Pages

Friday, August 5, 2011

Germany Deploys Boxer Armored Vehicles to Afghanistan

Germany Deploys Boxer Armored Vehicles to Afghanistan


By Forecast International on Friday, August 5th, 2011

Germany has airlifted five of its new Boxer multirole armored vehicles to Afghanistan for what will be the vehicles' first operational deployment. The five Boxers sent to the Afghan theater are of the armored personnel carrier variant and will be used by the Bundeswehr training and protection battalion operating in the area of Mazar-e-Sharif.
The Boxer is a bi-national vehicle project undertaken by Germany and the Netherlands. It is produced by ARTEC, a joint venture between Germany's Krauss-Maffei Wegmann (KMW) and Rheinmetall Defense. Germany aims for the 8x8 Boxer to partially or fully replace the Fuchs 6x6 and M113 series of tracked vehicles currently in service.
The German Boxers have been ordered in three configurations: 135 armored personnel carriers (APCs), 65 command post variants, and 72 heavy-armored ambulances. Some of the vehicles already ordered may also be converted to training variants.
The 33-tonne Boxer is designed to meet the requirements of the German IdZ (infantryman of the future) that is being integrated with the German Army FuInfoSys command and information system.
The five German Boxers have been upgraded to the A1 level, a standard that provides for additional mine protection. Germany had hoped the delivery of the command post and ambulance variants would commence in 2010, but reports indicate that the command post variant will not arrive until the first quarter of 2012, along with further armored personnel carrier types.

Thursday, August 4, 2011

Diam-diam Vietnam Bangun Armada Selam



Yunes, sebuah kapal selam Iran kelas Kilo
HANOI, KOMPAS.com - Vietnam akan memiliki armada kapal selam dalam tempo enam tahun, kata menteri pertahanan Vietnam mengkonfirmasi laporan-laporan pada Kamis (4/8/2011), pada saat China meningkatkan ketegaran maritimnya yang menyebabkan keprihatinan kawasan.
Media Rusia melaporkan, pada Desember 2009, Vietnam telah sepakat untuk membeli setengah lusin kapal selam tenaga-diesel senilai dua miliar dolar. Namun pihak pemerintah Hanoi tidak bersedia mengomentari berita kesepakatan itu.
"Dalam lima-enam tahun mendatang, kita akan memiliki satu brigade enam kapal selam kelas 636 kilo," kata Menteri Pertahanan Phung Quang Thanh seperti dikutip oleh surat kabar yang dikendalikan negara, Tuoi Tre.
Dalam laporan tersebut Thanh mengatakan, armada itu bukan dimaksudkan sebagai ancaman bagi negara-negara di kawasan. "Membeli kapal selam, rudal, jet-jet tempur dan peralatan lainnya untuk pertahanan diri," katanya tanpa menyebutkan bagaimana Vietnam membayar untuk investasi angkatan lautnya itu.
"Itu tergantung pada kemampuan ekonomi kita. Vietnam belum menghasilkan persenjataan dan peralatan militer modern, yang mahal untuk impor," katanya.
Para ekonom mengatakan, ekonomi negara itu sedang berada dalam kekacauan dengan ancaman inflasi, perdagangan besar dan defisit anggaran, belanja negara tidak efisien, dan kesengsaraan-kesengsaraan lainnya.
"Banyak sistem peralatan persenjataan militer Vietnam yang sudah kuno, tapi pekan ini Vietnam menerima pengiriman pertama dari tiga pesawat patroli pantai untuk polisi laut," kata produsen, Airbus Militer yang berbasis di Madrid.
Ketika berita-berita tentang kesepakatan Rusia pertama muncul, para analis mengatakan akuisisi itu bertujuan untuk memperkuat klaim Hanoi terhadap Beijing di Laut China Selatan.
Kedua pihak memiliki sengketa teritorial yang baru-baru ini kembali memanas. Ketegangan-ketegangan meningkat pada Mei ketika Vietnam menuduh kapal penjaga perairan China memotong kabel-kabel eksplorasi kapal survei minyak di zona ekonomi eksklusif negara.
Negara-negara lain di kawasan juga menuduh Cina dalam beberapa bulan terakhir ini menjadi lebih agresif, dalam menegakkan klaimnya atas bagian-bagian dari Laut China Selatan.
Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam dan Taiwan juga memiliki klaim yang tumpang tindih untuk semua atau bagian dari perairan itu, yang diyakini kaya akan deposit minyak dan gas.

