Pages

Thursday, February 16, 2012

14 KCR-40 dan KCR-60 akan Dibangun Hingga 2014


17 Februari 2012

Kapal Cepat Rudal KCR-60 (image : Palindo Marine Shipyard)

Batam (ANTARA Kepri) - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menargetkan pembangunan 14 Kapal Cepat Rudal di berbagai daerah untuk menunjang pengamanan perairan Indonesia yang akan selesai pada 2014.

"Hingga 2014 kami merencanakan pembangunan 14 Kapal Cepat Rudal (KCR) ukuran 40-60 meter untuk penunjang pengamanan perairan Indonesia," kata Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Purnomo Yusgiantoro setelah meresmikan KRC Kujang di Batam, Kamis.

Menteri mengatakan upaya tersebut sebagai langkah pembangunan strategis yang nantinya tidak terbatas pada pengembangan KCR saja, namun juga pada industri strategis lainnya.

"Pembangunan kapal merupakan langkah awal, nanti pembangunan strategis di daerah juga akan mengembangkan industri untuk kekuatan udara dan darat," kata dia.

Pada dasarnya, kata Menteri, selain membangun industri dalam negeri hal tersebut juga membangun kekuatan TNI.

"Pembangunan 14 kapal tersebut baru tahap awal. Kami telah menyiapkan rencana strategis pertahanan hingga tahun 2024 dengan target 44 kapal cepat," kata Menteri.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan Indonesia setidaknya membutuhkan 44 KCR hingga 2024 untuk mengamankan seluruh wilayah laut NKRI dari gangguan-gangguan.

"Setidaknya dibutuhkan 44 kapal hingga tahun 2024 mendatang untuk keperluan penegakan hukum di laut, termasuk pengamanan terhadap pencurian terhadap kekayaan alam Indonesia, dan mencegah penyelundupan," kata dia.

Secara umum, kata dia, seluruh satuan TNI telah memiliki rencana pengembangan pertahanan masing-masing sebagai upaya peningkatan kekuatan.

"Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara telah memiliki blueprint pertahanan untuk membangun kekuatan. Pembangunan akan dilakukan bertahap," kata dia.

Ia mengatakan, salah satu rencana tersebut ialah penggantian utama sistem persenjataan (alustsista) yang sudah uzur dengan alat-alat baru yang akan dibangun, sementara alutsista yang masih bisa digunakan akan terus ditingkatkan kemampuannya.

 

TNI AL Dapat Kapal Baru

16 Februari 2012

Kapal Cepat Rudal KCR-40 KRI Kujang 642 (photo : Audrey)
BATAM, KOMPAS.com- TNI AL Armada Barat mendapat tambahan kapal baru, KRI Kujang-642. Kapal itu diserahkan pada Kamis (16/2/2012) pagi ini, di Dermaga Selatan Pelabuhan Batu Ampar, Batam.

Komandan Satuan Kapal Patroli Armada Barat Kolonel Pelaut Denih Hendrata mengatakan, KRI Kujang merupakan kapal kelima di satuannya. KRI Kujang termasuk jenis KCR- 40. "Sekarang kami punya dua KCR-40 dan tiga FPB (Fast Patrol Boat)," ujarnya.

KRI Kujang dibuat PT Palindo Marine Shipyard, Batam. Seluruh komponen kapal itu buatan Indonesia. KCR-40 merupakan kapal patroli kedua yang diserahkan Palindo pada TNI AL. Tahun lalu, Palindo menyerahkan KRI Clurit yang sejenis dengan KRI Kujang.

KRI Kujang 642 merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang berfungsi menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu cepat pula. Kapal ini berukuran panjang 44 meter, lebar 7,4 meter, dengan kecepatan maksimal 30 knot. Kapal ini memiliki daya tembak dan daya hancur karena dilengkapi Rudal C-705.

Kapal KCR-40 ini mampu menampung bahan bakar 50 ton dan air tawar 15 ton. Kapal cepat ini terbuat dari baja khusus High Tensile Steel pada bagian hulu dan lambung kapal, yang merupakan produk PT Krakatau Steel, Cilegon. Sedangkan untuk bangunan atas menggunakan Aluminium Marine Grade, yang menggunakan tiga mesin penggerak.

Marinir TNI AL Tambah 37 Unit Tank BMP-3F



Tank amfibi BMP-3F milik Marinir TNI AL (Foto: ANTARA)

JAKARTA - Marinir TNI AL kembali mendatangkan 37 unit tank amfibi BMP-3F yang dibeli dari Rusia dari program pengadaan 2012. Tank tersebut ditargetkan sudah bisa dikirim ke Tanah Air secara bertahap mulai tahun ini. Kadispenal Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengungkapkan, pengadaan alutsista tank amfibi tersebut merupakan bagian dari strategi TNI AL berkaitan dengan konsep kekuatan pokok minimum.“Juga berkaitan dengan pengembangan divisi marinir kita di Sorong,” ungkap Untung di Jakarta Kamis (16/2) kemarin.

Penambahan divisi marinir menjadi tiga divisi (dua divisi sekarang di Surabaya dan Jakarta) tersebut harus diikuti dengan penambahan alutsista. Sejauh ini marinir telah memakai tank BMP-3F sejak Desember 2010 sejumlah 17 unit.Tank ini merupakan tank terberat yang dimiliki militer Indonesia, bahkan mengalahkan milik TNI Angkatan Darat. Terkait nilai kontrak 37 unit BMP-3F, Untung mengaku belum bisa menyampaikan ke publik.

“Sejauh ini baru jumlah yang bisa disampaikan,” ucapnya. Saat ini, TNI AL sudah dilengkapi sejumlah alutsista andalan. Di antaranya BTR (Bronetransporter) - 50 P panser amfibi buatan Rusia, PT – 76, dan BVP-2 yang didatangkan dari Slovakia, serta LVT (landing vehicle track) - 7A1 buatan Amerika Serikat tahun 1985 yang merupakan hibah dari Korps Marinir Korea Selatan pada 2009.

Menurut dia, tank-tank tersebut kemungkinan sudah bisa mulai diboyong ke Tanah Air tahun ini. “Untuk datangnya bertahap, saya kira tahun ini sudah mulai karena untuk tank tidak serumit kalau kita pesan kapal selam maupun kapal perang permukaan,”ungkapnya. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno, jumlah tank BMP-3F nanti diharapkan bisa menjadi 54 unit.

Ditempatkan di Wilayah Barat dan Timur

Tank tersebut nantinya akan ditempatkan di wilayah barat dan timur Indonesia. Anggota Komisi I DPR Helmy Fauzi mengatakan, rencana tersebut masih sebatas penjajakan dan belum sampai pada penandatanganan kontrak. “Tapi, penjajakan ini perlu. Kondisi geografis kita yang berupa kepulauan memang memerlukan ada penguatan angkatan laut, termasuk marinir,” ucapnya.

Menurut politikus PDIP ini, marinir membutuhkan tank amfibi karena yang dimiliki sekarang sudah uzur. “Jika TNI Angkatan Darat saja butuh 100 MBT, harusnya marinir lebih dari itu sehingga bisa mendukung operasi yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk nanti di Sorong,”paparnya. Meski memerlukan tank amfibi, Helmy mewanti-wanti agar dalam pembeliannya tidak tergesa-gesa,tapi harus tetap memperhatikan beberapa aspek penting.

Di antaranya diversifikasi alutsista.“Jangan sampai kita terpaku pada negara tertentu sehingga bisa membatasi penggunaan alutsista itu,”kata dia. Selain itu, keterlibatan industri pertahanan dalam negeri juga penting untuk dipertimbangkan. Apalagi, selama ini industri dalam negeri seperti PT PAL memiliki kemampuan dalam pengembangan alutsista TNI Angkatan Laut, termasuk dalam meretrofit tank amfibi milik marinir.

