Pages

Sunday, November 7, 2010

Singapura Dukung Program Nuklir Damai Iran


Ketua parlemen Republik Islam Iran, Ali Larijani mengatakan, kebijakan standar ganda negara-negara adidaya terkait isu nuklir dan terorisme telah menyebabkan kekacauan di wilayah Timur Tengah.

Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo di Tehran kemarin (Ahad,7/11), Larijani menuturkan, situasi di Irak dan Afghanistan adalah contoh nyata dari kekacauan akibat kebijakan standar ganda adidaya dunia.

Pada kesempatan itu, Larijani juga menyatakan bahwa Iran dan Singapura memiliki potensi besar untuk memperluas hubungan mereka di berbagai sektor.

Di pihak lain, George Yeo mengatakan, Singapura ingin melihat Iran memainkan peran yang lebih besar di Asia.

Mengomentari isu nuklir Tehran, Yeo mengatakan bahwa sengketa program nuklir Iran hanya dapat diselesaikan melalui dialog dan diplomasi.

"Singapura berpendapat setiap bangsa memiliki hak untuk mengakses teknologi nuklir untuk tujuan damai," ujar Yeo. Ditambahkannya, era dominasi Barat di Asia telah berakhir. (IRIB/RM/AR)

IRIB

Pramono Edhie, Panglima TNI Berikutnya?



Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo (kanan) dan Pangkostrad Letjen TNI Burhanuddin Amin (kiri) salam komando usai upacara serah terima jabatan Pangkostrad di Markas Divisi I Kostrad Cilodong, Jawa Barat, Jum'at (5/11/2010). (Foto: Tribun News/Bian Harnansa)

8 November 2010 -- Seusai serah terima jabatan, Kepala Staf TNI Angkatan Darat menandaskan, pemegang tongkat komando tertinggi di TNI AD berikutnya adalah mereka yang berpangkat bintang tiga. Salah satu nama yang tak pelak lagi menjadi kuda hitam adalah Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo, yang sebentar lagi tentunya akan mencapai bintang tiga (letnan jenderal), sesuai dengan tugas yang diembannya, yaitu Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD.

Dalam pidatonya saat perayaan sertijab, Edhie bercerita, kariernya lebih banyak di Komando Pasukan Khusus. Edhie memulai kariernya sebagai Komandan Peleton Kopassandha, Komandan Batalyon II Grup I Kopassus (1995), Komandan Grup 5 Kopassus (1998), Wakil Danjen Kopassus (2005), dan Danjen Kopassus (1 Juli 2008-4 Desember 2009). Suami Kiki Gayatri dan ayah dua putra ini punya banyak pengalaman di Singapura hingga Lebanon. Ia juga mendapat banyak tanda jasa, seperti Bintang Kartika Eka Paksi Pratama dan Bintang Yudha Darma Pratama.

Tentu saja Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI George Toisutta secara diplomatis menyatakan, setiap jenderal berbintang tiga di TNI AD memiliki kans yang sama untuk menjadi KSAD. Namun, melesatnya karier Edhie yang juga anak bungsu Sarwo Edhie Wibowo—Komandan RPKAD (1964-1967) yang tersohor itu—tentu saja kansnya besar.

Apa kata Edhie Wibowo? Di sela-sela upacara sertijab, Jumat, saat ditanyakan bahwa dirinya termasuk calon KSAD yang akan datang, ia bilang, ”Ya, banyak faktor yang berpengaruh kan. Mulai dari situasi serta kondisi seperti usia.”

Walaupun lulus Akademi Militer tahun 1980, Edhie berusia lebih tua dari rekan-rekannya. Kini ia berusia 55 tahun, yang berarti pensiun tahun 2013. Adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang lahir pada 5 Mei 1955 ini lebih tua tiga bulan dari Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.

Sesuai dengan UU No 34/2004, menyangkut usia maksimal perwira TNI, yaitu 58 tahun, KSAD George Toisutta pensiun pada Juni 2011. Saat itu, TNI AD akan menyeleksi jenderal-jenderal berbintang tiga untuk menduduki KSAD.

