Pages

Tuesday, January 17, 2012

DARI TANK SAMAPAI TANK TEMPUR UTAMA / MAIN BATTLE TANK

 Tank Tempur utama Leopard 2A6 BUATAN JERMAN

Tank adalah kendaraan tempur lapis baja yang bergerak menggunakan roda berbentuk rantai. Ciri utama tank adalah pelindungnya yang biasanya adalah lapisan baja yang berat, senjatanya yang merupakan meriam besar, serta mobilitas yang tinggi untuk bergerak dengan lancar di segala medan. Meskipun tank adalah kendaraan yang mahal dan membutuhkan persediaan logistik yang banyak, tank adalah senjata darat paling tangguh dan serba-bisa pada medan perang modern, dikarenakan kemampuannya untuk menghancurkan target darat apapun, dan efek mentalnya terhadap infanteri.
 Tank Amerika Serikat M1A1 Abrams.

Tank adalah kendaraan tempur yang sangat kuat. Walau begitu, tank tidak beroperasi sendirian. Tank biasa dimasukkan dalam unit lapis baja pada pasukan terpadu, yaitu gabungan antara infanteri dan kavaleri lainnya. Tanpa dukungan unit lain, tank, walaupun memiliki pelindung tebal, tetap bisa dilumpuhkan oleh infanteri, ranjau, artileri, dan helikopter atau pesawat.[1] Tank juga tidak efektif di medan hutan dan perkotaan, di mana kemampuan jarak jauh tank jadi tidak bisa dipakai, penglihatan pengendara tank jadi terbatas, dan meriam tank mungkin tidak bisa berputar secara maksimal.
 MBT Merkava buatan Israel.

Tank pertama kali dipakai pada Perang Dunia I untuk memecahkan kebuntuan perang parit, dan peran tank lama-kelamaan berevolusi untuk mengantikan peran kavaleri. Istilah tank (tangki) muncul pada saat pembuatan tank-tank pertama di pabrik-pabrik di Inggris: para pekerja diberitahukan bahwa mereka sedang membuat sebuah kendaraan pengangkut air beroda rantai, jadi pembuatan kendaraan tempur ini bisa dirahasiakan.[2]
Tank dan taktik kendaraan lapis baja telah berevolusi selama hampir seabad. Walaupun sistem senjata dan pelindung tank masih terus dikembangkan, banyak negara yang mulai mempertanyakan kebutuhan kendaraan berat seperti ini, khususnya dalam era perang non-konvensional.[3]

Perang Dunia I: Tank-tank pertama

 Mark I Inggris pada Pertempuran Somme.

Kondisi pertempuran Perang Dunia I di Front Barat membuat Angkatan Darat Inggris berpikir untuk mengembangkan kendaraan yang bisa menyeberangi parit, menghancurkan kawat berduri, dan tidak mempan ditembak senapan mesin. Prototipe tank pertama kali diuji oleh militer Inggris pada 6 September 1915.
Tank pertama kali dipakai dalam perang ketika Kapten H. W. Mortimore membawa tank Mark I dalam Pertempuran Somme pada 15 September 1916. Perancis mengembangkan tank Schneider CA1 yang dibuat dari traktor Holt Caterpillar, dan pertama kali digunakan pada 16 April 1917. Penggunaan tank secara besar-besaran dalam pertempuran terjadi pada Pertempuran Cambrai pada 21 November 1917.
Perubahan-perubahan pada medan perang dan buruknya kinerja tank memaksa Sekutu untuk terus mengembangkan konsep tank ini. Tank terus berkembang pada Perang Dunia I, misalnya tank Mark V, yang dibuat sangat panjang sehingga bisa melewati parit-parit yang lebar sekalipun.

Perkembangan desain dan taktik

Pada masa di antara dua perang dunia ini, dikembangkan berbagai macam kelas tank, khususnya di Inggris. Tank ringan, yang beratnya kurang dari sepuluh ton, digunakan untuk tugas pemantauan, dan hanya dipersenjatai senapan mesin ringan yang hanya ampuh digunakan melawan tank ringan lainnya. Tank sedang atau tank cruiser, lebih berat dan bertujuan untuk perjalanan cepat jarak jauh. Dan yang terakhir, tank berat atau tank infanteri, adalah tank dengan lapisan pelindung yang berat, yang berjalan lambat. Tank ini dibuat untuk digunakan untuk menembus pertahanan bersama-sama dengan infanteri. Pelindungnya yang berat membuatnya bisa tahan ditembak senjata anti-tank. Setelah tank berat dan infanteri berhasil melubangi garis pertahanan lawan, tank sedang akan dikirim melalui lubang tersebut dan menyerang jalur logistik dan satuan komandan. Taktik seperti ini akhirnya dikembangkan oleh Jerman dalam konsep blitzkrieg.[4]

Tank pada Perang Dunia II

Perang Dunia II mendapati perkembangan pesat pada tank. Jerman misalnya, menggunakan tank-tank ringan seperti Panzer I yang sebelumnya digunakan hanya untuk latihan. Tank-tank ringan dan kendaraan lapis baja lainnya menjadi unsur paling penting dalam blitzkrieg. Namun, tank ringan ini kalah menghadapi tank Inggris dan lebih lagi melawan tank legendaris T-34 milik Uni Soviet. Dan pada akhir perang semua pihak telah secara drastis menambah ukuran meriam dan pelindung tank. Misalnya, Panzer I hanya memakai dua senapan mesin, dan Panzer IV, tank paling berat Jerman pada awal Perang Dunia II menggunakan meriam 75 mm kecepatan rendah, dan beratnya dibawah 20 ton. Pada akhir perang, tank sedang standar Jerman, Panther, menggunakan meriam 75 mm kecepatan tinggi, dan beratnya 45 ton.
Perkembangan semasa perang lain adalah diperkenalkannya sistem suspensi yang jauh lebih baik. Mungkin hal ini terdengar tidak penting, tapi kualitas suspensi adalah penentu kinerja cross-country tank. Tank dengan suspensi yang buruk akan mengakibatkan getaran yang besar yang dirasakan pengendara, ini akan mengakibatkan sulitnya pengoperasian, mengurangi kecepatan, dan membuat penembakan sambil berjalan menjadi tidak mungkin. Sistem suspensi baru seperti sistem suspensi Christie atau suspensi torsion bar meningkatkan kinerja dan kecepatan secara drastis.[5]
Meriam berputar, yang sebelumnya tidak tersedia pada semua tank, dianggap sebagai hal yang sangat penting.[4] Meriam ini harus bisa digunakan melawan tank lain, jadi diusahakan sebesar dan sekuat mungkin, sehingga berarti tank cukup memiliki satu meriam yang harus sangat kuat. Akibatnya, desain tank dengan banyak meriam, seperti T-28 dan T-35 buatan Uni Soviet, ditinggalkan

Perang Dingin dan seterusnya

Setelah Perang Dunia II dan memasuki Perang Dingin, negara-negara maju dan adikuasa mengambil pelajaran dari Jerman dalam penggunaan kekuatan tank. Tambahan ancaman perang nuklir dan kimia membuat tank juga dilengkapi perlengkapan perang nuklir dan kimia. Kemajuan dalam teknologi meriam dan amunisinya membuat tank semakin ditakuti, dan masing-masing negara berlomba-lomba untuk menyempurnakan teknologinya.
Namun justru ancaman terbesar tank saat ini adalah pasukan infanteri yang dilengkapi dengan persenjataan ringan yan memiliki daya hancur yang dahsyat, dengan mengembangkan peluru kendali anti-tank jinjing yang merupakan hasil pengembangan dari bazoka pada Perang Dunia II. Ditambah dengan berkembangnya kemampuan angkatan udara dengan helikopter tempur yang memiliki kemampuan anti-tank.

Tank tempur utama (Main battle tank, MBT)

Tank tempur utama (Main battle tank, MBT) adalah kendaraan tempur yang memiliki perlindungan paling kuat di medan perang. Perlindungannya dirancang untuk melindungi tank dan pengendaranya dari semua bahaya, termasuk penetrator energi kinetik yang ditembakkan tank lain, peluru kendali anti-tank (ATGM) yang ditembakkan infanteri atau pesawat udara, dan ranjau. Tetapi jumlah perlindungan yang dibutuhkan untuk melindungi tank dari segala arah akan sangat berat dan tidak memungkinkan; oleh karena itu dalam perancangan sebuat tank harus ditemukan keseimbangan yang tepat antara perlindungan dengan berat.
 Tank T-72 dengan balok perlindungan reaktif.

Ada banyak jenis perlindungan. Perlindungan yang paling sering ditemukan adalah perlindungan pasif, yaitu lapisan logam, baja, atau keramik. Tipe perlindungan yang lain adalah perlindungan reaktif. Perlindungan reaktif ini meledak ke arah luar, dan mengubah arah proyektil yang datang. Perlindungan reaktif akan berupa balok yang ditempelkan, bukan lapisan yang permanen. Perlindungan reaktif cocok dipakai melawan proyektil berhulu ledak dan perlindungan pasif cocok melawan proyektil penetrator energi kinetik.
Pembagian ketebalan lapis baja tidak merata. Pada umumnya, lapisan paling tebal ada pada bagian depan tank dan bagian depan meriam. Lapisan pada samping dan atas tank biasanya lebih tipis, sedangkan bagian belakang tank–khususnya bagian di atas mesin–memiliki lapisan yang paling tipis.

Persenjataan
Senjata utama tank adalah meriamnya, yang ukurannya hanya dilampaui oleh howitzer artileri yang besar. Biasanya ukuran kaliber tank Barat adalah 120 mm dan tank Timur 125 mm. Meriam tank bisa menembakkan peluru penetrator energi kinetik (KE) dan peluru high explosive (HE). Beberapa tank juga bisa menembakkan rudal atau roket melalui meriamnya, yang dapat memperjauh jarak jangkauan dan memungkinkan untuk menghancurkan target udara. Pada umumnya tank memiliki senapan mesin yang sejajar (coaxial) dengan meriam utama. Senapan mesin ini umumnya berkaliber kecil antara 7,62 mm sampai 12,7 mm untuk digunakan menghadapi target infanteri, tetapi ada beberapa tank Perancis yang menggunakan senjata coaxial kaliber besar 20 mm seperti tank AMX-30, yang bisa digunakan untuk menghancurkan kendaraan lapis baja ringan. Selain meriam utama dan senjata sekunder, tank juga biasa dilengkapi dengan senapan mesin anti pesawat udara yang berada di atap tank.
Dahulu, meriam tank dibidik menggunakan mata saja sehingga kurang akurat, apalagi bila tank sedang berjalan ketika meriam akan ditembakkan. Sekarang tank modern memiliki banyak peralatan canggih untuk membantu meningkatkan akurasi. Giroskop digunakan untuk menstabilkan meriam utama; pengukur laser digunakan untuk menghitung jarak ke target; komputer digunakan untuk mengkalkulasikan ketinggian dan sudut tembak, dengan memperhitungkan kecepatan angin, suhu udara, dan faktor-faktor lainnya.

