Pages

Tuesday, October 17, 2017

Perkembangan IFX saat ini



Ada kabar kemajuan mengenai proyek pesawat tempur generasi 4.5 KFX/IFX yang merupakan proyek bersama antara Korea Selatan dan Indonesia, tetapi sebagian di antaranya agak tidak mengenakkan, berdasarkan wawancara media Flight Global terhadap seorang ofisial dari Korea Aerospace Industries.

Ofisial dari perusahaan KAI buka-bukaan dalam pameran Seoul ADEX 2017, dimana desain final dari KFX sendiri diberitakan akan selesai pada bulan Juni 2018, kemudian dilanjutkan dengan fase EMD (Engineering and Manufacturing Design) yang mendetail.

Setelah fase EMD, diharapkan uji terbang perdana bisa dilakukan pada 2022, kemudian dilanjutkan dengan pengujian, integrasi sistem, dan evaluasi yang diperkirakan butuh waktu empat tahun sendiri. KFX sendiri juga akan disiapkan dalam konfigurasi tempat duduk ganda, sesuatu yang tidak pernah muncul sebelumnya dalam maket-maket pemasaran Korean Aerospace Industries.

Indonesia sendiri, yang membayar 20% biaya pengembangan, sudah berhasil memperoleh ijin ekspor untuk komponen-komponen buatan Amerika Serikat yang nantinya akan terpasang pada versi IFX, dimana saat ini IFX Design Center di Bandung tengah berkutat dengan model IFX yang akan dikembangkan, dan rencananya akan dibeli sebanyak 80 unit tersebut.

Namun, akan ada perbedaan antara KFX dan IFX. IFX sendiri akan mengambil desain KFX Block I, yang akan dikirimkan tanpa lapisan peredam gelombang radar. Belum diketahui apakah Indonesia akan mengembangkan sendiri lapisan RAM (Radar Absorbment Material), yang jelas Korea Selatan tidak akan memberikannya. Pun untuk sistem senjata internal (weapon bay) tidak akan dimasukkan dalam pengembangan Block I.

Hanya KFX yang merupakan desain KFX Block II yang akan dilengkapi dengan weapon bay dan dilapisi lapisan anti radar. Dengan perbedaan spek ini, ada kemungkinan bahwa varian KFX akan memiliki MTOW (Maximal Take Off Weight) yang lebih besar dari IFX karena harus membawa persenjataan yang lebih banyak. Akankah dimensinya juga lebih besar?

Yang jelas, baik KFX maupun IFX sama-sama akan ditenagai oleh mesin General Electric F414. Sebagian besar avionik mulai dari radar AESA, sistem IRST (Infra Red Scan and Track), panel di kokpit, dan sebagian besar LRU (Line Replaceable Unit) akan dikembangkan secara mandiri oleh perusahaan-perusahaan Korea Selatan.

Problem utama adalah masalah senjata, akan tetapi KAI berusaha mengurangi ketergantungan terhadap senjata lansiran AS dengan membuat KFX/IFX kompatibel dengan senjata buatan Eropa seperti MBDA Meteor untuk rudal jarak menengah dan rudal jelajah Taurus KEPD 350. Mengingat kedekatan Indonesia dengan Negara-negara Eropa, seharusnya tidak ada masalah dalam akuisisi senjata untuk IFX nantinya.

Yang jelas, saat ini memang masih terlalu dini untuk berspekulasi bahwa IFX benar-benar akan dibangun dengan spesifikasi yang lebih rendah dari KFX, apalagi wawancara Flightglobal tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pengumuman resmi. Tetapi ini merupakan suatu peringatan dini, dimana Indonesia harus menjaga betul proses pengembangan IFX dengan lebih ketat lagi. (Aryo Nugroho)

