Pages

Thursday, August 4, 2011

TNI Kejar Penembak Helikopter di Puncak Jaya

Kamis, 4 Agustus 2011 16:46 WIB | 941 Views
Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono. (FOTO. ANTARA)
Menurut Panglima, kelompok bersenjata yang bertebaran di Papua mendapatkan senjata api mereka dari pencurian yang dilakukan dari anggota TNI.
Jakarta (ANTARA News) - Aparat Tentara Nasional Indonesia tengah mengejar pelaku penembakan helikopter MI-17 milik TNI Angkatan Darat di kawasan Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada Rabu 3 Agustus 2011.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono di Istana Kepresidenan di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa pengejaran tersebut dilakukan satuan tugas TNI yang beroperasi di kawasan Puncak Jaya, Papua.

"Dari unsur kewilayahan kita di daerah sana. Jadi memang anggota kita di situ yang melakukan pengejaran, prosedurnya memang seperti itu," ujarnya.

Panglima TNI membenarkan pada kejadian tersebut satu anggota TNI menjadi korban, yaitu Pratu Fana S Hadi, yang sebelumnya telah menjadi korban penembakan dalam peristiwa kekerasan di Puncak Jaya dan akan dievakuasi ke Wamena.

"Jadi memang benar pada saat helikopter MI-17 TNI AD mengevakuasi prajurit kita yang kena tembak sebelumnya itu, ditembak oleh kelompok gerakan bersenjata di Puncak Jaya, puncak senyum namanya, dan kebetulan dari tiga peluru itu ada satu yang tembus dan mengenai anggota yang kita evakuasi, akibatnya meninggal," tuturnya.

Panglima TNI belum bisa memastikan pelaku penembakan berasal dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) karena menurut dia terdapat banyak gerakan bersenjata di Papua yang beraksi secara terpisah.

"Tidak bisa dikaitkan seperti itu karena kelompok di Papua itu banyak dan ini kelompok sendiri-sendiri yang tidak bisa ada kejadian langsung dikaitkan begitu," ujarnya.

Meski demikian, Agus bisa memastikan aksi penembakan helikopter TNI AD di Puncak Jaya dilakukan oleh kelompok berbeda yang melakukan penembakan di kawasan Abepura pada Senin 1 Agustus 2011.

"Kelompoknya berbeda," ujarnya.

Namun kondisi Papua yang kembali bergejolak karena peristiwa kekerasan beruntun tidak membuat TNI menambah kekuatan di provinsi paling timur Indonesia itu.

"Di Papua seperti itu kondisinya kok, biasa," kata Agus.

Ia pun menduga motivasi kelompok bersenjata menembaki helikopter TNI AD hanya untuk mencari perhatian tanpa tuntutan yang jelas.



ANTARA

F-33 / KFX


Wednesday, August 3, 2011

Kasad: Tidak Ada Operasi Militer Di Papua



Kamis, 4 Agustus 2011 13:17 WIB | 12 Views
KSAD Letnan Jenderal (TNI) Pramono Edhie Wibowo (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma)
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menyatakan tidak ada operasi militer di Papua menyikapi berbagai insiden penghadangan dan penyerangan oleh kelompok bersenjata terduga Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap TNI, Polri dan masyarakat.

"Tidak ada. Yang ada hanyalah operasi pengamanan perbatasan dan kebetulan ada kegiatan rutin TNI Manunggal Masuk Desa, maka dilakukan pengamanan," katanya, usai mendampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di RSPAD Gatot Soebroto di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan, kegiatan TMMD (TNI Manunggal Masuk Desa) sengaja dilakukan di Puncak Jaya, Papua mengingat kondisi infrastruktur, sarana prasarana dan fasilitas umum dan sosialnya cukup memprihatinkan, seperti pangkalan ojek, gereja dan rumah-rumah adat mereka yakni "honai".

"Kegiatan TMMD di Papua, sama dengan yang dilakukan TNI di daerah lain di Indonesia seperti pembangunan dan perbaikan infrastruktur, sarana prasarana, fasilitas umum dan sosial, terutama di daerah terpencil, daerah tertinggal dan daerah yang rusak akibat bencana alam," tutur Pramono.

Jadi, lanjut dia, bukan operasi militer dan tidak ada operasi militer di Papua.

Kasad menambahkan, menyikapi perkembangan situasi keamanan di Papua disertai beberapa insiden penghadangan dan penyerangan terhadap pos dan anggota TNI, maka pihaknya meningkatkan kewaspadaan dan patroli.

"Upaya `pembersihan` kelompok bersenjata OPM cukup dilakukan intensif oleh satuan kewilayahan setempat," ujar Pramono.

Tentang jumlah kekuatan kelompok bersenjata yang diduga OPM, Kasad mengatakan hingga kini belum dapat diprediksi mengingat keberadaan mereka yang terpencar dan mudah berbaur dengan masyarakat setempat.