Hampir semua tank tempur utama memiliki pelontar granat asap, yang dengan cepat bisa menyebarkan sebuah selimut asap yang akan melindungi tank bila sedang mundur atau disergap. Selimut asap ini tidak dipakai secara ofensif, karena asap juga akan menutupi penglihatan para penyerang, dan asap ini dapat memberitahukan kepada musuh bahwa serangan akan segera dilakukan. Tetapi pada beberapa tank seperti tank Perancis Leclerc, pelontar granat asap ini juga bisa digunakan untuk menembakkan gas air mata dan granat anti personel.
Mesin

Tank pada umumnya memakai mesin diesel, karena diesel tidak mudah terbakar walaupun terkena panas yang sangat tinggi. Pada beberapa rancangan, seperti pada tank Merkava Israel, tangki bahan bakar diesel diletakkan mengitari kru, dan secara efektif menjadi lapisan pelindung kedua. Selain itu, mesin diesel juga lebih ekonomis dan bisa memberikan jangkauan yang lebih banyak dari mesin lain. Kelemahannya adalah mesin diesel sulit untuk dinyalakan dan terasa kurang bertenaga. Selain itu, asap tebal yang dihasilkan juga menyulitkan untuk menyerang secara diam-diam. Penggunaan mesin bensin memiliki kelemahan yang bertolak belakang dengan mesin diesel. Bensin sangat mudah terbakar, mengharuskan tangkinya diletakkan jauh dari kru. Selain itu, jarak jangkaunya lebih kecil. Keunggulannya adalah mesinnya dapat lebih mudah dinyalakan dan bertenaga tinggi, serta suaranya lebih kecil dari mesin diesel dan mesin turbin. Tank-tank yang lebih baru seperti tank Leopard Jerman memiliki mesin pembakaran dalam multi-bahan bakar, yang dapat menerima diesel, bensin, dan bahan bakar lainnya.
Mesin turbin juga populer pada tank-tank terbaru. Mesin ini bisa mengeluarkan tenaga yang besar dan lebih efisien dari mesin lainnya. Kelemahannya adalah, pada kecepatan paling rendah pun mesin ini tetap mengonsumsi bahan bakar seperti biasa, yang jauh lebih banyak daripada mesin lain pada kecepatan rendah. Pada Perang Teluk, M1 Abrams Amerika Serikat membakar banyak bahan bakar hanya untuk tetap menyalakan peralatan infra-merah dan elektronik lainnya, sementara tank lain dapat menghemat bahan bakar dengan menurunkan kecepatan mesin.

Pergerakan
Sebuah tank tempur utama dirancang untuk memiliki mobilitas tinggi dan dapat melewati segala macam medan. Tank menggunakan dua atau empat tapak rantai untuk bergerak. Rantai ini digerakkan oleh sebuah roda besar di tiap tapaknya yang menyalurkan tenaga dari mesin. Roda rantainya yang lebar menyebarkan tekanan yang dihasilkan oleh beratnya tank, membuat tekanan yang dihasilkan dapat setara dengan kaki manusia.[6] Jenis medan yang sangat menyulitkan tank adalah tanah yang sangat lembut seperti rawa, dan medan berbatu yang memiliki batu-batu besar. Pada medan "biasa", tank diharapkan bisa berjalan dengan kecepatan 30–50 km/jam, dan kecepatan di jalanan bisa mencapai 70 km/jam.
Meskipun begitu, logistik pergerakan tank tidak mudah. Di atas kertas, atau ketika uji coba selama beberapa jam, sebuah tank memang memiliki kemampuan off-road yang mengungguli kendaraan roda biasa apapun. Di atas jalananpun, kecepatannya juga tidak jauh berbeda dengan kendaraan lapis baja beroda biasa. Namun dalam prakteknya, kecepatan tinggi tank hanya bisa digunakan untuk beberapa saat, sebelum terjadi kerusakan mekanis. Tank tidak bisa senantiasa berjalan pada kecepatan tertinggi, dan harus berhenti secara rutin untuk melakukan perbaikan pencegahan agar selalu siap untuk bertempur.
Karena tank yang tidak bisa bergerak merupakan target yang mudah bagi mortir dan artileri, kecepatan biasanya tidak dipakai secara maksimum, dan selalu diusahakan untuk selalu menggerakan tank dengan kendaraan pengangkut tank atau kereta api, untuk menghemat tenaga tank. Tank pada akhirnya akan bergantung pada kereta api dan infrastruktur rel kereta api, karena tak ada angkatan bersenjata yang memiliki cukup banyak kendaraan pengangkut tank untuk mengangkut semua tank mereka. Karena itulah, jembatan rel kereta api dan stasiun rel kereta api merupakan target utama bagi mereka-mereka yang ingin memperlambat laju serangan tank

SUMBER : WIKI PEDIA










Wamenhan: Modernisasi Alutsista Pil Pahit Kemhan


www.tni.mil.id
Penguatan militer dengan melakukan modernisasi alutsista ini, merupakan kewajiban yang harus dilakukan untuk mencapai keunggulan negara.

Jurnas.com | SELAIN sebuah kabar gembira bagi modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), anggaran yang diterima Kementerian Pertahanan sebesar Rp150 triliun juga merupakan beban. Karenanya, dalam melakukan modernisasi alutsista Kemhan melakukan pengawasan yang ketat.

"Sebenarnya pil pahit, beban bagi Kemhan dengan anggaran Rp150 triliun ini. Tapi gula bagi bisnis militer," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafries Sjamsoeddin dalam acara silaturahmi Menhan denga pimpinan redaksi media massa di Jakarta, Selasa (17/1) malam.

Dalam pelaksanaannya, tambah Sjafrie, Kemhan melakukan tiga tahap pengawasan. "Kami lakukan pengawasan, yaitu pre audit, currrent audit, dan post audit," ujarnya.

Penguatan militer dengan melakukan modernisasi alutsista ini, jelasnya Sjafrie, merupakan kewajiban yang harus dilakukan untuk mencapai keunggulan negara. Penguatan militer ini juga dia nilai sebagai syarat negara yang berdaulat.

Beruntung, lanjut Sjafrie, modernisasi alutsista ini sejalan dengan anggaran yang dialokasikan pemerintah. "Pengadaan ini tak hanya dilihat dari kuantitas, tapi perlu memperhitungkan hal-hal lainnya," imbuhnya. Pertimbangan tersebut, tuturnya, adalah pembangunan strategi militer yang menjadi strategi pertahanan, pertimbangan teknologi dan kemoderenan peralatan militer, serta pertimbangan wilayah teritorial sebagai perhitungan strategi.

sumber : JURNAS

Menhan: Kekuatan Militer Indonesia Membuat Gentar Negara Lain


.

Puspen TNI / jurnal nasional
Jurnas.com | MENTERI Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) yang dilakukan Indonesia saat ini telah menggetarkan negara-negara lain. "Penguatan alutsista yang kami lakukan sudah membuat khawatir negara lain," kata Menhan dalam silaturahmi dengan pemimpin redaksi media massa di Gedung Jenderal TNI M Yusuf Menteng Jakarta Pusat, Selasa (17/1).

Menurutnya, pembangunan kekuatan militer yang dilakukan Indonesia disebabkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan teknologi yang semakin membaik. Dia mencontohkan hal ini terjadi juga pada Cina. "Pembangunan kesejahteraan selalu diikuti dengan pembangunan keamanan," ujarnya.

Purnomo juga menegaskan pengadaan alutsista ini tidak bertujuan untuk untuk menyerang negara lain. "Bukan untuk offense, tapi defense. Menjaga kedaulatan negara," jelasnya.

Ditambahkan Menhan, kekuatan militer Indonesia saat ini memang sudah diperhitungkan oleh negara-negara tentangga. Dia mencontohkan kekuatan militer TNI AD yang memiliki batalyon infantri terbesar se-ASEAN, yakni 100 batalyon lebih.

Untuk penguatan alutsista Indonesia, Kemhan mendapatkan alokasi dana sebesar Rp150 Triliun selama tahun 2009-2014. Dana ini dibagi menjadi Rp50 triliun untuk pengadaan, Rp45 triliun untuk perawatan, dan Rp.50 triliun untuk produksi dalam negeri.

sumber : Jurnas

Nurhayati Assegaf : Membantah Sinyalemen Bahwa DPR Tidak Setuju Tentang Rencana Pembelian 100 tank Utama 2A6 Leopard

DPR Bukan Tidak Setuju Pembelian Leopard

Leopard 2A6 Bundeswehr.(Foto: Bundeswehr/Mandt)

17 Januari 2012, Jakarta: Anggota Komisi I DPR, Nurhayati Assegaf, membantah sinyalemen bahwa DPR tidak setuju tentang rencana pembelian 100 tank utama 2A6 Leopard dari Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Pembelian 100 tank berbobot 62 ton itu didedikasikan juga bagi martabat dan harga diri bangsa.

"Itu hanya miskomunikasi saja, dan tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Buktinya, Komisi I DPR membentuk tim kecil yang akan berangkat ke Belanda untuk meninjau dan memastikan kelengkapan tank Leopard itu," katanya, di Jakarta, Selasa.

Secara politik, katanya, kalau pemerintah didampingi legislatif akan memberi penguatan bahwa pemerintah Indonesia mendapat dukungan dari parlemennya. Tank Leopard merupakan salah tank tercanggih dan moderen dengan jarak tembak yang cukup.

Dalam daftar tank utama dunia, yang dianggap sekelas dengan Leopard adalah T-90 alias T-72BU dari Rusia, yang dikopi mentah-mentah oleh China menjadi Type 99, Merkava Mark IV dari Israel, FV4034 Challenger dari Inggris, dan AMX-56 Lecrec dari Perancis.

"TNI berfungsi menjaga keamanan. Kalau alutsista kita memadai, maka harkat dan martabat bangsa meningkat dan kita disegani. Bagaimanapun keamanan itu penting," katanya.

Kalau arsenal militer Indonesia di bawah negara-negara lain, maka kepercayaan diri bangsa akan turun dan masyarakat akan merasakan dampaknya. DPR ingin agar harkat dan martabat bangsa naik melalui persenjataan.

Selain itu, kata politisi Partai Demokrat itu, pengadaan tank Leopard juga untuk kepentingan nasional dalam rangka menjaga wilayah Indonesia.

"Pembelian itu juga untuk kepentingan nasional kita. Tantangan ke depan dengan globalisasi dan kita punya daerah-daerah yang luas. Tank ini bisa ditaruh sesuai dengan wilayah kita," katanya.

Tak hanya itu saja, tambah anggota DPR dari Daerah Pemilihan Malang Raya itu, pembelian tank Leopard adalah dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan prajurit TNI.

"Kalau kita tidak pernah membeli persenjataan dari negara lain, tentu TNI tidak akan tahu dan tidak bisa mencontoh dan mengembangkan prototipe persenjataan negara lain," katanya.