Sumber :https://c.uctalks.ucweb.com

Tuesday, October 3, 2017

Helikopter AH-64E Apache Guardian Meriahkan HUT TNI ke-72



Dinas Penerbangan TNI AD akan ketambahan kekuatan apabila delapan unit AH-64E Apache Guardian Block III yang dibeli dengan kontrak senilai US$ 1,1 Milyar, menjadikan TNI AD sebagai salah satu pengguna heli serang paling canggih di dunia ini. Kemunculan AH-64E dalam kelir kamuflase dua warna Penerbad yang ditengarai sebagai fase pengujian heli pesanan TNI AD tersebut pun juga sudah bersliweran di dunia maya.
Nah, di Cilegon kemarin penulis memergoki kemunculan setidaknya dua AH-64 Apache yang terbang beriringan dengan Bell 412EP dan Mi-35 milik Penerbad. Apalagi tampilannya juga sangar, dilengkapi tabung roket Hydra 70mm dan rudal AGM-114 Hellfire training terpasang di rak peluncurnya. Sekilas bangga juga melihat Apache tersebut sudah terbang, namun kemudian tak lama malah timbul pertanyaan di benak penulis, seperti ada keanehan pada Apache tersebut.
Kok Apachenya berwarna hijau zaitun ya, khas Apache milik US Army Aviation atau Dinas Penerbangan AD AS? Lalu di sponson avionik di sebelah kanan tertera emblem atau logo pedang bersilang, khas kavaleri udara AD AS? Buka-buka sedikit literatur, akhirnya rasa penasaran penulis pun terjawab sudah.
AH-64 Apache yang terbang dalam gladi parade HUT TNI ke-72 tersebut memang milik US Army, yaitu dari unit 25th Combat Aviation Brigade (CAB) yang berpangkalan di Wheeler Army Airfield, Hawaii. 25th CAB baru mengoperasikan heli Apache selama setahun, setelah sebelumnya menggunakan heli intai Kiowa Warrior. Insignia pedang bersilang di sponson kanan tersebut adalah milik Skadron ke-2, Resimen Kavaleri ke-6 dari 25th CAB yang menginduk ke 25th Infantry Division.
Total kekuatan dari 25th CAB adalah 24 helikopter AH-64E Guardian, jenis yang sama dengan yang dibeli Indonesia dan skadron ke-2 bahkan baru dinyatakan operasional secara penuh pada bulan Juni 2017. Mengenai bagaimana heli serang sekelas AH-64 Apache bisa ‘nyasar’ sampai ke Indonesia, jangan buru-buru curiga dulu.
Hubungan erat TNI AD dan US Army terwujud dalam latihan tahunan Garuda Shield 11/2017, dimana AD AS memang memboyong sejumlah helikopternya ke Indonesia termasuk UH-60 Blackhawk Medevac dan AH-64 Apache. Kalau pembaca masih ingat, heli Apache dan Blackhawk yang terbang beriringan membelah langit Jakarta sempat membuat kehebohan yang viral di awal bulan September lalu.
Ajang latihan Garuda Shield 11/2017 tersebut dimanfaatkan pula oleh pilot-pilot Penerbad untuk berlatih beroperasi dengan dan menggunakan AH-64 Apache yang akan diterima paling cepat tahun 2018. Nah, karena latihannya sendiri sudah dinyatakan ditutup pada 30 September, boleh dong helikopter Apachenya dipinjam untuk memeriahkan parade HUT TNI yang ke-72? Toh TNI memang sudah membeli helikopter Apache tersebut. (Aryo Nugroho)

Monday, October 2, 2017

Tampilan Pandur II 8×8 dengan Kanon RCWS Ares UT30MK2



Diantara ratusan alutsista TNI yang kini telah terparkir di kawasan Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, sudah terlihat sosok ranpur Pandur II 8×8 jenis IFV (Infantry Fighting Vehicle) yang dilengkapi kanon RCWS Ares UT30MK2 kaliber 30 mm. Kemunculan ini menjadi babak terbaru dari serial panser Pandur II 8×8 di Indonesia, setelah sebelumnya telah diperlihatkan Pandur II 8×8 FSV (Fire Support Vehicle) yang dilengkapi meriam Cockerill CT-CV 105 mm dan Pandur II 8×8 APC dengan SMB (Senapan Mesin Berat) kaliber 12,7 mm.

Formasi ketiga jenis panser Pandur kini telah siap untuk mengikuti parade dan defile HUT TNI Ke-72 pada 5 Oktober 2017. Bahkan Pandur II 8×8 APC secara khusus akan menampilkan atraksi berenang di laut dalam skema operasi amfibi. Sebaliknya Pandur II 8×8 yang kini dipasangi kubah kanon Ares 30 mm tidak mempunyai kapabilitas amfibi. Namun sumber penulis menyebut bahwa versi Pandur Ares 30 mm yang nantinya akan digunakan Batalyon Infanteri Mekanis TNI AD adalah varian dengan kemampuan amfibi.
Seperti apa kebisaaan dari RCWS UT30MK2? Dikutip dari factsheet yang dirilis pihak manufaktur, UT30MK2 sudah mengusung fully integrated Battlefield Management System (BMS) desain kubah modular, sehingga UT30MK2 dapat dipasangkan beragam sistem senjata dan perangkat elektro optik tambahan.
Bicara fire power, UTMK30MK2 buatan Ares Aeroespacial and Defense, manufaktur persenjataan dari Brasil, mengusung basis kanon Orbital ATK Mk 44 Bushmaster ABM (Air Burst Munition) kaliber 30 mm sebagai senjata utama, sementara disisi laras 30 mm terdapat senapan mesin 7,62 coaxial. Jika kocek user cukup, sudah tersedia modul untuk dipasangi ATGM (Anti-Tank Guided Missiles). Sebagai kanon RCWS modern, di sistem kubah sudah disematkan Laser Warning System (LWS) and optional Smoke Grenade Launcher System (SGL).
Dengan teknologi dual-axis stabilized, UT30MK2 dirancang mampu melakukan tembakkan secara efektif dalam kondisi kendaraan sedang melaju. Dan yang lebih unik, desain kubah dapat di setting tanpa awak (unmanned) ke dengan awak (manned), begitu pun sebaliknya, disesuaikan dengan kebutuhan operasi, dimana kesemua subsistem disebut-sebut saling identik.
Desain modular tak melulu pada penambahan perangkat penjejak dan senjata, namun lapisan pelindung pada kubah juga dapat ditambahkan dengan model Modular ballistic protection (STANAG 4569 Level 2, 3,4 or 6), sudah barang tentu level STANAG yang digunakan akan berimbas kepada bobot kubah itu sendiri. (Haryo Adjie)

