Pages

INDONESIA DEFENCE adalah blog Berita,ulasan, artikel Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Perkembangan Alutsista terkini, serta perkembangan POLITIK DALAM DAN LUAR NEGERI.

BERITA TERKINI DI INDONESIA DEFENCE

Friday, August 12, 2011

Anggaran Pertahanan : Hingga 2014 Diperkirakan Capai 6,5 Miliar Dollar AS


13 Agustus 2011

Jumlah 10 kapal selam masih menjadi prioritas anggaran (photo : Antara)

Jakarta, Kompas - Kementerian Pertahanan memperkirakan, kebutuhan anggaran pertahanan Indonesia hingga 2014 mencapai 6,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 60 triliun. Pemerintah pun berupaya meningkatkan kemampuan pendanaan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan anggaran pertahanan itu dan mengurangi ketergantungan pendanaan dari luar negeri.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan hal itu seusai sidang kabinet terbatas bidang keamanan yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (11/8), di Kantor Presiden. Estimasi kebutuhan anggaran pertahanan itu, menurut Purnomo, termasuk pengadaan 10 kapal selam yang baru terealisasi dua buah.

Selain itu juga pengadaan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk Angkatan Udara dan Angkatan Darat, baik yang dibeli dari luar negeri, atau diproduksi bersama, maupun produksi dalam negeri.

“Dalam pembahasan ini, kita ingin tahu berapa kemampuan keuangan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan itu. Kita ingin melihat seberapa besar kemampuan keuangan dalam negeri itu bisa menggantikan pinjaman luar negeri sehingga kita tak banyak tergantung dari pendanaan luar negeri,” katanya.

Ia mengakui, kemampuan pendanaan dalam negeri saat ini berkisar Rp 800 miliar. Hingga 2014, kemampuan pendanaan APBN diperkirakan hanya berkisar Rp 4 triliun. Pemerintah tengah mengupayakan agar sindikasi perbankan nasional dapat ikut membiayai anggaran pertahanan Rp 25 triliun sampai Rp 30 triliun.

Namun, Wakil Ketua Komisi I DPR Tb Hasanuddin mengatakan, pemerintah jangan memaksakan diri. Kemhan harus melihat kebutuhan ekonomi seluruh bangsa bahwa hingga kini masih banyak rakyat yang butuh makan. Kemhan harus realistis dan menentukan skala prioritas. (EDN/WHY)

(
Kompas)

Thursday, August 11, 2011

KRI Todak Laksanakan Latihan Gladi Tugas Tempur Tingkat II



Jakarta, 11 Agustus 2011 (Koarmabar) -- Kapal Republik Indonesia (KRI) Todak–631 dengan Komandan Letkol Laut (P) Eka Satari, salah satu Kapal perang dibawah pembinaan Satuan Kapal Cepat (Satkat) Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) melaksanakan Gladi Tugas Tempur Tingkat II (L-II) yang dilaksanakan di perairan Laut Jawa, demikian dikatakan Komandan Sakat (Dansatkat) Koarmabar Kolonel Laut (P) Denih Hendrata saat dihubungi di Mako Satkat Koarmabar Tanjung Uban.

Lebih lanjut dikatakan Dansatkat Koarmabar, L-II merupakan latihan dasar bagi personil KRI untuk mengukur tingkat kemampuan dalam melaksanakan tugas secara profesional. Latihan tersebut dilaksanakan untuk melihat kesiapan dan kemampuan personil melalui peran-peran, diantaranya peran tempur bahaya udara, peran tempur bahaya permukaan, peran kebakaran, peran orang jatuh dilaut. Selain itu, juga untuk uji material dan kesiapan perangkat lunak dihadapkan kepada tugas-tugas operasi sesuai fungsi asasinya.

Pengawak KRI yang profesional merupakan sebuah tuntutan dalam melaksanaan tugas yang diemban oleh KRI untuk melaksanakan fungsi asasi di bidang pertahanan, diplomacy dan constabulary. Dengan pengawak yang profesional dapat mendukung program zero accident yang telah dicanangkan oleh Komando atas.

Lebih lanjut dikatakan Dansatkat Koarmabar, selama dilaksanakan L-II dilaksanakan penilaian untuk menilai tingkat kesiapan seluruh personil KRI Todak-631 mulai dari komandan hingga kepada Anak Buah Kapal (ABK) dengan pangkat terendah. Kegiatan penilaian dilakukan oleh Tim dari Komando Latihan Koarmabar (Kolatarmabar).

Kegiatan latihan Gladi Tugas Tempur Tingkat II (L-II) yang melibatkan seluruh personil KRI Todak-631 diharapkan dapat menunjukkan kesungguhan dan kesigapan dalam melaksanakan setiap kegiatan sambil tetap memperhatikan keselamatan material dan personel.

Sumber: Koarmabar

Wednesday, August 10, 2011

ARTIKEL: 7 Pesawat Indonesia (Komersial dan Tempur) di Era Modern

 Di bidang penguasaan teknologi pesawat terbang, Indonesia telah terkenal sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memproduksi dan mengembangkan pesawat sendiri. Walaupun di bidang pemasaran produksi pesawatnya sendiri harus kita akui kita masih kalah bila dibandingkan dengan Brazil, yang mengembangkan EMBRAER dan memasarkannya ke seluruh dunia.

Akan tetapi, beberapa tahun belakangan ini, beberapa negara mulai mengalihkan perhatiannya ke pesawat buatan Indonesia, sebut saja Malaysia, Pakistan, UAE, Philipina, dan Korea Utara, serta beberapa negara lainnya. CN-235 tampaknya akan mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas di beberapa tahun kedepan setelah lebih banyak negara yang sadar akan kehandalannya. Malaysia sendiri berencana memesan 4 pesawat tambahan untuk menambah jumlah pesawat CN-235 yang sudah mereka miliki.

Apalagi dengan kejadian jatuhnya pesawat MA-60 milik PT Merpati Nusantara Airlines buatan Xi’an Aircraft International Company semakin menuai opini : " Kenapa kita tidak menggunakan pesawat produksi dalam negeri saja ? ". Padahal banyak laporan yang melansir bahwa harga pesawat China malahan terlalu mahal dibanding produksi dalam negeri, apalagi ditambah kualitas barang yang patut dipertanyakan, bahkan ada isu yang berkembang bahwa pembelian pesawat China tersebut dibumbui unsur KKN (perlu dicheck ulang kontraknya ?, itu pun perkataan banyak media massa).

Nah, sebetulnya untuk kelas pesawat yang sama, PT. DI sendiri juga telah memiliki jenis pesawat CN 235 yang kompetitif, sudah teruji kehandalannya dan terpakai oleh beberapa negara dunia, termasuk diantaranya Amerika. Apalagi dengan bebagai prototipe yang lain yang dahulu maupun yang akan datang telah dikembangkan. Terlepas dari unsur politik dan kebijakan, perlu kita ketahui pesawat-pesawat buatan Indonesia yang saat ini tengah dipasarkan dan dikembangkan karena masih berupa prototype yang sudah lulus uji aerodinamika.

1. Pesawat N-2130

Pesawat N-2130 - 7 Pesawat Buatan Indonesia Komersial dan Tempur - www.iniunik.web.id

N-2130 adalah tipe pesawat jet yang hendak dikembangkan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada masa jaya perusahaan tersebut di pertengahan 1990-an. Pengembangan pesawat jet komuter dengan jumlah penumpang antara 80–130 orang itu mungkin terinspirasi pesawat yang dikembangkan perusahaan pesawat terbang Brasil,Embraer. Bedanya, Embraer sekarang ini menghasilkan pesawat Embraer Regional Jet (ERJ) yang banyak digunakan perusahaan penerbangan Amerika Serikat (AS), terutama untuk shuttle flight pada jalur-jalur padat Boston, New York, Washington DC, dan Miami.

Adapun N-2130 ternyata hanya menjadi mimpi karena terkubur krisis moneter 1998. Sebagai rentetan krisis tersebut, pemerintah harus menghentikan bantuan kepada IPTN sebagai bagian kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Hari ini, lebih dari 10 tahun sejak krisis moneter, kita berada pada posisi yang jauh lebih baik dan siap untuk menghidupkan kembali proyek tersebut.

Ada beberapa alasan kuat untuk itu. Pertama, Indonesia sudah berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan. Dalam krisis global baru-baru ini, Indonesia berhasil untuk tetap menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang moderat bersama China dan India. Perkembangan tersebut membuat Indonesia masuk dalam radar perekonomian global.

Ini berarti apa yang diproduksi Indonesia mulai diperhitungkan perusahaan penerbangan di luar negeri. Kedua, perkembangan tersebut juga memperkuat daya beli rakyat dan dunia usaha Indonesia. Jika 12 tahun lalu hanya Garuda dan Merpati yang menjadi perusahaan penerbangan nasional, sekarang banyak perusahaan penerbangan yang mampu membeli pesawat dalam jumlah besar.

Pesawat N-2130 - 7 Pesawat Buatan Indonesia Komersial dan Tempur - www.iniunik.web.id

Perkembangan traffic dan jumlah penumpang pesawat terbang melonjak sehingga sangat layak jika industri pembuat pesawat terbang akan kecipratan berkah di tahun-tahun mendatang, menurut perkiraan Compliance Services Indonesia. Ketiga, dalam keadaan terjepit pun PT IPTN, yang kini bermetamorfosis menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI), mampu memasarkan produk ke pelanggan di luar negeri. Korea Selatan sudah membeli beberapa pesawat CN 235, termasuk empat di antaranya yang merupakan pesanan Departemen Pertahanan Korea Selatan untuk patroli maritim.

