan akan mengunjungi Korea Selatan hari Jumat.

Gates mengatakan ia mampu berbicara dengan terus terang dengan para komandan di markas besar peperangan nuklir tersebut, termasuk saat berbicara mengenai strategi nuklir Tiongkok. Gates mengatakan komandan sarana di Qinghe, di luar Beijing, telah menerima undangan untuk berkunjung ke markas besar Komando Strategis Amerika Serikat di negara bagian Nebraska, Amerika.

Gates mengatakan kepuasannya dengan hasil kunjungannya, yang dimaksudkan untuk memulihkan kontak langsung antara kubu militer kedua negara dengan tujuan untuk menghindari kesalahpahaman dan miskalkulasi. Gates mengatakan dirinya yakin pertemuan-pertemuannya telah melapangkan jalan untuk membawa hubungan militer-ke-militer ke tingkat yang baik.

BBC

Menhan Gates: AS Khawatirkan Senjata Baru Tiongkok

Robert Gates mengatakan Tiongkok membuat kemajuan lebih dari perkiraan, dengan membangun pesawat jet tempur siluman yang pertama.
Foto: Wikipedia
Pesawat siluman Tiongkok, J-20 "Black Eagle".

Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates hari Sabtu menyatakan keprihatinannya tentang persenjataan teknologi modern terbaru Tiongkok.

Berbicara kepada wartawan dalam perjalanannya ke Beijing untuk tiga hari perundingan, Gates mengatakan, Tiongkok tampaknya telah membuat kemajuan yang lebih dari yang diperkirakan sebelumnya dalam membangun pesawat jet tempur siluman pertama.
Selain itu, Gates juga menyebut berbagai kemajuan militer Tiongkok lainnya, termasuk rudal anti-kapal yang mengkhawatirkan.

Menteri Gates mengatakan "Tiongkok jelas memiliki potensi untuk membuat beberapa kemampuan militer Amerika dalam resiko dan kami harus mengawasi mereka dan menanggapi secara tepat dengan program-program sendiri."

Selagi di Beijing, Gates akan bertemu dengan Presiden Hu Jintao dan para pejabat lainnya. Ia juga berencana melakukan upaya lain untuk meyakinkan militer Tiongkok agar meningkatkan komunikasi yang stabil dengan Amerika untuk mencegah kesalahpahaman yang bisa memicu konfrontasi.

Kunjungan Menhan Robert Gates dilakukan seminggu sebelum rencana kunjungan Presiden Hu Jintao ke Washington.

bbc

Angkatan Udara RI-AS Mantapkan Kerja Sama










Ilustrasi
Jakarta: TNI Angkatan Udara dan Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) akan terus memantapkan kerja sama terutama dalam bentuk pendidikan dan latihan bersama. Pemantapan kerja sama itu terungkap dalam kunjungan kehormatan Atase Udara AS untuk Indonesia, Kolonel Kevin A Booth ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Rabu (12/1).

Dalam pertemuan dengan Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI M. Nurullah, Booth menyampaikan keinginannya untuk dapat terus menjalin kerja sama yang makin erat dengan TNI Angkatan Udara yang telah berjalan baik selama ini. Pertemuan yang berlangsung tertutup itu juga membahas rancangan kerja sama dalam bentuk latihan bersama antarkedua pihak yang telah rutin dilakukan.

Kepala Penerangan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Mayor Sus Ali Umri Lubis mengatakan, salah satu latihan bersama yang rutin dilaksanakan adalah "Teak Iron" yang melibatkan pesawat angkut kedua angkatan udara. "Materi latihan bersama itu antara lain teknik penerjunan dan distribusi logistik, menggunakan pesawat angkut berat C-130 Hercules," katanya.

Di bidang pendidikan, kedua angkatan udara juga kerap melakukan pertukaran perwira untuk belajar di sekolah staf dan komando di masing-masing angkatan udara.

Sumber: METRO TV

TNI Ingin Latihan Bersama dengan India 0diggsdigg

Jakarta (ANTARA News) - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, pihaknya menginginkan kerja sama bidang latihan dan operasi bersama militer India dapat ditingkatkan di masa mendatang.

"Kami mengharapkan kerja sama antara kedua negara di bidang latihan dan operasi yang selama ini telah terjalin dengan baik khususnya di angkatan laut kedua negara dapat ditingkatkan," katanya, saat menerima Kepala Staf Angkatan Laut India Laksamana Nirmal Kurma Verma di Jakarta, Rabu.

Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes TNI Kolonel Minulyo Suprapto menambahkan, angkatan laut kedua negara telah lama melakukan latihan bersama terutama di wilayah batas perairan kedua negara.

"Diharapkan kerja sama latihan bersama dan operasi antara angkatan laut kedua negara dapat ditingatkan menjadi lebih luas lagi di masa mendatang," katanya.

Selama kunjungan empat harinya di Indonesia, Laksamana Verma selain mempererat kerja sama militer kedua negara, juga berkeinginan menjajaki kerja sama industri pertahanan antara kedua pihak.

Selain melakukan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Verma juga dijadwalkan mengunjungi Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) dan Akademi Angkatan Laut (AAL) di Surabaya.

Tidak itu saja, Laksamana Verma juga akan melakukan penjajakan ke beberapa Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia dan PT PAL.

Sebelumnya, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio usai pertemuan, mengatakan, industri pertahanan India lebih maju dibandingkan Indonesia terutama dalam industri kimia, elektronika, mekanika, dan perbekalan.

"Bahkan, mereka sudah mampu membuat rudal, kapal selam dan kapal induk. Kita masih menjajaki apa yang bisa dikerjasamakan untuk industri pertahanan kedua negara," katanya.

Kemungkinan kerja sama pertahanan RI-India telah dilakukan sejak beberapa tahun silam yang selanjutnya dikukuhkan melalui ratifikasi nota kesepahaman kerja sama kedua negara bidang pertahanan yang diwujudkan dalam Joint Defence Committee.

Sumber: ANTARA

TNI AL Janji Tak Ada Pulau Milik RI Yang Hilang Lagi 0diggsdigg

0diggsdigg


Jakarta - TNI AL terus melakukan pengamanan di 12 pulau terluar. TNI AL berjanji tidak akan ada lagi pulau-pulau milik Indonesia yang hilang atau berpindah kepemilikan.

"Yakinlah, pulau-pulau terluar itu tidak akan lepas lagi," kata KSAL Laksamana TNI Soeparno dalam jumpa pers di Wisma Elang Laut, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (12/1/2010).

Soeparno menjelaskan personel marinir telah lama berjaga di 12 pulau terluar itu. TNI AL juga terus melakukan patroli rutin di pulau-pulau lain yang yang tidak dijaga secara permanen.

"Sampai sekarang kita terus beraksi bahwa pulau-pulau terluar itu penting," ujarnya.

Mengenai Pulau Sipadan dan Ligitan yang lepas, Soeparno menilai setelah proses yang panjang, Indonesia memang harus merelakan pulau-pulau tersebut hilang. Hal ini diharapkan tidak terulang lagi.

"Pulau yang lepas itu memang prosesnya, artinya harus dilepas. Karena proses yang panjang dan sebagainya sehingga tidak melihat kronologis asal muasalnya sehingga ada keputusan yang membuat pulau-pulau di Mahkamah Internasional ini lepas," papar Soeparno.

Sumber: DETIK

KF-X Motivasi Indonesia Bangun Pesawat Tempur

F33- sebelumnya KFX 201
JAKARTA (Suara Karya): Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio menyatakan, kerja sama pembangunan pesawat tempur Korean Fighter eXperimental (KF-X) antara Indonesia dengan Korea Selatan bisa memotivasi produsen dalam negeri untuk membangun pesawat tempur secara mandiri.

"Keinginan kita (pemerintah dan TNI-Red), bagaimana Indonesia mampu membuat pesawat itu," ujar Wayan Midhio kepada Suara Karya di Jakarta, Rabu (12/1).