Untuk pembayaran,Helmy menekankan agar pemerintah sebisa mungkin menghindari kredit ekspor karena jatuhnya biaya yang harus dibayar menjadi membengkak akibat bunga kredit. Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, hingga saat ini pemerintah masih memiliki sisa kredit negara (state credit) sebesar USD800 juta dari total USD1 miliar yang ditawarkan pemerintah Rusia. Sisa yang cukup besar itu disebabkan pemerintah tidak jadi membeli kapal selam dari negara tersebut.

Sumber : SEPUTARINDONESIA.COM

Dua Pesawat F 16 AS Kejar Pesawat Ringan Sipil


Tribunnews.com - Jumat, 17 Februari 2012 09:27 WIB

Dua Pesawat F 16  AS Kejar Pesawat Ringan Sipil
AFP
Dua pesawat tempur F 16 milik Angkatan Udara AS mngejar sebuah pesawat sipil yang telah melanggar batas wilayah penerbangan di atas kota Los Angeles, Amerika Serikat 

TRIBUNNEWS.COM LOS ANGELES - Dua pesawat tempur F 16 milik Angkatan Udara Amerika Serikat Kamis melesat terbang memburu sebuah pesawat ringan sipil jenis Cessna 182 yang telah melanggar jalur penerbangan,
Kejadian pengejaran pesawat sipil itu dilakukan di atas kota Los Angeles, dimana saat itu Presiden Barack Obama sedang melakukan perjalanan penggalangan dana.
Menurit Norad yang dilansir AFP kedua pesawat jenis F 16 yang memburu pesawat sipil itu berasal dari pangkalan udara cadangan Base di Riverside County, California.
"Setelah mencegat pesawat F-16 mengikutinya hingga pesawat itu mendarat tanpa insiden pada sekitar pukul 12:30 waktu setempat, pesawat disambut oleh penegak hukum setempat," ujar Komando Pertahanan Amerika Utara Aerospace.
Edwin Donovan, juru bicara Dinas Rahasia Amerika mengatakan kepada AFP , pesawat jenis Cessna memasuki wilayah udara Marine One yang merupakan wilayah udara terbatas, kemudian pesawat tersebut dipaksa mendarat di bandara Long Beach.

sumber : TRIBUN NEWS

Biak Disiapkan Sebagai Skadron Pesawat Tempur

6 Februari 2012, Biak: Pangkalan
Udara Manuhua STAB di
Kabupaten Biak Numfor, Papua
dipersiapkan untuk skadron
pesawat tempur dalam rangka
menunjang tugas operasional
Komando Sektor Pertahanan
Udara Nasional IV di kawasan
Timur Indonesia.
Panglima Komando Sektor
Pertahanan Udara Nasional IV
Biak Marsekal Pertama TNI Dedy
Nita Komara di Biak Kamis
mengatakan, untuk
pengembangan pengamanan
wilayah udara NKRI di kawasan
Papua, keberadaan pangkalan
udara Manuhua Biak masuk
dalam rencana pengembangan
sebagai pangkalan skadron
pesawat tempur TNI AU.
"Keberadaan bandara Lanud
Manuhua Biak sangat strategis
dan memenuhi syarat bisa
dikembangkan menjadi pangkalan
skadron pesawat tempur, ya
pada tahun 2014 diharapkan
program ini dapat terwujud,"
ungkap Pangkosek Hanudnas IV
Marsma TNI Dedy.
Ia mengakui, untuk idealnya
pengembangan pangkalan
skadron pesawat tempur di
Lanud Manuhua empat flight
dengan 12 pesawat tempur.
Dengan kondisi pangkalan udara
Manuhua Biak saat ini, lanjut
Marsma Dedy, yang sangat luas
dan memenuhi syarat paling tidak
dapat menampung delapan
pesawat tempur TNI AU.
"Jika rencana skadron pesawat
tempur TNI AU dibuka di Biak
maka akan menunjang operasi
Komando Sektor Pertahanan
Udara Nasional IV Biak menjaga
pengamanan wilayah udara NKRI
khususnya di wilayah Papua
sekitarnya," ungkap Pangkosek
Hanudnas IV Marsma TNI Dedy
Nita Komara.
Hingga Kamis siang, tiga pesawat
tempur F16 skadron Iswahyudi
Madiun, dua Hercules, serta satu
helikopter Puma berada di
bandara Lanud Manuhua Biak
untuk mendukung latihan cakra
dan operasi "Tangkis Petir" yang
diselenggarakan Kosek Hanudnas
IV Biak mulai 16-21 Februari 2012.
Sumber: ANTARA News

LOCKMART UNVEILS THE “NEW” F-16V, STRATEGICALLY TAILORED NOT TO COMPETE WITH THE F-35

Posted on February 15, 2012 by
aviationintel.com
Lockheed gave birth in public to their highly
conservative F-16V concept today at the
Singapore Air Show. Although it is not fully
clear exactly what the “new” F-16 will
feature, what we do know is that it will be
fitted with a SABR or RACR Active
Electronically Scanned Array radar, new
brains and crew interface. Along with these
evolutions we can probably assume it will
be toting a digital self-protection and
Electronic Service Measures (ESM) suite,
along with the latest commercially available
Helmet Mounted Sight (HMS) and other
cool gadgets. The aircraft will most likely
leverage the redesigned structural elements
of the F-16E/F as well and possibly feature
the GE-F110-132 motor as an option. In fact
I would venture to guess that this aircraft is
really a base model configuration from
which customers can customize to fit their
needs. Something like an “open
architecture” F-16. Of important note is that
it sounds like Lockheed will offer an
upgrade based on the V for older F-16s as
well. It will be good for the DoD if other
nations do sign on as it will diffuse costs of
such a program, one that is looming large
for the USAF due to continued F-35 delays.
Further, by funnel a ton of separate
upgrade programs into a single common
one, Lockheed can lower unit costs across
the board.
This aircraft cannot be compared to the
Boeing F-15SE concept as it appears there
is no attempt by Lockheed to make the
F-16V stealthy. This makes all too much
sense as the survivability offered by stealth,
even from only certain hemispheres, is
something that their marquee fighter, the
F-35, will continue to monopolize within
their product stable. Interestingly, the
F-16V would be the perfect cost-effective
and low risk workhorse for the USAF if we
had bought enough F-22, which at $150M
per copy now seems like a steal, and
continue to develop America’s Next
Generation Bomber. To bad the DoD’s one-
size-fits-all-at-all-costs obsession makes
this winning and affordable “high-low”
procurement strategy dead on arrival.
http://www.lockheedmartin.com/us/news/
press-releases/2012/february/0215aero-
F-16V.html
*Thanks so much to valued Aviationintel

Wednesday, February 15, 2012

Busi Vespa Jadi Penggerak Utama Tank



16 Februari 2012, Semarang: Keterbatasan alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki TNI tidak menyurutkan langkah para prajurit itu untuk tetap semangat berjuang.Salah satu jajaran TNI yang berhasil berinovasi adalah Batalion Kavaleri 2/Tank.

Batalion yang selalu berurusan dengan alat tempur berat tank ini cukup direpotkan dengan puluhan tank yang sudah berusia tua. Onderdil mesin tank yang dimiliki batalion ini sudah tidak dijual di pasaran umum. Alhasil jika mesin tank rusak, akan susah untuk memperbaikinya. Namun,para prajurit Yon Kav 2/Tank tidak kehilangan akal.Mereka pun mencoba berinovasi dengan onderdil lain untuk menggantikan fungsi onderdil tank yang sudah rusak dan uzur atau istilahnya “dikanibal”. Hasilnya sungguh di luar dugaan.

Busi tank jenis AMX 13 pun mampu digantikan hanya dengan busi vespa. Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) IV/Diponegoro Brigjen TNI Dedi Kusnadi Thamim mengaku bangga atas kreasi dan inovasi prajurit Yon Kav 2/Tank tersebut.“Kita akan melakukan penelitian lebih mendalam dan akan mengikutkan inovasi tersebut dalam lomba cipta karya teknologi militer,yang kemudian akan dipatenkan,” ungkap Dedi seusai mencoba Tank AMX 13 yang sudah dikanibal dengan busi vespa di Lapangan Parade Makodam IV/Diponegoro,Semarang, kemarin.