Pengadaan Rudal NASAMS (Norwegian Advanced Surface to Air Missile) oleh TNI AU


Puasa panjang TNI akan sistem pertahanan udara jarak menengah nampaknya akan segera berakhir. Setelah spekulasi yang bersliweran mengenai rencana pembelian rudal NASAMS (Norwegian Advanced Surface to Air Missile) oleh TNI AU, penulis sudah memperoleh kepastian bahwa Kementerian Pertahanan sudah menandatangani kontrak pembelian rudal NASAMS pada bulan Juni 2017.
Kehadiran NASAMS yang membangkitkan kenangan lama akan kegarangan AURI dengan rudal SA-2 Guideline pada masa Orde Lama melengkapi sistem senjata hanud yang dimiliki TNI AU mulai dari sistem pertahanan udara titik Oerlikon Skyshield 35mm buatan Rheinmetall Jerman, rudal panggul jarak dekat QW-1 dan QW-2 dari China serta Chiron dari Korea Selatan, dan tentu saja kemudian NASAMS.
Dari peruntukannya, NASAMS akan digelar untuk pertahanan ibukota negara, yang selama ini memang hanya dijaga dengan meriam-meriam arhanud yang tentu saja sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman lawan seperti jet tempur atau pesawat pembom yang memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan dari jarak jauh (standoff). Untuk membiayai pembelian NASAMS ini, Indonesia mendapatkan fasilitas kredit dari Bank Exim Norwegia senilai lebih dari USD 100 juta.

NASAMS sendiri diprakarsai oleh Norwegia untuk mendobrak stigma bahwa menggelar sistem rudal anti pesawat alias SAM harus menyiapkan dana yang mahal. Maklum saja, rudal anti pesawat generasi 1980an memang besar, terdiri dari kendaraan peluncur, kendaraan radar, kendaraan pengendali, kendaraan catu daya, dan seterusnya.
Menyadari hal ini, Norwegia mendesain NASAMS dengan jejak (footprint) seminimal mungkin. Awalnya adalah kontraktor Norsk Forsvarsteknologi dan Hughes Aircraft yang membentuk satu joint venture untuk AU Norwegia, yang diberi nama NASAMS. Target operasionalnya adalah tahun 1992, walau kemudian molor sampai operasional pada 1994.
Sistemnya memang tetap didesain terpisah antara kendaraan peluncur, kendaraan posko / FDC (Fire Distribution Center) dan sistem radar AN/TPQ-36. Yang berbeda, konsep NASAMS dibuat modular dan seefisien mungkin. Sebagai contoh, untuk kendaraan peluncur, kotak peluncur LCHR didesain untuk dapat diangkut oleh truk standar kelas lima ton yang dilengkapi dengan dongkrak khusus untuk menurunkan dan menaikkan LCHR ke dan dari flatbed truk.

LCHR sendiri terdiri dari enam kotak dengan tiap kotak terdiri dari rel peluncur yang terlindung dari elemen cuaca. Satu kotak LCHR sendiri dapat dinaikkan ke atas palet standar dan dimasukkan ke dalam C-130H Hercules untuk digelar ke titik-titik jauh sesuai dengan keinginan pengguna. Artinya, TNI AU sendiri sanggup menggelar NASAMS kemanapun dibutuhkan.
Untuk urusan rudalnya sendiri, Norwegia awalnya menggunakan solusi COTS (Commercial Off The Shelf) alias menggunakan rudal yang sudah ada di pasaran. Pendekatan ini dirasa akan lebih mudah, murah, dan waktu pengembangannya tentu saja menjadi sangat singkat. Bahkan pada saat dibuat pertama, NASAMS memanfaatkan pylon rudal standar pesawat tempur yang dibalik.
Kongsberg sebagai pengembang rudal memilih AIM-120C AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile). AMRAAM yang sejatinya merupakan rudal udara-udara ternyata sudah ditanamkan chip dual mode oleh Raytheon selaku pembuat: mode udara-udara atau darat-udara. Sebagai rudal dengan kemampuan ganda, AMRAAM yang sudah memperoleh cap battle proven dapat berfungsi dengan baik ketika ditunjuk sebagai rudal SAM. Jarak efektif untuk AMRAAM dalam NASAMS adalah 15-20 kilometer, tergantung kondisi di mana rudal itu beroperasi.

