Pages

Thursday, February 9, 2012

Pesawat intai tanpa awak TNI operasional 2012

Heron.jpgAustralia will begin operating Israel Aerospace Industries Heron unmanned air vehicles in Afghanistan next year, under a new lease agreement with MacDonald, Dettwiler and Associates (MDA)

Kamis, 9 Februari 2012 18:34 WIB | 1554 Views

Jakarta (ANTARA News) - Pesawat intai tanpa awak (UAV) TNI yang dipesan dari PT Kital Philipine Corp mulai operasional pada 2012. Keperluan intelijen menjadi hal mendasar pengadaan wahana udara militer ini.

"Pesawat ini merupakan pesawat baru dan akan dikirim tahun ini," kata Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, di Kantor Kemhan, Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan bahwa pesawat intai tanpa awak itu memiliki kemampuan jelajah hingga radius 200 km dalam waktu 15 jam saja.

Sjafrie mengungkapkan pengadaan pesawat intai tanpa awak tersebut merupakan program pengadaan 2004, dan kontraknya sudah dilakukan sejak 2006. Kemhan pun telah melakukan uji teknis pesawat tersebut.

Ia berpendapat Indonesia sangat memerlukan pesawat itu, terutama untuk operasi intelijen. Namun begitu, pesawat itu juga dapat digunakan untuk keperluan lain, seperti mendeteksi cuaca.

Pada tahun 2006, TNI menggelar tender pembelian empat UAV untuk Badan Intelijen Strategis (Bais) yang akhirnya dimenangi Searcher Mk II melalui perusahaan Filipina, Kital Philippine Corp.

Berdasar laman kantor berita internasional United Press International (UPI), untuk pembelian UAV yang satunya senilai enam juta dolar AS tersebut, Indonesia menggandeng Bank Leumi dari Inggris dan Bank Union dari Filipina sebagai penyandang dana untuk kredit ekspor.

Belakangan karena ramai dikritik DPR, proyek pengadaan tersebut tertunda.

UAV buatan Divisi Malat Israeli Aircraft Industries (IAI) dinilai paling unggul untuk penggunaan di angkasa Nusantara.

Indonesia kali pertama memakai produk militer Israel dengan meminjam pesawat pengintai tanpa awak (UAV) Searcher Mk II milik Singapura untuk mencari lokasi sandera peneliti asing yang ditawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua, pada 1996.

Namun, Singapura bukan satu-satunya negara yang memakai senjata buatan Israel. Malaysia telah mengoperasikan 15 unit, sedangkan Singapura 35 unit.

Dalam pengujian tim Kementerian Pertahanan, UAV Searcher Mk II mengalahkan pesaingnya dari Irkut Rusia dan UAV Hermes buatan Elbit Israel yang diageni ELS Ventures, Belanda.

Sekjen Kementerian Pertahanan Eris Heriyanto menegaskan, dalam setiap pengadaan alat utama sistem senjata dari mancanegara, pihaknya mengutamakan teknologi yang sesuai dengan spesifikasi teknik dan kebutuhan operasi TNI.

"Jadi, yang kami lihat teknologinya, bukan dari negara mana produk alat utama sistem senjata itu diadakan," katanya menambahkan. (R018)

sumber : Antara

RI Berencana Beli 8 Unit Helikopter Apache Buatan AS




AH 64 Apache

ah64-apache

9 Februari 2012, Jakarta: Pemerintah berencana untuk membeli sejumlah helikopter tempur jenis Apache dari Amerika Serikat. Hal itu dilakukan untuk menambah kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista). "Kalau tidak salah sebanyak delapan unit," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di kantornya, Kamis, 9 Februari 2012.

Menurut dia, pengadaan delapan unit helikopter tempur jenis Apache itu bukan karena ditawarkan begitu saja oleh pihak Amerika kepada pemerintah Indonesia. Rencana pembelian helikopter sejumlah itu dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. "Mereka tidak menawarkan, kita yang mencari," ujar Sjafrie.

Namun, ia menambahkan, hingga kini belum ada deal antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat ihwal pembelian helikopter tempur tersebut. Sejauh ini, yang sudah disepakati adalah pembelian pesawat tempur jenis F16 dari Amerika Serikat. "Kita semua tahu yang F16 sudah deal," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan saat ini banyak proyek pengadaan alutsista. Jenis alutsista yang dibeli Indonesia pun beragam, ada yang bergerak dan ada yang tidak bergerak. Yang jelas, pemerintah mengusahakan agar pembelian senjata tersebut sesuai dengan kebutuhan. "Prosesnya dari user (TNI AD, TNI AL atau TNI AU), ke Mabes TNI, baru ke Menhan. Dari situ (baru) ada pembelian," kata Purnomo.

Seperempat Anggaran Pertahanan untuk Alutsista

Pemerintah tahun ini telah menganggarkan seperempat dari seluruh total anggaran pertahanan untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). "Kurang lebih 25 persen dari alokasi anggaran sebesar Rp 74 triliun," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di kantor Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis, 9 Februari 2012.

Menurutnya 52 persen dari total alokasi anggaran tahun ini sudah ditujukan untuk kebutuhan belanja pegawai, seperti membayar gaji. "Sisanya untuk belanja barang dan modal, khususnya alutsista," ujar Sjafrie.

Sebelumnya Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengakui saat ini banyak proyek pengadaan alutsista. Jenis alutsista yang dibeli Indonesia pun beragam, ada yang bergerak dan ada yang tidak bergerak. Tapi pemerintah mengusahakan agar pembelian senjata sesuai dengan kebutuhan. "Prosesnya dari pengguna (TNI AD, TNI AL atau TNI AU), ke Mabes TNI, baru ke Menhan. Dari situ baru ada pembelian," kata Purnomo.

Sumber: TEMPO

Serpihan Pesawat Militer AS Lepas di Atas Jepang

TOKYO, KOMPAS.com —
Angkatan Laut Amerika
Serikat (US Navy) hingga saat
ini masih menyelidiki
penyebab lepasnya beberapa
bagian dari pesawat
pengacak sinyal radar EA-6B
Prowler saat terbang di atas
wilayah udara Jepang.
Serpihan itu jatuh di sebuah
kota di dekat Tokyo, Kamis
(9/2 /2012).
Enam bagian pesawat perang
elektronik tersebut lepas di
udara, termasuk bagian dari
penutup mesin dan satu
bagian berukuran 2,2 x satu
meter persegi saat pesawat
tengah terbang di atas kota
Yamato, dekat Tokyo. Salah
satu bagian tersebut jatuh
mengenai kendaraan pribadi
warga di kota itu sehingga
menyebabkan kerusakan
minor.
Menurut US Navy, pesawat
tersebut sedang dalam
perjalanan pulang dari misi
latihan rutin menuju
pangkalannya di Yokosuka,
Prefektur Kanagawa, Jepang.
Seorang pejabat kota Yamato
mengatakan, reruntuhan
pesawat sering jatuh di
kawasan kota tersebut
bahkan pernah merusak
sebuah rumah pada 2010.
Saat ini AS menempatkan tak
kurang dari 50.000 prajurit
di Jepang yang tersebar di
beberapa pangkalan militer
di seluruh negara itu. EA-6B
Prowler adalah modifikasi
dari pesawat tempur A-6
Intruder dengan misi khusus
menjalankan perang
elektronik, seperti mengacak
sinyal radar musuh dan
mengumpulkan data intelijen
elektronik.
Pesawat itu sekaligus
menjadi pusat komando dan
kendali serangan bagi
pesawat tempur lain.
Pesawat itu juga dilengkapi
persenjataan untuk
menghancurkan lokasi radar
musuh atau instalasi rudal
darat-ke-udara musuh.