Indonesia dan Korsel telah sepakat membangun KF-X generasi 4,5, yakni pesawat berteknologi setingkat di atas F-16 buatan Amerika Serikat. Indonesia akan mengeluarkan dana 20 persen sampai tahun 2020. "Itu bagian proyek yang akan diproduksi mulai tahun 2020. Kalau kita ambil bagian, kita bisa buat di Indonesia," ujar Wayan. Proses kerja sama untuk pengadaan pesawat tempur KFX sudah pada tahap pembahasan MoU dan kekayaan intelektual. Selain Indonesia, beberapa negara juga berminat menanamkan investasi pembangunan KF-X.

Wayan menyatakan, kerja sama pembangunan KF-X memakan waktu 10 tahun, mulai 2010 - 2020. Hingga saat ini, Kemhan belum membicarakan dana yang akan dikeluarkan. "Jadi belum ada deal apapun, cuma dalam bentuk MoU bagaimana kerja sama dilakukan. Keinginan kita, bagaimana Indonesia mampu membuat pesawat itu. Saya kira detilnya masih dalam proses kerja sama pengadaan," ujarnya.

Karena itu, menurut dia, rencana kerja sama pembangunan KF-X masih pada level teknis sehingga belum perlu dibahas di parlemen. "Proses kerja sama belum pada tahap alokasi anggaran," kata Wayan.

Konflik Korea

Sebelumnya, Komisi I DPR meminta Kemhan menimbang kembali rencana kerja sama pembuatan KF-X. Pasalnya, kerja sama itu bisa mempengaruhi hubungan politik bebas aktif Indonesia dengan Korea Utara.

"Secara politik, kerja sama pembuatan pesawat tempur Indonesia dengan Korea Selatan bisa mengganggu hubungan Indonesia dengan Korut. Jadi kerja sama itu sebaiknya ditimbang ulang untuk saat ini," ujar wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin.

Ia mengakui kerja sama pembuatan KF-X Indonesia dan Korea Selatan pada awalnya bersifat teknis sebagai bagian pembangunan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI. Namun, munculnya ketegangan antara Korsel dan Korut, mau tak mau memengaruhi Indonesia, khususnya menyangkut pembuatan pesawat tersebut.

"Dalam rencana kerja sama itu DPR sama sekali tidak diberitahu karena itu menyangkut teknis. Tapi, kondisinya sekarang berbeda karena menyangkut hubungan politik internasional. Indonesia harus berada di posisi netral tanpa embel-embel kerjasama pembangunan pesawat tempur Korsel-Indonesia," ujar dia.

Hasanuddin menambahkan, proyek pembangunan pesawat tempur KF-X generasi 4,5 mulai tahun 2012 dipimpin Korsel, meskipun melalui urunan dana kedua negara. Indonesia menanamkan saham 20 persen.

Anggota Komisi I DPR Nurhayati Ali Assegaf, menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah dan TNI membangun kekuatan pertahanan melalui pembenahan kekuatan tempur.

Pemerintah Bentuk Badan Urusi Industri Pertahanan


Meriam buatan PT. PINDAD. (Foto: Berita HanKam)

11 Januari 2011, Jakarta -- (TEMPO Interaktif): Kementerian Pertahanan membentuk satu badan baru, yakni Badan Sarana Pertahanan (Ranahan). Badan ini hasil restrukturisasi yang dilakukan Kementerian tahun ini, yang sebelumnya bernama Direktorat Jenderal Sarana Pertahanan.

"Badan Sarana Pertahanan dibentuk untuk intensifkan industri pertahanan agar fokus ke dalam negeri," kata Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI I Wayan Midhio, dalam konferensi pers di Ruang Wartawan Kementerian Pertahanan, Selasa 11 Januari 2011.

Kementerian, kata Wayan, berupaya untuk menggunakan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari hasil produksi dalam negeri. "Meskipun tidak bisa menutup pengadaan alutsista dari luar, karena keterbatasan teknologi dan sumber daya manusia," ujarnya.

Menurut dia, Badan Ranahan yang nantinya akan dipimpin oleh seorang Kepala Badan ini akan beralih kewenangan dari sebelumnya membuat kebijakan, menjadi pelaksana kebijakan. Salah satu wewenangnya adalah tentang pengadaan alutsista.

"Kalau melihat kesibukan (anggota Badan Ranahan), memang tidak mungkin merancang kebijakan, karena sepenuhnya operasional. Jadi, tugas mereka sekarang makin banyak koordinasi dengan angkatan (TNI) dan perusahaan-perusahaan yang membuat persenjataan," imbuhnya.

Kewenangan lain dari Badan Ranahan antara lain sebagai pusat pengadaan alutsista, pusat kelaikan alutsista (pengujian senjata), pusat kodifikasi terhadap produk-produk yang diproduksi industri dalam negeri, dan pusat barang-barang milik negara.

Sumber: TEMPO Interaktif

Tuesday, January 11, 2011

Dubes: India-Indonesia Belum Punya Kesepakatan Nuklir

Jakarta (ANTARA News) - India saat ini belum memiliki kesepakatan mengenai pengalihan teknologi nuklir dengan Indonesia, kata Duta Besar India untuk Indonesia Biren Nanda di Jakarta, Selasa.

"Kerja sama energi kedua negara lebih banyak pada ekspor batu bara ke India, meski tidak menutup pada minyak fosil dan minyak kelapa sawit," kata Biren dalam wawancara dengan ANTARA mengenai hubungan bilateral India-Indonesia dan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke India pada 24-26 Januari nanti.

Bahkan, jelas Biren, ada beberapa perusahaan swasta India yang melakukan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Indonesia.

India sedang mengembangkan energi bersih dan menargetkan produksi pembangkit energi nuklir sebesar 16.000 megawat pada 2015.

"Sekarang kami hanya bisa menciptakan 4.000 megawatt energi nuklir, diharapkan pada 2015 kami bisa mencapai 16.000 megawatt," kata Dubes Biren.

Ia menjelaskan India masih terbatas dalam pembangunan instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) secara mandiri.

Menurut dia, India masih bergantung dengan energi batu bara, dan terfokus dengan energi bersih yang tidak mengontribusikan pemanasan global, seperti energi matahari, angin, nuklir dan air.

India baru memiliki lebih 20 pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang dibangun sendiri.

Dalam hal pembangkit listrik tenaga angin, katanya, India menghasilkan 12.000 megawatt listrik, yang merupakan penghasil terbesar ketiga dunia.

Pada bagian lain Biren menyinggung perdagangan kedua negara yang terus meningkat.

"Terjadi peningkatan 10-20 persen pertumbuhan perdagangan keduanya," tambahnya.

Data-data yang ada pada ANTARA, nilai total perdagangan Indonesia dengan India diperkirakan mencapai 12 miliar dolar AS selama 2010, lebih besar dari 2009 maupun 2008 sebelum terjadi krisis global.

Perkiraan itu dinilai realistis mengingat nilai total perdagangan antara kedua negara sempat menurun sedikit menjadi 9,6 miliar dolar AS pada 2009 akibat krisis global, dan menunjukkan peningkatan bermakna selama 2010.

Menurut data Kementerian Perdagangan, nilai total perdagangan antara Indonesia dan India sepanjang Januari-September 2010 sudah mencapai 9,3 miliar dolar AS.

Selain itu, pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan India (ASEAN India Free Trade Agreement/AIFTA) juga sedikit banyak ikut mendorong peningkatan perdagangan antara kedua negara.

Indonesia mulai memberlakukan AIFTA pada 1 Oktober, tapi penggunaan fasilitas preferensi AIFTA sudah cukup banyak.

Menurut data Kementerian Perdagangan nilai Surat Keterangan Asal (SKA) preferensi AIFTA sudah mencapai 120 juta dolar AS.

Ekspor Indonesia ke India, yang jumlah penduduknya mencapai 1,17 miliar dan ekonominya pada 2010 tumbuh 8 persen, cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

"Indonesia mengalami surplus dalam perdagangan dengan India," kata Dubes Biren.