Kasdam mengaku,setelah melakukan uji coba,tidak bisa merasakan mana tank yang kanibal dengan tank asli.Dari segi manuver kemampuan dan kecepatan,tidak berbeda. “Sepuluh tahun yang lalu saya pernah mengendarai tank jenis yang sama dan masih asli, rasanya tidak ada yang beda,” ungkapnya. Dengan inovasi yang dilakukan,“kuda besi”jenis AMX 13 buatan Prancis yang sudah berusia setengah abad itu masih tetap bisa difungsikan secara maksimal. Kasdam mengatakan,inovasi yang dilakukan Yon Kav 2/Tank ini perlu ditiru kesatuan lain dalam rangka kemajuan satuan dan efisiensi peralatan di tengah minimnya anggaran belanja alusista.

KomandanYon Kav 2/Tank Letkol Kav Dicky Armunanto Mulkan mengaku, inovasi tersebut berupa kanibalisme suku cadang itu terpaksa dilakukan karena suku cadang untuk tank jenis AMX 13 sudah tidak diproduksi lagi. ”Seperti businya,sekarang ini sudah tidak ada.Karena itu, kita ganti dengan busi vespa yang modifikasi dengan cara dibuatkan konventer (sambungan),maka jadilah busi motor menjadi busi tank,” ungkapnya.

Dicky mengaku,Yon Kav 2/Tank memiliki 2 jenis AMX 13,yakni AMX 13 tipe tempur yang mengusung persenjataan berat Cannon 105 mm, senapan mesin berat (SMR) Browning 50 atau kaliber 12,7 mm,senapan mesin ringan (SMR) kaliber 7,62 mm,dan AMX 13 tipe Angkut Personel Carrier (APC). Selain busi,inovasi lain yang dilakukan prajurit Yon Kav 2/Tank adalah memodifikasi senjata SMB. Modifikasi ini mengadopsi senjata air soft gun.“Pada senjata yang asli,rangkaian penggeraknya diganti dengan peranti kuningan yang berfungsi sebagai pelontar amunisi dengan memanfaatkan tekanan gas sehingga tidak merusak yang asli,”paparnya.

Rangkaian yang dibuat dalam waktu hanya satu bulan oleh Koptu Hadi Mulyono itu merupakan rakitan dari bahan kuningan blok diameter 3,88 mm,pipa kuningan diameter 16mm, serta as kuningan diameter 16 dan 28 mm. Inovasi lainnya adalah pengembangan sistem CCTV pada tank.Kamera tersembunyi yang dipasang dalam tank itu dapat langsung online sehingga bisa langsung diakses pimpinan.

“Dengan kamera yang dipasang di ranpur,akan memudahkan pemberian instruksi kepada pengemudi tank karena komando atas bisa langsung memantau,”ungkapnya.

Sumber: SINDO

Pembelian tank Leopard sebelum 2014


Kamis, 16 Februari 2012 06:54 WIB
Tank Leopard (military.wikia.com)
kalau Belanda menjual kami beli, tapi kalau tidak kami pergi. Tunggu saja perkembangan berikutnya,"

Surabaya (ANTARA News) - Pembelian 100 unit Tank Leopard dari Belanda diharapkan selesai sebelum 2014.

"Sampai sekarang masih tahap penjajakan dan belum berhenti. Tim yang kami bentuk masih membahasnya dan diharapkan sebelum 2014 sudah selesai," ujar Kepala Staf Angkatan Darat  Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo kepada wartawan di Surabaya, Rabu malam.

"Sekali lagi saya tegaskan, kalau Belanda menjual kami beli, tapi kalau tidak kami pergi. Tunggu saja perkembangan berikutnya," kata mantan Pangkostrad tersebut.

Pihaknya juga mengatakan saat ini Jerman  menjajaki dan menawari Indonesia. Menurut Pramono, tank buatan Jerman menjadi alternatif jika target awal tidak kesampaian.

"Memang ada tawaran dari Jerman. Hanya saja kami belum bersikap, tapi itu bisa dijadikan alternatif. Yang pasti sebelum 2014 sudah harus selesai," tutur mantan Danjen Kopassus tersebut.

Jika pembelian Tank Leopard yang alokasi anggarannya mencapai 280 Juta US Dollar berjalan mulus, diharapkan bisa menjadi prestasi serta menaikkan wibawa bangsa.

Anggaran dari pemerintah  untuk modernisasi peralatan TNI AD sebesar Rp14 triliun.

"Di antaranya pengadaan tambahan helikopter, PT Pindad yang menyiapkan anoa atau panser, serta alutsista lainnya. Bahkan Leopard ini hanya bagian kecil saja kok," tukas jenderal yang juga pernah menjabat Pangdam Siliwangi tersebut.

Tahun ini direncanakan pembelian meriam, rudal anti pesawat, peluncur roket multiras dan lainnya. 


sumber : Antara

Russia Repeats Offer To RI To Become A ‘Space Nation’

Jakarta - Russia has again urged the Indonesian
government to conclude a much-delayed agreement on a
milestone satellite station project, offering the idea of
Indonesia becoming a “prestigious space nation”.
Russian Ambassador to Indonesia Alexander A. Ivanov
reiterated on Tuesday his country’s keen interest in the
project to develop a satellite launch station on the
Indonesian island of Biak, which is situated off the
northern coast of Papua and 3,200 kilometers northeast
of Jakarta.
The plan was first made public in 2006, but no agreement
has so far been concluded to pave the way for its
implementation.
“To tell you frankly, the draft agreement is almost ready
with the exception of one article. It is on missile
technology immunity,” Ivanov told a media briefing in
Jakarta, adding that the Biak project would utilize
technology possessed only by Russia that had not been
used anywhere else in the world.
He said Indonesia was still troubled by the article, but
Russia kept pushing for it given that Indonesia was not a
member of the Missile Technology Control Regime; an
informal and voluntary partnership between 34 countries
to prevent the proliferation of missile and unmanned
aerial vehicle technology capable of carrying a 500-kg
payload at least 300 km.
Ivanov said Russia, as a member of the regime, had
“international obligations” on the safeguards.
Contacted separately, Indonesian Foreign Ministry
spokesman Michael Tene refused to discuss why the
Indonesian government still objected to the contentious
clause, citing only “technical issues” behind the prolonged
negotiations over the Biak project.
“As the negotiations are still ongoing, I cannot add
anything more,” Michael told The Jakarta Post.
Ivanov explained that the Biak station would be an air-
launch station, meaning satellites would be launched from
a “mothership” aircraft instead of from the ground.
He said this was more “ecologically friendly”, adding that
ground-based launches usually caused pollution on the
ground and in the air.
“If this project is implemented, Indonesia will become a
space nation. Indonesia will have the opportunity to
launch commercial satellites from all over the world,
especially countries situated in the Asia-Pacific region.”
Ivanov refused to share what was in the project for
Russia, but added that it would be very “beneficial” and
“prestigious” to Indonesia.
He added Biak was chosen due to its proximity to the
equator, reducing the cost of satellite launches.
“The cost of launching is eight times cheaper in
comparison to launching satellites, for example, from
territories in Kazakhstan or Russia.”
Ivanov also reiterated on Tuesday Russia’s interest in
boosting its trade and investment partnerships with
Indonesia.
He said a delegation of about 40 representatives from
major Russian private companies would visit Indonesia at
the end of the month to seek business opportunities in
Southeast Asia’s largest economy.
They include representatives from the space technology,
oil and gas, railway and agriculture sectors, Ivanov said.
Source : TJP

Rusia larang Sukhoi 24 terbang setelah kecelakaan


Indonesia Teken Kontrak Pembelian Sembilan Pesawat Angkut C-295


(Foto: EADS)

15 Februari 2012, Jakarta: Menteri Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro bersama Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dan sejumlah anggota Komisi I DPR-RI, Rabu (15/2), menyaksikan penandatanganan kontrak pembelian sembilan pesawat militer C-295 yang dilakukan antara Direktur PT Dirgantara Indonesia (DI) dengan President and CEO Airbus Military pada acara Singapore Air Show dan selanjutnya pesawat akan dinamakan CN-295 oleh pihak Indonesia.