Dengan pensiun tahun 2013, masih ada juga kans jadi Panglima TNI? Edhie hanya berucap, ”Yah... kita liat saja nanti. Itu kan hak Presiden.”

KOMPAS

Belanja Militer Indonesia


Pesawat Tempur Sukhoi TNI AU

Raksasa Asia Tenggara yang sedang tidur telah mulai terbangun membuat pernyataan yang mengejutkan. Setelah beberapa dekade kurangnya investasi dan isolasi internasional, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang dikenal sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI), akan melakuakan perbaikan kemampuan menyeimbangkan strategis di kawasan Asia-Pasifik - setidaknya pernyataan ambisius Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Setelah susah payah pengadaan skuadron pertama dari 10 pesawat tempur Sukhoi modern
selama dekade terakhir, di bawah-kekuatan angkatan udara TNI sekarang bertujuan untuk membuat sembilan skuadron Sukhoi lagi dalam sangat singkat, ujar Purnomo pada akhir September yaitu pengadaan sukhoi dengan total 180 pesawat sampai tahun 2024 termasuk pengadaan 50 Pesawat tempur kfx yang telah ditandatangani pada bulan Juli yaitu MoU antara Indonesia dengan Korea Selatan dan akan diproduksi awal tahun 2020an.

Rencana untuk membeli dua kapal selam baru, mungkin dari Rusia atau Korea Selatan. Lebih mencolok, desakan Purnomo bahwa program pengadaan dilakukan dengan ToT, yang memungkinkan PT Pal untuk membangun kapal selam didalam negeri. Dan Menteri Pertahanan Purnomo berjanji untuk sementara memprioritaskan AU dan AL untuk menyeimbangkan alutsista untuk semua mantra, karena pengaruh orde baru yang beroritasi dimantra darat.

Pertanyaannya adalah apakah grand design Purnomo untuk memodernisasi akan banyak halangan terutama dari segi politik dan keuangan?. Menteri sendiri tetap di bawah pengawasan ketat, seperti janji pemerintah yang sebelumnya, Purnomo merupakan menteri pertahanan yang berbeda dengan pendahulunya, Juwono Sudarsono, secara luas dianggap sebagai teknokrat yang mempunyai keahlian dibidang pertahanan, sedangkan Purnomo, yang baru dilantik pada tahun 2009, yang merupakan mantan menteri energi dan pertambangan yang berbeda dengan menteri pertahanan.

Namun, ide kreatif dari Purnomo berbeda dengan pendahulu dimana dia sendiri baru awan dibidang pertahanan. Pada pertengan Oktober, anggota parlemen Indonesia menyetujui keinginan untuk menambah anggaran pertahanan negara untuk US $ 6,3 miliar (lebih dari $ 1 miliar yang sebelumnya disetujui) pada tahun 2011, hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang kuat sekitar 7% per tahun yang membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkomitmen meningkatkan anggaran pertahanan menjadi 1,5% dari PDB pada tahun 2014.

Meskipun demikian peningkatkan anggaran pertahanan merupakan sebuah "Ambisi dan kebutuhan yang sebenernya," kata Dewi Fortuna Anwar, mantan asisten menteri luar negeri dan sekarang dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. "Alutsista sangat kurang dan Indonesia perlu membangun kembali. Tapi aspirasi Purnomo benar-benar berbicara tentang kesenjangan yang besar antara kebutuhan yang diinginkan dan apa yang Indonesia dapat dicapai secara realistis. Pada tingkat pengadaan riil, pemerintah masih akan bertujuan untuk membangun MEF (Minimum Essensial Force)"

Berbicara tentang pengadaan 180 Sukhoi mungkin terlalu fantastis, namun Anwar setuju dengan program pengandaan 10 pesawat Sukhoi banyak mengeluarkan anggaran tetapi itu digunakan untuk menjaga kedaulatan NKRI. "Pengadaan Sukhoi bukan sekedar untuk sebuah proyek adu gengsi" tegas dia. "Tentu saja, satu skuadron tidak cukup - tetapi sudah ada uang untuk lebih dari itu. Sekarang ini memiliki fungsi pelatihan penting " Anwar setuju untuk fokus ke pengadaan alutisista TNI AL. Dia menghargai upaya yang sedang berlangsung kementerian pertahanan untuk memperoleh frigat baru untuk angkatan laut, tetapi mengakui bahwa 300 kapal baru yang diperlukan untuk menjaga NKRI.