Nilai ekspor Indonesia ke India yang pada 2005 mencapai 2,9 miliar dolar AS naik menjadi 3,4 miliar dolar AS pada 2006, dan bertambah menjadi 4,9 miliar dolar AS pada 2007. Tahun 2008, nilai ekspor Indonesia kembali naik menjadi 7,1 miliar dolar AS dan naik lagi menjadi 7,4 miliar dolar AS pada 2009.

Selama Januari-Agustus 2010, ekspor Indonesia ke India mencapai enam miliar dolar AS atau meningkat 34,7 persen jika dibandingkan periode yang sama 2009.

Surplus perdagangan Indonesia ke India selama kurun waktu itu mencapai 4,6 miliar dolar AS.

Dalam hal ini komoditas ekspor terbesar Indonesia ke India antara lain minyak sayur, minyak sawit mentah, batu bara, biji tembaga, kacang mete, kertas koran, mesin dan elektronik, produk kimia, karet alam, balata, barang dari kaca dan bubur kertas.

Sementara komoditas ekspor terbesar India ke Indonesia antara lain benang nilon, bahan kimia organik, produk besi dan baja, tembaga dimurnikan, serat sintetis, kapas.(*)
(T.KR-IFB/R009)
ANTARA

Rp720 Miliar untuk Ganti Dewaruci

Rabu, 12 Januari 2011 13:08 WIB |
Jakarta (ANTARA News) - Markas Besar TNI Angkatan Laut mengalokasikan anggaran sebesar Rp720 milliar, untuk pengadaan kapal layar tiang tinggi menggantikan kapal sejenis KRI Dewaruci.

"Usia KRI Dewaruci saat ini sudah 58 tahun, jadi sudah saatnya pensiun dan dengan dana sebesar itu. Kita harus dapat pengganti yang lebih baik," kata Kasal Laksamana TNI Soeparno di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan, KRI Dewaruci dibuat pada 1952 oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman dan pertama kali diluncurkan pada 24 Januari 1953.

Pada Juli 1953, kapal tersebut dilayarkan dari Jerman ke Indonesia oleh taruna dan kadet AAL untuk menjadi kapal latih calon perwira TNI AL.

KRI Dewaruci dengan panjang 58,30 meter, lebar lambung 9,50 meter, draft 4,50 meter, dan bobot mati 847 ton itu, telah dilengkapi dengan sistem navigasi canggih dan komputerisasi.

Kapal tipe "Barquentin" ini memiliki tiga tiang utama dengan 16 layar. Selain itu, kapal ini dilengkapi mesin berkekuatan 986 PK diesel dengan kecepatan maksimal 10,5 knot.

Hingga kini Mabes TNI AL masih melakukan penjajakan ke sejumlah negara yang mampu membuat kapal layar tiang tinggi seperti KRI Dewaruci.

Soeparno berharap pengganti KRI Dewaruci sudah dapat dioperasionalkan pada 2014.

"Nantinya, KRI Dewaruci tetap akan digunakan. Tetapi untuk misi-misi pelayaran yang tidak terlalu berat di dalam negeri," katanya.

Selain sebagai kapal latih bagi para kadet TNI Angkatan Laut, Dewaruci dalam rangkaian muhibahnya setiap tahun juga menjalankan misi diplomasi RI di mancanegara.
(R018/B010)

COPYRIGHT © 2011

ANTARA

SEBELUMNYA

KRI Dewaruci Raih Penghargaan di Yunani




Kapal latih TNI Angkatan Laut KRI Dewaruci dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) mendapat penghargaan di Yunani.
Penghargaan yang diberikan adalah ‘The Best Ships In Crew Parade’ dalam acara The Historical Seas Tall Ships Regatta 2010. Selain itu KRI Dewaruci juga menyabet penghargaan ‘The Vurthest Distance’ atau peserta terjauh.
Bahkan kru KRI Dewaruci yang dipimpin komandan kapal Letkol Laut (P) Suharto dan 88 ABK mengikuti kirab di Kota Volos, Yunani pada Senin (10/5/2010) waktu setempat.
KRI Dewaruci mengarungi samudera selama 9 bulan PP dengan menempuh jarak 24.676 mil laut atau 45.650 km dan akan menyinggahi 25 negara di Eropa.
Selama melaksanakan pelayaran muhibah ke benua biru, KRI Dewaruci juga mengikuti beberapa kegiatan kejuaraan
layar bergengsi tingkat internasional yang pernah diraih seperti The Historical Seas Tall Ships Regatta 2010 dengan rute, Yunani-Bulgaria-Istambul (Turki) dan KRI Dewaruci mendapatkan penghargaan bergensi pada event itu.
Pada tanggal 13 Juli-7 Agustus 2010 mengikuti The Tall Ships Race 2010 dengan rute, Antwerp (Belgia)-Aalborg (Denmark)-Kristiansand (Norwegia)-Hartlepool (Inggris). Pada tanggal 20-23 Agustus mengikuti festival Sail Amsterdam di Belanda.
Tanggal 25-29 Agustus 2010 mengikuti Sail Brernerhaven 2010 di Jerman. Kemudian pada tanggal 8-13 September 2010 mengikuti Festival International Mediferraneo And Velieri di Cagliari (Italia).(penarmatim@yahoo.com)

Monday, January 10, 2011

Elang Hitam/J-20 STEALTH melakukan undergoing testing



BEIJING - Video Pesawat tempur siluman China, Chengdu J-20 saat melakukan ground-test yang diambil pada 9 Januari 2011 lalu. Credit for pengrong1000

you tube

DPR: Kaji Ulang Kerja Sama Pesawat Tempur

F33- sebelumnya KFX 201
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah, terutama Menteri Pertahanan, diminta untuk mengkaji ulang kerja sama pembuatan pesawat tempur Korean Fighter eXperimental antara Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan. Dorongan ini disampaikan menyusul ketegangan antara Korea Selatan dan tetangganya, Korea Utara.

Di tengah situasi ini Indonesia memang memiliki kerja sama urunan dengan Korsel untuk proyek pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 mulai tahun 2012. Meski keduanya akan urunan dana pembiayaan, politikus PDI-P, Hasanuddin, mengatakan, Korsel akan memimpin proyeknya.

"Mau tak mau, suka tak suka, leader-nya adalah Korsel. Dengan demikian, visi dan misi ke depan dari KFX itu tentu acuannya harus dengan kekuatan yang melawan pesawat dari Korut. Dari sisi pertahanan kita barangkali enggak besar pengaruhnya, tapi dari sisi politik kita keluar dari politik bebas aktif karena menjadi tidak fair terhadap Korut," katanya di Gedung MPR/DPR/DPD, Selasa (11/1/2011).

Oleh karena itu, Hasanuddin ini meminta Menteri Pertahanan mempertimbangkan ulang perjanjian kerja sama itu. Menurutnya, selama ini pemerintah tak pernah membicarakannya dengan DPR karena perjanjian kerja sama tersebut bersifat teknis. Namun, secara politik, bisa mengganggu hubungan Indonesia dengan Korut. "Jadi kerja sama saja dengan negara yang lebih netral," tandasnya.

Sumber: KOMPAS

ADMIN INDONESIA DEFENCE
Menurut Pendapat saya kerjasama dalam pembuatan F33 yang sebelumnya KFX 201 antara RI dan KORSEL itu tidak mengurangi Politik Bebas Aktif Kita, kita perlu mandiri dalam bidang ALUTSISTA  agar kedepan kita tidak tergantung oleh pembuat senjata semisal USA dan Russia, sehubungan kita belum mampu untuk membuat sendiri kita harus kerjasama dengan negara lain, semoga proyek ini tidak dihentikan maju terus indonesiaku

Elang Hitam Stealth Baru Cina Menandingi F-22 Raptor





J-20
TEMPO Interaktif, Beijing - Jajaran pesawat jet tempur generasi kelima kini semakin ramai dengan kehadiran Chengdu J-20, pesawat jet stealth pertama Cina. Dengan panjang 23 meter, pesawat yang dijuluki elang hitam itu jauh lebih besar dan berat dibandingkan dengan pesawat sejenisnya, semisal F-22 Raptor milik Amerika Serikat dan Sukhoi T-50 dari Rusia.