Pesawat CN-295 selanjutnya akan dioperasikan oleh TNI AU dalam berbagai penugasan antara lain untuk kepentingan militer, logistik, kemanusiaan maupun misi evakuasi medis, dan pengiriman pertama diperkirakan mulai tahun 2012 sampai pada semester kedua tahun 2014.

Menurut Menhan, moment ini sangat membanggakan khususnya bagi industri kedirgantaraan Indonesia. Mengingat, pesawat C-295 memiliki kemampuan yang ideal untuk memenuhi kebutuhan militer Indonesia saat ini dan di masa mendatang serta kebutuhan kepentingan kemanusiaan. Sedangkan dalam hal pembiayaan, juga sangat efisien dan partisipasi penuh dari industri penerbangan dalam negeri dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang berkemampuan tinggi sekaligus transfer teknologi.

Sementara itu Dirut PT DI Dr Budi Santoso menjelaskan, kontrak ini dibangun atas dasar hubungan kerjasama yang baik yang telah ada antara Airbus Military dengan Industri Penerbangan Indonesia. Kerja sama ini akan memberikan kemampuan yang tepat bagi Indonesia di masa mendatang dan memberikan kesempatan kepada PT DI untuk menumbuhkan bisnis industri penerbangannya sebagai penyedia tingkat pertama. Hal ini akan menempatkan PT DI di peta industri penerbangan global dan memberi kesempatan kepada Industri penerbangan Indonesia untuk mengembangkan kemampuan tenaga kerja. Sedangkan President and CEO dari Airbus Military Domingo Urena Raso, Airbus Military merasa bangga dengan Kementerian Pertahanan RI telah memilih C-295 sebagai salah satu armadanya dan berharap kerjasama dengan PT DI ini dapat terus berlanjut.

Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan, patroli perairan termasuk operasi pengawasan wilayah. Selain itu, pesawat ukuran menengah taktis ini, juga memiliki kemampuan yang fleksibel bagi kebutuhan personel, pasukan, angkutan alat berat, evakuasi medis, tugas-tugas komunikasi serta logistik.

Di sisi lain, pesawat C-295 juga dapat dikonfigurasikan dalam versi khusus yang dipersenjatai sekaligus untuk kepentingan pengawasan daratan, SAR, patroli perairan, anti kapal selam atau peringatan dini udara.

“Secara global, pesawat ini memiliki kemampuan ganda, yakni sebagai pesawat untuk kepentingan militer maupun kepentingan kemanusiaan dan tentunya kita mendapatkan keuntungan transfer of technologi”, tegas Menhan

Sumber: Kemhan

Tuesday, February 14, 2012

Russia to Deploy S-400 Air Defense Systems Near Borders


04:06 14/02/2012
MOSCOW, February 14 (RIA Novosti)
Russia will place several new S-400 Triumf air defense systems near its borders in 2012, Air Force Commander Alexander Zelin said.
“The Russian Armed Forces will receive several S-400 air defense systems this year,” Zelin told RIA Novosti on Monday. “This time they will be deployed in air defense units guarding [Russia’s] border regions.”
Zelin did not specify the deployment locations for new S-400 units, but some of them will most likely be placed in the Russian exclave of Kaliningrad as part of the response to the planned European missile shield initiative, which Moscow considers as a threat to its national security.
The S-400 (SA-21 Growler) air defense system is expected to form the cornerstone of Russia's theater air and missile defenses by 2020.
The S-400 can engage targets at a range of up to 400 km and an altitude of 40,000-50,000 meters. The system uses an array of assets optimized for engaging ballistic and cruise missiles.
An S-400 air defense regiment consists of two or three battalions equipped with four systems each. Russia is planning to arm 56 battalions with S-400 systems by 2020.

SUMBER : RIA NOVOSTI

Akrobatik Udara sebagai Pembuka



Kompas/Iwan Setiyawan
Akrobatik Udara Awali Singapore Airshow

SINGAPURA, KOMPAS.com - Pameran kedirgantaraan terbesar di Asia, Singapore Airshow 2012, resmi dibuka di Changi Exhibition Centre, Singapura, Selasa (14/2/2012).
Pameran menghadirkan perkembangan terkini di industri penerbangan dan teknologi mutakhir pertahanan terutama pertahanan udara.
Sekitar 900 peserta dari 50 negara tampil dalam pameran ini. Sebagian peserta merupakan produsen pesawat terbang maupun komponen pesawat. Sedangkan yang lain dari perusahaan penerbangan dan jasa terkait dunia penerbangan.
Sejumlah industri pertahanan juga memamerkan produk mereka baik pesawat tempur, persenjataan berat, maupun teknologi canggih pengintaian.
Pameran akan berlangsung hingga 19 Februari 2012. Untuk tanggal 14-17 Februari 2012 hanya diperuntukkan bagi para undangan dan pebisnis. Sedangkan di dua hari terakhir baru dibuka untuk umum.
Pukau pengunjung
Yang menarik perhatian pengunjung selama pameran adalah digelarnya akrobatik udara yang menampilkan penerbang-penerbang profesional. Pilot stunt aerobatic asal Australia, Tony Blair, menampilkan ketrampilannya dengan pesawat baling-baling tunggal jenis Rebel 300.
Selanjutnya tim aerobatik Royal Australia Air Force Roulette tampil dengan enam pesawat latih jenis Pilatus. Mereka adalah para penerbang instruktur dari Akademi Penerbangan Angkatan Udara Australia.
Selain aerobatik, sejumlah pabrikan pesawat juga mendemonstrasikan pesawat-pesawat terbaru mereka.

SUMBER : KOMPAS

Tabah Sampai Akhir.....



Akreditasi foto-foto : WIDYA/ TNI AL

Berada di kedalaman laut,dikurung dalam kapal selam yang sempit selama puluhan hari bukanlah perkara mudah. Rasa jenuh, stres, hingga gangguan kejiwaan,menjadi ancaman nyata. Belum lagi keganasan laut yang bisa menenggelamkan mereka sewaktu-waktu.

Kini keceriaan terus tergambar dari raut para awak KRI Nanggala 402 kala mendarat di dermaga Armatim beberapa awal Minggu lalu. Perasaan puas sekaligus bahagia tersungging dari senyum mereka. Ini karena mereka sukses mengemban misi membawa pulang KRI Nanggala 402 dari proses overhaul di Korea Selatan.

Tetapi bukan itu saja, bisa menghirup udara alam bebas adalah sesuatu yang luar biasa bagi mereka. Bayangkan, 21 hari lamanya mereka berada dalam kapal yang sempit. Menyelami lautan bebas hingga ratusan mil, belum lagi berkutat dengan rutinitas dan teman yang sama selama itu. Tentu ini menjadi hal yang membosankan bagi manusia normal. Namun, jiwa mereka telah terpatri dengan semboyan ‘Tabah Sampai Akhir’, seperti yang diajarkan para pelaut terdahulu.

Sehingga seberat apapun resiko yang dihadapi, pantang bagi mereka untuk mundur apalagi menyerah saat berjuang. Para awak kapal selam bukanlah prajurit biasa. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang mampu bertahan dalam situasi dan kondusi sesulit apapun. Tetapi itulah faktanya, nasib para awak kapal selam bisa dibilang tidak seenak awak kapal atas laut biasa.

Berebut Merokok

Selain ruang yang terbatas, segala aktifitas awak Nanggala pun terbatas. Jangankan bergerak ke sana-kemari, merokok pun tidak bisa mereka lakukan setiap waktu. Ini karena mereka berada berada di dalam kapal yang tertutup, bersama mesin kapal yang sensitif dengan asap maupun api. Padahal, di kedalaman laut yang dingin rokok bisa menjadi penawarnya. Tetapi, para awak KRI Nanggala 402 memiliki cara khusus untuk mengobati keinginan merokok itu.