Keistimewaan NASAMS selanjutnya adalah fleksibilitasnya; tidak ada sistem SAM yang dapat menggunakan rudal yang berbeda-beda tanpa perlu banyak penyesuaian kecuali NASAMS. Apabila pada awalnya hanya AIM-120C-3/5/7 yang disertifikasi untuk dapat diluncurkan dari NASAMS, rudal pencari panas jarak pendek generasi baru AIM-9X Sidewinder dijadikan salah satu pemukul, yang tentu saja mengandalkan IR seeker tanpa radar sama sekali sebagai penjaga garis akhir.
Dengan dimensi yang lebih besar dibandingkan FIM-92 Stinger, tentu saja AIM-9X lebih punya kans untuk merontokkan sasaran yang lebih besar. Yang terpenting, AIM-9X yang menggunakan seeker IR aktif aman dioperasikan di lingkungan dimana pesawat SEAD (Supression of Enemy Air Defence) beroperasi, yang mengancam situs radar kawan, dan tak mempan gangguan jamming radar oleh lawan. Dengan TNI AU sudah memiliki dua jenis rudal tersebut dari Amerika Serikat, artinya tidak akan ada masalah untuk penggelarannya sebagai perisai ibukota. (Aryo Nugroho)

Monday, September 11, 2017

Pabrik Lockheed Martin di Forth Worth Texas Masih Bisa Bernafas Panjang




Lini pabrik yang memproduksi pesawat tempur F-16 Fighting Falcon milik Lockheed Martin di Forth Worth Texas nyaris menjadi kenangan, ketika Lockheed Martin terbentur akan order F-16 yang mengering. Pesawat tempur hebat itu saat ini seolah tidak lagi memiliki peminat.

Tadinya F-16 terakhir akan meninggalkan pabrik pada bulan September 2017, dan pabrikan terpaksa harus memindahkan pabrik tersebut ke Greenville, South Carolina agar Forth Worth bisa memproduksi F-35 Lightning II.
Pabrik F-16 akan dibekukan setidaknya selama dua tahun, sampai lini di Greenville bisa disusun kembali. Lockheed Martin telah menawarkan varian terbaru F-16V Block 70/72 ke negara potensial seperti India dan Indonesia, tetapi sampai sekarang belum ada satupun tanggapan yang positif.
Namun peruntungan Lockheed Martin berubah dalam semalam, setelah Departemen Luar Negeri AS melalui DSCA mengumumkan bahwa Bahrain memesan 19 unit F-16 Viper Block 70 senilai US$ 2,785 miliar, masih ditambah lagi dengan peningkatan kemampuan 20 unit F-16 Block 40 yang dimilikinya ke standar F-16V Block 70. Nilai kontrak peningkatan kemampuannya adalah senilai US$1,082 miliar.
F-16V yang dipesan oleh Bahrain menggunakan konfigurasi penuh dengan radar APG-83 SABR (Scalable Agile Beam Radar) dan MMC (Modular Mission Computer). Avionik yang dibeli adalah AN/APX-126 AIFF (Advanced Identification Friend or Foe), radio terenkripsi standar SINCGARS, dan simulator, serta mesin F-110-GE-129 cadangan.
Untuk persenjataan, paket pembelian mencakup beragam senjata, mulai dari 19 unit kanon M61A1 Vulcan, rudal AIM-9X, dan rudal AGM-88 HARM sebanyak masing-masing dua unit. Kit pemandu untuk bom pintar JDAM dan GBU-24 Paveway III serta sejumlah bom pintar lainnya juga turut diakuisisi, terutama karena Bahrain bergabung dalam koalisi Arab Saudi untuk menyerang Yaman. Selain bom pintar, Bahrain juga membeli pod pengarah sasaran Sniper ATP (Advanced Targeting Pod).
Selebihnya adalah pylon senjata seperti 38 unit LAU-129 untuk meluncurkan AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM, 38 unit LAU-118A untuk meluncurkan rudal anti radiasi AGM-88 HARM. Sejumlah rudal latih alias Captive untuk AIM-9X dan AIM-120 juga dibeli untuk sarana latih.
Dengan pesanan Bahrain ini, setidaknya lini produksi Forth Worth masih akan dipertahankan untuk F-16, setidaknya untuk jangka waktu tiga sampai empat tahun ke depan. Durasi waktu ini memadai, sambil berharap bahwa kompetisi MMRCA India akan memenangkan F-16 sehingga napas elang penempur ini akan semakin panjang. 
by (Aryo Nugroho)

Friday, September 8, 2017

Luar Biasa! 6 Bulan Persiapan Bersama TNI AU-RSAF untuk 30 Menit Perayaan RISING50






Pertunjukan kemahiran para pilot-pilot TNI AU dan Republic of Singapore Air Force (RSAF) untuk mempersiapkan flypass dalam rangka 50 tahun perayaan hubungan diplomatik Republik Indonesia dan Republik Singapura atau RISING50 ternyata tidak terjadi dalam waktu semalam.