Kemunculan Chengdu J-20 cukup mengejutkan militer Barat, yang menduga pesawat itu baru rampung pada 2017-2019. Pesawat yang terungkap keberadaannya lewat sejumlah foto jarak jauh itu adalah perpaduan antara teknologi mesin Rusia dan desain bodi pesawat mirip F-22 yang dapat menghindari deteksi radar.

Pesawat bermesin kembar dengan satu awak itu memiliki rentang sayap sekitar 14 meter, dan diperkirakan memiliki berat 34-36 ribu kilogram ketika lepas landas. Para analis militer memperkirakan pesawat prototipe itu menggunakan mesin Saturn 117S buatan Rusia. Namun Cina mengklaim dua mesin turbofan berdaya dorong 13.200 kilogram/WS-10 yang dilengkapi dengan nozzle thrust vector controlled (TVC) ini sepenuhnya buatan dalam negeri.

Belum adanya keterangan resmi dari pemerintah Cina tentang pesawat tempur generasi kelima itu membuat sejumlah analis militer Barat masih meraba-raba kemampuan J-20 atau JXX. Mereka memperkirakan pesawat itu memiliki kemampuan jelajah dan kecergasan yang masih berada di bawah pesawat F-22 buatan Lockheed Martin, tapi mempunyai anjungan senjata dan tangki bahan bakar yang lebih besar.

Dari foto-foto yang diambil di sekitar Chengdu Aircraft Design Institute di Provinsi Sichuan, sebelah barat Cina, tempat pesawat itu dikembangkan, diperlihatkan bahwa J-20 mempunyai bodi yang panjang dan lebar dengan sayap utama berbentuk delta, canard, kanopi berbentuk gelembung, dan saluran pembuangan mesin konvensional berbentuk melingkar. Dalam tes runway, bagian depan pesawat itu berujung tajam seperti F-22 Raptor, namun badan dan ekornya mirip prototipe Sukhoi T-50.

Matthew Buckley, pilot jet tempur Angkatan Laut Amerika, yakin J-20 memiliki kemampuan siluman yang hebat bila dilihat dari bentuk luar pesawat yang berlekuk-lekuk, mengindikasikan teknologi stealth di dalamnya. Pesawat itu juga tak banyak dilengkapi dengan komponen eksternal, seperti tangki bahan bakar dan misil. "Pesawat itu dirancang untuk mengurangi tanda-tanda yang dapat terbaca radar," ujarnya. "Pesawat itu mempunyai teknologi stealth yang hebat. F-18 yang saya pakai terlihat seperti truk besar dalam radar. Pesawat itu ada kemungkinan sama sekali tidak tampak."

Richard Fisher, senior fellow hubungan militer Asia di International Assessment and Strategy Center, think tank keamanan di Washington, menyatakan bahwa pejabat Cina mengaku program itu bertujuan menandingi F-22 Raptor. "Pesawat itu memiliki potensi besar mengalahkan F-22, dan jauh lebih unggul dibanding F-35," katanya.

Fisher menyoroti teknologi stealth Chengdu J-20 dan kemampuannya melakukan super-cruise atau terbang dengan kecepatan supersonik tanpa perlu menggunakan afterburner yang menyedot banyak bahan bakar. Dia mengatakan J-20 mempunyai kemampuan supermanuver karena mesin thrust-vectored yang membuatnya bisa membelok tajam.

Sang "elang hitam" dianggap sebagai langkah luar biasa Angkatan Udara Cina, yang selama ini masih mengandalkan pesawat buatan asing. "Pesawat itu akan segera mengadakan penerbangan perdananya dalam waktu dekat," kata Peter Felstead, editor Jane's Defence Weekly.

Meski masih beberapa tahun lagi sebelum J-20 dapat beroperasi, pesawat itu telah membuat Amerika Serikat merasa was-was bakal kehilangan dominasi di kawasan Pasifik. Namun Duta Besar Cina untuk Inggris, Liu Xiaoming, menegaskan bahwa negerinya tak berambisi menyaingi kekuatan militer Amerika di Pasifik barat. "Kami bukanlah rival Amerika," ujarnya. "Kami percaya Amerika dan Cina dapat bekerja sama di kawasan itu."

Sumber: TEMPO

Tejas Lakukan "Operational Clearance" Pertama






11 Januari 2011 -- (Berita HanKam): Jet tempur buatan India LCA Tejas terbang saat 'Initial Operational Clearance' sebelum dioperasikan AU India di bandara Hindustan Aeronautical Ltd. (HAL) di Bangalore, India, Senin (10/1). Operational Clearance diharapkan selesai dalam dua tahun. Tejas akan gantikan jet tua MiG-21. Menhan India AK Antony mengumumkan AL dan AU India akan operasikan 200 Tejas. AU India mengharapkan mempunyai 7 skuadron (140 pesawat) Tejas akhir dekade ini. (Foto: Getty Images/AP)

berita hankam

Serial Latihan Tactman & Rasap Saat KRI Frans Kaisiepo-368 Menjadi MIO

KRI Frans Kaisiepo-368. (Foto: José Rubia)

10 Januari 2011, Lebanon -- (TNI AL): Kehadiran Maritime Task Force/UNIFIL di wilayah Lebanon terbukti cukup berpengaruh terhadapterciptanya situasi kondusif di sekitar wilayah perbatasan Lebanon –Israel. Hal ini tidak terlepas dari peranan MTF (Maritime Task Force) yang melaksanakan kegiatan MIO (Maritime Interdiction Operation) di wilayah Perairan Lebanon sebagai salah satu pilar utama dalam pelaksanaan Mandat UNSCR 1701 dan 1884. Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut dikoordinir oleh MIO Commander yang dituntut untuk mampu melaksanakan identifikasidan penentuan status seluruh kontak yang melewati/berada di AMO (Area of Maritime operation)berdasarkan laporan permukaan dan kontak udara guna membangun RMP (Recognized Maritime Picture) dan AMP (Air Maritime Picture).

Tuntutan tersebut seringkali menempatkan unsur-unsur frigate MTF khususnya yang berasal dari Negara NATO dengan kemampuan sewaco (sensor wepon and command systems) yang memadai dan sustainability terhadap cuaca buruk untuk mengemban fungsi sebagai MIOCommander. Namun demikian kehadiran KRI Frans Kaisiepo-368 yang ditunjang profesionalisme prajurit pengawak, dan kemampuan sewaco yang memadai mampu menampilkan performa yang meyakinkan dalam berbagai kegiatan operasi MTF telah meraih simpati dan kepercayaan, hal tersebut dapat terlihat dengan ditunjuknya kembali KRI Frans Kaisiepo-368 sebagai MIO Commander.

FGS Auerbach M-1093. (Foto: Cpt. Lawrence Dalli)

Selama menjalankan tugas sebagai MIO Commander, selain diisi dengan latihan internal juga dimanfaatkan untuk melaksanakan latihan bersama dengan unsur MTF lainnya melalui serial latihanTactical Maneuvering Exercise. Selain bertujuan untuk memelihara profesionalisme prajurit pengawak, latihan ini merupakan salahsatu bentuk latihan dasar untuk melatih kerja sama kapal-kapal dalam suatu satuan tugas/task force.