Pembelian 100 tank Leopard Sudah Sesuai Prosedur

Anggota Komisi I DPR, Roy Suryo, mengatakan, rencana pembelian 100 tank 2A6 Leopard oleh Kementerian Pertahanan sudah sesuai prosedur.

"Saya belumlah ahli tentang persenjataan militer, meski terus belajar keras di Komisi I DPR, namun rencana pembelian 100 tank Leopard adalah realistis dan sesuai keinginan TNI, demi NKRI," kata Roy Suryo, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa.

Menurut dia, pembelian 100 tank Leopard tersebut tidak berdiri sendiri tetapi satu kesatuan dengan peningkatan matra-matra lain TNI, misalnya kapal selam, Sukhoi Su-27 dan Su-30MKI, F16 Fighting Falcon, dan sebagainya untuk memenuhi standar kekuatan efektif minimum TNI.

"TNI juga tetap diawasi Komisi I DPR agar memperhatikan sarana-prasarana kesejahteraan prajurit, utamanya di perbatasan-perbatasan," katanya.

Disamping itu, kata dia, Komisi I DPR sekarang memang sedang meningkatkan kemandirian alutsista tersebut.

"Disisi BUMNis dan BUMNip, kita tata ulang keseluruhannya tanpa melupakan uang lauk pauk (ULP) mereka," kata politisi Partai Demokrat itu.

Sumber: ANTARA News

TB Hasanuddin: Geografis Indonesia Tidak Cocok untuk MBT Leopard


MBT Leopard 2A4 milik SAF. (Foto: Mindef)

17 Januari 2012, Jakarta: Wakil Ketua Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menegaskan, DPR pasti menyetujui TNI dilengkapi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang canggih, namun dengan catatan harus cocok dengan doktrin pertahanan dan karakter geografis atau medan di Indonesia.

Kepada pers di Jakarta, Selasa, Hasanuddin menjelaskan bahwa keberadaan Main Battle Tank (MBT) Leopard untuk memperkuat alutsista TNI sangat tidak cocok untuk manuver di wilayah geografis di Indonesia yang gembur, terpotong-potong dan bahkan tergenang air (rawa).

Selain itu, ia menambahkan, tank Leopard juga dinilai kurang taktis untuk sistem pertahanan pulau-pulau seperti di Indonesia.

"Saya dan teman-teman dengan sungguh-sungguh mempelajari dengan seksama tentang keunggulan dan kelemahan tank Leopard yang akan dibeli TNI dengan harga cukup mahal itu dan kemudian menyatakan menolak pembeliannya," ujarnya.

Lebih lanjut Hasanuddin menjelaskan bahwa sejumlah dasar penolakan rencana pemerintah membeli tank Leopard dari Belanda adalah sampai hari ini Kemenhan belum secara resmi memberikan penjelasan kepada Komisi I tentang rencana pembelian 100 tank Leopard (50 tipe 2A4 dan 50 tipe 2A6) bekas Belanda itu.

Menurut dia, tank tersebut memang canggih, tapi sebenarnya juga cukup mahal untuk tipe 2A4 seharga 700.000 euro dan tipe 2A6 senilai 2,5 juta euro serta masih ditambah biaya overhaull 800.000 euro per unit.

Alasan lainnya adalah, bobot tank Leopard seberat 63 ton juga dinilai tidak sesuai dengan kondisi geografis wilayah Indonesia yang seharusnya menggunakan kendaraan tempur jenis medium tank berbobot 23 ton saja.

"Sebenarnya atas perintah presiden pada tahun 2010, PT Pindad telah mengembangkan medium tank 23 ton yang lebih cocok dan sudah menjadi prototipe yang tinggal dikembangkan," ujarnya seraya menambahkan tank jenis itu jauh lebih ringan, lincah, dan murah karena bisa diproduksi di dalam negeri.

Secara terpisah anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Roy Suryo mengatakan bahwa rencana pembelian 100 tank Leopard itu sangat realistis dan sesuai kebutuhan TNI di masa mendatang.

"Saya belum ahli alutsista walaupun terus belajar keras di Komisi I. Tapi rencana membeli 100 tank Leopard itu realistis dan sesuai dengan kekuatan pertahanan minimal (Minimum Essential Force/MEF)," ujarnya.

Sumber: ANTARA News

Komisi I Tetap Tolak Pembelian Tank Leopard


Leopard 2A6 Bundeswehr. (Foto: Bundeswehr)

17 Januari 2012, Senayan: Wakil Ketua Komisi I DPR Tb Hasanuddin kembali menegaskan bahwa DPR tetap menolak rencana Kementerian Pertahanan (Kemhan) membeli tank Leopard bekas dari Belanda. Sebab, tank tersebut dipandang tidak sesuai dengan kondisi geografis di Indonesia.

"Sampai hari ini sejujurnya Kemhan belum secara resmi memberikan penjelasan kepada Komisi I tentang rencana pembelian 100 tank Leopard (50 tipe 2A4 dan 50 tipe 2A6) bekas dari Belanda itu. Meski demikian karena kabar ini telah mencuat, kami pun di Komisi I perlu menyikapi hal ini. Dalam rapat internal di Komisi I sebelumnya hampir seluruh fraksi menolak pembelian tank bekas dari Belanda ini," tegas Tb Hasanuddin di Ruang Komisi I DPR, Selasa (17/1).

Hasanuddin mengatakan, sesungguhnya Tank Leopard itu memang canggih. Tetapi cukup mahal untuk tipe 2A4 harganya mencapai 700.000 Euro dan tipe 2A6 seharga 2,5 juta Euro ditambah biaya overhaul 800.000 Euro per buah .

"Beratnya yang 63 ton sangat tidak cocok untuk manuver diw ilayah geografis di Indonesia yang gembur, terpotong-potong bahkan berawan. Dan kurang taktis untuk sistem pertahanan dan pulau-pulau seperti di Indonesia," ujar Hasanuddin.

Menurut politisi PDIP ini, sebenarnya atas perintah Presiden tahun 2010, PT Pindad telah mengembangkan MEDIUM TANK 23 ton yang lebih cocok dan sudah menjadi prototype, dan kini hal itu tinggal dikembangkan .

"Lebih ringan, lincah, dan murah karena diproduksi anak bangsa. Kita pun setuju TNI dilengkapi alutsista yang canggih, tapi harus cocok dengan doktrin pertahanan dan karakter geografis/medan di Indonesia," pungkasnya.

Sumber: Jurnal Parlemen

IWJ :Pembelian Leopard 2A6 sudah Sesuai Kebutuhan TNI AD



17 Januari 2012, Medan Rencana pemerintah membeli tank bekas Leopard 2A6 dari Belanda dinilai sudah  rasional dan  sesuai kebutuhan TNI. TNI  selama 20 tahun tertinggal dalam modernisasi alutsista jadi wajar kita mengejar ketertinggalan dari  Negara tetangga dikawasan, untuk membangun kekuatan yang maksimum kita perlu terintegrasinya kekuatan Udara, Laut dan darat. Kekuatan udara sangat penting begitu juga kekuatan laut sebagai ujung tombak dan kekuatan darat menentukan keberhasilan peperangan sebagai pasukan pembersih.  Artinya kedepan kita akan beralih ke udara dan laut tetapi darat pun tidak boleh dikesampingkan.


Pengamat alutsista IWJ mengatakan, pembelian MBT Leopard 2A6 sudah rasional dengan alas an  sebagai berikut:
  1. Keadaan ekonomi kita sekarang sedang membaik dengan begitu anggaran pertahanan bisa naik hingga nilainya mencapai 150 triliun.
  2. Dalam Renstra TNI 2011-2014 sudah tertuang untuk mencapai MEF, dan pembelian leopard 2A6 sudah sesuai dengan prosedur MEF.
  3. Leopard 2A6 bisa jalan di Indonesia , terlalu dini untuk mengatakan leopard 2A6 tidak bias jalan , penolakan pembelian leopard itu saya berpendapat sangat bernuansa muatan politis.
  4. Dinegara Kawasan  seperti Malaysia, singapura, Vietnam sudah mempunyai MBT jadi wajarlah untuk kesetaraan kekuatan bukan untuk perlombaan senjata.
  5. Dieropa sedang krisis, banyak Negara eropa sedang memangkas  pertahanan militer mereka sehingga mereka menjual asset-aset militernya dengan harga murah, nah kita pemerintah Indonesia sedang mendukung MEF , jadi dengan anggaran yang ada dan dengan waktu yang sangat singkat, pemerintah melalui kemhan ambil peluang ini alhasil kita akan beli 100 unit MBT Leopard 2A6 dari belanda dan heli serang apache.
  6. Kita sudah punya light tank seperti Amx13,scorpion, nah MBT kita belum punya, seyogyanya para pengamat dan anggotadewan harus sadar dalam peperangan  itu harus disesuaikan dengan  keperluannya nah kalau berperang dira-rawa dan danau ki perlu tank amfibi, nah kalau peperangan medannya membutuhkan light tank ya kita harus pakai liight tank yang bisa bermanuver lincah dan cepat, nah kalo lawan pake Main Battle Tank sepeti PT-91 ya kita harus lawan dong dengan MBT juga minimal sekelas semisal Leopard 2A6.
  7. Industri pertahanan kita belum bisa membuat Main Battle Tank, PT.Pindad baru bisa buat Medium tank itupun masih prototype, sedangkan target MEF harus dipenuhi dengan anggaran yang telah dipagukan. Jangan samakan tank PINDAD denganMBT leopard 2A6 itu beda kelas(Antara Medium Tank dan Main Battle Tank/ Tank Menengah dan tank berat) ,  nah kalo MBT dah masuk Indonesia , maka PINDAD mampu membuat amunisi dan pelurunya.
  8. Kemudian pembelian MBT Leopard 2A6 ini dibarengi TOT, jadi PT.Pindad Kedepannya bisa mempelajari teknologinya.
  9. Dan Kasad pun sudah menjamin MBT hanya digunakan untuk melawan MBT bukan untuk disalah gunakan seperti untuk menindas rakyat sendiri,demonstran, lah wong rakyat sendiri kok ditembakin sih, buaknnya TNI dari Rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
Kita boleh meniru sitem pertahanan Negara lain tapi kita sudah punya aturan tersendiri dan kita sudah ada blue prin nya termasuk renstra TNI ini nah renstra ini targetnya MEF ( minimum essencial force) Kekuatan pokok minimum.

dan dalam membeli persenjatan tentunya TNI telah memperhatikan hal-hal sebagai berikut kesesuaiann dengan strategi pertahanan Negara , mengikuti cetak biru modernisasi persenjataan, sesuai kondisi geografis, jaminan ketersediaan suku cadang dan TNI Pasti memilih senjata yang baik dan berkualitas .

Soal Persenjataan, Indonesia Sudah bisa produksi sendiri.

