INDONESIA DEFENCE BLOG ADALAH BLOG TENTANG INFO ALUTSISTA TERKINI DI DUNIA

Tuesday, January 31, 2012

Sukhoi Fifth Generation Fighter Not to Bid in South Korea’s Aircraft Tender

Su PAK FA
The Sukhoi PAK FA is a new Russian stealthy air superiority fighter
Our Bureau
 
Mon, Jan 30, 2012 13:53 CET
      Russia’s chief military aircraft producer had opted not to take part in South Korea’s largest-ever arms tender worth $7.3 billion for new fighter aircrafts , The Korea Times reported today.

      The winner of the FX-III tender will supply South Korea’s Air Force with 60 advanced fighter jets with stealth capabilities.

      A spokesman for South Korea’s Defense Acquisition Program Administration (DAPA), said, “No Russian firm submitted an application to attend the program’s explanatory session, which was a prerequisite to participate, by the Friday registration deadline”.

       Sukhoi was earlier listed as one of the four contenders for the FX-III project with it’s T-50 PAK-FA Stealth Fighter, according to DAPA. The Sukhoi was up against American manufacturers Boeing, offering the F-15SE Silent Eagle, Lockheed Martin with the F-35 Lightning II and the European Aeronautic Defense and Space Company (EADS)’s Eurofighter Typhoon.

      Sukhoi pulled out of the race because it had not sought approval from the Russian government and the local trade mission, officials at the Trade Representation of the Russian Federation in Korea said. 
 
sumber :DEFENSEWORLD

Russia to Modernize 30 Tu-22M3 Bombers by 2020


About 30 Tu-22M3 strategic bombers from Russia's Long Range Aviation fleet will be modernized by 2020
16:10 31/01/2012
MOSCOW, January 31 (RIA Novosti)
About 30 Tu-22M3 strategic bombers from Russia's Long Range Aviation fleet will be modernized by 2020, Russian Air Force spokesman Col. Vladimir Drik said on Tuesday.

"We plan to upgrade about 30 strategic bombers to the M3M standard,” Drik said.

Tu-22M3 (NATO reporting name Backfire-C) is a supersonic, swing-wing, long-range strategic bomber that Russia uses mainly to patrol the skies over its southern borders, Central Asia and the Black Sea region.

The Tu-22M3 has a flight range of 6,800 km (4,300 miles) and can carry a 24,000 kg (52,910 lb) payload, including nuclear bombs and cruise missiles fitted with nuclear or conventional warheads. Aircraft of the M3M standard can be equipped with a wider range of weapons.

As of 2008, the Russian Air Force had at least 141 Tu-22M3 bombers in service.

Maj. Gen. Anatoly Zhikharev, commander of Long Range Aviation, earlier said that Russia's strategic aviation fleet will undergo extensive modernization while Russia’s next generation strategic bomber, the PAK DA, is being developed by the Tupolev Design Bureau.

He said the modernized aircraft will be equipped with new equipment, communications systems, cockpits and avionics.

sumber : RIA NOVOSTI

French Rafale Wins Indian Fighter Tender – Indian TV

French Rafale Wins Indian Fighter Tender
17:06 31/01/2012

France’s Dassault Rafale has won a $10 billion tender for 126 fighter aircraft from the Indian Air Force, NDTV reported on Tuesday, quoting unnamed Air Force sources.
A final contract signing will take place only in the next financial year however, local media said quoting a Defense Ministry source.
If the report is correct, it would be the first export sale of Rafale, which is currently in service with the French Navy and Air Force.
Six aircraft types were originally competing for the tender, including Russia’s MiG-35. The Indians narrowed the six down to just two aircraft types last year, the Eurofighter Typhoon and Dassault Rafale.
The first 18 aircraft will be built by the original manufacturer and the remaining 108 under license by HAL in India.

sumber : RIA NOVOSTI


Menhan, Menkeu dan Kepala Bappenas Raker Komisi I DPR RI Bahas Modernisasi Alutsista TNI


