Pages

Sunday, June 19, 2011

Germany Requests Tornado Aircraft Training and Logistics Support

Germany Requests Tornado Aircraft Training and Logistics Support


By US Defense Security Cooperation Agency on Monday, June 20th, 2011
The Defense Security Cooperation Agency notified Congress Wednesday of a possible Foreign Military Sale to the Government of Germany for base services for its Tornado aircraft operations, including associated equipment, ammunition, parts, training and logistical support for an estimated cost of $300 million.
The Government of Germany has requested the continuation of base services for the German Air Force Tornado aircraft operations at Holloman Air Force Base (AFB), New Mexico. Base services provided will be for operations and logistics support including training, fuel, munitions, base operating support, and other related operational/logistics requirements. Munitions will include 720 MK 82, 135 MK 84, and 5 Target Drone BQM 167.
The estimated cost is $300 million.
This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by improving the military capabilities of Germany and enhancing standardization and interoperability with U.S. forces.
Holloman AFB is the only location where the German Air Force trains aircrews in Tornado aircraft operations and tactics. These operations began at U.S. Air Force facilities in 1989.
The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.
There is no prime contractor involved in this program. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.
Implementation of this sale will not require the assignment of any additional U.S. government or contractor representatives to Germany.
There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.
This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded

US Navy Begins AARGM Integration on Super Hornet

US Navy Begins AARGM Integration on Super Hornet

By ATK on Monday, June 20th, 2011

ATK's Advanced Anti-Radiation Guided Missile (AARGM) recently completed an initial flight integration test on the EA-18G Growler electronic warfare aircraft in May and has completed multiple flight hours of integration testing on FA-18E/F Super Hornet aircraft.
This series of successful captive-carry tests is part of the process to validate the compatibility of AARGM with these platforms and to pave the way for all U.S. Navy strike aircraft to leverage AARGM's defense suppression capability. With continued successful flight performance, AARGM is expected to complete the Navy's Operational Test Readiness Review and transition into initial operational test and evaluation later this year.
"The AARGM team continues to make great progress in demonstrating missile reliability, affordability and overall performance," said Bill Kasting, Vice President and General Manager of ATK Defense Electronics Systems. "We look forward to operational testing and ultimately delivering this game-changing capability to the warfighter."
"AARGM's defense suppression capability combined with the EA-18G Growler's electronic warfare system creates a formidable advantage in joint and allied operations, and is another major step completed toward delivering AARGM capability to the Fleet," said Capt. Brian Corey, PMA 242 Program Manager for Direct & Time Sensitive Strike Weapons. "AARGM is designed to dramatically increase the effectiveness of U.S. Navy and Italian Air Force capability to suppress and destroy enemy air defense threats. AARGM's multi-spectral seeker and advanced control section can detect, locate, guide to, and engage both fixed and mobile enemy air defense units."
The integration flights supported development testing of new aircraft software for the FA-18E/F and EA-18G aircraft, and were conducted in parallel with the ongoing AARGM Integrated Test & Evaluation (IT&E) phase on the FA-18 C/D aircraft.
AARGM's precision capabilities allow for the destruction of modern enemy air defense systems, time-critical targets, and other mobile targets. AARGM's unique combat capability significantly increases the probability of successful engagements, minimizes the chance of collateral damage and eliminates the need to fly continuous suppression sorties throughout the duration of a conflict.
AARGM, a major upgrade to the AGM-88 HARM system designated the AGM-88E, is a U.S. Navy and Italian Air Force international cooperative program. AARGM provides the warfighter with a supersonic, air-launched tactical missile to be carried on the FA-18C/D, FA-18E/F, EA-18G and Tornado ECR aircraft. The missile is also designed for compatibility with the F-35 Lightning II, EA-6B Prowler and U.S. and Allied F-16 Falcon aircraft. ATK is currently under contract with the U.S. Navy for the Low-Rate Initial Production phase of the AARGM program for both U.S. Navy and Italian Air Force missiles.
ATK is an aerospace, defense, and commercial products company with operations in 23 states, Puerto Rico, and internationally, and revenues of approximately $4.8 billion.