Untuk menyuguhkan penampilan sempurna formasi arrowhead yang disusul dengan formasi terbang bersama F-16 TNI AU dan RSAF membentuk angka 50 dan bom burst dari F-15SG di hadapan publik di Marina South, ternyata kedua angkatan udara sampai harus membentuk kelompok kerja yang melibatkan perwira dari kedua negara.

Kelompok kerja kedua angkatan udara tersebut harus mempersiapkan segalanya, mulai dari formasi yang akan disuguhkan, rute penerbangan yang optimal sehingga kedua kelompok F-16 yang terbang dari 2 titik yang berbeda dapat bertemu di wilayah udara Singapura. Dan tidak ada toleransi untuk kesalahan. Semua harus diperhitungkan sampai ke hitungan detik, atau resiko semakin besar. Untuk berlatih saja, sejumlah jadwal penerbangan sipil sampai harus dijadwalkan ulang atau digeser slotnya agar bisa dipakai berlatih.

Hasilnya, seperti dapat disaksikan bersama, para penerbang TNI AU yang dipimpin oleh KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto dan RSAF berhasil menyuguhkan manuver dan formasi yang rapat sempurna di hadapan para hadirin, termasuk Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Lee Hsien Long beserta Ibu Negara dan para tamu kehormatan.

Di darat, drum band dari AAU (Akademi Angkatan Udara) Pakca Lokananta dan SAF Central Band memainkan lagu-lagu nasional. Pakca Lokananta menampilkan atraksi marching band yang sangat energik dan menarik mengikuti lagu Taruna Jaya, sementara SAF Central Band memainkan lagu We Will Get There dan We Are Singapore, yang semuanya menjadi latar ketika jet-jet F-16 kedua negara menampilkan formasi dan atraksinya.

Sungguh, perencanaan yang baik, eksekusi yang sempurna, dan penampilan yang luar biasa menjadi warna akan hubungan baik antara Indonesia dan Singapura yang kita harapkan akan terus berlanjut dalam hubungan yang baik, saling memahami, dan saling mendukung antar negara. (Aryo Nugroho)

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/personal/index/

Monday, July 31, 2017

Tank Buatan Indonesia - Turki Bakal Ikut Parade HUT TNI


Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose mengatakan, prototipe tank medium buatan bersama Indonesia-Turki akan diperlihatkan saat Parade Hari Ulang Tahun TNI 5 Oktober 2017 nanti. “Kita membuat 2 prototipe, satu sudah selesai di Turki dan akan dibawa ke Indonesia untuk ikut Parade 5 Oktober,” kata Abraham di Bandung, 31 Juli 2017.

Abraham mengatakan, tank yang dikembangkan bersama FNSS, produsen alutsista Turki itu selanjutnya akan menjalani uji senjata di Indonesia. “Lalu akan melakukan ‘blasting-test’ di Indonesia,” kata dia.

Menurut Abraham, “blasting-test” itu untuk menguji kehandalan meriam kaliber 105 milimeter yang menjadi senjata utama tank tersebut. “Hasil ‘blasting-test’ kita akan koreksi hingga final. Nanti yang kita bangundi Pindad itu betul-betuls uda ‘first-article’, bukan prototipe,” kata dia.

Abraham mengatakan, dalam kerjasama bersama FNSS itu, rencananya akan dibuat 2 prototipe. “Untuk pengembangan itu masing-masing  Rp 150 miliar. Bukan dari Pindad tapi dari Kementerian Pertahanan,” kata dia.

Satu prototipe yang sudah rampung sempat dipamerkan di Turki masih memerlukan melewati serangkaian proses uji coba, termasuk uji senjata. Rencananya tank medium buatan bersama Pindad-FNSS itu akan dilengkapi meriam utama 105 milimeter dan 2 senjata tambahan kaliber 7.62 milimeter dan 12,7 milimeter. “Prototipe yang akan ktia bangun di Indonesia itu sudah lengkap,” kata dia.

Kelas tank medium itu dirancang berada di bawah main batlle tank Leopard, yang dimiliki Indonesia. “Bisa dikatakan kelasnya di bawah Leopard, tapi manuvernya lebih bagus. Kemudian yang jadi patokan kita menggunakan (meriam) kaliber 105 milimeter. Ini sangat cocok untuk infanteri, kavaleri juga,” kata Abraham.