sumber : kompas

Pesawat TempurJepang CegatKonvoi PesawatRusia

Kamis, 9 Februari 2012 |

TOKYO, KOMPAS.com —
Pasukan Bela Diri Udara
Jepang, Rabu (8/2 /2012),
menerbangkan beberapa
pesawat tempur untuk
mencegat serombongan
pesawat militer Rusia yang
tiba-tiba muncul di sekitar
perairan Jepang.
Kantor berita Kyodo News
dalam laporan hari Kamis
(9/2 /2012), mengutip
pernyataan Kementerian
Pertahanan Jepang,
mengatakan, sedikitnya lima
pesawat militer Rusia
terdeteksi terbang di atas
Samudra Pasifik dan Laut
Jepang di dekat Pulau
Hokkaido dan kawasan
Tohoku di timur laut Jepang.
Pesawat Rusia tersebut terdiri
atas dua pesawat pengebom
strategis jarak jauh Tu-95
Bear, dua pesawat pengintai
Su-24 Fencer, serta satu
pesawat kendali dan
peringatan dini (AWACS)
A-50. Pejabat Jepang
mengatakan, ini adalah
untuk pertama kalinya
pesawat AWACS Rusia itu
terdeteksi di dekat wilayah
Jepang.
Tidak dilaporkan terjadi
insiden lebih lanjut dari
pencegatan tersebut. Pihak
Angkatan Udara Rusia sendiri
telah berulang kali
menyatakan semua
penerbangan patroli pesawat
Rusia dilakukan dengan
mematuhi setiap peraturan
internasional dan selalu
terbang di kawasan udara di
atas perairan netral tanpa
masuk ke wilayah udara
negara lain.
Tu-95 adalah pesawat
pengebom strategis yang
mampu membawa bom
nuklir. Rusia melanjutkan
patroli pesawat pengebom di
wilayah Samudra Pasifik,
Atlantik, dan Artik sejak
2007, setelah sempat
terhenti sejak berakhirnya
Perang Dingin.
Sumber : Ria Novosti
sumber Kompas

Wednesday, February 8, 2012

DPR Sikapi Kedatangan Pejabat Pentagon Ke Indonesia

Jakarta - Kementerian Pertahanan
hari ini kedatangan tamu istimewa,
pejabat Departemen Pertahanan
Amerika Serikat atau lebih tenar
dengan istilah Pentagon. Selain
memberikan kuliah umum pada
pejabat Kemenhan, juga untuk
meningkatkan kerja sama pertahanan
dua negara.
Kedatangan pejabat Pentagon ke
tanah air juga menjadi perhatian para
wakil rakyat. Wakil Ketua DPR RI,
Pramono Anung menilai, pertemuan
itu menunjukkan, mau tak mau AS
berkepentingan dengan isu keamanan
di wilayah Australia dan Asia. "Tapi
apapun keberadaan mereka tidak
boleh ada yang mengganggu
kedaulatan bangsa kita," kata Pram di
Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta,
Kamis 9 Februari 2012.
Pram mengakui, posisi tawar
Indonesia tak sekuat AS. "Posisi kita
jelas rapuh, sementara Amerika
punya posisi tawar menawar yang
kuat, apalagi mereka punya pusat
pertahanan di Australia," kata dia.
Pramono menambahkan, mau tak
mau kita harus mengaitkan
keberadaan pangkalan AS itu dengan
isu Papua.
Namun, dia menambahkan, bukan
berarti Indonesia lemah. Pramono
mengatakan, Indonesia memiliki
pertahanan yang kuat, yang juga
dibutuhkan AS. RI juga punya posisi
strategis. "Apapun AS dalam
persoalan geopolitik, Asia, Australia,
pasti sangat mempertimbangkan
negara Indonesia. Jadi saya melihat
posisi kita sangat kuat," kata dia.
Apalagi, Indonesia adalah negara
demokrasi terbesar keempat. "Dan
kita negara muslim terbesar, dan itu
perhitungan geopolitik Amerika
sangat diperhitungkan."
Soal agenda pertemuan siang ini
Pram mengaku tak tahu pasti.
Namun, ia menyatakan dukungan jika
Kemenhan bicara soal pengadaan alat
utama sistem senjata (alutsista)
dengan Pentagon.
Politisi PDIP itu menjelaskan,
berdasarkan laporan dari Komisi
Pertahanan DPR, pengadaan alutsista
RI dulu sempat terganggu embargo
AS. Saat ini embargo tersebut telah
dicabut. Akibatnya, "Indonesia perlu
alat-alat itu. Jadi kalau isu ini dibahas
di pertemuan nanti tidak ada yang
salah. Karena kita memang
memerlukan mereka dan kita juga
tahu banyak radar-radar kita
terutama di garis depan, di
perbatasan sangat lemah," kata dia.
Radar yang lemah itu, Pramono
menambahkan, membuat pertahanan
kita sangat mudah dimasuki oleh
asing. "Baik di udara maupun laut.
Dan sudah terbukti beberapa kali
radar kita tidak bisa mendeteksi sama
sekali."
Karena membutuhkan radar yang
kuat, mau tak mau kita membeli
peralatan dari AS. Apalagi, saat ini,
alutsista dari seluruh dunia
tergantung pada dua negara yaitu AS
dan Israel.
Sumber : Vivanews

Airbus Tunjuk PTDISebagai ProdusenTunggal C212-400

9 Februari 2012, Bandung: PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) telah
ditunjuk oleh Airbus Military
sebagai produsen tunggal
pesawat C212-400 satu-satunya
di dunia.
Asisten Direktur Utama Bidang
Sistem Manajemen Mutu
Perusahaan PTDI, Sonny Saleh
Ibrahim, dalam penjelasannya
kepada ANTARA News, Kamis
(9/2 ), mengatakan saat ini
seluruh fasilitas produksi untuk
C212- 400 telah dipindahkan dari
San Pablo, Spanyol, ke PTDI di
Bandung.
"Airbus Military selanjutnya akan
fokus pada pembuatan pesawat
terbang berbadan lebar AM-400
yang sekelas dengan C-130
Hercules," kata Sonny yang
mengungkapkan dasar kerjasama
pemindahan industri Airbus
Military dari Eropa ke Indonesia
itu sudah ditandatangani kedua
pihak pada tahun 2006 dan
diperbaharui tahun 2011.
Sonny menjelaskan, "Airbus
Military sebelumnya EADS
(European Aeronautic Defence
and Space Company) konsorsium
Airbus bersama Perancis, Jerman
dan Inggris yang didirikan tahun
1999, dan kemudian memasukkan
pula CASA (Construcciones
Aeronuticas SA) sehingga nama
CASA pun melebur menjadi
Airbus."
Perkembangan terakhir, CASA
dijadikan produsen untuk seluruh
pesawat Airbus untuk
penggunaan militer.
Pesawat C212-400 merupakan
versi terakhir dari pesawat
C212- 200 yang sudah dikerjakan
PTDI sejak tahun 1980-an. Dalam
pengerjaan C212- 400, tidak beda
halnya dalam pengerjaan
C212- 200 yang sudah terlebih
dahulu dikerjakan tersebut.
Tenaga yang diperlukan lebih
banyak untuk menangani
pekerjaan-pekerjaan seperti pre-
cutting, hand forming dan
pekerjaaan lainnya dibagian sheet
metal forming, dimana pekerjaan
tersebut tidak terlalu banyak
melibatkan bagian machining.
Pesawat C212-400 merupakan
pesawat untuk jarak pendek,
penumpang maksimum 26 orang
yang dirancang sebagai pesawat
multiguna sipil dan militer.
Pesawat ini mempunyai
dayaangkut maksimum hingga
2.950 kg dan ditenagai dua mesin
Garret TPE 331-12JR- 701C dan
kecepatan maksimum 200 knots..
Salah satu keunggulan pesawat
ini dibandingkan dengan pesawat
lain sekelasnya adalah C212- 400
memiliki pintu belakang (ramp
door), kabin lebih tinggi dan
dayaangkut lebih besar. Pesawat
ini juga dapat dipasangi tanki
bahan bakar tambahan sehingga
pesawat dapat terbang lebih
jauh.
Perbedaan pesawat C212- 400
dibanding C212- 200 antara lain
interior lebih luas karena lebih
panjang, dilengkapi wing tip untuk
memperkecil hambatan udara
(drag), sistem avionic lebih
modern, yaitu dilengkapi dengan
EFIS (Electronic Flight Instrument
System) dan sistem data mesin
terpadu (Integrated Engine Data
System).
Pesanan perdana datang dari
C212- 400 datang dari PT. Airfast
Indonesia satu unit, pada bulan
Februari 2009, pada Agustus
2011, PTDI melakukan
penandatanganan kontrak
penjualan dengan T.K .S Thailand
sebanyak satu unit pesawat.
Pengadaan satu unit pesawat
C212- 400 ini, merupakan bagian
dari kebutuhan total T.K .S
Thailand sebanyak 12 unit, dua di
antaranya sudah dikirimkan dari
Airbus Military.
Dari kebutuhan T.K .S sebanyak
12 unit tersebut, sebelumnya
sebanyak 2 unit pesawat telah
dipenuhi oleh Airbus Military, dan
sisa kebutuhan selanjutnya akan
dipenuhi oleh PTDI.
Selain itu, PTDI tahun lalu telah
mengirimkan tiga pesawat CN-235
versi intai maritim untuk Badan
Penjaga Pantai Korea Selatan
(Korea Coast Guard), dari total
empat pesanan. Pesanan terakhir
akan dikirimkan Maret
mendatang.
Sumber: ANTARA News