Saat kondisi air laut tenang misalnya, kapal dijalankan dengan setengah terapung. Tujuannya, bagian tengah kapal yang tinggi bisa berada di permukaan air laut, sehingga mereka bisa naik dan menghisap rokok. ”Kalau kapal sudah mengapung seperti ini, kita biasanya berebut naik untuk merokok. Tetapi karena waktunya terbatas, kita tidak bisa berlama-lama, sebab harus bergantian dengan awak yang lain.



Paling hanya dua batang setelah itu turun lagi,” tutur salah seorang awak KRI Nanggala Lettu Laut (P) Hadhito. Namun aktifitas merokok lanjut Hadhito akan berhenti total kalau kondisi gelombang air laut sedang tinggi. Sebab pada situasi itu kapal sulit mengapung, karena harus menjaga keseimbangan akibat hantaman gelombang. ”Kalau sudah seperti ini, kami biasanya hanya berdiri di dalam kapal sambil berpegangan agar tidak jatuh. Apalagi kalau pas ada badai atau berlayar di laut yang dalam,” katanya.

Minum Air Laut Dalam

Meski sudah terlatih, perasaan was-was kadang masih tetap muncul saat kapal berada di bawah laut. Kondisi ini biasanya muncul saat kapal menyelam ke laut yang dalam. Ini karena arus bawah laut cukup kencang, sehingga resiko bahaya juga cukup besar,seperti di laut China Selatan atau Laut Banda Maluku. ”Dua lokasi ini terbilang paling angker, sebab ombaknya tidak bisa diprediksi,” kata perwira yang juga putra Kasal Laksamana Soeparno ini.



Tetapi lanjut Hadhito, para awak kapal selam sudah punya penangkal untuk menghadapi kedalaman laut tersebut. Penangkal itu tak lain berupa tradisi meminum air laut kedalaman. Setiap mengarungi kedalaman baru misalnya, maka tradisi meminum segelas air laut wajib dilakukan. ”Kapal selam ini biasanya berlayar di kedalaman 30 meter. Nah bagi mereka yang belum pernah belayar di kedalaman itu, maka wajib minum air laut. Ritual serupa juga akan kami lakukan jika kapal turun lagi di kedalaman bawah 30 meter.

Saat kapal di kedalaman 50 meter misalnya, maka harus minum air laut lagi,begitu seterusnya, sampai kapal ini berlayar di batas kedalaman maksimum 200 meter,”imbuh Serma PTB M Nuril Huda. Tradisi minum air laut kedalaman kata Nuril tidak hanya berlaku bagi anggota saja, tetapi juga komandan, perwira pelaksana maupun juga kepala kamar mesin. ”Kalau sudah seperti ini kami tidak membedakan pangkat dan jabatan.

Siapa yang belum pernah masuk di kedalaman itu ya wajib minum air laut. Sebab ada sugesti dari kami,bahwa kalau sudah meminum air itu, maka kita akan menyatu dengan laut,”kata prajurit asal Lamongan ini. Pada ritual inilah, kadang banyak awak kapal yang tidak kuat karena rasa air yang begitu asin. Bahkan mereka yang tidak kuat bisa langsung diare. ”Walau begitu, tradisi ini tetap wajib diikuti,”tandasnya.

Oleh : IHYA’ ULUMUDDIN/Surabaya/Seputar Indonesia

Satu Flight F-16 Jajal Kemampuan Deteksi Satuan Radar 245 Saumlaki

SAUMLAKI - Satu flight pesawat tempur F-16 dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Selasa (14/2), melaksanakan terbang jelajah ke Wilayah Timur Indonesia, dengan misi pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan menjajal kemampuan Radar, Satrad (Satuan Radar) 245 Saumlaki dan Timika.

Selain menjajal kemampuan deteksi Satrad 245 Saumlaki, yang beberapa waktu lalu diresmikan Kasau marsekal TNI Imam Sufaat, tim yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Letkol Pnb Ali sudibyo, juga mengadakan latihan Tangkis Petir, Hanud Cakra serta Hanud Kilat.

Pada kesempatan tersebut Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M.Syaugi, melepas keberangkatan pesawat tempur yang masih menjadi andalan TNI AU ini untuk melaksanakanakan terbang jelajah ke wilayah timur Indonesia.


Radar Master T di Satrad 245 Saumlaki. Foto: AUDREY

Terbang jelajah yang rencananya memakan waktu selama 14 hari tersebut, meliputi Lanud Balikpapan-Kaltim, Lanud Samratulangi-Manado, Lanud Biak-Papua, Lanud Patimura-Ambon dan Lanud Rembiga-NTB. Misi ini melibatkan 8 penerbang tempur, 46 teknisi (Ground Crew), serta Tim Brigan dari Satpon Lanud Iswahjudi dengan di dukung pesawat C-130 Hercules.

Sumber : DISPENAU

Singapura butuh tempat latihan di Indonesia

Semarang (ANTARA
News) - Singapura
berkepentingan
terhadap perjanjian
pertahanan (Defence Cooperation
Agreement/DCA) dengan Indonesia
karena negara itu membutuhkan
tempat latihan bagi pasukannya.
"Perlu dipahami bahwa Singapura
berkepentingan terhadap DCA bukan
dalam konteks kerja sama pertahanan
dalam pengertian yang umum,
melainkan negara tersebut hanya
membutuhkan lahan milik Indonesia
sebagai tempat latihan pasukannya,"
kata Sekretaris Jenderal DPP PDIP
Tjahjo Kumolo kepada ANTARA, Selasa.
Hal itu dikemukakan Tjahjo yang juga
anggota Komisi I DPR RI sehubungan
dengan rencana pertemuan rutin
tahunan antara Presiden RI Susilo
Bambang Yudhoyono dan Perdana
Menteri Singapura Lee Hsien Loong
yang pada tahun ini diagendakan bulan
depan.
Di lain pihak, wakil rakyat dari Daerah
Pemilihan Jawa Tengah 1 ini
mengutarakan bahwa Indonesia
sebenarnya sangat berkepentingan
terhadap perjanjian ekstradisi dengan
negara tersebut.
"Walaupun secara rutin dilakukan
pertemuan di antara pejabat tinggi
kedua negara itu, pihak Indonesia tidak
mengesahkan DCA, Singapura juga tidak
akan setuju terhadap perjanjian
ekstradisi," kata Tjahjo.
Apalagi dari segi pertahanan, kata dia,
alat utama sistem senjata (alutsista)
Singapura jauh lebih unggul
dibandingkan dengan Indonesia.
Selain itu, Singapura juga memiliki
aliansi pertahanan dengan negara lain
yang dikenal dengan "Five Power
Defense Agreement" (FPDA), yaitu
sistem aliansi pertahanan antarlima
negara (Inggris, Australia, Selandia
Baru, Singapura, dan Malaysia).
Disebutkan Tjahjo, salah satu
kesepakatan negara-negara FPDA
adalah adanya klausul bahwa serangan
terhadap salah satu negara anggota
merupakan serangan pula terhadap
negara anggota lainnya.
Dari sisi ASEAN, dia berharap pada
tahun 2015 Komunitas ASEAN sudah
terbentuk.
"Namun, apakah Indonesia dapat
memainkan peran utama dalam
Komunitas ASEAN sehingga Singapura
merasa perlu melakukan pendekatan
dengan Indonesia?" tambahnya.
Sekjen DPP PDI Perjuangan ini
berharap agar pertemuan rutin antara
Presiden RI dan pejabat tinggi
Singapura yang diagendakan pada
bulan Maret 2012 tidak sebatas
seremonial.
"Atau, malah justru lebih
menguntungkan pihak Singapura?"
katanya lagi.
"Saya kira Kementerian Luar Negeri dan
Kementerian Pertahanan serta
kementerian lainnya harus
merumuskan agenda pembicaraan
Presiden RI dan PM Singapura yang
lebih komprehensif integral. Setidaknya
untuk kepentingan kerja sama bilateral
bersama Indonesia dan Singapura,"
kata wakil rakyat asal Kota Semarang
itu.