Abraham mengatakan, pengembangan tank itu menggunakan pendanaan bersama Indonesia-Turki. “Karena kita kerjasama pendanaan bareng-bareng, keduanya punya kepentingan. Bahwa penetapan masin dari mereka, tapi tentu diskusi dengan kita. Memang ada beberapa permintaan user yang belum kita akomodir karena masih pengembangan bersama,” kata dia.

Konten lokal tank buatan Pindad-FNSS itu ditargetkan menembus 40 persen. “Mesinnya masih Cartepilar. Kita harus akui mesin total beli dari sana. Tapi kalau bicara disain, dan part lain yang berupa suporting, sudah dari kita semua,” kata Abraham.

Abraham mengaku, pemerintah sudah membahas recana pembelian tank tersebut. “Sudah ada pembahasan waktu itu,TNI akan mengganti, akan membentuk satuan mana, dan akan mengganti tank yang mana. Sudah ada pembicaraan,” kata dia. Sedikitnya, TNI akan memesan 20 unit tank tersebut.

Soal harga, Abraham mengaku masih belum tahu. “Paling tidak (harganya) di bawah Leopard. Mungkin setara dengan Pandur buatan Chech, atau tank milik Korea yang terbaru,” kata dia.

Sumber:https://nasional.tempo.co/

Ini gambaran Rencana Strategis TNI AU 2015-2019




Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Agus Supriatna, memaparkan secara ringkas Rencana Strategis TNI AU 2015-2019, yang berasal dari kajian internal TNI AU dan disetujui Markas Besar TNI dan Kementerian Pertahanan. 

Ada beberapa hal yang menjadi fokus utama Rencana Strategis TNI AU 2015-2019 itu, sebagaimana dia nyatakan di Ruang Tunggu VIP Base Ops Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis petang. 

1. Pengganti F-5E/F Tiger II di Skuadron Udara TNI AU 14, yang diproyeksikan pada dua kandidat utama, yaitu Sukhoi Su-35 Super Flankerbuatan Rusia, dan F-16 Viper buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat. Yang pertama bermesin dua, dan yang kedua bermesin tunggal. 

Disebutkan, akan dibeli enam unit baru yang benar-benar gres alias baru dari pabriknya, dan dalam keadaan lengkap persenjataan dan sistem avionikanya. 

Walau tender terbuka tidak pernah dilakukan, namun pabrikan yang turut memaparkan kebolehan dan keunggulan produknya adalah Saab Swedia (JAS39 Gripen), Dassault Rafale (Prancis), Eurofighter Typhoon (konsorsium empat negara Eropa Barat, yaitu Spanyol, Inggris, Jerman, dan Italia). 

2. Pemutakhiran armada pesawat angkut berat sekelas C-130 Hercules. Sejauh ini ada dua skuadron udara TNI AU yang mengoperasikan pesawat militer di kelas ini, yaitu Skuadron Udara 31 (Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta), dan Skuadron Udara 32 (Pangkalan Udara Utama TNI AU Abdurrahman Saleh, Malang, Jawa Timur). 

Disepakati yang akan dihadirkan adalah C-130H Hercules, karena C-130B Hercules (bodi pendek, secara mudah), sudah tidak mumpuni dari sisi performansi, keandalan, dan teknologi. 

C-130 Hercules serie dipilih karena tipe ini terbukti andal dan populasinya masih sangat banyak di dunia. Adapun Embraer dari Brazil sempat mencoba peruntungan, sebagaimana A400M dari Airbus Industry. 

3. Pemutakhiran pesawat latih jet T-50i dari Korea Aerospace Industry, Korea Selatan. TNI AU sudah punya 16 unit T-50i Golden Eagle ini, sehingga sebagai skuadron udaranya, kekuatannya terbilang lengkap, yang dimasukkan ke dalam Skuadron Udara 15 TNI AU, di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur. 

Supriatna menjelaskan, yang dilakukan nanti adalah melengkapi T-50i Golden Eagle itu dengan radar dan sistem persenjataannya. Selama ini belum ada, kata dia, T-50i Golden Eagle yang datang pada 2013 itu belum bisa dikategorikan sebagai pesawat tempur taktis. 

Pengadaan T-50i Golden Eagle yang bentuknya nyaris persis dengan F-16 Fighting Falcon ini memenuhi skala waktu yang dituntut dalam kontrak pembelian, yaitu tiba perdana pada 2013 dan unit terakhir 2014. 

4. Penambahan pesawat latih dasar Grob G-120TP dari Jerman, yang dimasukkan di Skuadron Udara 202, yang adalah skuadron udara pendidikan calon perwira penerbang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Adi Sucipto, Yogyakarta. Grob G-120TP pengganti AS-202 Bravo, yang telah berkiprah sejak dasawarsa �70-an. 

5. Penambahan KT-1B Wong Bee, buatan Korea Aerospace Industry, Korea Selatan. Pesawat terbang mesin turbo piston berbaling-baling ini tergabung ke dalam Skuadron Udara 201, yang juga skuadron pendidikan calon perwira penerbang, dan juga di Yogyakarta. 