Jakarta, DMC – Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, Senin (30/1) menghadiri Raker Gabungan Komisi I DPR RI bersama Menteri Keuangan Agus Martowardojo, dan Kepala Bappenas, Prof. Dr. Armida S. membahas grand design modernisasi alutsista TNI. Pembahasan raker gabungan ini juga menekankan kepada kebijakan anggaran dan pembiayaan untuk kepentingan program modernisasi alutsista TNI yang dibagi menjadi tiga tahap Rencana Strategi (Renstra), hingga tahap akhir pada 2025.
Adapun kebijakan anggaran untuk modernisasi alutsista TNI hingga 2014 mendatang, atau tahap pertama sebesar Rp 150 trilun. Dimana peningkatan anggaran untuk dukungan modernisasi itu telah dimulai, dengan setiap tahunnya anggaran Kemhan ditingkatkan. Untuk Renstra tahap I Tahun 2010-2014 terdapat adanya dukungan dana yang berbasis dari pinjaman dalam dan luar negeri untuk realisasi modernisasi belanja alutsista ini.
Pada kesempatan Raker Gabungan itu, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Alokasi Anggaran Pinjaman Pemerintah (APP) Kemhan/TNI TA. 2010-2014 untuk pengadaan Alutsista TNI guna pemenuhan kebutuhan Minimum Essential Force (MEF) sebesar USD. 6,5 Milyar.
Lebih lanjut Menhan mengatakan Alokasi Anggaran Pinjaman Pemerintah tersebut berupa Pinjaman Hutang Luar Negeri (PHLN) kredit ekspor untuk Kemhan dan TNI tahun 2010-2014 dibagi kedalam beberapa kategori. Diantaranya meliputi alutsista TNI yang bergerak, sebesar USD 4,8 Milyar, alutsista TNI yang tidak bergerak sebesar USD 1,7 Milyar.
Ditambahkan Menhan, alokasi ini telah ditetapkan oleh Menteri PPN atau Kepala Bappenas pada tanggal 31 Oktober 2011 dalam daftar rencana pinjaman luar negeri jangka menengah atau dikenal Blue Book tahun 2011-2014.
Ditambahkan Menhan, didalam Blue Book ini terdapat rincian alokasi, seperti untuk Mabes TNI sebesar 328.806 USD juta, TNI AD, sebesar 1.451.860 USD milyar, TNI AL, sebesar 2.173.794 USD milyar dan TNI AU sebesar 2.602.900 USD milyar.
Sehubungan dengan hal tersebut, Menhan menyampaikan bahwa Kementerian Keuangan melalui daftar rencana prioritas pinjaman luar negeri atau Green Book telah melakukan Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) tanggal 20 Desember 2011. Didalam PSP tersebut ditetapkan dari pengajuan alokasi anggaran pinjaman sebesar USD 6,5 milyar terdukung sekitar USD, 5.7 milyar, sedangkan yang tidak terdukung sekitar USD 793 juta.
Berkaitan dengan hal tersebut, Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq saat menyampaikan kesimpulan rapat gabungan, menekankan agar Kemhan, Kemenkeu dan Kemeneg PPN/Bappenas untuk melakukan beberapa hal diantaranya agar memperbesar prosentase Pinjaman Dalam Negeri (PDN) sesuai dengan Arahan Umum Presiden RI dalam rangka Pembangunan Minimum Essential Forces (MEF).
Mencari solusi penyelesaian terhadap kebutuhan anggaran yang belum terdukung sebesar USD 793 yang masih akan diupayakan. Dalam hal Komisi I DPR RI juga mengharapkan penyusunan kontrak pembelian Alutsista TNI semaksimal mungkin dapat memberikan multiflier effect bagi perekonomian nasional.
Disamping membahas Alokasi Anggaran Pinjaman Pemerintah (APP) Kemhan/TNI TA. 2010-2014 sebesar USD. 6,5 milyar untuk pengadaan Alutsista TNI, Raker Gabungan Komisi I DPR RI juga membahas permohonan penghapusan dana bertanda bintang anggaran PHLN/KE dan kebijakan tentang sertifikasi asset tanah TNI (Anggaran sertifikasi).
Turut menghadiri dalam Raker Komisi I DPR Gabungan tersebut, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono beserta jajaran Kepala Staf Angkatan, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berserta pejabat dilingkungan Kemhan dan TNI. (MAW/SR).

TNI Tri Matra Latihan Penanggulangan Teror


Jurnas.com | SEBANYAK 91 personil TNI Tri Matra VI menggelar latihan penanggulangan teror di Halim Perdanakusuma Jakarta, Selasa (31/1) malam. Latihan dimulai pukul 21.00 WIB diikuti oleh seluruh pelaku dan pendukung.

Latihan difokuskan bagaimana langkah-langkah yang diambil serta prosedur pengambilan keputusan guna melumpuhkan teroris dengan meminimalisir jatuhnya korban jiwa masyarakat sipil.

"Guna menjaga kerahasiaan dalam melaksanakan operasi pembebasan sandera di tiga tempat di lokasi bandara yang telah dikuasai teroris yaitu dua ruang tunggu bandara dan satu pesawat yang telah dibajak, pasukan khusus melakukan penyusupan lewat infiltrasi melalui udara dengan terjun (free fall) serta sebagian lagi dilaksanakan melalui air landed (pendaratan menggunakan pesawat)," demikian ditulis dalam siaran pers Bagian Penerangan Korpaskhas TNI AU yang diterima Jurnal Nasional, Selasa (31/1) malam.

Dijelaskan, Air Landed yang menggunakan tiga pesawat Hercules C-130 dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, membawa pasukan khusus tiga matra Satuan-81 Kopassus 32 personil, Denjaka 22 personil Denbravo 90’ Paskhas 59 personil yang dilengkapi dengan kendaraan khusus roda dua maupun roda empat serta peralatan pendukug operasi persenjataan lengkap, Sneper, Anjing Pelacak (satwa) dan kendaraan penjinak Bom (Jihandak) Milik Detasemen Bravo 90’ Paskhas.

Latihan Penanggulangan Teror TNI Tri Matra VI berlangsung senyap dan cepat seluruh teroris dapat dilumpuhkan dan dihancurkan dengan mudah, walaupun ada jatuhnya korban jiwa yang dialami beberapa sandera. Namun pertolongan tim medis yang telah disiapkan dapat dengan mudah memberikan pertolongan dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Latihan pendahuluan tersebut disaksikan langsung Asisten Operasi Panglima TNI Mayor Jenderal TNI Hambali Hanafiah, Dankorpaskhas Marsekal Muda TNI Amarullah selaku direktur latihan (Dirlat), Danjen Kopasus, pejabat TNI dan seluruh Staf Komando Latihan dan latihan dikendalikan langsung oleh Kawasdal Latihan Kolonel Psk Rollan DG. Waha.