Pembelian leopard 2a6 itu Hak Indonesia

Jakarta - Duta Besar Amerika Serikat
untuk Indonesia Scot Marciel
mengatakan rencana Kementerian
Pertahanan untuk mendatangkan tank
tempur utama jenis Leopard 26A
merupakan hak pemerintah Indonesia.
"Saya tidak dalam posisi yang tepat
untuk mengomentari hal itu, semuanya
terserah kepada pemerintah Indonesia,"
kata Marciel usai bertemu dengan
Menteri Pertahanan Purnomo
Yusgiantoro di Kementerian
Pertahanan, Jakarta, Rabu (8/2).
"Tadi menteri menjelaskan tentang
beberapa rencana untuk pembelian
alutista, namun sifatnya umum, tidak
ada yang spesifik," kata Marciel.
Marciel mengatakan pertemuannya
dengan Menteri Pertahanan,
merupakan kegiatan rutin, sekaligus
mendampingi Dewan Bisnis AS-ASEAN
dalam rangka mempererat hubungan
kedua pihak.
Menurut Marciel, Amerika Serikat tetap
membuka peluang kerja sama militer
dengan Indonesia, termasuk untuk
sektor industri pertahanan serta operasi
pemeliharaan perdamaian bersama.
"Akan datang pejabat senior dari
Kementerian Pertahanan AS ke
Indonesia, dalam rangka sosialisasi
strategi pertahanan AS. Kami juga ingin
mengkonsultasikannya dengan
Indonesia," kata Marciel.
Kepala Pusat Komunikasi Publik
Kemenhan Brigjen Hartind Asrin pekan
lalu memastikan kedatangan Dirjen
Strategi Pertahanan Pentagon yang
dijadwalkan pada Kamis (9/2).
Hartind mengatakan tujuan utama
kedatangannya secara khusus
memenuhi undangan Pusat Komunikasi
Publik Kemenhan, hak itu secara tidak
langsung membantah tentang adanya
agenda penguatan kerja sama atau
membahas pembelian alat utama sistem
persenjataan (alutsista) dalam
kunjungan.
"Orang ini kami undang untuk memberi
materi saja. Tak ada pembicaraan
pembelian senjata atau strategi
lainnya," kata Hartind.
Sumber : Media Indonesia

Russian Navy to Get 10 Borey Class Nuclear Subs


Russian Navy to Get 10 Borey Class Nuclear Subs
14:35 07/02/2012
MOSCOW, February 7 (RIA Novosti)
The Russian Navy will receive at least 10 new Borey class strategic nuclear submarines in line with a revised state armament procurement program until 2020, Kommersant daily said in Tuesday.

The submarine fleet is expected to become the core of Russia's naval force in the future.

The revised document also envisions the procurement of 10 Graney class nuclear attack submarines and 20 diesel-electric subs, including six Varshavyanka class vessels.

Russian Prime Minister Vladimir Putin said last year that the procurement of new warships and submarines for the Navy would be a priority over the next decade. The Russian government has allocated five trillion rubles ($166 bln) or a quarter of the entire armament procurement budget until 2020 for this purpose.

In addition to submarines, the Navy will receive 14 frigates, 35 corvettes, six Buyan class small artillery ships and six Ivan Gren Class large landing ships.

Deputy Prime Minister Dmitry Rogozin said on Monday Russia will develop a detailed 30-year plan of strengthening its naval forces by June 2012.

sumber :RIANOVOSTI

Kemhan Pastikan Beli Pesawat Intai Tanpa Awak dari Filipina


Jurnas.com | KEMENTERIAN Pertahanan memastikan pengadaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat terbang tanpa awak (PTTA) dari Kital Philippine Corp. Indonesia tinggal melakukan pembayaran uang muka untuk pengadaan pesawat intai tersebut.

“Kita tinggal bayar uang muka. Baru mereka memproduksi dan datang ke Indonesia,” kata Sekjen Kementerian Pertahanan (Kemhan) Marsdya TNI Eris Herryanto usai menghadiri pertemuan Menhan RI dengan delegasi US-Asean Bussiness Council di Kemhan Jakarta, Rabu (8/2).

Sebelumnya pengadaan UAV ini disebut-sebut dari Israel. Sebagian anggota DPR RI menolak karena Israel dianggap kerap melakukan pelanggaran HAM. Eris meminta masyarakat tidak mempersoalkan hal tersebut, karena dalam prakteknya teknologi saat ini bersifat global.

Dia mencontohkan teknologi panser Anoa buatan PT Pindad yang bermesin buatan Perancis. “Jadi kita tidak bisa bilang itu buatan mana. Yang pasti kami membelinya dari Kital Filipina,” kata Eris. Saat ini Kemhan akan meyakinkan DPR terkait rencana pengadaan itu.

“Pengadaannya sudah pasti, tinggal meyakinkan Komisi I karena ada hal-hal yang harus disetujui oleh Komisi I,” katanya. Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI Azman Yunus menyatakan pengadaan UAV ini baru diajukan ke Kemhan dan belum ada proses apapun.
 
sumber : JURNAS

Hingga tahun 2014, Kohanudnas Mendapatkan 70 Pesawat Tempur

Jakarta - Salah satu unsur penting
didalam menjaga keutuhan wilayah
Negara Kesatuan Negara Indonesia
(NKRI) salah satunya terletak pada
kiprah dan peran dari Kohanudnas.
Hal tersebut lebih dikhususkan dalam
memberikan perlindungan dan patroli
udara serta pertahanan strategis
mengawal yuridiksi wilayah udara
nasional Indonesia.
Demikian diungkapkan Menteri
Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro
saat berbicara pada lokakarya dalam
rangka HUT ke 50 Komando
Pertahanan Udara Nasional
(KOHANUDNAS), Senin (6/ 1) di Halim,
Jakarta.
Sehubungan dengan hal tersebut,
Menhan mengharapkan bahwa
kamampuan Kohanudnas perlu terus
ditingkatkan agar memiliki
kemampuan pertahanan udara
dengan efek tangkalnya.
Lebih lanjut Menhan menjelaskan,
sejalan dengan itu pemerintah telah
menetapkan kebijakan pertahanan
udara yang disusun dalam cetak biru
(Blue Print) untuk mewujudkan
kekuatan pokok pertahanan.
Pada cetak biru tersebut secara
bertahap kemampuan Kohanudnas
akan ditingkatkan, dengan melengkapi
alutsista dan peralatan yang
diperlukan. Hingga tahun 2014 nanti
Kohanudnas akan dilengkapi oleh 70
pesawat. Diantaranya sekitar 3
Skuadron penuh Ligth Fighter, Super
Tucano, Shukoi dan Pesawat tempur F
16 setara Block 52.
Ditambahkan Menhan untuk lima
tahun 2010-2014 sebagai renstra
pertama pembangunan Kekuatan
Pokok Minimum pertahanan,
pemerintah akan mengucurkan dana
sebesar 150 Triliun Rupiah. Salah
satunya anggaran ini digunakan untuk
mendukung belanja barang dan
belanja modal alutsista TNI Angkatan
Udara.
Selain modernisasi alutsista, menurut
Menhan peningkatan kemampuan
dan profesionalime unsur SDM dan
Organisasi yang efektif juga harus
terus ditingkatkan agar tidak
tertinggal didalam perkembangan di
bidang Revolution In Military Affairs.
Karena sesuai dengan
karakteristikanya kekuatan matra
udara sangat dipengaruhi oleh
perkembanganteknologi.
Sementara itu Panglima Kohanudnas,
Marsda TNI J.F.P Sitompul
mengatakan Kohanudnas memiliki
tugas menyelenggarakan pertahanan
terpadu atas wilayah udara nasional
dalam rangka mewujudkan
kedaulatan dan menjaga keutuhan
serta kepentingan dari NKRI.
Memasuki usia 50 tahun dengan
sesuai kemampuan yang ada
sekarang ini Kohanudnas terus
berupaya secara maksimal dan terus
menerus untuk tetap mewujudkan
kedaulatan Negara diudara.
Pangkohanudnas menekankan hal ini
terbukti dengan adanya beberapa
kejadian intersepsi, pengusiran,
hingga pemaksaan mendarat kepada
pesawat asing yang memasuki
wilayah Negara tanpa ijin.
Diungkapkan Pangkohanudnas
belajar dari sejarah di era 60 an
dimana Kohanudnas pernah menjadi
yang terkuat diwilayah bumi di bagian
selatan. Kohanudnas juga mampu
membawa wibawa Indonesia di
tingkat regional maupun
internasional.
Belajar dari pengalaman tersebut
diharapkan menjadi starting point
bagi Kohanudnas untuk menata
organisasi, Alutsista, Doktrin dan
Siskodal sehingga dimasa depan
Kohanudnas mampu melaksanakan
tugas dengan lebih optimal.
Lokakarya berlangsung selama dua
hari dengan tema “ Strategi
Pengembangan Kohanudnas
Kedepan” mengundang beberapa
pembicara seperti Wakil Ketua Komisi
I DPR, T.B Hasanudin, Sekjen
Kemhan, Marsdya TNI Eris Harryanto,
Direktur SDM Universitas Pertahanan
Marsma TNI, Suparman Djapri, dan
Panglima Komando Sektor Hanudnas
III, Marsma TNI Bonar Hutagaol.
Sumber : DMC