Indonesia   telah swasembada dalam mengahasilkan alutsista dengan cara produksi sendiri atau produksi bersama dan TOT transfer off technologiy, sebagai contoh PT. Pindad sudah mensuplai 10.000 pucuk Senjata serbu SS2 kepada TNI, 150 Panser anoa 6x6, rudal Rhan 122,PT DI : CN235 angkut militer, Cn 235 MPA, Helicopter Bell, superpuma, PT PAL : konver nasional, LPD, Kapal Patroli cepat, PT Lindun : kapal cepat trimaram kedepan antara RI-Korsel produksi bersama 3 unit Kapal selam, RI-korsel Prosuksi jet tempur generasi 4,5 F33/KFX/IFX , RI-Belanda produksi bersama Kapal Perusak Kawal rudal ,kalau dijabarin lagi masih banyak lagi karya anak bangsa itu sebagian besar contoh saja, ini semua hasil dari embargo USA terhadap Indonesia sehingga pemimpin bangsa ini sadar akan produksi  senjata dan alutsista sendiri, namu alutsista yang berat dan belum dapat diproduksi sendiri harus beli kenegara lain dengan catatan tidak ada ancaman untuk di embargo seperti Sukhoi ,MI13/17,BMP3F,KS kelas kilo (BNV( masih belum ada pengakuan dari pemerintah sementara dari dubes rusia sudah ada) kabarnya rusia mau TOT, T50 golden eagle dari korsel, super tucanno dari brasil terhair AS merasa di tinggalkan Indonesia dan AS memandang Indonesia itu penting untuk AS maka AS menawarkan hibah 24 unit f16 dan RI meneriman nya dengan prinsip kesetaraan dan bebas dari embargo dan sebagai penyeimbang kekuatan dalam pembelian alutsista.


Dengan pemaparan diatas setidaknya bisa menjadi bahan masukan kepada Anggota Dewan yang terhormat khususnya komisi I DPR RI, Bapak Anggota Dewan berilah kesempatan kepada TNI kita untuk memodernisasi Alutsistanya, jadilah anggota dewan yang menaungi dan menyampaikan aspirasi masyarakat, semoga pro kontra pembelian MBT Leopard 2A6 ini selesai dengan dibarenginya kedatangan MBT Leopard 2A6 dari Belanda. Amin




Oleh IWJ Pengamat Alutsista dan militer 



di tulis dan diedit oleh Admin Indonesia defence
By Indonesia Defence 2012

Monday, January 16, 2012

Kemhan Tetapkan Sebelas Sasaran Kebijakan Pertahanan 2012

riederich Batari / PT. Media Nusa Pradana
Pejabat Kemhan dan TNI usai Rapim Kemhan 2012, Senin (16/1).
Jurnas.com | KEMENTERIAN Pertahanan (Kemhan) menetapkan sebelas sasaran kebijakan penyelenggaraan pertahanan negara tahun 2012. Hal tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam keterangan persnya usai Rapat Pimpinan (Rapim) awal tahun 2012 Kemhan, Senin (16/1).

Sasaran penyelenggaraan pertahanan negara tahun 2012 adalah: pertama, terwujudnya ratifikasi tiga sasaran Prolegnas (Program Legislasi Nasional) 2012 meliputi RUU Keamanan Nasional, RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara, RUU Revitalisasi Industri Pertahanan serta terselesaikannya regulasi dan kebijakan strategis di bidang pertahanan.

Sasaran kedua adalah terwujudnya implementasi kerjasama pertahanan meliputi diplomasi pertahanan, dialog strategis, industri pertahanan dan logistik, kerjasama militer dalam bidang pendidikan dan pelatihan, kesehatan militer, patroli terkoordinasi, operasi bersama di perbatasan, dan pemanfaatan Indonesia Peace and Security Center (IPSC).

Ketiga, terwujudnya sinkronisasi program antar kementerian/lembaga dalam hal pembinaan kesadaran bela negara, pembangunan infrastruktur di perbatasan, penelitian dan pengembangan pertahanan, industri dan teknologi pertahanan serta pendidikan dan pelatihan. Keempat, terwujudnya peran Universitas Pertahanan dalam merealisasikan sumber daya manusia pertahanan negara secara terintegratif dan peran Badan Pendidikan dan Pelatihan merealisasikan peningkatan profesionalitas pengawakan Kemhan dan TNI di bidang pertahanan.

Sasaran kelima adalag memonitor implementasi Perpres Nomor 10 Tahun 2010 yang berkaitan dengan Koordinasi Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Keenam, terlaksananya refungsionalisasi dan revitalisasi pelaksanaan tugas pokok Kemhan di daerah Desk Pengendali Pusat Kantor Pertahanan dalam rangka mengsinergiskan program pemberdayaan wilayah pertahanan di daerah dengan fokus prioritas daerah perbatasan di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Papua.

Sedangkan sasaran ketujuh adalah terlaksananya percepatan pengadaan Alutsista TNI 2012 yang tepat waktu dan memenuhi spesifikasi teknis serta proses paralel dengan mewajidkan pengadaan yang mampu diproduksi oleh industri pertahanan dalam negeri. Kedelapan, terwujudnya inovasi teknologi dalam Litbang pertahanan untuk mendukung pemenuhan Alutsista TNI.

Kesembilan, terlaksananya tertib perencanaan dan pengelolaan anggaran pertahanan sesuai urgensi kebutuhan dan dapat dipertanggungjawabkan. Kesepuluh, terselenggaranya pola pengawasan komprehensif sejak awal sampai pasca kegiatan untuk mewujudkan clean government dan good governance. Dan, sasaran kesebelas adalah terlaksananya pengusulan ditertibkannya Peraturan Pemerintah tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak terhadap barang milik negara yang dikelola oleh TNI.

SUMBER : JURNAS

BACA JUGA

Menhan: Kebijakan Pertahanan untuk Merespon Ancaman
Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Hal ini mencakup pemberdayaan wilayah pertahanan dalam menghadapi ancaman.
Jurnas.com | KEMENTERIAN Pertahanan menggelar Rapat Pimpinan (Rapim) awal tahun 2012 di Kantor Kemhan, Jakarta, Senin (16/1). Dalam Rapim tersebut, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyampaikan kebijakan terkait penyelenggaraan pertahanan negara yang menjadi pedoman bagi Kemhan dan TNI dalam penyelenggaraan pertahanan negara tahun 2012.

"Dalam rangka merespon berbagai perkembangan lingkungan strategis dan berbagai ancaman, diperlukan kebijakan pertahanan yang berkaitan dengan peningkatan berbagai aspek manajerial di bidang strategi, legislasi, penganggaran, sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta pengelolaan potensi pertahanan," kata Menhan dalam keterangan persnya usai Rapim Kemhan 2012, yang didampingi oleh Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Sekjen Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Heriyanto, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat.

Menhan menjelaskan pada tahun 2012 merupakan tahun ketiga dari Rencana Strategis Pertahanan Negara 201 -2014. Oleh karena itu, Kemhan telah menetapkan arah dan sasaran kebijakan sesuai dengan visi, misi dan grand strategy. Kemhan merupakan institusi pengemban fungsi pertahanan negara yang memiliki otoritas sebagai regulator, administrator dan fasilitator.

Purnomo mengatakan kebijakan yang ditetapkan mengacu pada visi pertahanan negara yaitu terwujudnya pertahanan negara yang tangguh. Selain itu mengacu pula pada misi yaitu menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI, keselamatan bangsa yang kemudian diimplementasikan ke dalam grand strategy pertahanan. Hal ini mencakup pemberdayaan wilayah pertahanan dalam menghadapi ancaman, penerapan manajemen pertahanan yang terintegrasi, peningkatan kualitas personel Kemhan/TNI, perwujudan teknologi pertahanan yang mutakhir dan pemantapan kemanunggalan TNI dan rakyat dalam hal bela negara.

SUMBER : JURNAS
 

Tank Leopard Sesuai Kondisi Geografis Indonesia

Leopard AD Singapura

JAKARTA, suaramerdeka.com – Tentara Nasional Indonesia menegaskan, pembelian 100 unit tank Leopard bekas dari Belanda
diperlukan untuk menjaga keutuhan wilayah RI. Selain itu, tank tersebut juga dipastikan sesuai dengan kondisi georafis Indonesia.
“TNI berharap tank tersebut ada. Untuk itu, TNI siap berkomunikasi dan berharap DPR menyetujui pembelian tank tersebut,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul dalam silaturahmi dengan wartawan di Wisma Elang Laut Jakarta, Senin (16/1).
Menurutnya, komunikasi antara kedua belah pihak sangat diperlukan. Sebab dengan adanya komunikasi yang baik, akan diketahui mengapa TNI memerlukan tank tersebut dan apa keunggulannya.
“Yang penting harus ada komunikasi yang baik. Sebab, tank itu menambah kekuatan pengamanan di daerah perbatasan yang berbasis daratan di Indonesia. Tank tersebut juga hanya ditempatkan di Pulau Jawa saja,” ujarnya.
Iskandar menambahkan, pembelian tank tersebut adalah untuk meningkatkan kekuatan alutsista TNI. Mengenai penempatan tank-tank tersebut, akan diatur oleh KSAD.
“Pengadaan 100 tank Leopard, enam unit pesawat tempur Sukhoi tambahan dan tiga kapal selam sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Pertahanan. Silakan bila ada pihak yang ingin menyelidiki proses pembelian tersebut,” tandasnya.
Dia juga mengatakan, selama ini TNI sudah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Namun bila ada kejanggalan, pihaknya mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menyelidikinya

sumber : Suara Merdeka

Penolakan Terhadap MBT Leopard 2A6 Bersifat Politis Dan DPR tidak melakukan Kajian Terhadap Tank Tersebut



JAKARTA, suaramerdeka.com - Anggota Komisi I DPR Nurhayati Assegaf mengatakan, pembelian tank tersebut dilakukan setelah ada kajian dari TNI Angkatan Darat, sehingga, pembelian itu tentunya memiliki alasan yang kuat. “Yang akan menggunakan adalah TNI AD. Tentunya, pembelian itu disesuaikan dengan kebutuhan. Seharusnya tidak ada penolakan,” ucapnya.
Wakil ketua Fraksi Partai Demokrat itu menambahkan, sistem pengadaan alutsista lebih baik. Sebab, pengadaan tersebut tidak lagi ditentukan oleh Kemenhan, melainkan langsung diajukan oleh tiap-tiap angkatan. Sebab bila dipasok dari atas, belum tentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing angkatan.
Selain itu, pertanggungjawabannya juga dilakukan oleh masing-masing angkatan. Untuk itu, dia mengaku tidak habis pikir mengapa penolakannya begitu kencang. “Dengan model government to government antara RI dengan Belanda, akan meminimalisir adanya rekanan atau calo. Dengan demikian, maka diharapkan tidak ada mark up terhadap pengadaan alutsista,” imbuhnya.
Dia menambahkan, penolakan terhadap tank tersebut bersifat politis. Apalagi, DPR tidak melakukan kajian terhadap tank tersebut. “Saya tidak tahu apa dasar penolakan itu. Yang jelas, Komisi I masih akan melakukan pendalaman,” tukasnya.

sumber : Suara Merdeka

Dua Sukhoi dari Rusia Tiba Tahun Ini

Sukhoi TNI AU

16 Januari 2012, Jakarta: Dua pesawat jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 akan tiba dari Rusia tahun ini. Keduanya merupakan bagian dari pembelian enam Sukhoi yang sudah diresmikan melalui penyerahan kontrak antara Kementerian Pertahanan RI dengan produsen pesawat Rusia, JSC Rosoboronexport.