Latihan Penanggulangan Teror TNI Tri Matra VI yang telah dibuka secara resmi tanggal 30 Januari 2012, diawali dengan berbagai kegiatan Penataran Pelaku, penataran Pendukung (Kolat), serta latihan pendahuluan akan melaksanakan latihan yang sebenarnya pada pukul 03.00 WIB di Pangkalan Udara Lanud Husein Sastranegara, Bandung dengan asumsi Lanud dan Bandara Tarakan.
 
sumber : JURNAS

Soal Pesawat Tanpa Awak Israel, Komisi I akan Minta Penjelasan Kemhan


UAV MALE (Medium Altitude Long Endurance) ANKA produksi Turkish Aerospace Industries, Inc.(TAI), dioperasikan pertama kali 16 Juli 2010. ANKA dapat terbang hingga ketinggian 30.000 kaki selama 24 jam pada kecepatan lebih 75 knot. (Foto: TAI)

31 Januari 2012, Senayan: Komisi I DPR pekan depan akan mendalami dan menelusuri rencana Kementerian Pertahanan untuk membeli pesawat tanpa awak dari Filipina yang disebut-sebut banyak pihak pesawat yang dimaksud produksi Israel. Padahal, selama ini DPR telah berulangkali dengan tegas menolak rencana pemerintah untuk membeli pesawat produksi dari Israel, baik dibeli secara langsung maupun lewat negara ketiga.

"Kita pekan depan akan bahas rencana TNI membeli pesawat tanpa awak dari Filipina yang dicurigai itu pesawat buatan Israel. Pendalaman pembahasan hal ini akan di lakukan dalam rapat Panja Alutsista DPR," kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (31/1).

Mahfudz mengatakan, secara kebutuhan dalam negeri saat ini memang membutuhkan pesawat tanpa awak untuk mendukung kekuatan TNI, khususnya untuk keperluan patroli perbatasan dan sebagai pesawat mata-mata atau pengintai.

Menurut Mahfudz, pesawat tanpa awak semacam itu banyak jumlah dan jenisnya di pasaran Internasional. Sehingga sesungguhnya Indonesia memiliki banyak pilihan untuk membeli pesawat tanpa awak tersebut tanpa harus selalu melihat pesawat buatan Israel.

"DPR sudah meminta Kemhan, sebaiknya tidak membeli pesawat tanpa awak itu dari Israel. Karena pesawat tanpa awak itu bisa dibeli dari negara lain yang tidak memiliki resistensi dengan Indonesia. Seperti membeli pesawat tanpa awak buatan Eropa, Turki atau Rusia," tegas Wasekjen DPP PKS ini.

Terkait anggaran pembelian pesawat tanpa awak, Mahfudz membenarkan jika hal itu sudah diajukan dan masuk dalam program belanja alutsista periode 2012-2014.

"Kalau tidak salah jumlahnya 2 unit. Namun tidak secara jelas disebutkan bahwa pesawat tanpa awak yang akan dibeli itu merupakan produksi dari Israel," pungkasnya.

Sumber: Jurnal Parlemen

DPR akan Percepat Pembahasan RUU Industri Pertahanan



31 Januari 2012, Senayan: Guna mencapai penyerapan penggunaan alutsista produksi dalam negeri, DPR akan mempercepat pembahasan dan penyelesaian RUU Industri Pertahanan Nasional.

"Dengan kehadiran UU tersebut akan mengikat ketentuan yang berlaku terhadap penggunaan alutsista produksi dalam negeri. Sehingga diharapkan setelah UU itu diperlakukan akan mampu mempercepat produksi alutsista dari dalam negeri sendiri," kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (31/1).

Memang, hasrat pemerintah memodernisasi alutsista TNI untuk mencapai kekuatan pertahanan negara secara penuh dengan memenuhinya dari produksi dalam negeri, hingga kini masih jauh panggang dari api. Sebab, belanja alutsista yang berasal dari produksi dalam negeri pada 2011 baru mencapai 13 persen.

Sementara, pada 2012 hingga 2015 pemerintah menargetkan untuk belanja alutsista dari hasil produksi dalam negeri sebesar 15 persen. Sehingga, 85 persen belanja alutsista yang ada masih dipenuhi lewat impor atau masih sangat tergantung dari alutsista asing.

"Pemerintah menargetkan untuk belanja alutsista produksi dalam negeri hingga 2015 mendatang hanya 15 persen dari anggaran belanja alutisista hingga 2015 mencapai Rp 150 triliun. Bagaimana kita mau mewujudkan kemandirian dalam industri pertahanan kalau belanja alutsista dari produksi dalam negeri saja masih rendah," ujar Mahfudz.

Untuk itu, kata Mahfudz, DPR juga akan mendorong Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk meningkatkan belanja alutsista dari produksi dalam negeri mencapai 25 persennya hingga 2014. Menurut Mahfudz, belum maksimalnya penggunaan alutsista produksi dalam negeri selama ini karena belum selesainya proses revitalisasi dan sinkronisasi seluruh industri BUMN Industri Strategis (BUMNIS) yang ada.

"Karena itu DPR sejak tahun lalu sudah mendesak Kemhan dan instansi terkait untuk segera menyelesaikan sinkronisasi BUMNIS ini agar penyerapan alutsista produksi dalam negeri tercapai," tegas Wasekjen PKS ini.

Sumber: Jurnal Parlemen

TB Hasanudin Curiga Kemhan Akan Beli Pesawat Tanpa Awak Buatan Israel

UAV Searcher II. (Foto: Israeli-Weapons)

31 Januari 2012, Senayan: Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin curiga, pesawat tanpa awak yang akan di beli Kemhan dari Filipina merupakan pesawat buatan Israel. Sebab, selama ini tidak pernah terdengar akan kemampuan Filipina dalam pengembangan industri pesawat terbang, termasuk soal pengembangan pesawat tanpa awak untuk penunjang kegiatan Militer.

"Saya curiga, pesawat tanpa awak yang akan dibeli Kemhan dari Filipina itu sesungguhnya pesawat tanpa awak hasil produksi Israel. Ini kita tengah mengumpulkan dari informasi di lapangan akan kebenaran hal ini," ujar TB Hasanuddin di gedung DPR Selasa (31/1).