Kemhan Indonesia DanJerman Siapkan MouKerjasama Pertahanan

Jakarta - Wakil Menteri Pertahanan
Sjafrie Sjamsoeddin, Senin (6/ 2),
menerima kunjungan kehormatan
Duta Besar Jerman untuk Indonesia
HE Dr Norbert Baas di Kantor
Kementerian Pertahanan, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut,
Wamenhan menyampaikan
keinginannya agar Dubes Jerman
untuk Indonesia membantu
menghubungkan dengan Kementrian
Pertahanan Jerman agar Kemhan RI
dapat meningkatkan kerjasama
pertahanan dengan Kementerian
Pertahanan Jerman termasuk di
dalamnya kerjasama pengadaan
alutsista.
Hal ini berhubungan dengan akan
berangkatnya Wamenhan ke Berlin
Jerman pada 27 Februari mendatang.
Sementara itu, menurut Dubes
Jerman, MoU yang disiapkan Kemhan
RI sudah disetujui dan hanya
menunggu penandatanganannya
saja.
Saat menerima Dubes Jerman,
Wamenhan didampingi oleh Dirjen
Strategi Pertahanan Mayjen TNI
Puguh Santoso, Kepala Badan Sarana
Pertahanan Kemhan Mayjen TNI R
Ediwan Prabowo dan Direktur
Kerjasama Internasional Ditjen
Strahan Kemhan Kol. Dr Jan Pieter
Ate.
Sumber : DMC

Wamenhan TerimaKunjungan DubesBelanda UntukMembahas KerjasamaAlutsista

Jakarta - Wakil Menteri Pertahanan
Sjafrie Sjamsoeddin, Senin (6/ 2),
menerima kunjungan Duta Besar
Kerajaan Belanda untuk Indonesia HE
Tjeerd D Zwaan, di Kantor
Kementerian Pertahanan, Jakarta.
Saat menerima Dubes Belanda,
Wamenhan menyerahkan draft
peningkatan kerjasama pertahanan
antara Republik Indonesia dengan
Kerajaan Belanda.
Draft kerjasama pertahanan yang
didalamnya terdapat draft kerjasama
kesehatan dan pengadaan alutsista ini
diharapkan dapat meningkatkan
hubungan baik antara dua
Kementerian Pertahanan masing-
masing negara.
Saat menerima Duta Besar Belanda
untuk Indonesia, Wamenhan
didampingi oleh Kepala Badan Sarana
Pertahanan Kemhan Mayjen TNI R
Ediwan Prabowo S.IP dan Dirjen
Strategi Pertahanan Kemhan Mayjen
TNI Puguh Santoso.
Sumber : DMC

Cari Pengganti KRI Dewaruci, Kemhan Siapkan US$80 Juta

Jakarta, 20:12 Wed, 8 Feb 2012
Jurnas.com | KEMENTERIAN
Pertahanan (Kemhan) telah
menetapkan anggaran sebesar US$80
juta untuk pengadaan kapal latih TNI
Angkatan Laut yang akan menggantikan
KRI Dewaruci. Kemhan akan melakukan
tender guna mencari produsen yang
mampu memenuhi kebutuhan TNI AL.
“Pengadaannya baru diproses, tapi
kami sudah menetapkan anggaran
yaitu sebesar US$70 juta-US$80 juta,”
kata Sekretaris Jenderal Kemhan
Marsekal Madya TNI Eris Herryanto di
Jakarta, Rabu (8/2 )
Menurutnya, kapal latih yang diminta
TNI AL sudah tidak diproduksi
dimanapun. Karenanya dia
memperkirakan pengadaan kapal
tersebut akan memakan waktu cukup
lama. Eris juga mengungkapkan, TNI AL
membutuhkan kapal latih yang lebih
besar dari KRI Dewaruci. “Kami akan
melakukan tender pengadaannya.
Kalau tidak salah yang sudah menjajaki
dari Polandia, Belanda, dan Spanyol,”
sebut Eris.
KRI Dewaruci adalah kapal latih tiang
tinggi buatan Jerman tahun 1952. Kapal
ini memulai pelayaran keliling dunia
pertamanya pada 1964 dan terakhir kali
pada 15 Januari 2012 lalu. KRI
Dewaruci memiliki 16 layar berbagai
ukuran dengan panjang kapal 58,30
meter, lebar 9,50 meter, draft 4,5
meter, berat 874 ton. KRI Dewaruci
memiliki kecepatan 10,5 knot dan layar
9 knot serta luas layar 1.091 meter
persegi.

sumber jurnas

Menhan Terima Delegasi US-ASEAN Business Council

Jakarta, 20:30 Wed, 8 Feb 2012
Jurnas.com | MENTERI Pertahanan
Purnomo Yusgiantoro menerima
kunjungan Delegasi US-ASEAN Business
Council yang dipimpin Alexander C
Feldman. Kunjungan ini dimaksudkan
untuk menjajaki kemungkinan kerja
sama kedua belah pihak. “US-ASEAN
datang ke Menteri Pertahanan untuk
membicarakan kemungkinan kerja
sama, diantaranya membicarakan
industri pertahanan,”kata Sekjen
Kementerian Pertahanan (Kemhan)
Marsekal Madya TNI Eris Herryanto
usai mendampingi Menhan di Kantor
Kemhan RI di Jakarta, Rabu (8/2 ).
Pertemuan ini, jelasnya, baru pada
tahap perkenalan US-ASEAN Business
Council dan belum sampai pada tahap
penawaran kerja sama.
Sementara itu, Duta Besar Amerika
Serikat untuk Indonesia, Scot Marciel,
mengatakan, perusahaan-perusahaan
AS melihat adanya kesempatan untuk
bekerja sama di Indonesia. Karenanya
perusahaan-perusahaan itu mencoba
menjajaki kemungkinan bekerja sama
dengan Indonesia. “Mereka melihat
kesempatan di berbagai industri.
Seperti helikopter Bell sudah dengan
PT DI. Tapi terserah perusahaan itu
untuk memutuskan,”kata Scot.
US-ASEAN Business Council mewakili
sekitar 100 perusahaan besar Amerika
Serikat. US ASEAN Business Council
telah didedikasikan untuk
mengefektifkan hubungan bilateral
negara-negara ASEAN dengan Amerika
Serikat melalui kekuatan ekonomi dan
perdagangan. Di sektor keuangan,
salah satu agendanya adalah integrasi
ekonomi ASEAN.
Perusahaan-perusahaan yang masuk
dalam US-ASEAN Business Council ini
diantaranya Copi, Microsoft, FMI-
Russell King Senior VP, Ford, Chevron,
Seagate, dan Freeport.