Serah terima dilakukan bertahap mulai tahun ini sampai 2014. "Tahun 2012 rencananya akan didatangkan dua pesawat, selanjutnya tahun 2013 dua pesawat, dan tahun 2014 dua pesawat lagi," kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat, Senin 16 Januari.

Enam unit Sukhoi Su-30 MK2 ini sejak awal dimaksudkan untuk melengkapi jet tempur TNI Angkatan Udara. Saat ini TNI AU telah memiliki 10 unit jet tempur Sukhoi yang terdiri atas enam Sukhoi Su-27 SKM dan empat Sukhoi Su-30 MK2. Rencananya, TNI AU akan menempatkan satu skuadron Sukhoi ini di Pangkalan Udara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, penambahan Sukhoi ini memang merupakan bagian dari rencana pembangunan kekuatan TNI. Dijelaskan, penambahan tidak hanya dilakukan dengan memanfaatkan produksi luar negeri. "Kami juga tetap memercayakan industri dalam negeri. Salah satunya adalah kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia,” katanya.

PT DI kini tengah merampungkan helikopter jenis Bell 412 dan Puma untuk Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Selain itu PT DI juga sedang menyelesaikan sembilan unit pesawat CN 295 bersama produsen pesawat Airbus Millitary yang berbasis di Spanyol.

Sumber: TEMPO

Pengadaan Leopard Sudah Dikaji Matang


 MBT Leopard 2A4 milik SAF. Indonesia satu-satunya negara besar di kawasan Asia Tenggara Angkatan Daratnya tidak memiliki tank jenis MBT. Kekuatan tank TNI AD bertumpu pada tank ringan Scorpion. Rencana pembelian Leopard 2A6 oleh pemerintah,menjadikan TNI AD pemilik MBT terbaik di kawasan. (Foto: Mindef)

16 Januari 2012, Jakarta: Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan bahwa pengadaan Main Battle Tank "Leopard" dari Belanda sudah melalui penelitian dan pengkajian yang matang.

"Proses yang terjadi itu tidak ujug-ujug (tiba-tiba), dan kita tahu persis kegunaannya untuk apa," katanya usai Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan di Jakarta, Senin.

Purnomo menilai penolakan rencana pembelian tank Leopard dari Belanda oleh beberapa anggota DPR, bukan merupakan sikap resmi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Menurutnya, pernyataan sikap resmi DPR akan disampaikan dalam rapat kerja antara eksekutif dan legislatif, dan itu belum dilakukan sampai saat ini.

"Penolakan itu belum sikap resmi dari Senayan (DPR) karena kami belum bertemu dengan mereka," katanya.

Purnomo menambahkan," Komentar boleh dilakukan oleh siapa saja, tapi ada satu proses yang sifatnya `official` yang biasanya dilakukan dalam rapat kerja. Belum ada kesimpulan secara resmi tentang penolakan dan sebagainya. Kalau orang per orang silahkan saja." ujarnya.

Purnomo menegaskan rencana pembelian tank Leopard sudah melalui proses yang cukup panjang, ada jenjang penelitian dan pengembangan.

Sementara itu, Wamenhan Syafrie Syamsuddin mengatakan pembelian tank Leopard telah melalui pengkajian teknis dan taktis di tingkat Markas Besar Angkatan di Kementerian Pertahanan.

Kementerian Pertahanan memandang secara strategi perlu modernisasi peralatan militer dalam rangka dua hal yakni memenuhi strategi pertahanan.

Kedua, untuk memenuhi varian teknologi sebagai tuntutan dari revolusi militer negara ASEAN.

"Saat ini sedang diadakan pengkajian oleh pihak Komisi 1, sehingga kita menunggu hasil pengkajian secara institusi, bukan secara individu dari masing-masing anggota parlemen," kata Sjafrie.

Sebelumnya, rencana pembelian tank Leopard telah ditolak oleh parlemen Belanda. Mereka menilai Indonesia masih melakukan berbagai pelanggaran HAM. Belanda tak mau tank-tank itu dipakai untuk pelanggaran HAM.

Di dalam negeri, beberapa anggota Komisi I DPR tegas-tegas menolak rencana itu. DPR menilai spesifikasi tank Leopard tak cocok dengan kondisi medan Indonesia.

Sumber: ANTARA News

Kemhan Miliki Rp150 Triliun untuk Persenjataan

Panser Anoa TNI AD



16 Januari 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan (Kemhan) memiliki dana senilai Rp150 triliun untuk belanja dalam lima tahun mendatang yang akan dialokasi untuk tiga pos penting, terutama terkait dengan peremajaan alat utama sistem pertahanan (alutsista).

"Yang harus dipahami, anggaran dalam pembelian alutsista itu multi years dengan melalui proses yang panjang dan bertahap," ujar Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, Senin.

Usai membuka Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan, ia mengatakan, anggaran tersebut digunakan untuk tiga hal, antara lain Rp50 triliun dana on top untuk percepatan minimum essential force (MEF), Rp55 triliun untuk alutsista, dan Rp45 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan.

"Sebagian dana itu akan digunakan berbelanja pada tahun 2012 ini," kata Purnomo.

Pengadaan alat utama sistem senjata pada 2012, antara lain:

TNI AD
- Main Battle Tank (MBT) Leopard 2A6
- Senjata anti-altileri berupa roket
- Multiple launcher rocket system
- Meriam artileri 155mm Caesar Nexter
- Rudal artileri pertahanan udara
- Helikopter serbu dan serang
- Panser Anoa

TNI AU
- Senjata anti-pesawat udara
- Jet tempur F-16 Fighting Falcon
- Helikopter EC735 Super Cougar
- C-130H Hercules

TNI AL
- Sea Rider
- Kapal patroli cepat produksi dalam negeri
- Kapal perusak
- Kapal hidro oceanic
- Kapal latih layar (tall ship)
- Kapal angkut tank produksi PAL
- Kapal minyak
- Kapal selam

Sumber: ANTARA News

Sunday, January 15, 2012

TNI Persilakan Pembelian Tank Leopard Diusut

Senin, 16/01/2012 12:06 WIB
 
Jakarta - Jajaran TNI mempersilahkan dilakukan penyelidikan terhadap proses pembelian 100 tank Leopard eks Belanda dalam proyek pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Sehingga dugaan korupsi yang dilontarkan Indonesia Police Watch (IPW) bisa dijawab.

"Selama ini kan kita diaudit oleh BPK. Kalau nanti aturannya oleh KPK, ya silakan saja jika ada kejanggalan. Tapi selama ini kan tidak ada," ujar Kapuspen TNI Laksda Iskandar Sitompul di Wisma Elang Laut, Jl Diponegoro, Jakarta, Senin (16/1/2011).

Iskandar menjelaskan, tank Leopard tersebut sesuai kebutuhan TNI AD dan medan di Indonesia. Pengadaan 100 unit tank tersebut memperkuat pertahanan di perbatasan, jadi bukan hanya di Jawa saja.

"Nanti yang mengatur penempatan itu KSAD," sambung Iskandar.


Mengenai polemik di Parlemen Belanda dan DPR RI yang tidak menyetujui pembelian tank ini, TNI memandang hal tersebut sah-sah saja. Menurut Iskandar pengadaan 100 tank Leopard, 6 unit pesawat tempur Sukhoi tambahan dan 3 kapal selam sudah ada persetujuan dari Kementerian Pertahanan.

"Sama kayak kita juga, ada pro ada konra, mereka masih terus berdialog, arahnya sudah mulai mengkrucut," tutup Iskandar.

sumber : Detik 

3 KS Jaga Kalimantan

Senin, 16 Januari 2012, 02:50 WIB
INILAH.COM, Balikpapan -Menteri
Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro
menyatakan militer Indonesia
dijamin makin kuat pada akhir masa
kabinet Indonesia Bersatu II.
Saat ini Kementerian Pertahanan
mendapat alokasi anggaran yang kian
besar yakni Rp150 triliun. Anggaran ini
dialokasikan untuk kejahtraan prajurit
dan pengadaan alat utama sistem
persenjataan TNI (alutsista)
Purnomo mengakui pemerintah
terlambat dalam melaksanakan
modernisasi alutista serta perbaikan
kesejahteraan prajurit. Awal era
reformasi lalu, pemerintah saat itu
masih memfokuskan pada sektor
perekonomian pasca krisis moneter
tahun 2007 silam.
“Sekarang kita bisa memperbarui
alutsista TNI karena sekarang
ekonominya kuat, TNI pun makin kuat.
Dulu saat kita reformasi kita tidak
memperkuat alutsista karena ekonomi
belum terlalu kuat sekarang sudah kuat
ekonomi kita,” tandasnya saat
menyambut kepulangan rombongan
gerakan pramuka Saka Bahari tingkat
nasional dari perbatasan Sebatik di
Balikpapan, Sabtu siang lalu (14/1 ).
Anggaran ratusan triliun itu selain
untuk kesejahteraan prajurti TNI, juga
dialokasikan untuk pembelian alutsista.
Di antaranya untuk penambahan 6
pesawat tempur jenis Sukhoi dan
sejumlah pesawat F-16, kapal perang
dan tiga kapal selam TNI AL.
Pengadaan persenjataan baru tersebut
untuk pengamanan kawasan alur laut
kepulauan Indonesia (ALKI )II di area
Balikpapan, Banjarmasin, Makassar dan
Denpasar. “Untuk tiga kapal selam ini
nantinya kita peruntukan bagi
pengamanan jalur ALKI II ini,” ujarnya.
Seluruh kekuatan ini, termasuk kapal
selam, bertugas di wilayah Timur
Indonesia, terutama menjaga alur laut
kepulauan Indonesia (ALKI) II, yaitu
dari utara perbatasan dengan Malaysia
dan Filipina, Selat Makassar, hingga
kepulauan Nusa Tenggara di selatan.
Untuk memperkuat itu,dari pengaman
udara selain terdapat terdapat pesawat
tempur F-16, TNI AU sudah memiliki 10
pesawat Sukhoi yang pengadaannya
dimulai sejak zaman Presiden
Megawati. Saat itu pemerintah hanya
menargetkan memiliki satu skuadron
mini atau berkekuatan 12 pesawat
Sukhoi Su-27 dan Sukhoi Su-30.
“Dari Makassar hanya perlu sekitar satu
jam bagi Sukhoi dengan terbang normal
untuk mencapai perbatasan dengan
Malaysia di Sabah. Sementara Sukhoi
mampu terbang hingga mach-2 atau
dua kali kecepatan suara,” katanya
Di bidang kesejahraan prajurit, lanjut
Menhan sebagai upaya peningkatan
profesionalisme prajurit TNI, sedikitnya
ada enam hal terkait peningkatan
kesejahtraan prajurit TNI.
“Pertama alokasi remunerasi 40 persen
dari gaji, uang aluk pauk, kenaikan
berkala, gaji 13, santunan cacat prajurit
dan bea siswa putra – putrinya,”
tambahnya.
Dengan adanya alutista yang modern,
dan makin profesionalnya TNI seiring
meningkatnya kesejahtraan prajurit,
Purnomo memastikan TNI akan
mampu menangkal gangguan negara
lain baik di udara, laut maupun
daratan. [mor]
sumber: inilah.com