TB Hasanuddin mengaku kaget, atas rencana pembelian pesawat tanpa awak dari Philipina ini. Karena hal ini selain tidak pernah diusulkan dan dibahas di Komisi I DPR. Rencana pembelian pesawat tanpa awak dari Philipina ini penuh tanya, terutama soal kemampuan yang dimiliki pesawat tersebut.

"Karena itu kami akan telusuri soal kemampuan sesungguhnya pesaawat tanpa awak yang akan dibeli dari Philipina tersebut," tegasnya.

TB hasanudin mengakui, dalam daftar belanja alutsista TNI, rencana pembelian pesawat itu sudah diajukan, untuk belanja 2012-2014 ini. "Namun, di situ tidak ada disebutkan pesawat tanpa awak itu akan dibeli dari Filipina. Hanya glondongan anggaran besarnya sudah masuk dan diajukan," tegas politisi PDI-P ini.

Karena itu, kata Hasanuddin, Komisi I DPR dalam raker berikutnya dengan Menhan dan Panglima TNI, akan secara khusus mendalami rencana pembelian pesawat tanpa awak dari Filipina ini, yang ditengarai merupakan pesawat tanpa awak buatan Israel.

Sebelumnya, dalam raker dengan Menhan, Panglima TNI, dan Menkeu anggota Komisi I DPR Ahmad Muzani juga sempat mempertanyakan rencana Kemhan membeli pesawat tanpa awak dari Filipina. Muzani mempertanyakan dasar yang digunakan Kemenhan yang menjatuhkan pilihan Philipina sebagai negara tujuan membeli pesawat tanpa awak untuk kepentingan TNI ini.

Sumber: Jurnal Parlemen

DPR akan Percepat Pembahasan RUU Industri Pertahanan




Pelontar Granat Otomatis (AGL)
31 Januari 2012, Senayan: Guna mencapai penyerapan penggunaan alutsista produksi dalam negeri, DPR akan mempercepat pembahasan dan penyelesaian RUU Industri Pertahanan Nasional.

"Dengan kehadiran UU tersebut akan mengikat ketentuan yang berlaku terhadap penggunaan alutsista produksi dalam negeri. Sehingga diharapkan setelah UU itu diperlakukan akan mampu mempercepat produksi alutsista dari dalam negeri sendiri," kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (31/1).

Memang, hasrat pemerintah memodernisasi alutsista TNI untuk mencapai kekuatan pertahanan negara secara penuh dengan memenuhinya dari produksi dalam negeri, hingga kini masih jauh panggang dari api. Sebab, belanja alutsista yang berasal dari produksi dalam negeri pada 2011 baru mencapai 13 persen.

Sementara, pada 2012 hingga 2015 pemerintah menargetkan untuk belanja alutsista dari hasil produksi dalam negeri sebesar 15 persen. Sehingga, 85 persen belanja alutsista yang ada masih dipenuhi lewat impor atau masih sangat tergantung dari alutsista asing.

"Pemerintah menargetkan untuk belanja alutsista produksi dalam negeri hingga 2015 mendatang hanya 15 persen dari anggaran belanja alutisista hingga 2015 mencapai Rp 150 triliun. Bagaimana kita mau mewujudkan kemandirian dalam industri pertahanan kalau belanja alutsista dari produksi dalam negeri saja masih rendah," ujar Mahfudz.

Untuk itu, kata Mahfudz, DPR juga akan mendorong Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk meningkatkan belanja alutsista dari produksi dalam negeri mencapai 25 persennya hingga 2014. Menurut Mahfudz, belum maksimalnya penggunaan alutsista produksi dalam negeri selama ini karena belum selesainya proses revitalisasi dan sinkronisasi seluruh industri BUMN Industri Strategis (BUMNIS) yang ada.

"Karena itu DPR sejak tahun lalu sudah mendesak Kemhan dan instansi terkait untuk segera menyelesaikan sinkronisasi BUMNIS ini agar penyerapan alutsista produksi dalam negeri tercapai," tegas Wasekjen PKS ini.

Sumber: Jurnal Parlemen

Russia to Sell 60 Armored Vehicles to Indonesia


31 Januari 2012

BMP3F amphibian tank (photo : Kaskus Militer)
Russia is set to sell up to 60 infantry fighting vehicles to Indonesia in a deal worth more than $100 million, the Izvestia newspaper cited an unnamed military source as saying on Tuesday.

The deal will be finalized on February 10, the source said, adding that 20 BMP-3 vehicles will be delivered before the end of the year.

The Russian army stopped purchasing the vehicles in 2010.

The state-run weapons exporter Rosoboronexport declined to comment.

The Kurganmashzavod arms plant said it would produce modified vehicles for Indonesia.