sumber jurnas

Mitra Pendukung Ratis Garda 4x4

Mitra pendukung Garda 4X4 dan rencana
pengembangan varian (photos : Audrey)
Tahun 2012 merupakan bagian dari
Rencana Strategis II (2010-2014) yang
memprioritaskan pada postur Minimum
Essential Force secara bertahap dan
berlanjut. Dalam rangka mewujudkan
kekuatan pokok minimum TNI dan sesuai
dengan arahan Presiden RI, Mabes TNI
telah melakukan langkah-langkah strategis
dalam rangka memenuhi kemandirian
alutsista dengan bekerjasama dan
memberdayakan industri pertahanan
nasional guna mengurangi ketergantungan
kebutuhan alutsista pada negara lain.
Pada TA. 2009, TNI telah membentuk tim
working group yang bekerjasama dengan
industri pertahanan nasional untuk
membuat Prototipe Rantis 4×4 dengan
mengadopsi filosofi humvee Amerika
Serikat yang terbukti cukup tangguh dan
stabil. Pembuatan Prototipe ke-2 Rantis ini
merupakan tindaklanjut dari Rantis
Prototipe ke-1 yang telah dipamerkan di
PTDI Bandung bersamaan dengan
peresmian pesawat CN-235 oleh Presiden
RI. Selanjutnya tim working group bersama
8 mitra TNI siap untuk memenuhi
tantangan Presiden untuk memproduksi
Rantis tersebut.
Saat ini Rantis yang digunakan TNI terdiri
dari berbagai tipe dan jenis yang dibuat
dari berbagai negara. Dihadapkan dengan
medan yang ada dan kondisi yang semakin
tua menyebabkan manuver taktisTNI dalam
melaksanakan tugas pokoknya kurang
maksimal, sehingga diperlukan Rantis
pengganti yang dibuat oleh industri dalam
negeri disesuaikan dengan kebutuhan
operasional serta didukung spesifikasi yang
sesuai dengan perkembangan teknologi
saat ini.
Panglima TNI berharap kepada tim working
group dan 8 mitra industri dapat
menghasilkan karya nyata terbaik bangsa
berupa Rantis 4×4 yang menggunakan
komponen dalam negeri dan mengurangi
penggunaan komponen luar negeri, guna
memenuhi kebutuhan alutsista dalam
rangka mendukung pelaksanaan tugas
pokok TNI, khususnya bagi satuan – satuan
manuver TNI di lapangan.
Adapun Rantis yang akan dibuat adalah tipe
komando dan tipe angkutan personel
dengan spesifikasi berat kendaraan 2.500
kg, berat muatan 250 – 1.500 kg, panjang
480 – 540 cm, lebar 200 cm, tinggi 183 cm,
jarak bebas dasar 39 cm, lintas kedalaman
air 78 cm, Vmaks di jalan raya 120 km/jam,
mesin diesel 4200 cc – 6000 cc Turbo
Charger Intercooler, sistem kemudi power
steering, sistem rem hydraulik dengan
cakram depan dan belakang + Anti Blocking
System (ABS),Transmisi Automatic,
suspensi independen Suspension Modul
Portal, daya jelajah 500 km, sistem
komunikasi VHF, HF dan Intercom Set.
Turut hadir dalam acara penandatanganan
Nota Kesepakatan antara lain, Wakil Kepala
Staf Angkatan Udara Marsekal Madya TNI
Dede Rusamsi, para Asisten Panglima TNI
dan Asisten Kepala Staf Angkatan,
Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar
Sitompul, S.E. serta para pejabat TNI dan
mitra industri pertahanan nasional.
(Koran Bogor )

Sekarang KRI Manggala- 402 ini sudah berimbang dengan milik negara tetangga, termasuk Australia


Sistem manajemen tempur dan operasi digital baru dari Norwegia diterapkan pada KRI Nanggala. Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia. Teknologi digital itu memungkinkan komandan kapal mengambil keputusan secara lebih cepat, efisien, dan tepat atas posisi dan kedudukan kapal terhadap sasaran yang dituju. (photo : Antara)
PDF Print
Tuesday, 07 February 2012
Penantian panjang melihat kapal selam KRI Nanggala-402 kembali menelusup perairan Indonesia berakhir sudah. Kapal yang pernah dijuluki monster bawah laut karena kemampuan tempurnya ini kembali memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut (AL) setelah menjalani perbaikan dan perawatan menyeluruh (overhaul) di Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, Korea Selatan.

Kemarin kapal tipe U-29 buatan Jerman ini sukses berlabuh di dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya setelah menempuh perjalanan selama 21 hari. Keberhasilan overhaul KRI Nanggala-402 tersebut tentu semakin meningkatkan sistem pertahanan Indonesia di wilayah perairan.Kini Indonesia memiliki kapal selam tempur supercanggih yang mampu menjaga kedaulatan hukum dan keamanan laut dari serangan musuh.

Keunggulan lain KRI Nanggala 402 pasca overhaul adalah kemampuan sonar yang mencapai 24,03 mil (40 km), kemampuan selam hingga 200 meter dengan waktu selama 52 hari, radar yang dilengkapi peta elektronik, hingga komunikasi yang terintegrasi dengan sistem lan. (photo : Audrey)

Menurut Komandan Satuan Tugas Overhaul KRI Nanggala- 402 Kolonel Tunggul Suropati, ada sejumlah peranti penting yang diperbaiki dan diganti selama kapal berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter ini berada di Korsel,di antaranya sistem kendali senjata, radar,sonar,alat komunikasi, hingga penggantian separuh badan kapal dari haluan sampai buritan.

“Sekarang KRI Manggala- 402 ini sudah berimbang dengan milik negara tetangga, termasuk Australia.Sistem kendali senjata kapal ini sudah canggih.Senjata torpedo pada kapal ini bisa menembak dengan akurat dari jarak yang cukup jauh,”ungkapnya di Markas Koarmatim Surabaya kemarin.

Tunggul menjelaskan, keunggulan lain KRI Nanggala-402 pasca-overhaul adalah kemampuan sonar yang mencapai 24,03 mil (40 km),kemampuan selam hingga 200 meter dengan waktu selama 52 hari,radar yang dilengkapi peta elektronik,hingga komunikasi yang terintegrasi dengan sistem lain.“Jadi meskipun di bawah laut,kapal ini bisa berkomunikasi hingga seluruh dunia,”ungkapnya.

Tunggul menuturkan, banyaknya perbaikan inilah yang memerlukan waktu lama selama overhaul,termasuk biayanya yang cukup tinggi. Untuk keseluruhan perbaikan kapal, negara mengeluarkan biaya hingga USD75 juta. “Tetapi nilai itu sudah sebanding dengan kemampuan yang dimiliki.Bayangkan, KRI Nanggala-402 ini kemampuannya delapan kali dibanding kapal perang biasa,”katanya.

Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Soeparno menyambut gembira sukses overhaul KRI Nanggala-402 tersebut.Dia berharap kapal tersebut mampu menjalankan fungsinya dengan bagus,yakni melakukan infiltrasi, peperangan atas dan bawah air,penyebaran ranjau terbatas,hingga proses evakuasi.“Sudah waktunya kita memiliki kapal selam canggih seperti ini sehingga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap terjaga,”ungkap alumnus Akademi Angkatan Laut 1978 ini.

Jenderal bintang empat kelahiran Surabaya ini menjelaskan,dengan wilayah perairan yang cukup luas, jumlah kapal selam yang dimiliki Indonesia jauh dari cukup.Saat ini baru ada dua kapal selam,yakni KRI Cakra- 401 dan Nanggala-402.“Kami memang sudah memesan kapal selam lagi ke Korsel, tetapi jumlahnya hanya tiga. Padahal minimal kebutuhan kita mencapai 12 unit,”tutur mantan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat ini.

Menanggapi kebutuhan tersebut,Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengaku, DPR akan terus membantu mengupayakan.Kebutuhan alutsista memang mendesak. “Tahun 2012 ini keseluruhan anggaran pertahanan kita adalah Rp72 triliun.Anggaran ini sengaja besar karena sebagian besar alutsista kita rusak,”katanya.