KOMPAS

Indonesia-Korsel Tingkatkan Kemampuan Pertahanan

Kamis, 4 Agustus 2011 | 10:04
 
KFX/IFX/F-33 STEALTH


[JAKARTA] Sekjen Kemhan Marsdya TNI Erris Heryanto menyatakan, Indonesia dan Korea Selatan memiliki tujuan yang sama dalam upaya meningkatkan kerjasama pertahanan khususnya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kedua negara melalui pengembangan dan produksi poduk-produk pertahanannya secara optimal.

Demikian siaran pers yang diterima SP, di Jakarta, Kamis (4/8) disampaikan bahwa Erris Heryanto mengatakan hal itu saat mengadakan KF-X/IF-X Kick off meeting dengan Komisaris Defense Acquisition Program Administration (DAPA), Duta Besar  Indonesia untuk Korea Selatan, Agency for Defence Development (ADD) Korea, di Daejeon, Korea Selatan, Selasa (2/8).

Erris mengatakan, program pesawat jet tempur Korea Fighter Xperiment (KFX) atau jet tempur generasi 4,5, KF-X/IF-X merupakan program strategis kedua negara dimana program ini sejalan dengan arah tujuan kebijakan pertahanan nasional yang   berupaya untuk meningkatkan kemampuan dalam negeri secara berkelanjutan serta memberdayakan industri pertahanan Indonesia.

Program pembangunan KF-X/IF-X telah mencapai tonggak penting dengan dimulainya tahap pengembangan teknologi yang merupakan  tahap penting dari program pembangunan KF-X/IF-X.

“Dengan pertimbangan ini, kami telah memilih tim engineering Indonesia yang saya percaya akan mendedikasikan semua pengalaman mereka untuk mendukung program ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut atas nama pemerintah Indonesia, Erris menyerahkan tim engineering Indonesia untuk bekerja sama dengan tim Korea dalam menyelesaikan program KF-X/IF-X ini. 

Tim engineering Indonesia yang berjumlah 37 orang terdiri dari TNI AU, ITB, Kemhan dan PT DI akan bergabung bersama dengan tim dari Korea dalam rangka untuk memulai tahap awal kerja sama ini.

Erris mengemukakan, Kemhan sangat mendukung berdirinya Pusat Penelitian dan Pengembangan Gabungan atau Combined Research and Development Center (CRDC). Dengan berdirinya CRDC.

SUARA PEMBAHARUAN

Rusia Incar Kontrak Baru 3 Miliar Dollar



migavia.ru Varian MiG-29 K dilengkapi kait penahan di bagian ekor, yang berfungsi membantu pendaratan di kapal induk. Versi pesawat ini lah yang dipesan Angkatan Laut India.
MOSKWA, KOMPAS.com - Di saat negara-negara produsen pesawat tempur di Eropa kesulitan menjual produknya, Rusia justru terus mendapat pelanggan baru. Lembaga think tank pertahanan CAST, Kamis (4/8/2011), mengatakan, dalam waktu dekat Rusia akan mendapat tiga kontrak pembelian baru yang ditaksir bernilai total hampir 3 miliar dollar AS (Rp25,5 triliun).
Kontrak sebesar itu antara lain berasal dari India, yang memesan 40 pesawat tempur Sukhoi Su-30MKI senilai 2 miliar dollar AS. Pesawat varian dari Su-30 ini akan dibuat bersama dengan perusahaan pembuat pesawat India, Hindustan Aeronautics. "Ada peluang sangat besar Angkatan Udara India akan menandatangani pembelian 40 Su-30MKI akhir tahun ini," tutur Direktur CAST Ruslan Pukhov.
Sebelumnya, India telah memesan 16 pesawat MiG-29K/KUB, varian MiG-29 yang bisa beroperasi dari kapal induk. Sebelas pesawat pesanan tersebut telah dikirim pekan ini. "Mereka (India) tak pernah merasa cukup dengan senjata (buatan) Rusia," imbuh Pukhov.
Pemesan kedua adalah Kementerian Pertahanan Rusia sendiri, yang berminat memberi 24 MiG-29K untuk menggantikan armada Su-33, yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan udara yang bisa beroperasi dari satu-satunya kapal induk Rusia, *Admiral Kuznetsov*. Kontrak ini bernilai 960 juta dollar AS.
Sementara kontrak ketiga, yang diharapkan bisa segera ditandatangani, adalah pembelian enam pesawat jet latih tempur Yak-130. Enam pesawat ini pada awalnya dipesan oleh Libya sebelum PBB menerapkan embargo senjata. Menurut Pukhov, calon kuat pembeli pesawat-pesawat ini adalah Kazakstan.
Ekspor senjata Rusia tahun lalu hampir menyentuh nilai 10 miliar dollar AS, menjadikan negara itu tetap bercokol sebagai eksportir senjata terbesar kedua di dunia setelah AS. Penjualan persenjataan Rusia sempat menurun tahun ini setelah meletusnya gelombang revolusi dan musim semi Arab di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Sebagian negara di kawasan ini, seperti Aljazair, Suriah, dan Libya, selama ini dikenal sebagai pelanggan setia produk-produk senjata Rusia.
Rusia juga dicoret dari daftar calon pemasok proyek pengadaan pesawat tempur India senilai 11 miliar dollar AS, April lalu, setelah India lebih condong pada pesawat Rafale buatan Perancis dan Eurofighter Typhoon buatan konsorsium Eropa.
"Ada unsur politis dalam keputusan (India) itu. Mereka tahu telah membeli terlalu banyak senjata dari Rusia, jadi demi alasan diplomatik, mereka harus berusaha menyeimbangkan pemasok (senjata) mereka," papar Pukhov.
Meski demikian, penjualan persenjataan Rusia diperkirakan akan terus stabil dengan datangnya beberapa calon pembeli baru. Vietnam, misalnya, selain memesan enam kapal selam kelas Kilo 636 juga memesan 12 pesawat tempur Su-30MK2.