T-50 Rusia ditambah, uji terbang menyeluruh

Moskow (ANTARA
News) - Jumlah
pesawat tempur
generasi ke-lima
Sukhoi T-50 PAK FA akan ditambah
menjadi 14 unit dari sekarang cuma
tiga. Rusia memutuskan menambah
jumlah pesawat tempur berteknologi
paling canggih di dunia itu untuk uji
terbang mendalam.
Panglima Angkatan Udara Rusia,
Alexander Zelin, Senin, menurut RIA
Novosti, mengatakan, "Sudah terdapat
tiga pesawat tempur yang turut dalam
uji terbang, tiga lainnya diperkirakan
diuji coba dalam waktu dekat. Seluruh
jumlah pesawat untuk uji terbang
sebanyak 14 unit."
Sukhoi T-50 dikembangkan dalam
program PAK FA atau Perspektivny
Aviatsionny Kompleks Frontovoy Aviatsii
(Prospective Airborne Complex of
Frontline Aviation) di biro rancang
pesawat terbang Sukhoi.
T-50 PAK FA tampil pertama kali kepada
masyarakat saat Pameran
Kedirgantaraan MAKS-2011 dekat
Moskow pada 17 Agustus 2011.
Petempur yang dikembangkan bersama
mitra dari India -- Hindustan
Aeronautics Limited (HAL)-- tersebut
melakukan terbang perdananya di Rusia
wilayah timur pada awal 2010.
Zelin juga mengatakan T-50 milik Rusia
melampaui kemampuan pesawat asal
Amerika Serikat dan China. Mampu
terbang dalam kecepatan 2,2 kecepatan
suara dalam mode stealth adalah
kemampuan dasar bagi T-50 PAK FA itu.
Untuk pertempuran jarak dekat,
manuver Pugachev atau Cobra seperti
yang bisa dilakukan Su-27 atau Su-30
Flanker , sangat mudah dilakukan T-50
PAK FA yang sudah menerapkan sistem
navigasi dan manajemen tempur
melalui fasilitas helm dan visi di mata
pilot.
"Setelah menganalisa perbandingan
sifat pesawat dengan asal China kami
menyimpulkan T-50 PAK FA melampaui
kemampuan pesawat F-22 Raptor milik
AS dan pesawat siluman J-20 tersebut
dalam hal kecepatan maksimum, jarak
terbang, berat maksimal saat lepas
landas, dan nilai daya angkut
maksimal," tambah Zelin.
Rusia telah mengembangkan petempur
generasi kelimanya sejak 1990-an.
Sejumlah pejabat tinggi militer Rusia
menyebutkan jet tempur siluman itu --
jarak terbang hingga 5.500 kilometer
pada versi standar tanpa tangki
cadangan-- bisa memasuki masa bakti
di AU Rusia pada 2015.
Menurut data RIA Novosti, Sukhoi T-50
PAK FA menggunakan mesin ganda
Saturn 117S (AL-41F1A) TRDDF turbo
jet menggunakan afterburners dengan
durasi terbang maksimal selama tiga
jam.
Arsenal pesawat tersebut diantaranya
telah memodifikasi kanon GSh-301
dengan peluru berdiameter 30
milimeter dengan menambah jumlah
putaran letupan dan tenaga dorong.
Selain itu T-50 memiliki 10 cantelan
senjata untuk roket dan bom serta bisa
di sesuaikan dengan cantelan roket
tambahan sehingga kawasan target
bisa lebih ditingkatkan.
"Pengoperasian T-50 akan lebih murah
100 juta dolar AS atau 2,5 kali lebih
murah dari pengoperasian F-22 Raptor
buatan Lockheed Martin dan Boeing,"
demikian dikutip RIA Novosti. (B019)
sumber antara

Monday, February 13, 2012

Pemerintah AS Beri BantuanPembangunan Barak di IndonesianPeace and Security Center

Pemerintah AS Beri Bantuan
Pembangunan Barak di Indonesian
Peace and Security Center
BOGOR - Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui
Kementerian Luar Negeri AS memberikan bantuan berupa
fasilitas barak untuk prajurit kepada Mabes TNI yang
dibangun di Indonesian Peace and Security Center (Pusat
Misi Pemeliharaan Perdamaian) Sentul, Bogor.
Dukungan fasilitas tersebut diberikan secara simbolis
melalui peletakan batu pertama pembangunan gedung
fasilitas barak prajurit yang dilakukan oleh Wakil Menteri
Luar Negeri AS untuk Bidang Politik Militer, Andrew J.
Shapiro Senin (13/2), di kompleks PMPP Sentul Bogor.
Dalam pembangunan konstruksi barak berkapasitas 300
orang ini AS menggelontorkan biaya sekitar US 3,3 Juta
Dollar, dari seluruh kontribusi fasilitas operasional lainnya
yang ada di IPSC Sentul dengan nilai total sebesar US 14
Juta Dolar. Sumber : DMC

Pemerintah AS Beri BantuanPembangunan Barak di IndonesianPeace and Security Center

Pemerintah AS Beri Bantuan
Pembangunan Barak di Indonesian
Peace and Security Center
BOGOR - Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui
Kementerian Luar Negeri AS memberikan bantuan berupa
fasilitas barak untuk prajurit kepada Mabes TNI yang
dibangun di Indonesian Peace and Security Center (Pusat
Misi Pemeliharaan Perdamaian) Sentul, Bogor.
Dukungan fasilitas tersebut diberikan secara simbolis
melalui peletakan batu pertama pembangunan gedung
fasilitas barak prajurit yang dilakukan oleh Wakil Menteri
Luar Negeri AS untuk Bidang Politik Militer, Andrew J.
Shapiro Senin (13/2), di kompleks PMPP Sentul Bogor.
Dalam pembangunan konstruksi barak berkapasitas 300
orang ini AS menggelontorkan biaya sekitar US 3,3 Juta
Dollar, dari seluruh kontribusi fasilitas operasional lainnya
yang ada di IPSC Sentul dengan nilai total sebesar US 14
Juta Dolar. Sumber : DMC

Sunday, February 12, 2012

Pengamat intelijen: ada upaya goyang pemerintah

Senin, 13 Februari 2012 06:31 WIB | Dibaca
661 kali
Jakarta (ANTARA News) - Pengamat
intelijen Wawan H Purwanto
menyatakan, ada upaya oleh pihak-
pihak tertentu untuk menggoyang
pemerintah yang ditargetkan dapat
terlaksana pertengahan 2012.
Wawan di sela-sela Mukernas Ikatan
Alumni SMAN 1 Ungaran Kabupaten
Semarang di Jakarta, Minggu,
mengatakan, berbagai peristiwa
kekerasan dan kekacauan yang terjadi
belakangan ini bukan tidak mungkin
merupakan bagian dari gerakan itu.
"Aparat harus bisa mengungkap ada
apa di balik peristiwa-peristiwa itu,"
kata Wawan.
Dikatakannya, berbagai kasus yang
terjadi di tanah air, tidak semua
berjalan dengan sendirinya, namun ada
sejumlah peristiwa atau kasus yang
didesain atau diset oleh pihak tertentu
untuk kepentingan tertentu pula,
termasuk kepentingan politik.
"Ada peristiwa-peristiwa yang disetting.
Ini yang harus kita waspadai karena
ada agenda yang ingin menggoyang
pemerintah di pertengahan tahun
2012," katanya.
Namun Wawan enggan menyebutkan
pihak yang ditengarai bermain di balik
peristiwa kekacauan tersebut.
"Saya tidak perlu menyebut siapa-siapa.
Ini ranah politik," katanya.
Yang jelas, menurut dia, di ranah politik
memang biasa terjadi upaya-upaya
menimbulkan gejolak.
Hanya saja, Wawan mengingatkan
bahwa masyarakat sudah lelah dengan
berbagai gejolak, sehingga segala upaya
untuk menimbulkan gejolak sebaiknya
diakhiri.
Menurut Wawan, bangsa Indonesia
telah memilih demokrasi sebagai
sistem politik, termasuk dalam
menentukan kepemimpinan nasional.
Oleh karena itu, sebaiknya semua pihak
bersabar dan menunggu hingga pemilu
berikutnya dengan tidak melakukan hal-
hal yang justru mencederai demokrasi.