SUMBER : sindo

Tuesday, February 7, 2012

DPR Dorong TNI Beli Pesawat Tanpa Awak Produksi Dalam Negeri


Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Wulung produksi dalam negeri. Rusia memesan PUNA produksi Israel sebagai bahan pembelajaran bagi industri pertahanan Rusia. Kualitas PUNA Rusia tidak dapat menandingi kehebatan PUNA buatan Israel dalam konflik di Ossetia Utara. (Foto: BPPT)

7 Februari 2012, Senayan: Wakil Ketua Komisi I DPR RI Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, DPR akan mendorong TNI untuk membeli pesawat tanpa awak produksi dalam negeri, atau tidak membeli dari Israel, lewat negara Filipina, sebagaimana mengemuka belakangan ini.

"Kami dengar di dalam negeri, seperti PT Dirgantara Indonesia sudah bisa membuat pesawat tanpa awak sendiri. Jadi kita akan mendorong agar untuk pemenuhan pesawat tanpa awak TNI dapat memesan dari industri strategis dalam negeri sendiri," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (7/2).

Pesawat intai yang diinginkan TNI AU ini, merupakan semacam pesawat pengindera yang bisa membawa sebuah kamera untuk memotret. Pesawat ini dikendalikan semacam remote untuk diterbangkan ke wilayah tertentu yang sulit dijangkau.

"Informasinya di dalam negeri saat ini bukan saja di PT DI telah bisa mengembangkan pesawat tersebut. Termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bahkan Institut Teknologi Bandung sudah mampu membuat pesawat intai itu baik untuk tujuan sipil maupun militer," ujar politisi Golkar ini.

BPPT bahkan sudah memiliki sejumlah jenis pesawat tanpa awak seperti Alap-Alap dan Wulung. Masing-masing berbobot 20 kilogram dan 120 kilogram. Wulung bahkan bisa mengintai selama empat hingga enam jam dengan rentang kendali hingga 200 kilometer. Sementara pesawat intai Slipi seberat sembilan kilogram yang lihai digunakan di laut dan bisa dikendalikan sejauh 30 kilometer.

Agus mengatakan, dari segi kebutuhannya, TNI saat ini memang membutuhkan pesawat jenis ini. "Pesawat tersebut dibutuhkan untuk memantau perbatasan, melaksanakan patroli keamanan di Selat Malaka, dan pendeteksian dini dari gangguan keamanan pihak luar," tegasnya.

Sumber: Jurnal Parlemen

Pengadaan UAV Mengutamakan Teknologi & Spesifikasi Teknis Kebutuhan TNI



UAV Searcher II milik RSAF. Singapur pernah meminjamkan UAV jenis ini ke Kopassus saat Operasi Mapenduma. (Foto:JEWELIFIC)

JAKARTA - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menyatakan rencana pengadaan pesawat intai tanpa awak (UAV) belum final.

"Semua masih berproses di Kementerian Pertahanan, jadi belum final," katanya menjawab ANTARA usai memimpin upacara alih komando pengendalian Pasukan Pemukul Reaksi Cepat di Markas Divisi-1/Kostrad Cilodong, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/2).

Ia menegaskan, TNI sebagai pengguna tidak mempersalahkan dari negara mana UAV yang akan digunakan itu diadakan. "Bagi TNI jika persenjataan yang beli sesuai dengan spesifikasi teknik dan kebutuhan operasi yang dibutuhkan maka semua `clear`... tidak masalah," ujar Panglima TNI. Agus menambahkan, "...dan semua pengadaan alutsiata itu dilakukan sesuai kerangka kekuatan pokok minimum yang telah ditetapkan,". Kedepan TNI berencana akan membangun satu skuadron pesawat intai tanpa awak.

Sebelumnya pada tahun 2006, TNI pernah menggelar tender pembelian empat pesawat UAV untuk Badan Intelijen Strategis (Bais) yang prosesnya dimenangkan oleh UAV jenis Searcher Mk II dari Israel yang dibeli melalui perusahaan di Filipina, Kital Philippine Corp. Namun hingga kini belum ada realisasi.
Untuk pembelian UAV yang satunya senilai enam juta dolar AS tersebut, Indonesia menggandeng Bank Leumi dari Inggris dan Bank Union dari Filipina sebagai penyandang dana untuk kredit ekspor.

Belakangan karena ramai dikritik DPR, proyek pengadaan tersebut tertunda. UAV buatan Israeli Aircraft Industries (IAI) ini menurut penilaian TNI dinilai paling unggul untuk pengoperasian di langit Nusantara.

Indonesia kali pertama memakai UAV buatan Israel, Searcher Mk II, yakni saat melakukan operasi militer pencarian sandera yang ditawan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua, pada 1996. Kala itu Singapura meminjamkan UAV-nya ke Kopassus.

Singapura sendiri bukan satu-satunya negara yang memakai UAV buatan Israel. Malaysia pun telah mengoperasikannya 15 unit, sedangkan Singapura 35 unit.

Dalam pengujian tim Kementerian Pertahanan, UAV Searcher Mk II mengalahkan pesaingnya dari Irkut Rusia dan UAV Hermes buatan Elbit Israel yang diageni ELS Ventures, Belanda.

Sekjen Kementerian Pertahanan Eris Heriyanto menegaskan dalam setiap pengadaan alutsista dari mancanegara pihaknya mengutamakan teknologi yang ditawarkan disesuaikan dengan spesifikasi teknik (spektek) dan kebutuhan operasi TNI. "Jadi, yang kita lihat teknologinya, bukan dari negara mana produk alutsista itu diadakan," katanya.

Sumber : ANTARANEWS.COM

PPRC TNI Fokus Pengamanan di Perbatasan


Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Indonesia Lakma TNI Y. Didik Heru Purnomo (duduk kanan) dan Sekretaris Majelis Keselamatan Negara Malaysia Dato Mohamed Thajudeen Abdul Wahab (duduk kiri) menandatangani nota kesepahaman tentang pedoman umum penanganan masalah laut perbatasan RI-Malaysia disaksikan Menkopolhukam Djoko Suyanto (belakang kanan) dan Menteri di Departemen Keperdanamenterian Malaysia Dato' Seri Mohamed Nazri Bin Abdul Aziz (belakang kiri) di Nusa Dua, Bali, Jumat (27/1). Kesepakatan itu untuk meningkatkan kerjasama antar otoritas koordinator keamanan laut perbatasan kedua negara terutama upaya meminimalisir terjadinya penangkapan nelayan kedua negara. (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/Koz/Spt/12)

7 Februari 2012, Jakarta: Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI akan memfokuskan tugas pada pengamanan di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar. "Segera disusun mekanisme pengamanannya," kata Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono, di Jawa Barat, Selasa.

Dia memimpin upacara alih komando pengendalian PPRC dari Divisi-2/Kostrad di Malang (Jawa Timur) kepada Divisi-1/Kostrad di Cilodong (Depok, Jawa Barat).

Suhartono mengatakan, perkembangan lingkungan srategis di masa datang sangat kompleks dan beragam. Sehingga diperlukan perubahan paradigma penugasan dan strategi yang lebih komprehensif dan antisipatif.

Pada tingkat regional, beberapa potensi ancaman gangguan keamanan yang berdampak pada kepentingan nasional adalah masalah perbatasan nasional dengan sejumlah negara, separatisme, kejahatan lintas nasional dan lainnya.

Menurut dia, sangat tepat jika kami fokuskan perhatian pada wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar.

"Penanganan terhadap wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar itu, sangat beragam sesuai dengan situasi dan kondisi. Misalnya, pulau-pulau terluar ada yang berpenghuni dan tidak, maka penanganannya pun berbeda," katanya.

Batas darat wilayah Republik Indonesia berbatasan langsung dengan tiga negara, yakni, Malaysia, Papua Nugini, dan negara Timor Timur. Perbatasan darat Indonesia tersebar di tiga pulau, empat provinsi dan 15 kabupaten- kota yang masing-masing memiliki karakteristik perbatasan yang berbeda-beda.

Sedangkan wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia, negara Timor Timur dan Papua Nugini.

Terdapat 92 pulau terdepan sebagai batas laut perairan nasional, 12 pulau diantaranya memerlukan perhatian khusus baik dari sisi keamanan, pembangunan maupun pemberdayaan masyarakatnya. Mereka adalah Pulau Rondo, P Nipah, P Marore, P Miangas, P Batek, P Fani, P Fanildo, P Berhala, P Sekatung, P Dana I dan II, dan P Bras.