Bahkan dengan anggaran naik, hampir pasti Indonesia akan meningkatkan kemampuan pertahanan yang lebih bertahap seperti yang dikatakan oleh Purnomo. Negara-negara seperti Australian dan Malaysia harus waspada terhadap militer Indonesia yang sudah menunjukkan peningkatan militernya, ini merupakan suatu pertimbangan penting. "Ada persepsi di Indonesia bahwa kelemahan militer negara itu telah dimanfaatkan oleh negara-negara tetangga," kata Anwar, "tetapi tidak ada tuntutan bagi kita untuk memiliki pesawat lebih dari Malaysia, atau sesuatu seperti itu. Indonesia merupakan negara berkembang. Kami tidak ambisius untuk meningkatan militer secara besar-besaran, dan tidak akan mengorbankan proyek-proyek pembangunan alutsista pertahanan. "

Sama pentingnya memperbarui inventaris TNI yang telah penuaan, meningkatkan anggaran pertahanan bisa memberikan untuk proses reformasi militer Indonesia. Off-budget pendanaan selalu menjadi hambatan serius bagi profesionalisasi TNI, dan dana dari pemerintah yang cukup akhirnya harus memungkinkan pemerintah untuk memaksa militer untuk divestasi kepentingan bisnisnya - jika ada kemauan politik untuk melakukannya.

Dalam hal ini, presiden Yudhoyono memiliki beragam catatan: sementara TNI telah lepas dari politik, ia tetap beberapa hak istimewa yang penting, terutama struktur komando teritorial, yang meningkatkan kemampuan militer untuk beroperasi secara lokal tanpa pengawasan dari pemerintah pusat. Namun, tuduhan baru pelanggaran militer di Papua bisa memaksa pemerintah tersebut menjadi gelombang lebih lanjut dari reformasi militer, menurut Anwar. "Papua jelas menempatkan tekanan pada pemerintah," katanya. "Harus ada mengakhiri impunitas militer."

Untuk sebuah perubahan milter merupakan pil pahit reformasi tentu akan manis dengan komitmen pemerintah yang jelas untuk program pendanaan modernisasi alutsista. Dengan demikian, rencana ambisius Purnomo - bahkan jika mereka terlalu ambisius - harus disambut baik. Tapi Militer negara sekutu memulai pemangakasan anggaran, sedangkan militer Indonesia menemukan jati dirinya untuk pertama kalinya yang dipelopori oleh Purnomo'

Jika Purnomo sekarang memenuhi TNI dengan memberikan pada setidaknya setengah dari janji pengadaan, ia bisa membeli ruang yang sangat berharga bagi pemerintah untuk mengejar lebih lanjut reformasi militer - reformasi yang, seperti peristiwa di Papua .

Sumber: ATIMES

BENJAMIN NETANYAHU Hanya Aksi Militer Bisa Hentikan Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di hadapan Konferensi Pimpinan Amerika Yahudi di New York, 7 Juli 2010

NEW ORLEANS, KOMPAS.com — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan kepada Wakil Presiden AS, Joe Biden, Minggu (7/11/2010), bahwa hanya sebuah ancaman tindakan militer yang bisa memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

Seorang pajabat senior Israel mengungkapkan hal tersebut seusai mengikuti pembicaraan antara Netanyahu dan Biden. Netanyahu bertemu Biden di New Orleans tak lama setelah ia tiba di sana untuk mengikuti sebuah pertemuan puncak organisasi Yahudi. Pejabat senior itu, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengutip Netayahu yang mengatakan kepada Biden bahwa "Satu-satunya cara untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir adalah dengan menciptakan sebuah ancaman yang dapat dipercaya tentang aksi militer terhadap Iran jika tidak juga menghentikan upayanya untuk mendapatkan sebuah bom nuklir".