"Mereka juga kadang muncul, kadang menghilang. Jadi, sampai saat ini data terakhir berapa kekuatan mereka belum dapat diprediksi," katanya, menegaskan.

Yang jelas, lanjut Pramono, TNI akan terus mengejar keberadaan OPM karena sudah menyangkut keamanan dan kedaulatan negara. "itu sudah otomatis, ada gangguan keamanan kedaulatan, ya kita akan terus kejar," ujarnya. (R018)


Antara

Two More Super Hornets Arrive in Australia


04 Agustus 2011

F/A-18F Super Hornet (photo : Aus DoD)

The Minister for Defence Materiel Jason Clare today announced the arrival of two new F/A-18F Super Hornets to RAAF Base Amberley in Queensland.

This brings the current Australian fleet to 20 with a further four aircraft to be delivered by the end of the year.

“The Super Hornet is one of the best fighter planes in the world. It has an advanced multi-mode AESA (actively electronically scanned array) radar and ‘low observability’ characteristics that make it significantly better than any fourth generation fighter,” Mr Clare said.

The Super Hornet can carry about one-third more fuel and weapons payload than the F/A-18A or F/A-18B Classic Hornet aircraft, while maintaining the same speed and handling characteristics in combat configurations.

The Super Hornet gives the Royal Australian Air Force the capability to conduct air-to-air combat; strike targets on land and at sea; suppress enemy air defences; and conduct reconnaissance.

The Super Hornet is also an off the shelf proven capability. It has been flown by the US Navy since 2001 and operated in Iraq, Afghanistanand most recently in Libya.

The first 15 Australian Super Hornets became operational in December last year – following the retirement of the iconic F-111.

A further three Super Hornets were delivered to Amberley last month.

The Super Hornet is built by Boeing at its production line in St Louis, Missouri.

Korea Awaits New Partner for $5 bil. Fighter Program


04 Agustus 2011

KFX K-200 model (image : chosun)

The door is open for another country or foreign firm to participate in Seoul’s initiative to develop a new combat aircraft with a budget of $5 billion, defense officials here said.

“Many countries, including the United Arab Emirates, have shown interest in investing in the project,” Noh Dae-lae, head of the Defense Acquisition Program Administration Commissioner, said Tuesday.

“We are planning to allow another country with the most attractive offer to join the KF-X program.

”The KF-X program refers to the multirole fighter development program that Seoul has pursued since 2000 to replace its aging F-4/5 fighter jets.

Indonesia pledged last year to invest $1 billion in the project and buy 50 KF-X fighters for allowing its researchers to participate in development.

Noh made the remarks at the kickoff ceremony of the KF-X project’s feasibility study to be jointly conducted with Jakarta, which will also shoulder 20 percent of the $50 million initial study costs.

Thirty-five Indonesian researchers will team up with 137 Korean experts for the exploration stage which is scheduled for completion with the selection of a prototype at the end of 2012.

Noh noted that he expects another KF-X partner to share up to 29 percent of the development costs and purchase some 150 new fighters in return for joining the consortium.

“The global trend is clearly moving toward joint development as the risk for the development of an advanced fighter is high despite the limited market,” he said.

Industry sources say Poland and Turkey have also expressed an interest in forging a partnership with Korea for the program.

American defense giant Lockheed Martin, which invested 13 percent in Korea’s development of T-50 supersonic trainer jets, is also apparently considering participating in the Seoul-led fighter jet development program.

“We’d be honored to be a partner in the KF-X program,” Stephen O’Bryan, a vice president of Lockheed Martin, said last month.

Lee Dae-yeorl, program director of the Combined Research and Development Center for the KF-X, said he would welcome industry participation from the world’s leading aerospace firms.

“We believe defense firms, such as Lockheed Martin, Boeing and European Aeronautic Defense and Space Company (EADS) can help us reduce the technology gap,” he said.

He said Seoul aims to develop an indigenous aircraft with limited stealth capabilities and a locally developed active electronically scanned array (AESA) radar system.

“We’ll develop a whole new fighter never seen anywhere else in the world,” Lee said.

He noted that the cost per KF-X jet is estimated at $55 million and its production aircraft is expected to be deployed from 2020.

Critics, however, say the future of the KF-X program remains uncertain as Korea plans to drop the $5 billion plan if it fails to attract foreign investment of 40 percent or above.

(Korea Times)

KSAD: Heli Penerbad Ditembaki di Papua



Kostrad / Kostrad


3 Agustus 2011, Sentani (ANTARA News): Pesawat helikopter Mil Mi-17 Kodam XVII/Cenderawasih, diberondong tembakan oleh orang tak dikenal di sekitar Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua, Rabu, sekitar pukul 14.10 WIT.
 