Komando pengendalian PPRC selama dua tahun sekali beralih dari wilayah barat (Divisi-1 Kostrad) ke wilayah timur (Divisi-2/Kostrad), dan sebaliknya secara rutin, guna memberikan pengalaman tugas PPRC secara luas dan komprehensif.

"PPRC bertugas melaksananan tindakan reaksi cepat terhadap berbagai ancaman yang terjadi, yakni menangkal, menyanggah awal dan menghancurkan musuh yang mengganggu kedaulatan Republik Indonesia," katanya.

Panglima TNI mengatakan dalam mengemban tugas itu, PPRC TNI harus mampu meningkatkan kecepatannya dalam melaksanakan manuver, tepat dalam menuju sasaran dan wilayah tertentu dan singkat dalam proses dan waktu yang dibutuhkan.

"Pelaksanaan tugas PPRC hanya satu pekan, kemudian bisa ditindaklanjuti dengan operasi oleh satuan lain. Jika PPRC bisa menuntaskan operasi dalam satu pekan itu, ya berarti kita tidak perlu ada operasi lanjutan," katanya, menambahkan.

Sumber: ANTARA News

LM Team Visit TAI to Asses RTAF's F-16 Upgrade


06 Februari 2012

F-16 MLU program at Thai Aviation Industries (all photos : TAI & Thaifighterclub)

Representatives from Lockheed Martin Aero, USAF, and DCMA to visit and assess the repair of the F-16 Mid Life Update.

On 9-11 January 2555 representatives from Lockheed Martin Aero, USAF, and DCMA visit the F-16 Mid Life Update program at Takhli Aircraft Maintenance Co., Ltd.


This visit is a continuation of the visit on May 20, 2011 where the team of Lockheed Martin and USAF is also seen in the TAI's aircraft maintenance capacity in Takhli, Nakhon Sawan Province, to prepare the F-16 MLU program.

Parlemen Belanda Tolak Jual Tank Leopard ke RI

MBT LEOPARD 2A6
MBT Leopard 2A6 Bundeswehr manuver di tanah berlumpur. (Foto: Bundeswehr)


7 Februari 2012, Senayan: Parlemen Belanda telah bersikap dan memutuskan secara resmi melarang menjual tank Leopard pada Pemerintah RI. Bahkan, Parlemen Belanda mengancam memberikan sanksi pada pemerintahannya, jika tetap nekat menjual Tank Leopard ke tentara RI.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin, atas hasil pertemuan anggota Parlemen Belanda dengan anggota Komisi I DPR pada pekan kemarin.

"Jadi, pada Minggu kemarin (5/2), salah satu anggota parlemen Belanda dari Partai Groenlink bernama Mariko Peters, datang dan melakukan pertemuan dengan Komisi I DPR," tegas Tubagus Hasanuddin di Gedung DPR, Selasa (7/2).

Menurut Hasanuddin, anggota Parlemen Belanda tersebut diterima oleh anggota Komisi I Helmy Fauzi. Intinya, dalam pertemuan tersebut, anggota Parlemen Belanda tersebut menyampaikan informasi bahwa Parlemen Belanda memutuskan, melarang penjualan Tank Leopard.

"Bahkan mereka mengancam pemerintahannya sendiri, jika sampai nekat menjual Tank Leopard itu ke Indonesia," tambahnya.

Menurut Hasanuddin, berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh anggota parlemen Belanda tersebut, salah satu alasan Parlemen Belanda tidak menyetujui penjualan tank Leopard ke RI adalah terkait pelanggaran HAM.

"Kalau itu alasannya, jelas kita juga membantahnya,soal praktek pelanggaran HAM itu. Karena Belanda juga telah melanggar HAM berat dengan menjajah rakyat dan bangsa Indonesia selama 3,5 abad. Itu riil dan fakta,"ujarnya.

Jadi,kata Hasanuddin, dengan penjelasan yang telah disampaikan oleh anggota Parlemen Belanda tersebut, tertutup sudah pintu pembelian Tank Leopard sebagaimana direncanakan Kemenhan selama ini.

"Cukup berat Belanda menjual Leopardnya ke RI. Jadi pemerintah sudah tidak perlu lagi banyak berharap dapat memiliki Tank Leopard dari Belanda. Karena Parlemen Belanda sudah mengeluarkan larangan penjualan Leopard ke RI. Makanya, saya juga setuju dengan sikap KASAD. 'Lu jual,gua beli. Lu tidak jual, gua tidak maksa'. Itu sudah pas sikap seperti itu, saya setuju," tegasnya.

Sumber: Jurnal Parlemen

Monday, February 6, 2012

Dilema Leopard Belanda: HAM atau Dagang?


MBT LEOPARD 2A6
MBT Leopard 2A6 Bundeswehr manuver di tanah berlumpur. (Foto: Bundeswehr)


7 Februari 2012, Den Haag: "Belanda mau mengobral 119 tank Leopard dan Indonesia tertarik. Ada harapan untuk meraih kontrak dagang besar-besaran bagi Belanda." Demikian koran Belanda NRC Handelsblad mengawali editorialnya.

Tapi ada keberatan praktis dan kendala politik yang mengganjal. Pertama apakah tank Leopard bermanfaat di negara kepulauan seperti Indonesia yang banyak rawa-rawa? DPR RI meragukan hal itu. Kedua, kenapa Belanda mau memasok senjata ke negara yang tidak mengindahkan hak asasi manusia (HAM)?

Di internal kabinet Belanda sendiri ada dua pendapat. Menteri Pertahanan Hans Hillen menonjolkan jiwa dagang Belanda. "Dalam hal ini saya melihat uang bukan moral," katanya. Selain berjiwa dagang atau koopmansgeest, Belanda juga dikenal berjiwa pendeta, yang mementingkan masalah moral.

Makanya ada kriteria dalam mengekspor senjata. HAM dan hukum humaniter internasional harus dihormati. Selain itu mulai sekarang konflik internal suatu negara juga menjadi bahan pertimbangan untuk mengekspor senjata ke negeri tersebut.

Oleh karena itulah Parlemen Belanda tidak setuju atas rencana pemerintah Belanda untuk menjual tank ke Indonesia. Alasan yang disebut dalam mosi adalah, tentara Indonesia "pernah melanggar HAM di Aceh, Timor Timur dan Papua Barat."

Alasan ini dinilai kurang kuat oleh Menlu Belanda Uri Rosenthal, karena hal itu terjadi di masa silam. Tapi argumen yang disampaikan PVV dan SP, bahwa sekarang masih terjadi pelanggaran HAM terhadap warga Maluku dan Papua dan posisi umat Kristiani Indonesia, tidak bisa disangkal Menlu Rosenthal.

Jiwa dagang Belanda tampaknya tidak bisa mengalahkan argumen ini. Kalau kehendak parlemen Belanda dituruti, sehingga pemerintah Belanda tidak jadi menjual tank ke Indonesia, maka Indonesia terpaksa membeli tank di negara lain.

Dapat disimpulkan, isyarat Belanda sebagai negara yang mau menegakkan HAM tidak mempan. Dan Belanda mempersulit diri sendiri kalau hanya mau menjual senjata kepada calon pembeli yang berkelakuan baik. Demikian tulis editorial NRC Handelsblad.

Sumber: RNW

KASAL: Idealnya Indonesia Punya 12 Kapal Selam


Awak KRI Nanggala-402 foto bersama di depan kapal selam KRI Nanggala di Korsel. (Foto: Kaskus)

6 Februari 2012, Surabaya: Luas laut Indonesia sekitar lima juta kilometer persegi dengan tiga alur laut kepulauan Indonesia yang terbuka untuk kepentingan pelayaran damai. Kini Indonesia memiliki 155 kapal perang berbagai tipe dan jenis dan khusus untuk kapal selam, diperlukan minimal enam unit dalam status siap operasi tempur.

"Begini, kekuatan minimal kita itu enam. Dengan perhitungan dua kapal selam disiagakan bertugas, dua siaga operasi, dan dua lagi servis berkala," kata Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, Senin, seusai menyambut kehadiran kembali KRI Nanggala-402 dari pelayaran 17 hari selepas perbaikan menyeluruh di Korea Selatan.

Kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu diperbaiki menyeluruh di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering di Okpo, Korea Selatan, sejak dua tahun lalu. Kini kapal selam itu semakin berotot dan makin awas semua "panca indera"-nya setelah banyak sistemnya diperbarui memakai teknologi terkini di kelasnya.