Demikian juga dengan Malaysia, Thailand,Pakistan,dan Turki. Korea Selatan, Malaysia, dan Pakistan bahkan telah membeli pesawat jenis CN 235 untuk digunakan sebagai pesawat kepresidenan. Keempat, PT DI pada 2009 mulai berhasil mencetak laba. Perolehan pendapatan tersebut diperkirakan semakin besar pada 2010 dengan adanya pesanan 10 helikopter untuk Angkatan Udara dan Basarnas serta pesanan tiga pesawat CN 235–200 MPA untuk menggantikan pesawat Nomad Angkatan Laut Indonesia.

Ini membuktikan restrukturisasi perusahaan tersebut mulai berhasil dalam meningkatkan efisiensi. Kelima, Indonesia sudah lulus dari program IMF. Ini berarti Indonesia memiliki kebebasan penuh untuk mengembangkan kembali cita-cita. Saya yang pernah bekerja di IMF selama lima tahun sangat memahami bahwa tidak ada dari lembaga internasional tersebut yang dapat mencegah kita melakukan hal tersebut.

Keenam, kemampuan keuangan pemerintah.Keuangan pemerintah sekarang sangat kuat. Kecilnya defisit APBN maupun rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) merupakan ukuran internasional yang menunjukkan kekuatan kita. (Tulisan saya pekan lalu,“Utang Pemerintah dalam Perekonomian Global”, menjelaskan hal tersebut). Sekarang ini pemerintah memiliki uang tunai yang jumlahnya sekitar Rp200 triliun. Uang tersebut setiap kali justru semakin bertambah dan bukannya berkurang.

Untuk pengembangan N–2130, pemerintah perlu memastikan keekonomiannya dan sangat mungkin memberikan bantuan. Terlebih lagi jika PT DI mampu menunjukkan laba kembali dalam dua tahun ke depan, bukan hanya perbankan yang akan berebut untuk memberikan pembiayaan, pasar modal pun akan terbuka lebar untuk menerima penawaran saham perdana (IPO) PT DI. Ketujuh, alasan idealisme.

Begitu banyak tenaga ahli penerbangan Indonesia eks IPTN yang sekarang ini berdiaspora di luar negeri. Mereka mampu mengembangkan keahliannya dan diakui oleh raksasa industri penerbangan di Amerika, Eropa maupun negara-negara lain, sedangkan kesempatan untuk mengembangkan industri di Tanah Air sebetulnya juga terbuka lebar. Berdasarkan hal-hal tersebut, yang daftarnya juga bisa diperpanjang, merupakan suatu kesia-siaan membiarkan PT DI berjuang sendiri.

Sebagai perusahaan, dengan keuntungan yang dihasilkan saat ini,mereka jelas akan mampu berkembang. Namun kecepatan pertumbuhan mereka akan sangat rendah tanpa ada keberpihakan pemerintah. Pemerintah dapat mulai membantu PT DI dengan menghidupkan kembali pesawat N250 yang sudah menghasilkan prototipe, bahkan sudah pula hadir dalamAir Show di Eropa sebelum krisis moneter 1998.

Pesawat yang sekelas dengan ATR 42 dan salah satu varian dari Embraer tersebut memiliki potensi yang sangat besar bagi penggunaannya di Indonesia yang memiliki banyak bandara berlandasan pendek. Seiring pengembangan N250, riset dan pengembangan produk pesawat N-2130 mulai dapat diintensifkan.

Dengan kerangka waktu lebih tertata, kita bisa mengharapkan bahwa dalam tiga-empat tahun ke depan, kita sudah memiliki gambaran untuk melihat prospek yang lebih jelas bagi pesawat tersebut. Visi 2025 pemerintah jelas, yaitu menginginkan Indonesia menjadi negara maju di tahun tersebut. Let’s just do it. Marilah kita mengisi visi tersebut dengan segenap kemampuan kita. Jika Brasil bisa, kenapa kita tidak?

2. Pesawat N-250

Pesawat N-250 - 7 Pesawat Buatan Indonesia Komersial dan Tempur - www.iniunik.web.id

Prototipe pesawat N250 sendiri pernah terbang menuju Le Bourget Perancis untuk mengikuti Paris Air Show. Penampilan perdana pesawat N250 tersebut menggetarkan lawan-lawannya, karena merupakan pesawat yang menggunakan teknologi fly by wire yang pertama dikelasnya. Pada saat tersebut (dan juga sekarang) pesawat sekelas adalah ATR 42 yang merupakan produksi pabrik pesawat Prancis ATR, Fokker F50, produksi pabrik pesawat Fokker Belanda dan Dash 8, produksi pabrik pesawat De Havilland (sekarang Bombardier) dari Kanada.

Pesawat N250 murni merupakan rancang bangun anak bangsa. Setelah melewati fase-fase yang panjang sejak didirikannya tahun 1976, PTDI awalnya membuat pesawat dan helikopter dengan lisensi dari perusahaan pesawat lainnya. Pesawat C212 merupakan pesawat lisensi dari Casa Spanyol yang juga di buat di PTDI, kemudian pengembangan dari pesawat tersebut adalah NC212. Tahapan berikutnya adalah memproduksi pesawat komersial yang lebih besar yang rancang bangunnya kerjasama dengan Casa Spanyol yaitu pesawat CN-235 (bermesin 2 dan berpenumpang 35). Pesawat CN235 diberi nama Tetuko, tokoh dalam pewayangan.

N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN atau PT. DI sekarang. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. Pesawat ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).

Dan tahapan berikutnya adalah pesawat terbang N250 Gatot Koco yang murni merupakan rancang bangun dari PTDI. Pesawat N250 dirancang mempunyai kapasitas penumpang 50 orang. Kapasitas penumpang berkisar 50 memang diprediksi akan menguasai pangsa pasar pesawat komersial. Diprediksi waktu itu, kebutuhan pasar atas pesawat komersial antara 2000 – 2020 sekitar 8000 pesawat, dan diperkirakan 45% adalah pesawat sekelas N250.

Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkannya Sistem fly-by wire.

3. Pesawat CN-235

Pesawat CN-235 - 7 Pesawat Buatan Indonesia Komersial dan Tempur - www.iniunik.web.id

CN-235 adalah pesawat angkut jarak sedang dengan dua mesin turbo-prop. Pesawat ini dikembangkan bersama antara CASA di Spanyol and IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) sebagai pesawat terbang regional dan angkut militer. Versi militer CN-235 termasuk patroli maritim, surveillance dan angkut pasukan. CN-235 adalah sebuah pesawat angkut turboprop kelas menengah bermesin dua. Pesawat ini dirancang bersama antara IPTN Indonesia dan CASA Spanyol. Pesawat CN-235, saat ini menjadi pesawat paling sukses pemasarannya dikelasnya.

Desain & Pengembangan

CN-235 diluncurkan sebagai kerja sama antara CASA dan IPTN. Kedua perusahaan ini membentuk perusahaan Airtech company untuk menjalankan program pembuatan CN-235. Desain dan produksi dibagi rata antara kedua perusahaan. Kerja sama hanya dilakukan pada versi 10 dan 100/110. Versi-versi berikutnya dikembangankan secara terpisah oleh masing-masing perusahaan.

Desain awal CN-235 dimulai pada Januari 1980, purnarupa pesawat terbang perdana pada 11 November 1983. Sertifikasi Spanyol dan Indonesia didapat pada tanggal 20 Juni 1986. Pesawat produksi terbang pertama pada 19 August 1986. FAA type approval didapat pada tanggal 3 Desemebr 1986 sebelum akhirnya terbang pertama untuk pembeli pesawat pada tanggal 1 Maret 1988. Pada tahun 1995, CASA meluncurkan CN-235 yang diperpanjang, yaitu C-295

Versi Militernya Digunakan di Banyak Negara

Ternyata, versi militer CN 235 banyak diminati dan diekspor ke negara lain, yaitu :
  1. Afrika Selatan: Angkatan Udara Afrika Selatan (1)
  2. Amerika Serikat: Penjaga Pantai Amerika Serikat (8 HC-144)
  3. Arab Emirat: Angkatan Laut Persatuan Emirat Arab
  4. Arab Saudi: Angkatan Udara Arab Saudi
  5. Botswana: Angkatan Udara Botswana
  6. Brunei: Angkatan Udara Brunei (1)
  7. Chile: Angkatan Darat Chile (4 CN-235-100) satu jatuh di Antartika
  8. Ekuador: Angkatan Udara Ekuador
  9. Gabon: Angkatan Udara Gabon
  10. Indonesia: Angkatan Udara Indonesia (mengoperasikan CN235-100M, CN235-220M, CN235MPA)
  11. Irlandia: Korp Udara Irlandia (2 CN235MP)
  12. Kolumbia: Angkatan Udara Kolumbia
  13. Korea Selatan: Angkatan Udara Korea Selatan (20)
  14. Malaysia: Angkatan Udara Malaysia (8 CN235-220)
  15. Maroko: Angkatan Udara Maroko (7)
  16. Pakistan: Angkatan Udara Pakistan (4 CN235-220)
  17. Panama: Angkatan Udara Panama
  18. Papua New Guinea: Angkatan Udara Papua New Guinea
  19. Perancis: Angkatan Udara Perancis (19 CN235-100, 18 ditingkatkan menjadi CN235-200).
  20. Spanyol: Angkatan Udara Spanyol (20)
  21. Turki: Angkatan Udara Turki (50 CN235-100M); Angkatan Laut Turki (6 CN-235 ASW/ASuW MPA); Penjaga Pantai Turki (3 CN-235 MPA)
  22. Yordania: Angkatan Udara Yordania (2)

Disegani ?

Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama tahu kehebatan para insinyur Indonesia. Buktinya? Mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN 235 MPA (Maritime Patrol Aircraft) atau versi Militer.

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak dan hanya jadi mainannya BJ Habibie lalu mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati.

Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 MPA terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya di dunia. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 MPA ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.

4. Pesawat N-219

Pesawat N-219 - 7 Pesawat Buatan Indonesia Komersial dan Tempur - www.iniunik.web.id

N-219 adalah pesawat generasi baru, yang dirancang oleh Dirgantara Indonesia dengan multi sejati multi misi dan tujuan di daerah-daerah terpencil. N-219 menggabungkan teknologi sistem pesawat yang paling modern dan canggih dengan mencoba dan terbukti semua logam konstruksi pesawat terbang. N-219 memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel efisiensi sistem yang akan digunakan dalam misi multi transportasi penumpang dan kargo. N-219 akan melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin pada bulan Maret 2010 nanti. Pesawat N219 baru akan bisa diserahkan kepada kostumer pertamanya untuk diterbangkan sekira tiga tahun atau empat tahun lagi. N-219 merupakan pengembangan dari NC-212.

Spesifikasi :
  • Multi Purpose, dapat dikonfigurasi ulang
  • 19 Penumpang, tiga sejajar
  • Campuran kargo penumpang
  • Kinerja STOL
  • Biaya operasional rendah

Saat ini, penerbangan perintis di beberapa wilayah Nusantara seperti Papua masih menggunakan pesawat-pesawat produksi lama, seperti Twin Otter. Beberapa unit yang ada telah tidak layak pakai sehingga diperlukan pesawat yang lebih modern.

Karenanya, sejak tahun 2006, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mengembangkan pesawat N219 berkapasitas 19 orang untuk menggantikan peran pesawat perintis yang ada sekarang. Saat ini, uji aerodinamika pesawat tersebut telah dituntaskan.

Agar tidak mengalami kegagalan seperti pesawat CN 250, pihak PT DI akan memproduksi pesawat berdasarkan order. "Kedepannya akan buat 25 unit dulu dan mengupayakan seluruhnya terjual dahulu.

Pembuatan sejumlah unit memerlukan dana sekitar Rp 1 triliun. Jumlah ini menurut Andi cukup minim untuk membuat pesawat. Ia menargetkan, sejumlah pesawat akan dibeli oleh pemerintah daerah.

Andi juga mengatakan, spesifikasi pesawat N219 dirancang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Pesawat ini mampu mendarat di landasan yang pendek sehingga bisa diaplikasikan di wilayah terpencil dengan lahan terbatas.

"Pesawat ini juga dirancang bisa membawa bahan bakar tambahan. Kita menyadari bahwa tidak setiap daerah memiliki tempat pengisian bahan bakar," hal ini merupakan kelebihan pesawat N219.

Pengembangan pesawat ini didasarkan pada karakteristik geografis Indonesia. "Kondisi geografis kita berbeda dengan negara lain yang harus punya solusi sendiri".

Pengembangan pesawat kecil ini diharapkan mampu menjangkau wilayah terpencil sangat pas. "Banyak wilayah Indonesia yang tak mudah dijangkau dengan transportasi darat. Pesawat perintis bisa menjadi solusi ".

Pesawat N219 memiliki potensi besar untuk dipasarkan ke daerah-daerah seperti Sumatera dan Papua. Pesawat ini juga ditargetkan bisa dipasarkan ke negara lain yang masih membutuhkan, misalnya negara-negara di Afrika.

5. Pesawat NC-212

Pesawat NC-212 - 7 Pesawat Buatan Indonesia Komersial dan Tempur - www.iniunik.web.id

NC-212 Aviocar adalah sebuah pesawat berukuran sedang bermesin turboprop yang dirancang dan diproduksi di Spanyol untuk kegunaan sipil dan militer. Pesawat jenis ini juga telah diproduksi di Indonesia di bawah lisensi oleh PT. Dirgantara Indonesia. Bahkan pada bulan Januari 2008, EADS CASA memutuskan untuk memindahkan seluruh fasilitas produksi C-212 ke PT. Dirgantara Indonesia di Bandung. PT. Dirgantara Indonesia adalah satu-satunya perusahaan pesawat yang mempunyai lisensi untuk membuat pesawat jenis ini di luar pabrik pembuat utamanya.

Pesawat Casa NC 212-200 yang digunakan dalam operasional hujan buatan dilengkapi dengan Weather Radar (Radar Cuaca) dan Global Positioning System (GPS). Radar Cuaca diperlukan untuk mengidentifikasi sifat internal dan dinamika awan yang akan disemai, sehingga sangat membantu untuk menentukan awan mana yang akan dijadikan sebagai sasaran penyemaian sekaligus sebagai panduan safety penerbangan untuk pesawat menghindari zona berbahaya di sekitar awan. GPS diperlukan untuk merekam dan mencatat posisi dan track pesawat, sehingga memberi penjelasan tempat dilakukannya eksekusi penyemaian awan.

6. Pesawat Tempur T-50 Golden Eagle

Pesawat Tempur T-50 Golden Eagle - 7 Pesawat Buatan Indonesia Komersial dan Tempur - www.iniunik.web.id

Anda pasti berfikir, dengan semua kapasitas dan teknologi yang dimiliki Indonesia, kenapa sampai sekarang Indonesia belum membuat Jet tempur ?

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akhirnya siap berkerja sama dengan Korea Selatan mengerjakan proyek pengembangan model pesawat tempur senilai US$8 miliar yang ditawarkan pemerintah negara tersebut kepada Indonesia.

Kalau memproduksi sendiri (pesawat tempur) belum bisa, tetapi kalau bergabung dengan Korea Selatan bisa terlaksana. PT DI memiliki pengalaman dalam bidang kualifikasi dan sertifikasi dalam memproduksi pesawat-pesawat yang berkecepatan rendah seperti CN-235. Sementara itu, Korea Selatan berpengalaman dalam memproduksi pesawat berkecepatan tinggi atau melebihi kecepatan suara (1 mach) T-50 Golden Eagle.

T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea. Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries dengan bantuan Lockheed Martin. Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan.

Walaupun militer Amerika Serikat tidak ada rencana untuk membeli pesawat ini, tapi penamaan militer amerika secara resmi diminta untuk pesawat ini guna menghindari konflik penamaan dikemudian hari.

Program T/A-50 dimaksudkan sebagai pengganti dari berbagai pesawat latih dan serang ringan. Ini termasuk T-38 dan F-5B untuk pelatihan dan Cessna A-37BClose Air Support; yang dioperasikan AU Republik Korea. Program ini pada awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih secara mandiri yang mampu mencapai kecepatan supersonik untuk melatih dan mempersiapkan pilot bagi pesawat KF-16 (F-16 versi Korea). T-50 mmembuat Korea Selatan menjadi negara ke-12 yang mampu memproduksi sebuah pesawat tempur jet yang utuh. Beberapa produk korea lainnya adalah KT-1 produk Samsung Aerospace (sekarang bagian dari KAI), dan produk lisensi KF-16. Sebagian besar sistem utama dan teknologinya disediakan oleh Lockheed Martin, secara umum bisa disebut T/A-50 mempunyai konfigurasi yang mirip dengan KF-16.

Pengembangan pasawat ini 13% dibiayai oleh Lockheed Martin, 17% oleh Korea Aerospace Industries, dan 70% oleh pemerintah Korea Selatan. KAI dan Lockheed Martin saat ini melakukan program kerjasama untuk memasarkan T-50 untuk pasar internasional.

Program induknya, dengan nama kode KTX-2, dimulai pada 1992, tapi Departemen Keuangan dan Ekonomi menunda program KTX-2 pada 1995 karena alasan finansial. With the initial design of the aircraft, in 1999. It was renamed T-50 Golden Eagle in February 2000, with the final assembly of the first T-50 taking place between 15 January, 2001. Penerbangan pertama T-50 terjadi pada Agustus 2002, dan pengujian tugas operasional pertama mulai Juli 28 sampai 14 Agustus, 2003. Angkatan Udara Korsel menandatangani kontrak produksi untuk 25 T-50 pada Desember 2003, dan pengiriman dijadwalkan pada 2005 sampai 2009.

Varian lain dari T-50 Golden Eagle termasuk pesawat serang ringan A-50, dan pesawat yang lebih canggih FA-50. The A-50 variant is an armed version of the T-50 as a stable platform for both free-fall and precision-guided weapons. FA-50 is an A-50 modified with an AESA radar and a tactical datalink which are not yet specified. As part of the A-37 retirement-out program to be completed by 2015, sixty A-50's will be in service for the South Korean air force by 2011.

