Jurnas.com | PT Dirgantara Indonesia
(PTDI) berharap dapat dilibatkan dalam
rencana pengadaan pesawat
kepresidenan. Keterlibatan PTDI
diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan perusahaan tersebut
dalam memproduksi pesawat sejenis.
Direktur Teknik dan Pengembangan
PTDI Dita Ardonni Jafri menyatakan,
PTDI memang belum mampu
memproduksi pesawat tersebut.
Namun begitu, dukungan pemerintah
dengan pemberian proyek pengadaan
pesawat kepresidenan akan
meningkatkan kemampuan PTDI.
"Kami berharap bisa terlibat dalam
perancangan dan pembuatan interior
serta semua communication system ,"
kata pria yang disapa Donni ini saat
dihubungi Jurnal Nasional , Minggu
(12/2).
Dia menuturkan, meskipun kondisi
keuangan PTDI saat ini telah membaik,
namun perusahaan tidak bisa
memproduksi pesawat tersebut apalagi
jika hanya beberapa unit.
"Pengembangan pesawat terbang itu
butuh waktu paling sedikit lima tahun,
dan minimal harus ada pesanan 300
unit, bukan satu," ujar Donni.
Dengan kondisi perusahaan saat ini,
kata Donni menambahkan, PTDI
memang belum merencanakan
pengembangan tipe pesawat jenis itu.
"Kami belum akan mengembangkan
tipe pesawat itu sekarang, pesaing
terlalu banyak," ujarnya.
Sunday, February 12, 2012
Saturday, February 11, 2012
Indonesia Air Force One AkanDilengkapi Sistem Penangkal untukDeteksi Serangan
Jakarta - Pesawat kepresidenan RI yang sekarang ini
masih berada di pabrik Boeing, AS. Pesawat ini
dijadwalkan beroperasi akhir Agustus 2013.
Sehebat apakah pesawat kepresidenan RI kelak?
Mendekati Air Force One milik Amerika Serikat (AS) yang
bertabur teknologi dan sistem keamanan tercanggih atau
Ilyushin Il-96- 300PU milik Rusia yang kamar mandi
presidennya berbalut emas dan beberapa ruangan dilapisi
sutera? Pesawat seri 737-800 Boeing Business Jet 2 (BBJ 2)
yang dibeli Pemerintah Indonesia dari Boeing Company
agaknya masih jauh dari bayangan tersebut.
Pesawat ”Indonesia Air Force One” bahkan lebih
sederhana daripada pesawat sewaan dari Garuda
Indonesia yang selama ini digunakan. “Ini bukan pesawat
untuk pribadi,tapi pesawat untuk kepresidenan.Presiden
Susilo BambangYudhoyono (SBY) tidak menginginkan
pesawat itu menjadi pesawat yang mewah,”ujar Sekretaris
Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) Lambock
V Nahattands di Jakarta kemarin.
Menurut dia,interior pesawat kepresidenan tidak akan
berlebihan.“Kabin berisi tempat istirahat presiden
saja.Kalau dulu kabin memakai gorden, sekarang
dipasangi pintu,itu saja lebihnya,”jelas Lambock.
Indonesia resmi memiliki pesawat kepresidenan yang
dijadwalkan beroperasi pada akhir Agustus 2013.Saat ini,
pesawat kosong (green aircraft) seharga USD58,6 juta
atau Rp525,91 miliar tersebut masih di pabrik Boeing di
Seattle untuk dipasangi interior kabin dan sistem
keamanan.
Berdasar pengalaman SINDO menumpang pesawat
kepresidenan sekarang, interior kabin tidak jauh berbeda
dengan pesawat komersial pada umumnya. Untuk
pesawat yang akan datang,meski interior sederhana bukan
berarti sistem keamanan dilupakan. Komandan Pasukan
Pengamanan Presiden (Paspampres) Mayjen TNI Agus
Sutomo mengatakan, sistem keamanan pesawat RI-1
adalah counter sabotage system atau sistem penangkal
sabotase.“ Jadi kalau ada yang mau jahil sama pesawat ini
bisa langsung diketahui,”ujarnya.
