Pages

Sunday, May 5, 2013

New T-50 Fighter Jet to Enter Service in 2016 – Putin


Russia’s fifth-generation T-50 fighter jet

MOSCOW, April 25 (RIA Novosti) – Russia’s fifth-generation T-50 fighter jet will enter service with the country’s armed forces in 2016, and not 2015 as was previously announced, President Vladimir Putin said on Thursday.
“The T-50 fifth generation jet should go into serial production and enter service in 2016,” Putin said at a live Q&A session with the Russian public.
The Defense Ministry had earlier said the jet would be ready in 2015.
Russia will start state flight tests of the T-50 in 2014, United Aircraft Corporation's President Mikhail Pogosyan said on Tuesday.
The T-50, also known as PAK-FA (future tactical fighter aircraft), first flew in January 2010 and was presented to the public at the Moscow Air Show in 2011.
The T-50, which will be the core of Russia's future fighter fleet, is a fifth-generation multirole fighter aircraft featuring elements of "stealth" technology," super-maneuverability, super-cruise capability (supersonic flight without use of afterburner), and an advanced avionics suite including an X-band active phased-array radar.
India will also buy a fighter aircraft based on the T-50, known as the FGFA (fifth-generation fighter aircraft).
United Aircraft Corporation is the state holding company uniting Russia's aircraft building industry including Sukhoi, a military and civil aircraft manufacturer.

sumber : RIA NOVOSTI

Begini Cara Kerja Pesawat Pengintai Produksi RI



Drone, pesawat tak berawak/ilustrasi
Drone, pesawat tak berawak/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Menyusul rencana memproduksi pesawat pengintai tak berawak, Kementerian Pertahanan RI menyatakan semua pesawat itu tidak bersenjata.
Meski begitu, Kementrian Pertahanan Indonesia mengatakan sudah punya  rencana jangka panjang untuk mempersenjatai model yang bisa menembakkan misil atau menjatuhkan bom-bom.
Seperti diungkap Samudro, Direktur Badan Penerapan Riset dan Teknologi yang ikut merancang prototype itu, pesawat pengintai tak berawak Wulung mengirim video langsung  kepada stasiun-stasiun  pengendali di darat tapi hanya bisa terbang sampai empat jam dan sejauh 73 kilometer dari pusat pengendaliannya di darat.
Sebagai perbandingan, beberapa pesawat pengintai Amerika bisa terbang lebih dari satu hari tanpa mengisi bahan bakar dan bisa dikendalikan lewat satelit dari jarak ribuan kilometer jauhnya.
Dengan teknologi canggih dan didukung infrastruktur rumit, pesawat pengintai tak berawak yang bersenjata telah menjadi bentuk alat perang baru yang sangat modern, seperti dilansir situs voa.
Dalam upaya menyaingi kemampuan senjata global, Yohannes Sulaiman seorang analis dari Universitas Pertahanan Indonesia mengatakan pembuatan pesawat pengintai Indonesia tidak produktif dan hanya didorong oleh ego. Sekarang ini sebagian besar angkatan bersenjata  negara-negara besar menggunakan beberapa jenis pesawat pengintai tak berawak yang dibeli dari pemasok utama seperti Israel dan Amerika.