Pesawat terbang ini juga dijadikan the goodwill ambassador of Indonesian Air Force, ke dalam Tim Aerobatic Jupiter. 

6. Helikopter angkut berat dan helikopter kepresidenan/VIP, yang berbasis Agusta Westland AW-101 Merlin. Diproyeksikan enam unit AW-101 dibeli baru untuk skuadron udara angkut berat dan tiga untuk Skuadron Udara 45 VIP. 

Semua tender pengadaan pesawat militer itu tidak diungkapkan kepada publik.

SUMBER ANTARA

Thursday, July 27, 2017

Menhan Saksikan Ujicoba Beberapa Drone di Bogor


27 Juli 2017


Pameran dan uji coba drone buatan dalam negeri (all photos : Kumparan) 

Menhan inginkan pesawat tanpa awak dilengkapi persenjataan

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menginginkan pesawat terbang tanpa awak (PPTA) atau drone bisa digunakan untuk keperluan tempur, yang dilengkapi senjata dan bom.

"Pesawat terbang tanpa awak yang dibuat atas kerja sama Balitbang Kemhan dengan industri pertahanan dalam negeri sudah bagus, dengan jarak tempuh hingga 200 kilometer dan bisa digunakan selama 20 jam. Luar biasa itu," kata Menhan usai menyaksikan uji coba pesawat tanpa awak hasil kerja sama kementerian pertahan (Kemhan) dan industri pertahanan di Lapangan Terbang Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Ke depan, lanjut Ryamizard, tak terlalu sering memakai pesawat yang menggunakan awak karena cost relatif mahal, dan penggunaannya pun terbatas. Namun, pesawat tanpa awak bisa digunakan setiap saat dan relatif lebih murah. 



"Kemungkinan kecelakaan sangat kecil. Kalau pun ada kecelakaan tidak ada korban jiwa," katanya. 

Pesawat terbang tanpa awak ini nantinya bisa di-update untuk dipasang alat tembak dan bom, serta bisa digunakan siang dan malam hari. 

"Ini nggak kalah lagi dengan dari luar. Kemudian akan ditingkatkan terus. Itu kalau pakai satelit, jaraknya bisa 500 kilometer," kata mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) ini.



Purnawirawan Jenderal bintang empat ini berharap nantinya pesawat tanpa awak dapat dimaksimalkan untuk menjaga perbatasan, bahkan dapat digunakan untuk mencegah peredaran narkoba.

"Iya pasti (akan dimaksimalkan) di perbatasan mau lihat di mana tukang narkoba itu bawa narkoba. Semuanya lah. Curi-curi ikan segala macam. Nanti di kapal angkatan laut juga ada drone, penanganan bencana, segala macam lah," katanya.

Kendati demikian, tambah dia, pihaknya tetap akan membeli beberapa drone militer dari China guna menambah pengetahuan teknologi mengenai drone.



"Jadi begini. Kita, orang China, orang manapun, beli pasti dia bedah itu barang untuk dipelajari. Kita juga beli sedikit satu-dua, kemudian kita pelajari untuk menambah kecanggihan itu. Semuanya begitu," jelasnya.

Pesawat yang diujiterbangkan bernama Rajawali 720, yang merupakan hasil kerja sama Balitbang Kemhan dengan PT Bhineka Dwi Persada. PPTA Rajawali 720 termasuk ke dalam kategori Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau juga disebut Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) dan merupakan PPTA bersayap tetap (fixed wing). 

PPTA tersebut memiliki kemampuan terbang Iebih dari 24 jam dengan misi radius jelajah 20 km sampai dengan 1000 km, dan ketinggi jelajah 8000 meter dan kecepatan hingga 135 km/jam (73 knots). PPTA Rajawali 720 tersebut juga mampu tinggal landas dan landing dengan Iandasan yang cukup pendek. 



PPTA Rajawali 720 dirancang dengan misi utama sebagai pesawat pengintai, yang dilengkapi dengan sistem gimbal dan kamera yang dapat mengirimkan hasil pantauan, baik gambar maupun video secara real time ke darat melalui Ground Control Station (GCS). 

Sehingga, PPTA Rajawali 720 dapat menjadi salah satu altematif yang handal dalam melakukan pengawasan dalam berbagai keperluan, seperti melakukan pemantauan di daerah perbatasan, lautan ataupun hutan. 

Selain PPTA Rajawali 720, kata Kapuskom Publik Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiharto, juga akan diuji coba beberapa pesawat tanpa awak lainnya, yakni Pesawat Udara Tanpa Awak (Puna) Alap-Alap, Wulung (PT Carita Boat Indonesia), Elang Laut (PT DI), dan Mission System (PT LEN Industri), serta Target Drone (PT Indo Pacific Communication dan Defence), M3LSU03 (PT Mandiri Mitra Muhibbah).