7. Pesawat Tempur KFX
(Korea Fighter Experimental)

Pesawat Tempur KFX - 7 Pesawat Buatan Indonesia Komersial dan Tempur - www.iniunik.web.id

Pesawat jet tempur KFX sendiri sebetulnya merupakan proyek lama Republic of Korea Air Force (ROKAF) yang baru bisa terlaksana sekarang. Proyek ini digagas presiden Korea Kim Dae Jung pada bulan Maret 2001 untuk menggantikan pesawat-pesawat yang lebih tua seperti F-4D/E Phantom II dan F-5E/F Tiger. Dibandingkan F-16, KFX diproyeksi untuk memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistim avionic yang lebih baik serta kemampuan anti radar (stealth).

Pemerintah Korea akan menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat, sejumlah industri dirgantara negara itu di antaranya Korean Aerospace Industry menanggung 20 persennya .pemerintah Indonesia 20 persen dan akan memperoleh 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16 ini dan 100 pesawat untuk korea. Total biaya pengembangan selama 10 tahun untuk membuat prototype pesawat itu diperkirakan menghabiskan dana 6 miliar US Dollar.Pemerintah Indonesia akan menyiapkan dana US$1,2 miliar.

penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia-Korsel itu sudah dilakukan pada 15 Juli 2010 yang lalu di Seoul-Korea Selatan. Diharapkan pada tahun 2020 Sudah Ada Regenerasi Pesawat Tempur untuk kedua pihak

Spesifikasi KFX sebagai berikut :

Crew : 1
Thrust : about 52,000lbs (F414 class x 2)
Max Speed : about Mach 1.8

Armament :
  • M61 Vulcan
  • AIM-9X class short-range AAM(AIM-9X class) (indigenous, under development)
  • AIM-120 class beyond visual range AAM (not specified yet)
  • 500lbs SDB class guided bomb|KGGB (indigenous)
  • JCM class guided short range AGM (indigenous, under development)
  • SSM-760K Haeseong ASM (indigenous)
  • Boramae ALCM (indigenous, under development), or Taurus class ALCM
  • Supersonic ALCM (based on Yakhont technology) (indigenous, under development)

Mengapa PT DI tidak membuat sendiri ?

Membuat pesawat tempur jauh lebih kompleks daripada membuat pesawat penumpang karena ada tambahan sistem dalam sebuah pesawat tempur yaitu sistem kontrol senjata pada sistem avioniknya, disamping sistem mesin pendorong, sistem radar, dan struktur pesawat yang harus dirancang lebih kuat namun tetap lincah bermanuver di udara.

Pesawat tempur KFX ini dirancang untuk masuk dalam kelompok pesawat tempur generasi 4,5 yang berarti harus mempunyai 6 kemampuan yaitu :

  1. Kemampuan pesawat tempur untuk melakukan manuver ekstrim agar mendapat posisi serang paling menguntungkan (Air Combat Manuverability).
  2. Pesawat tempur harus bisa terbang lincah sehingga harus menggunakan teknologi fly by wire untuk kontrol penerbangannya.
  3. Penggunaan teknologi trust vectoring nozzles yang mampu mengubah-ubah arah semburan gas buang mesin jet agar pesawat tempur mempunyai kemampuan terbang dalam kecepatan rendah dan mampu melakukan belokan tajam.
  4. Kemampuan untuk terbang jelajah pada kecepatan supersonik dalam waktu yang lama.
  5. Radar pesawat tempur berkemampuan menjejak target diluar batas cakrawala atau beyond visual range
  6. Kemampuan menyerap dan membiaskan pancaran radar atau teknologi stealth

Jadi bisa dibayangkan seandainya PT. Dirgantara Indonesia dilibatkan dalam pembuatan pesawat tempur ini maka akan ada penguasaan teknologi kedirgantaraan baru paling tidak untuk pembuatan 50 pesawat tempur KFX yang akan dibeli Pemerintah Indonesia nantinya dari keikutsertaannya membiayai proyek ini. Penguasaan teknologi baru di bidang pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 ini dapat menjadi modal dasar bagi PT. Dirgantara Indonesia untuk membuat pesawat tempur sendiri kelak dikemudian hari.

Jadi untuk teknologi PT DI memang belum mampu untuk membuat secara mandiri. Selain ini butuh modal besar untuk melakukan riset sendiri namun jika besama korea maka teknologi kita akan dapatkan dengan sendirinya dan kelak dapat dikembangkan lagi untuk membuat pesawat tempur ciptaan sendiri.

Penutup :
Artikel ini hanya sekedar sebuah berita. Perihal integritas, klarifikasi pro kontra dan permasalahan dalam internal PT. DI itu sendiri adalah sebuah wacana yang berbeda. SUMBER iiniunik :


SUMBER iiniunik :

Prajurit TNI Kenalkan Budaya Indonesia di Lebanon

Rabu, 10 Agustus 2011 10:19 WIB | 881 Views
Seorang anak Lebanon Tatiana(11) menyanyikan lagu Lebanon yang diiringi musik angklung oleh sejumlah prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Yonmek Kontingen Garuda XXIII-E/UNIFIL atau Indonesian Battalion (INDOBATT) pada Summer Camp 2011 di Kleya Public School, Marjayoun, Lebanon Selatan, Selasa, (9/8). Acara itu, selain memperkenalkan budaya asli Indonesia juga sebagai sarana untuk menghibur masyarakat terutama anak-anak, agar bisa menghilangkan trauma dari konflik yang berkepanjangan. (FOTO ANTARA/Puspen TNI-Sertu Marinir Kuwadi/HO/Koz/Spt/11.)
Surabaya (ANTARA News) - Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Yonmek Kontingen Garuda XXIII-E/UNIFIL atau Indonesian Battalion (INDOBATT) memperkenalkan budaya asli Indonesia kepada anak-anak Lebanon di Kleya Public School, Marjayoun, Lebanon Selatan.

Perwira Penerangan (Papen) INDOBATT Mayor Pasukan Banu Kusworo kepada ANTARA melalui surat elektronik dari Lebanon, Rabu, melaporkan acara yang digagas "CIMIC" Indobatt di bawah pimpinan Kasi CIMIC Mayor Arh Sukma Yudha itu digelar pada Selasa (9/8).

Acara yang dikemas dalam "Summer Camp 2011" itu dihadiri oleh Komandan Satgas Yonif Mekanis Konga XXIII-E/UNIFIL Letkol Inf Hendy Antariksa, Chief G9 Letkol Casado, kepala sekolah Antoine Khourg, dan beberapa pejabat Indobatt, serta 300 lebih anak-anak usia sekolah di wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan.

Dalam acara yang terbagi pada dua sesi, yaitu di halaman sekolah dan di dalam gedung itu, para prajurit Indobatt dengan dipandu oleh penerjemah Bahasa Inggris Mayor Sus Harianto, dokter Indobatt Lettu (kes) Bhayu Rizallinoor, penerjemah bahasa lokal Safika dan Yahya, memperkenalkan berbagai kebudayaan asli Indonesia.

Acara diawali dengan tampilnya Srikandi Indobatt (wanita TNI) dengan membawakan Tari Srikandi, kemudian Tari Sisingaan, dan Reog Ponorogo.

Penampilan tari Sisingaan yang dibawakan oleh prajurit Kompi Bravo cukup menyedot perhatian anak-anak, bahkan mereka antre untuk bisa naik di atas Singa yang dipanggul para penari.

Selain itu, juga digelar berbagai lomba untuk memperingati HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI, di antaranya balap kelereng, balap bakiak, dan lomba memasukkan pensil dalam botol.

Setelah acara di halaman sekolah selesai, acara dilanjutkan di dalam gedung yang diawali dengan tampilnya prajurit Indobatt dengan mempersembahkan Rampak Gendang, kemudian dirangkai dengan sebuah lagu Lebanon yang dinyanyikan oleh Tatiana (11) dengan iringan musik angklung.

Dalam kesempatan itu, Mayor Sus Harianto memperkenalkan Indonesia kepada anak-anak yang hadir yang dimulai dengan bendera Merah Putih, lambang Negara Indonesia, Presiden Indonesia, Kepulauan Indonesia dengan berbagai macam adat dan budayanya, serta diakhiri dengan pemutaran film tentang Indonesia.

Puncak pengenalan budaya Indonesia juga dimeriahkan dengan permainan sulap, pemberian mainan anak-anak, dan foto bersama.

Sementara itu, Komandan INDOBATT Letkol Inf Hendy Antariksa didampingi Wadan Letkol Mar Harnoko yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkenalkan Indonesia, terutama budaya asli Indonesia kepada anak-anak Lebanon.

"Acara itu juga dapat menjadi sarana penghibur masyarakat, terutama anak-anak, sehingga bisa menghilangkan trauma dari konflik yang berkepanjangan," kata Letkol Inf Hendy Antariksa. 