Dalam suatu peperangan laut setiap aksi peperangan baik dalam rangka penyerangan maupun pertahanan hampir selalu diawali dengan pergerakan/manuver taktis dimana dalam pelaksanaannya seluruh kapal dalam satuan tugas secara terkoordinir bergerak dengancepat, dan bersamaan/serentak. Serial latihanTactical Maneuvering Exercise yang berlangsung pada tanggal 09 Januari 2011 ini diikuti KRI Frans Kaisiepo-368, TCG Fatih F-242 (Turkey) dan FGS Auerbach M-1093 (German)diawali dengan penyusunan organisasi untuk bergerak dalam suatu fomasi dalam konteks peperangan laut. Selanjutnya kapal-kapal melaksanakan pembentukan single line formation untuk seterusnya melaksanakan manuver taktis dengan kecepatan tinggiberdasarkan berita taktis yang dikirim melalui radiokomunikasi maupun isyarat kibaran bendera. Dalam latihan tersebut KRI Frans Kaisiepo-368 dan TCG Fatih F-242 dari TG 448.01 yang dilengkapi dengan peralatan sewaco dan kemampuan tempur yang merupakan tulang punggung MTF melaksanakan maneuver taktis pembentukan berbagai formasi untuk mendukung aksi-aksi pertahanan dan mutual defense guna melindungi FGS Auerbach-M1093 dari TG 448.03.

TCG Fatih F-242. (Photo: Arda Mevlutoglu)

Secanggih apapun unsur-unsur/kapal perang yang dimiliki suatu satuan tugas laut, maneuver taktis tetap merupakan salah satu factor penting dalam aksi-aksi peperangan laut. Serial latihan Tactical Maneuvering Exercise melatih kerja sama baik internal kapal dalam hal ini Tim anjungan, Tim komunikasi, Tim CIC (Combat Information Centre) dan Tim Pengawak Mesin Pendorongan maupun kerja sama dengan kapal counterpart. Kerja sama ini salah satunya dapat tercermin melalui manuver taktis yang cermat, akurat dan cepat yang akan sangat mendukung aksi-aksi dalam konteks peperanganlaut untuk meraih kecepatan dan akurasi yang merupakan hal yang esensialguna memperoleh momentum penyerangan tepat yang menentukan kemenangan dalam pertempuran laut, demikian dijelaskan oleh Komandan KRI Frans Kaisiepo-368 Letkol Laut (P) Wasis Priyono,ST.

Rangkaian kegiatan latihan selama KRI Frans Kaisiepo-368 sebagai MIO Commander diakhiri dengan Latihan RASAP (Replenishment At Sea Approach) antara Frans Kaisiepo-368denganTCG Fatih F-242padatanggal09 Jan 2011 di Zone 1 Center AMO. Latihan RASAP ini melengkapi pelaksanaan latihan RASEX/UNREPyang telah dilaksanakan sebelumnya antara KRI Frans Kaisiepo-368 dengan BNS Osman F-18. Dalam latihan RASAP tersebut KRI Frans Kaisiepo-368 dan TCG Fatih F-242 secara bergantian melaksanakan approach maneuver sebagai receiving ship (kapal penerima) terhadap delivering ship (kapal pemberi). LO LT Jalal Douaihy (LAF Navy) yang menyaksikan langsung rangkaian kegiatan latihan selama on board di KRI Frans Kaisiepo-368 (MIO Commander) memberikan komentar positif : You have very good ship, very clean & smart, well managed and very good handling. The officers & crews is professional, reliable and always eager to have exercise … I wonder how do u guys train the crew“

Walaupun menghadapi tantangan cuaca musim dingin yang kurang bersahabat, seluruh rangkain kegiatan latihan selama KRI Frans Kaisiepo-368 dapat dilaksanakan dengan aman dan lancar berkat kerja sama dan koordinasi yang baik antara unsur-unsur MTF. Komandan KRI Frans Kaisiepo-368, TCG Fatih F-242 dan FGS Auerbach M-1093 memberikan apreasiasi yang positif atas keberhasilan dan kelancaran pelaksanaan rangkaian kegiatan latihan. Melalui latihan tersebut profesionalisme dan performa yang ditunjukkan KRI Frans Kaisiepo-368 dalam kegiatan operasi MTF semakin memperkua tkepercayaan dunia internasional bahwa unsur TNI AL yang berpangkalan di Armada Timur ini pantas untuk disejajarkan dengan unsur NATO yang selama ini mendominasi kegiatan operasi Maritime Task Force/UNIFIL.

Sumber: Dispenal

Iraq Belanjakan 26 Milyar Dolar Senjata Buatan AS


Kapal perang AL Iraq buatan Amerika Serikat diresmikan pengoperasiannya di Pangkalan AL Iraq Umm Qasr, 26 September 2010. (Foto: Getty Images)

11 Januari 2011 -- (Berita HanKam): Iraq akan membeli senjata senilai 13 milyar dolar dari Amerika Serikat hingga 2013 dan akan membelanjakan 13 milyar dolar lagi, diberitakan harian Al Ittihad mengutip pernyataan juru bicara Kementrian Pertahanan Mayor Jenderal Mohammed Al Askari.

Mayjen Askari mengatakan Iraq telah meneken kontrak lebih dari 13 milyar dolar dengan AS.

Iraq memborong pesawat udara, helikopter, tank, ranpur, kapal perang dan rudal, dioperasikan Angkatan Bersenjata dan Kementrian Dalam Negeri Iraq.

Sumber: RIA Novosti

Korsel dan Jepang Tandatangani Nota Kerjasama Militer

Menteri Pertahana Korea Selatan, Kim Kwan-jin bertemu dengan sejawatnya dari Jepang, Toshimi Kitazawa membahas kerjasama militer kedua negara. Kim Kwan-jin dan Kitazawa Senin (10/1) bertemu di Seoul, Korsel membicarkan upaya peningkatan kerjasa bilateral di bidang militer. Demikian lapor Kantor Berita Xinhua.
Dalam pertemuan tersebut keduanya juga menandatangani sejumlah nota kerjasama militer dan menyampaikan kekhawatirannya soal keamanan kawasan.
Sejumlah laporan menyebutkan agenda utama perundingan keduanya membahas mekanisme penyimpanan data dan informasi militer. Media massa Jepang menepis sejumlah pemberitaan soal kemungkinan penandatanganan nota kesepahaman militer bersama antara Seoul dan Tokyo guna meningkatkan kerjasama militer kedua negara. (IRIB/Xinhua/MF/PH)
irib

Sunday, January 9, 2011

Korsel Pasang Sensor Bawah Laut Dekat Korut

Seoul  (ANTARA News) - Militer Korea Selatan akan memasang sensor bawah laut dekat perbatasan lautnya dengan Korea Utara untuk mengantisipasi serangan kapal selam dari seterunya itu, menurut laporan pada Senin.

Harian bisnis The Maeil mengatakan militer Korsel berencana untuk menempatkan sensor itu di pulau terluar yang berada di Laut Kuning, tempat pertempuran luat berdarah pada 1999, 2002 dan November 2009.

Sebuah korvet Korsel tenggelam dekat wilayah perbatasan yang masih dalam sengketa pada Maret tahun lalu, yang menurut Korsel merupakan serangan torpedo dari kapal selam Korut, sebuah tuduhan yang dibantah Pyongyang. Tenggelamnya kapal itu merenggut nyawa 46 orang.

Pada November tahun lalu Korut juga membombardir Pulau Yeonpyeong yang menewaskan empat orang termasuk warga sipil.

"Kami merencanakan untuk menempatkan sejumlah sensor bawah laut guna meningkatkan kapabilitas pertahanan di kepulauan penting timur laut seperti Baengnyeong dan Yeonpyeong menyusul penenggelaman kapal perang Cheonan," kata seorang perwira militer yang tidak diidentifikasi seperti dikutip koran itu.

Pusat kontrol yang akan memantau sensor tersebut akan ditempatkan di pulau Baengnyeong, titik terdekat dengan perbatasan Korut, tulisnya.

Namun kementerian pertahanan menolak berkomentar terhadap laporan itu dengan menyebut informasi semacam itu tergolong rahasia.

Ketegangan lintas perbatasan kedua Korea semakin akut sejak bombardir Korut terhadap pulau Yeonpyeong.