Mantan Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus itu
menambahkan,pesawat kepresidenan juga dilengkapi
teknologi komunikasi khusus. Pada pesawat
sewaan,peranti ini tidak tersedia. Wakil Ketua Komisi I
DPR dari Fraksi PDIP TB Hasanuddin mendukung
pengadaan pesawat kepresidenan meskipun dia juga
mengkritik pemilihan BBJ2. Menurut dia, waktu terbang
pesawat ini hanya 7–8 jam.”Kalau ke Eropa harus berhenti
dua kali. Ini tidak efisien,”ujarnya.
Mantan penasihat keamanan Presiden George Bush
Richard Falkenrath mengutarakan,dari sudut pandang
perlindungan presiden,pesawat harus memberikan
keamanan maksimal.”Dan memang Air Force One
memberikan pengutamaan pada sistem
keamanan,”ujarnya.
Tidak dapat dimungkiri Air Force One merupakan pesawat
paling istimewa dalam segi kemewahan dan fasilitas. Salah
satu kecanggihan teknologi pesawat Air Force One adalah
pertahanan terhadap rudal.Air Force One juga memiliki
keunggulan dapat diisi bahan bakar di tengah perjalanan.
Sumber : SINDO
masih berada di pabrik Boeing, AS. Pesawat ini
dijadwalkan beroperasi akhir Agustus 2013.
Sehebat apakah pesawat kepresidenan RI kelak?
Mendekati Air Force One milik Amerika Serikat (AS) yang
bertabur teknologi dan sistem keamanan tercanggih atau
Ilyushin Il-96- 300PU milik Rusia yang kamar mandi
presidennya berbalut emas dan beberapa ruangan dilapisi
sutera? Pesawat seri 737-800 Boeing Business Jet 2 (BBJ 2)
yang dibeli Pemerintah Indonesia dari Boeing Company
agaknya masih jauh dari bayangan tersebut.
Pesawat ”Indonesia Air Force One” bahkan lebih
sederhana daripada pesawat sewaan dari Garuda
Indonesia yang selama ini digunakan. “Ini bukan pesawat
untuk pribadi,tapi pesawat untuk kepresidenan.Presiden
Susilo BambangYudhoyono (SBY) tidak menginginkan
pesawat itu menjadi pesawat yang mewah,”ujar Sekretaris
Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) Lambock
V Nahattands di Jakarta kemarin.
Menurut dia,interior pesawat kepresidenan tidak akan
berlebihan.“Kabin berisi tempat istirahat presiden
saja.Kalau dulu kabin memakai gorden, sekarang
dipasangi pintu,itu saja lebihnya,”jelas Lambock.
Indonesia resmi memiliki pesawat kepresidenan yang
dijadwalkan beroperasi pada akhir Agustus 2013.Saat ini,
pesawat kosong (green aircraft) seharga USD58,6 juta
atau Rp525,91 miliar tersebut masih di pabrik Boeing di
Seattle untuk dipasangi interior kabin dan sistem
keamanan.
Berdasar pengalaman SINDO menumpang pesawat
kepresidenan sekarang, interior kabin tidak jauh berbeda
dengan pesawat komersial pada umumnya. Untuk
pesawat yang akan datang,meski interior sederhana bukan
berarti sistem keamanan dilupakan. Komandan Pasukan
Pengamanan Presiden (Paspampres) Mayjen TNI Agus
Sutomo mengatakan, sistem keamanan pesawat RI-1
adalah counter sabotage system atau sistem penangkal
sabotase.“ Jadi kalau ada yang mau jahil sama pesawat ini
bisa langsung diketahui,”ujarnya.
Mantan Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus itu
menambahkan,pesawat kepresidenan juga dilengkapi
teknologi komunikasi khusus. Pada pesawat
sewaan,peranti ini tidak tersedia. Wakil Ketua Komisi I
DPR dari Fraksi PDIP TB Hasanuddin mendukung
pengadaan pesawat kepresidenan meskipun dia juga
mengkritik pemilihan BBJ2. Menurut dia, waktu terbang
pesawat ini hanya 7–8 jam.”Kalau ke Eropa harus berhenti
dua kali. Ini tidak efisien,”ujarnya.
Mantan penasihat keamanan Presiden George Bush
Richard Falkenrath mengutarakan,dari sudut pandang
perlindungan presiden,pesawat harus memberikan
keamanan maksimal.”Dan memang Air Force One
memberikan pengutamaan pada sistem
keamanan,”ujarnya.
Tidak dapat dimungkiri Air Force One merupakan pesawat
paling istimewa dalam segi kemewahan dan fasilitas. Salah
satu kecanggihan teknologi pesawat Air Force One adalah
pertahanan terhadap rudal.Air Force One juga memiliki
keunggulan dapat diisi bahan bakar di tengah perjalanan.