Saturday, January 14, 2012

F-16 Kembali Kawal Presiden SBY

Madiun, 19:43 Sat, 14 Jan 2012

Jurnas.com | PESAWAT tempur F-16 Fighting Falcon milik TNI AU dari Skadron Udara 3 Madiun kembali mengawalpesawat yang membawa Presiden Susilo BambangYudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono besertarombongan dari Madiun ke Jakarta. Empat pesawat F-16 itu mulai mengawal pesawat khusus Boeing 737-800 sejak take-off dari Bandara Iswayudi Madiun, Jawa Timur hingga memasuki wilayah udara Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (14/1) siang. Di Bandara Iswayudi Madiun, Sabtu (14/1) , Komandan
Skadron Udara 3, Letkol Pnb Ali Sudibyo mengatakan bahwa satu tugas pesawat tempur yang berada dibawahTNI AU adalah sebagai pengamanan dari VVIP. Pengamanan dan pengawalan tidak hanya Presiden RI saja dalam melaksanakan kegiatan. "Apabila kemarin seperti KTT yang dilaksanakan di Bali, dimana banyak sekali kepala negara yang datang ke sana, kita melakukan pengamanan dan pengawalan terhadap kegiatan tersebut," katanya.  Menurutnya, pengawalan yang dilakukan penerbang dan empat pesawat F-16 dilakukan kurang lebih sampai di luar dari Lanud Iswayudi, yaitu sampai Kota Semarang pada ketinggian hingga mencapai 28 ribu kaki.  "Kecepatan yang kita gunakan adalah 250 knot, menyesuaikan dengan pesawat kepresidenan," katanya.  Dalam pesawat F-16 itu, juga membawa perlengkapan peluru kendali sebanyak 550. "Kita membawa peluru kendali dari udara ke udara tentunya adalah apabila ada
kemungkinan pelanggaran udara yang masuk ke wilayah kita dan mengganggu dari kegiatan perjalanan Presiden RI, kita harus siap mengamankan dan kita harus melakukan pertempuran bila diperlukan," katanya.

sumber Jurnas

6 Sukhoi Baru dan 24 F-16 retrofit perkuat TNI AU

RI beli enam Sukhoi lagi

Sabtu, 14 Januari 2012 20:31 WIB | Dibaca 585 kali
Balikpapan (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia akan menambah enam lagi pesawat tempur Sukhoi sehingga akan lengkap memiliki satu skuadron atau 16 pesawat tempur canggih buatan Rusia tersebut.
"Selain itu, kita juga akan tambah tiga kapal selam dan pesawat-pesawat F-16 sehingga di akhir masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pertahanan kita akan kuat sekali," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu. Menhan Purnomo Yusgiantoro berada di Balikpapan dalam rangka penutupan pelayaran Saka Bahari Nusantara yang
dimulai sejak akhir Desember 2011.  "Itu karena sekarang ekonomi kita kuat sekali. Kita punya
anggaran Rp150 triliun untuk pertahanan," tambah Purnomo. Saat ini TNI AU memiliki 10 pesawat Sukhoi yang pengadaannya dimulai sejak masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Saat it,u pemerintah hanya menargetkan memiliki satu skuadron mini atau berkekuatan 12 pesawat Sukhoi SU-27 dan Sukhoi SU-30.
"Dari Makassar hanya perlu sekitar satu jam bagi Sukhoi dengan terbang normal untuk mencapai perbatasan dengan Malaysia di Sabah. Sukhoi mampu terbang hingga mach-2 atau dua kali kecepatan suara," kata Komandan Skadron Udara XI Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Letkol Penerbang Tonny Haryono dalam kesempatan terpisah. Penambahan Sukhoi itu melengkapi penambahan armadatempur udara Indonesia, yang juga diperkuat pesawat-pesawat F-16. Pada 2014 mendatang TNI AU akan mendapat
24 pesawat F-16 Block 32 yang diretrofit jadi Block 52 sehingga meski bekas USAF (angkatan udara Amerika Serikat), pesawat tersebut kemampuan tempur sama seperti pesawat baru.(KR-RMT )

sumber antara

Komisi I Ogah ke Belanda Cek Leopard Bareng Menhan

INILAH.COM, Jakarta - Rencana Kementerian
Pertahanan (Kemenhan) membeli tank Leopard bekas
tipe 2A6 dari Belanda sampai saat ini masih menjadi
kontroversi.
"Sebagai klarifikasi ulang. Bahwa sampai hari ini pihak
Kemenhan belum secara resmi memaparkan rencana
pembelian tank Leopard bekas dari Belanda, kami Komisi I
baru mendapat informasi tentang rencana itu dari media,"
ujar Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi PDI Perjuangan TB
Hasanuddin kepada INILAH.COM , Sabtu (14/1 /2012).
Karena belum ada pembahasan tersebut, tambahnya
sehingga Komisi I belum membuat kesepakatan apapun
terkait rencana pembelian tank leopard tersebut.
"Memang benar bahwa seminggu yang lalu Kemenhan telah
mengundang Komisi I bergabung meninjau ke Belanda , tapi
kami sepakat tidak ikut bergabung dengan rombongan
Kemenhan."
Andaikan harus meninjau lanjutnya, Komisi I sepakat akan
meninjau dengan biaya sendiri dengan titik berat adalah
mempelajari aspek-aspek politis. "Bukan aspek teknis
karena bukan ranah kami," ungkapnya. [mah]
sumber inilah.com

Tank leopard 2A6 Yes. Tank Pindad Yes

INILAH.COM, Jakarta - Rencana Kementerian
Pertahanan membeli tank Leopard bekas dari Belanda
nampaknya tidak bisa dihentikan. Sebab rencana ini
sudah melibatkan hubungan antara pemerintah dan
pemerintah.
Pengamat militer Hermawan Sulistyo menilai, agak sulit jika
untuk menghentikan rencana pembelian tank leopard
tersebut sebab hal ini sudah menyangkut hubungan jual beli
senjata antara negara.
"Sulit ini kan sudah ada mafia yang namanya military
industrial complex semua negara harus pakai broker,
Amerika juga pakai kok," ujar Hermawan saat ditemui usai
acara diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu
(14/1/ 2012).
Meski begitu, Hermawan berharap pemerintah dan DPR
tetap mendukung produksi dalam negeri sendiri seperti PT
Pindad dinilai memiliki kualitas yang memadai dan
internasional. "Wong Malaysia ngambilnya juga dari sini kok,
dia pesen banyak. Panser Anoa, bagus murah, cuma yang
dilawan industri militer dunia susah kita," jelasnya.
Jika Indonesia ingin memiliki Alat Utama Sistem Pertahanan
(Alutsista) yang canggih dan bertaraf internasional,
Indonesia hanya tinggal mengembangkan produksi dalam
negeri yang sudah ada. "Kalau berani kembangin saja pindad
kita mampu kok, dulu kita punya roket sura bagus kok dibeli
dimana," jelasnya.
Menanggapi penolakan dari Komisi I DPR terkait pembelian
tank ini, Hermawan menilai hal itu hanya sebuah sandiwara
atau strategi para anggota dewan saja. "Namanya saja
sudah komisi, kalau komisi kecil mana mau dia membangun
industri dalam negeri," jelasnya. [mah]g
sumber inilah.com

Timur tengah Ajang kompetisi Cina dan AS

Perdana Menteri Cina Wen Jiabao berangkat ke Timur
Tengah pada Sabtu (14/1 ) dalam perjalanan ke negara-
negara kunci penghasil minyak. Kunjungan itu dilakukan di
tengah eskalasi ketegangan di Selat Hormuz, yang bisa
mengganggu pasokan minyak mentah dunia.
Wen pertama akan melakukan perjalanan ke Arab Saudi -
pemasok terbesar kebutuhan energi Cina - selama akhir
pekan, sebelum bertolak ke Uni Emirat Arab pada hari
Senin dan kemudian ke Qatar pada tanggal 19 Januari.
Wen akan mengadakan pembicaraan dengan para
pemimpin tiga negara Arab dan menghadiri KTT Energi
Masa Depan Dunia di Abu Dhabi.
Kunjungan itu terjadi beberapa hari setelah Wen bertemu
dengan Menteri Keuangan AS Timothy Geithner, yang
berada di Beijing untuk menggalang dukungan bagi sanksi
baru AS yang bertujuan untuk mengembargo sektor
minyak Iran. Namun Cina, yang bergantung sekitar 11
persen pada impor minyak Iran, menentang sanksi
terhadap Republik Islam.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Liu Weimin
dalam jumpa pers, mengatakan, tidak rasional bahwa
sebuah negara ingin menduniakan undang-undang
internalnya dan juga meminta negara-negara lain untuk
melaksanakannya. Ditegaskannya, Cina sebagai sebuah
negara besar akan melanjutkan impor minyak Iran untuk
memenuhi permintaan logis kebutuhan energinya.
Shi Yinhong, seorang ahli politik di Universitas Renmin
Beijing, mengatakan situasi tegang atas Iran akan
menimbulkan ancaman potensial bagi pasokan energi Cina
dari Timur Tengah. Menurutnya, selama kunjungan itu,
pemerintah Cina ingin meminta tiga negara Arab untuk
berbuat lebih banyak guna meningkatkan peluang damai
dalam menyelesaikan masalah Iran.
Penegasan Cina terhadap kelanjutan perdamaian di Teluk
Persia di samping penentangan negara itu atas upaya
menciptakan krisis di kawasan, pada dasarnya membawa
pesan khusus kepada Amerika Serikat. Menurut Cina,
perang AS di Afghanistan dan Irak serta krisis finansial
global telah melahirkan kondisi buruk di kawasan dan
dunia.
Menurut para pengamat politik, pemilihan Teluk Persia
sebagai destinasi kunjungan Wen adalah indikasi
pentingnya kawasan itu dalam diplomasi masa depan
pemerintah Beijing. Penurunan ekspor produk Cina ke AS
dan negara-negara Eropa akibat krisis ekonomi telah
mendorong kekuatan-kekuatan ekonomi dunia untuk
mengalihkan fokusnya ke Asia. Negara-negara Teluk Persia
selain kaya energi, juga zona penting bagi pemasaran
produk negara-negara industri.
Oleh karena itu, perluasan hubungan ekonomi dan politik
Cina dengan negara-negara tersebut, tidak hanya akan
menjamin pertumbuhan ekonomi Cina pada kondisi resesi
global, tapi juga akan membantu memenuhi kebutuhan
negara komunis itu terhadap sumber-sumber energi. (IRIB
Indonesia/RM /NA)
Tags :