(Antara)

Saturday, May 27, 2017

Panglima TNI: Helikopter AW-101 Tidak Sesuai Spesifikasi




Helikopter AW-101 TNI AU (photo : Liam Daniels)

Jakarta (ANTARA News) - Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, menegaskan, helikopter angkut berat  AgustaWestland AW-101 Merlin yang didatangkan dari pabrikan Inggris-Italia itu tidak sesuai dengan spesifikasi yang diperlukan.

"Heli itu pintunya bukan ramp door, padahal harusnya ramp door dan PT Dirgantara Indonesia harusnya bisa membuat heli seperti ini dan sudah dipakai juga," kata dia, dalam konferensi pers, di Gedung KPK Jakarta, Jumat.

Bersama dengan Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Ketua KPK, Agus Rahardjo, dan Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI Wuryanto, dia memaparkan potensi kerugian negara dari pengadaan helikopter AW-101 Merlin itu.

Sudah ada tiga tersangka ditetapkan, yaitu Marsekal Pertama TNI FA, Letnan Kolonel Administrasi BW, dan seorang pembantu letnan satu. Semuanya personel TNI AU.

Ramp door adalah pintu untuk keluar-masuk personel, kendaraan, barang ke dalam kabin. Posisi ramp door selalu di buritan fuselage.  Adapun spesifikasi teknis yang dikehendaki pengguna (TNI AU) pada pengadaan helikopter angkut berat ini adalah helikopter transport pasukan dan SAR tempur.

Semula, AW-101 Merlin digadang-gadang akan dibeli sebagai helikopter VIP kepresidenan, dengan konfigurasi sesuai hakikat tugas utamanya, yaitu membawa presiden-wakil presiden dan VIP. Jika mengacu ke sini maka ramp door tidak diperlukan, karena fokusnya pada keamanan-keselamatan dan kenyamanan VIP. 

Saat itu (sekitar akhir 2014 hingga 2016) bagi publik peminat kemiliteran terjadi pro-kontra soal perlu atau tidak perlu dan harus-tidak harus memiliki helikopter baru VIP kepresidenan. Hal ini terutama di ranah media massa dan media sosial. Apalagi ada UU Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan berhadapan dengan tuntutan tugas militer.


Pintu belakang heli AW-101 TNI AU (photo : defence.pk)

Adapun TNI AU memiliki skuadron udara helikopter khusus VIP, yaitu Skuadron Udara 45 VIP yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta. Skuadron udara ini bermaterialkan NAS-332 Super Puma.

Namun atas perintah Presiden Joko Widodo, pengadaan helikopter baru untuk VIP itu dibatalkan. Namun ternyata muncul perjanjian kontrak No KJP/3000/1192/DA/RM/2016/AU tanggal 29 Juli 2016 antara Markas Besar TNI AU dengan PT Diratama Jaya Mandiri tentang pengadaan heli angkut AW-101 Merlin. 

"Rp738 miliar itu pun untuk VVIP, tapi kemudian untuk heli angkut juga habisnya dalam jumlah yang sama padahal spesifikasinya lebih tinggi VVIP, itu saja sudah kelihatan (korupsi)," kata Nurmantyo.

Helikopter AW 101 Merlin yang disebut untuk angkut berat-personel dan SAR tempur itu akhirnya datang pada akhir Januari 2017, secara diam-diam.Sejak dia datang hingga kini, belum pernah dipertunjukkan langsung pada publik, kecuali sekali saja kepada pers. Itupun secara terbatas. 

"Desember 2015 memang sudah ada perintah untuk menghentikan pengadaan helikopter, satu buah. Kemudian awal 2016 helikopter VVIP diubah menjadi heli angkut dan juga hanya satu buah. Memang betul TNI AU belum memiliki helikopter (yang dilengkapi) ramp door itu," kata Nurmantyo.

Menambah keterangan Nurmantyo, Tjahjanto berkata, "Tapi kenyataannya pada 2017 heli datang pada akhir Januari dan helikopter itu masih tidak sesuai spesifikasi sehingga heli tersebut belum kami terima sebagai kekuatan AU dan speknya belum memenuhi versi militer."

Saat ini helikopter AW 101 Merlin itu masih berada di salah satu hanggar di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. 

"Helinya belum diterima sebagai inventaris TNI masih di Halim, ada garis polisi. Belum diterima sebagai (unsur) kekuatan TNI," kata Rahardjo, kemudian.


Karena nilai strategisnya, maka proses pengadaan dan pembelian arsenal dan perlengkapan TNI melalui proses dan mekanisme yang panjang dan melibatkan matra-matra yang bersangkutan di TNI, Markas Besar TNI, Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, Bappenas, dan lain-lain. Khusus untuk peralatan perang, tender terbuka tidak pernah diumumkan kepada publik. 

(Antara)