Sumber : SINDO
AS Tawarkan TOT Apache
Jakarta - Pemerintah AS mengaku
baru menerima pesanan pembelian 8
helikopter tempur. Namun rencana
pembelian helikopter tempur masih
dalam tahap awal.
Demikian disampaikan oleh Duta
Besar Amerika Serikat (AS) untuk
Indonesia, Scott Marciel di kantornya,
Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta,
Jumat (10/2/2012).
"Kami baru menerima request. Jadi
itu masih dalam tahap awal," ujar
Scott.
Scott menyatakan pihaknya sangat
senang pemerintah Indonesia
menyukai produk asal negeri Paman
Sam tersebut. "Kami senang
Indonesia tertarik Amerika Serikat
produk. Kami transfer teknologi,"
jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia
berencana untuk membeli sejumlah
pesawat tempur jenis Apache dari AS.
Hal itu dilakukan untuk menambah
kekuatan alat utama sistem
persenjataan (alutsista). "Kalau tidak
salah sebanyak delapan unit," kata
Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie
Sjamsoeddin.
Menurut dia, pengadaan delapan unit
pesawat tempur jenis Apache itu
bukan karena ditawarkan begitu saja
oleh pihak Amerika kepada
pemerintah Indonesia. Rencana
pembelian pesawat sejumlah itu
dilakukan sesuai dengan kebutuhan
Indonesia. "Mereka tidak
menawarkan, kita yang mencari," ujar
Sjafrie.
Namun, ia menambahkan, hingga kini
belum ada deal antara pemerintah
Indonesia dengan AS ihwal pembelian
pesawat tempur tersebut. Sejauh ini,
yang sudah disepakati adalah
pembelian pesawat tempur jenis F16
dari Amerika Serikat. "Kita semua
tahu yang F16 sudah deal," katanya.
Sumber : DETIK
baru menerima pesanan pembelian 8
helikopter tempur. Namun rencana
pembelian helikopter tempur masih
dalam tahap awal.
Demikian disampaikan oleh Duta
Besar Amerika Serikat (AS) untuk
Indonesia, Scott Marciel di kantornya,
Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta,
Jumat (10/2/2012).
"Kami baru menerima request. Jadi
itu masih dalam tahap awal," ujar
Scott.
Scott menyatakan pihaknya sangat
senang pemerintah Indonesia
menyukai produk asal negeri Paman
Sam tersebut. "Kami senang
Indonesia tertarik Amerika Serikat
produk. Kami transfer teknologi,"
jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia
berencana untuk membeli sejumlah
pesawat tempur jenis Apache dari AS.
Hal itu dilakukan untuk menambah
kekuatan alat utama sistem
persenjataan (alutsista). "Kalau tidak
salah sebanyak delapan unit," kata
Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie
Sjamsoeddin.
Menurut dia, pengadaan delapan unit
pesawat tempur jenis Apache itu
bukan karena ditawarkan begitu saja
oleh pihak Amerika kepada
pemerintah Indonesia. Rencana
pembelian pesawat sejumlah itu
dilakukan sesuai dengan kebutuhan
Indonesia. "Mereka tidak
menawarkan, kita yang mencari," ujar
Sjafrie.
Namun, ia menambahkan, hingga kini
belum ada deal antara pemerintah
Indonesia dengan AS ihwal pembelian
pesawat tempur tersebut. Sejauh ini,
yang sudah disepakati adalah
pembelian pesawat tempur jenis F16
dari Amerika Serikat. "Kita semua
tahu yang F16 sudah deal," katanya.
Sumber : DETIK
Thursday, February 9, 2012
European Jet Maker Likely to Backtrack on $1 bil. Pledge
09 Februari 2012
A European consortium of four aerospace and defense companies will likely walk away from its promise of investing 20 percent of the cost for a Korea-initiated project to develop a new multirole fighter, industry sources said Thursday.
A European consortium of four aerospace and defense companies will likely walk away from its promise of investing 20 percent of the cost for a Korea-initiated project to develop a new multirole fighter, industry sources said Thursday.
The European Aeronautic Defense and Space Company N.V. (EADS) reportedly made the pledge as Korea hinted that financial and technology contributions would favorably affect the separate selection of a foreign vender to supply 60 advanced fighter jets to Korea for 8.29 trillion won ($7.3 billion).