Rusia : Setiap intervensi nuklir iran Dan aksi Militer Nato terhadap iran merupakan ancaman bagi Rusia

Rusia memperingatkan bahwa mereka
akan menganggap setiap aksi militer
Pakta Pertahanan Atlantik Utara
(NATO) terhadap Iran sebagai ancaman
langsung bagi keamanan nasionalnya.
"Iran adalah tetangga kami dan jika
negara itu mendapat serangan militer,
itu sama dengan ancaman langsung
terhadap keamanan Rusia," kata Duta
Besar Rusia untuk NATO, Dmitry
Rogozin di Brussel, Belgia pada hari
Jumat (13/1) .
"Kami jelas tertarik pada non-
proliferasi senjata pemusnah massal,
tetapi pada saat yang sama, kami
percaya bahwa setiap negara,
termasuk Iran memiliki hak untuk
memperoleh apa saja yang membuat
mereka nyaman," tambahnya.
Pernyataan itu datang satu hari setelah
Sekretaris Dewan Keamanan Federasi
Rusia, Nikolai Patrushev,
memperingatkan tentang upaya lobi
Zionis untuk menyeret Amerika Serikat
ke dalam konfrontasi militer dengan
Iran.
"Ada kemungkinan eskalasi konflik
militer, di mana AS didorong oleh
Israel," kata Patrushev dalam sebuah
wawancara dengan Interfax pada
Kamis.
AS dan rezim Zionis Israel berulang kali
mengancam Iran dengan opsi
serangan militer, didasarkan pada
dugaan bahwa program nuklir Tehran
memiliki aspek militer rahasia.
Iran dengan tegas membantah
tuduhan Barat, mengatakan sebagai
penandatangan Traktat Non-Proliferasi
Nuklir (NPT) dan anggota Badan Energi
Atom Internasional (IAEA), memiliki hak
untuk memperoleh dan
mengembangkan teknologi nuklir untuk
tujuan damai. sumber(IRIB Indonesia/RM /NA)

Skadron Elang Katulistiwa siap tempur dan Pesawat Tanpa Awak Pun Akan Dipersenjatai

Sungai Raya – Pesawat tempur Hawk
di Skadron Elang Khatulistiwa siap
tempur dan menghalau penyusup,
sebagaimana pencegatan pesawat
Falcon 900 yang ditumpangi Wakil PM
Papua Niugini, Belden Namah,
November tahun lalu, oleh Shukoi
TNI AU.
“Pesawat tempur ini harus standby
selama 24 jam. Jika dibutuhkan,
dengan cepat pesawat Hawk 100-200
ini akan bergerak,” ungkap Kolonel
(Pnb) Kustono SSos, Danlanud
Supadio kepada Yuniardi dari Equator
di ruang kerjanya, Kamis (12/1 ).
Skadron Elang Khatulistiwa yang
berpangkalan di Lanud Supadio
memang disiapkan untuk menjaga
kedaulatan NKRI. Dengan pesawat
Hawk 100-200, setiap harinya
menyiapkan flight pesawat tempur.
Sehingga jika sewaktu-waktu ada
pesawat asing tanpa izin melintas
masuk ke wilayah udara Indonesia,
jajaran Komando Pertahanan Udara
Nasional (Kohanudnas), dalam hal ini
Pos Sektor (Posek) 1, bisa langsung
meng-airborne-kan pesawat hawk
dari Pontianak untuk mengidentifikasi
pesawat asing yang melintas.
“Pesawat hawk ini akan segera
diberangkatkan untuk
mengidentifikasi. Sedangkan untuk
penindakannya, tentu saja semua
tergantung perintah dari panglima,”
tegas Kustono.
Kesiapan 24 jam, menurutnya, untuk
mengidentifikasi dan menyampaikan
laporan saja. Apakah itu diusir,
dipaksa mendarat, atau yang lainnya,
mengingat ada klasifikasi yang harus
dilaksanakan.
Tentu saja pihak Lanud Supadio akan
berkoordinasi dengan Posek 1 yang
ada di Jakarta. Koordinasi dibantu
monitoring menggunakan radar sipil
yang ada di Angkasa Pura khususnya
di wilayah udara Kalimantan Barat
dan sekitarnya. Pasalnya TNI AU yang
ada di Kalimantan belum memiliki
radar.
“Radar sipil yang ada di Angkasa Pura
ini sudah terintegentrasi (koneksi)
dengan Kohanudnas di Jakarta,”
katanya.
Makanya, kendala Lanud Supadio saat
ini adalah belum memiliki radar untuk
memonitoring wilayah pertahanan
udara khususnya di Kalimantan Barat.
Untunglah radar sipil milik Angkasa
Pura bisa digunakan.
Selain itu, Skadron 1 juga selalu
melaksanakan latihan rutin, di
antaranya latihan terbang malam.
Tujuannya untuk meningkatkan
profesional para penerbang dalam
mengantisipasi kemungkinan akan
terjadi gangguan, ancaman serta
pelanggaran wilayah kedaulatan
hukum nasional oleh pihak lain.
Sebab, lanjut Danlanud, untuk
meningkatkan dan mempertahankan
kemampuan serta tetap
terpeliharanya keahlian terbang, para
penerbang tentunya membutuhkan
latihan yang berkesinambungan.
Terbang dengan kondisi cuaca
maupun situasi siang ataupun
malam. Dengan begitu para
penerbang dapat mengatasi berbagai
tantangan tugas yang dihadapi.
“Bagi para penerbang tempur,
terbang malam bukan merupakan hal
yang luar biasa. Namun perlu untuk
pembiasaan terutama pada saat
lepas landas dan mendarat yang
sangat mengandalkan instrumen yang
ada. Di samping visual dengan alat
bantu lampu penerangan di dua sisi
landasan. Untuk itu para penerbang
dituntut lebih teliti dan hati-hati
dalam menerbangkan pesawat serta
melakukan manuver-manuver
tertentu,” paparnya.
Tak hanya itu. Menjaga wilayah
perbatasan di Kalimantan Barat,
Lanud Supadio Pontianak akan
diperkuat dengan pesawat tanpa
awak. “Pesawat tanpa awak di
Pangkalan Udara Supadio diarahkan
untuk memperkuat kemampuan
pemantauan termasuk daerah
perbatasan di Kalimantan Barat.
Bahkan juga dioperasikan untuk
pengawasan di pulau Kalimantan,”
katanya sembari mengatakan kalau
pesawat tersebut juga dapat
dipersenjatai serta dilengkapi dengan
peralatan pendeteksi untuk kondisi
malam dan siang hari.
Sumber : Equator news

Pengadaan Main Battle Tank Leopard 2A6 di Barengi Transfer Of Technologi (TOT)

Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat
Jenderal Pramono Edhie Wibowo
memastikan rencana pembelian tank
berat Leopard A26 buatan Jerman
sudah sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan senjata dalam negeri. "Itu
teknisnya sudah saya tanyakan
kepada ahlinya, yaitu pusat
kesenjataan kavaleri," kata Pramono
di Kantor Pusat Penerangan Angkatan
Darat, Jumat 13 Januari 2012.
KSAD juga memastikan pembelian
tank berat Leopard A26 dari Belanda
itu akan diikuti dengan transfer
teknologi. "Membeli alat harus siap
dengan alih teknologi untuk pasukan
yang memakainya," ujarnya.
Menurut Pramono, pembelian 100
tank Leopard itu sudah sesuai dengan
rencana modernisasi alat utama
sistem persenjataan (alutsista) yang
akan rampung pada 2014. Pemilihan
tank berat ini juga untuk
mengimbangi negara tetangga yang
telah lebih dulu memiliki tank sejenis.
Modernisasi ini, dia melanjutkan,
tidak untuk meningkatkan persaingan
antarnegara yang ada di kawasan.
"Hanya mungkin ada yang terkejut,
kok, sekarang. Jawabnya, ya, karena
kita (baru) punya uang sekarang,"
ujar Pramono datar.
Agar harga tank bisa lebih murah,
pemerintah membelinya melalui kerja
sama antarpemerintah, dengan
pemerintah Belanda. Anggaran US$
280 juta yang sudah disiapkan pun
cukup untuk membeli seratus tank
berdaya tembak 6 kilometer itu.
"Prinsipnya, alutsista itu harus
memberi kebanggaan dan
mendukung kesiapan AD untuk
menjalankan tugas pokoknya,"
Pramono menegaskan.
Lebih jauh disebutkan, selama ini AD
belum pernah membeli alutsista
dalam jumlah besar. Sebagai contoh,
Indonesia saat ini baru memiliki tank
ringan AMX13 yang umurnya 50
tahun lebih. Dengan penambahan
dana Rp 14 triliun hingga 2014, AD
akan terus membeli alutsista baru,
bukan hanya tank berat, tapi juga
meriam, helikopter, rudal
antiserangan udara, dan amunisi.
Mengenai rencana pembelian tank
Leopard ini, Wakil Ketua Komisi
Pertahanan T.B. Hasanuddin
mengatakan Dewan Perwakilan
Rakyat akan menolak pembelian
karena tank jenis ini dinilai tak cocok
dengan kondisi geografis Indonesia.
Menurut dia, tank berbobot 60 ton ini
akan mubazir karena tidak sesuai
dengan kebutuhan TNI AD. "Yang kita
butuhkan sesuai dengan renstra itu
tank jenis menengah, bukan tank
berat seperti ini," ujarnya. Sejumlah
anggota Komisi Pertahanan lainnya
juga mengkritik rencana penempatan
tank yang akan dipusatkan di Jawa.
Menanggapi hal ini, Pramono
menjelaskan, pembelian tank berat
merupakan upaya AD menciptakan
kesetaraan dengan negara tetangga,
seperti Malaysia, Thailand, Kamboja,
dan Myanmar, yang telah lebih dulu
memilikinya. Pembelian tank berat
oleh AD akan sangat berguna dalam
latihan gabungan antarnegara
ASEAN. "Selama ini latihan gabungan
tidak berjalan sepadan. Mereka
punya tank berat, sedangkan kita
medium saja belum punya," ujarnya.
Mengenai penempatan tank yang
dipusatkan di Jawa, menurut
Pramono, semata-mata agar lebih
mudah diangkut ke mana saja di
wilayah Indonesia. Pasalnya, untuk
memindahkan tank tempur itu,
diperlukan alat angkut militer yang
sampai saat ini baru ada di Jakarta
dan Surabaya. KSAD juga meminta
masyarakat tidak khawatir akan
penyalahgunaan tank oleh AD.
Bagaimanapun, tank tempur tidak
akan digunakan di daerah padat
penduduk. "Prinsipnya, tank hanya
akan melawan tank," ujarnya.
Sumber : TEMPO