Sejak itu Korsel telah menggelar sejumlah latihan militer, baik laut maupun daratan, termasuk sebuah latihan besar yang melibatkan Amerika Serikat, dalam upaya untuk unjuk kekuatan terhadap Pyongyang.(*)

ANTARA

Korsel Tolak Tawaran Dialog Korut

Seoul (ANTARA News) - Korea Selatan pada Senin menyatakan penolakannya atas tawaran dialog terbaru dari Korea Utara, seraya mengatakan bahwa negara itu harus dinilai berdasarkan tindakannya bukan kata-katanya.

Korut membuat penawaran resmi pada Sabtu untuk sebuah pembicaraan pembukaan dan tanpa syarat dalam beberapa minggu kedepan, sebagaimana dikutip dari AFP.

Tawaran terbaru tersebut diikuti dengan redanya ketegangan di Semenanjung Korea, yang sempat memuncak kala Korut membombardir sebuah pulau di perbatasan Korsel pada 23 November serta menewaskan empat orang, termasuk warga sipil.

Namun Kementerian Urusan Unifikasi Korsel, yang menangani hubungan lintas perbatasan, menolak upaya terbaru Korut untuk memulihkan ketegangan itu.

"Sulit menilai apakah tawaran dialog itu merupakan sesuatu yang tulus atau bukan, pertama-tama Korut sebaiknya menunjukkan dulu keseriusannya tentang denuklirisasi," kata juru bicara kementerian Chun Hae-Sung.

"Korea Utara harus mengambil langkah bertanggung jawab yang dapat diterima warga kami terkait pembombardiran November dan penenggelaman kapal Korsel pada Maret tahun lalu," katanya.

"Pintu dialog akan terbuka bila Korut telah menunjukkan sikap yang tulus," katanya.

Korsel mengatakan bahwa Korut menembakkan torpedo ke kapal mereka di perairan sengketa dekat perbatasan Laut Kuning yang merengut 46 nyawa, sebuah tuduhan yang dibantah Pyongyang.

Ketegangan antar kedua negara semakin akut sejak aksi bombardir Korut yang merupakan serangan pertama terhadap wilayah sipil Korsel sejak perang kedua negara pada 1950-1953. Korsel telah menggelar sejumlah latihan militer sebagai aksi balasan dan unjuk kekuatan.

Komite untuk Reunifikasi Perdamaian Ibu Pertiwi di Pyongyang pada Sabtu mengatakan tidak ada syarat yang diajukan Korut untuk dialog tersebut sehingga tidak perlu ada keraguan atas kesungguhan niat mereka.
(ANT/A024)
ANTARA

USS CARL VINSON CSG TO VISIT REPUBLIC OF KOREA





The USS Carl Vinson Carrier Strike Group (CSG) will visit the Republic of Korea (ROK) Jan. 11.

USS Carl Vinson (CVN 70) and USS Bunker Hill (CG 52) will visit Busan; USS Gridley (DDG 101) and USS Stockdale (DDG 106) will visit Chinhae.

The Carl Vinson CSG is conducting a regularly scheduled deployment to the Western Pacific. While in port, the crews will participate in community service projects, as well as sporting events, with the ROK Navy.

"Regular visits to ports in this region are an important part of our presence and engagement here. We are not only allies but we've been fortunate to forge real friendships with the Korean people," said Rear Adm. Samuel Perez, Carl Vinson CSG commander. "Through the events we have planned in Busan and Chinhae, our Sailors are looking forward to learning more about this wonderful culture and strengthening an already healthy relationship."

In addition to the surface ships attached to the strike group, Carl Vinson is home to Destroyer Squadron 1 and Carrier Air Wing 17, which includes: the "Red Lions" of Helicopter Anti-submarine Squadron 15; the "Fighting Redcocks" of Strike Fighter Squadron (VFA) 22; the "Fists of the Fleet" of VFA 25; the "Sunliners" of VFA 81; the "Stingers" of VFA 113; the "Rawhides" of Fleet Logistics Support Squadron 40; the "Garudas" of Electronic Attack Squadron 134; and the "Tigertails" of Carrier Airborne Early Warning Squadron 125.

"For many of our Sailors, this will be their first visit to a foreign land," said Perez. "We feel very fortunate that they'll be able to experience that here and build relationships they'll remember for years to come."

The U.S. Navy maintains a robust forward presence in the Asia-Pacific region, utilizing both forward deployed naval forces in Japan and Guam, as well as rotationally deployed forces from the continental United States and Hawaii.

Carrier Strike Group 1 was formally established October 1, 2009, and led Carl Vinson and Bunker Hill when the ships supported disaster response and humanitarian operations in Haiti in 2010.

This is Bunker Hill's first deployment since it underwent cruiser modernization, the first Ticonderoga-class guided-missile cruiser to complete its mid-life modernization.

This is Stockdale's maiden deployment, and Carl Vinson's first deployment to 7th Fleet since 2005.

AMR

AUSTRALIA WELCOMES JSF RESTRUCTURE





The Acting Minister for Defence Jason Clare today welcomed the restructure of the Joint Strike Fighter (JSF) Program by US Defense Secretary Robert Gates.

The restructure follows a detailed six month Technical Baseline Review of the JSF Program's progress by the US Department of Defense to examine the remaining development tasks and the resources and time required to complete them.

The restructure will see an extension of the System Design and Development phase and a reduction in the production rate in the earlier batches of aircraft. The US will fund costs associated with extended design and test activity.

The JSF Program involves the development of three different types of aircraft:

1) the F-35A Conventional Take Off and Landing (CTOL) variant;
2) the F-35B Short Take Off and Vertical Landing (STOVL) variant; and
3) the F-35C Carrier Variant (CV).

Australia is purchasing the CTOL variant. The US Air Force is also purchasing this variant.

Secretary Gates confirmed today that this variant was on schedule and proceeding satisfactorily.

In 2010 it exceeded its test flight targets.

Secretary Gates advised that the STOVL variant being developed for the US Marines is experiencing significant testing problems and has now been placed at the back of the overall JSF production sequence.

Mr Clare welcomed the news that the development of the aircraft Australia is purchasing is on schedule and proceeding satisfactorily.

Defence has advised that the restructure of the US JSF Program will reduce overall program risk to Australia and should not affect Australia's planned introduction date for the JSF.

The Australian Government approved the acquisition of the first 14 aircraft in November 2009. The first two aircraft will be delivered in 2014. The first 10 aircraft will initially remain in the United States for pilot and maintainer training. The remaining four aircraft are planned to arrive in Australia in 2017 for operational test and evaluation activities with other ADF equipment to achieve an initial operational capability in Australia from 2018.

Defence has also advised it is confident Australia has adequate buffers in place to withstand any changes to the cost and schedule.

'Australia has always adopted a conservative approach to JSF cost estimates and has explicitly included contingency funds and buffers to the schedule,'
Mr Clare said.

recent agreement between Lockheed Martin and the US Department of Defense to move to fixed price contract agreements ' at a lower price than independent estimates ' has enhanced confidence in the costs for future JSF production.

In December last year Mr Clare met with senior US Defense officials in Washington and inspected the Lockheed Martin JSF production line in Fort Worth Texas.

AMR

BOEING DELIVERS 4 MORE SUPER HORNETS TO AUSTRALIA AHEAD OF SCHEDULE



Boeing delivered four new F/A-18F Super Hornets to Royal Australian Air Force (RAAF) Base Amberley in December, expanding the RAAF's fleet of the advanced multirole fighters to 15. The delivery enabled the RAAF's achievement of Initial Operating Capability (IOC) with its first Super Hornet squadron, the Amberley-based No. 1.

Boeing has delivered all 15 Super Hornets to Australia ahead of schedule.
"Early delivery of our new Super Hornets at Amberley has been a vital part of our path toward IOC for our first Super Hornet squadron, which we have now achieved ahead of schedule," said RAAF Group Capt. Steve Roberton, Officer Commanding 82 Wing, which operates the Super Hornet. "As we've continued to hit our marks on time -- or early, in many instances -- with the Super Hornet program, we've enabled the RAAF to ensure Australia's regional air superiority as we transition from the F-111 and classic Hornet."