Jurnas.com | KEPALA Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo membenarkan penembakan helikopter milik Dinas Penerbang AD. Helikopter MI-17 itu ditembak saat mengevakuasi Pratu Fana S Hadi, prajurit Yonif 753 Arga Vira Tama yang tertembak oleh kelompok bersenjata saat berjaga di posnya, Selasa (2/8) lalu. "Kami sedang mengevakuasi anggota TNI AD karena ada yang sakit, ternyata ditembak," kata KSAD usai silaturahmi KSAD dengan purnawirawan di Balai Kartini Jakarta, Rabu (3/8).

KSAD menambahkan, peristiwa itu menyebabkan Pratu Fana Suhandi yang dalam perjalanan untuk perawatan luka tembaknya pada peristiwa sebelumnya, justru tewas terkena peluru penyerang heli. "Satu prajurit kami meninggal di rumah sakit karena terkena tembakan," katanya.

Helikopter buatan Rusia itu ditembaki saat lepas landas dari Bandara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya menuju Kabupaten Wamena pada Rabu siang sekitar pukul 14.00 WIT. Heli yang diawaki pilot Mayor CPN Kandek dan kopilot Lettu CPN Fandi terbang melalui rute yang biasa mereka lalui. Namun, ketika melintas di kawasan Puncak Senyum yang diidentifikasi sebagai daerah Organisasi Papua Merdeka (OPM), penembakan itu terjadi.

Tembakan mengenai dua titik, pertama di samping kiri roda depan dan kedua di badan pesawat. Salah satu tembakan itu mengenai bagian tubuh Fana yang langsung tewas.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen TNI Wiryantoro NK, Pratu Fana tewas ketika peluru menembus punggung sebelum akhirnya bersarang di dada korban.

KSAD: TNI Kejar Pelaku Penembakan
 
Humas TNI AD / TNI AD
Jurnas.com | KEPALA Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menegaskan, TNI akan melakukan pengejaran pada pelaku penembakan anggota TNI di Papua. Pengejaran dilakukan karena para pelaku penembakan dianggap mengganggu ketenangan masyarakat. "Tidak ada orang yang boleh mengganggu TNI dan rakyat membangun masyarakat," kata KSAD usai silaturahmi KSAD dengan purnawirawan di Balai Kartini Jakarta, Rabu (3/8).

KSAD menjelaskan, konflik TNI dan kelompok bersenjata yang diduga merupakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) terjadi saat TNI melakukan Bhakti TNI. OPM, kata KSAD, merasa terganggu karena TNI mendapatkan simpati lebih dari rakyat. "Mereka terganggu karena mereka menjanjikan pada rakyat memberikan rumah, lalu TNI datang membangun tanpa ada janji-janji," katanya.

Sebenarnya, kata KSAD, kegiatan TNI adalah untuk kegiatan Bhakti TNI membangun masyarakat. "Anak-anak yang ditembak itu sebenarnya sedang membangun, dihadang di jalan. Berbuat baik pada rakyat kok diganggu," katanya. "Tapi dengan adanya peristiwa ini, kami akan tingkatkan pengamanan," tambahnya.

JURNAS/Antara

TNI Angkatan Darat Bentuk Tiga Divisi Baru


04 Agustus 2011

Divisi Mekanis dengan kendaraan panser 6x6 (photo : Kaskus Milliter)
Jakarta (ANTARA News) - TNI Angkatan Darat membentuk tiga divisi baru untuk mendukung tugas pokok matra darat menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhi Wibowo usai bersilaturahmi dengan para purnawirawan TNI Angkatan Darat di Jakarta, Rabu, mengatakan, divisi baru tersebut mencakup unit mekanis, lintas udara, dan mobilitas udara.

Divisi Mobilitas Udara dengan helikopter serbu (photo : Kaksus Militer)

"Penambahan divisi baru tersebut sesuai modernisasi dan rematerialisasi," katanya.

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AD Brigadir Jenderal TNI Wiryantoro menambahkan, penambahan kekuatan itu diutamakan pada kendaraan tempur dan mobilitas pasukan.

Unit mekanis adalah satuan infanteri plus yang memiliki unit kavaleri tersendiri. "Saat ini ada batalyon mekanis baru dibentuk di Jakarta," ungkapnya.

Divisi Lintas Udara bersiap melakukan penerjunan dengan pesawat C-130 Hercules (photo : Poskota)
Wiryantoro mengatakan, unit lintas udara dan mobilitas udara merupakan satuan infanteri yang memiliki mobilitas tinggi dan dapat digelar dengan cepat di daerah operasi.

Ia menambahkan, satuan-satuan tersebut cocok dikerahkan di daerah hutan rimba, seperti di kawasan Papua dan Kalimantan.(*)

BERITA POLULER