Presiden SBY Tinjau Acmi Di Iswayudi

Madiun, 11:11 Sat, 14 Jan 2012
Jurnas.com | PRESIDEN Susilo
Bambang Yudhoyono didampingi
beberapa menteri Kabinet Indonesia
Bersatu II, Sabtu (14/1 ), meninjau
fasilitas latihan Air Combat
Manuevering instrumentation (ACMI)
di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa
Timur.
Kepala Penerangan dan Perpustakaan
(Kapentak) Lanud Iswahyudi, Mayor
Sus Sutrisno, menjelaskan, ACMI
adalah seperangkat peralatan
elektronik yang terintegrasi dengan
pesawat udara yang berfungsi untuk
memonitor pergerakan pesawat secara
real time dan merekamnya untuk
keperluan debriefing.
Sarana latihan ACMI, menurut
Sutrisno, diperuntukkan khusus bagi
penerbang tempur. Presiden SBY
sempat menyaksikan simulasi hasil
rekaman pesawat tempur F-16 Fighting
Falcon saat melaksanakan latihan air to
air .
Menurut Sutrisno, ACMI ini juga dapat
digunakan untuk memonitor pesawat
F-5/Tiger dan Hawk 109/209 yang
sedang melaksanakan operasi udara.
Ia menjelaskan sarana latihan ACMI
juga dimaksudkan untuk
mempersiapkan kedatangan alutsista
(alat utama sistem persenjataan) yang
baru baik T-50 Golden Eagle sebagai
pengganti pesawat Hawk MK-53
maupun 24 pesawat F-16 Fighting
Falcon dari Amerika Serikat. "Dengan
adanya sarana tersebut diharapkan
dapat meningkatkan pprofesionalisme
para penerbang sehingga dapat
terwujud zero accident," katanya.
Selain itu, para penerbang tempur
Lanud Iswahyudi Madiun akan semakin
terarah dalam meningkatkan
kemampuan tempur udara. Melalui
ACMI, seorang penerbang tempur akan
dapat memonitor pelaksanaan latihan
terbangnya dalam berbagai formasi,
baik secara real time maupun dalam
bentuk rekaman untuk debriefing.
Ikut serta mendampingi Presiden,
Menko Polhukam Djoko Suyanto,
Mensesneg Sudi Silalahi, Kepala Staf
TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI
Imam Sufaat, Pangkoopsau II,
Marsekal Muda TNI Ismono Wijayanto
serta para pejabat Lanud Iswahyudi
Madiun.
sumber Jurnas
Madiun, 11:11 Sat, 14 Jan 2012
Jurnas.com | PRESIDEN Susilo
Bambang Yudhoyono didampingi
beberapa menteri Kabinet Indonesia
Bersatu II, Sabtu (14/1 ), meninjau
fasilitas latihan Air Combat
Manuevering instrumentation (ACMI)
di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa
Timur.
Kepala Penerangan dan Perpustakaan
(Kapentak) Lanud Iswahyudi, Mayor
Sus Sutrisno, menjelaskan, ACMI
adalah seperangkat peralatan
elektronik yang terintegrasi dengan
pesawat udara yang berfungsi untuk
memonitor pergerakan pesawat secara
real time dan merekamnya untuk
keperluan debriefing.
Sarana latihan ACMI, menurut
Sutrisno, diperuntukkan khusus bagi
penerbang tempur. Presiden SBY
sempat menyaksikan simulasi hasil
rekaman pesawat tempur F-16 Fighting
Falcon saat melaksanakan latihan air to
air .
Menurut Sutrisno, ACMI ini juga dapat
digunakan untuk memonitor pesawat
F-5/Tiger dan Hawk 109/209 yang
sedang melaksanakan operasi udara.
Ia menjelaskan sarana latihan ACMI
juga dimaksudkan untuk
mempersiapkan kedatangan alutsista
(alat utama sistem persenjataan) yang
baru baik T-50 Golden Eagle sebagai
pengganti pesawat Hawk MK-53
maupun 24 pesawat F-16 Fighting
Falcon dari Amerika Serikat. "Dengan
adanya sarana tersebut diharapkan
dapat meningkatkan pprofesionalisme
para penerbang sehingga dapat
terwujud zero accident," katanya.
Selain itu, para penerbang tempur
Lanud Iswahyudi Madiun akan semakin
terarah dalam meningkatkan
kemampuan tempur udara. Melalui
ACMI, seorang penerbang tempur akan
dapat memonitor pelaksanaan latihan
terbangnya dalam berbagai formasi,
baik secara real time maupun dalam
bentuk rekaman untuk debriefing.
Ikut serta mendampingi Presiden,
Menko Polhukam Djoko Suyanto,
Mensesneg Sudi Silalahi, Kepala Staf
TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI
Imam Sufaat, Pangkoopsau II,
Marsekal Muda TNI Ismono Wijayanto
serta para pejabat Lanud Iswahyudi
Madiun.
sumber Jurnas

Friday, January 13, 2012

Karya Anak Bangsa: Eco Power Booster

Pengembangan energi terbarukan kini
banyak dilakukan berbagai pihak. Hal
ini dilakukan menyusul kenaikan harga
minyak dunia yang menimbulkan
kekhawatiran di masyarakat akan
melambungnya harga bahan bakar
minyak (BBM), terutama premium.
Padahal bahan bakar merupakan
kebutuhan yang sangat penting, karena
dapat mempengaruhi harga bahan
pokok lainnya. Pemerintah pun mulai
membatasi penggunaan BBM
khususnya premium dengan melakukan
sosialisasi penggunaan Pertamax bagi
masyarakat mampu. Sayangnya, hal
tersebut tidak membuat masyarakat
beralih mengunakan bahan bakar
premium. Alhasil, subsidi BBM masih
terus membengkak.
Pengembangan energi terbarukan pun
terus dilakukan, di antaranya, melalui
Biomasa, Biogas, Solarcell dan
Hydrocell. Tak terkecuali oleh kalangan
perguruan tinggi, melalui karya yang
diciptakan oleh para mahasiswanya.
Mahasiswa program Diploma 3
Otomotif, Fakultas Teknik dan Sains
Universitas Nasional berhasil
mengembangkan penggunaan energi
terbarukan dengan memanfaatkan
energi air. Mereka menyebutnya Eco
Power Booster. Bagaimana karya
mereka?
"Solusi penghematan bahan bakar
untuk kendaraan bermotor dilakukan
dengan memanfaatkan air untuk
membangkitkan energi listrik dengan
HHO menggunakan dry cell.
Penghemat bahan bakar atau HHO
Generator ini kami sebut Eco Power
Booster. Eco artinya ekonomis dan
efisien. Sedangkan Power Booster
artinya dapat memacu kecepatan
kendaraan,'' ungkap Dekan FTS UNAS,
Ir. Ajat Sudrajat, MT, di Jakarta.
Eco Power Booster mampu
mengurangi konsumsi bahan bakar,
sehingga membuat jarak tempuh per
liter BBM semakin besar, dengan
penghematan antara 20-70 persen.
"Misalnya, biasanya untuk satu liter
bensin bisa mencapai 10 kilometer.
Dengan alat ini kendaraan bisa
menempuh hingga 20 kilometer," jelas
Kepala Laboratorium FTS UNAS, Eddy
Arifin.
Selain itu, Eco Power Booster juga
dapat meminimalkan emisi gas buang
(gas CO dan CO2) yang berbahaya bagi
lingkungan hingga 50 persen. Hal ini
menjadikannya ramah lingkungan.
Performa kendaraan bermotor juga
meningkat dan mampu menurunkan
suhu kerja mesin dan menurunkan
panas yang terpapar ke udara.
Penelitian kolaborasi mahasiswa-dosen
Penghemat bahan bakar dengan HHO
ini menggunakan sistem dry cell yang
dikembangkan melalui penelitian
gabungan antara dosen dan
mahasiswa selama dua tahun. Dengan
adanya solusi tersebut, diharapkan
dapat mengurangi pemakaian bahan
bakar minyak pada kendaraan roda
dua dan empat. Penghemat bahan
bakar hydrogen dengan sistem dry cell
ini diharapkan dapat menjadi solusi
energi di masa depan.
Eddy menambahkan, dalam temuan ini
memang tidak sepenuhnya bahan
bakar yang digunakan berasal dari air.
Namun, penggunaan air dalam Eco
Power Booster, membantu mengurangi
penggunaan BBM. Prinsip untuk
mengembangkan air sebagai energi
adalah dengan mengubahnya menjadi
senyawa-senyawa penyusunnya yaitu
hidrogen (H) dan oksigen (O).
Elektrolisis air menjadi prinsip dasar
untuk mengubah air menjadi senyawa-
senyawa penyusunnya. Gas H2 hasil
elektrolisis tersebut digunakan sebagai
energi bahan bakar yang memiliki
tingkat pembakaran lebih tinggi,
dibandingkan dengan energi lainnya.
Teknologi Eco Power Booster lebih
unggul dari teknologi sejenis lainnya
karena tidak panas meski dinyalakan
selama 24 jam.
Meski belum diproduksi secara massal,
Eco Power Booster sudah cukup
dikenal di kalangan sivitas akademika
Unas dan lingkungan sekitarnya.
Hingga kini sudah ada sekitar 40
kendaraan roda empat dan 20
kendaraan roda dua yang
menggunakan teknologi ini.
"Kami belum produksi massal, masih
untuk internal saja. Tapi, mereka yang
sudah menggunakan mengaku puas,
karena selain irit BBM, tarikan mesin
jadi lebih enteng. Dari situlah biasanya
mereka menceritakan ke teman-
temannya,'' papar Eddy.
Terkait hak paten teknologi Eco Power
Booster, Ajat mengatakan, saat ini
tengah dalam proses. Hak paten ini
diharapkan bisa selesai dalam waktu
segera. Ajat juga mengungkapkan,
pihaknya akan terus menyempurnakan
produk agar kualitasnya terjamin
sembari mengembangkan teknologi
untuk kepentingan lain di bidang
rumah tangga dan juga perbengkelan.
Teknologi ini diharapkan dapat menjadi
kontribusi yang berharga tidak hanya
dalam menjawab krisis BBM, namun
juga menjadi solusi energi tak
terbarukan di masa depan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto
pun sempat menyatakan
kekagumannya atas hasil karya
mahasiswa program Diploma 3
Otomotif FTS UNAS yang dipamerkan di
Pameran Pekan Produk Kreatif Daerah,
pada 23 Juni 2011 lalu.(
sumber IRIB Indonesia/
Kompas).

BERITA POLULER