Pemerintah Presiden Barack Obama, yang tidak mengesampingkan opsi militer terhadap Iran, sejauh ini menekankan Iran dengan sanksi-sanksi dan diplomasi sebagai pilihan ketika berurusan dengan program nuklir negara itu. Iran telah sepakat untuk melanjutkan perundingan nuklir dengan enam negara kuat dunia setelah tanggal 10 November. Perundingan itu merupakan langkah lain dari upaya internasional untuk menekan Iran agar meninggalkan program pengayaan uranium yang diduga Barat akan digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Mark Regev, juru bicara Netanyahu, mengatakan, Perdana Menteri Israel menyatakan dukungan bagi sanksi-sanksi lanjutan terhadap Iran, tetapi menyarankan adanya lebih banyak tekanan. "Sanksi-sanksi itu penting. Sanksi-sanksi tersebut meningkatkan tekanan terhadap Iran. Namun, sejauh ini belum ada perubahan dalam perilaku Iran dan peningkatan tekanan internasional sangat diperlukan," katanya mengutip perkataan Netanyahu saat berbicara dengan Biden.

Sumber: KOMPAS

AS Bakal Kembali Rangkul Militer Indonesia?


Kalau saja petinggi militer Indonesia berterus terang tentang apa yang mereka rasakan dan mengganggu agenda TNI, mungkin mereka akan menyalahkan AS.

INILAH.COM, Jakarta - Kalau saja petinggi militer Indonesia berterus terang tentang apa yang mereka rasakan dan mengganggu agenda TNI, mungkin mereka akan menyalahkan Amerika Serikat (AS). Mengapa?

Negara raksasa ini punya beberapa kebijakan yang menempatkan TNI atau militer Indonesia dalam posisi 'bersalah'. Padahal sebelumnya militer Indonesia merupakan kelompok yang selalu didukung rezim Gedung Putih.

Rezim Soeharto (1966-1998) merupakan salah satu pemerintahan militer terpanjang di dunia, memperoleh dukungan AS. Dukungan bervariasi dari aneksasi Timor Portugis menjadi Timor Timur (1975), pembelian pesawat tempur F-16, hingga pelatihan Kopassus.

Sebaliknya, AS juga yang melecehkan sejumlah perwira tinggi militer RI. Letjen Sintong Panjaitan dan Letjen Johny Lumintang merupakan dua di antara perwira tinggi Indonesia yang dilecehkan di wilayah AS. Padahal kedua jenderal itu tergolong prajurit terbaik.

Semua berawal dari penilaian AS bahwa kedua jenderal itu bersalah menangani masalah di Timor Timur. Panjaitan dianggap bertanggung jawab atas peristiwa di kuburan Santa Cruz, Dili, Timor Timur. Sebagai Pangdam IX Udayana yang membawahi Bali, NTT hingga Timtim, Panjaitan dinilai bersalah atas tertembaknya sejumlah warga sipil pada Desember 1991 itu.

Saat itu Sintong Panjaitan hendak mengikuti program studi di salah satu perguruan di AS. Dia diminta meninggalkan AS, dengan alasan, melakukan pelanggaran HAM dalam peristiwa Santa Cruz tersebut.

Jenderal Lumintang selaku Wakil Kepala Staf Angkatan Darat juga dipersalahkan AS. Karena pada 1999, mengeluarkan radiogram kepada Pangdam Udayana agar merespons tindakan anarki yang dilakukan kelompok anti-Indonesia.

Radiogram itu dikeluarkan, berhubung pasca jajak pendapat di provinsi ke-27 RI itu, keselamatan warga pro Indonesia terancam. Respon militer Indonesia menyebabkan jatuhnya korban sejumlah warga sipil Timor Timur.

Ketika Lumintang mengadakan perjalanan dinas ke AS, tiba-tiba ia dikejutkan oleh petugas imigrasi dan FBI. Ia diminta meninggalkan AS dalam kesempatan pertama. Jika tidak, dia akan ditahan dan diajukan ke pengadilan federal.

Selain masalah Timtim, AS juga memberikan sanksi kepada pasukan elit Kopassus. Kerja sama AS dan Indonesia dalam pelatihan Kopassus dihentikan gara-gara keterlibatan sejumlah anggota pasukan elit itu dalam penculikan aktivis yang menentang rezim militer pimpinan jenderal Soeharto.