KOMPAS

KRI Kolinlamil Obyek Fotografi


 
Wahyu Wening / Jurnal Nasional
Jurnas.com | KEBERADAAN kapal perang Republik Indonesia (KRI) selalu menjadi hal yang menarik terutama bagi komunitas perkumpulan fotografi. Mereka mengambil gambar dengan obyek KRI. Hal itu terlihat ketika 23 orang dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Cabang DKI Jakarta (The Chinese Indonesian Association) melaksanakan kunjungan ke kapal perang TNI AL, KRI Tanjung Kambani-971 yang sedang sandar di dermaga Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (4/8).

Menurut Kadispen Kolinlamil, Letkol Laut Maman Sulaeman, Perhimpunan Indonesia Tionghoa melalui komunitas perkumpulan fotografi melakukan kunjungan dalam rangka mengikuti pendidikan fotografi dan praktek di The North Institute School of Photography dengan obyek KRI Tanjung Kambani-971.

Pada kesempatan itu, Komandan KRI Tanjung Kambadi, Letkol Laut (P) Dadang Sumantri menunjuk salah satu Perwira menjadi pemandu kunjungan Perhimpunan Indonesia Tionghoa/INTI Cabang DKI Jakarta. Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa KRI Tanjung Kambani-971 sebagai kapal perang jenis Bantu Angkut Personel yang bertugas melaksanakan Angkutan Laut Militer dalam rangka melaksanakan tugas pokok Kolinlamil.

Kegiatan kunjungan diawali dengan pengenalan tugas Angkatan Laut pada umumnya dan tugas yang diemban kapal perang TNI AL. Sehingga pengunjung dapat lebih mengenal dan memahami secara langsung tentang kehidupan di kapal perang. Usai kegiatan pengenalan kapal perang, para siswa fotografi diberikan kesempatan berkeliling ke ruang-ruang kapal yang dipandu oleh anak buah kapal (ABK) KRI guna melihat secara langsung berbagai fasilitas dan peralatan yang dimiliki kapal perang, KRI Tanjung Kambani-971.

Kunjungan dimulai dari ruang-ruang pasukan, ruang anjungan dan berbagai peralatan SAR dan sebagainya.

Selama berada di kapal perang TNI AL, para siswa fotografi selain merasakan berada di dalam kapal perang, juga dapat melihat dari dekat berbagai peralatan dan persenjataan di kapal perang.

So Wee Ming (Aming) selaku Wakil Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa Cabang DKI Jakarta, mengatakan kunjungan kali ini merupakan pengalaman yang baru bagi siswa fotografi dengan mengambil lokasi ke KRI. “Semoga kegiatan ini dapat berlanjut dan juga ikut mempromosikan kegiatan TNI AL melalui media fotografi," katanya seperti dilansir dalam siaran pers Dispen Kolinlamil yang diterima Jurnal Nasional.