TNI Juara Umum Menembak di Brunei

Tribun Timur - Rabu, 1 Februari 2012 07:36 WITA



MENEMBAK.jpg

TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA - Kontingen TNI menjadi juara umum lomba menembak antarangkatan bersenjata BISAM (Brunei International Skill Arms Meet)-ke 10 Tahun 2012 pada 12-29 Januari di Brunei Darussalam. Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono yang menerima Kontingen TNI di Mabes TNI Cilangkap, Selasa (31/1/2012), memberikan pujian dan mengingatkan agar tidak lupa diri.
Lomba Tembak Internasional ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali oleh Angkatan Bersenjata Diraja Brunei yang pada tahun ini diikuti oleh kontingen dari 10 negara, yaitu: Inggris, Australia, Singapura, Kamboja, Oman, Pakistan, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam dan Indonesia.
Komandan Kontingen Kolonel Inf Raharyono yang sehari-hari menjabat sebagai Paban III/Latga Sops TNI melaporkan, kontingen memperoleh 82 medali emas, 30 perak, dan 8 perunggu, serta 9 trofi dari nomor perorangan maupun beregu. Dari nomor perorangan, diperoleh 9 medali emas, 7 perak, 4 perunggu, dan 2 buah trofi. Sementara untuk nomor beregu, 73 medali emas, 23 perak, 4 perunggu, dan 7 buah trofi.
Gelar juara umum telah diperoleh Kontingen TNI untuk ketiga kalinya, berturut-turut pada tahun 2005, 2008 dan 2012 dengan materi lomba senapan, pistol, dan SO/GPMG secara perorangan maupun beregu.
Dari 9 kategori pertandingan (match) yang dilombakan, kontingen TNI meraih 6 (enam) match pada posisi Juara I dan 3 (tiga) match pada posisi Juara II. Untuk kejuaraan eksebisi pistol putri, petembak pistol putri TNI menduduki peringkat satu, baik untuk nomor perorangan maupun beregu.(*

sumber : TIBUNnews

Monday, January 30, 2012

Selamat Datang KRI Nanggala


Berangkat menuju Korsel untuk Overhaul Des 2009


Sampai di DSME Korsel utk Overhaul
Proses Overhaul untuk mempercanggih diri


Operasi Caesar hampir selesai, tinggal di cat
Selesai sudah proyek overhaul 2 tahun utk KRI Nanggala
Menjelang keberangkatan pulang ke Indonesia
*****
SUMBER : ANALISIS ALUTSISTA

Leopard Diambang Pintu




Heboh tentang Main Battle Tank yang bernama Leopard benar-benar menjadi headline seluruh media Indonesia selama dua pekan ini, baik media cetak, layar TV maupun media online.  Berbagai talkshow digelar di layar kaca, berbagai komentar dipajang di media cetak dan online, berbagai pengamat dan “pengamat” tiba-tiba jadi pada pintar menggurui seakan-akan dia lebih tahu dari user. Kalau mau diranking dalam proses pengadaan alutsista TNI maka rencana pengadaan 100 MBT ini menduduki ranking pertama The Hit of Alutsista mengalahkan lagu jazz “hibah F16” dan lagu dangdut “kapal selam ecek-ecek” beberapa waktu yang lalu.

Seperti sudah diprediksi oleh majalah Tempo, hiruk pikuk MBT kelas berat ini dipicu oleh pola beli yang dianut Mabes TNI dan Kemhan yang membuat makelar alutsista keki hati lalu melakukan gerakan klandestein.  Kasad pernah bilang bahwa pola beli MBT Leopard adalah G to G (antar pemerintah) bukan B to B  (bahasa goodnya, business to business tapi sering diartikan broker to broker).  Nah ini yang membuat suasana pasar alutsista berjenis kelamin MBT menjadi hingar bingar karena preman pasarnya mau diusir sama “Satpol PP” alias tidak dilibatkan karena mengakibatkan high cost.
Sang Leopard yang memikat
Celakanya “pengamat” dadakan dan pengamat yang “itu-itu juga” yang ngomong di beberapa media terpancing untuk ikut-ikutan ngomong sambil numpang populer bahwa  MBT Leopard tidak cocok dengan kontur tanah RI, MBT Leopard tidak cocok dengan iklim hutan, MBT Leopard  tidak cocok dengan beban jalan raya.  Lalu puncak pertarungan final “Copa Del Leopard” itu digelar secara resmi di ruang Komisi I DPR tanggal 24 Januari 2011.  Kesimpulannya Pemerintah dan DPR sepakat dengan pengadaan MBT, walau tidak harus Leopard.  Lalu bagaimana dengan alasan-alasan yang dikemukakan itu, yang tidak cocoklah, yang terlalu beratlah dan sebagainya.  Artinya gerilya yang dilakukan broker alutsista sejatinya hendak mementahkan Leopard lalu bisa jadi digantikan dengan MBT jenis lain atau setidaknya hendak memperlambat laju pengadaan MBT Leopard sembari perlahan memasuki  inner cyrcle, syukur-syukur jadi B to B atau G to B, sini pemerintah sono broker.

Sebagai anak negeri yang mendambakan pertumbuhan kekuatan alutsista TNI yang gahar kita merasa miris dengan perilaku sebagian anggota parlemen dan pengamat amatiran yang kelihatannya bersuara jernih dari hati sanubari yang bening tetapi ternyata menyimpan dan berselingkuh dengan pesan dari hati yang lain. Sarkasnya, bukan membela yang benar tetapi membela yang bayar.  Retorika bicaranya memberi keyakinan pada khalayak seperti sebuah firman atau sabda yang paling benar, mimik wajah mirip pemain sinetron mak lampir. Benar-benar sempurna aktingnya.  Lalu ketika sampai di rumah jam 23.00 sembari melepas jas dan dasi di kamar tidur, lalu bercermin di kaca wastafel sambil bergumam : kutipu kau. Tak tahu kita maksud kalimat itu, dia menipu hatinya atau dia menipu semua orang.  Tapi hati kan tak bisa ditipu, berarti dia menipu diri sendiri.

Pengadaan alutsista  TNI adalah sebuah proyek mega pangkat mega.  Nilai sebuah arsenal gentar dan strategis seperti 3 kapal selam Korsel itu saja mencapai US$ 1,08 Milyar. Nilai anggaran pengadaan alustsista yang sudah disepakati antara Pemerintah dan DPR untuk tahun 2010-2014 berjumlah 150 trilyun rupiah.  Dari jumlah itu belum semua terpakai, artiya masih banyak jenis dan jumlah alutsista yang akan dibeli atau diadakan TNI segala matra.  Maka bisa dibayangkan betapa seksinya Kemhan dan TNI dilirik dan dirayu produsen alutsista. Yang paling dominan berperan tentu ya makelar alutsista dengan tampilan raut wajah bisa jadi seperti malaikat tapi suatu saat bisa jadi mirip gendoruwo.