Sanksi pemerintah AS ini hingga 2010 belum dicabut. Padahal seorang korban penculikan Pius Listrulanang misalnya sudah menjadi anggota DPR mewakili Partai Gerindra, partai yang didirikan Letjen Prabowo Subianto.

Peristiwa penculikan itu terjadi saat Prabowo sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Pius dan Prabowo sudah bersahabat, tapi AS masih belum mencabut sanksinya.

Lain lagi ceritera pembelian pesawat tempur F-16. Pemerintah AS mendorong Indonesia membeli produk negara adidaya itu. Miliaran dolar dana RI mengalir ke industri persenjataan militer AS.

Namun AS kemudian melarang pabrikan menjual suku cadang F-16 kepada Indonesia. Satu persatu skuadron F-16 rontok sebab para mekanik Angkatan Udara RI terpaksa melakukan kanibal antar satu pesawat dengan yang lainnya.

Pengalaman pahit itu memang terjadi jauh sebelum Barack Obama terpilih sebagai presiden. Namun dalam kesempatan kunjungannya minggu kedua November 2010 ini, wajar jika Presiden SBY menyegarkan kembali memori pahit ini.

Tujuannya agar ke depan hubungan kedua negara menggunakan paradigma sehat dan produktif. Kesetaraan dua negara kalaupun hanya dilakukan dalam hal martabat, bukan dalam soal teknologi, keuangan dan indikator lainnya, tidak menjadi masalah.

AS perlu diingatkan bahwa masa depan hubungan kedua negara, tidak bisa lagi ditentukan Washington. Hubungan RI-AS harus saling menguntungkan.

Jika diumpamakan, sepasang muda-mudi, Indonesia ingin 'berpacaran' dengan AS. Tetapi dengan catatan selama belum ada ikatan pernikahan, Indonesia masih bebas berpacaran dengan pihak lain.

Hanya dengan metode seperti itu, kesunggguhan AS menjalin hubungan berkelanjutan, dijamin langgeng. Hanya dengan cara itu, AS bisa disadarkan bahwa di luar AS, tidak sedikit 'pacar' yang ingin menjalin hubungan baik dengan Indonesia.

Sebut saja dalam pengadaan pesawat tempur. Setelah jaminan suku-cadang F-16 tidak ada, Indonesia mencari alternatif baru dengan melirik pesawat tempur Rusia, Sukhoi.

Keputusan ini membuat AS akan berfikir seribu kali untuk memperlakukan Indonesia seperti negara kecil yang mudah dikendalikan. Sinyal untuk itu sudah terlihat. Menjelang kedatangan Obama, Menhan Robert Gates sudah bertemu dengan mitranya Menhan Purnomo Yusgiantoro.

Menurut Menhan RI, agenda hibah F-16 merupakan salah satu topik penting yang dibicarakan Presiden SBY dan Presiden Obama. Jika demikian, agaknya AS akan kembali merangkul militer Indonesia.

Sumber: INILAH

Habibie: Industri Dirgantara Indonesia Sengaja Dihambat





0
digg


PT DI Sedang Memproduksi CN-235

DEPOK (Suara Karya): Mantan Presiden Prof Dr Ing BJ Habibie meyakini, pengembangan industri kedirgantaraan di Indonesia terhenti lantaran sengaja dihambat oleh salah satu negara industri maju. Sukses Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) memproduksi CN-235, bangsa Indonesia dianggap sudah menguasai teknologi kedirgantaraan yang bakal maju seperti Jepang.

"Pada satu ketika di Singapura, saya mendapat informasi bahwa jangan ada lagi Jepang kedua di Asia," tutur Habibie ketika berbicara dalam Studium Generale Kongres ke-27 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kongres tersebut berlangsung di Graha Insan Cita, Kota Depok, Sabtu (6/11) siang.

Tampak hadir dalam acara pembukaan mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan Ketua BPK Anwar Nasution, dan mantan Menpora Mahadi Sinambela. Kongres ke-27 HMI, yang bertema Sinergi HMI untuk Indonesia yang Bermartabat, dibuka Menpora Andi Mallarangeng.