The December arrival was the third Super Hornet delivery to the base during 2010. Three aircraft in the latest delivery were prewired for potential conversion to electronic attack capability during production at Boeing facilities in St. Louis; the remaining nine aircraft in the contract will be prewired in the same way before delivery to the RAAF's No. 6 Squadron.

"The Boeing Super Hornet team has surpassed expectations by delivering 15 aircraft to the RAAF in 2010 instead of the 12 originally scheduled," said Carolyn Nichols, Australian Super Hornet program manager for Boeing. "Additionally, each aircraft has been delivered within budget. We are fully committed to ensuring the same delivery success and budget excellence throughout 2011. We congratulate the men and women of the RAAF on the outstanding achievement of reaching No. 1 Squadron's Super Hornet IOC ahead of schedule."

The Australian government announced in March 2007 that it would acquire 24 of the advanced Block II versions of the Super Hornet, all of which are equipped with the Raytheon-built APG-79 Active Electronically Scanned Array (AESA) radar.

The Boeing Super Hornet is a multirole aircraft, able to perform virtually every mission in the tactical spectrum, including air superiority, day/night strike with precision-guided weapons, fighter escort, close air support, suppression of enemy air defenses, maritime strike, reconnaissance, forward air control and tanker missions. Boeing has delivered more than 440 F/A-18E/Fs to the U.S. Navy. Every Super Hornet produced has been delivered on or ahead of schedule and on budget.

AMR

MALAYSIAN CHIEF OF ARMY CURRENTLY ON SINGAPORE VISIT




Malaysian Chief of Army General (GEN) Dato' Sri Zulkifeli bin Mohd Zin called on Deputy Prime Minister and Minister for Defence Teo Chee Hean at the Ministry of Defence this morning. GEN Dato' Sri Zulkifeli, who is in Singapore from 6 to 8 Jan 2011 for his introductory visit, also called on Chief of Defence Force Lieutenant-General Neo Kian Hong and Chief of Army Major-General Chan Chun Sing earlier today.

As part of his visit, GEN Dato' Sri Zulkifeli was at the Motorised Infantry Training Institute at Kranji Camp yesterday where he rode in a Terrex Infantry Carrier Vehicle. He will also be visiting Hendon Camp this afternoon, where he will tour the Parachutists' Training Facilities and be presented with the Honorary Master Parachutist Wing.

GEN Dato' Sri Zulkifeli's visit underscores the long-standing defence relations between Singapore and Malaysia. The armies of both countries interact regularly in a range of activities including professional exchanges, bilateral exercises, such as Exercise Semangat Bersatu, and multilateral exercises such as the Five Power Defence Arrangements exercises. These interactions have enhanced the mutual understanding and friendship between the personnel of both armies.

AMR

INDONESIA COMMANDER-IN-CHIEF VISITING SINGAPORE




The Commander-in-Chief of the Indonesian National Defence Forces (TNI), Admiral (ADM) Agus Suhartono, called on Deputy Prime Minister and Minister for Defence Teo Chee Hean at the Ministry of Defence this morning. ADM Suhartono, who is on his introductory visit to Singapore from 7 to 8 Jan 2011, also called on Chief of Defence Force Lieutenant-General Neo Kian Hong this morning and will be calling on Prime Minister Lee Hsien Loong at the Istana this afternoon.

The visit by ADM Suhartono underscores the long-standing and strong defence ties between Singapore and Indonesia. The Singapore Armed Forces and the TNI interact regularly through a wide range of activities, which include visits, cross-attendance of courses, professional exchanges and bilateral exercises such as Exercise Elang Indopura, Exercise Eagle and Exercise Safkar Indopura. These extensive interactions have strengthened mutual understanding and defence ties between the two armed forces.

ADM Suhartono received the Meritorious Service Medal (Military) in September 2010, when he was the Chief of Naval Staff of the Indonesian Navy, in recognition of his outstanding contributions towards enhancing the good relations between the Indonesian Navy and the Republic of Singapore Navy.

AMR

China Naval Modernization: Implications for US Navy Capabilities

China Naval Modernization: Implications for US Navy Capabilities

The question of how the United States should respond to China’s military modernization effort, including its naval modernization effort, has emerged as a key issue in U.S. defense planning.
Admiral Michael Mullen, the Chairman of the Joints Chiefs of Staff, stated in June 2010 that “I have moved from being curious to being genuinely concerned” about China’s military programs.
The question of how the United States should respond to China’s military modernization effort is of particular importance to the U.S. Navy, because many U.S. military programs for countering improved Chinese military forces would fall within the Navy’s budget.
Decisions that Congress and the executive branch make regarding U.S. Navy programs for countering improved Chinese maritime military capabilities could affect the likelihood or possible outcome of a potential U.S.-Chinese military conflict in the Pacific over Taiwan or some other issue. Some observers consider such a conflict to be very unlikely, in part because of significant U.S.-Chinese economic linkages and the tremendous damage that such a conflict could cause on both sides.
In the absence of such a conflict, however, the U.S.-Chinese military balance in the Pacific could nevertheless influence day-to-day choices made by other Pacific countries, including choices on whether to align their policies more closely with China or the United States.
In this sense, decisions that Congress and the executive branch make regarding U.S. Navy programs for countering improved Chinese maritime military forces could influence the political evolution of the Pacific, which in turn could affect the ability of the United States to pursue goals relating to various policy issues, both in the Pacific and elsewhere.
China’s naval modernization effort, which began in the 1990s, encompasses a broad array of weapon acquisition programs, including anti-ship ballistic missiles (ASBMs), submarines, and surface ships. China’s naval modernization effort also includes reforms and improvements in maintenance and logistics, naval doctrine, personnel quality, education, training, and exercises.
The Department of Defense (DOD) and other observers believe that the near-term focus of China’s military modernization effort has been to develop military options for addressing the situation with Taiwan. Consistent with this goal, observers believe that China wants its military to be capable of acting as a so-called anti-access force—a force that can deter U.S. intervention in a conflict involving Taiwan, or failing that, delay the arrival or reduce the effectiveness of intervening U.S. naval and air forces.
DOD and other observers believe that China’s military modernization effort, including its naval modernization effort, is increasingly oriented toward pursuing additional goals, such as asserting or defending China’s claims in maritime territorial disputes, protecting China’s sea lines of communications, displacing U.S. influence in the Pacific, and asserting China’s status as a major world power.
Placing an increased emphasis on U.S. Navy programs for countering improved Chinese maritime military capabilities in coming years could lead to one or more of the following: developing and procuring highly capable ships, aircraft, and weapons for defeating Chinese anti-access systems; assigning a larger percentage of the Navy to the Pacific Fleet; home-porting more of the Pacific Fleet’s ships at forward locations such as Hawaii, Guam, and Japan; increasing training and exercises in operations relating to countering Chinese maritime anti-access forces, such as antisubmarine warfare (ASW) operations; and increasing activities for monitoring and understanding developments in China’s navy, as well as activities for measuring and better understanding operating conditions in the Western Pacific.

DEFENCE TALK

AS Akan Respons Kemajuan Militer China



J20 STEALTH
China rejects report of nuclear policy shift
BEIJING, KOMPAS.com — Amerika Serikat mengatakan akan merespons kemampuan militer China yang meningkat pesat dengan membangun kekuatannya sendiri di sekitar wilayah tersebut.

Robert Gates, Menteri Pertahanan AS, mengatakan hal itu saat tiba di Beijing, China, Minggu (9/1/2011), untuk mengikuti perundingan selama empat hari. Perundingan itu sendiri bertujuan memperbaharui hubungan angkatan bersenjata AS dan China. Namun, kunjungan tersebut telah dibayang-bayangi serangkaian pengumuman China tentang pertumbuhan kekuatan teknologi rudalnya, kemampuan angkatan laut, dan inisiatif pertahanan lain.