SUMBER : ANTARA

FIGHTER IWJ TERBANG SUBUH


Pentak Lanud Iwj - 10/08/2011

Fighter dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, melakukan persiapan terbang subuh, Rabu (10/8).
Dalam sejarah pertempuran dibelahan dunaia disebutkan, bahwa serangan udara dapat dilakukan kapanpun, baik siang, malam maupun pagi hari. Berkaca dari peristiwa tersebut, maka fighter-fighter Lanud Iswahjudi mengadakan terbang subuh selama sepekan di trainning area Lanud Iswahjudi, Rabu (10/8).
Meski hanya mengandalkan instrumen dan visual yang sangat terbatas penerbang-penerbang tempur Lanud Iswahjudi, dalam beberapa hari kedepan sejak Selasa (9/8) mulai pukul 03.15 Wib hingga siang hari melaksanakan terbang untuk meningkatkan profesionalisme baik skill (keahlian) maupun kemampuan terbang (Profesiensi).
Bagi Lanud Iswahjudi sendiri, latihan terbang subuh/fajar sudah menjadi agenda tetap, karena selain untuk mengasah ketrampilan juga untuk membiasakan para penerbangnya melaksanakan misi pada dini hari yang hanya mengandalkan instrument yang ada disamping visual yang sangat terbatas. Dengan demikian para penerbang tempur setiap saat dapat melaksanakan tugas tidak mengenal siang, malam maupun dini hari.
Bagi para penerbang tempur, terbang subuh bukan merupakan hal yang luar biasa namun perlu untuk pembiasaan diri, terutama pada saat lepas landas maupun mendarat yang sangat mengandalkan instrumen yang ada, disamping visual dengan alat bantu lampu penerangan yang ada di dua sisi landasan. Untuk itu para penerbang tersebut dituntut lebih teliti dan hati-hati dalam menerbangkan pesawat serta melakukan manuver-manuver tertentu.
Secara bergantian burung-burung besi yang bersarang di Lanud Iswahjudi seperti F-16 Fighting Falcon Skadron Udara 3, F-5 Tiger II Skadron Udara 14 dan Hawk MK-53 Skadron Udara 15, dipandu oleh Air Trafict Control (ATC) Lanud Iswahjudi, melaksanakan latihan penerbangan

SUMBER : TNI AU

KRI Dewaruci Merapat di Ghuangzhou


 
/ www.wikipedia.org
Jurnas.com | KAPAL latih TNI Angkatan Laut KRI Dewaruci merapat di Guangzhou, China, 1 Agustus lalu. Kapal ini tengah melakukan kunjungan ke beberapa negara dalam Satuan Tugas Operasi Kartika Jala Krida 2011. Dalam kesempatan itu, KRI Dewaruci melakukan open ship di tempat kapal merapat di Pangkalan Angkatan Laut, Xinzhou, Guangzhou. Pada pelayaran kali ini, KRI Dewaruci membawa 85 kadet Akademi AL tingkat III angkatan 58. Demikian siaran pers yang dikeluarkan Dinas Penerangan AL, Selasa (9/8) malam.

Open ship ini disambut masyarakat setempat dengan berduyun-duyun memenuhi kapal. Para pengunjung mulai dewasa hingga anak-anak berdatangan untuk menyaksikan kapal latih kebanggaan bangsa Indonesia tersebut.

Selain untuk menaiki kapal dan melihat-lihat, mereka juga bersantai di atas kapal, berfoto dengan para kadet AAL maupun anak buah kapal (ABK) KRI Dewaruci yang dikomandani Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto. Para kadet dan ABK juga memberikan penjelasan keberadaan KRI, sejarah hingga rute pelayaran yang pernah di tempuh mulai pelayaran pertama tahun 1953 hingga saat ini.

Sore harinya, para kadet AAL mengadakan pertunjukan kemahiran Displai Drumband Genderang Suling Giata Jala Taruna AAL di Huancheng Plasa yang pada 2010 menjadi lokasi pelaksanaan ASEAN Game. Usai pertunjukan, para penonton berkesempatan untuk berfoto dengan para kadet, khususnya anak-anak yang tampak sangat gembira bisa bersama-sama dengan Kadet.


JURNAS

Russia developing new air defense systems


By RIA Novosti on Wednesday, August 10th, 2011


Russia developing new air defense systems

Russia is developing two air defense systems as part of future multilayered aerospace defense network, Air Force Commander Col. Gen. Alexander Zelin said on Tuesday.
"The Morfey is a short-range air defense system with effective range of five kilometers," Zelin said. "It is designed to protect military installations and has both active and passive weapons [launchers and radars]."
Another system, the Vityaz, is a further development of the S-300 medium-range air defense system, whose combat capabilities largely surpass those of its predecessor.
"In fact, it could be considered a brand new system," Zelin said, adding that the Vityaz would have a launcher with 16 missiles compared to only four on the S-300.
Both systems will complement the S-400 and S-500 air defense systems in the future aerospace defense network to engage targets at ranges from 5 to 400 kilometers, and at altitudes from 5 meters to near space.
The Morfey, the Vityaz and the S-500 are expected to enter service with the Russian Air Force in 2015, while the S-400 has been in service since 2007.
Zelin said the Russian Air Force would receive two more regiments of S-400 Triumf air defense systems by the end of 2011 in addition to two regiments already deployed in the Moscow Region.
The S-400 (SA-21 Growler) system can engage targets at a maximum range of up to 400 kilometers at altitudes of up to 50,000 meters.
The system uses a range of missiles optimized for intercepting ballistic and cruise missiles. It can simultaneously track up to 300 targets and engage 36 of them.
An S-400 air defense regiment consists of two or three battalions equipped with four systems each. Russia is planning to arm 56 battalions with S-400 systems by 2020.



China’s first aircraft carrier starts sea trial

By Agence France-Presse on Wednesday, August 10th, 2011
China’s first aircraft carrier starts sea trial

China's first aircraft carrier has begun its inaugural sea trial, the defence ministry said Wednesday, a move likely to stoke concerns about the nation's rapid military expansion.
Beijing only recently confirmed it was revamping an old Soviet ship to be its first carrier, adding to worries among its neighbors over the country's military build-up and growing assertiveness on territorial issues.
"According to trial plans, the first sea trial will not take long," the defence ministry said in a statement.
"After returning to the shipyard (in the port city of Dalian), the carrier will continue its refit and test work."
Beijing last month sought to play down the capability of its first carrier, saying the vessel would be used for training and "research".
Chen Bingde, the nation's top military official, only provided the first official acknowledgment of the aircraft carrier in a Hong Kong newspaper interview in early June.
But media reports and military analysts have said for years that the 300-metre (990-foot) ship was in development.
The ship, once called the Varyag, was originally built for the Soviet navy. Construction was interrupted by the collapse of the Soviet Union in 1991.
Andrei Chang, head of the Kanwa Information Centre, which monitors China's military, told AFP the trial would likely only last about an hour.
"The first sea trial is just for testing different items, like whether the engines work or not," he said, adding that from Soviet and French aircraft carrier experience, on-off sea trials would continue for another year or two.
Last week Japan voiced concern over China's growing assertiveness and widening naval reach and over what it called the "opaqueness" of Beijing's military budget.
The carrier project also comes amid heightened tensions over a number of maritime territorial disputes involving China, notably in the South China Sea, which is believed to be rich in oil and gas and is claimed by several countries.
The issue has heated up recently with run-ins between China and fellow claimants Vietnam and the Philippines, sparking concern among its neighbouring countries and the United States.
In September, a row erupted between Japan and China over the disputed Senkaku Islands, known as the Diaoyu Islands in Chinese, located in the East China Sea.
China reportedly bought the ship's immense armoured hull -- with no engine, electrics or propeller -- in 1998.
Chang pointed out that he had not seen any form of arresting gear on the carrier -- the mechanical system that rapidly decelerates a plane as it lands -- in photos he had seen so far.
"That's very strange. It's very complicated technology and the Chinese haven't installed it -- we couldn't find it," he said.
"That means they can't land any fighters, probably only helicopters."
China's People's Liberation Army -- the largest armed force in the world -- is extremely secretive about its defence programmes, which benefit from a huge and expanding military budget boosted by the nation's runaway economic growth.
The PLA also operates the country's navy.

India to Help Vietnam Build a Submarine Fleet




Kilo submarine of the Indian Navy (photo : Military Pictures)

In the framework of building a strategic partnership, the Indian Navy will help Vietnam develop Navy submarine fleet. Cooperation in the field of defense is a fundamental part of the framework to build a strategic partnership between India and Vietnam.

Like Vietnam, the staff of the Indian Army in general and in particular the Navy has a lot of equipment originating from the Soviet Union and Russia. India is one of the foreign country to use as soon as Kilo submarines, with rich experience. Indian Navy ready to share this with Vietnam for the Navy plans to build a submarine fleet in time to Kilo.

An official of the Indian Navy, said: "We are helping Vietnam to build their submarine fleet. Our experience in the operation of Kilo submarines will be shared with them.

" The official declined to provide information, whether the crew Vietnam has provided practical experience on the Kilo submarines in India or not.

With his rich experience of India will help Vietnam build a submarine fleet. In the photo, an Indian naval officers outside observers by Kilo submarine periscope.

Vietnam has officially announced the purchase of six diesel-electric submarines from Russia in 2009 and most recently, Defense Minister Phung Quang Thanh has also spoken to confirm the construction of a submarine fleet of about 5-6 yearsto.

Currently in the Indian Navy personnel are 10 class diesel electric submarines Sindhughosh, this variant is exported to India's Kilo submarines of Project 877EKM.

Mr. Uday Bhaskar, director Institute of Oceanography Commodore stressed that Vietnam is an important strategic partner of India, we have much in common in the historical issues. "We both have a lot of weapons and equipment from Russia, so that India can bring technical assistance to Vietnam," he said.

Earlier during the visit of Indian Defense Minister AK Antony to Vietnam in 2010, the Indian side pledged to help Vietnam strengthen the modernization of the military, especially naval.

These include programs to upgrade the ships from the Soviet Union, also in the framework of the visit, the Indian Navy has transferred to Vietnam a lot of technical equipment to upgrade the fleet from Soviet Union.