Salah satunya adalah teknologi sistem manajemen tempur dan operasi secara digital dari Norwegia menggantikan sistem Sinbad buatan Belanda hasil teknologi dasawarsa '80-an. Kapal selam berkelir hitam ini sudah mampu meluncurkan empat torpedo sekaligus secara salvo dalam tempo sangat rapat adalah salah satu bentuk kemampuan yang ditingkatkan itu.

Pemimpin pelayaran pulang KRI Nanggala-402 itu adalah Letnan Kolonel Pelaut Purwanto, didampingi belasan perwira dan belasan bintara serta tamtamanya. Masih ada dalam pelayaran itu beberapa teknisi kunci dari pihak Daewoo untuk mengawasi kinerja instrumen-instrumen dan program komputer yang diadopsi.

Dengan begitu, TNI-AL kini memiliki dua kapal selam siap operasi tempur dan misi khusus lain, yaitu KRI Nanggala -402 dan KRI Cakra-401 dari kelas yang sama dan tergabung dalam Satuan Kapal Selam Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL.

Menyinggung keperluan ideal kapal selam Indonesia, Soeparno yang didampingi Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, menyatakan, "Yang ideal, Indonesia memiliki 12 kapal selam seperti waktu dasawarsa '60-an itu."

Jika tiada halangan, tiga tahun ke depan Indonesia akan menambah lagi kekuatan flotila kapal selammnya menjadi lima secara keseluruhan. Ada wacana pangkalan kapal selam ini akan ditempatkan di lokasi baru di Indonesia bagian tengah.

Komisi I DPR, kata Siddiq, menghendaki pemerintah menambah anggaran belanja arsenal militer nasional hingga angka Rp78 triliun dari sekitar Rp1.300 triliun APBN tahun depan. "Kerugian negara akibat ketidakmampuan kita menjaga wilayah maritim bangsa ini sebanyak Rp40 triliun memakai data pada 2007. Kini angka itu bisa bertambah lagi," katanya.

Sumber: ANTARA News

TNI Latihan dengan Enam Negara di Thailand


Prajurit marinir dari 31st Marine Expeditionary Force (MEF) diangkut kapal perang USS Germatown (LSD 42) dari Okinawa, Jepang menuju Thailand untuk berpartisipasi pada latihan bersama Cobra Gold 2012. (Foto: U.S. Navy/Mass Communication Specialist 1st Class Johnie Hickmon)

6 Februari 2012, Jakarta: Tentara Nasional Indonesia mengikuti latihan bersama dengan enam negara di Thailand dengan sandi "Cobra Gold" 2012, mulai 12 Januari hingga 19 Februari 2012.

Juru bicara TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul menjawab ANTARA di Jakarta, Senin mengatakan dalam latihan bersama tahunan yang digagas Komando Armada AS Asia Pasifik (US Pasific Command/ USPACOM) 2012 itu , TNI mengirimkan 75 personelnya.

"TNI mengikuti dua materi latihan yakni bantuan kesehatan militer dan kemampuan kompi zeni. Fokus dari latihan bersama kali ini adalah meningkatkan kemitraan dan sinergitas antarsatuan dan antarmiliter tujuh negara yang tergabung dalam latihan itu," ungkap Laksamana Muda Iskandar Sitompul menambahkan.

Latihan bersama "Cobra Cold" ke-31 diikuti sekitar 10.000 ribu personel militer dari AS, Jepang, Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan Thailand. Latihan dilakukan dalam dua tahapan yakni geladi posko dan geladi lapang.

Dalam materi latihan bantuan kesehatan dan kemanusiaan Indonesia akan bergabung dengan militer Singapura, Korea Selatan, Malaysia dan Jepang.

Sumber: ANTARA News

Nanggala Mampu Menyelam Selama 52 Hari

   Nanggala Mampu Menyelam Selama 52 Hari


06/02/2012 11:36
Liputan6.com, Surabaya: Setelah diperbaiki total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korsel selama 2 tahun, KRI Nanggala kini sudah menjelma menjadi sebuah Kapal Selam Modern.

Kapal bernomor lambung 402 ini dilengkap dengan Torpedo yang mampu mengejar kebisingan. Kapal ini juga bisa dilengkap oleh beberapa misil seperti Exocet, Harpoon dsb. Tak hanya itu dengan kekuatan sonar baru yang bisa kapal ini mampu mendeteksi kapal perang musuh hingga 40 kilometer dengan catatan laut dalam kondisi clear atau jernih. KRI Nanggala diawaki oleh 48 awak, dalam kondisi 100 persen Nanggala bisa berada didalam air hingga 52 hari.

Kolonel (P) Tunggul Suropati, mantan Komandan Satgas Overhoul KRI Nanggala mengungkapkan kapal ini memliki kemampuan menyelam yang cukup baik. " Dalam uji coba kami bisa turun hingga 257 meter didalam laut, dalam keadaan terpaksa maksimal 300 meter " ujarnya.

Kapal selam ini sendiri mampu melaksakan tugas penyusupan, peperangan atas air dan bawah air, penyebaran ranjau terbatas. dan emergensi VIP.
KSAL dan sejumlah pejabat yang menyambut kehadiran kapal selam RI ini menyempatkan diri meninjau bagian dalam kapal.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan TNI AL dan bergabung dengan satu kapal selam lainnya KRI Cakra-401. Seperti halnya KRI Nanggala, kapal selam KRI Cakra juga sudah lebih dulu menjalani "overhoul" di galangan yang sama di Korsel pada 2004-2006.

Perbaikan total yang dijalani KRI Nanggala meliputi, struktur kapal, lapisan baja, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonar berteknologi terkini.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter dengan mesin diesel elektrik yang mampu melaju hingga kecepatan 25 knot di dalam air. (ARI)
 
sumber : Liputan6

Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia.


Sejumlah prajurit TNI-AL awak kapal selam KRI Nanggala-402 berada di atas lambung kapal setibanya di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2). Kapal selam tersebut kembali bergabung dengan TNI AL usai menjalani perbaikan menyeluruh di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/12)

6 Februari 2012, Surabaya: Setelah 24 bulan diperbaiki menyeluruh (overhaul and retrofit) di dermaga Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan, KRI Nanggala-402 kembali memperkuat armada TNI-AL, Senin.

Bedanya kali ini, sistem manajemen tempur dan operasi kapal selam kelas U-209/1300 itu diperbarui memakai sistem dari Norwegia.

Dari sisi luar Dermaga Madura, Markas Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, kapal selam berkelir hitam itu muncul mengapung perlahan-lahan.

Sambutan kehadiran kembali KRI Nanggala-402 buatan Jerman itu diberikan Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, Panglima Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, Laksamana Muda TNI Ade Sopandi, dan Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, serta perwakilan dari Daewoo.

Setelah merapat dan ditambat di dermaga itu, upacara singkat kedatangan KRI Nanggala-402 dilakukan antara semua unsur pimpinan TNI-AL dan Komandan KRI Nanggala-402, Letnan Kolonel Pelaut Purwanto.

Menyinggung kehadiran kembali kapal dari Satuan Kapal Selam TNI-AL itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Eris Haryanto, menyatakan, "Kita puas dengan kinerja Daewoo ini. Mereka pendatang baru di dunia perkapalselaman dunia namun bisa membuktikan janji dan komitmennya."

Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia. Teknologi digital itu memungkinkan komandan kapal mengambil keputusan secara lebih cepat, efisien, dan tepat atas posisi dan kedudukan kapal terhadap sasaran yang dituju.

Sebelum memakai teknologi dari Norwegia itu, KRI Nanggala-402 sebagaimana "kembarannya" KRI Cakra-401 memakai teknologi Sinbad dari Belanda yang bekerja secara manual.

Kebolehan sistem baru itu juga diujicobakan selama pelalayaran pulang dari Korea Selatan menuju perairan Indonesia sejak 21 Januari lalu dan tiba di perairan Selat Madura pada Senin pagi.

Contoh kebolehan itu --dalam operasi tempur sebenarnya-- kapal bisa meluncurkan empat torpedo secara salvo pada selang waktu sangat rapat. Kapal selam sepanjang 59 meter itu sendiri memiliki delapan tabung peluncur torpedo pada ujung haluan utamanya.

Sumber: ANTARA News

BERITA POLULER