Kita berkeyakinan bahwa MBT Leopard akan tetap menjadi pilihan TNI AD karena sesungguhnya kesejatian dan jati diri sebuah MBT adalah Leopard.  Dibanding-banding dengan rekan seperingkatnya seperti Abrams, Merkava dan T90, Leopard adalah yang terbaik.  Namun yang terpenting dari semua itu adalah nilai jual yang ditawarkan Belanda lebih murah, barangnya sudah ada, negara penjualnya lagi butuh uang.  Ini namanya merespons iklan baris yang membold kata  bu jlcpt (butuh uang jual cepat).  Leopard itu sudah dikaji jauh-jauh hari oleh TNI AD, dan dialah yang terbaik.  Tetapi waktu itu duitnya belum ada, jadi disimpan dulu di lemari arsip sembari berdoa, semoga dilimpahkan rezeki yang halal dari rakyat Indonesia untuk beli si Leopard.  

Nah baru Nopember 2011 ada lampu hijau penggunaan anggaran, jumlahnya 14 trilyun untuk TNI AD, lalu lemari arsip tadi dibuka kembali.  Sang Komandan bilang dengan wajah cerah, doa kita dikabulkan.  Ya iyalah wong sejak negara ini merdeka sampai today kok belum punya MBT ya kebangetan amat.  Sekadar catatan jumlah 14 trilyun itu bukan hanya untuk beli MBT tapi masih ada jenis alutsista lain yang termasuk daftar belanjaan TNI AD.  Lalu gerak cepat dilakukan karena ada negara pemakai mau jual Leopard, dipilih-dipilih katanya, barang sudah ada, masih baru jarang dipakai.  Begitu sapa si penjual.

Hasil final Copa del Leopard itu tentu memberikan harapan baru bahwa  kata kuncinya adalah semua sepakat dengan MBT.  Langkah ke depan ini tentu adalah membangun komunikasi dan saling pengertian dengan DPR.  Ini yang terpenting agar keinginan user bisa dipahami dan memahami bahwa Leopard yang terbaik.  Dulu ketika terjadi jalan buntu tentang pengadaan F16 antara yang baru dan second, yang dilakukan adalah membangun komunikasi efektif, informal, setara, dan rasional antara Pemerintah/Kemhan dan DPR Komisi I untuk menyamakan persepsi dan akhirnya disetujui pengadaan 30 F16 yang disetarakan dengan blok 52.

Dengan begitu ruang untuk berdiskusi secara lebih luas dan lapang dikedepankan, tak juga harus dirilis media, biarlah semua berjalan dengan porsinya untuk menuju sebuah titik temu. Dengan begitu jua sang MBT yang digadang-gadang dan sudah di ambang pintu bisa hadir lebih rileks, bisa masuk ke ruang darat teritori NKRI, bisa ditempatkan di border bilamana diperlukan.  Judul tulisan ini pun sejatinya adalah kalimat doa agar sang Leopard yang sudah diambang pintu tidak lagi dihalangi dengan sejuta argumen emosional maju tak gentar membela yang bayar.  Dengan begitu mari kita satukan tekad dalam waktu dekat sang leopard sudah mendekat karena kita memang terpikat.
********

Kebutuhan TNI soal alutsista harus didukung

Senin, 30 Januari 2012 17:53 WIB


F-16 block 32 (photo : Defencetalk)
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mengatakan kebutuhan TNI terkait perbaruan alat utama sistem persenjataan (alutsista) harus didukung penuh.


"Intinya kita mendukung percepatan pemenuhan kebutuhan alutsista sesuai sesuai dengan anggaran yang telah disepakati bersama," kata Ibas usai rapat kerja Komisi I DPR RI dengan Menhan, Menkeu, Ketua Bapenas dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin.

Ibas menambahkan, TNI sebaiknya memprioritaskan menggandeng industri strategis dalam negeri terlebih dahulu selama dapat memenuhi standarisasi pertahanan dalam negeri.

"Jika memang industri strategis kita siap, tentunya kita prioritaskan untuk membeli alutsista dalam negeri, namun bila industri pertahanan kita belum siap dengan teknologi, sebaiknya kita sesuaikan dengan mengadopsi teknologi luar negeri dengan catatan ke depan kita memperoleh keuntungan dengan adanya transfer of technology (ToT) lewat pembelian alutsista tersebut," kata Sekjen Partai Demokrat itu.

Namun demikian Ibas mengingatkan, ada tiga faktor penting yang harus dipertimbangan dalam pemenuhan kebutuhan alutsista TNI.

Pertama, ujarnya, harus memperhatikan kebutuhan masing-masing matra TNI yang disesusaikan dengan
Blue Book Minimum esensial Force (MEF), tentunya dengan melihat perbandingan sistem persenjataan negara tetangga RI.

Kedua, memperhatikan kesejahteraan TNI secara keseluruhan yang menyangkut sandang pangan, dan papan serta renumerasi  dan fasilitas penunjang lainnya.

Ketiga, memperhatikan anggaran yang ada termasuk pendanaan dalam negeri dan mengurangi kredit ekspor (pinjaman luar negeri) demi terciptanya neraca keuangan yang stabil. (Zul)

sumber : Antara

Fokus di kapal perang, PAL kejar laba 2012 Rp 46 M



JAKARTA. PT PAL Indonesia menargetkan laba perusahaan mencapai Rp 46 miliar pada 2012 ini. Target ini setelah serangkaian restrukturisasi yang dilakukan produsen kapal plat merah ini.