Dua Sukhoi Kawal Pesawat Wapres




MAKASSAR - Dua dari empat pesawat Sukhoi yang dibeli dari Rusia mengawal pesawat kepresidenan yang mengangkut Wakil Presiden Boediono dari Bandara Udara Sultan Hasanuddin Makassar, Rabu (10/8).

Pesawat yang disiagakan di Skadron Udara 11 Lanud Hasanuddin tersebut mengawal pesawat yang berisi wapres dengan tujuan Manado, Sulawesi Utara selama 10 menit. Usai pengawalan Sukhoi kemudian berbalik arah menuju Jakarta untuk ikut serta dalam peringatan HUT RI 17 Agustus 2011.

Wapres terbang Manado menggunakan pesawat kepresidenan BAe RJ-85. "Iya ini pengawalan, sekalian mereka (sukhoi) akan terbang menuju Jakarta, untuk ikut serta dalam peringatan Dirgahayu Republik Indonesia 17 Agustus nanti," ujar Juru Bicara Wapres Yopie Hidayat.

Aksi pengawalan tersebut, tidak pelak mengundang kekaguman delegasi yang ikut dalam rombongan Wapres. Beberapa wartawan dan petugas dokumentasi Istana Wapres tak luput untuk mengabadikan aksi pengawalan tersebut.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Kapal Induk Pertama Cina Memulai Pelayaran Perdana


Varyag di galangan kapal di pelabuhan Dalian. (Foto: Xinhua)

10 Agustus 2011, Dalian (Berita HanKam): Kapal induk pertama China meninggalkan galangan kapal di pelabuhan Dalian, Provinsi Liaoning pada Rabu (10/8) pagi untuk memulai perlayaran pertama.

Sumber militer Cina mengatakan perlayaran pertama sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan tidak memakan waktu lama. Setelah kembali dari berlayar kapal induk akan direfit kembali dan diuji coba.

Kapal induk tersebut pada mulanya dibangun oleh bekas Uni Sovyet dan diberi nama Varyag. Pembangunan dimulai pada era-198o dan dihentikan pada 1992 setelah kejatuhan Uni Sovyet. Varyag ditempatkan di galangan kapal di Ukraina dan dibeli oleh perusahaan Cina berbasis di Makao senilai 20 juta dolar pada 1998. Perusahaan ini mengklaim kapal induk akan diubah menjadi wahana hiburan. Kapal induk tiba di galangan kapal Dalian untuk diperbaiki Maret 2002, diharapkan kapal induk akan dioperasikan Angkatan Laut sekitar 2012.

Sumber: Xinhua

Komandan Skuadron Kapal Selam Thailand Kunjungi Kobangdikal



9 Agustus 2011, Surabaya (ANTARA News): Komandan Skuadron Kapal Selam Angkatan Laut Thailand, Rear Admiral Suria Pornsuriya, mengunjungi Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI Angkatan Laut (Kobangdikal) di Surabaya, Selasa.

Dalam kunjungan itu, delegasi "Submarine Squadron Royal Thai Navy (RTN)" itu disambut Komandan Kobangdikal Laksamana Muda TNI Sadiman.

Mereka mendapat suguhan tentang profil Kobangdikal dan sistem pendidikan TNI-AL yang diterapkan di lembaga tersebut.

Pihak RTN dan Kobangdikal juga melakukan dialog tentang perkembangan teknologi kapal selam. "Peluang kerja sama di bidang pendidikan dan latihan juga dibicarakan dalam pertemuan tadi," kata Sadiman.

Bahkan, pihak RTN dan Kobangdikal bersedia meningkatkan hubungan kerja sama strategis dalam mendidik calon prajurit matra laut itu.

"Kami bersedia untuk terus membina hubungan dan meningkatkan kerja sama yang telah terjalin selama ini," kata laksamana bintang dua itu.

Dalam kunjungannya ke Kobangdikal, Suria Pornsuriya didampingi beberapa pejabat Skuadron Kapal Selam Thailand, yakni Captain Willers Samabut (Deputy Comander), Captain Surapong Phuaknoi (Director of Enginering), Captain Wirote Sangkamies (Deputy Chief of Staff Submarine Squadron).

Rombongan asal negeri "Gajah Putih" itu juga didampingi Atase Pertahanaan Thailand di Indonesia, Captain Apichat Punyakitiwat.

Sementara itu, Sadiman didampingi Kodikopsla Laksamana Pertama TNI Didik Wahyudi, Direktur Pendidikan Kolonel Laut (P) Eko Purwanto, dan perwira lainnya.

Setelah beramah tamah di ruang tamu Gedung Ki Hadjar Dewantara, rombongan mengunjungi beberapa tempat pendidikan di Kobangdikal.

Sumber: ANTARA News

Indonesia Mandiri Membuat Satelit




Persiapan peluncuran satelit. (Foto: Lapan)

10 Agustus 2011, Jakarta (KOMPAS.com): Tim perekayasa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional tengah menyelesaikan desain dan rancang bangun satelit mikro Lapan A2. Pembuatan satelit komunikasi dan pengindraan jauh ini di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, akan selesai pada September 2011.

"Keberhasilan ini menjadi bukti kemajuan kita untuk mencapai kemandirian dalam pembuatan satelit," kata Kepala Lapan Bambang Tedja Sumantri, Selasa (9/8/2011).

Menurut rencana, satelit Lapan A2 akan diluncurkan dari tempat peluncuran roket di India pada Januari 2012. Satelit ini akan ditumpangkan pada peluncuran satelit milik ISRO-India. Untuk pengiriman satelit ini ke India juga telah dipersiapkan kargo khusus.

Satelit ini akan beredar di orbit khatulistiwa dan memiliki jangkauan lebih lebar. Berbeda dengan generasi terdahulu, Lapan A2 telah dilengkapi dengan sistem identifikasi otomatis. "Dengan sarana ini, satelit dapat memantau pergerakan kapal laut yang lewat wilayah Indonesia berdasarkan sinyal yang dipancarkannya," tutur Bambang.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata menambahkan, pihaknya telah melakukan pengujian komponen muatan satelit tersebut.

Sementara itu, untuk peluncuran berikutnya dipersiapkan pula satelit pencitra di orbit polar. Semula satelit mikro yang menggunakan sistem optik ini akan diluncurkan bersamaan dengan satelit Lapan A2, tetapi karena kendala teknis, diputuskan perubahan ke orbit polar.

Satelit mikro ini dilengkapi dengan kamera high density television (HDTV). Pengujian kamera ini telah dilakukan dengan menumpangkannya pada pesawat terbang.

Terkait dengan pengoperasian satelit ini, dilakukan pula modifikasi rekayasa stasiun penerima agar mampu menangkap sinyalnya pada S-band.

Sumber: KOMPAS.com

Tuesday, August 9, 2011

Menhan: Prajurit TNI Tetap Bangun Papua

 
........... / Infrastruktur Papua
Jurnas.com | MENTERI Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan prajurit TNI tetap melakukan tugas untuk membangun masyarakat Papua. “Prajurit TNI tetap masuk desa melakukan kegiatan untuk membangun Papua,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro usai menerima pimpinan Barisan Merah Putih Papua di Kantor Kemhan, Jakarta, Selasa (9/8).

Menurut Menhan, kondisi keamanan di Papua sudah mulai membaik. “Saya kira sudah tidak ada masalah soal keamanan. Hanya tiga tempat saja yaitu di Paniai sudah mulai baik. Di Abepura dan Ilaga juga sudah mulai tenang,” katanya.

Ditanya soal adanya gerakan separatis di Papua, menurut Menhan, kalau itu membahayakan keselamatan, harus ditindak sesuai prosedur.

Menyangkut usulan perlunya dialog terkait Papua, Menhan secara tegas menyatakan bahwa Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Itu bagian dari NKRI,” katanya.

JURNAS

Mayjen TNI Asmyn Yusri Nasution Jadi Pangkostrad

 
Humas TNI AD / TNI AD
Jurnas.com | JABATAN Panglima Komando strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) hari ini, Selasa, 9/8, diserahterimakan dari Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo kepada Mayjen TNI Asmyn Yusri Nasution, di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, Selasa, (9/8). Jenderal Pramono Edhie Wibowo saat ini diberi tugas sebagai Kepala Staf Angkatan darat, sedangkan Mayjen TNI Asmyn Yusri Nasution sebelumnya menjabat sebagai Aster Panglima TNI. "Kostrad memiliki dua peran penting, sebagai Kotama Operasional TNI, tugas pokok Kostrad adalah menyelenggarakan operasi pertahanan tingkat strategis sesuai dengan Kebijakan Panglima TNI. Sedangkan sebagai Kotama Pembinaan TNI Angkatan Darat, Kostrad bertugas membina kesiapan operasional atas segenap jajaran komandonya yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada KSAD, "kata Jenderal Pramono.

Karena itu, katanya, Kostrad harus memiliki mobilitas tinggi dan mampu bereaksi cepat sebagai wujud ketanggap segeraan terhadap segala bentuk dan jenis ancaman yang timbul di seluruh wilayah nusantara.

Dalam kesempatan itu juga dilakukan acara serah terima jabatan Pangdam III/Siliwangi dari Mayjen TNI Moeldoko kepada Mayjen TNI Muhamad Munir dan Pangdam IV/Diponegoro dari Mayjen TNI Langgeng Sulistiyono kepada Mayjen TNI Mulhim Asyrof.