According to a 2011 report by Korea National Defense University, EADS expressed its intent to invest up to 20 percent or $1 billion into the KF-X program, a fighter development program.
An industry insider also confirmed that EADS had expressed it was willing to contribute as much as 20 percent of the development cost for the KF-X project to officials of the Defense Acquisition Program Administration (DAPA).
“EADS’s position was that it was willing to comply with DAPA’s request for KF-X investment, but it was deemed too early to comment on the possible import of KF-X fighters from European countries,” said the source familiar with EADS’s talks with DAPA over the FX-III project.
“But now EADS will likely backtrack on the pledge as DAPA made it clear that no incentive will be given in the FX-III race to a company committed to share the financial burden of the KF-X project.”
Seoul has pursued the ambitious KF-X project since 2000 in a bid to replace its aging F-4 and F-5 fighter jets with indigenous aircraft with stealth capabilities and export potential by 2020.
Jakarta has been jointly conducting a feasibility study on the project while shouldering 20 percent of the $50 million initial costs.
Thirty-five Indonesian researchers have teamed up with 137 Korean experts for the exploratory stage, scheduled for completion with the selection of a prototype at the end of 2012.
Indonesia has pledged to invest $1 billion in the KF-X project and buy 50 KF-X fighters, but no other country has yet to follow suit.
Turkey is reportedly mulling joining the Korea-led consortium for the KF-X project, but on condition of an equal partnership with Korea.
A senior DAPA official said Seoul has rejected Ankara’s demand to allow it to have a 50 percent stake in the KF-X project along with Korea as it believes Seoul should play a dominant role.
He said DAPA could abandon the risky jet development project unless another country or a foreign company join the project and share between 20 percent and 29 percent of the development costs.
Meanwhile, an industrial source raised suspicion that Korea may have decided not to give an incentive to FX-III bidders with willingness to invest in the KF-X project as American defense companies, which he claims DAPA favors, showed no interest in making financial contributions.
EADS is competing with two U.S. defense giants, Lockheed Martin and Boeing, in the FX-III project, for which Korea is expected to announce the winner in October this year.
(Korea Times)
Ini Spesifikasi Pesawat Kepresidenan RI
Pesawat Rp820 miliar itu menampung hingga 50 penumpang.
Jum'at, 10 Februari 2012, 08:26 WIB
Pesawat Kepresidenan Boeing Business Jet 2 (Sekretariat Negara)
VIVAnews - Indonesia telah resmi membeli pesawat kepresidenan. Pesawat RI 1 berjenis Boeing Bussiness Jet 2 Green Aircraft akan tiba di tanah air pada Agustus 2013.
Pesawat kepresidenan ini dibeli dengan harga US$91,2 juta atau sekitar Rp820 miliar, dengan rincian: US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta untuk interior kabin, US$4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi.
Dikutip dari Boeing.com, pesawat BBJ2 ini didisain untuk keperluan VIP. Yakni didisain dengan konfigurasi mewah dengan keberadaan kamar tidur utama, toilet yang dilengkapi dengan shower, ruang konferensi, ruang makan, dan ruang tamu.
Boeing BBJ2 ini memiliki panjang sekitar 39,5 meter, panjang sayap 35,8 meter, tinggi ekor 12,5 meter dan memiliki diameter 3,73 meter. Untuk interiornya, BBJ2 ini memiliki panjang 29,97 meter, dengan tinggi 2,16 meter dan lebar 3,53 meter.
Dengan daya tampung 39.539 liter bahan bakar, pesawat ini dapat terbang maksimal sejauh 10.334 kilometer. Namun jika pesawat berisi maksimal 50 orang, maka jarak tempuhnya mencapai 8.630 kilometer. Jarak tempuh itu bisa dilalui dengan kecepatan maksimal 871 kilometer per jam.
Pesawat kepresidenan ini dibeli dengan harga US$91,2 juta atau sekitar Rp820 miliar, dengan rincian: US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta untuk interior kabin, US$4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi.
Dikutip dari Boeing.com, pesawat BBJ2 ini didisain untuk keperluan VIP. Yakni didisain dengan konfigurasi mewah dengan keberadaan kamar tidur utama, toilet yang dilengkapi dengan shower, ruang konferensi, ruang makan, dan ruang tamu.