sumber antars

Pengadaan Pesawat Kepresidenan, PT DI Berharap Dilibatkan

Jurnas.com | PT Dirgantara Indonesia
(PTDI) berharap dapat dilibatkan dalam
rencana pengadaan pesawat
kepresidenan. Keterlibatan PTDI
diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan perusahaan tersebut
dalam memproduksi pesawat sejenis.
Direktur Teknik dan Pengembangan
PTDI Dita Ardonni Jafri menyatakan,
PTDI memang belum mampu
memproduksi pesawat tersebut.
Namun begitu, dukungan pemerintah
dengan pemberian proyek pengadaan
pesawat kepresidenan akan
meningkatkan kemampuan PTDI.
"Kami berharap bisa terlibat dalam
perancangan dan pembuatan interior
serta semua communication system ,"
kata pria yang disapa Donni ini saat
dihubungi Jurnal Nasional , Minggu
(12/2).
Dia menuturkan, meskipun kondisi
keuangan PTDI saat ini telah membaik,
namun perusahaan tidak bisa
memproduksi pesawat tersebut apalagi
jika hanya beberapa unit.
"Pengembangan pesawat terbang itu
butuh waktu paling sedikit lima tahun,
dan minimal harus ada pesanan 300
unit, bukan satu," ujar Donni.
Dengan kondisi perusahaan saat ini,
kata Donni menambahkan, PTDI
memang belum merencanakan
pengembangan tipe pesawat jenis itu.
"Kami belum akan mengembangkan
tipe pesawat itu sekarang, pesaing
terlalu banyak," ujarnya.

Saturday, February 11, 2012

Indonesia Air Force One AkanDilengkapi Sistem Penangkal untukDeteksi Serangan

Jakarta - Pesawat kepresidenan RI yang sekarang ini
masih berada di pabrik Boeing, AS. Pesawat ini
dijadwalkan beroperasi akhir Agustus 2013.
Sehebat apakah pesawat kepresidenan RI kelak?
Mendekati Air Force One milik Amerika Serikat (AS) yang
bertabur teknologi dan sistem keamanan tercanggih atau
Ilyushin Il-96- 300PU milik Rusia yang kamar mandi
presidennya berbalut emas dan beberapa ruangan dilapisi
sutera? Pesawat seri 737-800 Boeing Business Jet 2 (BBJ 2)
yang dibeli Pemerintah Indonesia dari Boeing Company
agaknya masih jauh dari bayangan tersebut.
Pesawat ”Indonesia Air Force One” bahkan lebih
sederhana daripada pesawat sewaan dari Garuda
Indonesia yang selama ini digunakan. “Ini bukan pesawat
untuk pribadi,tapi pesawat untuk kepresidenan.Presiden
Susilo BambangYudhoyono (SBY) tidak menginginkan
pesawat itu menjadi pesawat yang mewah,”ujar Sekretaris
Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) Lambock
V Nahattands di Jakarta kemarin.
Menurut dia,interior pesawat kepresidenan tidak akan
berlebihan.“Kabin berisi tempat istirahat presiden
saja.Kalau dulu kabin memakai gorden, sekarang
dipasangi pintu,itu saja lebihnya,”jelas Lambock.
Indonesia resmi memiliki pesawat kepresidenan yang
dijadwalkan beroperasi pada akhir Agustus 2013.Saat ini,
pesawat kosong (green aircraft) seharga USD58,6 juta
atau Rp525,91 miliar tersebut masih di pabrik Boeing di
Seattle untuk dipasangi interior kabin dan sistem
keamanan.
Berdasar pengalaman SINDO menumpang pesawat
kepresidenan sekarang, interior kabin tidak jauh berbeda
dengan pesawat komersial pada umumnya. Untuk
pesawat yang akan datang,meski interior sederhana bukan
berarti sistem keamanan dilupakan. Komandan Pasukan
Pengamanan Presiden (Paspampres) Mayjen TNI Agus
Sutomo mengatakan, sistem keamanan pesawat RI-1
adalah counter sabotage system atau sistem penangkal
sabotase.“ Jadi kalau ada yang mau jahil sama pesawat ini
bisa langsung diketahui,”ujarnya.
Mantan Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus itu
menambahkan,pesawat kepresidenan juga dilengkapi
teknologi komunikasi khusus. Pada pesawat
sewaan,peranti ini tidak tersedia. Wakil Ketua Komisi I
DPR dari Fraksi PDIP TB Hasanuddin mendukung
pengadaan pesawat kepresidenan meskipun dia juga
mengkritik pemilihan BBJ2. Menurut dia, waktu terbang
pesawat ini hanya 7–8 jam.”Kalau ke Eropa harus berhenti
dua kali. Ini tidak efisien,”ujarnya.
Mantan penasihat keamanan Presiden George Bush
Richard Falkenrath mengutarakan,dari sudut pandang
perlindungan presiden,pesawat harus memberikan
keamanan maksimal.”Dan memang Air Force One
memberikan pengutamaan pada sistem
keamanan,”ujarnya.
Tidak dapat dimungkiri Air Force One merupakan pesawat
paling istimewa dalam segi kemewahan dan fasilitas. Salah
satu kecanggihan teknologi pesawat Air Force One adalah
pertahanan terhadap rudal.Air Force One juga memiliki
keunggulan dapat diisi bahan bakar di tengah perjalanan.
Sumber : SINDO

AS Tawarkan TOT Apache

Jakarta - Pemerintah AS mengaku
baru menerima pesanan pembelian 8
helikopter tempur. Namun rencana
pembelian helikopter tempur masih
dalam tahap awal.
Demikian disampaikan oleh Duta
Besar Amerika Serikat (AS) untuk
Indonesia, Scott Marciel di kantornya,
Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta,
Jumat (10/2/2012).
"Kami baru menerima request. Jadi
itu masih dalam tahap awal," ujar
Scott.
Scott menyatakan pihaknya sangat
senang pemerintah Indonesia
menyukai produk asal negeri Paman
Sam tersebut. "Kami senang
Indonesia tertarik Amerika Serikat
produk. Kami transfer teknologi,"
jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia
berencana untuk membeli sejumlah
pesawat tempur jenis Apache dari AS.
Hal itu dilakukan untuk menambah
kekuatan alat utama sistem
persenjataan (alutsista). "Kalau tidak
salah sebanyak delapan unit," kata
Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie
Sjamsoeddin.
Menurut dia, pengadaan delapan unit
pesawat tempur jenis Apache itu
bukan karena ditawarkan begitu saja
oleh pihak Amerika kepada
pemerintah Indonesia. Rencana
pembelian pesawat sejumlah itu
dilakukan sesuai dengan kebutuhan
Indonesia. "Mereka tidak
menawarkan, kita yang mencari," ujar
Sjafrie.
Namun, ia menambahkan, hingga kini
belum ada deal antara pemerintah
Indonesia dengan AS ihwal pembelian
pesawat tempur tersebut. Sejauh ini,
yang sudah disepakati adalah
pembelian pesawat tempur jenis F16
dari Amerika Serikat. "Kita semua
tahu yang F16 sudah deal," katanya.
Sumber : DETIK

Thursday, February 9, 2012

European Jet Maker Likely to Backtrack on $1 bil. Pledge

09 Februari 2012

IFX/KFX/F-33 STEALTH

A European consortium of four aerospace and defense companies will likely walk away from its promise of investing 20 percent of the cost for a Korea-initiated project to develop a new multirole fighter, industry sources said Thursday.


The European Aeronautic Defense and Space Company N.V. (EADS) reportedly made the pledge as Korea hinted that financial and technology contributions would favorably affect the separate selection of a foreign vender to supply 60 advanced fighter jets to Korea for 8.29 trillion won ($7.3 billion).


According to a 2011 report by Korea National Defense University, EADS expressed its intent to invest up to 20 percent or $1 billion into the KF-X program, a fighter development program.