Ketika IPTN berhasil memproduksi CN-235, Habibie semakin yakin akan kecanggihan bangsa Indonesia dalam membuat produk berteknologi tinggi. "Saya katakan kepada Pak Harto (Presiden Soeharto-Red) bahwa yang membuat pesawat bisa terbang bukan lantaran kepres atau kekuasaan. Pesawat itu bisa terbang karena orang-orang pintar di belakangnya," ujar mantan Menteri Riset dan Teknologi itu.

Oleh karena itu, dia berpesan kepada generasi muda Indonesia, termasuk para anggota HMI, pencapaian yang telah dilakukannya agar dilanjutkan. "Saya berharap kemampuan generasi sekarang dan mendatang melampaui kemampuan kakeknya," kata Habibie.

Ia mengingatkan bahwa Bung Karno (Presiden Soekarno- Red) sangat bercita-cita agar bangsa Indonesia tidak dinilai sebagai bangsa kuli atau kuli bangsa-bangsa. "Kita telah memulainya, bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk membuat produk berteknologi tinggi. Setiap orang berhak untuk menguasai teknologi," katanya.

Hal lain yang diingatkannya adalah pemanfaatan waktu untuk kegiatan produktif. Dalam dunia ekonomi dikenal ada neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Dari neraca tersebut bisa diketahui seberapa besar produk yang diperjualbelikan atau seberapa besar penggunaan anggaran. Terkait pemanfaatan waktu untuk kegiatan produktif, menurut Habibie, perlu ada neraca jam kerja.

Sementara itu, Akbar Tandjung, dalam sambutannya, mengimbau para anggota HMI untuk meneladani sikap Prof Lafran Pane, tokoh pendiri HMI. Lafran Pane, tutur dia, dikenal sebagai figur yang jujur dan bersemangat juang tinggi.

Ia pun mengingatkan bahwa HMI juga memiliki cendekiawan yang patut dibanggakan. Disebutnya, Prof Nurcholish Madjid, dan Prof Ismail Hasan Metareum. Nama mereka diabadikan dalam setiap ruang tempat para anggota HMI berkongres. Dengan demikian, diharapkan semua peserta terinspirasi oleh keteladanan para tokoh tersebut selama berkongres.

Di tempat yang sama, Menpora Andi Mallarangeng, dalam sambutannya, mengajak pemuda lebih giat menimba ilmu untuk meningkatkan daya saingnya. "Pesaing kita bukan lagi di dalam negeri, tapi luar negeri. Perguruan tinggi kita harus lebih baik dari Singapura atau Malaysia," tuturnya.

Ketua Umum PB HMI Arip Mustopha, dalam sambutannya, mengemukakan, ada agenda strategis HMI ke depan yang akan dibahas dalam kongres. Pertama, meneruskan peran aktif membangun demokrasi berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal. Kedua, menghasilkan lebih banyak entrepreneur untuk menjawab kebutuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Sumber: SUARA KARYA

Dana Kementerian Pertahanan Baru Cair Rp.600 Milyar





NAS-332 Super Puma TNI AU

JAKARTA - Jatah Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk menambah kebutuhan alutsista berupa pinjaman dalam negeri sebesar Rp 800 miliar di tahun 2010 ini baru terealisasi sebesar Rp 600 miliar, atau 75% dari total jatah pinjaman. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan hal itu akhir pekan lalu.

Dana tersebut diperoleh dari pinjaman kepada Bank BNI 46. "Pemerintah memang sedang memprioritaskan pendanaan lewat pinjaman dalam negeri," ujarnya.

Dana Rp 600 miliar tersebut nantinya dipergunakan untuk membeli alutsista dari industri nasional. Salah satunya membeli senjata serbu SS2 untuk TNI AD, perangkat radar dan sonar untuk CN-235 TNI AL, dan heli Super Puma 332 untuk TNI AU.

Sisa jatah Rp 200 miliar yang akan diperoleh dari bank-bank nasional lainnya diharapkan bisa cair sebelum akhir 2010. "saat ini kami sedang sibuk-sibuknya mengusahakan agar dana tersebut bisa cair," tambahnya.

Sumber : KONTAN

BERITA POLULER