Jet Berbahan Bakar Bio Akhiri Penerbangan Perdana Trans-atlantik


Minggu, 19 Juni 2011 08:49 WIB | 1779 Views
Gulf Streem (gulfstream.com)
Paris (ANTARA News) - Pesawat jet bisnis yang digerakkan dengan bahan bakar bio, Gulfstream G-450, untuk pertama kali telah terbang melintasi Samudra Atlantik dan Sabtu (18/6) mendarat di Bandar Udara Le Bourget, Paris, untuk bergabung dengan Paris International Air Show.

Gulfstream G-450, yang lepas-landas dari New Jersey di Amerika Serikat, menggunakan campuran separuh-separuh bahan bakar bio yang dibuat dari "camelina", yang dijuluki sebagai Green Jet Fuel dan dikembangkan oleh Honeywell International Inc., selama penerbangan melintasi Samudra Atlantik.

Honeywell menyatakan itu adalah kejadian bersejarah dalam sejarah penerbangan dan memperlihatkan penggunaan saat ini dan potensial Bahan Bakar Hijau untuk kepentingan sipil dan militer.

Penerbangan selama hampir tujuh jam tersebut menghemat "rata-rata 5,5 ton meter buangan karbon dioksida dibandingkan dengan pesawat serupa yang menggunakan bahan bakar yang berlandaskan minyak bumi.

Honeywell menyatakan perusahaan itu telah memproduksi bahan bakar dari tanaman yang tak bisa dimakan seperti "camelina", "jatropha" dan ganggang dan sejauh ini memproduksi lebih dari 700.000 galon bahan bakar bio.

Penggunaan bahan bakar bio untuk menggerakkan pesawat komersial bukan tindakan baru, tapi gagasan baru dengan penggunaan bahan bakar bio di dalam industri penerbangan memperbarui kecepatan. Pesawat komersial pertama yang lepas-landas dengan menggunakan bahan bakar bio adalah Virgin Atlantic 747 pada 2008, dan pesawat pertama yang sepenuhnya menggunakan bahan bakar ganggang hadir di International Aerospace Exhibition di Jerman pada 2010.

Produsen terbesar pesawat di dunia, Boeing dari Amerika Serikat, dan Airbus dari Uni Eropa telah menguji-coba penerbangan dengan menggunakan bahan bakar bio.

Untuk Paris Air Show, yang dimulai pekan ini, pesawat-barang baru Boeing 747-8 juga dijadwalkan menyeberangi Samudra Atlantik pada Ahad dan masing-masing dari keempat mesinnya menggunakan bahan bakar campuran Green Jet Fuel produksi Honeywell.


Antara

Delapan Mesin F-15 Israel Dicuri



Pesawat tempur F-15 Israel
Pejabat militer rezim Zionis Israel mengumumkan bahwa delapan mesin pesawat tempur Israel telah dicuri dari Pangkalan Udara Tel Nof, dekat Tel Aviv. Seorang juru bicara militer rezim Tel Aviv menyatakan pada hari Senin (13/6) bahwa sebuah investigasi atas pencurian mesin pesawat telah diluncurkan, AFP melaporkan. "Polisi militer telah memulai penyelidikan atas kasus itu," kata juru bicara tersebut tanpa merinci lebih lanjut.
Menurut laporan ini, para pejabat angkatan udara menegaskan bahwa bagian-bagian mesin yang dicuri adalah milik pesawat F-15 dan F-16. Bagian yang dicuri dilaporkan tidak lagi digunakan dan sudah menjadi besi tua, meski demikian pejabat militer Israel menggambarkan pencurian itu sebagai kasus yang sangat serius.
Tel Aviv dilaporkan telah memberitahu pejabat AS atas insiden, yang menurut beberapa laporan, terjadi ketika kelompok preman memasuki pangkalan. Namun, belum jelas bagaimana item yang relatif besar itu dipindahkan tanpa alat berat.
Israel telah memesan 20 jet tempur F-35, yang diproduksi oleh Lockheed Martin Corporation AS. Perusahaan ini juga menyediakan Israel dengan berbagai jenis pesawat tempur, termasuk F-16, F-22 dan F-35. (IRIB/RM/PH)