Boeing BBJ2 ini memiliki panjang sekitar 39,5 meter, panjang sayap 35,8 meter, tinggi ekor 12,5 meter dan memiliki diameter 3,73 meter. Untuk interiornya, BBJ2 ini memiliki panjang 29,97 meter, dengan tinggi 2,16 meter dan lebar 3,53 meter.
Dengan daya tampung 39.539 liter bahan bakar, pesawat ini dapat terbang maksimal sejauh 10.334 kilometer. Namun jika pesawat berisi maksimal 50 orang, maka jarak tempuhnya mencapai 8.630 kilometer. Jarak tempuh itu bisa dilalui dengan kecepatan maksimal 871 kilometer per jam.
Enam Tangki
Sekretaris Kantor Sekretariat Negara, Lambock V. Nahattands, menyatakan saat ini pabrik Boeing tengah memasang enam tangki bahan bakar ke badan pesawat agar pesawat itu bisa terbang nonstop selama 10-12 jam. Pemasangan tangki dilakukan oleh PATS Aircraft System, dan dijadwalkan selesai pada April 2012.
Setelah pemasangan keenam tangki itu, lanjut Lambock, pekerjaan selanjutnya adalah memasang interior kabin dan sistem keamanan yang dilakukan oleh completion center. Untuk pemasangan kedua kelengkapan itu, saat ini proses lelang sedang berjalan, dan pemenangnya ditentukan akhir Februari 2012.
"Pekerjaan interior cabin dan security system akan dimulai Mei 2012 dan diperkirakan selesai Agustus 2013," kata Lambock. (ren)
Setelah pemasangan keenam tangki itu, lanjut Lambock, pekerjaan selanjutnya adalah memasang interior kabin dan sistem keamanan yang dilakukan oleh completion center. Untuk pemasangan kedua kelengkapan itu, saat ini proses lelang sedang berjalan, dan pemenangnya ditentukan akhir Februari 2012.
"Pekerjaan interior cabin dan security system akan dimulai Mei 2012 dan diperkirakan selesai Agustus 2013," kata Lambock. (ren)
Soal Pesawat Tanpa Awak Israel, TNI Tak Persoalkan Negara Produsen

KARIM SAHIB / AFP
Pesawat tanpa awak produksi Israel.
Pesawat tanpa awak produksi Israel.
Jurnas.com | RENCANA pengadaan pesawat intai tanpa awak belum final. "Semua masih berproses di Kementerian Pertahanan,” kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, di Depok, Jawa Barat, Selasa (7/2). TNI sebagai pengguna tidak mempermasalahkan dari negara mana alat utama sistem senjata yang akan digunakan itu diadakan. “Bila sesuai spesifikasi teknik dan kebutuhan operasi yang dibutuhkan maka semua clear... tidak masalah," ujar Panglima TNI.
Semua pengadaan alat utama sistem senjata dilakukan sesuai kerangka kekuatan pokok minimum yang telah ditetapkan.
Rencananya TNI akan membangun satu skadron pesawat intai tanpa awak (UAV). Pada 2006, digelar tender pembelian empat UAV untuk Badan Intelijen Strategis (Bais) yang akhirnya dimenangkan Searcher Mk II melalui perusahaan Filipina, Kital Philippine Corp. Searcher Mk II produk buatan Israel.
Mengutip United Press International (UPI), pembelian UAV yang satu unit seharga US$6 juta itu, Indonesia menggandeng Bank Leumi dari Inggris dan Bank Union dari Filipina sebagai penyandang dana untuk kredit ekspor.
Indonesia kali pertama memakai produk militer Israel dengan meminjam UAV Searcher Mk II milik Singapura untuk mencari lokasi sandera peneliti asing yang ditawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua, 1996.
Kini, Malaysia telah mengoperasikan 15 unit UAV buatan Israel, Singapura 35 unit. Dalam pengujian tim Kementerian Pertahanan, UAV Searcher Mk II mengalahkan pesaingnya dari Irkut Rusia dan UAV Hermes buatan Elbit Israel yang diageni ELS Ventures, Belanda.
Semua pengadaan alat utama sistem senjata dilakukan sesuai kerangka kekuatan pokok minimum yang telah ditetapkan.
Rencananya TNI akan membangun satu skadron pesawat intai tanpa awak (UAV). Pada 2006, digelar tender pembelian empat UAV untuk Badan Intelijen Strategis (Bais) yang akhirnya dimenangkan Searcher Mk II melalui perusahaan Filipina, Kital Philippine Corp. Searcher Mk II produk buatan Israel.