"Dari kalkulasi kami, tahun ini optimistis akan meraih laba. Targetnya Rp 46 miliar," ujar Direktur Utama PT PAL Indonesia Harsusanto, Senin (30/1).

Harsusanto mengatakan, proses restrukturisasi terus bergulir dan mencapai tahap krusial pada tahun ini. Dalam proses restrukturisasi, lanjutnya, PAL fokus pada pengerjaan dan modernisasi kapal perang. "Dengan dua bisnis utama itu, tahun ini kami menargetkan pendapatan perusahaan hingga Rp 1,3 triliun," ujarnya.

Menurutnya, proyek pembuatan kapal perang lebih cerah ketimbang kapal komersial. Saat ini, PAL sedang menyelesaikan pemesanan 12 kapal perang pesanan TNI Angkatan Laut, satu unit kapal tanker Pertamina dan satu unit kapal tanker pesanan Italia. Pemesanan kapal itu akan selesai pada 2013 mendatang.

PAL akan memakai Penambahan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 648,3 miliar untuk modal kerja perseroan. Menurut Harsusanto, dana tersebut akan dipakai untuk memperbaiki tempat reparasi bagi kapal-kapal yang menggunakan jasa galangan, mesin derek berat, dan mesin-mesin lainnya (floating dock). Dia beralasan, peralatan tersebut sudah ada yang berumur 30 tahun. 
 
sumber : kontan

KITA HARUS OPTIMIS DENGA UP GRADE F16-BLOCK 25 KE BLOCK 32 + YANG KEMAMPUANNYA MENDEKATI BLOCK 52


F-16 block 32 (photo : Defencetalk)

Berita mengenai kisruhnya hibah F-16 masih berlanjut dalam Fokus majalah.... "Ramai-ramai Sebelum Jet Datang", "Bertempur dengan F-16 block 32 Siapa takut ?" kemudian.... "Bekas Tapi Bukan Rongsokan".
Kelihatannya F-16 hibah yg diterima akan di upgrade menjadi F-16 block 32+ yg berkemampuan mendekati block 52.
Upgrade meliputi:
  • Mesin menjadi PW-220E
  • Radar dan operational flight plan setara dengan block 50/52
  • peralatan pemandu navigasi terbaru, memadukan INS/GPS dan berakurasi tinggi
  • HUD terbaru, kompatibel dgn Mounted Cueing System dan NVG
  • Mampu menggunakan targeting POD canggih (Sniper/Litening)
  • RWR dan chaff flare dispenser standar USAF
  • 2 layar warna dan layar digital moving map (seperti pada block 52)
Kapasitas angkut persenjataan dan penggunaan conformal tank yg menjadi pembeda dengan block 52

Kalau Radar dan operational flight plan setara dengan block 50/52 yaitu APG-68(v)9 dengan kemampuan mencari 160 mil laut, berarti kita setidaknya bisa mengimbangi f16 C/D block 50/52 punya singapura,Grifen,sukhoi MKI.

Dan Menurut informasi dari kemenham melalui menhan seperti yang di beritakan di media online juga mengupgrade persenjataan yang dibawanya, avionik, air frame, dan enjinenya artinya F16 bock 25 yang di upgrade ke Block 32+ itu mampu membawa persenjataan sebagai berikut:


AGM-65 Maverick
Air-to-ground missile

AGM-84 Harpoon
Anti-ship missile

AIM-120 AMRAAM
Advanced Medium Range Air-to-Air Missile

AIM-7 Sparrow
Medium Range Air-to-Air Missile

AIM-9 Sidewinder
Short Range Air-to-Air Missile

AN/AAQ-13 & AN/AAQ-14 LANTIRN
Navigation & Targeting Pod

GBU-31 and GBU-38 JDAM
Joint Direct Attack Munition
M61 A1 Vulcan
20mm gatling gun system
Other Armament
US Tri-Service Designation System Electronic Equipment
US Tri-Service Designation System Guided Missiles

Semoga Upgrde bukan hanya upgrdenya saja tapi persenjataan diatas harus dibeli kalau tidak, .. baik yang bekas atau baru seperti layaknya macan ompong.  

Perlu diketahui kita sudah punya 10 unit Sukhoi (6 unit sudah diorder menunggu kedatangan), 10 F16 A/B block 15 OCU (24 unit f16-block 25 diupgrade ke block 32 + sedang proses dan dikabarkan f16 sebelumnya yang kita miliki akan di upgrade juga), 16 unit T50 golden eagle (baby F16) dari korsel menunggu kedatangan, 16 unit super tucanno menunggu kedatangan, kedepan RI melalui kemhan berencana membeli 180 unit varian sukhoi dan TNI AU berminat terhadap sukhoi 35 BM dan T50 Pakfa, RI juga Joint production dan TOT dengan korsel dalam pembuatan F33/IFX/KFX , RI direncanakan mendapat 50 unit f33.