sumber : Republika

TNI Pamer Kecanggihan Alutsista di Depan SBY


Dalam latiah tersebut, TNI AU mengerahkan sejumlah pesawatnya seperti F-16, pesawat Sukhoi, Super Tucano. Ghazali Dasuqi/detikFoto. 
Latgab TNI 2013 digelar di Puslatpur Marinir Baluran Karangtekok, Situbondo, Jumat (3/5/2013). 
Dalam latihan gabungan tersebut TNI unjuk kecanggihan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di depan Presiden SBYdan Wapres Boediono. 
Presiden SBY memantau latihan gabungan dengan didampingi Wapres Boediono. Ghazali Dasuqi/detikFoto. 
 Latihan gabungan yang dilaksanakan terdiri dari operasi khusus, operasi udara, operasi laut gabungan, operasi amfibi, operasi linud, operasi pendaratan administrasi dan operasi darat gabungan.
 Dalam Latgab tersebut para prajurit TNI melakoni skenario menghancurkan kekuatan musuh
 Berbagai alutsista modern TNI AD, TNI AL, dan TNI AU, dikerahkan dalam latihan gabungan tersebut. 
 Skenario latihan diawali dengan pendaratan amfibi Marinir untuk merebut sasaran di pantai Banongan, Situbondo. 
 Para prajurit TNI menyerbu musuh
 Beberapa prajurit TNI melakukan pengintaian.
 Amfibi Marinir melakukan pendaratan. Dalam Latgab tersebut para prajurit TNI tampak cekatan memainkan alutsista saat melakoni skenario menghancurkan kekuatan musuh
Sumber : Detik Foto

Habibie Siap Bangun Industri Pesawat di Batam



Presiden RI ke-3 BJ. Habibie
Presiden RI ke-3 BJ. Habibie
REPUBLIKA.CO.ID, BATAM---Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Humas Badan Pengusahaan (BP) Batam Dwi Djoko Wiwoho mengatakan mantan Presiden BJ Habibie menyampaikan komitmen untuk merintis industri pesawat terbang di Bandara Internasional Hang Nadim, Kepulauan Riau.

"Beberapa waktu lalu Pak Habibie sudah menyampaikan komitmennya untuk merintis industri penerbangan di Batam. Ia menyatakan hanya akan merintis selama tiga tahun, setelah itu pensiun dan menyerahkan pada anak-anak terbaik bangsa ini," kata dia.
Hal tersebut, kata Djoko, disampaikan pada Kepala BP Batam Mustofa Widjaja dan sejumlah petinggi BP Batam di Jakarta saat penandatanganan pengalokasian 62 hektare dari 100 hektare lahan yang akan dibangun perkantoran, hanggar, perbaikan dan perawatan berat (maintenance, repair and overhaul/MRO) oleh PT Indonesia Aero Maintence (IAM) dan Habibie di perusahaan ituy adalah ketua dewan komisaris.
"Habibie mengatakan hanya mempersiapkan perusahaan. Suatu saat nanti pemerintah diharapkan yang akan mengambil perusahaan industri pesawat itu," kata dia.
Djoko mengatakan, Habibie yang juga pernah menjabat kepala Otorita Batam (sekarang BP Batam) sekitar 18 tahun yakin dalam tiga tahun perusahaan tersebut akan berkembang pesat sehingga sudah bisa berjalan sendiri.
"Tujuan lain dari Habibie merintis perusahaan pesawat di Batam untuk lebih mendapat manfaat dari posisi Batam yang lebih strategis. Bukan hanya Singapura dan Malaysia yang mendapatkan manfaat," kata Djoko saat memperdengarkan rekaman pidato Habibie.

sumber : Republika Online

Australia Defence White Paper: Key Points



Collins class submarines (photo : naval technology)

THE key elements of the Gillard government's defence white paper, released today.

Main technology decisions:

Australia remains committed to buying the advanced Lockheed Martin F-35 Joint Strike Fighters.

Australia to buy an additional 12 Boeing Super Hornets, configured in the electronic warfare Growler version, giving the RAAF a total of 36.

Government committed to buying 12 new submarines, based on an evolved version of the Collins class. Rules out buying an existing model from a European manufacturer.

Navy supply ships HMAS Sirius and HMAS Success will be replaced.

Government to ramp up plans to replace the navy's Armidale-class patrol boats.

No plans for a fourth air warfare destroyer.

Overall thrust of the White paper:


More conciliatory to China than the 2009 White Paper.

Welcomes China's rise and the modernisation of its military as a legitimate outcome of its growth.

Unlike the 2009 White Paper, new document makes no commitment to a particular level of defence funding.

Government committed to fiscal discipline and wants a defence budget that meets operational requirements.

(The Australian)

BERITA POLULER