Mayjen TNI Moeldoko mendapat promosi jabatan sebagai Wakil Gubernur Lemhanas sedangkan Mayjen TNI Langgeng Sulistiyono menjabat sebagai Aster Panglima TNI. Mayjen TNI Muhamad Munir sebelumnya menjabat sebagai Kasdiv-II/Kostrad dan Mayjen TNI Mulhim Asyrof sebelumnya menjabat sebagai Asrena Kasad.

JURNAS

Monday, August 8, 2011

Pertemuan Joint Committee Program KF-X/IF-X

F-33 /IF-X/ KF-X




8 Agustus 2011, Jakarta (Ristek): Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan telah menandatangani nota kerjasama pengembangan pesawat tempur Korean – Indonesia Fighter (KF-X/IF-X). Pesawat ini didisain lebih unggul dari pesawat F-16 buatan Amerika dimana radius penyerangannya lebih luas, sistim avionik dan sistem radar lebih canggih, serta tidak tertangkap radar musuh (stealth technology).

Kerjasama tersebut akan meliputi kerjasama pengembangan teknologi (technology development) selama 2 tahun dari tahun 20011.

Kemudian dilanjutkan kerjasama dengan engineering dan manufacturing Development yang akan membutuhkan waktu 10 – 15 tahun hingga mendapatkan prototipe yang sudah mendapatkan sertifikat. Setelah itu baru akan di produksi secara masal baik untuk digunakan oleh masing-masing angkatan udara kedua negara maupun untuk dijual ke negara lainnya. Tahun 2020 KF-X/IF-X ditargetkan sudah siap untuk di operasikan oleh kedua negara dan dijual ke negara lainnya.

KFX - medium fighter aircraft with 4.5 generation technology (photo : hangkong)

Untuk memulai kerjasama pengembangan teknologi tersebut diatas, pada tanggal 2 Agustus 2011 lalu telah dilakukan pertemuan pertama joint committee antara pejabat kedua negara (the first joint committee meeting).

Dalam kesempatan tersebut juga telah diresmikan fasilitas Combined Research & Development Center (CRDC) di kota Daejeon sebagai fasilitas bersama pengembangan teknologi KF-X/IF-X. Pejabat Indonesia yang terlibat pada saat peresmian CRDC adalah Sekjen Kemhan, Duta Besar RI untuk Korsel, Dirjen Pothan Kemhan, Ka. Balitbang Kemhan, dan Deputi Relevansi dan Produktivitas Iptek Kementerian Riset dan Teknologi. Sedangkan dari Korea Selatan adalah pejabat dari DAPA (Defence Acquisition Procurement Administration), Presdir ADD (Agency for Defence Development), Presdir KARI (Korea Aerospace Research Institute), Presdir KAI (Korean Aerospace Industry), Presdir LIG, dan Marsekal Madya dari Airforce Korsel.

Dengan diresmikannya CRDC maka kerjasama pengembangan teknologi sudah dimulai. Tim engineering Indonesia yang sudah ada di Daejeon-Korsel saat ini sejumlah 21 orang dari total rencana 35 orang. Sisanya akan dikirim dalam waktu dekat ini.

Adapun komposisi tim engineering lengkap nantinya adalah 21 orang dari PT DI, 4 orang dari ITB dan 7 orang dari TNI-AU, serta 3 orang dari Kemhan. Mereka akan bekerjasama dengan tim engineering (lebih kurang 150 orang) Korsel selama 3-6 bulan. Setelah itu akan dikirim kembali tim engineering lanjutan beberapa gelombang hingga tahun 2012.

Sumber: Humas Ristek

Modernisasi Pesawat TNI-AU


Surplus F-16A/B USAF ditawarkan ke Indonesia. (Foto: USAF) KEKUATAN alat utama sistem persenjataan di udara Nusantara terus dibenahi, ditambah, bahkan dipermodern,
seiring dengan perencanaan TNI-AU, yang dalam kurun waktu 2005-2024 akan mengganti sejumlah pesawat tempur dan angkut yang berusia 20-30 tahun.
Modernisasi alutista suatu negara, tidak bisa dipungkiri, harus terus dilakukan, meskipun anggaran mungkin menjadi kendala. Apa pun alasannya, modernisasi pesawat terbang harus dilakukan.
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Imam Sufaat mengungkapkan, pergantian pesawat memang akan dilakukan mulai dari OV-10 Bronco yang kini telah di-grounded. Hal itu sebagai dampak dari beberapa musibah yang terjadi menimpa putra bangsa yang harus gugur dalam latihan. Pesawat tempur Hawk MK-53, F-5 Tiger, dan F-16 Fighting Falcon juga akan mengalami pergantian.
Sebanyak 16 pesawat tempur taktis OV-10 F Bronco buatan North American Rockwell Amerika Serikat, dengan ciri khasnya memiliki dua ekor, kali pertama datang ke Indonesia tahun 1976, dengan  tugas penting, yakni mendukung operasi di daerah Timor Timur.


T-50 Golden Eagle terbang dalam formasi. (Foto: KAI)

Kini, pesawat-pesawat  itu berada di Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Malang dan mengakhiri tugasnya di sana. Nasibnya benar-benar berujung di ladang tebu pada Juli tahun lalu setelah terjadi musibah jatuh.
F-16 Fighting Falcon, pesawat tempur berjenis Multirole Fighter(multiperan) yang diproduksi oleh pabrikan Lockheed  Martin kini berada di Skuadron Udara 3 Lanud Iswahyudi. Ini salah satu pesawat yang sangat terkenal di dunia, digunakan oleh 25 negara di  seluruh dunia. Kini, di Indonesia mulai dibenahi dengan dua pilihan, membeli F-16 baru tapi hanya terjangkau beberapa buah saja. Atau menerima hibah dari pemerintah Amerika sebanyak 24 buah pesawat tempur F-16.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sudah optimis, pesawat hibah tersebut tidak lama lagi akan menginjak di Bumi Pertiwi. Kini, Kementerian Pertahanan juga sedang menyiapkan  peralatan untuk melakukan peningkatan kemampuan F16 hibah tersebut.
Pesawat Hawk MK-53 milik Skuadron Udara 15 di Lanud Iswahyudi masuk ke Indonesia pada tanggal 29 September 1980. Masa pakai pesawat tersebut akan habis di tahun 2011. Pesawat buatan Inggris, yang dibeli pada tahun 1978 tersebut, sudah lama menganggur karena mengalami kerusakan mesin. Hebatnya, Skuadron Teknik 042 Iswahyudi berhasil memperbaiki lagi dan menfungsikannya sebagai pesawat tempur.
 
/ embraer
Jurnas.com | PESAWAT tempur Super Tucano akan melengkapi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) TNI AU Maret 2012. Super Tucano EMB-314 buatan Brazil ini diharapkan dapat menunjukkan kemampuannya pada ulang tahun TNI AU 9 April 2012.






Super Tucano
Kini, modernisasi pesawat terbang sudah menapak jalan, dengan diawali datangnya pesawat canggih asal Rusia, Sukhoi SU-27 ataupun SU-30, melalui pangkalan udara Iswahyudi Maospati Magetan.
SU-27 Flanker adalah pesawat tempur generasi ke 4, pesawat ini murni  pesawat tempur fighter dengan kemampuan serangan udara ke udara yang  paling unggul di kelasnya.
Sukhoi Su-27SK / Su-30SK yang dikenal dengan manuver kobranya kini jadi kebanggaan anak bangsa, berada di Skuadron Udara 11 Pangkalan Udara Hasanuddin Makassar.