Mengutip United Press International (UPI), pembelian UAV yang satu unit seharga US$6 juta itu, Indonesia menggandeng Bank Leumi dari Inggris dan Bank Union dari Filipina sebagai penyandang dana untuk kredit ekspor.
Indonesia kali pertama memakai produk militer Israel dengan meminjam UAV Searcher Mk II milik Singapura untuk mencari lokasi sandera peneliti asing yang ditawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua, 1996.
Kini, Malaysia telah mengoperasikan 15 unit UAV buatan Israel, Singapura 35 unit. Dalam pengujian tim Kementerian Pertahanan, UAV Searcher Mk II mengalahkan pesaingnya dari Irkut Rusia dan UAV Hermes buatan Elbit Israel yang diageni ELS Ventures, Belanda.
sumber : JURNAS
Kata Ilham Habibie, Beli Pesawat Intai Berlebihan
IAI Heron 1 UAV in flight
Selasa, 07 Februari 2012
TEMPO.CO, Jakarta- Rencana pembelian pesawat intai (unmanned aero vehicle) atau pesawat UAV dinilai terlalu berlebihan. Salah satu petinggi Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Ilham Akbar Habibie menyatakan Indonesia seharusnya mampu menciptakan sendiri pesawat seperti itu.
"Indonesia harus lebih berani mengembangkan teknologi sendiri, jangan hanya beli-beli saja dari luar," ujarnya ketika ditemui wartawan di Istana Wapres, Selasa (7/2). Bagi putra mantan presiden RI BJ. Habibie itu sudah saatnya Indonesia tidak lagi bergantung pada pihak lain. "Paling tidak terhadap teknologi-teknologi kunci seperti UAV itu," katanya.
Lebih lanjut Ilham menyatakan Indonesia memang sangat membutuhkan pesawat UAV. Baginya, pesawat jenis ini memiliki masa depan yang lebih baik. "Pesawat seperti itu makin banyak dipakai, karena biayanya murah dan memiliki risiko rendah," tuturnya. Apalagi, menurutnya, pesawat UAV memiliki fleksibilitas yang sangat bagus. "Jadi tidak ada salahnya jika kita memiliki program nasional seperti pesawat UAV yang kita kembangkan sendiri."
Kebutuhan akan pesawat UAV muncul saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI beberapa waktu lalu. Kemudian sempat muncul pilihan pesawat produksi industri dari Israel yang akan dipilih TNI AU.
"Indonesia harus lebih berani mengembangkan teknologi sendiri, jangan hanya beli-beli saja dari luar," ujarnya ketika ditemui wartawan di Istana Wapres, Selasa (7/2). Bagi putra mantan presiden RI BJ. Habibie itu sudah saatnya Indonesia tidak lagi bergantung pada pihak lain. "Paling tidak terhadap teknologi-teknologi kunci seperti UAV itu," katanya.
Lebih lanjut Ilham menyatakan Indonesia memang sangat membutuhkan pesawat UAV. Baginya, pesawat jenis ini memiliki masa depan yang lebih baik. "Pesawat seperti itu makin banyak dipakai, karena biayanya murah dan memiliki risiko rendah," tuturnya. Apalagi, menurutnya, pesawat UAV memiliki fleksibilitas yang sangat bagus. "Jadi tidak ada salahnya jika kita memiliki program nasional seperti pesawat UAV yang kita kembangkan sendiri."
Kebutuhan akan pesawat UAV muncul saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI beberapa waktu lalu. Kemudian sempat muncul pilihan pesawat produksi industri dari Israel yang akan dipilih TNI AU.
sumber : TEMPO
Subscribe to:
Comments (Atom)
BERITA POLULER
-
Rusia Jamin Indonesia Bebas Embargo Militer TEMPO.CO , Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander A. Ivanov, menyatakan pem...
-
Rencana kedatangan alutsista TNI 2010-2014 dengan anggaran pembelian US$ 15 Milyar : Renstra TNI 2010-2014 memberikan nuansa pelangi terhad...
-
T-90S Rusia (Main Battle Tank Russia) Kavaleri Peroleh 178 Unit Kendaraan Tempur Kaveleri TNI Angkatan Darat (AD) akan mendapatkan tambah...