JURNAS

Panglima TNI: Bukan Gerakan Papua Merdeka


 
Situs Resmi Mabes TNI / Mabes TNI
Jurnas.com | PANGLIMA TNI Laksamana TNI Agus Suhartono membantah bahwa kejadian penembakan di Papua beberapa waktu lalu itu sebagai bagian dari gerakan Papua Merdeka. "Tidak bisa dikaitkan langsung seperti itu. Di Papua itu kelompok (penyebab rusuh)-nya banyak, dan ini kelompok sendiri-sendiri yang tidak bisa langsung ada kejadian dikaitkan dengan itu, tidak bisa," kata dia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/8)..

Menurut Agus, dari beberapa peristiwa yang terjadi di Papua tersebut, Agus menilai, yang menjadi motif pemicunya ada beberapa faktor, antara lain masalah kesejahteraan dan sebagainya. Oleh karena itu, TNI melakukan bakti TNI di wilayah tersebut. "Saya kira motifnya kalau yang saya pelajari masalah kesejahteraan dan lain sebagainya. Itu menjadi hal yang kami perhatikan. Oleh karena itu TNI melakukan bakti TNI di sana. Itu dalam rangka pendekatan kesejahteraan, bukan pendekatan keamanan," ucap dia.

Panglima bahkan mengibaratkan, beberapa peristiwa penembakan yang akhir-akhir ini terjadi di sejumlah daerah sebagai bunga-bunga kehidupan. Bahkan, menurut dia, aksi yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata, misalnya yang baru-baru ini terjadi di Papua, hanya karena kelompok itu ingin mencari perhatian. Dikatakan Agus, kelompok tersebut tidak mengajukan tuntutan apapun terhadap aparat keamanan.

Sebagai informasi, terakhir, terjadi penembakan terhadap helikopter MI 17 milik TNI AD, saat TNI AD hendak mengevakuasi prajuritnya yang terkena tembak sehari sebelumnya saat terjadi aksi penembakan di Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya Papua.

Dalam proses pengamanan tersebut, peluru yang dimuntahkan akhirnya secara tidak sengaja mengenai anggota TNI AD yang akan dievakuasi itu, dan akhirnya meninggal.

Ditekankan Agus, aksi tersebut dilakukan oleh kelompok gerakan bersenjata. Namun, dengan hati-hati dia tidak ingin menyebut itu merupakan kelompok separatis, melainkan kelompok bersenjata. "Di Papua seperti itu kondisinya. Tidak ada masalah, biasa. Saya kira kelompok bersenjata itu mencari perhatian saja. Ya, itu kan bunga-bunganya kehidupan, saya kira seperti itu. Kemarin di Madura ada polisi meninggal, sama juga kan?," ujar dia.

JURNAS

KSAD: Papua Takkan Jadi DOM


 
Humas TNI AD / TNI AD
Jurnas.com | TNI tak akan menjadikan Papua sebagai daerah operasi militer. Kejadian di Puncak Jaya hanya merupakan ulah separatis yang terganggu karena rakyat Papua lebih bersimpati pada TNI Demikian ditegaskan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo. "Satuan yang ada di Papua sudah cukup, hanya intensitas patroli yang kami tingkatkan. Apa yang terjadi hanya efek kegiatan TNI yang merebut hati rakyat,"kata KSAD usai mengunjungi anggota TNI yang tertembak di Papua dan saat ini dirawat di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta, Kamis (4/8).

Kegiatan yang dimaksud KSAD adalah kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Anggota TNI yang terkena tembakan adalah anggota yang tengah melaksanakan program TMMD. "Gerombolan ini merasa terganggu karena mereka berjanji sekian lama, seandainya sudah merdeka, mereka akan membangun rumah untuk rakyat. Tapi TNI datang dan membangun tanpa janji-janji,"kata KSAD.

Pada kesempatan itu, KSAD mendampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro serta Anggota Komisi I DPR RI. Rombongan ini mengunjungi tiga orang anggota TNI yang tertembak saat bertugas di Papua. Ketiga orang tersebut adalah Prajurit Satu (Pratu) Herber dari Yonif 753 yang terkena luka tembak di tangan kanan, Sersan Satu (Sertu) Kamaru Zaman anggota Kopassus yang terkena tembakan di telinga belakang tembus ke pelipis, dan Pratu I Kadek Widana dari Yonif 751 dengan luka tembak di tangan kanan.

Dengan adanya peningkatan kegiatan OPM, kata KSAD, secara otomatis kegiatan TNI meningkat. "Untuk melakukan pembersihan di daerah tersebut,"katanya

JURNAS

BERITA POLULER