Shukoi TNI AU

Dan kebanggaan ini pun akan bertambah lagi di kala Super Tucano EMB-314 pengganti OV-10F Bronco datang dari Brasil. Mengapa pesawat ini jadi begitu menarik dan patut disimak meski masih menggunakan baling-baling (propeller). F-16 dan Hawk MK-53 masih menjadi perbincangan dan perdebatan untuk mengganti dan apa penggantinya. Justru pengganti OV-10 sudah matang, tinggal menunggu kedatangannya.
Berbekal pengalaman Si Kuda Liar yang memiliki prestasi gemilang dalam melakukan pertempuran taktis, perang gerilya di Timor Timur ataupun di Aceh semasa operasi GAM, pesawat ini sangat berperan. Dari pengalaman dan kemampuannya itulah, salah satu keputusan untuk mencari pengganti OV-10F adalah dengan beragam kriteria yang mendekati kemampuan yang dimiliki OV-10.
Kepastian pengganti OV-10 disampaikan Marsekal Pertama TNI Irawan Supomo, Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh waktu itu. Setelah dilakukan serangkaian uji kinerja terhadap beberapa calon pengganti Bronco, sepertinya lebih cocok dengan Super Tucano.
Irawan menuturkan, ada lima jenis pesawat yang dilirik TNI Angkatan Udara sebagai penggantinya.  Yakni KO-1 dari Korea, K-8 Karakorum produksi bersarna China dan Pakistan, EMB-314 Super Tucano buatan Brasil, T-6B Texan II (Amerika Serikat) dan Pilatus PC-9 buatan Swiss. “Hanya dua  yang diajukan ke Departemen Pertahanan, yaitu Tucano dan KO-1,” katanya waktu itu.
Jenis pilihan pesawat pengganti itu pun berbeda-beda, tapi dari beberapa kriteria pesawat yang diusulkan sebagai pembanding, akhirnya hanya Su (Sukhoi) 25/39, L-159B buatan Cheko, YAK 130, K8P dan KO-1 yang lebih sesuai.
Alih Teknologi
Su 25/39, pesawat Sukhoi buatan Rusia, merupakan pesawat mesin jet ganda untuk dukungan serangan udara jarak pendek. L-159B buatan Cheko merupakan penempur ringan yang dirancang bisa dipergunakan untuk segala fungsi. Pesawat latih berkursi ganda (pengembangan L159A) didesain sebagai pesawat latih lanjut (Advanced and Operational/Lead-In Fighter Training).
L159B dapat dikonfigurasi sesuai spesifikasi kebutuhan negara pemesan. Selain mengadopsi peran pesawat latih jet, pesawat ini dapat diubah fungsi sebagai pesawat tempur ringan, termasuk membawa rudal darat-udara dan udara-udara, juga melakukan misi-misi lain, seperti kombatan, patroli udara dan intai/mata-mata. Pesawat ini menggunakan mesin jet buatan Honeywell/ITEC F124-GA-100 yang disebut-sebut sebagai mesin terbaik dikelasnya.
Calon lainnya adalah M346 buatan Italia, K8P buatan China dan KO1B buatan Korea. TNI-AU sudah tahu karakterisitik pesawat buatan Korea, di antaranya sudah digunakannya K0-1 Wongbee di Skuadron Pendidikan (Skadik) 102 Lanud Adisucipto, Yogyakarta.
Dari lima jenis pesawat sebagai pembanding, ditinjau dari sisi essential dan kriteria tambahan, ternyata EMB-314 paling unggul dibanding lainnya, seperti Sukhoi 25/39, L159A, YAK 130, K8P dan KO-1. Misalnya dalam kemampuan melaksanakan manuver dengan kecepatan tinggi dan rendah. EM B-314 lolos, sementara Yak 130 gagal. Juga dalam kemampuan melaksanakan operasi malam hari, kemampuan  terbang malam  tanpa eksternal tangki. Juga mampu membawa senjata, baik berupa bom, roket maupun senapan mesin.
Kriteria lainnya, pesawat dapat digunakan untuk jangka waktu minimal 25 tahun, dukungan operasional dapat dilaksanakan oleh pesawat C-130 Hercules. Mudah dalam suku cadang dan peralatan lainnya.
Hal ini memang tertuang dalam klausul alih teknologi, di mana suku cadang bisa diproduksi di PT Dirgantara Indonesia.
Kini, dengan sudah ditandatangani kontrak pembeliannya, hanya dalam hitungan bulan, langit Nusantara akan dihiasi dengan pesawat tempur taktis Super Tucano EMB 314 buatan Brasil.
Kehebatan dan kekaguman terhadap pesawat ini seperti yang dilontarkan pilot senior TNI AU, Marsda TNI Ganjar Wiranegara yang pernah mencoba kehebatan pesawat ini di Brasil pada tahun 2007 lalu. Meskipun pesawat tidak memiliki radar, avionil Super Tucano mampu menerima data link-nya (send/receive tracks/waypoint), weapon system status, present position transmission, transmit aircraft systems status, operational coordination serta intelligence information tentang targets dan avoidance area.
Bahkan untuk terbang malam, Super Tucano juga telah dilengkapi Night Vision Goggles (NVG) Gen III, di mana external dan internal lights full NVG compatible.
EMB 314 Super Tucano adalah pesawat buatan pabrikan Embraer  Brasil. Pesawat ini masuk kategori pesawat antigerilya dan serangan  udara-darat. Pada operasionalnya, pesawat ini lebih banyak digunakan untuk  membantu pergerakan pasukan darat, terutama infantri, kavaleri dan artileri.
Komandan Skuadron 21 yang lama, Letkol Pnb Fairlyanto juga mengungkapkan keunggulan pesawat buatan Brasil ini. Service life 12.000 hingga 18.000 jam, dapat operasi malam. Bahkan mampu take off dan landing pada landasan minimal 1500 meter.
Kedatangan tim Mabes Angkatan Udara ke Brasilia, termasuk di dalamnya Komandan Skuadron 21 Pangkalan udara Abdulrachman Saleh Malang yang baru, Mayor Pnb James Yanes Singal pada awal Juli lalu mempertegas bahwa EMB-314 adalah yang dipesan pemerintah Indonesia menggantikan OV-10 F Bronco.  Kedatangan di sana diartikan sebagai Design Review Meeting  (DRM) yang dimaksudkan sebagai penentu akhir sebelum pesawat itu dirakit.
“Artinya, dengan adanya DRM, itu berarti sudh final bahwa pesawat EMB-314 Super Tucano dengan kondisi seperti itulah yang dipesan oleh Indonesia,” kata James Yanes. Memang masih kosongan tanpa amunisi, tapi paling tidak pesawat itu sudah di install untuk pemasangan beragam persenjataan.
Kini, personel sudah disiapkan, baik penerbang, ground crew, dan personel lainnya, untuk pemeliharaan tingkat ringan dan sedang. Bahkan kemampuan bahasa pun sudah diarahkan ke percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris. Tinggal pelaksanaannya pengiriman personel ke Brasil.
Besar harapan KSAU, 9 April 2012 di langit Nusantara akan dihiasi minimal empat pesawat Super Tucano mewarnai ulang tahun TNI-AU.

F-33 / KFX



Ke depan pun, langit Ibu Pertiwi semakin semarak di kala pesawat latih dengan kecepatan supersonik  T-50 Golden Eagle buatan KAI (Korea Aerospace Industries) tiba. Pesawat ini sebagai pengganti F-16 dan akrab disebut miniatur dari F-16. Cocok untuk pertempuran langsung terutama Air to Air dan Air to Ground. Pemerintah sudah menandatangani  pembelian pesawat total 16 Unit sejak april 2011 dan akan tiba tahun 2013.
Bahkan pesawat  Hawk MK-53 juga akan mengalami modernisasi dengan akan digantikannya pesawat ini. Ada empat jenis pesawat yang sudah dicoba, L-159B dari Ceko, Yak 130 dari Rusia, Aermacchi M346 dari Italia, dan Chengdu FTC-2000/JL-9 dari China.
Apa pun jenisnya, pesawat baru tersebut, sepanjang pada kontrak awal ditegaskan ada alih teknologi, tidak menutup kemungkinan PT Dirgantara Indonesia juga akan mumpuni untuk membuat seluruh atau sebagian pesawat tempur yang dimiliki TNI-AU. Mudah-mudahan.(Wihardjono-24).

SUARA MERDEKA

AL Vietnam Akan Diperkuat 6 Kapal Selam Kelas Kilo


Kapal selam kelas Kilo dalam perjalanan menuju Cina. (Foto: DID)

9 Agustus 2011, Jakarta (Berita HanKam): Angkatan Laut Vietnam akan memiliki satu brigade kapal selam terdiri dari enam kapal selam kelas Kilo 636 dalam 5-6 tahun mendatang ditegaskan Menteri Pertahanan Vietnam Phung Quang Thanh saat jumpa pers di Hanoi, Rabu (3/8) dikutip harian Tuoi Tren.

Vietnam juga membeli jet tempur, rudal serta perangkat militer lainnya guna mempertahankan kedaulatan Vietnam, tambah Menhan Thanh.

Menhan Thanh yakin pembelian ini tidak memicu perlombaan senjata di kawasan, tetapi hal yang wajar untuk suatu negara meningkatkan pertahanan guna mempertahankan kedaulatannya. Menjaga keamanan di laut dan kedaulatan merupakan salah satu tugas Angkatan Darat, Angkatan Laut, Polisi Maritim dan Penjaga Pantai Vietnam.

AB Vietnam akan melindungi para nelayan sesuai hukum dan juga membantu masalah teknis, insiden dan resiko lainnya saat bekerja di lautan.

Pesawat patroli maritim C212-400 diserahkan Airbus Military pada Vietnam awal bulan ini. (Foto: Airbus Military)

Menurut Center for Analysis of Strategic and Technologies (CAST), Vietnam menjadi pembeli senjata terbesar Rusia pada 2009. Pembelian enam kapal selam diesel-elektrik kelas Kilo 636 merupakan pembelian kedua terbesar, setelah pembelian 8 kapal selam oleh Cina.

Rusia akan mulai mengirimkan kapal selam ke Vietnam pada 2014. Rusia dan Vietnam meneken kontrak senilai 3,2 milyar dolar pada Desember 2009. Saat kunjungan kerja Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung ke Rusia.

Kapal selam akan dipersenjatai sistem rudal jelajah Club-S, diungkapkan Oleg Azizov pejabat Rosoboronexport.

Frigate kelas Gepard 3.9. (Grafis: DID)

Vietnam memesan juga dua frigate kelas Gepard 3.9 Project 1166.1 pada 2006. Frigate dirancang menghancurkan kapal permukaan, kapal selam dan sasaran udara. Dipersenjatai sistem rudal anti kapal Uran-E, tabung torpedo 533 mm, sistem artileri pertahanan udara Palma, satu pucuk meriam 76,2 mm AK-176M, dua pucuk meriam 30 mm AK-630M serta satu unit helikopter Ka-28 atau Ka-31 Helix.

AU Vietnam akan diperkuat 24 Sukhoi Su-30MK2 yang terbagi dalam dua kontrak pembelian. Pesawat dibangun di Komsomolsk-on-Amur. Polisi Maritim Vietnam telah menerima satu pesawat patroli maritim C212-400 buatan Airbus Military awal bulan ini, pesawat kedua diserahkan akhir tahun dan pesawat ketiga pada awal tahun depan.

Sumber: Tuoi Tren