An industry insider also confirmed that EADS had expressed it was willing to contribute as much as 20 percent of the development cost for the KF-X project to officials of the Defense Acquisition Program Administration (DAPA).

“EADS’s position was that it was willing to comply with DAPA’s request for KF-X investment, but it was deemed too early to comment on the possible import of KF-X fighters from European countries,” said the source familiar with EADS’s talks with DAPA over the FX-III project.

“But now EADS will likely backtrack on the pledge as DAPA made it clear that no incentive will be given in the FX-III race to a company committed to share the financial burden of the KF-X project.”

Seoul has pursued the ambitious KF-X project since 2000 in a bid to replace its aging F-4 and F-5 fighter jets with indigenous aircraft with stealth capabilities and export potential by 2020.

Jakarta has been jointly conducting a feasibility study on the project while shouldering 20 percent of the $50 million initial costs.

Thirty-five Indonesian researchers have teamed up with 137 Korean experts for the exploratory stage, scheduled for completion with the selection of a prototype at the end of 2012.

Indonesia has pledged to invest $1 billion in the KF-X project and buy 50 KF-X fighters, but no other country has yet to follow suit.

Turkey is reportedly mulling joining the Korea-led consortium for the KF-X project, but on condition of an equal partnership with Korea.

A senior DAPA official said Seoul has rejected Ankara’s demand to allow it to have a 50 percent stake in the KF-X project along with Korea as it believes Seoul should play a dominant role.
He said DAPA could abandon the risky jet development project unless another country or a foreign company join the project and share between 20 percent and 29 percent of the development costs.

Meanwhile, an industrial source raised suspicion that Korea may have decided not to give an incentive to FX-III bidders with willingness to invest in the KF-X project as American defense companies, which he claims DAPA favors, showed no interest in making financial contributions.

EADS is competing with two U.S. defense giants, Lockheed Martin and Boeing, in the FX-III project, for which Korea is expected to announce the winner in October this year.

(Korea Times)

Ini Spesifikasi Pesawat Kepresidenan RI


Pesawat Rp820 miliar itu menampung hingga 50 penumpang.

Jum'at, 10 Februari 2012, 08:26 WIB
Pesawat Kepresidenan Boeing Business Jet 2 (Sekretariat Negara)

VIVAnews - Indonesia telah resmi membeli pesawat kepresidenan. Pesawat RI 1 berjenis Boeing Bussiness Jet 2 Green Aircraft akan tiba di tanah air pada Agustus 2013.

Pesawat kepresidenan ini dibeli dengan harga US$91,2 juta atau sekitar Rp820 miliar, dengan rincian: US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta untuk interior kabin, US$4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi.

Dikutip dari Boeing.com, pesawat BBJ2 ini didisain untuk keperluan VIP. Yakni didisain dengan konfigurasi mewah dengan keberadaan kamar tidur utama, toilet yang dilengkapi dengan shower, ruang konferensi, ruang makan, dan ruang tamu.

Boeing BBJ2 ini memiliki panjang sekitar 39,5 meter, panjang sayap 35,8 meter, tinggi ekor 12,5 meter dan memiliki diameter 3,73 meter. Untuk interiornya, BBJ2 ini memiliki panjang 29,97 meter, dengan tinggi 2,16 meter dan lebar 3,53 meter.

Dengan daya tampung 39.539 liter bahan bakar, pesawat ini dapat terbang maksimal sejauh 10.334 kilometer. Namun jika pesawat berisi maksimal 50 orang, maka jarak tempuhnya mencapai 8.630 kilometer. Jarak tempuh itu bisa dilalui dengan kecepatan maksimal 871 kilometer per jam.
Enam Tangki
Sekretaris Kantor Sekretariat Negara, Lambock V. Nahattands, menyatakan saat ini pabrik Boeing tengah memasang enam tangki bahan bakar ke badan pesawat agar pesawat itu bisa terbang nonstop selama 10-12 jam. Pemasangan tangki dilakukan oleh PATS Aircraft System, dan dijadwalkan selesai pada April 2012.

Setelah pemasangan keenam tangki itu, lanjut Lambock, pekerjaan selanjutnya adalah memasang interior kabin dan sistem keamanan yang dilakukan oleh completion center. Untuk pemasangan kedua kelengkapan itu, saat ini proses lelang sedang berjalan, dan pemenangnya ditentukan akhir Februari 2012.

"Pekerjaan interior cabin dan security system akan dimulai Mei 2012 dan diperkirakan selesai Agustus 2013," kata Lambock. (ren)

Soal Pesawat Tanpa Awak Israel, TNI Tak Persoalkan Negara Produsen


Jurnas.com | RENCANA pengadaan pesawat intai tanpa awak belum final. "Semua masih berproses di Kementerian Pertahanan,” kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, di Depok, Jawa Barat, Selasa (7/2). TNI sebagai pengguna tidak mempermasalahkan dari negara mana alat utama sistem senjata yang akan digunakan itu diadakan. “Bila sesuai spesifikasi teknik dan kebutuhan operasi yang dibutuhkan maka semua clear... tidak masalah," ujar Panglima TNI.

Semua pengadaan alat utama sistem senjata dilakukan sesuai kerangka kekuatan pokok minimum yang telah ditetapkan.

Rencananya TNI akan membangun satu skadron pesawat intai tanpa awak (UAV). Pada 2006, digelar tender pembelian empat UAV untuk Badan Intelijen Strategis (Bais) yang akhirnya dimenangkan Searcher Mk II melalui perusahaan Filipina, Kital Philippine Corp. Searcher Mk II produk buatan Israel.

Mengutip United Press International (UPI), pembelian UAV yang satu unit seharga US$6 juta itu, Indonesia menggandeng Bank Leumi dari Inggris dan Bank Union dari Filipina sebagai penyandang dana untuk kredit ekspor.

Indonesia kali pertama memakai produk militer Israel dengan meminjam UAV Searcher Mk II milik Singapura untuk mencari lokasi sandera peneliti asing yang ditawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua, 1996.

Kini, Malaysia telah mengoperasikan 15 unit UAV buatan Israel, Singapura 35 unit. Dalam pengujian tim Kementerian Pertahanan, UAV Searcher Mk II mengalahkan pesaingnya dari Irkut Rusia dan UAV Hermes buatan Elbit Israel yang diageni ELS Ventures, Belanda. 
 
sumber : JURNAS

Kata Ilham Habibie, Beli Pesawat Intai Berlebihan

IAI Heron 1 UAV in flight

TEMPO.CO, Jakarta- Rencana pembelian pesawat intai (unmanned aero vehicle) atau pesawat UAV dinilai terlalu berlebihan. Salah satu petinggi Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Ilham Akbar Habibie menyatakan Indonesia seharusnya mampu menciptakan sendiri pesawat seperti itu.

"Indonesia harus lebih berani mengembangkan teknologi sendiri, jangan hanya beli-beli saja dari luar," ujarnya ketika ditemui wartawan di Istana Wapres, Selasa (7/2). Bagi putra mantan presiden RI BJ. Habibie itu sudah saatnya Indonesia tidak lagi bergantung pada pihak lain. "Paling tidak terhadap teknologi-teknologi kunci seperti UAV itu," katanya.

Lebih lanjut Ilham menyatakan Indonesia memang sangat membutuhkan pesawat UAV. Baginya, pesawat jenis ini memiliki masa depan yang lebih baik. "Pesawat seperti itu makin banyak dipakai, karena biayanya murah dan memiliki risiko rendah," tuturnya. Apalagi, menurutnya, pesawat UAV memiliki fleksibilitas yang sangat bagus. "Jadi tidak ada salahnya jika kita memiliki program nasional seperti pesawat UAV yang kita kembangkan sendiri."

Kebutuhan akan pesawat UAV muncul saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI beberapa waktu lalu. Kemudian sempat muncul pilihan pesawat produksi industri dari Israel yang akan dipilih TNI AU.
 
sumber : TEMPO

BERITA POLULER