IRIB

Iran Kembangkan Teknologi Perang Elektronik

 Seorang komandan senior Angkatan Darat Iran mengatakan, Iran telah mengembangkan teknologi tinggi dalam perang elektronik dan melangkah maju dengan rencana untuk memperluas jaringan berkelanjutan dalam mengamankan komunikasi di negara ini.
"Kami telah membuat prestasi besar di semua teknologi yang digunakan dalam perang elektronik, seperti teknologi sinyal informasi yang mencakup pengumpulan data intelijen elektronik (ELINT) dan kecerdasan komunikasi (COMINT) dan juga menggunakan radar pasif," kata Brigjend Yadollah Asgari, wakil kepala Teknologi Informasi dan Komunikasi Departemen Angkatan Darat Iran.
"Berkat karunia Allah Swt dan kontribusi para pakar Iran, Departemen Pertahanan dan pusat-pusat penelitian yang bekerja di bidang perang elektronik, telah meraih pencapaian yang tidak terduga dan tren ini akan terus berlanjut," tambahnya.
Pada kesempatan itu, Asgari juga berbicara tentang kemajuan nyata dalam proyek-proyek untuk mendirikan sebuah jaringan komunikasi berkelanjutan yang aman serta jaringan pertahanan udara terpadu di negeri ini.

Menurut Asgari, kunci keberhasilan Angkatan Darat Iran adalah mencapai kemandirian di bidang komunikasi dan teknologi informasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan besar di bidang pertahanan dan mencapai swasembada dalam produksi berbagai peralatan militer. (IRIB/RM/PH)

IRIB

Iran: Kami Sedang Mengembangkan Radar Anti-Pesawat Siluman

 Seorang komandan militer Iran menyatakan bahwa negaranya tengah mengembangkan teknologi untuk mendeteksi pesawat-pesawat siluman.
Brigadir Jenderal Farzad Esmaili (13/6) mengatakan, "Pangkalan udara Khatam al-Anbiya mampu mendeteksi, mengidentifikasi, mencegat, dan menghadapi berbagai jenis pesawat siluman dan rudal cruise musuh ... di langit Iran."
"Untuk mendeteksi, mengidentifikasi, mencegat dan menghadapi pesawat mata-mata musuh, kami akan mengerahkan seluruh potensi dalam negeri," tambahnya.
Komandan militer itu lebih lanjut menegaskan bahwa bahwa Republik Islam tetap mewaspadai ancaman serangan Israel dan AS.
Menurutnya, "Semakin banyak ancaman, kami akan semakin waspada, dan semakin banyak sanksi, maka akan kami akan semakin maju."
Esmaili menggarisbawahi bahwa moral bangsa Iran, khususnya Angkatan Bersenjata "pada tingkat tertinggi."
"Dengan kasih pertolongan Allah Swt dan berkat ketekunan para ahli lokal, saat ini kami telah mengembangkan radar modern dan sistem rudal, dan kami tidak menemukan masalah dalam hal ini," tegas Esmaili.
Di lain pihak, Komandan Divisi Zona Udara Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Amir Ali Hajizadeh, sebelumnya menyatakan bahwa Iran telah menembak jatuh banyak pesawat mata-mata super-modern musuh.
Pejabat Pasdaran itu juga menyinggung penembakan jatuh dua pesawat mata-mata Amerika Serikat di perairan Teluk Persia.
(IRIB/MZ/MF)


irib

Melepas Kepulangan KRI Frans Kaisiepo-368


LEBANON - Sejumlah anggota TNI melepas keberangkatan KRI Frans Kaisiepo-368 kembali ke tanah air di Dermaga Beirut, Lebanon, Jumat, (17/6). Selama melaksanakan tugas sebagai peacekeeper di Lebanon, KRI Frans Kaisiepo-368 telah melakukan tugas sebagai MIO (Maritime Interdiction Operation) sebanyak 18 kali, memeriksa 1.405 kapal, mengajukan inspeksi pemeriksaan kapal sebanyak 170 kali dan total di laut selama 180 hari. FOTO ANTARA/HO-Sertu Marinir Kuwadi/ed/pras/11





BERITA POLULER