Semoga paparan diatas bisa bermanfaat bagi kita semua.

wasalam 
by IWJ
Indonesia defence 2012




Sunday, January 29, 2012

F-16 Armament

sumber :http://www.f-16.net/f-16_armament.html


Weapons, Targeting/Navigation Pods, and external stores



AGM-65 Maverick
Air-to-ground missile
AGM-84 Harpoon
Anti-ship missile
AIM-120 AMRAAM
Advanced Medium Range Air-to-Air Missile
AIM-7 Sparrow
Medium Range Air-to-Air Missile
AIM-9 Sidewinder
Short Range Air-to-Air Missile
AN/AAQ-13 & AN/AAQ-14 LANTIRN
Navigation & Targeting Pod
GBU-31 and GBU-38 JDAM
Joint Direct Attack Munition
M61 A1 Vulcan
20mm gatling gun system
Other Armament
US Tri-Service Designation System Electronic Equipment
US Tri-Service Designation System Guided Missiles  

Russian Military to Buy 60 Italian Tactical Vehicles


Light multirole armored vehicles (LMV) from Iveco
16:36 24/01/2012
MOSCOW, January 24 (RIA Novosti)
Russia signed a deal with Italy in December on the semi-knocked down assembly of 60 Lynx light multirole armored vehicles (LMV) from Iveco, Deputy Defense Minister Alexander Sukhorukov said on Tuesday.
“The deal was signed in December. Italy will supply kits that will be assembled at a joint enterprise in [central] Russian city of Voronezh,” Sukhorukov said.
Four vehicles were earlier acquired and brought to Russia for comparative tests with Russian analogues, he said.
“They displayed better characteristics than the vehicles we are currently using,” Sukhorukov said.
The LMV M65 is a light multirole armored vehicle developed in 2001 by Iveco Defense Vehicles. It is designed primarily for strategic and tactical mobility with a high level of protection against anti-tank and anti-personnel mines.
Russian military currently exploits Tigr (Gaz-2330) light armored vehicles manufactured at Russia's Gorkovsky automobile plant (GAZ) and Arzamas machinery plant (AMZ)

sumber RIA NOVOSTI

Panglima TNI: Kalau Peralatan Militer Tidak Berguna, Kita Tidak Beli


Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq (kanan), dan Dubes Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov, berbincang saat pertemuan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/1). (Foto: ANTARA/Ismar Patrizki/ss/ama/12)

30 Januari 2012, Jakarta: Pinjaman luar negeri untuk belanja peralatan militer masih tersisa 80 persen. Dubes Rusia mewakili negaranya yang meminjamkan US$ 1 miliar kepada Indonesia sempat mempertanyakan pinjamannya yang tidak terserap dengan baik itu.

Panglima TNI, Laksamana (TNI) Agus Suhartono mengatakan peralatan militer dengan pinjaman luar negeri disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. “Kalau kita beli senjata dari pinjaman luar negeri, kita hitung secara benar, bisa digunakan apa tidak,” kata Agus Suhartono kepada itoday, sebelum rapat dengan Komisi I DPR, Jakarta, Senin (30/1).

Menurut Agus, pembelian peralatan militer dari pinjaman luar negeri tidak seharusnya dibelanjakan semua. “Kalau peralatan militer itu tidak bisa digunakan, kita tidak membeli,” paparnya.

Ia juga mengatakan, selama ini, pemerintah tidak menyalahi perjanjian dengan Rusia dalam pinjaman pembelian peralatan militer.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Komisi I DPR kedatangan Dubes Rusia yang mempertanyakan pinjaman US$1 miliar ke pemerintah Indonesia untuk pembelian peralatan militer, tapi baru digunakan US$200, sisanya RpUS$800 masih belum dibelanjakan.

Enggartiasto Kritik Ketergantungan Pemerintah pada Dana Asing

Anggota Komisi I DPR RI Enggartiasto Lukita mengkritik kegemaran pemerintah yang terus meminjam dana dari asing, termasuk dalam upaya pembiayaan modernisasi alutsista TNI.

"Meski modelnya atau namanya berubah-ubah, dulu istilahnya kredit ekspor (KE), terus berubah lagi APP, terus sekarang berubah lagi istilahnya menjadi Pinjaman Luar Negeri (PLN) tetap saja itu judulnya pinjam dana asing," tegas Enggartiasto dalam rapat gabungan antara Menhan, Menkeu, dan Panglima TNI soal pembiayaan modernisasi alutsista TNI di Komisi I DPR, Senin (30/1).

Seperti diketahui, pemerintah mengalokasikan pembiayaan modernisasi alutsista TNI hingga 2014 dari sumber pendanaan PLN sebesar 6,5 miliar dolar AS.

Enggartiasto pun mempertanyakan, kenapa pembiayaan modernisasi alutsista TNI itu tidak dilakukan lewat pinjaman dalam negeri (PDN) saja. Karena sesungguhnya banyak sumber pendanaan PDN yang bisa dimaksimalkan. Sehingga selain menekan ketergantungan dari dana asing, ini juga menjadi tekad kuat bagi kemandirian bangsa ini.

"Dulu saya dengar Bank Mandiri saat dipimpin Pak Agus Martowardojo ini telah menawarkan untuk pinjaman PDN untuk keperluan produksi alutsista bagi BUMN. Kenapa itu tidak didorong ke arah sana saja. Terlebih saat ini Menteri Keuangannya Bapak sendiri. Dengan demikian kita tidak lagi ketergantungan dana asing untuk melakukan modernisasi alutsista bagi TNI ini," tegas politisi Golkar ini.

Lebih lanjut Enggartiasto mengatakan, perlunya pemerintah terus menekan ketergantungan pinjaman dana dari luar negeri, untuk berbagai keperluan pembangunan dalam negeri, termasuk soal modernisasi alutsista TNI ini. Terlebih selama ini Presiden sendiri yang menyatakan demikian.

"Sehingga itu jangan lagi sekadar janji dan statement saja. Tetapi harus diwujudkan dalam komitmen yang nyata. Karena semakin kita ketergantungan dana asing, membuat kita kian tidak berdaya atas peranan asing dalam urusan dalam negeri kita ini," tegasnya.

Sumber: Indonesia Today/Jurnal Parlemen