Kunjungan itu merupakan yang pertama oleh seorang Menteri Pertahanan AS sejak tahun 2000 dan terjadi saat ketegangan meningkat di wilayah tersebut. Kunjungan itu juga terjadi hampir setahun setelah China menghentikan kontak militer dengan Washington menyusul penjualan senjata ke Taiwan.

Di tengah hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang berada pada titik terendah dalam beberapa dekade, Beijing telah dibuat marah oleh latihan militer bersama AS-Korea Selatan di dekat pantainya. Sementara itu, Washington dibuat prihatin oleh meningkatnya keinginan China dalam melenturkan otot militernya. Sepuluh hari lalu, Jepang mengungkapkan bahwa negara itu telah menyiagakan jet tempurnya 44 kali dalam sembilan bulan terakhir sebagai tanggapan atas susupan Angkatan Udara China ke wilayah udara Jepang.

"Saya prihatin dengan perkembangan rudal antikapal dan rudal balistik (China) sejak saya menduduki jabatan ini," kata Gates seperti dikutip Telegraph. "Perkembangan itu jelas berpotensi menjadikan sejumlah kemampuan kami berada dalam risiko dan kami harus memberi perhatian pada hal tersebut. Kami harus menanggapi secara tepat dengan program kami sendiri."

Kamis lalu, Gates mengumumkan anggaran militer untuk lima tahun ke depan, yang akan mencakup pendanaan bagi pembangunan generasi baru pembom jarak jauh serta bagi jammers elektronik dan radar baru.

Berbagai kemajuan terbaru yang dibuat militer China telah menggelisahkan Washington. China tengah mengembangkan rudal balistik antikapal yang sudah dijuluki sebagai "pembunuh kapal induk". Perkembangan itu menjadi kekhawatiran mendalam bagi AS yang bergantung pada kapal induk bagi proyek kekuasaannya di wilayah tersebut.

Pekan lalu, Beijing juga mengumumkan apa yang tampaknya menjadi prototipe dari sebuah jet tempur siluman. Sementara itu, ada pula spekulasi bahwa China akan meluncurkan kapal induk pertamanya pada akhir tahun ini, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

Sementara anggaran pertahanan China dan program pengembangan senjatanya tetap terselubung kerahasiaan. Banyak pengamat yakin, teknologi militer China tetap satu generasi di belakang AS.


Sumber: KOMPAS

Senior Russian MP says New Start better for Russia than U.S.

Senior Russian MP says New Start better for Russia than U.S.. © RIA Novosti.Mikhail Fomichev
Senior Russian MP says New Start better for Russia than U.S.
19:14 07/01/2011
© RIA Novosti. Mikhail Fomichev

The New Start agreement with the United States on strategic nuclear arms cuts favors Russia more than the now-expired START 1 deal did, a top Russian lawmaker said on Friday.
Konstantin Kosachyov, the chairman of the State Duma's International Affairs Committee, called the fact of the agreement a breakthrough, and said the U.S. Senate's ratification of the treaty had not changed anything within the document.
"Russia is once again perceived as an equal partner with whom you can and should negotiate," he said on Ekho Moskvy radio. "This is, to emphasize once again, a breakthrough, not a compromise."
"Everything else laid out in the agreement in fact represents very substantial progress, I would say in ours and not in the Americans' favor compared with the 1991 START 1 treaty that just recently passed into history," he added.
He said that the Duma, parliament's lower house, would likely consider the ratification bill on second reading on January 14. The third and final reading, he added, would probably wait until after the upper house Federation Council returned to full session on January 26.
Kosachyov said the Duma bill would state where its interpretation of New Start differed from the U.S. Senate's, but he stressed that U.S. senators had done nothing to change the text of the treaty and neither would Russian lawmakers.
"In December, a number of amendments were voted on there [in the Senate] that went to the text of the treaty itself. Fortunately, they were voted down by the Senate, common sense prevailed, and the agreement we have is in the form in which it was signed by the presidents in April last year," he said.
Presidents Dmitry Medvedev and Barack Obama signed the treaty in Prague on April 8, 2010. The Senate ratified the treaty on December 22. The Duma approved the agreement in its first reading on December 24.
The major areas where the Russian and U.S. views of the document differ include missile defense and the use of non-nuclear warheads on delivery systems covered by the agreement.
The treaty, which replaces the START 1 agreement that expired in December 2009, cuts the Russian and U.S. nuclear arsenals to a maximum of 1,550 nuclear warheads, down from the current ceiling of 2,200.
It also limits the number of deployed intercontinental ballistic missiles (ICBMs), submarine-launched ballistic missiles (SLBMs) and heavy bombers equipped for nuclear armaments to 700.
It will come into force after ratification by both houses of the Russian parliament.
MOSCOW, January 7 (RIA Novosti)
RIA NOVOSTI

Jepang Gelar Latihan AL

Jepang Gelar Latihan AL
Tokyo (ANTARA News) - Angkatan Laut Pasukan Bela Diri Jepang Senin menggelar latihan perang di Laut China Timur yang melibatkan kapal-kapal perang Amerika Serikat, kata Kementerian Pertahanan Jepang.

USS Carl Vinson (CVN-70), salah satu supercarrier kelas Nimitz Angkatan Laut AS yang mampu membawa 90 pesawat jet tempur dan helikopter, dan beberapa kapal perusak AS berpartisipasi dalam pelatihan itu, yang diadakan di barat pulau Kyushu, kata kementerian.RIA Novosti-OANA

Saluran TV Jepang NHK mengatakan bahwa latihan ini ditujukan untuk menghalangi operasi angkatan laut yang mungkin dilakukan Korea Utara dan China.

Ketegangan di Semenanjung Korea tetap tinggi setelah penembakan terhadap pulau utara Korea Selatan Yeonpyeong pada November, yang menewaskan empat orang termasuk warga sipil.

Pada Desember, Seoul mengadakan latihan militer besar-besaran yang melibatkan ratusan personil militer dan lebih dari 100 jenis senjata, termasuk tank, rudal anti-tank, helikopter dan jet tempur.

Korea Utara kemudian memperingatkan lawan atas "perang suci" yang akan digelarnya mungkin akan menggunakan penangkis nuklir.

Sebelumnya pada Januari, Pyongyang mengusulkan Seoul untuk memulai perundingan "tanpa syarat" untuk memperbaiki hubungan yang tegang antara kedua negara.
(ANT/A024)
antara

Friday, January 7, 2011

AS Tak Terima China akan Punya Peralatan Militer Kelas Satu


China rejects report of nuclear policy shift

Tribunnews.com - Sabtu, 8 Januari 2011 04:49 WIB
 Share   
TRIBUNNEWS.COM, CHINA --- Negara adidaya, Amerika Serikat (AS) tidak dapat menerima negara saingan, China, dikatakan sebagai negara pemilik kekuatan dan peralatan militer kelas satu di dunia.

Radio Netherland (RNW), Jumat (7/1/2011), melansir bahwa jelang kunjungan menteri pertahanan AS, Robert Gates, ke China, tersiar kabar bahwa Amerika tidak bisa menerima kenyataan bahwa cepat atau lambat China akan punya peralatan militer kelas satu.

Amerika terbiasa menjadi yang negara nomor satu sehingga susah menerima kenyataan disusul negara berkembang seperti China.

Menhan China Liang Gualie mengatakan, “berkat pertumbuhan ekonomi, China akan terus maju dengan pemutakhiran peralatan militernya, sementara Amerika harus melakukan penghematan besar-besaran”.

China selalu menyebut peningkatan persenjataan mereka dalam rangka pertahanan. Namun belakangan sejumlah pejabat militer sering mengeluarkan pernyataan tentang keseriusan mereka membangun militer yang kuat

Gates direncanakan tiba di China, Ahad mendatang guna mengurangi ketegangan kedua negara, satu tahun setelah Beijing memutus hubungan militer dengan Washington, sebagai protes atas penjualan senjata Amerika ke Taiwan






  SUMBER:TRIBUNNEWS
FOTO:DEFENCE TALK DAN METROTV NEWS

BERITA POLULER